Вы находитесь на странице: 1из 51

LAPORAN

PRAKTIK MESIN LISTRIK

1. Praktik Mesin Arus Searah


2. Praktik Mesin Arus Bolak-Balik
3. Praktik Transformator

Disusun Oleh
Roni Setiawan (08518241014)

Dosen/Instruktur:
Drs. Sunyoto, MPd.

PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
LAPORAN PRAKTIK MESIN ARUS SEARAH

PERCOBAAN GENERATOR PENGUAT TERPISAH,


GENERATOR SHUNT DAN GENERATOR SERI

A. Tujuan
Tujuan diadakanya praktek ini adalah agar mahasiwa:
1. Dapat mengidentifikasi peralatan yang digunakan untuk pengoperasian dan pegujian
mesin-mesin searah.
2. Dapat mengatasi jika dalam mesin searah terdapat troble
3. Dapat menghitung daya masuk generator dan motor secara teori maupun
mengukurnya dalam prkatek
4. Dapat menghitung daya keluar generator dan motor secara teori maupun
mengukurnya dalam prkatek
5.
generator
6.
jenis sambungan motor

B. Dasar Teori
1. Generator penguat terpisah
Ciri utama dari generator penguat terpisah adalah bahwa lilitan penguat medan
magnet terpisah dengan rangkaian kelistrian generator, dan lilitan penguat tersebut
disuplai dengan sumber tegangan sendiri.
2. Generator Penguat Sendiri
Generator penguat sendiri adalah generator yang lilitan penguat medan magnetnya
disambung dengan rangkaian kelistrikan generator, sehingga tegangan yang
mensuplai lilitan penguat tersebut adalah tegangan keluaran generator itu sendiri.
a. Generator Shunt
Generator shunt adalah generator yang penguat medan magnetya disambung
parallel dengan lilitan jangkar. Lilita shunt ini (Rsh) memiliki resistansi yang
besar.
b. Generator Seri
Generator seri adalah generator yang penguat medan magnetya disambung seri
dengan lilitan jangkar. Lilitan seri ini (Rs) memiliki resistansi yan kecil.
3. Polaritas Tegangan Pada Generator Arus Searah
Polaritas tegangan yang dihasilkan oleh lilitan jangkar dipengaruh oleh arah garis
gaya magnet dan arah putaran. Jadi jika polaritasnya terbaik, maka:
a. Pada generator penguat terpisah
Tidak mempengaruhi besar tegangan yang di hasilkan, hanya saja polaritas
tegangan pada generator tebalik.
b. Pada generator penguat sendiri
Walaupun generator diputar dengan kecepatan nominal, tegangan yang dihasilkan
tiak sesuai yang diharapkan. Hal ini dikarenakan arus yang mengalir pada lilitan
penguat medan magnet menghasilkan garis gaya magnet yang meawan magnet
sisa.
4. Daya dan efisiensi
Besarnya daya-daya pada generator dapat dicari dengan rumus:
Pin = Pa + Pint+ges /60
Pa = E a . I a
Pout = V. iL = Pa PCU
gen = Pout/Pin
5. GGL Induksi
Besarnya GGL induksi pada lilitan jankar data ditentukan dengan rumus:
Ea /A).(n/60)
6. Karakteristik Generator
a. Karakteristik tanpa beban, Ea = f(Im), n = konstan
Pada Generator penguat terpisah
magnetnya (Ea = C1
Pada Generator shunt
(Ea = C1 lengkung.
Pada generator seri pada generator seri IL = IS = Ia, sehingga hal ini tidak
mungkin dilakukan karena arusnya sangat besar dan memungkinkan dapat
terbakarnya lilitan jangkar.
b. Karakteristik luar generator, V = f(IL), n = konstan
Pada generator penguat terpisah besarnya tegangan V (V out) berkurang,
karena disebabkan adanya kerugian tegangan pada jangkar
Pada generator shunt bila dibandingkan dengan generator penguat terpisah,
kerugian yang disebabkan oleh tegangan jangkar lebih besar. Hal ini
disebabkan karena tegangan V (Vout) turun, sehingga arus beban (I L) akan
turun dan mengakibatkan arus penguat (Ish) akan turun juga.
Pada generator seri dengan mengatur arus beban IL berarti mengatur arus
penguatnya (Is). Sehingga karakterstiknya akan sama dengan karakteristik
tanpa beban pada generator shunt.

C. Hasil Percobaan
1. Pengujian pada generator penguat terpisah
Gambar rangkaian
Table hasil pengamatan karakterisrik tanpa beban, E = f(Im)
n = 1400 rpm n = 1300 rpm
Kenaikan Penurunan Kenaikan Penurunan
Im (A) Ea (V) Im (A) Ea (V) Im (A) Ea (V) Im (A) Ea (V)

0 22 0 23.5 0 22 0 22.5

0.05 82 0.05 86 0.05 76 0.05 85

0.1 150 0.1 155 0.1 145 0.1 150

0.15 182.5 0.15 190 0.15 180 0.15 185

0.2 210.5 0.2 210.25 0.2 202.5 0.2 205

0.25 222.5 0.25 222.5 0.25 215 0.25 220

0.3 230 0.3 230 0.3 230 0.3 230

Table hasil pengamatan Karakterisrik luar, V = f (IL), n = 1400 rpm konstan, VNL
= 220 V
Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin (W) Pout (W) gen

1 205 2.1 308 205 0.666


1.5 200 2.8 410.667 300 0.73
2 192.5 3.5 513.333 385 0.75
2.5 180 4.1 601.333 450 0.75
3 165 5 733.333 495 0.675
3.5 160 5.6 821.333 560 0.682
4 155 6.3 924 620 0.671
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin ,1. 2. 3,14 . 1400/60 = 308W
PO = V . IL = 205 . 1 = 205W
in = 205/308 = 0,666
2. Karakterisrik luar, V = f(IL) pada generator shunt
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, data V = f (IL), n = 1400 rpm konstan, VNL = 210 V
Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin (W) Pout (W) gen

1 205 4.4 645.333 205 0.318


1.5 197.5 5 733.333 296.25 0.404
2 190 5.6 821.333 380 0.463
2.5 185 6.2 909.333 462.5 0.509
3 177.5 6.8 997.333 532.5 0.534
3.5 170 7.4 1085.33 595 0.548
4 160 7.8 1144 640 0.559
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin
PO = V . IL = 205 . 1 = 205W
in = 205/645,333 = 0,318
3. Karakterisrik luar, V = f(IL) pada generator seri
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, data V = f (IL), n = 1400 rpm konstan


Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin (W) Pout (W) gen

1 80 1.2 176 80 0.455


1.5 100 1.6 234.667 150 0.639
2 130 2.4 352 260 0.739
2.5 142 3.2 469.333 355 0.756
3 151 4.2 616 453 0.735
3.5 160 5 733.333 560 0.764
4 165 6 880 660 0.75
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin
PO = V . IL = 80 . 1 = 80W
in = 80/176 = 0,455
D. Jawaban Bahan Diskusi
1. Dalam generator penguat terpisah, meskipun Im = 0, generator tetap mengahasilkan
tegangan. Hal ini disebabkan karena adanya magnet tinggal/remanensi magnet pada
kutub-kutubnya
2. Pada generator penguat terpisah tanpa beban, saat Im berubah tegangan yang
diha
berubah. Berdasarkan persamaan Ea = C1

juga turun sehingga Ea akan turun.


3. Gambar karakteristik generator penguat terpisah Ea = f(I m)
Ea

230

Proses turun

Proses naik
23

IL
0,3

4. GGL induksi Ea untuk n = 1300 dan n = 1400 berbeda, karena Ea berbanding lurus
dengan putaran (Ea = C1n
lebih tinggi juga.
5. Pada generator penguat sendiri jika sambungan lilitan penguat magnet terbalik,
generator tidak menghasilkan tegangan sesuai yang diharapkan karena sambungan
terbalik berarti arah arus dan arah garis gaya magnet terbalik juga. Sehingga garis
gaya magnet yang dihasilkan lilitan penguat akan melawan garis gaya magnet pada
magnet pada magnet sisa.
6. Gambar karakteristik karakteristik luar V = f(I L) pada generator penguat terpisah,
V
shunt dan seri Generator Penguat Terpisah

Generator Seri

Generator Shunt

IL
7.

