You are on page 1of 2

Selasa, 22 Mei 2007

Hidup Tanpa Teriakan dan Kekerasan


Oleh : Leo Sutrisno

TANGGAL 20 Mei, bagi bangsa Indonesia dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Suatu hari untuk memperingati dan mengenang awal dari suatu proses besar dalam
mendirikan negara Indonesia. Saat itu para pemudalah yang pegang peranan. Peran
pemuda seperti itu, menjadi tradisi sejarah pergerakan di Indonesia selanjutnya. Masa
Sumpah Pemuda, masa Perang Kemerdekaan, masa krisis 1965-1966, dan masa krisis
1997-1998 orang muda ternyata memainkan peranan konstruktif di dalam masyarakat.
Pada waktu itu, mereka berfungsi tidak hanya dalam mempersiapkan diri bagi masa
depan, tetapi justru menjadi salah satu pelaku sejarah. Mereka ikut menciptakan struktur
politik dan kemasyarakatan yang baru.

Dalam era reformasi ini, tampaknya pemuda mulai kehilangan arah. Walaupun, semangat
reformasi yang mereka perjuangkan di tahum 1990-an adalah demokratisasi ternyata
perwujudannya sampai saat ini belum sungguh menyentuh mereka. Tampaknya, mereka
teralineasi secara ekonomi, budaya, dan bahkah politik. Krisis ekonomi yang
berkepanjangan menghasilkan banyak pengangguran. Banyak kaum muda yang susah
masuk ke sektor formal. Akibatnya, mereka lebih banyak masuk ke sektor informal.
Namun, ketika mereka berada di dalam sektor informal ini rasa aman tidak selalu ada.
Sebagian yang selamat, juga terperosok masuk ke dunia 'mall' -ada uang ada barang.
Kaum muda mega mall lebih banyak membuang waktu untuk bersantai (baca: melamun
dan bermimpi) dari pada untuk berproduksi. Banyak kaum muda terpinggirkan secara
ekonomi.

Mereka juga mengalami proses alineasi budaya. Satu kaki melangkah ke alam modern,
satu kaki masih di alam tradisional. Akibatnya, mereka berarloji "Casio' yang tepat
waktu, tetapi berpikir tukang sampan-tukang grobag. Itu dapat dilihat dengan mudah apa
yang dilakukan di jalan raya, melaju dengan kecepatan tinggi tetapi 'buta warna' sehingga
semua tanda lalu lintas tidak terlihat.

Mereka juga teralineasi secara politis. Suara-suara mereka yang lantang jarang
didengarkan oleh para pengambil kebijakan. Demo ya demo, tetapi para pejabat dan para
anggota Dewan juga jalan sendiri tanpa menengok yang sedang bermonstrasi.

Mereka sungguh mengalami banyak krisis, termasuk krisis nilai. Mereka telah kehilangan
panutan, teladan. Karena orang-orang yang pantas diteladani juga teralineasi,
terpinggirkan.

Akibatnya, mereka sekarang ini lebih senang dan tertarik untuk belajar dari teriakan dan
kekerasan. Mereka melihat kenyataan hanya orang-orang yang bergaya 'cow boy'
Amerika tahun 1700-1800-an yang selamat dan sukses dalam hidupnya. Gaya hidup Kiai,
Pendeta, Pastor, alim ulama tidak menarik dan tidak menjanjikan. Karena itu, tidak heran
apabila kekerasan dan teriakan terjadi di seluruh lorong kehidupan.
Di mana saja, kita menemukan wajah-wajah yang kasar dan garang. Wajah yang selalu
curiga. Di rumah ibadah, di pasar, di kantor, di atas kendaraan umum, di mall, di tempat-
tempat rekreasi, di pusat-pusat kebugaran atau di warung kopi selalu saja kita temui
wajah-wajah yang kurang bersahabat, selalu saja kita dengar bisikan-bisiskan yang
menyerang orang lain, atau membicarakan kejelekkan orang lain.

Dalam dunia masa kini, hidup seakan-akan lebih berurusan dengan mencari dan
mendapatkan. Karena itu, persaingan menjadi suatu gaya hidup yang utama, mencari
sesuatu yang 'menguntungkan' diri sendiri.

Sementara itu, sesungguhnya dalam hidup ini pribadi kita yang sejati lebih ditentukan
dari siapa kita dan apa yang kita berikan, bukan apa yang kita miliki. Siapa kita terlihat
pada sikap kita dan mewujud dalam perbuatan yang menampilan sikap itu. Misalnya,
jujur, berani, cinta damai, handal, disiplin dan murni/suci. Sikap ini menentukan perilaku
serta cara kita memperlakukan orang lain. Dengan itu, orang dapat menentukan siapa
kita.

Selanjutnya, kita juga perlu memberi kepada orang lain. Misalnya, setia, hormat, kasih,
adil dan baik hati. Kita bisa memberikan kesetiaan kita kepada orang lain. Kita juga dapat
memberi hormat kepada orang lain. Kita juga dapat memberi mereka kasih dan ketulusan
hati kita. Selanjutnya, ternyata apa yang kita berikan itu juga akan berpengaruh pada
siapa kita. Memberi dan menerima menjadi dua hal yang saling mengisi, saling
mendukung, dan saling memperkuat.

Menunjukkan siapa kita lewat kejujuran, keberanian, kehandalan , dan kedisiplinan kita
dan memberikan kesetiaan, penghormatan, kasih, dan ketulusan kita kepada orang laing
bukan suatu tindak yang merugikan orang lain. Karena itu, mungkin akan membuat hidup
ini tidak berupa persaingan tetapi sebagai tindak saling menerima dan saling memberi.
Kalau itu terjadi pada kita semua tentu keterasingan-keterasiangan yang dialami saat ini,
dapat kita lalui bersam-sama dengan tenang, tanpa teriakan dan tanpa kekerasan.

Mungkin tanggal 20 Mei 2007 ini dapat dijadikan juga Hari Kebangkitan diri kita
masing-masing sehingga sungguh menjadi nyata siapa kita dan apa yang dapat kita
berikan kepada sesama dan alam sekitar kita. Dan, jika ini terjadi, maka kaum muda akan
memperloleh pembelajaran tanpa teriakan dan kekerasan langsung dari kita. Mereka tidak
perlu lagi membuang energinya di mal sambil melamun dan bemimpi. Dengan begitu,
mereka dapat mengarahkan potensinya untuk memikirkan sesuatu yang lebih luas dan
mendalam serta produktif. Semoga!**

*) Penulis adalah Dosen FKIP Untan