You are on page 1of 4

Unjuk Rasa Digelar Serentak

KOMPAS, Kamis, 21 Oktober 2010 | 02:36 WIB

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Aktivis HMI menarik kawat berduri yang dipasang di depan Istana Merdeka, Jakarta,
saat aksi unjuk rasa memperingati setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-
Boediono, Rabu (20/10). Setahun pemerintahan SBY-Boediono diperingati dengan
unjuk rasa di sejumlah kota di Indonesia.

Jakarta, Kompas - Gelombang unjuk rasa serentak di sejumlah


daerah di Tanah Air mewarnai satu tahun masa pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Rabu (20/10). Pengunjuk rasa
meneriakkan masalah politik, hukum, sosial, dan ekonomi yang belum
dituntaskan Presiden SBY-Boediono dalam setahun ini.

Selain di Jakarta, unjuk rasa juga berlangsung setidaknya di 24 kota


lain di Tanah Air, antara lain Bandung, Bogor, Semarang, Solo, Sukoharjo,
Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bandar Lampung, Jambi, Medan, Banda
Aceh, Makassar, Jember, Banjarmasin, Samarinda, Mataram, dan Kupang.
Unjuk rasa di Jakarta yang terjadi di Jalan Diponegoro dan Jalan Medan
Merdeka Utara (depan Istana Merdeka) diwarnai kericuhan.
Di tengah gelombang unjuk rasa itu, sejak pagi Presiden SBY
berkantor di Kantor Kepresidenan Jakarta. Malam hari, Presiden
menghadiri penutupan Rapat Pimpinan Nasional I Partai Golkar di
Kemayoran, Jakarta. Wakil Presiden Boediono kemarin masih berada di
China, menghadiri acara peringatan 60 tahun hubungan RI-China.

”Presiden menjalankan aktivitas pemerintahan dari Istana, tetap


memimpin jalannya pemerintahan dari Istana,” kata Juru Bicara
Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Istana Kepresidenan, kemarin. Dia
menambahkan, Presiden percaya kepada masyarakat yang dinilai semakin
cerdas serta sudah memercayakan pengelolaan situasi oleh aparat
kepolisian. ”Presiden tidak akan terprovokasi. Presiden tidak akan
terpancing,” ujarnya seraya menyatakan, unjuk rasa di depan Istana
Merdeka merupakan hal wajar dalam iklim demokrasi.

Sejumlah isu yang diangkat pengunjuk rasa antara lain kesejahteraan


rakyat yang belum membaik, pengentasan rakyat miskin, kepastian hukum,
penegakan kedaulatan negara, penegakan kasus hak asasi manusia, dan
penuntasan kasus Century.
Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Marwoto
Soeto menuturkan, Polri menurunkan 15.000 personel di seluruh wilayah
untuk mengamankan unjuk rasa. Pengerahan terbesar dilakukan di Jakarta
dan Jawa Barat, masing-masing 3.000-an personel.

Tertembak

Di Jakarta, unjuk rasa yang digelar di depan Istana Merdeka serta


dua tempat di Jalan Diponegoro berlangsung ricuh. Demonstran
berhadapan dengan polisi dan melempari dengan batu. Polisi juga
beberapa kali menembakkan gas air mata ke arah demonstran. Farel (20),
mahasiswa semester V Universitas Bung Karno, diduga mengalami luka
tembak di betis kiri. Korban langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Bentrokan yang terjadi di Jalan Diponegoro diawali keinginan
pengunjuk rasa untuk menutup akses jalan itu. Polisi berusaha
mencegahnya sehingga mulai terjadi dorong-dorongan, lempar batu dan
bambu, serta penembakan oleh polisi. Selama bentrokan itu, akses Jalan
Diponegoro dan Jalan Medan Merdeka Utara (depan Istana Merdeka)
sempat ditutup oleh polisi.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman, mengatakan,


pihaknya masih mengecek penyebab luka di kaki Farel. Kapolda juga
memastikan semua peluru yang ditembakkan polisi kemarin adalah peluru
gas air mata. Mengenai penangkapan pengunjuk rasa, Sutarman berharap
kejadian itu menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar berunjuk rasa
secara tertib.

Menurut Kepala Polres Jakarta Pusat Komisaris Besar Hamidin,


beberapa polisi terluka akibat tergores penghalang kawat besi atau terkena
lemparan batu.

Pada pagi hingga menjelang petang, gabungan LSM menggelar ”Pasar


Lupa” di sudut timur Istana Merdeka. Pengunjuk rasa menggelar lapak
sesuai tema, seperti ”Lupa Lapindo”, ”Lupa Century”, ”Lupa Semanggi I”,
”Lupa Semanggi II”, dan ”Lupa Mei 1998”, sebagai sindiran atas tidak
tuntasnya kasus-kasus besar yang menimpa rakyat.

Effendi Gazali, salah seorang koordinator aksi, mengatakan,


pengunjuk rasa membawa sembilan guling yang melambangkan isu
penggulingan kekuasaan Presiden SBY. ”Kami menyerahkan dua bantal
dan guling kepada pihak Istana. Sisanya sebanyak tujuh guling diletakkan
di pagar Istana. Kami sampaikan unjuk rasa dengan cerdas,” katanya.

Dalam unjuk rasa di sejumlah daerah, pengunjuk rasa seragam


menyatakan bahwa pemerintahan SBY-Boediono dinilai gagal. Kegagalan
SBY-Boediono antara lain dalam penegakan hukum, pemberantasan
korupsi, pemenuhan kesejahteraan rakyat, pemenuhan fasilitas
pendidikan, kesehatan murah, dan penuntasan kasus pelanggaran HAM.

Di Surabaya, Jawa Timur, meski hujan rintik-rintik, pengunjuk rasa


bergeming. Puluhan spanduk dan bendera menjadi atribut yang mewarnai
aksi pada siang itu. Mereka bergantian berorasi bahwa SBY-Boediono
dinilai gagal mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Aksi unjuk rasa di Semarang, Jawa Tengah, dilakukan di bundaran


videotron di Jalan Pahlawan, tak jauh dari Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Mahasiswa menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan kehidupan
rakyat miskin yang semakin menderita.

Sekitar 150 mahasiswa dan kelompok buruh di Bandung, Jawa Barat,


berunjuk rasa di halaman Gedung Sate. Mereka mengungkapkan
kekecewaan terhadap kepemimpinan SBY-Boediono yang dinilai lemah
selama setahun ini.

Di Medan, Sumatera Utara, ratusan pengunjuk rasa menilai bahwa


pemerintah telah gagal menyejahterakan rakyat. Pengunjuk rasa yang
terbagi dalam sedikitnya tiga kelompok itu mengusung berbagai isu
kerakyatan. Namun, secara garis besar mereka menilai, pemerintah belum
memberikan pelayanan kepada rakyat. Kepala Polda Sumut Irjen
Oegroseno mengatakan, pihaknya menurunkan 1.000 personel untuk
mengamankan unjuk rasa.

Bahkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pengunjuk rasa


menyampaikan aspirasi melalui siaran langsung di RRI Banjarmasin, yang
saat itu dijaga ketat aparat.
Tak seperti sehari sebelumnya yang rusuh, unjuk rasa mahasiswa
Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin terjadi secara sporadis. Mereka
kecewa atas lemahnya kepemimpinan SBY-Boediono karena janji untuk
menyejahterakan masyarakat belum terwujud.
Sosiolog Universitas Udayana, Ketut Sudhana Astika, menilai, wajar jika
masyarakat melontarkan kekecewaan. ”Mungkin masyarakat mulai jenuh
terhadap janji-janji,” kata Astika.