1,0
Generator Seri

Generator
Penguat Terpisah

0,5
Generator Shunt

0,3

IL
1,0 4,0

8. Kesimpulan
- Pada generator penguat terpisah semakin besar arus beban (I L) tegangan (V) yang
dihasilkan generator semakin kecil. Hal ini disebabkan karena semakin besar I L
berarti semakin besar juga arus jangkar (Ia). Dengan arus jangkar yang semakin
besar, berarti rugi tegangan yang diakibatkan lilitan jangkar semakin besar (IaRa
semakin besar). Sehingga V yang dihasilkan semakin kecil (V = Ea IaRa).
- Pada generator shunt, semakin besar I L (arus beban) tegangan V akan semakin
kecil. Hal ini disebabkan karena semakin besar I L maka Ish semakin kecil. Dengan

C1
berkurang.
- Pada generator seri, semakin besar I L tegangan V semakin besar juga. Hal ini
dikarenakan IL = Is = Ia. Sehingga jika IL semakin besar berarti Is dan Ia semakin

semakin besar (Ea = C1


besar.
LAPORAN PRAKTIK MESIN ARUS SEARAH

PERCOBAAN GENERATOR KOMPON

A. Dasar Teori
1. Generator Kompon
Generator kompon adalah suatu generator yang mempunyai dua mcam lilitan magne
penguat yaitu lltan penguat shunt dan seri. Generator kompon terdiri dari 2 macam
yaitu kompon panjan dan kompon pendek. Disebut generator kompon panjang apabila
lilitan penguat magnet seri berada pada llitan jangkar. Disebut generator kompon
pendek apabila lilitan penguat magnet seri berada ada lilitan beban.
2. Karakteristik generator kompon
a. Karakteristik tanpa beban, Ea = f (Im) dengan n konstan
Pada generator kompon panjang dan generator kompon pendek (sbg kompon
sangat berpengaruh oleh sifat inti magnetnya, sehingga bentuk
kurva Ea = f (Im) merupakan kurva lengkung yang hampir sama dengan
karakteristik tanpa beban pada generator shunt dan penguat terpisah.
b. Karakteristik luar V = f (IL) dengan n konstan
Pada generator kompon panjang dan kompon pendek (sbg kompon bantu),
semakin besar arus beban tegangan keluaran semakin besa. Pula. Hal ini
disebabkan garis gaya magnet yang dihasilkan oleh liitan penguat magnet seri
memperkuat garis gaya magnet yang diasilkan oleh lilitan penguat magnet shunt.
Pada generator kompon lawan (kompon panjang maupun kompon pendek),
semakin besar arus beban tegangan keluaran semakin besar penurunanya. Hal ini
disebabkan garis gaya magnet yan dihasilkan oleh lilitan penguat seri
memperlemah garis gaya magnet yang dihasilkan oleh lilitan penguat shunt.
B. Hasil Percobaan
1. Karakteristik V = f (IL), n = 1400 rpm konstan pada generator kompon panjang
sebagai kompon bantu
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, V = f (I L), n = 1400 rpm konstan, VNL = 220 V


Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin (W) Pout (W) gen

1 217.5 3.6 528 217.5 0.412


1.5 217.5 4.4 645.333 326.25 0.506
2 215 5.4 792 430 0.543
2.5 215 5.4 792 537.5 0.679
3 212.5 7.4 1085.33 637.5 0.587
3.5 210 8.4 1232 735 0.597
4 207.5 9.4 1378.67 830 0.602
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin
PO = V . IL = 217,5 . 1 = 217,5W
in = 217,5/528 = 0,412
2. Karakteristik V = f (IL), n = 1400 rpm konstan pada generator kompon pendek sebagai
kompon bantu
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, V = f (I L), n = 1400 rpm konstan, VNL = 220 V


Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin Pout gen

1 235 5 733.333 235 0.32


1.5 232 5.7 836 348 0.416
2 230 6.7 982.667 460 0.468
2.5 227 7.8 1144 567.5 0.496
3 222 8.9 1305.33 666 0.51
3.5 220 10 1466.67 770 0.525
4 217 10.9 1598.67 868 0.543
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin
PO = V . IL = 235 . 1 = 235 W
in = 235/733,333 = 0,32
3. Karakteristik V = f (IL), n = 1400 rpm konstan pada generator kompon pendek sebagai
kompon lawan
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, V = f (I L), n = 1400 rpm konstan, VNL = 220 V


Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin (W) Pout (W) gen

1 200 4 586.667 200 0.341


1.5 190 4.4 645.333 285 0.442
2 177 4.6 674.667 354 0.5256
2.5 173 5.2 762.667 432.5 0.5671
3 150 5.2 762.667 450 0.59
3.5 - - - - -

4 - - - - -
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin 4 . 2. 3,14 . 1400/60 = 586,667 W
PO = V . IL = 200 . 1 = 200 W
in = 200/586,667 = 0,341
C. Jawab pertanyaan
1. Gambar karakteristik luar V = f(IL) pada generator kompon panjang sebagai kompon
bantu, dan generator kompon pendek sebagai kompon bantu dan kompon lawan.
V Gen. kompon pendek sbg
kompon Bantu

Gen. kompon Panjng sbg


kompon lawan
Gen. kompon pendek sbg
kompon lawan

IL

2. Pada kompon pendek kutub bantu semakin besar beban tegangan semakin besar,
karena dengan semakain besar beban maka arus penguat seri semakin besar pula (Is =
IL). sehingga garis gaya magnet yang dihasilkan penguat seri bertambah banyak dan
memperkuat garis gaya magnet yang dihasilkan penguat shunt. Sehingga tegangan
yang dhasilkan bertambah.

3. Efisiensi generator

Misal : IL
Po = V . IL = 217,5 . 1 = 217,5W

G = Po/Pin = 217,5/528 = 0,412


Efisiensi pada masing-masing generator ditunjukan pada table berikut :
a. Pada generator kompon panjang sebagai kompon bantu
Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin Pout gen

1 217.5 3.6 528 217.5 0.412


1.5 217.5 4.4 645.333 326.25 0.506
2 215 5.4 792 430 0.543
2.5 215 5.4 792 537.5 0.679
3 212.5 7.4 1085.33 637.5 0.587
3.5 210 8.4 1232 735 0.597
4 207.5 9.4 1378.67 830 0.602
b. Pada generator kompon pendek sebagai kompon bantu
Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin Pout gen

1 235 5 733.333 235 0.32


1.5 232 5.7 836 348 0.416
2 230 6.7 982.667 460 0.468
2.5 227 7.8 1144 567.5 0.496
3 222 8.9 1305.33 666 0.51
3.5 220 10 1466.67 770 0.525
4 217 10.9 1598.67 868 0.543

c. Pada generator kompon pendek sebagai kompon lawan


Data pengamatan Data Perhitungan
IL (A) V (volt) T (Nm) Pin Pout gen

1 200 4 586.667 200 0.341


1.5 190 4.4 645.333 285 0.442
2 177 4.6 674.667 354 0.5256
2.5 173 5.2 762.667 432.5 0.5671
3 150 5.2 762.667 450 0.59

4. pada masing-masing generator

1
Gen. kompon Panjang
sbg kompon bantu
Gen. kompon pendek
sbg kompon Lawan

0,5
Gen. kompon pendek
sbg kompon Bantu

IL
1 3
5. Kesimpulan
- Pada generator kompon bantu penurunan tegangan sangat kecil. Hal ini
disebabkan karena semakin besar I L berarti Ish semakin kecil, sedangkan I S
semakin besar karena Is = IL. Lilitan penguat seri menghasilkan garis gaya magnet
yang memperkuat garis gaya magnet dari lilitan shunt. Sehingga garis gaya
magnet penguat total semakin besar.
- Pada generator kompon lawan penurunan tegangan besar. Hal ini disebabkan
karena semakin besar IL berarti Ish semakin kecil, sedangkan I S semakin besar
karena Is = IL. Lilitan penguat seri menghasilkan garis gaya magnet yang
memperemah garis gaya magnet dari lilitan shunt. Sehingga garis gaya magnet
penguat total semakin kecil.
LAPORAN PRAKTIK MESIN LISTRIK ARUS SEARAH

