You are on page 1of 18

BAGIAN I

ORGANISASI DAN KELEMBAGAAN BMT

PENGERTIAN BMT
BMT merupakan singkatan dari “Baitul Maal Wat Tamwil”, yang diambil
dari khasanah muamalah sesuai dengan risalah Islam. Pengertian Baitul
Maal Wat Tamwil dalam artian bahasa adalah “Rumah Harta (sosial) dan
Niaga”. Dalam pengertian yang lebih luas adalah lembaga yang
melakukan kegiatannya untuk tujuan social dan niaga dalam rangka
mensejahterakan umat yang dilakukan baik dengan menghimpun dana
dari umat/masyarakat dan melakukan penyaluran/pembiayaan dalam
sector usaha riil (fungsi Baitul Tamwil) dan penyaluran dana/harta kepada
yang berhak (fungsi Baitul Maal). Dengan demikian BMT pada dasarnya
merupakan gabungan antara Baitul Maal dan Baitul Tamwil yang masing-
masing memiliki karakteristik yang berbeda.

Baitul Maal
Pengertian Baitul Maal menurut para ulama ialah pihak yang mengelola
keuangan Negara, mulai dari menghimpun, mengembangkan, memelihara
hingga menyalurkan. Definisi tersebut ditegaskan oleh Imam Mawardi
dalam kitab Ahkam Sulthoniyyah dengan mendefinisikan sebagai tempat
atau wadah untuk memelihara dan menjaga keuangan Negara.

Istilah Baitul Maal telah ada sejak zaman Rosulullah SAW, lebih-lebih
pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Baitul Maal telah terbentuk
sebagai lembaga ekonomi atas usulan seorang ahli fiqh Walid bin Hisyam.
Sejak masa itu dan masa selanjutnya (Dinasti Abasiyah dan Umayyah)
Baitul Maal telah menjadi lembaga penting bagi Negara. Meskipun tidak
semua sumber uang Negara milik Baitul Maal, tetapi Baitul Maal
merambah banyak urusan Negara, mulai dari penarikan zakat (juga
pajak), ghonimah sampai membangun jalan, menggaji tentara dan juga
pejabat Negara serta membangun sarana social. Dilihat dari konteks masa
sekarang, Baitul Maal dimasa itu menjalankan fungsi sebagai lembaga
Keuangan, lembaga Pajak, lembaga Sosial dll.

Namun, pengertian Baitul Maal tersebut di atas kini lebih menyempit


maknanya dalam konteks BMT. Baitul Maal dalam konteks BMT hanya
menjalankan fungsi social yang lepas dari kaitan politik Negara. Baitul
Maal dalam kaitan BMT mempunyai kegiatan menerima dan menyalurkan
zakat, infak, shodaqoh (ZIS) dalam umat Islam yang bersifat komersial.
Penyaluran memang tidak boleh keluar dari jalur syari’at yang ada,
terutama untuk zakat yang ditentukan mustahiknya (delapan asnaf). Baitul
Maal dalam kaitan BMT juga menyalurkan dana Qordhul Hasan yang tidak
komersial untuk keperluan kesejahteraan dan pengembangan umat.

Ciri-ciri operasional Baitul Maal:


• Visi dan Misi Sosial
• Memiliki fungsi sebagai mediator antara pemberi zakat (Muzakki)
dan penerima zakat (Mustahik)
• Tidak diperbolehkan mengambil profit apapun dalam
operasionalnya
• Pembiayaan operasi mengambil hak sebagai Amilin maksimal
sebesar 12,5% dari keseluruhan dana zakat yang diterima.

Baitul Tamwil
Adalah suatu institusi/lembaga keuangan Islam yang usaha pokoknya
menghimpun dana dari pihak ketiga (anggota penyimpan) dan
menyalurkan pembiayaan kepada usaha-usaha yang produktif dan
menguntungkan. Sumber dana Baitul Tamwil berasal dari simpanan
masyarakat (dana pihak ketiga) yang meliputi tabungan, simpanan
berjangka, modal dan simpanan lainnya yang dipersamakan dengan itu
dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku.

