You are on page 1of 3

KEADILAN UNTUK SEMUANYA

Oleh: Muhsin Hariyanto

Umar bin Khattab – ketika menjadi


kepala negara -- pernah 'marah besar'
kepada Amru bin 'Ash (Gubernur Mesir
pada saat itu), karena ia berbuat zalim
terhadap seorang Yahudi Miskin di
wilayah kekuasaannya. Dan oleh
karenanya, Si Amr bin Ash pun
meminta maaf kepada Si Yahudi Miskin
itu, dan segera mengembalikan haknya.
Itulah keadilan, yang oleh Umar bin
Khattab tidak sekadar diteriakkan
dengan lantang, seperti teriakan para
pendekar hukum di belahan dunia mana
pun dengan slogan: "Justice for All",
namun benar-benar dilaksanakan. Dan
kini, integritas Umar, Sang Penegak
Keadilan itu, kembali digaungkan.
Namun, hingga kini, tanpaknya tak
kunjung hadir menjadi komitmen kita.
Kita pun selalu bertanya: "Akankah
keadilan itu akan tetap tinggal sebagai
teriakan dan sekadar slogan?"
Terlalu banyak untuk dikalkulasi ayat al-Quran dan Hadis
yang menyeru manusia untuk menegakkan keadilan dalam setiap sikap dan
perbuatan. Para rasul pun diutus ke tengah kaum atau bangsanya juga untuk

1
menegakkan keadilan. Nabi Musa, misalnya, diutus Tuhan untuk membasmi
kezaliman Firaun. Nabi Ibrahim diutus buat menegakkan keadilan terhadap Raja
Namrud yang memperlakukan bangsa Babilonia sesuka hatinya. Begitu pula
Nabi Muhammad s.a.w.. Nabi yang terakhir ini, pertama kali diutus untuk
bangsa seluruh umat manusia untuk menegakkan keadilan di tengah kezaliman
dan kejahiliyahan bangsa Arab ketika itu. Dan hasilnya pun, menurut para
sejarawan, "sangat memuaskan"

Para faqih (ahli fikih) menjelaskan bahwa "keadilan" berarti memberikan


satu ketentuan (hukum) yang tidak menyimpang dari kebenaraan. Berdasarkan
pengertian umum, kata mereka, keadilan bermakna bertindak sama atau serupa,
atau dalam kata lain adalah bertindak "proporsional".

Gagasan keadilan dalam al-Quran dan hadis, oleh para faqih, kemudian
dikemas rapi menjadi sebuah "tesis" yang mengandaikan harapan akan
munculnya sebuah tatanan kehidupan yang serba harmonis untuk siapa pun
dalam konteks apa pun. Dan oleh karenanya, keadilan tidak akan pernah
berkolaborasi dengan "kezaliman" dalam segala bentuknya. Kata para pemimpin
kita: "keadilan harus terwujud di tengah masyarakat. Keadilan mesti ditegakkan
dalam segala bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun kehidupan
politik".

Tentu saja, kita semua tidak ada yang tidak sepakat dengan teriakan dan
seruan para penganjur keadilan itu. Hanya saja pertanyaannya: "benarkah mereka
telah memiliki komitmen yang sebegitu kokoh untuk menegakkannya bersama
seluruh elemen umat manusia, termasuk para pemimpinnya?"