PERCOBAAN MOTOR PENGUAT TERPISAH DAN


MOTOR PENGUAT SENDIRI

A. Dasar Teori
1. Motor penguat terpisah
Adalah motor yang memiliki lilitan penguat medan magnet terpisah dengan rangkaian
kelistrian motor tsb, dan lilitan penguat tersebut disuplai dengan sumber tegangan
sendiri.
2. Motor penguat sendiri
Adalah motor yang lilitan penguat medan magnetnya disambung dengan rangkaian
kelistrikan motor. Jenis motor penguat sendiri yaitu :
a. Motor shunt motor yang lilitan penguat medan magnetnya dismbung parallel
dengan lilitan jangkarnya.
b. Motor seri motor yang lilitan penguat medan magnetnya disambung seri
dengan lilitan jangkarmya.
3. Daya dan Efisiensi motor
Besarnya daya-daya pada motor dapat dicari dengan rumus:
Pin = V . I
Pa = E a . I a
Pout = Pa - Pint+ges /60
Pint+ges = Ea . Ia (saat beban kosong)
mot = Pout/Pin
4. Besarnya GGL induksi dan torsi motor
Besarnya GGL induksi pada lilitan jankar data ditentukan dengan rumus:
Ea /A).(n/60) = C1.n.
5. Torsi Motor
Besarnya torsi motor adalah T = P/
6. Karakteristik Motor
a. Karakteristik Ta = f(Ia), untuk V konstan
Karakteristik motor penguat terpisah sama dengan karakteristik pada motor
shunt
Karakteristik motor shunt karena suplai motor tetap dan nilai hambatan
shunt juga tetap, maka besarnya arus penguat magnet shunt juga tetap, yang
berarti jumlah garis gaya magnetnya tetap juga. Sehingga secara matematis,
Ta = f(Ia) adalah merupakan garis lurus.
Karakteristik motor seri Jika beban naik maka I akan naik. Besarnya Ia = Is
= I, sehingga jumlah garis gaya magnet akan naik juga. Sebelum kondisi
jenuh, besarnya garis gaya magnet sebanding dengan besarnya arus motor.
Maka dapat dikatakan, sebelm kondisi jenuh Ta = f(Ia) merupakan garis lurus,
sedangkan setelah kondisi jenuh Ta = f(Ia) merupakan garis lengkung.
Karakteristik motor kompon
- Untuk motor kompon bantu garis gaya magnet shunt akan diperkuat
garis gaya magnet seri. Berdasarkan persamaan Ta = C2 1

dan Ea = V
dari motor shunt dan torsi motor akan naik berada diatas karakteristik Ta =
f(Ia) pada motor shunt.
- Untk motor kompon lawan gais gaya magnet shunt diperlemah garis
gaya magnet seri. Berdasarkan persamaan Ta = C2 1

=V
shunt dan torsi motor akan turun berada dibawah karakteristik Ta = f(Ia)
pada motor shunt.
b. Karakteristi n =f(Ia) untuk V konstan
Karakteristik motor shunt Jika terjadi kenaikan beban maka arus jangkar
akan naik, sehingga besar V-
putaran motor semakin kecil juga, karena n = V /C1 . Pada motor
shunt, karena tegangan suplaynya konstan, maka putaran saat beban kosong
dengan saat beban nominal relative konstan.
Karakteristik motor seri Berdasarkan persamaan n = (V-
motor seri tidak diberi beban, maka arus akan kecil sekali, yang berarti arus
penguat magnet seri kecil juga. Jika hal ini terjadi, maka putaran motor akan
tinggi sekali, sehingga motor seri tidak bolrh beroperasi tanpa beban. Jika
terjadi kenaikan arus, maka arus jangkar dan arus penguat magnet seri akan
naik juga . sebelum terjadi kejenuhan paa inti kutub magnet, putaran motor
akan turun cepat sekali (fungsi kuadrat).
B. Hasil Percobaan
1. Karakteristik T = f(Ia), n = f(Ta), V = 220V konstan pada motor shunt
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, Ta = f(Ia), n = f(Ta),dan V = 220V konstan


Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.25 1390 330 36.405 0.11
2 0.45 1370 440 64.586 0.147
2.5 1.2 1360 550 170.97 0.311
3 2 1350 660 282.86 0.429
3.5 2.8 1340 770 393.07 0.511
4 3.5 1330 880 487.67 0.554

Contoh Data perhitungan (data 2)


Pin = V . I = 220 . 1,5 = 330 W
PO 25 . 2. 3,14 . 1390/60 = 36,405 W
in = 36,405/330 = 0,11

2. Karakteristik T = f(Ia), n = f(Ta), V = 220V konstan pada motor shunt


Gambar rangkaian
Table hasil pengamatan, Ta = f(Ia), n = konstan
Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.35 2360 330 86.53 0.262
2 1.25 1980 440 259.286 0.589
2.5 2.1 1730 550 380.6 0.692
3 2.89 1550 660 469.281 0.711
3.5 3.8 1440 770 573.257 0.745
4 4.7 1350 880 664.71 0.755
Contoh Data perhitungan (data 2)
Pin = V . I = 220 . 1,5 = 330 W
PO
in = 86,53/330 = 0,262
LAPORAN PRAKTIK MESIN LISTRIK ARUS SEARAH

PERCOBAAN MOTOR KOMPON

A. Dasar Teori
1. Motor Kompon
Motor kompon adalah suatu motor listrik yang mempunyai dua macam lilitan magnet
penguat yaitu liltan penguat shunt dan seri. Motor kompon terdiri dari 2 macam yaitu
kompon panjang dan kompon pendek. Disebut motor kompon panjang apabila lilitan
penguat magnet seri berada pada lilitan jangkar. Disebut motor kompon pendek
apabila lilitan penguat magnet seri berada ada lilitan beban.
2. Karakteristik motor kompon Ta = f(Ia) dangan V konstan
Pada motor kompon, jika terjadi perubahan beban arus yang mengalir pada lilitan
penguat seri dan lilitan jangkar berubah. Sedangkan arus yang mengalir pada lilitan
shunt tetap, sehingga garis gaya magnet yang dihasikan oleh penguat shunt adalah
konstan.
a. Pada motor kompon bantu
Garis gaya magnet shunt akan diperkuat garis gaya magnet seri. Berdasarkan
persamaan Ta = C2 1 . Maka jumlah putaran
motor akan turun lebih kecil dari motor shunt dan torsi motor naik berada diatas
karakteristik Ta = f(Ia) pada motor shunt.
b. Pada motor kompon lawan
Garis gaya pada pengut shunt diperlemah oleh garis gaya pada penguat seri.
Sehingga berdasarkan persamaan Ta = C2 1 -
jumlah putaran motor akan naik lebih besar dari motor shunt dan torsi motor turun
berada dibawah karakteristik Ta = f(Ia) pada motor shunt.
B. Hasil Percobaan
1. Karakteristik T = f(Ia), n = f(Ta), V = 220V konstan pada motor kompon bantu lilitan
seri penuh
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, Ta = f(Ia), n = konstan


Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.1 1360 330 14.248 0.043
2 1 1260 440 132 0.3
2.5 1.8 1200 550 226.286 0.411
3 2.6 1145 660 311.876 0.473
3.5 3.3 1150 770 397.57 0.516
4 4.4 1090 880 502.438 0.571
Contoh Data perhitungan (data 2)
Pin = V . I = 220 . 1,5 = 330 W
PO 1360/60 = 14,248 W
in = 14,248/330 = 0,043
2. Karakteristik T = f(Ia), n = f(Ta), V = 220V konstan pada motor kompon bantu lilitan
seri tidak penuh
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, Ta = f(Ia), n = konstan


Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.6 1320 330 82.97 0.251
2 1 1290 440 135.141 0.307
2.5 1.85 1340 550 259.705 0.472
3 2.8 1180 660 346.133 0.524
3.5 3.6 1140 770 429.943 0.558
4 4.6 1095 880 527.686 0.6
Contoh Data perhitungan (data 2)
Pin = V . I = 220 . 1,5 = 330 W
PO . 1320/60 = 82,97 W
in = 82,97/330 = 0,251
C. Jawab pertanyaan
1. Menhitung daya keluaran dan daya masukan pada masing-masing motor pada tiap
perubahan beban. Misal : IL = 1,5A, V = 220V, T = 0,25Nm. N = 1390rpm, maka:
Pin = V.I = 220.1,5 = 330W
Po = 0,25 .2.3,14 . 1390/60 = 36,405W
a. Pada motor penguat seri, dengan V = 220V konstan
Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.25 1390 330 36.405 0.11
2 0.45 1370 440 64.586 0.147
2.5 1.2 1360 550 170.97 0.311
3 2 1350 660 282.86 0.429
3.5 2.8 1340 770 393.07 0.511
4 3.5 1330 880 487.67 0.554
b. Pada motor penguat shunt
Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen

1 - - - - -
1.5 0.35 2360 330 86.53 0.262
2 1.25 1980 440 259.286 0.589
2.5 2.1 1730 550 380.6 0.692
3 2.89 1550 660 469.281 0.711
3.5 3.8 1440 770 573.257 0.745
4 4.7 1350 880 664.71 0.755
c. Pada motor kompon
Data pengamatan Data Perhitungan
I (A) T (Nm) N (rpm) Pin Pout gen
1 - - - - -
1.5 0.1 1360 330 14.248 0.043
2 1 1260 440 132 0.3
2.5 1.8 1200 550 226.286 0.411
3 2.6 1145 660 311.876 0.473
3.5 3.3 1150 770 397.57 0.516
4 4.4 1090 880 502.438 0.571
2. -masing
motor.
a. Karakteristik T = f(Ia) b. Karakteristik n = f(T), n = f(Ia)
Ta n

Kompon seri
Kompon seri Seri penuh/tidak
penuh/tidak penuh
penuh Shunt

Shunt

Seri
Ia
Ta,Ia

c. Karakteristik

Kompon seri
penuh/tidak
Shunt
Seri

Ia

3. Dalam mengoperasikan motor arus searah tidak diijinkan disambung langsung


dengan tegangan suplai secara penuh, karena pada saat start besar putaran n = 0,
sehinga besar GGL lawan (Ea) = 0. Bila motor disambung langsung dengan
tegangan suplai secara penuh, maka arus Ia (pada saat start) sangat besar sekali.
Jika lilitan jangkar idak kuat, dikhawatirkan lilitan jangkar akan terbakar.
4. Motor seri tidak diijinkan beroperasi pada beban kosong, karena jika motor seri
beroperasi pada beban kosong, I L sangat kecil. Karena IL=Is=Ia, maka kerugian
tegangan IaRa juga kecil. Dengan berdasarkan persamaan n=(V-IaRa)/C1
putaran motor akan tinggi sekali.
5. Kesimpulan
- Pada motor shunt, semakin besar arus beban torsi yang dihasilkan akan
semakin besar. Hal ini disebabkan karena dengan semakin besar I L, motor
akan menarik arus (I) yang semakin besar. Dengan I yang semakin besar dan
Ish tetap (karena Rsh tetap), maka Ia semakin besar. Dengan Ia yang semakin
besar, akan memperbesar rugi tembaga pada jangkar, sehingga (V-IaRa)
semkain kecil. Karena fluk magnet shunt tetap maka putaran yang dihasilkan
motor akan turun. Sedangkan torsi motor sebanding dengan Ia. Dengan Ia
yang semakin besar maka akan menghasilkan torsi yang besar.
- Pada motor seri, semakin besar arus beban torsi yang dihasilkan akan semakin
besar. Hal ini disebabkan karena dengan semakin besar I L, motor akan
menarik arus (I) yang semakin besar. Dengan I yang semakin berarti Is dan Ia
semakin besar. Dengan Ia yang semakin besar, maka akan memperbesar rugi
tembaga pada jangkar, sehingga (V-IaRa) semkain kecil. Sedangkan denngan
Is yang semakian besar akan menambah fluks magnet. Sehingga dengan fluk
magnet seri dan rugi tembaga yang bertambah (sebanding dengn I L) maka
putaran yang dihasilkan motor akan turun. Sedangkan torsi motor sebanding
dengan Ia. Dengan Ia yang semakin besar maka akan menghasilkan torsi yang
besar.
- Pada motor kompon bantu, garis gaya magnet shunt akan diperkuat garis gaya
magnet seri. Semakin besar I L maka motor akan menarik arus (I) yang
semakin besar juga. Dengan I yang semakin besar dan Ish tetap maka Ia akan
semakin bertambah. Berdasarkan persamaan Ta = C2 1

V aka jumlah putaran motor akan turun bila Ia naik. Dan besar torsi
motor akan naik jika Ia naik.
- Pada motor kompon bantu, besar penurunan putaran tergantung pada penguat
magnet seri, semakin banyak garis magnet yang dihasilkan penguat seri maka
fluks total semakin banyak. Berdasarkan persamaan (V IaRa)/C1
semakin besar fluks total maka putaran akan semakin besar penurunanya.
LAPORAN PRAKTIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK

PERCOBAAN MOTOR INDUKSI 3 FASA


ROTOR SANKAR DAN ROTOR LILIT

A. Tujuan
Tujuan diadakanya praktek ini adalah agar mahasiswa :
1. Dapat merencanakan rangkaian dan merangkai percobaan serta dapat melakukan
percobaan mesin arus bolak balik yaitu motor induksi tiga fasa.
2. Dapat menghitung daya masukan, daya keluaran, efisiensi motor pada pembebanan
yang berubah-ubah
3. Dapat memprediksi torsi maksimum pada suatu motor
4. Dapat menggambarakan karakteristik T = f(s) untuk motor indiksi 3 fasa

B. Dasar Teori
1. Prinsip kerja motor induksi 3 fasa
Jika lilitan stator pada motor induksi 3 fasa di hubungkan dengan tegangan, maka
pada lilitan jangkat akan terjadi medan magnet putar dengan kecepatan n = (f .
60)/p.
Perputaran medan magnet stator akan memotong medan magnet lilitan jangkar,
sehingga berdasarkan hokum faraday, pada lilitan jangkar akan menghasikan ggl
listrik induksi. Dengan dihubungsingkatnya lilitan rotor, maka paa liltan rotor akan
mengalir arus yang sangat besar.karena arus ini berada dalam meda magnet, maka
sesuai dengan hokum Lorentz pada lilitan rotor dibangkitkan gaya memutar rotor,
dan putaran rotor sesuai dengan arah putaran medan magnet stator.

2. Slip motor
Jumlah putaran rotor selalu lebih rendah dari putaran magnet stator, selisih kedua
putaran tersebut disebut slip, dan besarnya dapat ditentukan dengan rumus :
s = (ns-nr)/ns
3. Frekuensi tegangan dan arus rotor
Pada saat rotor masih diam, frekuensi tegangan pada lilitan rotor sama dengan
frekuensi tegangan suplai listrik. Jika rotor sudah berputar maka frekuensi dan arus
rotor akan berubah, dimana fr = s.fs
Pada saat motor berbeban, putaran motor berubah berarti slip motor berubah pula.
Perubahan slip motor akan mempengaruhi besarnya frekuensi tegangan dan arus
lilitan rotor. Dengan perubahan frekuensi, besarnya XL akan berubah juga.
Besarnya Xrr = s.Xr0
Besarnya arus pada lilitan rotor perfasa
Besarnya GGL induksi lilitan rotor adalah
Ero = 4,44 . fp . fd . fro . Nr
Es = 4,44 . fp . fd . fro . Ns
Err = s . Ero

4. Daya dan Efisiensi motor induksi 3 fasa


Daya perfasa pada motor induksi 3 fasa ditentukan dengan persamaan :
P1 = V F . I F
P1Cu = IFs2 . RFs
P2Cu = IFr2 . Rfr
P12 = P2Cu/s
P2 = P12 (1-s)
P2 = P2Cu . ((1-s)/s)
2/P1