Ciri-ciri operasional Baitul Tamwil:


• Visi dan Misi Ekonomi
• Dijalankan sesuai dengan prinsip Islam
• Memiliki fungsi sebagai mediator antara pemilik kelebihan dana dan
pihak yang memerlukan dana
• Merupakan wajib zakat

TUJUAN BERDIRINYA BMT


Tujuan dibentuknya BMT pada dasarnya merupakan investasi dari
kewajiban setiap muslim (khususnya) untuk beribadah semata-mata
hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT termasuk dalam kegiatan
dalam bidang keuangan maupun perdagangan. Secara umum ada dua
kepentingan yang mendasari dibentuknya BMT, yaitu:

Kepentingan Ibadah
Hal ini merupakan manifestasi dari keimanan kepada larangan Allah SWT
tentang pengharaman riba sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-
Baqarah 275-279. Dalam beberapa hal, antara Lembaga Keuangan
konvensional dan syariah memiliki persamaan, terutama pada sisi teknis
penerimaan/simpanan uang, pelayanan dan teknologi. Namun terdapat
banyak perbedaan mendasar antara keduanya. Perbedaan itu
menyangkut aspek legal, struktur organisasi, penyaluran dana, lingkungan
kerja dan mekanisme penghitungan keuntungan atau bagi hasil.
Penjelasan perbedaan tersebut sbb:
Aspek Legalitas dan Akad
Perspektif akad atau perjanjian dalam Lembaga Keuangan syariah
memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi. Dalam hal ini aspek keimanan
dan moral antara Lembaga Keuangan dengan nasabah merupakan hal
yang sangat penting. Aspek hokum positif semata seringkali membuat
anggota mempunyai keberanian untuk melakukan pelanggaran terhadap
kesepakatan perjanjian yang telah dilakukan. Penyelesaikan
permasalahan yang timbul antara Lembaga Keuangan syariah dengan
anggota diselesaikan dengan merujuk kepada Badan Arbitrase Muamalat
Indonesia (BAMUI), dimana dasar dalam penyelesaian permasalahan
merujuk kepada dasar hukum Islam.

Strukutur Organisasi
Secara struktur organisasi hampir sama dengan Lembaga Keuangan
konvensional dan umum. Perbedaan yang mendasar adalah di Bank
Syariah terdapat Badan Pengawasan Syariah (BPS). Fungsi dan tugas
dari BPS adalah mengawasi operasional dan produk-produk dari Bank
Syariah sesuai dengan ketentuan syariah. Penetapan BPS untuk setiap
Lembaga Keuangan harus mendapat rekomendasi dari Badan Syariah
Nasional (BSN).

Penyaluran Dana/Pembiayaan
Sebagai konsekuensi logis dari ketentuan bahwa Lembaga Keuangan
syariah harus selalu senantiasa merujuk dan memenuhi ketentuan syariah
dalam operasionalnya, maka dalam hal penyaluran dana/pembiayaan,
Bank Syariah tidak menyalurkan dananya kepada usaha atau proyek yang
bertentangan dengan ketentuan syariah seperti minuman keras, makanan
yang mengandung alcohol atau babi dan sebagainya.
Lingkungan Kerja dan Budaya Kerja
Budaya kerja dan lingkungan kerja Lembaga Keuangan syariah harus
kondusif terhadap implementasi nilai-nilai islami. Dengan demikian nilai-
nilai budaya kerja seperti amanah, shiddiq, jujur, adil, tabligh, fathonah,
ikhlas dan nilai-nilai lainnya harus menjadi built ini system dalam
kesehariannya.

Prinsip Mekanisme Keuntungan/Bagi Hasil

LEMBAGA KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN


Syariah Konvensional
Bapak Abdullah memiliki Bapak Bunyamin memiliki
deposito sebesar Rp.10.000.000 deposito sebesar
Jangka waktu = 1 bulan Rp.10.000.000
Nisbah deposan 57% Jangka waktu = 1 bulan
Bunga = 20%
Jika keuntungan yang diperoleh
untuk deposito dalam satu bulan
sebesar Rp. 30.000.000 dan
rata-rata saldo saldo deposito
jangka waktu 1 bulan adalah Rp.
950.000.000
Berapa keuntungan yang Berapa bunga yang
diperoleh bapak Abbullah? diperoleh bapak Bunyamin?
Jawab: Jawab:
Rp.(10.000.000 : 950.000.000) x Rp.(10.000.000 x (31/365) x
Rp. 30.000.000 x 57% = 20%) = Rp. 169.863
Rp.180.000
Kepentingan Muamalat
Melaksanakan kegiatan usaha untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat. Hal ini menyangkut:
• Potensi dana umat Islam
• Peran serta umat Islam dalam pengerahan dana masyarakat
• Terbukanya peluang-peluang usaha yang membutuhkan
pendanaan/pembiayaan
• Jaminan umat non muslim dalam menggunakan jasa Lembaga
Keuangan Islam

