You are on page 1of 190

KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara


Jl. Medan Merdeka Selatan 13 Jakarat Pusat
DAFTAR ISI
Hal

DAFTAR ISI i
KATA PENGANTAR iv

BAB I : PENDAHULUAN 1
I.1. Maksud dan Ruang Lingkup 1
I.2. Visi dan Misi Presiden Dalam RPJMN 2010-2014 2
I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN sesuai Renstra
Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 5
I.4. Prioritas RPJMN 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN 7
I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Renstra Kementerian BUMN
Tahun 2010-2014 dan master Plan BUMN Tahun 2010-2014 9
I.6. Perkembangan BUMN Dan Kontribusinya Dalam Perekonomian Nasional
serta Potensi-potensi Yang Dimiliki BUMN 10

BAB II : PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 17


II.1. Perkembangan Kinerja BUMN 17
II.1.1 Perkembangan Jumlah BUMN 17
II.1.2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN 18
II.1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN 19
II.2. Perkembangan Sektoral BUMN 21
II.2.1. Sektor Usaha Perbankan 22
II.2.2. Sektor Usaha Asuransi 23
II.2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan 24
II.2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi 25
II.2.5. Sektor Usaha Farmasi 26
II.2.6. Sektor Usaha Aneka Industri 27
II.2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan 27
II.2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata 28
II.2.9. Sektor Usaha Prasaran Angkutan 29
II.2.10. Sektor Usaha Logistik dan Sertifikasi 30
II.2.11. Sektor Usaha Perkebunan 31

i
II.2.12. Sektor Usaha Kehutanan 31
II.2.13. Sektor Usaha Perikanan 32
II.2.14. Sektor Usaha Kertas, Percetakan, dan Penerbitan 33
II.2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian 34
II.2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen 35
II.2.17. Sektor Usaha Industri Strategis 36
II.2.18. Sektor Usaha Energi & Sumber Daya Alam 37
II.2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang 38
Telekomunikasi
II.3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik 38
II. 3.1. Assessment GCG 39
II. 3.2. Re-Assessment GCG 39
II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri) 40
II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG 40
II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner 41
II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System 41
II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management 41
II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG 41
II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan 43
II.4 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan 43
II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 43
II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009 47

BAB III : RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM 51


PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009
III.1. Rencana Program Tahun 2005-2009 52
III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 52
III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009 55
III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation - 55
PSO) Tahun 2005 - 2009
III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 57
III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 58
III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009 59
III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009 59

ii
III.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 - 2009 67
III.2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 70
III.2.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 71
III.2.5 Pelaksanaan Penyediaan Data, Informasi serta Teknologi Informasi 73
2005 - 2009
III.2.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum 75
Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 - 2009

BAB IV : PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014 78


IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014 78
IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi 78
IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi 78
IV. 1.3. Program Restrukturisasi 79
IV. 2. Program Privatisasi 2010 - 2014 104
IV. 2.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Privatisasi 104
IV. 2.2. Arah Kebijakan Privatisasi 104
IV. 2.3. Kriteria Privatisasi 105
IV. 2.4. Metode Privatisasi 106
IV. 2.5. Prosedur Privatisasi 107
IV. 3. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 - 2014 111
IV. 4. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 - 2014 112
IV. 5. Program Pengembangan Data, Informasi & Teknologi (TI) 2010 - 2014 113
IV. 6. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan 115
Statusnya (BPYBDS)

BAB V : KESIMPULAN 121


LAMPIRAN

iii
KATA PENGANTAR

Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan


kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN memiliki peran strategis dan penting
dalam upaya memacu perekonomian Indonesia. Upaya ini dapat dilakukan melalui: (1)
perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa
berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, (2)
memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional, serta (3) menjadi agen
pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana
diamanatkan dalam UU BUMN.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, maksud dan
tujuan didirikannya BUMN adalah untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan
perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya, mengejar
keuntungan, menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang
bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak, menjadi perintis
kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi dan
turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah,
koperasi, dan masyarakat.
Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir serta diperkirakan akan
semakin cepat pada masa-masa mendatang menyebabkan semakin perlunya pembentukan
BUMN-BUMN yang unggul dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, strategi pengelolaan
BUMN ke depan perlu diarahkan pada peningkatan daya saing BUMN, perbaikan sinergi
antar BUMN, pengembangan kemampuan berusaha dan penciptaan peluang-peluang baru
melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi
dalam era persaingan global. Disamping itu, perbaikan tata kelola perusahaan (good
corporate governance) juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memenangkan
persaingan.
Restrukturisasi BUMN merupakan proses yang berkelanjutan dan satu kesatuan yang
terintegrasi dengan strategi penyelamatan ekonomi nasional. Hal ini diutamakan agar BUMN
dapat mencapai tujuan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional,
anggaran negara dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Master Plan BUMN 2010-2014 ini menggambarkan kebijakan utama penataan
BUMN ke depan dan di dalamnya dijelaskan berbagai kebijakan Pemerintah dalam
melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan kebijakan
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Maksud Dan Ruang Lingkup

Master Plan BUMN 2010-2014 memuat berbagai kebijakan Pemerintah dalam


melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selaras dengan
kebijakan sektoral, yang merupakan penyempurnaan terhadap dokumen serupa yang
diterbitkan pada tahun 2005 oleh Kementerian Negara BUMN.

Dokumen ini menjelaskan kebijakan pemerintah dalam pembinaan BUMN,


kerangka analisis program pembinaan BUMN serta tindakan spesifik Kementerian
BUMN yang telah diambil saat ini atau yang akan direncanakan dalam jangka pendek
dan jangka panjang (tahun 2010-2014), yang meliputi program restrukturisasi BUMN,
privatisasi BUMN, public service obligation, optimalisasi aset BUMN, serta data,
informasi dan teknologi informasi. Disamping program-program tersebut juga
dijelaskan mengenai program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta perkembangan
Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya.

Melalui penerbitan Master Plan ini, Kementerian BUMN bermaksud


memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan program pembinaan BUMN kepada
publik, pembuat kebijakan, manajemen/ karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi.

Berbagai kebijakan dalam pembinaan BUMN yang dilaksanakan oleh


Kementerian BUMN pada dasarnya dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan
nilai perusahaan. Program pembinaan BUMN tersebut dilandasi oleh peraturan
perundangan yang berlaku, yaitu pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, Undang-
undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, Undang-undang Nomor 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025,
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014, serta peraturan lainnya yang terkait.

1
I.2. Visi Dan Misi Presiden Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2010-2014

Dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, Presiden telah menetapkan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, yang
merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2025. RPJMN tahun 2010-2014 tersebut telah ditetapkan dalam
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010.
Presiden telah menetapkan VISI1 untuk masa pemerintahan periode 2010-2014
yaitu “Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan”, dengan penjelasan
sebagai berikut:
- Kesejahteraan Rakyat. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui
pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan
sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa. Tujuan penting ini
dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Demokrasi. Terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara yang demokratis,
berbudaya, bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung
jawab serta hak asasi manusia.
- Keadilan. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata, yang dilakukan oleh
seluruh masyarakat secara aktif, yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh
bangsa Indonesia.
Sedangkan Misi2 yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai visi tersebut
adalah (1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera; (2)
Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi; (3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua
Bidang.
Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan
Indonesia yang lebih sejahtera, aman dan damai, serta meletakkan pondasi yang lebih
kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis, namun tidak dapat terlepas dari kondisi
dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang
mempengaruhinya.

2
Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014,
ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional3 tahun 2010-2014, yaitu: (1)
Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat; (2) Perbaikan Tata
Kelola Pemerintahan; (3) Penegakan Pilar Demokrasi; (4) Penegakkan Hukum Dan
Pemberantasan Korupsi; (5): Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan.
Visi dan Misi pemerintah 2010-2014 tersebut dirumuskan dan dijabarkan
lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas4 sehingga lebih mudah
diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya, yaitu: (1) reformasi birokrasi
dan tata kelola; (2) pendidikan; (3) kesehatan; (4) penanggulangan kemiskinan; (5)
ketahanan pangan; (6) infrastruktur; (7) iklim investasi dan usaha; (8) energi; (9)
lingkungan hidup dan bencana; (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan
paskakonflik; serta (11) kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.
Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, tema dari Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-20145 adalah (1)
memantapkan penataan kembali NKRI; (2) meningkatkan kualitas SDM; (3)
membangun kemampuan IPTEK; dan (4) memperkuat daya saing perekonomian.
Bidang-Bidang yang menjadi perhatian utama RPJMN Tahun 2010-2014
adalah:
(1) Pertahanan dan Keamanan, yang ditandai dengan: peningkatan
kemampuan struktur pertahanan Negara dan lembaga keamanan Negara;
(2) Hukum : meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum, tercapainya
konsolidasi penegakan supremasi hukum, penegakan hak asasi manusia, dan
kelanjutan penataan sistem hukum nasional;
(3) Politik, yang ditandai dengan: membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan
otonomi daerah; kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan
bangsa; posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin
meningkat dengan keberhasilan diplomasi di forum internasional;

UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025

3
(4) Pelayanan Publik. Kualitas pelayanan publik yang lebih murah, cepat,
transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar
pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah;
(5) Kesejahteraan Rakyat yang terus meningkat ditunjukkan oleh
membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : meningkatnya
pendapatan per kapita; menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran
disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial; meningkatnya tingkat
pendidikan masyarakat; meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat;
meningkatnya kesetaraan gender; meningkatnya tumbuh kembang optimal,
kesejahteraan, dan perlindungan anak; terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan
penduduk; menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu, antarkelompok
masyarakat, dan antardaerah; dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan
potensial di luar Jawa; makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif
dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa;
(6) Daya Saing Perekonomian yang meningkat melalui : penguatan industri
manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta
sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu; meningkatnya
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; percepatan pembangunan
infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia
usaha; peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan; penataan kelembagaan
ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat; pengembangan jaringan infrastruktur
transportasi, serta pos dan telematika; peningkatan pemanfaatan energi terbarukan,
khususnya bioenergi, panas bumi, tenaga air, tenaga angin, dan tenaga surya untuk
kelistrikan; pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan
permukiman; industri kelautan yang meliputi perhubungan laut, industri maritim,
perikanan, wisata bahari, energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara
sinergi, optimal, dan berkelanjutan;
(7) Pengelolaan SDA dan LH yang makin berkembang melalui : penguatan
kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan
berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan
hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat; terpeliharanya
keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang
dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah, daya saing bangsa, serta modal

4
pembangunan nasional pada masa yang akan datang; mantapnya kelembagaan dan
kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan;
terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua
sektor; meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan
ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan
terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.

I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN Sesuai Rencana Strategis
Kementerian BUMN Tahun 2010-2014
Upaya Pemerintah dalam memperkuat daya saing perekonomian nasional guna
peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita
Bangsa Indonesia pada umumnya dan misi Pembangunan Jangka Panjang (tahun
2005-2025) dan Pembangunan Jangka Menengah (tahun 2010-2014) pada khususnya,
memerlukan adanya koordinasi dan peran serta dari seluruh lembaga/institusi
Pemerintah.

Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas


merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN, diharuskan
mengambil peran dalam upaya perbaikan kondisi perekonomian Indonesia melalui:
(1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan
barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional,
serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup
masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN.

Berdasarkan hal-hal tersebut, sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian


BUMN Tahun 2010-2014, telah ditetapkan Visi6 Kementerian BUMN yaitu
“Mewujudkan BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian BUMN menetapkan Misi7
sebagai berikut (1) Meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang semakin
transparan dan akuntabel; (2) Meningkatkan peran BUMN untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan negara; (3) Meningkatkan kualitas

5
pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum(PSO); (4) Meningkatkan
peran BUMN dalam usaha keperintisan; (5) Meningkatkan peran BUMN dalam
rangka pengembangan UMKM; (6) Peningkatan peran BUMN untuk percepatan
pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.