5. Torsi Motor
Torsi pada motor ditentukan dengan rumus: T = P/
Torsi motor maksimum terjadi pada saat besarnya reaktansi liltan rotor sama
dengan hambatan lilitan motor. Maka :
Xrr = Rr
sm = Rr/Xro
6. Pengaruh perubahan tegangan terhadap torsi motor
T = (3/ /s)/((Rr/s)+Xro)
Rumus tersebut dapat dituliskan bahwa karena Eo sebanding dengan V, maka T
sebanding dengan V. sehingga jika terjadi penurunan tegangan, maka torsi motor
akan berubah pula. Maka akan dipeoleh perbandingan : Tm1/Tm2 = (V1/V2)2

7. Karateristik motor induksi 3 fasa


Karakteristik yang penting didalam motor induksi 3 fasa adalah krakteristik T =
f(nr) atau sering disebut dengan T = f(s). untuk motor induksi motor lilit yang
dilengkapi dengan hambatan asut Rv yang dipasng seri dengan lilitan rotor,
besarnya sm sangat dipengaruhi oleh harga Rv. Adapun besarnya harga Sm tesebut
adalah Sm = (Rr+Rv)/Xro. Sehingga semakin besar harga Rv, nutk mencapai T
yang sama, slip motor semakin besar.

8. Operasi mesin induksi 3 fasa


a. Starting motor induksi 3 fasa
Terdapat beberapa cara starting motorinduks 3 fasa :
Starting secara langsung, kelemahanya arus start sangat tinggi bias
mencapai 7x arus nominal.
Starting menggunakan sakelar Y-
Starting menggunakan auto trafo, keuntunganya arus yang mengalir ke
motor dapat diatur dengan cara mengatur tegangan supplay
b. Mengatur jumlah putaran motor
Untuk mengatur jumlah putarn motor indusi dapat berpedoman pada rumus
Ns = (60.f)/p, Berdasarkan pada persamaan tersebut jumlah putaran motor
dapat diatur dengan cara mengatur frekunsi tegangan atau mengatur jumlah
kutub.
c. Membalik putaran motor
Putaran motor dapat terbalik jika arah putaran medan magnet stator juga
terbalik. Untk membalik putaran medan magnet stator dapat dilakukan dengan
menukar dua dari tiga penghantar fasa pada motor tersebut.
C. Hasil Percobaan
1. Percobaan motor induksi 3 fasa rotor lilit
Gambar rangkaian

Table hasil pengamatan, motor induksi 3 fasa NL =


1420rpm, VLN = 220V
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I PPh N Pin Pout S

1 5,4 180 1420 540 148.63 0.275 0.053


2 5,4 220 1410 660 295.16 0.447 0.06
3 5,5 280 1400 840 439.6 0.523 0.067
4 5,6 320 1400 960 586.13 0.611 0.067
5 5,7 380 1400 1140 732.67 0.643 0.067
6 5,9 440 1400 1320 879.2 0.666 0.067
7 6 480 1400 1440 1025.73 0.712 0.067
8 6,3 540 1400 1620 1172.27 0.724 0.067
Tegangan line = 100V, Tmaks = 5,8 Nm
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin = 3.PPh = 3.180 = 540W
PO 1. 2. 3,14 . 1420/60 = 148,63W
in = 148,63/540 = 0,275
S = (ns-nr)/ns = (1500-1420)/1500 = 0,053

Table hasil pengamatan, motor induksi 3 fasa rotor lilit sambungan Y, nNL =
1420rpm, VLN = 220V
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I PPh N Pin Pout S

1 1,5 65 1410 195 147.58 0.757 0.06


2 1,65 120 1400 360 293.07 0.814 0.067
3 2 165 1390 495 436.46 0.882 0.073
4 2,5 220 1370 660 573.57 0.869 0.087
5 2,8 280 1350 840 706.5 0.841 0.1
6 3,2 350 1340 1050 841.52 0.801 0.107
7 3,7 420 1320 1260 967.12 0.768 0.12
Tegangan line = 150V, Tmaks = 5,3 Nm
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin = 3.PPh = 3.65 = 195 W
PO 1. 2. 3,14 . 1410/60 = 147,58 W
in = 147,58 /195 = 0,757
S = (ns-nr)/ns = (1500-1410)/1500 = 0,06

Table hasil pengamatan, motor induksi 3 fasa rotor lilit, Rv =50% sambungan
NL = 1420rpm, VLN = 220V
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I PPh N Pin Pout S

1 5,15 140 1390 420 145.49 0.346 0.073


2 5,2 135 1350 405 282.6 0.698 0.1
3 5,25 240 1320 720 414.48 0.576 0.12
4 5,3 295 1290 885 540.08 0.61 0.14
5 5,5 340 1250 1020 654.17 0.641 0.17
6 5,7 400 1200 1200 753.6 0.628 0.2
7 5,95 460 1150 1380 842.57 0.611 0.23
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin = 3.PPh = 3.140 = 420 W
PO 390/60 = 145,49 W
in = 145,49 /420 = 0,346
S = (ns-nr)/ns = (1500-1390)/1500 = 0,073

2. Percobaan motor induksi 3 fasa rotor sangkar


Gambar rangkaian

NL

= 1500rpm, VLN = 220V


Data Pengamatan Data Perhitungan
T I PPh N Pin Pout S

1 4 100 1480
300 154.91 0.516 0.013
2 4 150 1480
450 309.81 0.688 0.013
3 4,2 200 1470
600 461.58 0.769 0.02
4 4,4 250 1470
750 615.44 0.821 0.02
5 4,8 350 1460
1050 764.067 0.728 0.027
6 5 400 1460
1200 916.88 0.764 0.027
7 5,4 450 1450
1350 1062.37 0.787 0.033
8 5,8 555 1450
1665 1214.13 0.729 0.033
Tegangan line = 100V, Tmaks = 3,8 Nm
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin = 3.PPh = 3.100 = 300 W
PO 80/60 = 154,91 W
in = 154,91 /300 = 0,516
S = (ns-nr)/ns = (1500-1480)/1500 = 0,013

Table hasil pengamatan, motor induksi 3 fasa rotor sangkar sambungan Y, nNL
= 1460rpm, VLN = 220V
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I P N Pin Pout S

1 1,2 75 1470
225 153.86 0.684 0.02
2 1,55 125 1450
375 303.53 0.809 0.033
3 2 175 1440
525 452.16 0.861 0.04
4 2,52 200 1430
600 598.69 0.998 0.047
5 3,3 300 1350
900 706.5 0.785 0.1
6 4,19 425 1300
1275 816.4 0.64 0.133
7 6,9 650 900
1950 659.4 0.338 0.4
Tegangan line = 150V, Tmaks = 3,2 Nm
Contoh Data perhitungan (data 1)
Pin = 3.PPh = 3.75 = 225 W
PO
in = 154,91 /300 = 0,684
S = (ns-nr)/ns = (1500-1480)/1500 = 0,02

D. Jawab pertanyaan
1. Menghitung daya masukan, daya keluaran, efisiensi dan slip motor pada setiap
perubahan beban dan pada hambatan asut Rv yang berbeda pada motor induksi
3 fasa rotor lilit.
a.
NNL = 1420rpm, VLN = 220V
Pada data pertama diketahui : T = 1Nm, I = 5,4A, P/pase = 180W,
n = 1420rpm
Vperpase = 220V, maka :
Pin = 3.PPase = 3. 180 = 540W

M= Pout/Pin = 148,63/540 = 0,275


S = (ns-nr)/ns = (1500- 1420)/1500 = 0,053
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I Ppase NR Pin Pout S

