You are on page 1of 2

Aku si polos

Tak tahu mengapa ada salah seorang sahabatku yang bilang bahwa aku adalah
orang yang sangat polos. Ya, jelas. Maksudnya bukan tak berpakaian (telanjang,
red). Tapi polos dalam artian sesungguhnya. Mirip (mungkin) dengan orang desa
yang datang ke kota, ditawarkan berbagai pekerjaan termasuk menjadi PSK tapi
mau saja seperti kerbau yang di tusuk hidungnya. Apakah mungkin karena aku mau
saja mendengar semua keluh kesahnya. Atau mungkin karena aku menelan
mentah-mentah semua tudingannya kepadaku. Atau bisa juga karena aku meng-
iya-kan semua perkataannya, pendapatnya, yang memang sejalan dengan ideologi
dan idealismeku. Aneh? Ya, sangat aneh!

Tapi yang jelas itu tak membuatku tersinggung. Aku justru semakin tertarik untuk
lebih mengenalnya, menyelami setiap sudut pemikirannya, bahkan hingga yang
tergelap sekalipun, hingga tiap senti sel-sel otaknya. Kalau perlu, saat jiwa
meninggalkan raganya pun aku mau mengendap-endap dalam gelap malam dan
berlagak sebagai pria tak beretika, sopan santun, dan melupakan semua janji serta
etika ksatria yang kuanut, demi menyusup dalam makamnya, membelah
kepalanya, kemudian mengeluarkan isi kepalanya (terutama otak), untuk di
abadikan di salah satu sudut kamarku. Ide ini aneh? Tentu saja, aku bahkan berpikir
setidaknya 12 kali untuk berani merealisasikannya.

Jelas, aku mengaguminya. Dari mana dia memandangku sebagai si polos yang
terlalu patuh pada aturan dan perkataan adalah rahasia yang akan terungkap nanti.
Meskipun menurutku (terus terang, bukan karena narsis yang teramat sangat) aku
adalah tipe orang yang mungkin paling sulit diintimidasi sesudah Marlon. Aku tak
takut ancaman, bahkan tantangan adalah sesuatu yang selalu aku tunggu-tunggu.
Rintangan selalu aku coba basmi sendiri, dan akan meminta bantuan orang lain
kalau memang aku tak mampu menumbangkannya sendiri. Tapi dengan mudahnya
(Ya, Sangat Mudah!!!), dia menjatuhkan vonis yang sulit untuk dicerna oleh otakku,
bahkan oleh otak kecilku. Aku adalah si polos (sudah ku bilang, bukan polos dalam
artian telanjang!!).

Menarik memang. Aku protes kepadanya, aku bahkan menantangnya untuk


menentukan siapa yang paling polos di antara kami. Dia menerima, maka terjadilah
kesepakatan di antara partner in crime yang nyata-nyata duet tak tentu arah ini. Ini
adalah suatu kompetisi yang tentu akan berjalan sportif karena aku percaya dia,
seperti halnya aku mempercayai mantan-mantanku terdahulu yang jelas-jelas
menghianatiku. Tapi aku yakin dia tak seperti itu. Seakan semua yang ku dapat
darinya serta sifat-sifat yang ada padanya terbaca jelas di otakku, bukan karena
kami sama-sama melakukan yel-yel di atas panggung kala kami ditasbihkan
sebagai dua peserta terbaik BSLT’08. Tapi mungkin lebih karena aku memang
menganggapnya saudariku. Kami akrab, selayaknya dua orang bersaudara kembar
sial.
Yang jelas, hal ini adalah satu dari berjuta warna yang sudah dia berikan, tak hanya
kepadaku. Tapi juga kepada orang-orang sial (ada juga yang beruntung) yang
berada di sekelilingnya. Aku sangat menghargainya. Aku juga segan apabila dia
marah. Ya, api kemarahannya lebih panas daripada orang sial yang terkena
muntaber sekaligus demam berdarah. Aku lebih suka menyebutnya lebih
menakutkan daripada pocong, lebih hancur daripada kuntilanak, dan lebih sensitif
daripada alarm kebakaran. Adalah suatu kejadian langka ketika kita bisa melihat
ketiganya sekaligus. Atau mungkin juga karena hal inilah dia menganggapku
sebagai orang yang polos.