Berdasarkan visi dan misi di atas, Kementerian Negara BUMN di dalam Rencana
Strategisnya menetapkan 9 (sembilan) tujuan dan 30 sasaran strategis yang ingin
dicapai dalam periode pemerintahan tahun 2010-2014, sebagai berikut:

Tujuan 1 : Meningkatnya Kapasitas dan Kemampuan Pembinaan


BUMN
Sasaran 1.1 : Terlaksananya reformasi birokrasi
Sasaran 1.2 : Meningkatnya kapasitas dan kemampuan SDM
Sasaran 1.3 : Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai
Sasaran 1.4 : Terlaksananya penyusunan dan harmonisasi peraturan
perundang-undangan

Tujuan 2 : Terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem


penilaian kinerja
Sasaran 2.1 : Tersusunnya best practice GCG
Sasaran 2.2 : Terlaksananya penerapan best practice GCG
Sasaran 2.3 : Terlaksananya sistem remunerasi berbasis kinerja di BUMN
Sasaran 2.4 : Terlaksananya sistem penilaian kinerja di BUMN yang
mangacu pada standar internasional.

Tujuan 3 : Meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA


strategis dan pertahanan nasional
Sasaran 3.1 : Terwujudnya kebijakan untuk meningkatkan porsi SDA
strategis yang dikelola oleh BUMN
Sasaran 3.2 : Terlaksananya penerapan peraturan perundang-undangan yang
berpihak pada BUMN untuk mengelola SDA strategis
Sasaran 3.3 : Terlaksananya penerapan peraturan perundangan yang
berpihak pada BUMN dalam pengembangan industri
pertahanan
Sasaran 3.4 : Terwujudnya kemampuan BUMN industri pertahanan untuk
penyediaan alutsista

Tujuan 4 : Meningkatnya Kinerja BUMN


Sasaran 4.1 : Meningkatnya keuntungan BUMN
Sasaran 4.2 : Meningkatnya sinergi antar BUMN

6
Tujuan 5 : Meningkatnya peran BUMN untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional
Sasaran 5.1 : Meningkatnya belanja modal (Capital Expenditure) BUMN
Sasaran 5.2 : Meningkatnya belanja operasional (Operating Expenditure)
BUMN

Tujuan 6 : Meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan


pemerintah untuk pelayanan umum
Sasaran 6.1 : Terlaksananya pemisahan tanggungjawab antara pemberi
tugas (Pemerintah) dan pelaksana tugas (BUMN) secara
konsisten
Sasaran 6.2 : Terwujudnya pelaksanaan tugas pelayanan umum secara
transparan.

Tujuan 7 : Meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha


dan pengembangan UMKM
Sasaran 7.1 : Meningkatnya peran BUMN dalam program Public Private
Partnership (P3)
Sasaran 7.2 : Meningkat dan meluasnya jangkauan penyaluran dana PKBL
Sasaran 7.3 : Meningkatnya efektivitas penyaluran dana pemerintah (KUR)
untuk pengembangan UMKM

Tujuan 8 : Terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin


sehat dan kompetitif
Sasaran 8.1 : Terwujudnya harmonisasi peraturan perundang-undangan
yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN
berbasis mekanisme korporasi
Sasaran 8.2 : Terwujudnya jumlah BUMN yang ideal
Sasaran 8.3 : Berkurangnya BUMN yang rugi dan bermasalah

Tujuan 9 : Meningkatnya peran BUMN dalam percepatan


pelaksanaan prioritas pembangunan nasional
Sasaran 9.1 : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan energi
Sasaran 9.2 : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan pangan
Sasaran 9.3 : Meningkatnya peran BUMN untuk pembangunan
infrastruktur
Sasaran 9.4 Meningkatnya peran BUMN untuk peningkatan pertahanan
Sasaran 9.5 Meningkatnya peran BUMN dalam pengembangan UMKM
Sasaran 9.6 Meningkatnya peran BUMN untuk lingkungan hidup

7
I.4. Prioritas RPJMN Tahun 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN

Permasalahan dan tantangan dalam pembinaan dan pengawasan BUMN yang


dicantumkan dalam RPJM 2010-2014 adalah sebagai berikut: (1) masih terdapatnya
ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penafsiran
yang berpengaruh terhadap kepastian hukum di bidang pengurusan, pengawasan, dan
pembinaan BUMN; (2) kondisi ekonomi baik nasional, regional, maupun global yang
sedang dalam tahap pemulihan; (3) persaingan usaha yang makin ketat; (4)
pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak kondusif bagi pengembangan usaha;
serta (5) pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance).
Terkait dengan hal tersebut, dalam RPJMN tahun 2010-2014, sasaran
pembangunan dalam pembinaan BUMN8 adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya
kapasitas dan kemampuan pembinaan BUMN; (2) terwujudnya penerapan best
practices GCG dan sistem penilaian kinerja; (3) meningkatnya peran BUMN dalam
pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional; (4) meningkatnya keuntungan
BUMN; (5) meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
nasional; (6) meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk
pelayanan umum; (7) meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan
pengembangan UMKM; (8) terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin
sehat dan kompetitif; (9) meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan
prioritas pembangunan nasional.
Selanjutnya, kegiatan prioritas yang terkait dengan Kementerian BUMN
dalam RPJMN 2010-2014 adalah program di bidang Pembinaan dan Pengawasan
BUMN9, sebagai berikut:
(1) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang energi (Prioritas
Nasional), yaitu :

a. Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan
Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN
lainnya.

8
b. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3.000 MW per
tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada
2010 dan 80% pada 2014; dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari
1,2 juta barrel per hari mulai 2014.
c. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif
geothermal sehingga mencapai 2.000 MW pada 2012 dan 5.000 MW pada
2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan
listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya, microhydro,
dan nuklir secara bertahap.
d. Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas
sebagai bahan baku industri tekstil, pupuk dan industri hilir lainnya.
e. Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42
juta Kepala Keluarga pada 2010; penggunaan gas alam sebagai bahan
bakar angkutan umum perkotaan di Palembang, Surabaya, dan Denpasar.
(2) Restrukturisasi BUMN besar/ penting/ strategis (Prioritas Nasional)
(3) Penyusunan best practice GCG
(4) Penetapan system remunerasi berbasis kinerja di BUMN
(5) Penyusunan peraturan mengenai penerapan system penilaian yang mengacu pada
standar internasional
(6) Kajian, evaluasi dan monitoring pendayagunaan asset BUMN
(7) Penetapan target, monitoring dan evaluasi kinerja BUMN
(8) Penetapan peraturan pelaksanaan pemisahan administrasi keuangan PSO dan
Perpres tentang SOP pelaksanaan PSO
(9) Penyusunan peraturan perundangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan
BUMN berbasis mekanisme korporasi murni
(10) Kajian BUMN rugi dan bermasalah
(11) Penyusunan dan pelaksanaan Program Tahunan Privatisasi
(12) Kajian rightsizing BUMN
(13) Uji kepatutan dan kelayakan calon Direksi dan Dewan Komisaris
(14) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang ketahanan pangan
(15) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang infrastruktur

9
I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian
BUMN Tahun 2010-2014 Dan Master Plan BUMN Tahun 2010-2014

Arah kebijakan utama terkait dengan pembinaan BUMN adalah


restrukturisasi, revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan
berkesinambungan. Melalui penerapan kebijakan ini, BUMN yang ada akan
dikelompokkan ulang berdasarkan sektor industrinya. Dalam rangka mencapai jumlah
dan skala BUMN yang ideal, maka dalam Master Plan BUMN Tahun 2010-2014,
Kementerian BUMN menyusun program rightsizing untuk memperbaiki struktur
bisnis BUMN secara menyeluruh. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan
kinerja dan nilai (value) perusahaan.
Peningkatan kinerja dan nilai BUMN tersebut dilakukan melalui langkah-
langkah restrukturisasi dan privatisasi. Restrukturisasi dilakukan baik secara sektoral
maupun korporasi. Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha
yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. Sedangkan
restrukturisasi korporasi meliputi penataan kembali bentuk badan usaha, kegiatan
usaha, organisasi, manajemen dan keuangan. Privatisasi dilakukan dalam rangka
meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan, perbaikan struktur keuangan dan
manajemen, penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif, pemberdayaan
BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global, penyebaran kepemilikan oleh
publik serta pengembangan pasar modal domestik.
Selain itu, dalam konteks pembinaan BUMN juga akan diambil kebijakan
berupa: (1) pemantapan proses seleksi pengurus BUMN secara profesional, transparan
dan obyektif; (2) penetapan peraturan pelaksanaan UU BUMN dan harmonisasi
peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan UU Perseroan Terbatas
dan/atau Capital Market Protocol; (3) penerapan Good Governance dan Good
Corporate Governance; (4) peningkatan kinerja dan daya saing dan keberlanjutan
usaha BUMN; (5) peningkatan kualitas pelaksanaan pelayanan umum; serta (6)
peningkatan peran BUMN dalam mendorong pelaksanaan prioritas pembangunan
nasional.

10
I.6. Perkembangan, Kontribusi Dalam Perekonomian Nasional Serta Potensi-Potensi
Yang Dimiliki BUMN
Sampai dengan akhir tahun 2009 terdapat 141 BUMN yang terdiri dari 14
BUMN berbentuk Perum, 112 BUMN berbentuk Persero, dan 15 BUMN yang
merupakan Persero Terbuka. Adapun perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan
Negara minoritas tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Jumlah BUMN Tahun 2005-2009

Uraian 2005 2006 2007 2008 2009

Perum 13 13 14 14 14
Persero 114 114 111 113 112
Persero Tbk 12 12 14 14 15
Jumlah BUMN 139 139 139 141 141
Kepemilikan Negara Minoritas 21 21 21 20 19
BUMN memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang yang sampai
dengan saat ini belum termanfaatkan secara optimal. Seperti yang telah disebutkan
dalam Rencana Strategis Kementerian Negara Tahun 2010-2014, potensi-potensi
tersebut antara lain: (1) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha, (2)
kepemilikan aset yang besar, (3) brand image BUMN, (4) pengalaman usaha BUMN,
(5) profesionalisme SDM. Disamping itu data, informasi dan teknologi informasi
pada BUMN telah tersedia dan terbangun dengan baik.

I.6.1. Keberadaan BUMN


Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, BUMN merupakan salah satu
penggerak utama perekonomian nasional, di samping usaha swasta dan koperasi.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, BUMN, swasta dan koperasi
melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. BUMN
berperan strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan-
kekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi.
BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang signifikan
dalam bentuk berbagai jenis penerimaan Negara, antara lain pajak dan dividen.
Pada masa awal kemerdekaan, peran BUMN/pemerintah dalam
perekonomian nasional cukup penting. Di awal era pembangunan,
BUMN/pemerintah masuk antara lain ke dalam sektor-sektor yang memerlukan
pembiayaan cukup besar, tidak diminati swasta dan bersifat pioneering. Sektor

11
korporasi yang andal dalam membangun perekonomian nasional diperlukan untuk
menciptakan lapangan kerja, menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri
maupun ekspor, dan memberi layanan yang optimal bagi konsumen.
Jika melihat pada BUMN yang ada saat ini, kita akan mengetahui bahwa
BUMN adalah sebuah entitas yang memiliki potensi untuk dapat berkembang
menjadi sebuah entitas bisnis yang besar dan kuat. Hampir di semua lini bisnis dan
sektor usaha yang ada di Indonesia, terdapat BUMN yang menjalankan usahanya.
Bahkan di beberapa sektor usaha, BUMN adalah penguasa pasar (market leader)
sehingga memiliki peran yang sangat signifikan baik bagi stabilitas sektor bisnis
maupun ekonomi secara umum.
Jumlah BUMN yang mencapai 141 dan tersebar hampir di semua sektor
usaha tidak hanya membuat BUMN sangat berpotensi untuk berkontribusi yang
signifikan kepada masyarakat dan negara secara umum, tetapi juga memiliki
potensi yang besar untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan diantara
sesama BUMN sehingga akan memberikan percepatan dalam pencapaian kinerja
perusahaan.
Keberadaan BUMN selama ini telah memberikan kontribusi yang besar
kepada Negara, baik berupa dividen, penerimaan Negara dari Pajak dan
kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. Rata-rata dividen yang diberikan BUMN
kepada Negara selama periode 2005–2009 sebesar Rp.23,14 Triliun per tahun,
demikian juga kontribusi BUMN dalam bentuk pajak cenderung meningkat dimana
rata-rata pajak yang diberikan selama periode 2005–2009 sebesar Rp.73,27 Triliun
per tahun. Belanja modal (capital expenditures/Capex) dan belanja operasional
(operational expenditures/Opex) BUMN juga mengalami peningkatan. Pada awal
tahun 2004, Capex BUMN adalah Rp.32,26 triliun dan Opex sebesar Rp.453,40
triliun, sedangkan posisi pada akhir tahun 2008 Capex sebesar Rp.128,32 triliun
dan Opex sebesar Rp.1.028,37 triliun. Peningkatan Capex dan Opex tersebut
menunjukkan kontribusi BUMN bagi pergerakan sektor riil.