1 5,4 180 1420


540 148.63 0.275 0.053
2 5,4 220 1410
660 295.16 0.447 0.06
3 5,5 280 1400
840 439.6 0.523 0.067
4 5,6 320 1400
960 586.13 0.611 0.067
5 5,7 380 1400
1140 732.67 0.643 0.067
6 5,9 440 1400
1320 879.2 0.666 0.067
7 6 480 1400
1440 1025.73 0.712 0.067
8 6,3 540 1400
1620 1172.27 0.724 0.067

b. Table hasil perhitungan, motor induksi 3 fasa rotor lilit, Rv =50%


NL = 1420rpm, VLN = 220V
Pada data pertama diketahui : T = 1Nm, I = 5,15A, P/pase = 140W, n =
1390rpm
Vperpase = 220V, maka :
Pin = 3.PPase = 3. 140 = 420W
390/60 = 145,49W
M = Pout/Pin = 145,49/420 = 0,346
S = (ns-nr)/ns = (1500- 1390)/1500 = 0,073
Data Pengamatan Data Perhitungan
T I PPase NR Pin Pout S
1 5,15 140 1390 420 145.49 0.346 0.073
2 5,2 135 1350 405 282.6 0.698 0.1
3 5,25 240 1320 720 414.48 0.576 0.12
4 5,3 295 1290 885 540.08 0.61 0.14
5 5,5 340 1250 1020 654.17 0.641 0.17
6 5,7 400 1200 1200 753.6 0.628 0.2
7 5,95 460 1150 1380 842.57 0.611 0.23

2. Pengaruh hambatan asut Rv terhadap daya keluaran, efisiensi dan slip motor
pada motor induksi 3 fasa rotor lilit.
Hambatan asut Rv adalah hambatan yang dipasang seri dengan rotor. Sehingga
dengan mengatur Rv berarti mengatur besar hambatan rotor. Bila hambatan
rotor naik berarti impedansi rotor juga naik, sehingga besar arus rotor akan
turun. Rv hanya menambah besar resistansi pada rotor, sedangkan reaktansi Xr
tetap. Sehingga semakin besar resistansi rotor (Rr+Rv) berarti daya yang
terbuang semakin kecil. Maka daya input motor semakin besar, sehingga
efisiensi motor menjadi lebih besar. Berdasarkan persamaan Sm =
(Rr+Rv)/Xro, maka slip motor untuk mencapai torsi maksimum lebih tinggi
jika ditambah dengan Rv. Karena slip motor lebih tinggi maka putaran motor
menjadi lebih lambat, dan torsi yang dihaslkan lebih besar.
3. Pengaruh sambungan motor induksi 3 fasa rotor sangkar terhadap daya
keluaran, efisiensi dan slip motor.
Jika motor induksi 3 fasa rotor sangkar disambung bintang dan segitiga dan
juga dipasang pada tegangan VLN = 220v pada tiap masing-masing sambungan,
akan didapatkan daya keluaran, efisiensi serta slip motor yang berbeda. Hal ini
disebabkan karena dengan VLN yang sama berarti VPase pada sambungan
bintang lebih kecil. Dengan tegangan rotor (ER) yang lebih kecil akan
didapatkan arus rotor (Ir) yang lebih kecil juga (Ir = Er/Zr). Karena Ir kecil
maka daya keluaran turun sehingga efisiensi motor lebih rendah. Berdasakan
persamaan P12 = P2Cu/s, semakin kecil P12 maka s akan semakin besar. Selain
berpengaruh terhadap Ir, berdasarkan persamaan (V1/V2)2 = T1/T2, maka jika
tegangan rotor kecil maka torsi yang dihasilkan juga kecil.
4. Perkiraan torsi maksimum motor pada tegangan VLN 220V
- Pada motor lilit sambungan didapat VLN = 100V, Tmaks = 5,8 Nm
(V1/V2)2 = (T1/T2) T2 = T1V22/V12 = 5,8.2202/1002 = 28,1 Nm
- Pada motor lilit sambungan Y didapat VLN = 150V, Tmaks = 5,3 Nm
T2 = T1V22/V12 = 5,3.(220/ )2/(150/ )2 = 11,4 Nm
- Pada motor sangkar sambungan VLN = 100V, Tmaks = 3,8 Nm
T2 = T1V22/V12 = 3,8.2202/1002 = 18,39 Nm
- Pada motor sangkar sambungan Y VLN = 150V, Tmaks = 3,2 Nm
T2 = T1V22/V12 = 3,2.(220/ )2/(150/ )2 = 6,88 Nm

5. Gambar karakteristik T = f(s) motor lilit dan motor sangkar.


T
Xrr

T MAx

Fs

6. Kesimpulan
Motor induksi 3 fasa rotor lilit adalah motor induksi yang lilitan rotornya
disambung diluar motor. Sedangkan motor induksi 3 fasa rotor sangkar
adalah motor induksi yang lilitan rotornya disambung didalam bodi motor.
Motor rotor sangkar memiliki putaran yang lebih tinggi dibandingkan
motor induksi rotor lilit. Dengan putaran yang lebih tinggi, berarti motor
sangkar memiliki torsi yang lebih rendah dibandingkan motor lilit.

ada stator terbukti memiliki torsi yang lebih tinggi, karena


pada sambungan menghasilkan tegangan stator perfasa (Vsp) lebih besar
dari pada sambungan Y. Dengan Vs yang lebih besar akan menghasilkan
arus dan flux yang lebih besar juga. Sehingga dengan fluks yang lebih
tinggi, putaran akan lebih kecil dan torsi yang dihasilkan akan lebih besar.
Berdasarkan persamaan : Sm = (Rr+Rv)/Xro, untuk menambah besar torsi
motor, dapat dilakukan dengan cara menambah nilai resistansi pada lilitan
stator (stator disambung dg Rv). Dengan resistansi yang lebih besar, akan
menghasilkan slip yang lebih tinggi sehingga putaran yang dihasilkan lebih
kecil. Dengan putaran motor yang lebih rendah, motor akan menghasilkan
torsi yang lebih tinggi.
LAPORAN PRAKTIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK

MESIN SEREMPAK (ALTERNATOR)

A. Dasar Teori
1. Prinsip dasar
Mesin serempak adalah mesin yang besar putaran rotor sama dengan putaran
medan magnet stator (ns = nr). Alternator adalah mesin yang berfungsi untuk
mengubah daya mekanik menjadi daya listrik. Prinsip dasar alternator adalah
hokum faraday.
2. Rumus dan persamaan pada mesin serempak
Jumlah kutub (P), frekuensi (f) dan putaran alternator (n)
f = np/60 = 2nP/60
Besar GGL induksi pada lilitan stator
E = 4,44.fp.fd.f.Nf
E = GGL induksi stator perfasa (V)
Fp = factor langkah
Fd = factor distribusi
F = frekuensi yang dihasilkan
N = jumlah penghantar perfasa
= jumlah garis gaya magnet (wb)
Daya alternator
Po = 3.Vf.If.
Regulasi tegangan
Adalah perbandingan antara tegangan tanpa beban dengan tegangan beban
penuh.
VR = (EO V)/V
3. Reaksi jangkar
Jika alternator telah memikul beban, maka pada lilitan jangkar akan mengalirkan
arus dan akan m

. Terdapat 3 sifat beban listrik, dengan sifat beban yang berbeda akan
R) yang berbeda juga, sehingga akan mempengaruhi
GGL induksi yang dibangkitkan oleh lilitan jangkar. Sifat beban listrik sebagai
berikut :
Sifat beban resistif, mengakibatkan arus jangkar sefase dengan GGL

Sifat beban kapsitif, mengakibatkan arus jangkar mendahului GGL induksi


sebes -
Sifat induktif murni, mengakibatkan arus jangkar ketinggalan terhadap
GGL induksi sebesar 90o

4. Pengujian (tes) pada alternator


a. Tes hubung terbuka (OCT)
Pada tes ini akan dilihat karakteristik E = f(Im) untuk putaran dan frekuensi
konstan. Dalam daerah tertentu hubungan antara arus penguat magnet (Im)
dengan GGL induksi (E) merupakan garis lurus, tetapi mulai suatu harga
tertentu penambahan E tidak sebanding. Kemudian pada saat tertentu harga
GGL induksi E tidak mengalami perubahan walaupun terjadi perubahan arus
magnet (Im). Hal ini terjadi setelah kemagnetanya mengalami kejenuhan.
b. Tes hubung singkat (SCT)
Dalam tes ini akan diketahui pengaruh perubahan arus penguat magnet (Im)
terhadap arus hubung sinkat (Isc). Hubungan kedua komponen tersebut
merupakan bentuk garis lurus.
Dengan OCT dan SCT aka diperoleh :
Impedansi serempak Zs = Eoc/Isc
Reaktansi serempak Xs =
Besarnya tegangan tanpa beban Eo dapat ditentukan :

