You are on page 1of 4

C.

Hubungan Interaksi sosial masyarakat desa panglipuran


a. lokasi desa panglipuran

Desa adat Penglipuran berlokasi pada kabupaten Bangli yang berjarak 45 km dari kota Denpasar,
Desa adat yang juga menjadi objek wisata ini sangat mudah dilalui. Karena letaknya yang berada di
Jalan Utama Kintamani – Bangli. Desa Penglipuran ini juga tampak begitu asri, keasrian ini dapat
kita rasakan begitu memasuki kawasan Desa.

Desa adat Penglipuran yang masuk wilayah Kelurahan Kubu, kabupaten Bangli, 60 km timur laut
Denpasar ini, pernah menerima penghargaan "Kalpataru" penghargaan tertinggi pemerintah untuk
penyelamatan lingkungan, tahun 1995.

Penglipuran yang berada di jalur obyek wisata menuju Kintamani berpenduduk 190 Kepala
Keluarga (KK) atau 823 jiwa yang dulunya sebagian besar adalah petani. Kini mereka mulai beralih
ke usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga dengan memanfaatkan bambu sebagai bahan
bakunya.

Pada areal Catus pata yang merupakan area batas memasuki Desa Adat Penglipuran, disana terdapat
Balai Desa, fasilitas masyarakat dan ruang terbuka untuk pertamanan yang merupakan areal selamat
datang.

Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari
struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan
yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik
dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat
Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun.

Keunggulan dari desa adat penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah,
Bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Desa
tersusun sedemikian rapinya yang mana daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin
menurun sampai kedaerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, adanya juga keseragaman bentuk
dari bahan untuk membuat rumah tersebut. Seperti bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap
terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa.

Karena Desa Penglipuran terletak didataran yang agak tinggi, suasana terasa cukup sejuk. Selain
suasana pertamanan yang asri tetapi juga sangat ramahnya penduduk desa terhadap tamu yang
datang. Banyak wisatawan yang datang dapat menikmati suasana desa dan masuk kerumah mereka
untuk melihat kerajinan – kerajinan yang penduduk desa buat. Sehingga untuk tinggal berlama lama
disini sangatlah menyenangkan.