12
BUMN sebagai badan usaha juga dapat berperan dalam mendorong
penerapan praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi,
independensi, akuntabilitas, responsibilitas dan fairness (GCG) serta
profesionalisme pengelolaan perusahaan. Dorongan untuk meningkatkan praktek
good corporate governance perlu mendapatkan perhatian, sehingga upaya-upaya
restrukturisasi/revitalisasi/ profitisasi yang berkelanjutan perlu terus dilaksanakan.

I.6.2. Kepemilikan Aset


Sampai dengan akhir tahun 2009, total aset BUMN tercatat mencapai ±
Rp2.150 Triliun yang sebagian besar masih menggunakan nilai buku. Sebuah nilai
yang sangat besar yang apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal tentu akan
memicu pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
(sustainability growth). Namun, dari total aset BUMN tersebut, belum seluruhnya
dimanfaatkan secara optimal dengan baik guna menghasilkan pendapatan bagi
perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN yang
masih relatif kecil, yaitu sebesar 3,39%. Dari total aset yang mencapai + 2.150
trilliun tersebut, laba BUMN pada akhir tahun 2009 hanya mencapai Rp.72,84
triliun, dengan return on equity (ROE) sebesar 12,89%.
Aset yang belum didayagunakan tersebut menjadi potensi tersendiri bagi
BUMN dalam upayanya untuk terus memperbaiki kinerja agar dapat memberikan
kontribusi yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat. Melalui kerja sama usaha
dengan swasta maupun BUMN, aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi
salah satu kunci dalam upaya untuk mewujudkan BUMN yang sehat, berkinerja
baik, dan berdaya saing tinggi.

I.6.3. Brand image BUMN

Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan sejarah telah membuat BUMN


memiliki brand image yang sangat kuat khususnya di dalam negeri. Dengan usaha-
usaha yang dijalankan di sektor perintisan membuat nama BUMN dikenal luas di
seluruh nusantara. Pos Indonesia, Bank BRI, Pegadaian, PLN, dan Pertamina adala
BUMN-BUMN yang sudah sangat melekat di benak seluruh rakyat Indonesia.
Bukan hanya karena mereka menguasai hajat hidup orang banyak tetapi lebih dari
itu, mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia.

13
Brand image yang sangat kuat ini merupakan salah satu competitive
advantage yang dimiliki oleh BUMN untuk bersaing dengan perusahaan swasta
lain. Competitive advantage ini harus dapat dioptimalkan sehingga bisa
mendukung upaya penciptaan BUMN yang sehat, berkinerja baik dan berdaya
saing tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi
perekonomian nasional.
Brand image BUMN semakin membaik yang tergambar dari semakin
meningkatnya jumlah BUMN yang mendapatkan penghargaan ditingkat nasional,
regional, dan internasional.

I.6.4. Pengalaman usaha BUMN

Jika dilihat secara seksama, hampir seluruh BUMN lahir pada awal
kemerdekaan Indonesia bahkan ada beberapa BUMN yang merupakan hasil
nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda. Dengan usia yang sudah sedemikian
lama, BUMN seharusnya memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada
perusahaan-perusahaan swasta lain yang belum begitu lama berdiri.
Pengalaman adalah salah satu nilai tambah yang sangat penting bagi
perusahaan terutama untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif.
Pemahaman yang mendalam tentang nature of business menjadi salah satu kunci
agar suatu perusahaan mampu berkembang dan bisa menjawab setiap tantangan
zaman. Namun patut diperhatikan juga bahwa, pengalaman usaha BUMN tersebut
harus selalu diiringi dengan inovasi dan kreativitas usaha sehingga BUMN akan
tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat.

I.6.5. Profesionalisme SDM


Dengan eksistensi di dalam perekonomian dan pengalaman yang cukup
lama di dunia bisnis serta besarnya jumlah aset yang dikelola, maka sumber daya
manusia dan profesionalisme yang dimiliki oleh BUMN kiranya tidak perlu
diragukan lagi. Perbaikan sistem remunerasi yang semakin berkeadilan dan
berbasis kinerja semakin mendorong peningkatan profesionalisme SDM BUMN.
Ketatnya pengawasan dalam pengelolaan BUMN juga semakin mendorong
peningkatan integritas SDM BUMN. Mekanisme penetapan pengurus BUMN yang
semakin transparan dan mengutamakan nilai-nilai profesionalisme dan integritas

14
semakin mendorong persaingan SDM BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan
kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan.

I.6.6. Data, Informasi dan Teknologi Informasi

Disamping hal-hal tersebut diatas, penguasaan terhadap data, informasi, dan


teknologi informasi menjadikan BUMN memiliki sarana yang relatif lebih lengkap
dalam menghadapi persaingan di pasar lokal maupun pasar global serta
memberikan kemampuan bagi BUMN untuk menciptakan nilai tambah dan
mengembangkan usaha. Dalam situasi turbulensi ekonomi, BUMN membutuhkan
kecepatan dalam seluruh aspek pengambilan keputusan korporasi. Tanpa
penguasaan data dan informasi, BUMN akan kehilangan kesempatan dan
kecepatan mengantisipasi perubahan.
Penguasaan data dan informasi menjadi faktor yang penting karena data
dan informasi yang dapat disajikan dengan cepat, tepat, dan lengkap akan
membantu manajemen melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan cepat
dan akurat. Bagi perusahaan, implementasi teknologi informasi akan sangat
berperan dalam pengendalian internal perusahaan. Agar teknologi informasi yang
diimplementasikan di BUMN dapat dipastikan memberikan outcome sesuai dengan
kebutuhan bisnis, maka BUMN perlu mempunyai kebijakan tata kelola teknologi
informasi yang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance). Kini, implementasi teknologi informasi lebih mengarah
pada sinergi pemanfaatan informasi dan teknologi informasi yang digunakan pada
rantai bisnis baik di lingkungan internal maupun eksternal, dengan demikian
pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan efisiensi dan menciptakan
nilai tambah perusahaan.

15
Keberadaan BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia dengan
segala peran, bentuk kontribusinya terhadap perekonomian serta potensi-potensi
yang dimilikinya, seyogianya dapat menjadi lokomotif ataupun pelaku ekonomi yang
handal yang dapat mendukung, baik Visi dan Misi Pemerintah untuk
mensejahterakan rakyat, mewujudkan demokrasi dan memeratakan keadilan,
bidang-bidang/program-program yang tertuang dalam RPJM 2010-2014, maupun
dalam mewujudkan Visi dan Misi Kementerian BUMN, yakni mewujudkan BUMN
menjadi instrumen negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan
mekanisme korporasi.
Peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengawasan BUMN dalam
melaksanakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang dicantumkan
dalam Renstra Kementerian BUMN 2010-2014, dalam mengatasi permasalahan dan
tantangan yang dihadapi maupun dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan
dalam pembinaan BUMN seperti yang tercantum dalam RPJM 2010-2014, maka
transformasi/konsolidasi/
restrukturisasi/revitalisasi secara bertahap dan berkesinambungan, dalam kerangka
untuk terus meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance), menjadi sangat penting artinya.
Segala upaya yang telah dilakukan selama ini, baik yang telah berhasil,
sedang dalam penyelesaian, belum berhasil maupun yang masih akan dilakukan,
pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi/efektifitas perusahaan sehingga
kinerja dan nilai perusahaan meningkat. Yang pada gilirannya akan memberikan
kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional.
Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan memahami
ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan BUMN dan
menjalankan peran, fungsi, tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk
mendukung peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengelolaan BUMN
dalam rangka meningkatkan kinerja/nilai dan kontribusi perusahaan dalam
perekonomian nasional.

16
BAB II
PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009

Kinerja BUMN dalam lima tahun terakhir (2005-2009) sebagian besar


menunjukkan kecenderungan perbaikan, meskipun terdapat sebagian kecil BUMN masih
menghadapi kendala-kendala untuk berkembang. Di bawah ini disajikan perkembangan
kinerja BUMN masing-masing sektor, penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
(GCG) dan perkembangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

II. 1. Perkembangan Kinerja BUMN

II. 1.1.Perkembangan Jumlah BUMN

Jumlah BUMN di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 141 perusahaan dan
beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha, khususnya industri hulu. Di samping itu,
negara juga memiliki saham dengan kepemilikan minritas pada 19 badan usaha.
Perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan negara minoritas dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia


Periode tahun 2005 - 2009

Jumlah BUMN ( Saham Negara ? 51%) 2005 2006 2007 2008 2009

Persero Tbk 12 12 14 14 15
Persero 114 114 111 113 112
Perum 13 13 14 14 14
Perjan 0 0 0 0 0
Jumlah BUMN 139 139 139 141 141
Jumlah Perusahaan Dengan Saham Negara ? 21 21 21 19 19
51 %

Pada Tahun 2005 terjadi pengurangan jumlah Perjan (Perjan Rumah Sakit dan RRI
berubah menjadi Badan Layanan Umum/BLU) dan pengurangan jumlah Persero (Merger
4 Persero Perikanan, PT TVRI menjadi BLU dan Likuidasi PT AAF). Tahun 2007,
terdapat 2 (dua) Persero menjadi Tbk, Likuidasi PT ISI dan terbentuknya Perum LKBN
Antara. Pada tahun 2008 terjadi penambahan jumlah BUMN yaitu PTDI dan PT Askrindo,
dan pada tahun 2009 terjadi penambahan BUMN Tbk yaitu PT Bank BTN.

17
II. 1.2.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN
Data kinerja BUMN periode tahun 2005-2009 secara umum dapat dilihat pada
tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 2 : Perkembangan Kinerja BUMN Periode tahun 2005 - 2009
Rp Miliar
2005 2006 2007 2008 Prog 2009
Total Aset 1.291.254 1.451.371 1.717.322 1.969.117 2.150.032
Total Hutang 921.193 1.005.481 1.217.626 1.454.487 1.584.998
Ekuitas 370.060 445.890 499.696 514.630 565.034
Pendapatan 655.152 754.720 865.349 1.161.496 931.000
Laba Bersih 25.770 49.171 63.307 64.185 72.840

Dari tabel 2 tersebut di atas, terlihat bahwa kinerja BUMN mengalami


peningkatan/pertumbuhan yang terlihat dari total asset, total ekuitas, total pendapatan, dan
total laba bersih.
Selanjutnya, perkembangan ROA, ROE, laba, aset, ekuitas dan kontribusi BUMN
dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut :

a. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE)

Return on Asset (ROA) periode 2005 – 2009 berkisar antara 2,00% - 3,69% atau rata-
rata 3,15% per tahun, sedangkan Return on Equity (ROE) berfluktuasi dari tahun ke tahun
dengan kisaran antara 6,96% - 12,89% atau rata-rata 11,20% per tahun. Gambaran
perkembangan ROA dan ROE dapat dilihat dalam grafik berikut:

Grafik 1: Perkembangan ROA dan ROE

18
b. Perkembangan Total Aktiva, Ekuitas dan Hutang

Dilihat dari sisi jumlah aset, tampak terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dalam
periode tahun 2005-2009. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum
proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif lambat.
Hal ini disebabkan sebagian besar aset dibiayai dari dana eksternal/hutang.