Untuk beban induktif

Untuk beban kapsitif

5. Karakteristik luar alternator


Karakteristik lur generator merupakan penggambaran hubungan antara tegangan
terminal alternator dengan arus beban I L atau V = f(IL). Beban pada alternator
memiliki beberapa sifat, yaitu resistif induktif dan kapasitif.
6. Paralel dua alternator atau lebih
Pada kondisi beban puncak alternator yang telah beroperasi kadang-kadang tidak
mampu melayaninya. Untuk itu, agar pelayanan terhadap konsumen tidak
terganggu, maka dilakukan pemaralelan dua atau lebih alternator. Syarat alternator
untuk diparalel :
- Tegangan efektif alternator harus sama, dapat diukur menggunakan
voltmeter
- Frekunsi harus sama, dapat diukur menggunakan frekuensi meter
- Urutan fasa harus sama, dapat diketahui menggunakan tes fasa meter
- Fasa harus sama

B. Hasil Percobaan
1. Pengujian Alternator
Rangkaian pengujian alternator

U2 V2 W2

U1 V1 W1

A
U
V
W

Data tes beban kosong (OCT), n : 1500 rpm


Im 1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.72
V 0 40 74 110 130 175 200 220
Data tes hubung singkat (SCT), n : 1500 rpm
Im 1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.72
Isc 0 0.6 1.1 1.5 1.9 3 6 7.2

Data tes pembebanan alternator beban resistif n : 1500 rpm VL : 220 V


Harga Pengukuran Harga perhitungan
IL(A) V Po (W) T (Nm) VP PIn (W) Cos
0.5 240 180 2 240 314 0.67 57.32
1 220 360 3 220 471 0.61 76.43
1.5 190 525 4,1 190 643.7 0.54 81.56
2 185 660 5 185 785 0.56 84.08
2.5 170 735 5.4 170 847.8 0.58 86.7
3 120 690 5.3 120 832.1 0.53 82.9
3.5 80
480 4 80 628 0.58 76.43
Contoh data perhitungan (data1) :
VP = V perpasa pada pengukuran
PIn
Co L/PO = 240. 0,5/180 = 0,67
in . 100% = 180/314 = 57,32 %
Data tes pembebanan alternator beban induktif n : 1500 rpm VL : 220 V
Harga Pengukuran
Step IL (A) V (volt) P (Watt) T (Nm)
1 0.55 195 0 0,8
2 1 175 0 0,8
3 1.35 150 0 0.8
4 1.5 140 0 0.8
5 1.7 130 0 0.8
6 1.85 120 0 0.8
7 2 110 0 0.8
8 2.1 100 0 0.8
9 2.25 95 0 0.8
10 2.3 85 0 0.8
11 2.4 80 0 0.8
Data tes pembebanan alternator beban kapasitif n : 1500 rpm VL : 220 V
Harga Pengukuran
Step IL (A) V (Volt) P (Watt)
1 0.5 235 0
2 0,55 250 0
3 1.05 270 0
4 1.5 300 0
5 2 310 0
Hambatan lilitan stator per fasa = 30,5 ohm, diperoleh dari OCT dan SCT,
yaitu V/ISC missal pada data 8 OCT dan SCT
Z = V/ISC = 220/7,2 = 30,5

2. Pemaralelan alternator

U2 V2 W2

U1 V1 W1

UG
0 1

0V
UN

IA

0 R S
Gb. Pemaralelan alternator 3 X 220 V ~
T
C. Jawab Pertanyaan
1. Gambar dan Isc = f(Im)
V
V = f(Im)

Voc

Isc
Isc = f(Im)

Im I

2. Perkiraan harga impedansi serempak alternator


Berdasarkan data pada OCT dan SCT, diperoleh (data 2) : Voc = 220A, Isc = 7,2A

3. Gambar karakteristik luar alternator beban R, L, C

Beban Kapasitif

Vo Beban Resistif

Beban Induktif

INom IL

4. Pada pembebanan kapasitif, semakin besar arus beban semakin besar tegangan
terminal generator. Karena sifat dari beban kapasitif yaitu arus mendahuui
tegangan. Sehingga jika alternator dibebani kapasitif, maka arus jangkar akan
mendahului GGL induksi yang dibangkitkan. Dengan arus jangkar yang

R) semkin besar. Dengan fluks total yang semakin besar


maka GGL induksi yang dihasilkan generator semakin besar juga.
5. Pada pembebanan induktif, semakin besar arus beban semakin kecil tegangan
terminal generator. Karena sifat dari beban induktif yaitu arus tertinggal
terhadap tegangan. Sehingga jika alternator dibebani induktif, maka arus
jangkar ketinggalan terhadap GGL induksi yang dibangkitkan. Dengan arus

R) semakin kecil. Dengan fluks


total yang semakin kecil maka GGL induksi yang dihasilkan generator semakin
kecil juga.
6. Efisiensi alternator pada setiap perubahan beban :
n : 1500 rpm VL : 220 V
(data1) :
VP = V perpasa pada pengukuran
PIn
L/PO = 240. 0,5/180 = 0,67
in . 100% = 180/314 = 57,32 %
untuk selanjutnya perhitungan seperti data1, dan hasilnya seperti dalam table:
Harga Pengukuran Harga perhitungan
IL(A) V Po (W) T (Nm) VP PIn (W)
0.5 240 180 2 240 314 0.67 57.32
1 220 360 3 220 471 0.61 76.43
1.5 190 525 4,1 190 643.7 0.54 81.56
2 185 660 5 185 785 0.56 84.08
2.5 170 735 5.4 170 847.8 0.58 86.7
3 120 690 5.3 120 832.1 0.53 82.9
3.5 80
480 4 80 628 0.58 76.43
7. Proses pemaralelan alternator
- Memastikan apakah kedua atau lebih alternator yang akan diparalelkan
memiliki besar tegangan efektif yang sama. Caranya yaitu mengukur
tegangan pada setiap alternator menggunakan voltmeter.
- Memastikan apakah besar frekuensi yang dihasilkan alternator besarnya
sama. Caranya megukur frekuensi yang dihasikan masing-masing alternator
menggunakan frekunsi meter.
- Memastikan urutan fase pada tiap alternator apakah sudah sama, untuk
mengetahui urutan fasa meggunakan tes urutan fasa.
- Untuk mengetahui kapan kedua alternator diparalelkan (tegangan kedua
alternator sefasa) dapat menggunakan sinkronoskop.
8. Pada pembebanan induktif dan kapasitif murni daya beban = 0 karena sifat
alami dari beban kapasitif dan induktif sendiri, yaitu beda fase antara tegangan
dan arus adalah 90o
9. Kesimpulan
Mesin serempak adalah mesin yang memiliki besar putaran rotor sama
dengan besar putaran stator (nr = ns).
Alternator akan menghasilkan reaksi yang berbeda pada tiap jenis beban,
yaitu resistif, kapasitif dan induktif. Jenis beban tersebut mempengaruhi
fluks total pada alternator.
Jika alternator dibebani induktif, semakin besar induktansi berarti semakin
besar arus yang mengalir pada beban. Dengan arus beban yang semakin
besar, maka akan semakin besar juga pengurangan flux total pada motor.
Karena fluks total semakin kecil, tegangan yang dihasilkan generator akan
semakin kecil.
Jika alternator dibebani kapasitif, semakin besar induktansi berarti semakin
besar arus yang mengalir pada beban. Dengan arus beban yang semakin
besar, maka akan semakin besar juga penambahan flux total pada motor.
Karena fluks total semakin besar, tegangan yang dihasilkan generator akan
semakin besar.
Jika alternator dibebani resistif, fluk motor tidak akan terpengaruh.
Sehingga tegangan yang dihasilkan generator relative tetap.
Pada pembebanan induktif dan kapasitif murni daya beban = 0 karena sifat
alami dari beban kapasitif dan induktif sendiri, yaitu beda fase antara
tegangan dan arus adalah 90o
LAPORAN PRAKTIK MESIN LISTRIK
TRANSFOMATOR