B. kegiatan desa panglipuran

Terbatasnya lahan di lingkungan perkotaan, khususnya kota-kota besar, sering kali tidak berimbang
dengan tingkat kebutuhan hunian sangat tinggi.
Tingginya harga tanah pun turut menjadi faktor penyebab masyarakat kota besar seolah hanya
memiliki dua pilihan: tinggal di pinggir kota atau menempati hunian vertikal di pusat kota.
Tinggal di pinggir kota akan menjauhkan masyarakat dari lingkungan kerja yang berpengaruh pada
semakin panjangnya waktu tempuh dan membesarnya pengeluaran untuk biaya transportasi. Belum
lagi permasalahan lain, seperti tingginya tingkat kemacetan, polusi udara yang kerap melebihi
ambang batas, jalan berlubang, hingga hadangan banjir.
Tinggal di hunian vertikal sebagaimana sedang dikembangkan di berbagai kota di Indonesia dalam
wujud rumah susun juga memunculkan berbagai permasalahan baru. Pola hidup yang berbeda,
jalinan kekerabatan sosial yang kerap menuju individualis, hingga terbatasnya akses memenuhi
kebutuhan dan kegiatan sehari-hari bagi yang tinggal di lantai tiga ke atas.
Perubahan pola hunian horizontal menuju vertikal, bagi masyarakat Indonesia tentu saja tidak
mudah. Kebutuhan akan ruang sosial serta interaksi sosial terhadap sesamanya secara horizontal
tidak dapat secara radikal diambil dari mereka untuk disusun secara vertikal.
Adalah Cubic House, kawasan hunian horizontal sekaligus vertikal yang berada di pusat kota
Rotterdam, Belanda, seakan menjawab permasalahan yang sama dengan solusi cukup ekstrem.
Dapat dikatakan ekstrem karena permukiman ini berada di atas jalan raya, tetapi terangkai satu
sama lain sehingga membentuk karakter tersendiri bagi kota. Bentuknya yang unik dengan warna
dominan seakan mencoba melawan kekakuan kota, sekaligus memenuhi fungsinya sebagai
kompleks hunian.
Hutan kota
Bangunan-bangunan berbentuk kubus ini hakikatnya hadir menjawab berbagai kebutuhan
Rotterdam.
Selain sebagai kompleks permukiman, Cubic House juga mengakomodasi kebutuhan jalur bagi
pejalan kaki dengan menghubungkan kompleks ini pada beberapa simpul kawasan. Bagi pejalan
kaki, kompleks permukiman ini tidak hanya menyediakan jalur semata, melainkan juga berperan
sebagai pelindung dari sengatan cahaya matahari dan kucuran air hujan.
Peran ini dimainkan dengan sangat baik sejalan dengan konsep awal Cubic House yang merupakan
metamorfosis hutan.
Oleh sang arsitek, Piet Blom, secara konseptual tiap-tiap bangunan kubus dihadirkan sebagai
sebuah ”pohon” abstrak. Pilar-pilar bangunan berperan sebagai batang pohon kokoh berbentuk segi
enam yang menopang masing-masing kubus sekaligus berfungsi sebagai gudang dan sirkulasi
vertikal berupa tangga menuju bangunan. Adapun bangunan utama (rumah), kubus, diibaratkan
sebagai bagian teratas pohon yang berfungsi sebagai elemen peneduh yang terdiri dari batang,
ranting, dan daun.
Dengan tiap bangunan berperan sebagai satu pohon, maka keseluruhan bangunan kubus pada
kompleks permukiman ini hadir membentuk ”hutan” di tengah-tengah kota. Secara visual tentu saja
kehadirannya sangat berbeda dengan hutan dalam arti sebenarnya, tetapi kompleks ini mencoba
memainkan peran hutan dalam memberi keteduhan, melindungi dari terik matahari dan hujan, serta
memberi kehidupan di dalamnya.
Interior rumah
Tiap-tiap kubus dirancang dapat memaksimalkan keterbatasan ruang dalam mengakomodasi
kebutuhan fungsional, layaknya rumah umumnya. Untuk itu, tiap bangunan dibagi atas tiga lantai
dengan bagian terbawah sebagai ruang tamu maupun ruang keluarga, bagian tengah atau lantai dua
diisi ruang tidur, satu kamar mandi dan dapur, dan bagian teratas sebagai ruang tidur tambahan.
Walaupun terbagi atas tiga lantai, tiap kubus merupakan satu kesatuan rumah sehingga secara
keseluruhan kompleks ini merupakan hunian horizontal. Jalur pedestrian yang melalui kompleks
Cubic House semakin menghadirkan suasana layaknya permukiman horizontal. Interaksi sosial
tetap tercipta, seolah keberadaannya yang melintas di atas jalan raya tidak berpengaruh sama sekali.
Dalam menyikapi keterbatasan ruang, akses dengan lingkungan luar dioptimalkan, baik sebagai
akses visual dengan menghadirkan banyak bukaan transparan, maupun sebagai akses bagi
tersedianya udara segar dan hangatnya cahaya matahari.
Ruang yang terbatas justru membentuk penghuninya dapat hidup efektif dan efisien, baik dalam
menata ruang dalam, memilih (atau bahkan mendesain sendiri) perabotan yang sesuai, maupun
menyusun skala perioritas dalam menentukan barang yang harus dimiliki.
Dalam konteks pola hidup, masyarakat yang menghuni kompleks permukiman seperti Cubic House
tentu harus memiliki kesadaran hidup bermasyarakat yang tinggi dan kesadaran menjaga kebersihan
dan keindahan kompleks permukiman. Cubic House, selain mampu menjawab kebutuhan kota, juga
mampu berperan sebagai penanda kawasan dan menjadi obyek wisata.

Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual, sehingga banyak
sekali acara yang diadakan didesa ini seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan dll.
Memang Saat yang sangat tepat untuk datang kedesa ini adalah pada acara tersebut berlangsung,
sehingga kita dapat melihat langsung keunikan dan kekhasan dari desa penglipuran ini. Walaupun
anda tidak sempat datang pada saat acara tersebut diatas, anda dapat menikmati suasana desa pada
sore hari. Karena pada saat sore umumnya penduduk desa keluar rumah setelah selesai melakukan
aktifitas rutin mereka dipagi dan siang hari, mereka keluar untuk berkumpul bersama sama
penduduk desa yang lain dan para pria pada saat sore hari mengeluarkan ayam jago kesayangan
mereka dan tidak jarang mereka melakukan tajen/adu ayam tetapi tanpa pisau dikakinya.

C. pola hunian dengan masyarakat sekitar desa panglipuran

Pintu gerbang itu menuju ke rumah-rumah penduduk yang terlihat seragam satu sama lain dengan
atap bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga menarik para pelancong untuk berkunjung ke
sana.

Pembangunan 74 angkul-angkul dan penataan lingkungan itu dilakukan secara swadaya dan resmi
di Penglipuran, sebuah desa wisata yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata waktu itu Soesilo
Soedarman (Alm)pada 1995.