Grafik 2: Perkembangan Total Aktiva, Ekuitas dan Hutang


(dalam Rp Triliun)

c. Perkembangan Jumlah Laba Bersih

Sama halnya dengan jumlah aset, jumlah laba bersih yang diperoleh BUMN pada periode
tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu tumbuh rata-
rata 20,28%/tahun.

II. 1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN

Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara pada dasarnya bersumber dari


dividen BUMN dan pajak yang disetorkan BUMN.

a. Kontribusi Dividen

Pada periode tahun 2004-2009 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata


25,09% per tahun. Pertumbuhan tersebut disamping karena meningkatnya keuntungan
BUMN, juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out
ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997, menjadi sekitar 40% setelah krisis
moneter, bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%. Gambaran kontribusi
dividen BUMN sebagaimana terlihat pada Grafik 5 sebagai berikut.

19
Grafik 5: Kontribusi Dividen BUMN

Catatan : Pembagian laba tahun 2009 belum ditetapkan oleh RUPS

b. Kontribusi Pajak

Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak, pada periode tahun 2005-2009 juga
mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 18,13% per tahun. Peningkatan
kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan oleh adanya peningkatan keuntungan
BUMN. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana terlihat pada Grafik 6 sebagai berikut.

Grafik 6: Kontribusi Pajak

Selain kontribusi dalam bentuk deviden dan pajak, maka sebelum 5 tahun terakhir
terdapat hasil divestasi/privatisasi BUMN yang disetorkan ke kas Negara karena situasi
keuangan Pemerintah maupun kebijakan pada saat itu. Namun demikian, kurang lebih
dalam waktu 5 tahun terakhir, telah diambil kebijakan yang pada intinya hasil privatisasi
BUMN terutama adalah untuk keperluan mendukung pengembangan BUMN itu sendiri.

Sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan privatisasi terhadap 15 BUMN melalui
metode IPO dan SPO (13 BUMN) dan metode EMBO (2 BUMN). Adapun gambaran
hasil privatisasi 2004-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 7 sebagai berikut.

20
Grafik 7: Kontribusi Privatisasi

Peran 15 BUMN Tbk dalam Pasar Modal cukup besar, hal ini dapat dilihat dari
penguasaan kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31,57% atau senilai
Rp 637,48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) . Adapun
gambaran kapitalisasi pasar BUMN Terbuka 2005-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik
8 sebagai berikut.

Grafik 8 : Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka

700 45,00%
637
589 40,00%
600
40,23%
35,00%
493
500 29,64% 31,57%
32,40% 32,97%
30,00%

400 355 25,00%

300 20,00%
260

15,00%
200
10,00%
100
5,00%

0 0,00%
2005 2006 2007 2008 2009

Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk % Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk

II. 2. Perkembangan BUMN Secara Sektoral

Dalam Rencana Strategis Kementerian BUMN tahun 2010-2014 terdapat 19 sektor


usaha BUMN yang meliputi : sektor usaha perbankan, asuransi, jasa keuangan, jasa
konstruksi, industri farmasi, aneka industri, kawasan industri dan perumahan, sarana
angkutan dan pariwisata, prasarana angkutan, logistik dan jasa sertifikasi, perkebunan,
kehutanan, perikanan, kertas percetakan dan penerbitan, penunjang pertanian,
pertambangan dan semen, industri strategis, energi dan sumber daya mineral serta sektor
telekomunikasi, media dan penunjang telekomunikasi.
21
II. 2.1. Sektor Usaha Perbankan
Terdapat 4 Bank BUMN (Mandiri, BNI, BRI dan BTN) yang semuanya merupakan
BUMN Terbuka. Masing-masing bank BUMN ini memiliki fokus bisnis yang berbeda
yaitu Corporate Banking, Commercial Banking dan Consumer Banking (Mandiri dan
BNI), micro banking (BRI) dan pembiayaan perumahan (BTN). Isu utama BUMN
perbankan adalah adanya PBI No.8/16/2006 Tentang Kepemilikan Tunggal (Single
Presence Policy) Pada Perbankan Indonesia yang mengharuskan keempat Bank BUMN
untuk masuk dalam satu kepemilikan (misalnya holding atau merger). Sedangkan Bank
Ekspor Indonesia (BEI) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2009 telah
berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang pembinaan dan
pengawasanya berada di bawah Menteri Keuangan.
Kinerja operasional Bank BUMN tahun 2005-2009 tercermin dari tingkat Capital
Adequency Ratio (CAR), Net Non Performing Loan (NPL), tingkat penyaluran pinjaman,
serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun. Tabel 3 menunjukkan rata-rata
CAR dan NPL, serta total penyaluran pinjaman dan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh
4 BUMN selama periode tahun 2005-2009.

Tabel 3. Kinerja Operasional BUMN Perbankan


Periode Tahun 2005-2009

2005 2006 2007 2008 2009


CAR 17,89% 19,24% 19,03% 14,82% 16,07%
NPL Net 6,91% 3,93% 2,28% 1,56% 1,25%
Loan/Kredit (Rp Juta) 260.317.540 292.499.989 363.520.599 478.618.745 564.224.717
DPK (Rp Juta) 438.172.120 487.565.432 583.330.640 685.262.593 804.162.583

Adapun kinerja Bank BUMN tahun 2005 - 2009 pada umumnya meningkat yang
antara lain disebabkan Bank BUMN telah berhasil dalam melakukan restrukturisasi, baik
yang bersifat operasional maupun finansial. Peningkatan kinerja tersebut antara lain
tercermin dalam peningkatan pencapaian pendapatan dan laba bersih perseroan. Dalam
kurun waktu 5 tahun, terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi, yaitu 15,4%,
pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata
26,9%. Gambaran mengenai data keuangan pokok BUMN Perbankan tersaji dalam Tabel
4 sebagai berikut.

22
Tabel 4. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perbankan
Tahun 2005 – 20091
Rp Miliar
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 563.054 624.234 742.855 851,248 938,427

Ekuitas 49.943 59.774 68.688 71.380 86.989

Pendapatan 61.602 68.186 75.877 88.039 92.667

Laba Bersih 6.263 8.969 10.484 13.576 17.484

II. 2.2.Sektor Usaha Asuransi

Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di sektor usaha asuransi, PT Askes, PT


Jamsostek, PT Taspen, PT Asabri, PT Jasindo, PT Jasa Raharja, PT Jiwasraya, PT ASEI,
PT Askrindo dan PT RUI. Adapun isu utama BUMN Sektor Asuransi adalah adanya
Undang-undang Nomor 40/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan
Nasional (SJSN) yang menetapkan perlu adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Nasional. Keempat BUMN asuransi yang direncanakan akan dijadikan/ditunjuk sebagai
badan penyelenggara jaminan sosial, adalah PT Askes, PT Jamsostek, PT Taspen dan PT
Asabri, dengan kemungkinan perubahan bentuk/status hukum BUMN tersebut.

Selama periode tahun 2005-2009, BUMN Asuransi mampu meningkatkan kinerja


operasional yang tercermin dari peningkatan premi/iuran yang dihimpun, dana investasi,
dan cadangan teknis. Gambaran mengenai kinerja operasional tersebut dapat dilihat pada
tabel 5 berikut.

Tabel 5. Perkembangan Premi, Investasi, dan Cadangan Teknis BUMN Asuransi


Tahun 2005 – 2009

Rp Miliar
2005 2006 2007 2008 2009
Premi 11,118 12,965 15,038 19,088 18,557
Investasi 63,712 79,426 97,484 104,566 109,362
Cadangan Teknis 27,516 31,650 38,116 45,144 60,588

Dalam kurun waktu 5 tahun, terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi, yaitu
20,7%, pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih
rata-rata 27,8%. Secara agregat, data keuangan pokok BUMN Sektor Asuransi dapat
dijelaskan dalam Tabel 6 di bawah ini.

1
Sumber: Data publikasi diolah

23
Tabel 6. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Asuransi
Tahun 2005 – 2009
Rp Miliar
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 69.561 86.219 105.450 133.828 147.076

Ekuitas 6.690 9.719 12.026 12.327 18.793

Pendapatan 15.815 21.341 25.212 33.622 36.455

Laba Bersih 1.728 2.318 2.606 3.291 4.548

II. 2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan

Terdapat 7 (tujuh) BUMN yang bergerak di sektor usaha jasa keuangan dan 1
(satu) perusahaan minoritas. Masing-masing BUMN Usaha Jasa Keuangan memiliki
karakteristik berbeda sehingga isu yang dihadapi juga berbeda-beda. Sebagai contoh, PT
PANN Multi Finance saat ini dalam kondisi ekuitas negatif terkait beban bunga hutang
SLA untuk proyek pesawat terbang dan kapal ikan yang merupakan penugasan
pemerintah. Sementara itu, PT PPA yang semula hanya mengelola aset eks BPPN, saat ini
sesuai PP 61 tahun 2008 mendapat tambahan tugas untuk melakukan restrukturisasi dan
revitalisasi BUMN, pengelolaan aset BUMN dan kegiatan investasi. Terkait fungsi untuk
melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN, maka PT PPA telah memperoleh PMN
sebesar Rp 1,5 Triliun pada tahun 2008 dan sebesar Rp 1 Triliun pada tahun 2009. Saat ini
BUMN yang telah dan sedang dalam program restrukturisasi oleh PT PPA per 31
Desember 2009 adalah 17 BUMN.

5 BUMN lain di sektor ini meliputi PT Danareksa (sekuritas, investasi dan


manajemen investasi), Perum Pegadaian, Perum Jamkrindo (penjaminan kredit kecil),
PT PNM (jasa pembiayaan), dan PT Kliring Berjangka Indonesia (kliring berjangka dan
resi gudang). Untuk Perum Pegadaian saat ini dalam proses pemerseroan. Perum
Jamkrindo dan PT PNM terlibat intensif dalam penjaminan dan penyaluran kredit
kecil/KUR yang memerlukan perhatian Pemerintah untuk menjaga kelayakan tingkat
modal minimal apabila menghadapi kredit bermasalah. Sedangkan untuk PT Danareksa,
restrukturisasi lanjutan untuk penguatan likuiditas dan permodalan, perlu dilakukan
mengingat PT Danareksa masih memiliki akumulasi kerugian yang cukup besar.
Selanjutnya PT Kliring Berjangka Indonesia memerlukan dukungan dari instansi terkait
untuk kegiatan usaha resi gudang.

24
Dalam 5 tahun terakhir terlihat adanya pertumbuhan laba, ekuitas dan aset BUMN
Jasa Keuangan, sebagaimana terlihat pada Tabel 7 dibawah ini, dengan rata-rata
pertumbuhan aset 26,7% per tahun dan laba bersih 19,6% per tahun.

Tabel 7. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Keuangan


Tahun 2005 – 2009
Rp Miliar
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 11.974 13.711 16.943 22.133 30.553

Ekuitas 1.423 1.963 3.025 5.218 7.076

Pendapatan 2.661 3.107 3.543 4.198 5.380

Laba Bersih 520 767 754 973 1.010

II. 2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi

BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi terdiri dari 14 BUMN yang 2 (dua)
diantaranya adalah BUMN Terbuka. Keempat belas BUMN tersebut adalah PT Adhi
Karya, PT Wijaya Karya, PT PP, PT Waskita Karya, PT Hutama Karya, PT Amarta
Karya, PT Nindya Karya, PT Istaka Karya, PT Brantas Abipraya, PT Indra Karya, PT
Bina Karya, PT Indah Karya, PT Virama Karya dan PT Yodya Karya. Disamping itu
terdapat perusahaan konsruksi dimana kepemilikan negara adalah minoritas, yaitu PT
Rekayasa Industri. Periode 2005 – 2009, terjadi pertumbuhan aset BUMN Jasa Konstruksi
rata-rata 21,6% per tahun dengan kenaikan laba yang meningkat rata-rata 25,8% per tahun,
sedangkan total ekuiti per tahun tumbuh 27,1%.