ASPEK LEGAL DAN PERATURAN PENDUKUNG


Berdasarkan pasal 33 UUD 1945, kedudukan koperasi sebagai model
badan usaha dianggap paling sesuai dengan karakteristik bangsa
Indonesia yang dalam pelaksanaannya telah diatur dan dikembangkan
dalam berbagai peraturan. Sesuai dengan pasal 3 UU No. 25 tahun 1992
tentang perkoperasian, fungsi koperasi adalah memajukan kesejahteraan
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut serta
membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan
masyarakat adil dan makmur.

BMT secara umum mempunyai misi dan fungsi dalam penerapan prinsip-
prinsip syariah dalam kegiatan ekonomi, memberdayakan pengusaha
mikro, serta membina kepedulian aghnia kepada Dhuafa/Mustad’afin
secara terpola dan berkesinambungan. BMT juga bertujuan untuk
memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat
pada umumnya serta meningkatkan kekuatan dan posisi tawar pengusaha
kecil menengah dengan pelaku ekonomi yang lain. Pada awalnya
pendirian BMT didasari oleh legalitas hukum sebagai KSM (Kelompok
Swadaya Masyarakat) dan PINBUK diberikan wewenang oleh Lembaga
Keuangan indonesia (BI) berdasarkan naskah kerjasama antara BI
dengan PINBUK. Sementara pada prakteknya kegiatan BMT menyerupai
koperasi dan terdapat beberapa kenyataan yang memberikan landasan
yang kuat pada BMT sebagai gerakan koperasi antara lain:
1. BMT didirikan dengan semangat koperasi, yaitu semangat
kekeluargaan untuk meningkatkan kualitas masyarakat
2. BMT lebih menyebar ke akar rumput dengan skala ekonomi yang
kecil
3. BMT didirikan dengan semangat kemandirian untuk memperkuat
Lembaga Keuangan masyarakat di akar rumput
4. BMT didirikan dengan motivasi moral keagamaan yang
mendorong adanya komitmen moral dari para pendirinya
5. BMT bekerjasama dengan lembaga-lembaga setempat
6. BMT memiliki potensi dana pendukung social yaitu dana zakat,
infak dan shodaqoh yang memiliki prospek untuk pengembangan
ekonomi kecil.

Berdasarkan misi dan tujuan BMT secara umum maka badan ekonomi
yang menaungi aspek legal dari BMT yang sesuai adalah KOPERASI
dengan dua model aplikasinya, yaitu: Model Pertama berupa Koperasi
Serba Usaha (KSU) atau Koperasi Simpan Pinjam (KSP), dan Model
Kedua, dalam bentuk Unit Simpan Pinjam (USP) yaitu dikelola di bawah
pengawasan koperasi induk.

BMT sebagai untui usaha koperasi


BMT syariah merupakan unit usaha yang mempunyai fungsi utama untuk
melayani kebutuhan anggota BMT dan anggota di luar BMT dalam
melakukan kegiatan simpan pinjam.
Aspek Legal
Untuk lingkup usaha koperasi dan BMT mengacu kepada ketentuan yang
terdapat didalam UU no 25 tahun 1992 pasal 43 dan 44 meliputi;
1. Usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan dengan dengan
kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan
kesejahteraan anggota.
2. Kelebihan kemampuan pekayanan koperasi dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan anggota koperasi
3. Koperasi menjalankan kegiatan usaha dan berperan utama di
segala bidang kehidupan rakyat
4. Koperasi dapat menyalurkan segala kegiatan usaha simpan pinjam
dari dan untuk anggota koperasi bersangkutan dan koperasi lain
dan atau anggotanya
5. Kegiatan usaha simpan pinjam dapat dilaksanakan sebagai salah
satu atau satu-satunya kegiatan usaha koperasi
6. Pelaksanaan kegiatan usaha simpan pinjam oleh koperasi diatur
lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.