Kebersihan dan kelestarian lingkungan di sana hingga kini tetap dipertahankan dan bagi warga
yang tidak membersihkan lingkungannya, khususnya di depan pintu gerbang masing-masing
dikenakan sangsi, sesuai kesepatan warga bersama, kata Kelian Banjar Penglipuran, I Wayan Subur.

Demikian pula rumah-rumah di masing-masing pekarangan ditata dengan baik, mencerminkan


arsitektur perumahan khas gaya Penglipuran yang diwarisi secara turun temurun.

Desa adat Penglipuran yang masuk wilayah Kelurahan Kubu, kabupaten Bangli, 60 km timur laut
Denpasar ini, pernah menerima penghargaan "Kalpataru" penghargaan tertinggi pemerintah untuk
penyelamatan lingkungan, tahun 1995.

Penglipuran yang berada di jalur obyek wisata menuju Kintamani berpenduduk 190 Kepala
Keluarga (KK) atau 823 jiwa yang dulunya sebagian besar adalah petani. Kini mereka mulai beralih
ke usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga dengan memanfaatkan bambu sebagai bahan
bakunya.

Bahan baku bambu itu tersedia dalam dalam jumlah banyak, karena tumbuh di setiap pekarangan
dan di atas areal 85 hektare milik warga bersama (laba pura).

Hutan bambu itu diperkirakan sudah ada sejak abad XI yang dibuktikan dengan adanya bangunan
suci (pelinggih) "Ratu Sakti Mas Pahit" di sekitar Desa Penglipuran.
Meski Penglipuran kini sudah tersentuh modernisasi yakni perubahan ke arah kemajuan, namun tata
letak perumahan di masing-masing keluarga tetap menganut falsafah "Tri Hita karana", yakni
hubungan yang harmonis antara manusia, lingkungan dan Tuhan.

Generasi muda Penglipuran yang hampir seluruhnya menikmati pendidikan formal mulai dari SD
hingga perguruan tinggi tetap melestarikan bangunan suci yang lokasinyaa di hulu, perumahan di
tengah dan lahan usaha tani di pinggir (hilir) dari luas desa seluruhnya 112 hektare itu.

Demikian pula rumah masing-masing keluarga hampir seragam mulai dari pintu gerbang berturut-
turut bangunan suci (merajan), dapur, tempat tidur (bale), ruangan tamu, lumbung (tempat
menyimpan padi) dan kamar mandi.

Masyarakat yang membangun perumahan baik sekarang maupun di masa datang wajib mematuhi
aturan itu, jika melanggar dikenakan sangsi sesuai kesepakatan warga.

Kendati keseragaman bentuk bangunan tetap utuh dan lestari, namun ruangan tamu atau "bale
Delod", bangunan khusus untuk tempat upacara adat disulap menjadi toko cenderamata.

Masyarakat memajang hasil kreativitas mereka berupa kain tenun tradisional maupun berbagai jenis
cenderamata berbahan baku bambu yang senantiasa diminati pelancong.

Di masa datang desa wisata ini diperkirakan akan kian ramai sehubungan rencana pemindahan
kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri dari jantung kota Denpasar ke Kubu, Bangli yang
lokasinya cukup dekat dengan Penglipuran.

Lingkungan desa yang lestari itu tercipta, karena penghuni atau pengunjung tidak diizinkan
menggunakan kendaraan bermotor memasuki komplek pemukiman yang ditata apik itu.

"Areal pemukiman bebas kendaraan dan penduduk yang memiliki kendaraan atau sepeda motor
harus lewat jalan belakang rumah masing-masing," kata Made Sumantra (42), petugas desa adat
yang mengamankan wilayah itu.

Bebas kendaraan itu untuk memberikan kesan nyaman, sekaligus tidak mengganggu pelancong
yang berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Untuk kendaraan bermotor sudah disiapkan jalan
lewat belakang di masing-masing rumah.

Desa Penglipuran 20 Oktober lalu, juga dipilih sebagai tuan rumah kampanye makan ikan dan
promosi hasil-hasil perikanan menyambut Hari Pangan tahun 2000 tingkat Propinsi Bali.

Meskipun kampus STAHN Denpasar akan dibangun di dekat desa itu, tetapi menurut ketuanya, Dr I
Made Titib, perguruan tinggi itu akan tetap menghormati adat dan tradisi yang diwarisi secara turun
temurun tersebut.

Tradisi yang mengutamakan kelestarian dan ketenangan itu, kata Titib, malah akan membantu
proses belajar mengajar di sekolah tinggi ini.