You are on page 1of 3

RINGKASAN

ADITYA RHEZA 06.3.02.709 Pengelolaan Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypopthalamus)


di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor Jawa Barat. Di
bawah bimbingan bapak Ir. Moch. Hery Edy, MS dan Bapak Hamdani, MMA

Patin (Pangasius hypopthalamus) adalah salah satu jenis ikan ekonomis air tawar yang
kini mulai dilirik oleh para petani ikan dan investor untuk dibudidayakan. Patin menjadi ikan
ekonomis sudah sejak lama, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Ikan yang dagingnya lezat
dan gurih serta ukuran yang cukup besar ini hidup di sungai dan danau di Kalimantan, Sumatera,
dan Jawa (Kordi, G 2005). Ikan patin (Pangasius hypopthalamus) adalah salah satu jenis patin
lokal indonesia dan memiliki daging berwarna putih, jika daging ikan patin berwarna putih
adalah ikan patin yang diminati pasar ekspor Amerika dan Eropa. Selain itu ikan patin itu
memiliki ukuran yang relatif besar, sehingga patin lokal ini mempunyai kandida faforit untuk
menyuplai kebutuhan pasar ekspor ( Khairuman,2006).
Tujuan dari Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah meningkatkan pengetahuan dan
ketrampilan penulis tentang pengelolaan pembenihan ikan patin (Pangasius hypophalamus) dan
menganalisis performen usahanya di Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Cijeruk.
Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar
terletak di Kampung Cipulus, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi ini
termasuk dataran rendah karena memilik temperatur suhu 210C – 270C dan bercurah hujan
tinggi. Lokasi Praktek Kerja Lapang ini terletak cukup dekat dengan pemukiman penduduk dan
mudah dijangkau oleh alat transportasi.

Pada Inris Cijeruk pemeliharaan induk dilakukan pada kolam air mengalir yang dasarnya
tanah. Air media yang digunakan berasal dari air sungai yang disaring agar sampah-sampah yang
bersumber dari sungai tidak ikut masuk ke tempat pemeliharaan air sungai yang dipakai sebagai
media bebas dari pencemaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hernowo, (2001), yang
menyatakan bahwa induk sebaiknya dipelihara di dalam kolam pemeliharaan yang memiliki
dasar tanah dan berupa irigasi yang baik.
Persiapan media penetasan meliputi kegiatan pembersihan akuarium dan persiapan air
media yang akan digunakan dalam kegiatan pemeliharaan larva. Sebelum akuarium digunakan
terlebih dahulu akuarium disterilisasikan dengan menggunakan PK (Permanganat Kalium)
dengan dosis 10 ppm. Akuarium dibersihkan dengan cara digosok dengan menggunakan busa
atau kain, setelah bersih dari kotoran bak dapat dibilas dengan air tawar kemudian dikeringkan
selama 1 hari. Setelah itu akuarium siap diisi air media.
Seleksi induk dilakukan dengan cara memilih induk yang sudah matang kelamin,
kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan gantung. Induk jantan yang digunakan
dalam kegiatan pembenihan memiliki bobot 1,5 Kg sedangkan untuk induk betina memiliki
bobot 2,5 Kg.