Selain mengikuti UU no 25 tahun 1992 diatas, legalitas KSP/USP juga


diperkuat lagi oleh peraturan pemerintah no 0 tahun 1995. berdasarkan
peraturan tersebut maka berlaku ketentuan umum sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan
untuk menghimpun dana dan menyalurkan nya melalui Kegiatan
usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi
bersangkutan, calon anggota koperasi yang bersangkutan,
koperasi lainnya dan atau anggotanya.
2. Koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang kegiatannya hanya
usaha simpan pinjam
3. Unit simpan pinjam adalah unit koperasi yang bergerak dibidang
simpan pinjam sebagai begiandari kegiatan usaha koperasi yang
bersangkutan
4. Sesuai dengan PP no 9 tahun 1995 pasal 5, dijelaskan bahwa
koperasi yang sudah berbadan hokum usahanya di bidang simpan
pinjam wajib mengadakan perubahan anggaran dasar dengan
mencantumkan usaha simpan pinjam sebagai salah satu usahanya.

Dalam hal ini unit usaha simpan pinjam BMT sudah sesuai dengan
anggaran dasar dari Koperasi yang sudah mencantumkan usaha simpan
pinjam sebagai salah satu kegiatan usahanya.

STRUKTUR DAN ALAT ORGANISASI


Dalam organisasi BMT yang berlegalitas koperasi memiliki komponen atau
alat organisasi yang terdiri dari:

RAT (Rapat Tahunan Anggota)


Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam BMT
sehingga seluruh anggota memiliki hak yang sama untuk meminta
keterangan dan pertanggungjawaban dari pengurus dan pengawas
mengenai pengelolaan BMT. Pelaksanaan Rapat anggota dilaksanakan
paling sedikit 1 tahun sekali. Rapat anggota akan membahas dan
menetapkan antara lain:

• Anggaran Dasar
• Kebijakan umum dibidang organisasi, manajemen dan usaha
BMT
• Pemilihan dan pemberhentian pengurus dan pengawas
• Rencana kerja dan anggran pendapatan dan belanja BMT
• Pengesahan laporan
• Pengesahan, pertanggungjawaban pengurus dalam
pelaksanaan tugasnya
• Pembagian sisa hasil usaha
• Penggabungan dan peleburan pembagian dan pembubaran
BMT.

Pada BMT, RAT dilakukan pada tingkat koperasi dan yang berhak
mengikuti adalah anggota biasa dan anggota luar biasa yang diundang

Badan Pengawas Syariah


Badan ini wajib untuk diadakan dan dioperasional untuk lembaga
keuangan yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Anggota
DPS harus terdiri dari para ahli dibidang syariah muamalah yang didukung
oleh pemahaman terhadap pengetahuan umum di bidang oprasional
lembaga keuangan syariah. Secara umum tugas dan tanggung jawab dari
Badan Pengawas Syariah adalah:
1. Mengawasi kegiatan usaha BMT agar tidak menyimpang dari
ketentuan dan prinsip-prinsip syariah
2. Memberikan nasehat dan saran kepada pengurus, pengelola, dan
pengawas keuangan yang berkaitan dengan aspek syariah
3. Menelaah aspek syariah terhadap produk dan pengembangan
produk dan jasa keuangan yang ditawarkan oleh BMT

Pada saat in BMT belum memiliki badan pengawas syariah akan tetapi
fungsinya menyatu kepada badan pengawas.

Badan Pengawas
Badan ini diadakan sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian (prudential)
bagi BMT dalam melaksanakan operasionalnya. Anggota badan
pemeriksa/pengawas dipilih oleh Rapat anggota. Badan pengawas
bertanggung jawab kepada Rapat anggota. Secara umum tugas dan
tanggung jawab Badan Pemeriksa adalah:
• Membuat kebijakan umum dan melakukan pengawasan
pelaksanaan kegiatan operasional sehingga sesuai dengan tujuan
lembaga
• Melakukan pemeriksaan (audit) terhadap pengelola BMT.
• Melakukan pengawasan kegiatan operasional
• Membuat laporan hasil pengawasan

Pengurus
Pengurus adalah orang-orang yang dipilih oleh anggota BMT dalam Rapat
anggota. Pada tahap awal pendirian, pengurus biasanya dipilih dari
badan pendiri. Persyaratan pemilihan pengurus dicantumkan dalam
AD/ART secara umum. Pada BMT ketentuan pengurus adalah sebagai
berikut:

• Pengurus BMT dipilih dari dan oleh anggota BMT


• Pengurus BMT merupakan pula pengurus dari koperasi. Pengurus
BMT terdiri dari Ketua, Sekretaris dan bendahara.
• Pengurus bertanggungjawab atas perkembangan BMT dalam :
Memeriksa BMT, memberi pengarahan, mengontrol pengelola,
membantu pengelola menyelesaikan masalah yang dihadapi serta
memberikan laporan kepada badan pendiri dan anggota BMT
• Pada BMT masa kerja Pengurus adalah 5 tahun sekali. Setiap
tahun Pengurus BMT dan pengelola harus membuat laporan
pertanggungjawaban.
Struktur organisasi BMT