Isu strategis yang dihadapi BUMN konstruksi antara lain meningkatnya kebutuhan
modal kerja yang disebabkan oleh meningkatnya proyek yang diterima dan meningkatnya
harga bahan baku yang menimbulkan tingkat hutang tinggi (leverage) sehingga
mempengaruhi kinerja perusahaan, persaingan yang ketat dalam mendapatkan proyek baik
proyek pemerintah maupun proyek swasta, serta keterbatasan dalam tenaga ahli.

Secara agregat, dari tahun 2005-2009, kinerja BUMN Sektor Usaha Jasa
Konstruksi mengalami trend yang positif, ditandai dengan kenaikan beberapa indikator
kinerja keuangan utama sebagaimana terlihat dalam Tabel 8 sebagai berikut.

25
Tabel 8. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi
Tahun 2005-2009
Rp Miliar
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 10.672 12.499 16.274 20.768 23.116

Ekuitas 1.482 1.607 2.737 3.159 3.763

Pendapatan 13.478 16.163 19.361 25.324 29.843

Laba Bersih 254 295 417 512 657

II. 2.5. Sektor Usaha Industri Farmasi


BUMN Sektor Usaha Farmasi meliputi 3 (tiga) BUMN yang 2 (dua) diantaranya
berbentuk Persero Terbuka yang bergerak di bidang farmasi dan obat-obatan (PT Kimia
Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) serta 1 (satu) BUMN yang bergerak di bidang produk
vaksin yang sahamnya dimiliki 100% oleh Negara RI (PT Bio Farma). Isu-isu strategis
yang dihadapi oleh BUMN farmasi meliputi antara lain :
a. Kecenderungan upaya merger/akuisisi perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia
maupun global untuk langkah efisiensi dan pengembangan pasar.2

b. Dalam kaitannya Obat Generik BUMN Farmasi menghadapi masalah impor bahan
baku dan harga beli Pemerintah terhadap Obat Generik.

c. Persaingan obat-obat kimia dengan obat-obat herbal dengan penitrasi pasar yang
cukup tajam dan harga yang relatif lebih kompetitif.
Total aset BUMN Farmasi meningkat rata-rata 13,0% dan laba bersih rata-rata
23,0% per tahun dalam kurun waktu 2005-2009, sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 9
di bawah ini.
Tabel 9. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Farmasi
Tahun 2005 - 2009
Rp Miliar
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 2.240 2.548 3.148 3.342 3.627

Ekuitas 1.557 1.666 1.828 2.018 2.321

Pendapatan 2.934 3.832 4.384 4.989 5.083

Laba Bersih 118 145 180 198 267

2
Sumber: www.pfizer.com dan Laporan Tahunan PT Kalbe Farma

26
II. 2.6. Sektor Usaha Aneka Industri

BUMN Sektor Aneka Industri meliputi 4 (empat) BUMN yang terdiri dari 2 (dua)
BUMN yang bergerak di bidang usaha TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yaitu PT Industri
Sandang Nusantara (ISN) dan PT Primissima. PT IGLAS bergerak dalam industri gelas
dan PT Garam bergerak dalam industri garam. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh
BUMN Aneka Industri antara lain :
a. Alat-alat produksi relatif tua sehingga produktivitas rendah dan biaya perawatan tinggi
sehingga mengurangi daya saing.

b. Beban hutang cukup besar dan mengalami kesulitan likuiditas/modal kerja.


Kenaikan total aset BUMN sektor Aneka Industri selama periode 2005 – 2009
sangat kecil, yaitu hanya 3,0% per tahun, namun demikian dalam kurun waktu tersebut
BUMN Sektor Aneka Industri belum mampu membukukan laba. Gambaran umum kinerja
BUMN Aneka Industri 2004-2009 terlihat pada Tabel 10 sebagai berikut.

Tabel 10. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Aneka Industri
Tahun 2005 - 2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Total Aktiva 876.741 804.468 778.308 874.226 971.543
Ekuitas 214.944 119.302 47.261 45.168 (65.832)
Pendapatan/sales 658.648 554.513 557.661 441.221 473.101
Laba/(Rugi) Bersih (53.432) (94.117) (72.014) (158.210) (97.948)

II. 2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan

BUMN Kawasan Industri dan Perumahan terdiri dari 5 (lima) BUMN Kawasan
Industri, PT KI Makasar, PT KI Wijayakusuma, PT KBN, PT PDIP Batam dan PT KI
Medan, 1(satu) BUMN Perumahan, Perum Perumnas. Disamping itu terdapat 3
perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh
BUMN Kawasan Industri dan Perumahan antara lain adalah persaingan pembangunan
perumahan oleh BUMN dengan swasta, dan perlunya sinkronisasi kebijakan/regulasi
antara Pusat dengan Daerah (pembebasan lahan/lokasi, perijinan, dll).

Selama 5 tahun terakhir, BUMN sektor Kawasan Industri dan Perumahan


mengalami pertumbuhan aset yang cukup signifikan, yaitu 4,3%, dengan pertumbuhan

27
laba bersih 35,9%. Gambaran umum kinerja BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan
Perumahan tahun 2005–2009, terlihat pada Tabel 11 sebagai berikut.

Tabel 11. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan
Perumahan Tahun 2005 – 2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 1.862.744 1.844.286 1.882.827 1.975.317 2.194.730

Ekuitas 992.286 1.033.394 977.377 1.035.817 784.543

Pendapatan 614.335 541.794 569.469 795.642 547.035

Laba Bersih 66.319 59.479 (44.540) 69.965 79.056

II. 2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata

BUMN yang bergerak di sektor usaha sarana angkutan dan pariwisata terdiri dari 9
(sembilan) BUMN Sarana Angkutan dan 3 (tiga) BUMN Pariwisata, yakni PT Garuda
Indonesia, PT Merpati Nusantara, PT PELNI, PT Djakarta Lloyd, PT ASDP, PT Pelayaran
Bahtera Adhiguna, Perum Damri, Perum PPD, PT Kereta Api Indonesia, PT TWCBPB,
PT BTDC, PT Hotel Indonesia Natour. Isu Strategis BUMN Sarana Angkutan dan
Pariwisata meliputi antara lain :
a. Penyelesaian restrukturisasi perusahaan meliputi restrukturisasi hutang, organisasi dan
SDM.
b. Kondisi armada angkutan yang sudah tua yang menggangu tingkat kenyamanan dan
keselamatan penumpang.

c. Pemberlakuan UU No. 17 Th 2008 tentang pelayaran, yang intinya memisahkan antara


regulator dan operator sehingga akan berdampak negatif pada kinerja perusahaan
pelayaran.

d. BUMN Sektor Perhotelan mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan


usaha karena kekurangan modal kerja dan pada umumnya bangunan hotel sudah tua
serta mengalami kelebihan jumlah pegawai

Aset BUMN sarana angkutan dan pariwisata tumbuh relatif kecil yakni rata-rata
9,9% per tahun, sedangkan pendapatan usaha tumbuh lebih baik yaitu 11,1%. Sekalipun
demikian sampai dengan tahun 2008 BUMN sarana angkutan dan pariwisata masih merugi
sekalipun dari tahun ke tahun kerugiannya menurun dan pada tahun 2009 telah
memperoleh laba.
Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan
Pariwisata tahun 2004-2009 dapat dilihat dalam Tabel 12 sebagai berikut.

28
Tabel 12. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan
Pariwisata Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 20.838.857 22.745.403 26.236.458 29.773.930 30.157.259

Ekuitas 8.455.946 8.558.845 6.094.218 8.957.672 11.524.591

Pendapatan 19.756.565 20.900.200 23.421.342 30.915.881 29.117.797

Laba Bersih (1.078.189) (641.928) (259.700) (67.269) 1.285.381

II. 2.9. Sektor Usaha Prasarana Angkutan

BUMN Sektor Prasarana Angkutan terdiri dari 4 (empat) BUMN Kepelabuhanan,


PT Pelindo I – IV dan 2 (dua) BUMN Kebandarudaraan, PT Angkasa Pura I & II, 1 (satu)
BUMN Pengerukan, PT Rukindo, dan 1 (satu) BUMN Operator Jalan Tol, PT Jasa Marga.
Total aset BUMN sektor Usaha Prasarana Angkutan tumbuh 13,2% dengan pertumbuhan
laba bersih mencapai 14,1% per tahun.
Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan antara
lain :
a. Pemberlakuan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, maka akan ada pemisahan
antara operator dan regulator yang akan diatur oleh Badan Otoritas Pelabuhan

b. Pemberlakuan Undang-undang No.1 th 2009 tentang penerbangan serta antisipasi


pemisahan Air Traffic Services (ATS), maka investasi untuk segmen usaha ATS
dibatasi untuk investasi yang sangat prioritas. Investasi difokuskan kepada segmen
usaha jasa layanan penumpang, jasa pendaratan dan segmen usaha non aeronautika.

Perkembangan kinerja BUMN Sektor Prasarana Angkutan dapat dilihat dalam Tabel 13
sebagai berikut.

Tabel 13. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan Tahun
2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 29.756.136 31.581.510 39.905.883 44.119.357 48.430.061

Ekuitas 18.156.546 20.156.595 27.771.345 31.167.157 33.925.330

Pendapatan 9.220.220 10.170.750 11.544.916 13.885.706 14.976.955

Laba Bersih 2.224.508 2.168.984 2.669.753 3.818.881 3.534.367

29
II. 2.10. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi

Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di Sektor Perdagangan, Pergudangan,


Distribusi, dan Jasa Sertifikasi, meliputi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT PP
Berdikari, PT Sarinah, PT Banda Ghara Reksa, PT Varuna Tirta Prakasya, PT Pos
Indonesia, PT Surveyor Indonesia, PT Sucofindo, PT Biro Klarifikasi Indonesia dan PT
Survey Udara Penas. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perdagangan,
Pergudangan, Distribusi, dan Jasa Sertifikasi antara lain :
a. Kinerja BUMN Perdagangan kurang optimal. Di samping tingkat kompetisi di sektor
perdagangan dan masalah internal antara lain keuangan dan operasional, namun
BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan pemasaran yang
cukup luas, klien yang cukup banyak dan SDM yang kompeten
b. BUMN sektor pergudangan terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk ekspansi
usaha dan terkait erat dengan regulasi Pemda dan laju pengembangan daerah setempat
c. Bisnis utama PT Pos Indonesia, khususnya jasa pengiriman kalah bersaing dengan
perusahaan swasta. Beban PSO yang ditanggung PT Pos tidak seimbang dengan dana
kompensasi PSO dari Pemerintah. Saat ini pemisahan biaya antara PSO dan non PSO
belum dapat dilaksanakan.
d. Untuk sektor Jasa Penilai di samping PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia perlu
bersaing dengan swasta, maka masalah cross ownership diantara keduanya perlu
diseleisaikan.
e. Khusus PT Survey Udara, kinerja keuangannya sangat buruk dan mengalami kesulitan
likuiditas. Perusahaan ini tidak dapat bersaing dan memiliki alat produksi yang sudah
tua.

Kinerja BUMN sektor perdagangan, pergudangan, distribusi dan jasa sertifikasi,


dalam 5 tahun terakhir relatif berfluktuasi dengan kecenderungan tumbuh. Hal ini
ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 20,6% dan aset tumbuh
rata-rata 7,1%. Perkembangan kinerja BUMN sektor perdagangan, pergudangan, distribusi
dan jasa sertifikasi 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang baik sebagaimana terlihat
pada Tabel 14 sebagai berikut.

