You are on page 1of 2

Dalam sebuah Negara yang Sedang Berkembang (NSB) banyak sekali

permasalahan-permasalahan yang sangat komplek untuk ditangani yang


terkadang hal ini menjadi sebuah penghambat bagi perkembangan negara untuk
maju menuju tahap selanjutnya.

Salah satu permasalahan yang menjadi prioritas perhatian dari pemerintah


adalah kemiskinan, hal ini pun sangatlah berpengaruh besar terhadap
perkembangan negara. Tingkat perkembangan jumlah penduduk yang tinggi dan
tingkat kemiskinan yang mengikutinya mesti dijadikan pemicu bagi kelancaran
program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan bukannya
menjadi faktor penghambat.

Kemiskinan merupakan masalah global, yang sering dihubungkan dengan


kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian
orang memahami istilah ini secara subjektif dan komparatif, sementara yang
lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian:


kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan kultural.
 Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil
pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan,
pendidikan, dan papan.
 Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas
garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat
sekitarnya.
 Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau
sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat
kebutuhannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Penyebab kemiskinan banyak dihubungkan dengan:


 Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
 Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan
pendidikan keluarga.
 Penyebab sub-budaya, yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
 Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang
lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.
 Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.
Teori ekonomi mengatakan bahwa untuk memutus mata rantai lingkaran
kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya
manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi.
Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktivitas akan meningkat.
Namun, dalam praktik persoalannya tidak semudah itu. Lantas apa yang dapat
dilakukan?

Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan (P2KP) di perkotaan


lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan
mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif.
Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kalompok sasaran
tidak hanya berkedudukan menjadi objek program, tetapi ikut serta menentukan
program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan,
dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah
berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat
sendiri.

Selain yang di atas, masih ada berbagai model penanganan kemiskinan yang
telah dijalankan cukup banyak, misalnya Program Kesejahteraan Sosial
Kelompok Usaha Bersama Keluarga Muda Mandiri (Prokesos KUBE KMM),
Tabungan Kesejahteraan Rakyat (Takesra), Kredit Usaha Kesejahteraan Rakyat
(Kukesra), Kredit Usaha Kecil Menengah, Jaring Pengaman Sosial (Social Safety
Net Program) dan lain-lain.

Akan tetapi, entah mengapa tetap masih banyak kemiskinan yang ada di negeri
ini padahal program-program penanggulangan kemiskinan sudah dijalankan.
Mungkin menurut pendapat saya, kurangnya sosialisasi dengan warga-warga
miskin sehingga mereka tidak mengetahui adanya program seperti itu.

Masalah mengenai seorang nenek yang kami jadikan sebagai objek observasi ini
dikarenakan faktor usia dan keterbatasan dalam bergerak, namun walaupun
begitu, semangatnya untuk tetap bertahan hidup patut diacungi jempol, beliau
sangat menghargai hidupnya walaupun harus dijalani dengan derita akibat
keterbatasan fisik dan faktor usia apalagi anak-anaknya sendiri sudah
membuangnya. Kalau orang biasa pasti sudah berputus asa, lebih baik mati
daripada hidup menderita.

Jikalau solusi penanggulangan kemiskinan nenek tersebut, karena usianya


sudah tidak memungkinkan lagi, terutama uang dari hasil menjual jagung dll
kurang mencukupi kebutuhan hidupnya, lebih baik kita menuliskan kisah hidup
nenek tersebut di koran, siapa tahu ada dermawan yang bersedia memberikan
sumbangan karena terharu dengan kisah beliau. Itu salah satu ide ku.