RAPAT ANGGOTA
TAHUNAN

BADAN PENGAWAS BADAN


SYARIAH PENGAWAS

PENGURUS

MANAGER

TELLER/KASIR PEMASARAN ADMINISTRASI DAN


KEUANGAN

Pengelola BMT
Keterangan lebih lanjut mengenai pengelola diterangkan dalam Kebijakan
SDM dan UM

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga


Sebagai lembaga keuangan yang berbadan hukum koperasi, maka salah
satu syarat lain dalam alat organisasi di BMT adalah adanya Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Hal ini merupakan dasar
atau pedoman umum dalam pengambilan keputusan bagi pengurus dalam
menjalankan kegiatannya.

Pada BMT AD/ART bersatu dengan AD/ART untuk koperasi.


PENDIRI BMT

Pendahuluan
BMT didirikan dan dimiliki oleh masyarakat setempat, bukan oleh oran lain
diluar masyarakat tersebut. BMT didirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat
dan anggota masyarakat lainnya. Tokoh masyarakat tersebut seperti
tokoh informal (pimpinan ormas, pimpinan agama, pimpinan adapt, dll),
pimpinan formal (camat, kepala desa, dst), usahawan, hartawan,
dermawan dan lain-lain. Sebagai pendiri dapat juga mereka yang
dibesarkan di lokasi BMT namun saat ini menjadi tokoh masyarakat di
tempat lain. Tentu saja mereka ini harus mempunyai komitmen yang kuat
untuk membangun daerah asal. Diperlukan minimal 20 orang, akan lebih
baik jika lebih agar B MT dimiliki oleh orang banyak sehingga tidak
didominasi dan tersebar merata.

Pendiri
KEANGGOTAAN DAN RAPAT ANGGOTA
Pendahuluan
Berdasarkan perundangan yang berlaku di Indonesia (UU no m25 tahun
1992 dan PP no 9 tahun 1995) terdapat dua badan yang secara syah
mempunyai hak untuk menghimpun dana masyarakat yaitu Lembaga
keuangan dan koperasi. Perbedaannya adalah Lembaga keuangan dapat
menghimpun dana masyarakat secara luas dan mengacu pada peraturan
Lembaga keuangan Indonesia, sedangkan koperasi dapat menghimpun
dana anggota dan mengacu pada Peraturan Departemen koperasi.

BMT merupakan badan hukum koperasi sehingga untuk operasionalnya


dan pelayanannya mengikuti aturan umum dari koperasi. Khususnya
USP: PP no 9 tahun 1995. untuk kepentingan bersama maka
keanggotaan dalam BMT dapat dibagi sebagai berikut:

Keanggotaan
Setiap anggota masyarakat dapat menjadi anggota BMT dengan
memenuhi semua syarat:
a. Warga Negara Indonesia
b. Memiliki kesinambungan usaha dengan kegiatan koperasi
c. Memiliki kemampuan penuh untuk melakukan tindakan hukum
d. Bersedia membayar simpanan pokok sebesar Rp. 100.000 (seratus
ribu rupiah) dan simpanan wajib yang besarnya ditentukan dalam
Anggaran Rumah Tangga dan atau keputusan Rapat anggota.
e. Menyetujui isi Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga dan
ketetentuan yang berlaku dalam koperasi
f. Bertempat tinggal kedudukan dan domisili diwilayah republic
Indonesia
Berdasarkan status anggota BMT dapat dibagi menjadi 4 kategori:
Anggota pendiri
Yaitu mereka yang ikut mendirikan BMT dengan menyetorkan modal awal
BMT yang disebut Simpanan Pokok Khusus. Hak dan kewajiban dari
anggota pendiri sbb:
a. Mempunyai hak untuk dipilih dan memilih pengurus
b. Mempunyai hak untuk mengikuti RAT
c. Mendapatkan Sisa Hasil Usaha sesuai dengan proposinya masing-
masing setiap tahun

Anggota biasa
Yaitu mereka yang memanfaatkan jasa BMT dan sudah melunasi
Simpanan Pokok seta bersedia membayar simpanan wajib. Hak dan
kewajiban dari anggota biasa BMT adalah:
a. Anggota aktif BMT
b. Mempunyai hak untuk dipilih dan memilih pengurus
c. Mempunyai hak untuk mengikuti RAT
d. Mendapatkan Sisa Hasil Usaha sesuai dengan proposinya masing-
masing setiap tahun
e. Tidak dapat dipindah tangankan