Tabel 14. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi
Tahun 2005–2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 19.061.184 17.164.292 22.581.622 24.702.243 24.055.692

Ekuitas 7.397.124 7.051.687 7.569.082 5.243.791 4.730.631


Pendapatan 14.438.575 13.020.885 16.421.619 23.966.967 28.766.245
Laba Bersih (28.672) 63.687 201.019 153.864 (493.168)

30
II. 2.11. Sektor Usaha Perkebunan

BUMN Sektor Perkebunan terdiri dari 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN I s.d.


XIV) & PT RNI. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perkebunan antara lain:
a. Produk dan produktivitas perkebunan pada umumnya rendah karena umur tanaman
yang sudah tua dan komposisi tanaman tidak ideal. Hal tersebut timbul karena
keterlambatan replanting.
b. Kemampuan leverage secara umum rendah sehingga perlu dilakukan holding.
c. Sebagian usia fasilitas pabrik sudah tua.
d. Kemampuan dan kualifikasi SDM belum memenuhi standardisasi.
e. Kemampuan untuk membiayai investasi rendah karena kemampuan leverage secara
sendiri-sendiri sangat rendah, untuk itu perlu dilakukan holding.

Adapun perkembangan kinerja BUMN Sektor Perkebunan dari tahun 2005- 2009
dapat dilihat pada Tabel 15. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 rata-
rata sebesar 14,6% per tahun, terjadi pula peningkatan laba bersih rata-rata 26,9%,
sedangkan ekuitas meningkat rata-rata 16,7%.

Tabel 15. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perkebunan


Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 21.686.263 24.024.230 29.148.790 34.817.283 37.221.838

Ekuitas 7.288.544 7.688.783 9.915.193 12.124.789 13.338.934

Pendapatan 20.708.684 21.392.560 27.947.074 33.328.532 33.212.420

Laba Bersih 1.236.507 1.003.547 2.474.774 2.929.335 1.803.400

II. 2.12. Sektor Usaha Kehutanan

BUMN Sektor Kehutanan terdiri atas 6 (enam) BUMN yaitu PT Inhutani I s.d. V
dan Perum Perhutani. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kehutanan antara lain:
a. Keterbatasan areal lahan yang dikuasai PT Inhutani I-V, akibat adanya pencabutan
areal kerja yang dikelola oleh Departemen Kehutanan pada awal tahun 2000-an.
b. Keterbatasan modal kerja, investasi pada usaha kehutanan memerlukan time period
yang cukup lama yaitu sampai dengan 7-8 tahun untuk dapat menikmati hasilnya. Oleh

31
sebab itu dunia perbankan sampai dengan saat ini belum ada yang mau menyalurkan
modalnya di usaha kehutanan.
c. Peralatan industri milik PT Inhutani yang sudah tidak sesuai lagi dengan produksi hasil
hutan saat ini, karena desain awal industri ditujukan untuk produk kayu alam.
d. Kondisi sosial lingkungan wilayah hutan yang belum mendukung sepenuhnya
keamanan dan kelestarian hutan, sehingga diperlukan penanganan khusus dari BUMN
pengelola hutan.
e. Pasar kayu HTI terbatas pada industri kertas dalam negeri.
Kinerja keuangan BUMN kehutanan cenderung membaik dalam 5 tahun terakhir.
Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 48,9%, pendapatan tumbuh
12,9%. Sekalipun demikian, aset belum tumbuh secara optimal karena hanya tumbuh 0,1%
sedangkan ekuitas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1,9%.
Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan tahun 2005-
2009 terlihat dalam Tabel 16 sebagai berikut.

Tabel 16. Tabel Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan
Tahun 2005-2009

Rp Juta
Keterangan 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
Aset 2.652.404 2.746.187 2.712.451 2.681.087 2.660.510
Ekuitas 2.054.601 2.055.379 1.934.810 1.904.732 1.894.671
Pendapatan 1.587.490 1.814.031 2.352.597 2.603.839 2.530.760
Laba Bersih 41.104 45.043 37.487 118.131 103.736

II. 2.13. Sektor Usaha Perikanan


Terdapat 2 (dua) BUMN yang bergerak di sektor usaha perikanan yaitu Perum
Prasarana Perikanan Samudra (PPS) dan PT Perikanan Nusantara. Isu strategis yang
dihadapi BUMN Sektor Perikanan antara lain :
a. Paska penggabungan perusahaan perikanan belum beroperasi dengan baik

b. Kondisi perusahaan secara keseluruhan kurang baik. Kondisi keuangan perusahaan


sangat buruk dengan ekuitas negatif. Perusahaan beroperasi belum normal sebagai
dampak peleburan BUMN PT Tirta Raya Mina, PT Usaha Mina, dan PT Perikani.
Banyak aktiva perusahaan yang tidak produktif.

c. Jumlah dan umur armada serta modal kerja masih menjadi hambatan untuk kelancaran
operasi.

32
Kinerja BUMN perikanan masih memprihatinkan meskipun terdapat
perkembangan positif dalam beberapa aspek. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan
aset mencapai 20,1% meskipun masih menderita ekuitas negatif.
Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan terlihat
sebagaimana dalam Tabel 17 sebagai berikut.

Tabel 17. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan


Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 102.304 147.613 197.204 198.112 202.116

Ekuitas 82.592 (77.037) (16.463) (21.457) (22.224)

Pendapatan 72.472 103.459 98.232 123.294 156.563

Laba Bersih (1.263) (15.955) (11.907) (253) 2.223

II. 2.14. BUMN Sektor Usaha Kertas, Percetakan dan Penerbitan

BUMN Sektor Usaha Kertas, Percetakan dan Penerbitan terdiri dari 2 (dua)
BUMN Kertas, PT Kertas Kraft Aceh, PT Kertas Leces dan 4 (empat) BUMN Percetakan
dan Penerbitan, PT Balai Pustaka, PT Pradya Paramita, Perum Peruri, Perum PNRI. Isu
strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kertas, Percetakan dan Penerbitan antara lain :
a. Sektor kompetitif dan daya saing sangat rendah karena , mesin sudah cukup tua
sehingga beban pemeliharaan tinggi , struktur permodalan kurang sehat, ekuitas
negatif karena mengalami rugi terus-menerus, dan kesulitan memperoleh pasokan gas

b. Industri kertas sudah sangat kompetitif, sedangkan BUMN kertas memiliki mesin yang
sudah tua dan kesulitan bahan baku serta permodalan

c. Pemerintah telah mencabut hak ekslusif pada BUMN untuk mencetak dan
mengedarkan buku pelajaran sehingga saat ini sektor percetakan dan penerbitan
bersifat kompetitif.

d. Skala usaha yang relatif sangat kecil dan eksistensi BUMN Percetakan dan penerbitan

Kinerja BUMN Kertas, Percetakan dan Penerbitandalam 5 tahun terakhir


berfluktuasi. Aset mengalami pertumbuhan rata-rata 6,5%, pendapatan mengalami
pertumbuhan 10,8% sedangkan laba bersih cenderung berfluktuasi.

33
Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kertas, Percetakan dan
Penerbitan dapat dilihat dalam Tabel 18 sebagai berikut.

Tabel 18. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Percetakan dan
Penerbitan
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 2.964.367 3.130.927 3.862.694 3.863.871 3.743.045

Ekuitas 347.771 241.728 616.929 492.071 294.163

Pendapatan 1.818.628 1.717.406 2.482.568 2.578.222 2.581.518

Laba Bersih (110.565) (123.653) 47.289 (16.344) (145.319)

II. 2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian

BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terdiri dari 1 (satu) BUMN Pupuk, PT
PUSRI, 2 (dua) BUMN Perbenihan, PT SHS dan PT Pertani, 2 (dua) BUMN Pengairan,
PT Jasa Tirta I & II, dan Perum Bulog. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor
Penunjang Pertanian antara lain:

a. Untuk Perum Jasa Tirta I & II, tarif jasa air yang ditetapkan Pemerintah (Menteri PU)
masih dibawah tingkat keekonomiannya (tidak ekonomis) sehingga perusahaan tidak
memperoleh dana yang cukup (dari pendapatan jasa air) untuk membiayai
pemeliharaan prasarana/sarana yang dikelola sehingga seperti pengerukan sedimentasi
bendungan, pemeliharaan saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS). Akibatnya
umur ekonomis dari sarana/prasarana tersebut semakin pendek dan sering terjadi
banjir.

b. Untuk Perum Bulog, penetapan harga pembelian beras (HPB) oleh Pemerintah untuk
kebutuhan raskin ditetapkan berdasarkan besarnya dana subsidi raskin yang ditetapkan
dalam APBN dan bukan atas dasar kalkulasi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan
dan penyaluran raskin.

HPB yang ditetapkan Pemerintah lebih rendah dari total biaya yang dikeluarkan oleh
Bulog, sehingga Bulog mengalami kerugian. Terdapat kekurang”fair”an SK penetapan
HPB oleh Menkeu, yakni apabila HPB lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan, maka
kelebihannya harus disetor ke kas Negara. Sedangkan apabila HPB lebeih rendah,
kekurangannya menjadi kerugian Bulog. Seyogianya kekurangan tersebut selayaknya
diganti Pemerintah selaku pemberi tugas.

c. Untuk BUMN Pupuk, usia pabrik sudah tua serta kurangnya pasokan gas.

d. Untuk BUMN Perbenihan, sangat tergantung pada adanya subsidi benih. Apabila
subsidi benih dihilangkan maka BUMN bisa merugi.

34
Selama periode 2005 – 2009 BUMN sektor Usaha Penunjang Pertanian mengalami
pertumbuhan aset sebesar 13,3% yang diikuti dengan pertumbuhan laba bersih 28,9% per
tahun. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terlihat
sebagaimana dalam Tabel 19 sebagai berikut.

Tabel 19. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Penunjang Pertanian


Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 20.646.942 21.553.074 24.586.399 33.296.701 32.994.934

Ekuitas 8.568.255 9.098.299 11.148.122 12.601.730 15.529.732

Pendapatan 17.224.337 17.073.962 24.473.379 39.126.581 39.297.837

Laba Bersih 868.136 897.935 1.719.806 2.184.835 2.049.956

II. 2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen

BUMN Sektor Usaha Pertambangan dan Semen terdiri dari 7 BUMN yaitu 4
(empat) BUMN Sektor Pertambangan, PT Aneka Tambang, PT Timah, PT BB Bukit
Asam, PT Sarana Karya, dan 3 (tiga) BUMN Semen, PT Semen Gresik, PT Semen
Baturaja dan PT Semen Kupang. Diantara isu strategis BUMN Pertambangan adalah
rencana pembentukan BUMN Pertambangan yang terintegrasi (IRC) melalui pembentukan
Holding Company guna meningkatkan skala ekonomis, leverage dan nilai perusahaan
yang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan.
Sedangkan isu strategis yang dihadapi BUMN Semen adalah optimalisasasi
holding BUMN Semen (PT Semen Gresik Group Tbk) dengan melakukan pemisahan aset
(spin off) PT Semen Gresik Tbk dan pengembangan usaha PT Semen Baturaja guna
meningkatkan kapasitas produksi.
Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Pertambangan dan Semen dapat
meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 13,9% per tahun dengan
pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 38,9% per tahun. Pertumbuhan tersebut
diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 22,6% per tahun. Perkembangan kinerja
keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen dapat dilihat pada Tabel 20 sebagai
berikut.

35
Tabel 20. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen Tahun
2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 197.834.182 225.610.789 279.771.590 321.841.157 329.413.225

Ekuitas 81.918.469 134.420.344 161.505.091 169.361.679 171.453.926

Pendapatan 329.958.353 371.854.949 420.952.937 585.867.650 374.807.089

Laba Bersih 9.069.349 22.081.547 33.186.800 35.566.054 19.496.734

II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis

BUMN sektor usaha Industri Strategis terdiri dari 2 (dua) BUMN Industri
Pertahanan, PT Dahana dan PT Pindad, 3 (tiga) BUMN Baja dan Konstruksi Baja, PT
Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, 1 (satu) BUMN Industri
Kereta Api, PT INKA, 1 (satu) BUMN Kedirgantaraan, PT Dirgantara Indonesia dan 4
(empat) BUMN Dok Perkapalan, PT Dok Kodja Bahari, PT Dok & Perkapalan Surabaya,
PT PAL Indonesia, PT Indusri Kapal Indonesia.

