You are on page 1of 2

Aku memiliki dua ekor anjing. Salah satunya adalah jenis Rottweiler.

Namanya
Brandon. Sebelum lebih jauh mengenal anjingku, mari kita mengenal sejarah
Rottweiler.

Anjing dari jenis Rottweiler seringkali dijadikan anjing pekerja. Misalnya, untuk
menggiring domba, sebagai pembawa pesan di saat perang, membantu
pekerjaan polisi, juga untuk menjaga rumah.

Tadinya, anjing dikenal di Jerman Timur sekitar 1900 tahun yang lalu. Jika
berdiri, tingginya sekitar 55 sampai 70 cm diukur sampai bahunya. Dan beratnya
sekitar 34 sampai 41 kg. Rotweiler memiliki bulu yang pendek, yang melekat
dengan kulitnya, teksturnya tebal dan warnanya hitam. Seringkali memiliki
bayangan warna coklat tua dan coklat muda di sekitar pipi, dada, kaki dan
sekitar mata.

Ekornya terletak dekat dengan badannya. Seringkali, ekor ini dipotong sewaktu
Rottweiler masih kecil, sehingga hingga dewasa, ekornya tidak akan tumbuh lagi.

Dinamakan Rottweiler, sesuai dengan salah satu pusatkota peternakan abad


pertengahan di Jerman yang bernama Rottweil, Rottweiler digunakan sebagai
penggiring hewan ternak dan pengawal pengiriman barang.

Ketika menggiring hewan ternak menggunakan anjing dilarang di Jerman sekitar


abad ke-20, Rottweiler digunakan sebagai anjing pengirim pesan, dan kemudian
berkembang menjadi anjing polisi. Kemampuan sebagai anjing polisi,
menghindarkan Rottweiler dari kepunahan. Saat ini, keturunan Rottweiler sering
digunakan untuk membantu pekerjaan polisi dan juga dibesarkan sebagai anjing
peliharaan.

Brandon, anjing Rottweilerku, sudah berusia 10 bulan saat ini. Pertama kali
diambil, usianya 3 bulan. Saat ini beratnya sudah 38 kg. Bulu di tubuhnya
hampir seluruhnya berwarna hitam, nampak mengkilat. Bulu di sekitar kakinya
berwarna coklat muda. Ekornya pendek, karena sudah dipotong sejak diambil.
Wajahnya terkesan galak. Dan yang paling membuat aku suka, suara
gonggongannya sangat berwibawa. Suaranya berat dan keras. Siapa pun orang
asing yang mendengarnya akan merasa takut.

Sehari-harinya, Brandon ditempatkan di sebuah kandang yang luasnya cukup


untuk dia berjalan-jalan, namun tidak cukup untuk dia meloncat-loncat.
Orangtuaku mengajaknya berjalan-jalan hanya di hari libur, karena di hari lain,
orangtuaku bekerja. Mungkin karena kurang aktivitas, setiap kali Brandon
dikeluarkan dari kandang, dia akan sangat gembira. Kegembiraannya
ditunjukkan dengan meloncat ke orang yang mengeluarkannya dari kandang,
dengan mulutnya terbuka menunjukkan giginya yang runcing dan besar.

Seringkali, ibuku tergigit, atau ayahku tercakar. Namun kedua orangktuaku tetap
menyayangi si Brandon. Aku pun juga kadang-kadang mencoba menarik tali
pengikatnya. Namun tenagaku belum cukup kuat untuk menahannya. Biar pun
begitu, aku juga tetap menyayangi anjingku, Brandon.
Wina membuka pintu kelasnya perlahan-lahan. Dilihatnya sebuah jendela yang
terbuka. Di bawah jendela, tampak sebuah meja guru yang memakai tapalak putih. Di atas
taplak putih itu ada sebuah vas bunga dari kayu. Vas bunga tersebut bergambar beberapa
kuntum bunga matahari seperti bunga yang ada didalamnya. Disebelahnya tergeletak sebuah
agenda kelas yang terbuka dan kalender duduk.

Wina lalu memasuki ruang kelasnya dengan langkah yang lambat. Dia memalingkan
pandangan ke arah kanan. Tampak satu buah white board yang bersih tanpa coretan. Di
sebelah kiri white board tersebut, terpasang sebuah tempat spidol berwarna biru muda,
serasi dengan dinding yang bercatut biru tua. Dan disebelah kanan white board terpasang
satu papan madding yang penuh tulisan-tulisan karya siswa.

Wina memutar pandanganya ke belakang kelas. Ada sebuah pribahasa berbahasa


inggris yang berwarna kuning bertuliskan ‘practice make perpect’ dibawahnya terpasang
sebuah system periodik unsur-unsur di kiri kananya juga terpasng sebuah denah duduk dan
daftar kelompok belajar.

Selain itu, ditatapnya dinding kiri kelas. Di sana terpasang struktur organigram dan
sebuah daftar regu kerja dari karton berwarna kuning. Struktur organigram dan daftar regu
kerja tersebut ditutupi oleh plastic bening.

Wina berpaling kedinding kanan. Disana tergantung daftar pelajaran berwarna kuning.
Daftar pelajaran itu disusun tak berurutan, hurf-hurufnya pun dari guntingan majalah. Meski
tampak tidak rapi,namun cukup bagus dan menarik.

Wina menyusuri deretan bangku kosong didepanya. Tak usah dihitung lagi karena
pasti ada 40 meja dan 80 kursi. Dan tanpa kata wina berjalan kebangkunya sendiri,dan
duduk manis disana.