Anggota luar biasa


Yaitu mereka yang berstatus sebagai Warga Negara Asing (WNA) atau
WNI bermaksud menjadi anggota dan memiliki kebutuhan dan kegiatan
ekonomi yang diusahakan oleh koperasi namun tidak dapat memenuhi
semua syarat sebagai anggota. Anggota luar biasa BMT mempunyai hak
dan kewajiban sbb:
a. Masyarakat yang telah menyatakan kesanggupan mengikuti
persyaratan anggota luar biasa
b. Melakukan simpanan pokok dan simpanan wajib
c. Tidak Mempunyai hak untuk dipilih dan memilih pengurus
d. Menghadiri dan berbicara dalam RAT
e. Mendapatkan Sisa Hasil Usaha sesuai dengan proposinya masing-
masing setiap tahun
f. Tidak dapat dipindah tangankan

Calon anggota
Yakni calon anggota yang memanfaatkan jasa BMT namun belum
melunasi Simpanan Pokok dan simpanan wajib / belum memenuhi semua
syarat keanggotaan BMT. Masyarakat luar diluar BMT yang sudah
mendaftarkan dan melakukan proses simpanan tabungan maupun
simpanan berjangka.
a. Tidak Mempunyai hak untuk dipilih dan memilih pengurus
b. Tidak membayar simpanan pokok dan simpanan wajib
c. Menghadiri dan berbicara dalam RAT
d. Tidak Mendapatkan Sisa Hasil Usaha sesuai dengan proposinya
masing-masing setiap tahun
e. Tidak dapat dipindah tangankan
f. Calon angota ini hanya berlaku selama 3 bulan dan akan
diteruskan statusnya menjadi anggota luar biasa.

Rapat Anggota
Rapat anggota merupakan lembaga tertinggi dalam BMT
Rapat anggota diikuti oleh anggota pendiri, pengurus serta anggota biasa
BMT
Rapat anggota sekurang-kurangnya diadakan setahun sekali
Rapat anggota dapat diadakan bila 10% dari anggota yang berhak
mengikuti meminta untuk mengadakan rapat anggota tersebut
VISI DAN MISI BMT
Sebagai organisasi yang berorientasi ke depan (visionary organization),
BMT juga mempersiapkan kelengkapan strategis planning yang
mengarahkan organisasi. Salah satu hal yang harus ada dalam visionary
organization adalah ideology inti sebagai berikut:

Tujuan BMT
Menjadi solusi ekonomi masyarakat berdasarkan syariah

Nilai-nilai BMT
Menerapkan nilai-nilai Islami: Jujur, Cakap, Kreatif dan Inovatif

Jujur
Pastikan bicara selalu benar, janji selalu ditepati, amanah dipenuhi, berani
terbuka, transparan apa adanya, tak kenal licik dan dusta.
Implementasi perilaku:
• Senantiasa memberi informasi benar apa adanya kepada stake
holder
• Memberikan laporan yang transparan dan tepat waktu
• Menepati janji kepada anggota
• Menjaga keamanan data anggota
• Berani mengakui kesalahan
• Tidak menerima suap

Cakap
Lakukan segala sesuatu terbaik dan sempurnakan, kesuksesan adalah
kalau sebanyak mungkin memuaskan hamba Allah.
Implementasi perilaku:
• Bekerja keras, cerdas dan ikhlas
• Bekerja sesuai prosedur
• Selalu meningkatkan kemampuan diri
• Meningkatkan kualitas pelayanan
• Tepat dalam penghimpunan dan penyaluran dana

Kreatif dan inovatif


Pastikan selalu belajar dan mengembangkan kemampuan diri, sehingga
timbul ide, gagasan, dan wawasan yang baru dan solutif.
Implementasi perilaku:
• Pandai dan tanggap menjawab peluang pasar
• Belajar dan berlatih tiada henti
• Keberanian mengambil langkah dan resiko
• Berani mengambil langkah terobosan produk

Visi BMT
Menjadi lembaga keuangan mikro syariah yang mandiri dan tangguh

Misi BMT
Bisnis
Mencapai standar lembaga keuangan mikro syariah dengan asset Rp. 1
Milliar.

Sosial
Menjadi model lembaga keuangan mikro syariah yang memberikan
kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.