Isu-isu strategis yang dihadpi oleh BUMN Sektor Usaha Industri Strategis adalah :
a. Keterbatasan pendanaan, sehingga pengembangan usaha berjalan sangat lambat.
b. Tingginya ketergantungan kepada bahan baku impor.
c. Skala usaha dan kapasitas produksi yang masih rendah, sehingga belum efisiensi yang
berdampak pada lemahnya daya saing.
d. Prasarana dan saran produksi yang relatif telah berusia tua dan ketinggalan teknologi
yang memerlukan dana cukup besar untuk revitalisasi dan alih teknologi.
e. Kondisi keuangan perusahaan yang sudah mengkhawatirkan, sehingga menyulitkan
untuk akses ke sumber pendanaan dan untuk mendapatkan order pekerjaan (PT Barata
Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT
Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Kapal Indonesia).

Perkembangan kinerja BUMN Sektor Industri Strategis dari tahun 2005-2009


terlihat dalam Tabel 21. Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis
dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 9,3% per tahun, yang juga
diikuti dengan pertumbuhan ekuitas rata-rata 15,8% per tahun. Pada tahun 2006 dan 2007
BUMN Sektor Industri Strategis masih mengalami kerugian, namun pada 2 tahun terakhir
sudah mampu membukukan laba.

36
Tabel 21. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Industri Strategis
Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 15.982.193 18.305.011 19.790.843 24.724.658 22.169.961

Ekuitas 3.566.036 4.404.781 4.364.670 4.646.064 4.823.251

Pendapatan 15.062.416 15.780.303 18.638.017 25.398.892 21.274.755

Laba Bersih 228.707 (237.971) (181.194) 373.554 400.863

II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam

BUMN Sektor Usaha Energi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT PLN, PT Pertamina,
PT PGN, PT Batan Teknologi dan PT EMI. Dengan pertumbuhan aset selama periode
2005 – 2009 rata-rata mencapai sebesar 12,4% per tahun, sedangkan ekuitas meningkat
rata-rata sebesar 1,0 %.
Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha energi antara lain :
a. Produk yang dihasilkan berhubungan dengan hayat hidup orang banyak (mengemban
tugas Public Service Obligation/PSO), sehingga penetapan harga/tarif masih diatur
oleh Pemerintah.
b. Perlunya dilakukan restrukturisasi secara menyeluruh (PT Pertamina,
PT Perusahaan Listrik Negara), baik organisasi maupun usaha, termasuk anak-anak
perusahaan agar operasional perusahaan lebih efisien dan efektif.
c. Investasi untuk pembangunan pembangkit listrik baru (PT Perusahaan Listrik Negara)
membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, sehingga kebutuhan masyarakat
terhadap listrik belum terpenuhi sebagaimana harapan.

Adapun perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Energi adalah


sebagaimana Tabel 22 sebagai berikut.

Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Energi Tahun 2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 236.310.016 266.199.786 297.965.615 322.428.217 376.484.955

Ekuitas 146.049.529 147.756.069 145.186.024 138.119.760 151.239.966

Pendapatan 85.011.144 114.944.477 127.013.989 184,268,485 166.361.897

Laba Bersih (3.588.986) 452.330 (3.758.415) (9.962.804) 13.040.486

37
II. 2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang
Telekomunikasi

BUMN yang bergerak di sektor usaha telekomunikasi terdiri dari 5 (lima) BUMN,
PT Telkom, PT INTI, PT LEN Industri, Perum LKBN Antara, Perum Perusahaan Film
Negara. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi adalah
sebagaimana Tabel 22.

Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha telekomunikasi antara lain :
a. Saat ini terdapat 10 perusahaan operator telepon seluler di Indonesia yang berdampak
pada perang tarif dan tingkat persaingan yang sangat ketat.
b. Untuk pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dibutuhkan dana
yang sangat besar, sementara dengan ketatnya persaingan menuntut setiap operatoe
untuk melakukan efisiensi secara ketat.
c. Kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi terkait dengan masalah naionalisme
dan karena telekomunikasi termasuk industry yang menguasai hayat hidup orang
banyak.
d. Ketatnya persaingan dan banyaknya alat-alat komunikasi yang masuk ke Indonesia
dari luar negeri, mengancam keberadaan perusahaan industri peralatan
telekomunikasi Indonesia (PT Industri Telekomunikasi Indonesia).

Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat
meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 11,3% per tahun dengan
pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 6,2% per tahun. Pertumbuhan tersebut
diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 12,6% per tahun.

Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi Tahun
2005-2009
Rp Juta
Prognosa
Keterangan 2005 2006 2007 2008
2009
Aset 63.176.678 76.301.596 83.230.795 92.500.325 96.378.922

Ekuitas 23.871.848 28.651.835 34.276.989 34.847.399 38.092.656

Pendapatan 42.528.270 52.220.931 60.496.862 62.020.947 48.617.237

Laba Bersih 8.012.347 11.017.141 12.854.898 10.623.901 9.324.478

II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG)

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perencanaan dan evaluasi penerapan tata
kelola perusahaan yang baik (GCG) di BUMN, Kementerian BUMN telah melakukan hal-
hal sebagai berikut :

38
a. Untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di BUMN serta untuk
menyesuaikan dengan best practice penerapan GCG dalam dunia usaha, maka telah
dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif terhadap implementasi GCG di BUMN
(dengan hasil kegiatan sebagaimana dikemukan di butir II.3.1 s.d. II.3.8).

b. Kegiatan monitoring GCG dalam rangka fungsi pembinaan dan pengawasan kepada
BUMN .

II. 3.1. Assessment GCG

Pelaksanaan assessment GCG sampai akhir tahun 2009 mencapai 109 BUMN dari
141 BUMN, sehingga masih tersisa 32 BUMN yang belum dilakukan assessment. Dari
jumlah 32 BUMN yang tersisa tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2010.
Kualitas penerapan GCG dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori/tingkatan
capaian aktual penerapan GCG, dari “sangat baik” sampai dengan “sangat kurang”
sebagaimana terlihat pada Tabel 23 sebagai berikut.

Tabel 23. Hasil Asessment GCG pada BUMN Sampai Tahun 2009
Jumlah BUMN
Grade / s.d. 31
Predikat Range Score sd 31 Des sd 31 Des %
Tingkat Des
2007 2009
2008
1 Sangat baik 90 < X < 100 - - - 0
2 Baik 75 < X < 90 29 30 59 54,13
3 Cukup 60 < X < 75 44 46 35 32,11
4 Kurang 50 < X < 60 9 9 6 5,50
5 Sangat Kurang X < 50 9 9 9 8,26
Jumlah 0 < X < 100 91 94 109 100,00

Tabel di atas menunjukkan skor hasil assessment GCG murni sebagian besar dalam
kategori cukup, yakni 48,95%, baik 31,91%, sedangkan yang berkategori kurang secara
kumulatif sebanyak 19,14%. Hal ini berarti, secara umum penerapan GCG pada BUMN
masih perlu peningkatan dalam kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG-nya.

II. 3.2. Re-Assessment GCG

Re-assessment perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan


GCG pada BUMN yang masih dianggap perlu peningkatan. Re-assessment GCG ditujukan
kepada BUMN yang memenuhi kriteria, yaitu telah melaksanakan Program Assessment

39
GCG, perolehan skor GCG-nya rendah (70<), dan Assessment-nya dilakukan dalam 2
tahun terakhir (2007-2008).
Sampai dengan tahun 2008, sebanyak 5 BUMN telah menyelesaikan re-
assessment GCG, yaitu PT Sarinah, PT Asuransi Jasa Raharja, PT Bhanda Ghara Reksa,
dan Perum Bulog dan PT Asuransi Jasa Indonesia. 5 BUMN yang telah melakukan re-
assessment tersebut berhasil melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang signifikan
sehingga kualitas penerapan GCG mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil
assessment sebelumnya. Upaya perbaikan terutama pada aspek kebijakan GCG dan
pelaksanaan GCG di Direksi dan Dewan Komisaris. Sedangkan sebanyak 7 BUMN
lainnya masih dalam proses pelaksanaan oleh assessor.

II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri)

Sampai dengan tahun 2009, terdapat 27 BUMN yang melakukan self assessment
GCG dan hasilnya telah dilaporkan kepada Kementerian BUMN. Program assessment
GCG yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN telah meningkatkan perbaikan kualitas
penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN. Hasil-hasil program assessment GCG
diharapkan dapat ditindaklanjuti secara konsekuen oleh BUMN. Karena kualitas
penerapan GCG dijadikan indikator kinerja utama dalam penilaian kinerja BUMN (Key
Performance Indicator). Pelaksanaan self assessment oleh BUMN telah memicu perbaikan
signifikan dalam penerapan GCG di BUMN. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan
skor GCG hasil self assessment dibandingkan dengan skor hasil assessment GCG murni
sebelumnya.
Dari 25 BUMN yang melaksanakan self assessment secara mandiri, sebanyak 24
BUMN mengalami peningkatan kualitas dalam penerapan prinsip-prinsip GCG-nya,
sedangkan terjadi penurunan skor GCG pada 1 BUMN, namun penurunan skor tersebut
tidak menurunkan kategori penilaian sebelumnya (kategorinya tetap “Baik”).

II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG

Review dilakukan terhadap BUMN yang memenuhi kriteria, yaitu BUMN


tersebut telah melaksanakan assessment GCG tahun 2005 dan sebelumnya, dan perolehan
skor di atas 70. Sampai dengan tahun 2009 jumlah BUMN yang telah direview berjumlah
47 BUMN.

40
II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner

Tim Koordinasi dan Monitoring GCG telah menyebarkan kuesioner untuk


pengumpulan data penerapan GCG pada 50 BUMN. Sampai dengan saat ini, BUMN yang
telah menyerahkan jawaban kuesioner sebanyak 21 BUMN. Hasil monitoring penerapan
GCG melalui kuesioner tersebut akan diolah untuk memberikan informasi mengenai
penerapan GCG pada BUMN tersebut, serta hal-hal yang dapat dijadikan bahan
pembelajaran bagi BUMN lainnya.

II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System

Tujuan pelatihan risk management dan internal control system adalah untuk
memberikan pemahaman atas penerapan program risk management dan internal control
system sebagai satu kesatuan program yang terintegrasi dengan pelaksanaan GCG di
BUMN. Materi pelatihan meliputi : (1) konsep, prinsip dan nilai ekonomis manajemen
risiko korporasi dan keterkaitan dengan GCG dan internal audit; (2) kerangka kerja
internal manajemen risiko korporasi dari sudut pandang COSO; (3) key risk indicators
sebagai early warning system bagi korporasi; dan (4) pembelajaran melalui studi kasus.

II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management

Tim Koordinasi dan Monitoring GCG melakukan kajian atas evaluation tools
atas internal control (COSO Framework) yang terdiri dari 5 (lima) alat evaluasi, sesuai
dengan 5 (lima) komponen internal control dan contoh pengisian dalam evaluation tools
tersebut. Evaluasi atas internal control terdiri dari “point of focus” dan
penjelasan/komentar. Point of Focus merepresentasikan isu-isu yang relevan dengan
masing-masing komponen pengendalian internal yang dievaluasi. Tidak seluruh Point of
Focus ini relevan dengan setiap entitas. Penjelasan/komentar disediakan untuk mencatat
suatu penjelasan bagaimana masalah-masalah yang ditekankan dalam point of focus
diterapkan pada entitas yang dinilai, dan mencatat komentar-komentar yang relevan.