PERCOBAAN PADA TRANSFORMATOR I FASA

A. Tujuan
Tujuan diadakanya praktek ini adalah agar mahasiswa :
1. Dapat mengidentifikasi peralatan yang digunakan dalam percobaan dan
menyebutkan fungsi dari masing-masing peralatan
2. Dapat menentukan perbandingan tranformasi
3. Dapat menentukan jenis polaritas transformator
4. Dapat menentukan besarnya rugi inti transformator
5. Dapt menentukan besarnya rugi tembaga transformator
6. Dapat menentukan besarnya efisiensi dan regulasi tegangan transformator

B. Dasar Teori
1. Prinsip dasar transformator 1 fasa
Trafo adalah alat yang berfungsi untuk memindahkan daya listrik dari untaian
primer ke untaian sekunder secara induksi electromagnet. Prinsip dasar trafo
adalah berdasarkan percobaan faraday. Apabila ilitan pimer dihubungkan dengan
tegangan Ac maka akan menimbulkan gars gaya magnet/fluks magnet. Karena
yang mengaliradala arus Ac maka fluks magnet yang timbul adalah Ac (bolak-
balik). Berdasarkan hukum faraday perbandingan GGl yang dibangkitkan antara
lilitan primer (N1) dan liltan sekunder (N2) adalah :
E1 = 4,44.f.N1 2 = 4,44.f.N2
Perbandingan antara E1 dan E2 disebut perbandingan tranformasi yang besarnya :
a = E1/E2 = N1/N2
Inti trafo dibuat berlapis-lapos dengan tujun untuk mengurangi kerugian yang
disebakan arus eddy. Sedagkan untuk mengurngi kerugian histerisis dipilih bahan
sedemikian rupa (bahan dari besi lunak).
Trafo terbagi menjadi dua macam berasarkan polaritasnya, yaitu polaritas
pengurangan dan polaritas penjumlahan, yang dapat diketaui dengan tes polaritas.
2. Rugi dan Efisiensi Trafo
Didalam trafo terdapat dua macam kerugian yaitu rugi inti yang besarnya selalu
tetap dan rugi tembaga yang besarnya berubah-ubah. Untuk menentukan rugi-rugi
tersebut, secara pendekatan dilakukan pengujian, yaitu :
a. Tes hubung terbuka/open tes cicuit (OCT)
Digunakan untuk menentukan rugi inti trafo, dalam OCT diperoleh harga:

Po = Io2.Rm
V = Io.Z Xm =
b. Tes hubung singkat/short circuit tes (SCT)
Digunakan untuk menentukan rugi tembaga trafo. Dalam SCT diperoleh harga:
Impeansi ekivalen : Zo1 = Vsc/I

Pcu = I12.Ro12 Xo1 =

Besarnya efisiensi trafo adalah = Po/(Po+Pint+Pcu)


Efisiensi trafo maksimum pada saat Pcu = Pint. Daya trafo saat efisiensi
maksimum dapat ditentukan dengan rumus :

X = KVA beban penuh. KVA

3. Regulasi Tegangan
Regulasi tegangan atau voltage regulation adalah perbandingan regangan dari
tegangan beban kosong menjadi tegangan pada beban penuh pada factor daya
tertentu. Rumus regulasi tegangan VR = (VNL VL)/VNL
Untuk menentukan tegangan tanpa beban, dilakukan dengan pengujian hubung
singkat. Dengan pengujian tersebut diperoleh harga Zo 1, Ro1, dan Xo1 atau Zo2,
Ro2, dan Xo2. Harga tegangan tanpa beban ditinjau dari sisi sekunder adalah:
V2NL = (V2 2.Ro 2) + j(V2 2Xo 2)
C. Hasil Percobaan
a. Percobaan mengetahui polaritas trafo 1 fasa
Gambar rangkaian:

0-220 V

V1 = 100V, kemudian ukur V2 dan V3


V2 = 52V V3 = 48V
Ulangi langkah 4 untuk lilitan sekunder yang lain
V2 = 52V V3 = 48V

b. Percobaan menentukan perbandingan tranformasi (a)


Gambar rangkaian:

Tabel hasil pengamatan:


V1 15V 20V 25V 50V 75V 100V
V2 7,6V 10V 13V 24,5V 39V 52V
a = V1/V2 1,97 2 1,92 2,04 1,92 1,92
c. Percobaan menentukan rugi inti trafo
Gambar rangkaian:

0-220 V

Tabel hasil pengamatan:


V (V) Io (A) W (watt)
55V 0,8 14
110V 0,39 13,5

d. Percobaan trafo untuk menentukan rugi tembaga


Gambar rangkaian:

0-220 V

Tabel hasil pengamatan:


I2 1A 1,5A 2,0A 2,5A 3,0A 3,5A 4,0A 4,5A 2,9A
I1 0,7A 0,9A 1,0A 1,2A 1,5A 1,8A 2,1A 2,4A 1,2A
V 5V 5,2V 6V 8V 10V 12V 13V 13,5V 8V
P 1,5W 2,5W 5W 9W 14W 20,5W 25W 30,5W 13,5W
e. Percobaan trafo jika disambung beban
Gambar rangkaian:

Variac 0-220 V

Tabel hasil pengamatan:


I2 (A) I1 (A) W1 (W) W2 (W) V2 (V)
1 0,85 185 160 110
1,5 1 220 200 110
2 1,2 245 240 110
2,5 1,35 310 280 110
3 1,6 380 350 110
3,5 1,9 440 420 110
4 2,2 510 470 110
4,5 2,5 570 530 107,5

D. Jawab Pertanyaan
1. Jenis polaritas trafo yang kami uji adalah trafo polaritas pengurangan. Karena
V3 merupakan selisih antara V1 dan V2.
2. Perbandingan tranformasi pada trafo yag kami uji adalah :
a = VP/VS = V1/V2 = 15/7,6 = 2
3. Rugi inti berdasarkan OCT adalah 14W
Rugi tembaga berdasarkan SCT
Trafo 1000VA 220V/4x55V, berdasarkan spesifikasi tersebut maka untaian
primer memiliki spesifikasi 250VA 55V.
Maka arus nominal (IS) = 250/55V = 4,5A, berdasarkan percobaan diatas,
ketika IS = 4,5 A, rugi tembaga (PCU) = 30,5W
4. Efisiensi trafo in

W1 (Pin) W2 (PO) in

185 160 0.86


220 200 0.91
255 240 0.94
310 280 0.9
380 350 0.92
440 420 0.95
510 470 0.92
570 530 0.93

5. Efisiensi maksimum ketika PCU = Pint

X = KVA beban penuh x 1000 . 677,5 VA

Berdasarkan data (beban penuh) V1.I1/W1= 220. 2,5/570 = 0,96


PO = 677,5 . 0,96 = 653,73 W
Pin = Po + 2 .Pint = 653,73 + 2 . 14 = 681,73W
In = 653,73/681,73 = 0,96
6. Kesimpulan
Trafo adalah alat yang berfungsi untuk memindahkan daya dari untaian
primer ke untaian sekunder secara induksi electromagnet.
Perbandingan tranformasi trafo adalah perbandingan antara V P dengan
VS. Besarnya perbandingan tranformasi tersebut adalah : VP/VS = Np/NS
= IS/IP
Trafo memiliki dua macam jenis polaritas. Yaitu :
Polaritas pengurangan, jika besar tegangan antara untaian primer
dan sekunder merupakan selisih kedua tegangan tersebut.
Plaritas penjumlahan, jika besar tegangan antara untaian primer dan
sekunder merupakan penjumlahan besar kedua tegangan tersebut.
Untuk mengetahui besar rugi inti trafo dapat menggunakan tes OCT,
sedangkan untuk mengetahui rugi tembaga menggunakan tes SCT.
Efisiensi maksimum trafo terjadi ketika besar rugi tembaga pada trafo
sama dengan rugi inti trafo tersebut.