Ketika seseorang berkata: ''Keadilan adalah sendi negara. Tak akan


pernah kekal suatu kekuasaan tanpa penegakan keadilan. Andai tiada hukum
yang adil, maka orang akan hidup dalam anarki, tak punya sandaran dan
pegangan.'' Hingga muncul serangkaian kata hikmah: "Keadilan seorang
penguasa terhadap rakyatnya memerlukan empat perkara, Pertama, menempuh
jalan yang mudah; kedua, meninggalkan cara yang sulit dan mempersulit; ketiga,
menjauhkan kesewenang-wenangan; dan keempat, mematuhi kebenaran dalam
perilakunya. Petuah itu semestinya kita jadikan sebagai bahan renungan dengan
selalu bertanya: "Sudah sadarkah kita bahwa selama ini – kita semua – telah jauh
dari makhluk yang bernama "keadilan" itu? Atau, jangan-jangan kita sudah
sebegitu bersahabat dengan "kezaliman", yang membuat kita jauh dari barakah
Allah. Dan oleh karenanya kita menjadi manusia-manusia seperti apa yang
diprediksi para malaikat dalam QS al-Baqarah [2]: 30: "perusak harmoni alam
dan penumpak darah".Puas menjadi predator bagi yang lain, dan tak pernah
bercita-cita lagi menjadi "makhluk yang penuh kelembutan dan kasih-sayang
antarsesama".

Kini saatnya kita sadar bahwa (kesadaran-diri) untuk menegakkan


keadilan harus menjadi bagian yang menyatu dengan seluruh langkah kita.

2
Tegakkah "keadilan" seutuhnya. Jangan sampai karena seseautu alasan yang
dibuat-buat, akhirnya tawaran "keadilan" itu berubah fungsi. Jangan karena
perbedaan kedudukan, golongan, dan keadaan sosial mengakibatkan perlakuan
keadilan itu menjadi sirna. Tiba-tiba kita merasa puas menjadi sangat "formalis",
hingga keadilan yang substantif tidak lagi hadir sebagai penyejuk kehidupan
intrapersonal, interpersonal dan social kita. Kita menjadi semakin jauh dari ridha
Allah, dan menjadi "rela" melangkahkan kaki kita untuk mengikuti langkah-
langkah "setan", karena kita sudah terjebak pada , karena kita sudah terjebak
pada serangkaian thaghut (segala sesuatu yang kita pertuhankan selain Allah).

Belajarlah pada sejarah. Dulu Nabi kita (Muhammad s.a.w.) pernah


menjadi seorang negarawan. Di Madinah, meskipun tanpa proklamasi dan
pengangkatan formal, beliau adalah Nabi sekaligus Pemimpin Negara dan
Pemerintahan. Beliau sadar bahwa dalam ajaran Islam yang beliau yakini dan
sebarluaskan kedudukan rakyat dan pemerintah adalah sama, karena keduanya
merupakan pilar negara. Nabi Muhammad s.aw. pernah berkata kepada Usman
bin Zaid – sahabatnya -- bahwa kehancuran pemerintahan dahulu karena
"ketidak-adilan". Para pemimpinnya selalu memberi dan menjatuhkan hukuman
terhadap rakyat kecil, sedangkan para penjahat dari kalangan atas mereka biarkan
tak tersentuh oleh hukum. Hingga para ulama pun berceloteh: "Tuntutan berbuat
adil haruslah dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, dan lingkungan. Adil
terhadap anak, misalnya, dengan memberikan nafkah, pendidikan, dan keperluan
lainnya. Tegakkan keadilan tidak hanya terhadap kawan, teman seperjuangan
atau seprofesi. Terhadap lawan pun, keadilan harus tetap ditegakkan". Dan sudah
saatnya -- "kini" dan "di sini" -- kita mulai dari diri kita sendiri.

Kalau Umar bin Khattab dengan komitmennya telah menunjukkan betapa


keadilan itu tidak hanya manis untuk dikatakan, tetapi benar-benar lezat dan
terasa nikmat untuk diamalkan, sudahkah para peminpin kita berkompetisi
dengan semangat "fastabiqû al-khayrât" untuk menegakkan keadilan? Bukan
sekadar menjadi follower (pengekor), yang baru berani menegakkannya di ketika
semuanya sudah serba "aman", tetapi benar-benar – dengan gagah-berani –
menjadi trend-setter (pelopor) di tengah-tengah hiruk-pikuk kezaliman yang
tengah merajalela!

Insyâallâh.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES
'Aisyiyah Yogyakarta