iv
Pemijahan ikan patin dilakukan secara buatan dengan cara menyuntikan ovaprim pada
bagian samping sirip punggungnya. Dosis yang digunakan untuk 1 kg induk adalah 0,5 cc.
Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali yaitu 1/3 bagian untuk penyuntikan pertama dan 2/3
bagian untuk penyuntikan kedua sedangkan untuk induk jantan hanya dilakukan satu kali
penyuntikan dengan dosis 1/3 bagian yang diberikan bersamaan dengan penyuntikan kedua
induk betina. Bagian yang disuntik adalah di belakang sirip pungung dengan kemiringan 450.
arak waktu penyuntikan pertama dengan yang kedua adalah 8-12 jam. Selanjutnya striping
dilakukan kalau induk sudah siap yaitu 7-10 jam setelah penyuntikan kedua.
Pada penetasan di Inris Cijeruk, penetasan dilakukan di akuarium yang sekaligus
digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva. Telur ikan patin yang telah dicampur dengan
sperma ditebar pada akuarium. Air yang digunakan sebagai media penetasan disaring dan
diaerasi terlebih dahulu selama ± 24 jam. Suhu air yang
digunakan yaitu 280-310 C. Telur yang ditebar diusahakan tidak menumpuk di dasar tempat
penetasan. Setiap akuarium ditebari telur sebanyak 2 sendok makan dengan berat ± 10 gram.
Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 24-36 jam, untuk menaikkan suhu maka diberi
kompor atau heater.
Pada hari pertama setelah penetasan, larva ikan patin tidak diberi pakan karena larva ikan
patin tersebut masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur (yolk sack). Hatching Rate
(HR) pada penetasan ini adalah 50 %, atau sekitar 200.000 ekor larva yang menetas.
Pada Inris Cijeruk pemberian pakan yang berupa artemia langsung diberikan pada hari
kedua. Pemberian pakan pada hari ke dua hingga hari ke empat adalah sebanyak 7 kali sehari
yaitu pada pukul 06.00, 08.00, 12.00, 16.00, 20.00, 24.00, dan 04.00. Sedangkan pada hari ke-5
sampai benih berumur 2 minggu adalah sebanyak 6 kali sehari yaitu pada pukul 06.00, 09.00,
13.00, 17.00, 21.00, dan 23.00. Pakan larva ikan patin yang diberikan pada umur 2-7 hari berupa
pakan artemia, setelah larva ikan patin berumur 1 minggu pakan yang diberikan berupa cacing
sutera, untuk pemberian cacing dilakukan dengan cara pencucian berkali-kali hingga cacing
tersebut bersih. Pemberian cacing sutera dilakukan dengan cara memotong-motong cacing
tersebut menjadi kecil sehingga mudah dimakan dan dicerna oleh benih ikan patin. Pemberian
pakan diberikan secara adlibitum yaitu sesuai dengan kemampuan ikan sampai kenyang.
Untuk menjaga kualitas air agar tetap baik penyiponan dilakukan setiap hari.
Parameter kualitas air yang menjadi indikator adalah suhu, pH dan DO. Suhu yang baik
untuk pemeliharaan larva berkisar antara 28-310 C, Sedangkan untuk menjaga DO air >3 maka
dipasanglah aerasi. Pada suhu ini larva ikan patin akan berkembang dengan baik. Untuk menjaga
agar suhu tetap stabil alat yang digunakan adalah berupa hiter dan kompor. Agar kualitas air
tetap baik, maka dilakukan penyiponan kotoran setiap hari sebelum pemberian pakan pertama
pada pagi hari. Selain itu, sirkulasi air dilakukan setiap dua hari sekali
Benih yang sudah berumur dua minggu kemudian dipindahkan kedalam bak pendederan.
Pendederan dilakukan pada bak beton dengan ukuran 5 m x 2,5 m x 1 m dengan padat tebar 0,8
ekor/liter. SR yang diperoleh tahap pendederan ini adalah 95 % atau sebanyak 28.500 ekor. Pada
Inris Cijeruk pendederan hanya dilakukan satu kali hingga ukuran benih mencapai 3-5 cm.

v
Pemanenan yang dilakukan pada Inris Cijeruk adalah apabila benih sudah mencapai
ukuran 3-5 cm. Panen yang dilakukan adalah dengan pemanenan total yaitu dilakukan dengan
cara mengurang debit air hingga 20% kemudian benih tersebut di seser dengan menggunakan
seser lalu ditampung dalam sebuah bak plastik. Benih yang sudah dimasukan kedalam bak
plastik kemudian dihitung, setelah dihitung benih siap di paking untuk dipasarkan.
Pada Inris Cijeruk pemasaran benih ikan patin dilakukan pada daerah sekitar misalnya
Bogor, Riau dan Palembang. Harga benih ukuran 3-5 adalah Rp 175 per ekor, benih yang
dihasilkan adalah 28.500 ekor atau SR sebesar 95 %.
Dari kegiatan Kerja Praktek Akhir (KPA) tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa
selama proses penglolaan pembenihan ikan patin ada 2 faktor yang harus di perhatikan yaitu
pengelolaan pakan dan pengelolaan kualitas air, yang mengendap di dasar aquarium yang dapat
menimbulkan racun sehingga mengganggu pertumbuhan larva ikan patin.

DAFTAR PUSTAKA

Khairuman. 2006. Budidaya Patin Super. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Kordi, G. H. K. 2005. Budidaya Ikan Patin. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

vi