II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG

Sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2008 ini, kriteria assessment penerapan
GCG di lingkungan BUMN telah mengalami perkembangan dan perubahan sebagai
konsekuensi perkembangan praktik GCG yang dinamis. Perkembangan kriteria penilaian
GCG dilakukan sejalan dengan Program Assessment GCG Kementerian Negara BUMN,
sebagai berikut:

41
a. Scorecard Penilaian GCG 224 parameter merupakan kriteria assessment yang pertama
kali dan digunakan sebagai kriteria assessment GCG pada 16 BUMN pada tahun 2001.
b. Sejalan dengan terbitnya Keputusan Menteri BUMN Nomor :KEP-117/MBU/2002
tentang Penerapan GCG pada BUMN, Scorecard Penilaian 224 parameter mengalami
pengembangan kriteria menjadi 256 parameter (Scorecard Penilaian 256 parameter).
Pengembangan kriteria tersebut pada tahun 2002 khususnya terkait dengan materi
mengenai Komite di tingkat Dewan Komisaris.
c. Selanjutnya pada tahun 2004, Kementerian Negara BUMN menerbitkan kriteria
assessment penerapan GCG sebagai hasil ADB Project. Kriteria assessment GCG -
ADB Project terdiri atas 81 parameter dengan menggunakan kuesioner.
d. Penyempurnaan Scorecard Penilaian GCG 256 parameter.
Pada tahun 2006, Kementerian Negara BUMN dan BPKP menandatangani
Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: MOU-03/MBU/2006 –MOU-
199/K/D5/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang Kerjasama Percepatan
Pemberantasan Korupsi Dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Di
Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Kerjasama tersebut merupakan upaya kedua
belah pihak agar peningkatan kualitas penerapan GCG melalui program assessment
GCG dan revieu tindak lanjut hasil asessment GCG dilakukan secara
berkesinambungan. Tekad Kementerian BUMN untuk memiliki standar penilaian
GCG disambut oleh BPKP dengan memberikan masukan penyempurnaan scorecard
Penilaian GCG 256 parameter melalui:
Re-klasifikasi parameter sesuai tanggung jawab dan wewenang Organ BUMN dan
aspek penilaian berdasarkan TOR Kementerian BUMN, dan mengeliminasi
duplikasi/pengulangan parameter yang secara subtantif menjadi tanggung jawab
dominan pada salah satu Organ BUMN.
Perbaikan teknik pembobotan aspek penilaian GCG, indikator dan parameter
penilaian GCG yang dilakukan dengan menilai tingkat pengaruh parameter
terhadap indikator dan tingkat pengaruh indikator terhadap aspek-aspek penilaian
GCG.

Langkah-langkah penyempurnaan tersebut menghasilkan Scorecard Penailaian GCG


160 parameter yang dicakup dalam 50 indikator dan 5 aspek penilaian GCG.
Reklasifikasi, eliminasi dan perbaikan teknik pembobotan membawa dampak positif
terhadap penilaian yang tidak lagi redundency. Scorecard Penilaian GCG 160

42
parameter tersebut disepakati oleh Kementerian BUMN cq Staf Ahli Bidang Tata
Kelola Perusahaan dan BPKP sesuai Kesepakatan Bersama tanggal 19 Oktober 2006,
sebagai metodologi assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN yang
dilakukan oleh BPKP. Scorecard Penilaian GCG 160 parameter ditetapkan sebagai
standar penilaian GCG di lingkungan BUMN sesuai surat Sekretaris Kementerian
Negara BUMN Nomor :S-168/MBU/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang Assessment
Program GCG di BUMN, dan dengan disampaikannya surat tersebut kepada BUMN
maka surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-612/S.MBU/2005
tanggal 19 Oktober 2005 dinyatakan tidak berlaku.

II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan

Kriteria penilaian GCG di lingkungan BUMN dengan Scorecard Penilaian GCG


160 parameter disadari merupakan penilaian pada tahap pembentukan infrastruktur GCG
dan pelaksanaan internalisasi, sehingga lebih menitikberatkan pada aspek kelengkapan
infrastruktur GCG dan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Selama pelaksanaan monitoring pelaksanaan assesssment GCG tahun-tahun
sebelumnya (sejak tahun 2006), tanggapan dan masukan mengenai parameter penilaian
GCG telah diperoleh baik dari Konsultan maupun dari pihak BUMN. Tanggapan dan
masukan tersebut selanjutnya akan dibahas Tim Koordinasi dan Monitoring dan jika
diperlukan diteruskan kepada BPKP sebagai bahan kajian perbaikan parameter penilaian
GCG.
Selanjutnya perlu tahapan yang lebih tinggi yakni tahap lanjutan dalam penilaian
penerapan GCG dengan fokus pada bagaimana infrastruktur GCG yang telah dibangun
bekerja dan memberikan hasil pada peningkatan nilai perusahaan secara optimal. Pada
tahap ini perlu dibuat parameter penilaian yang berorientasi hasil (results).

II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan


II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009

a. Realisasi Penyaluran Dana Program Kemitraan

Program Kemitraan adalah program program untuk meningkatkan kemampuan


usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba
BUMN. Adapun sumber Dana Kemitraan yaitu:

43
1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen).
2) Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil, bunga deposito dan/atau jasa giro dari
dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.
3) Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Program Kemitraan selain dilaksanakan melalui penyaluran dana bergulir juga


pemberian dukungan non material kepada para mitra binaannya diantaranya yaitu:
1) Pembentukan cluster mitra binaan
2) Pemberian dukungan pelatihan dan keterampilan
3) Pemberian kesempatan untuk melakukan promosi pada event-event nasional maupun
internasional.
Program kemitraan ditujukan bagi usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih
paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) serta masih berstatus non bankable.

Realisasi penyaluran pinjaman dan hibah selama tahun 2004-2006 sebagai berikut:
(Rp Juta)
Tahun
No. Uraian
2004 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
1 Penyaluran Pinjaman 478,201.00 554,016.00 536,855.00 584,363.00 1,194,230.00 1,312,577.00
2 Hibah 60,961.00 66,596.00 40,911.00 72,731.00 105,664.00 197,095.00
Total 539,162.00 620,612.00 577,766.00 657,094.00 1,299,894.00 1,509,672.00

Grafik penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 - 2009:

Prognosa 2009

44
Sedangkan total akumulasi dana Program Kemitraan tahun 2006 sampai dengan
tahun 2009 sebagai berikut:
(Rp Juta)
No Sd 2006 Sd 2007 Sd 2008 Sd. 2009
Pinjaman 5,364,292 5,949,655 7,143,885 8,456,332
Hibah 596,854 669,585 775,249 872,344
Total 5,961,146 6,619,240 7,919,134 9,328,676

Realisasi mitra binaan dalam 5 tahun terakhir disajikan sebagai berikut:


No Uraian 2005 2006 2007 2008 Prognosa
2009
1 Unit UKM 35.534 39.087 47.346 55.194 55.012
2 Outstanding 113.691 121.984 146.101
3 Akumulasi 446.367 493.713 560.907 640.417

b. Realisasi Penyaluran Pinjaman menurut Sektor Usaha

Rata-rata Penyaluran dana Program kemitraan dari tahun 2004 sampai dengan
tahun 2009 jika ditinjau dari kelompok sektor usaha mitra binaan, sebagian besar diserap
oleh sektor perdagangan (38%) kemudian oleh sektor Industri (22%), sektor Jasa (19%),
sector Peternakan dan Perikanan (10%), sektor Perkebunan dan Pertanian (9%), dan
sektor lainnya (2%).

45
Beberapa penyebab rendahnya penyerapan sektor perkebunan, perikanan dan
peternakan antara lain :
1) Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha di sektor tersebut relatif cukup
besar;
2) Resiko usaha di sektor tersebut relatif cukup tinggi mengingat usaha sangat tergantung
pada kondisi alam;
3) Keterbatasan kemampuan pengelola PKBL dalam melakukan pembinaan sektor
tersebut.
c. Realisasi Distribusi Pinjaman Dana Program Kemitraan

Dalam mendistribusikan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan, Kementerian


BUMN menunjuk BUMN Koordinator wilayah pada tiap propinsi untuk tugas
kooordinasi pelaksanaan penyaluran dana PKBL di tiap propinsi . Alokasi dana
penyaluran ditetapkan sesuai dengan rencana kegiatan anggaran BUMN. Dalam
distribusi penyaluran dana PKBL pada 33 propinsi di Indonesia daerah Jawa Barat yang
terbesar menerima pinjaman yaitu (13,5%), Jawa Timur (13%), Jawa Tengah ( 9,2 %),
DKI Jakarta ( 8,2% ), Bali (2,5%), Sumatra utara ( 7,4%), Sumatra Barat (2,3%),
Bengkulu (0,8%), Lampung (2%), Sumatra Selatan dan Babel ( 5,1%). Untuk Kalimantan,
penerima distribusi pinjaman PKBL yang terbesar adalah Kalimantan Timur (7,3%)
Kalimantan Selatan ( 2,3%), Kalimantan Barat (1,5%) Kalimantan Tengah (0,9%). Di
Sulawesi Barat dan Selatan ( 3,7%), Sulawesi Utara 2 %, Sulawesi tengah (0,9 %) dan di
Irian Jaya & Papua ( 1,8%), Maluku ( 1,6%), NTB (1,4%) , NTT (2,1%).

DISTRIBUSI DANA PROGRAM KEMITRAAN


NAD 3,3%

Sumut 7,4%

Riau & Kepri Sulut 2,2% Maluku Utara


Kaltim 7,3% 0,3%
3,3%
Kalbar 1,5% Gorontalo 0,1%

Sumbar 2,3%
Jambi 1,2% Sulteng 0,9%
Kalteng 0,9%

Sumsel & Babel Kalsel 2,3%


Bengkulu 5,1%
0,8% Sultra 0,6% Irjabar & Papua
1,8%
Lampung Sulbar & Sulsel
2,0% 3,7 %
DKI Jakarta
8,2% Maluku 0,8%
Banten 2,6% Jateng 9,2%
Jabar 13,5%
Jatim 13,0%

DIY 2,4% NTB 1,4%


NTT 2,1%
Bali 2,5%

46
d. BUMN dengan Tingkat Jumlah Penyaluran Dana Kemitraan Terbesar

Kinerja pelaksanaan Program Kemitraan, termasuk tingkat efektivitas penyaluran


dana kemitraan, secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh kinerja penyaluran dari lima
BUMN yaitu PT Pertamina, PT Bank BRI, PT. Bank Mandiri, PT Jasa Raharja, dan PT.
Telkom. Total penyaluran dari lima BUMN tersebut mencapai 2,76 Triliun dari total
penyaluran nasional Rp.9,693 triliun. Jumlah penyaluran dari 5 BUMN Dari jumlah
dana tersedia Pertamina mempunyai kontribusi terbesar yaitu 1,19 Triliun atau sebesar
12% dari jumlah dana yang tersedia secara nasional.

II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009

a. Realisasi Penyaluran Dana Program Bina Lingkungan

Program Bina Lingkungan, adalah program pemberdayaan kondisi sosial


masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapaun
sumber dana Program Bina Lingkungan yaitu:
1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen).
2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL.

Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05.MBU/2007 ruang lingkup


program Bina lingkungan berupa :
1) Bantuan korban bencana alam.
2) Bantuan pendidikan dan pelatihan.
3) Bantuan peningkatan kesehatan.
4) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum.
5) Bantuan sarana ibadah.
6) Bantuan pelestarian alam.
Pelaksanaan penyaluran dilakukan secara langsung kepada objek penerima
bantuan, namun tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan
kondisi/pertimbangan tertentu, misalnya keterbatasan SDM, keahlian/pengetahuan,
efisiensi biaya, dan sebagainya.
Bantuan diberikan oleh BUMN berdasarkan proposal/permohonan yang
disampaikan masyarakat maupun atas inisiatif/program kerja BUMN itu sendiri. Terhadap
objek bantuan, BUMN wajib melaksanakan survey untuk memastikan kebenaran,

47
kebutuhan dan kewajaran permintaan bantuan. Mengingat dana yang terbatas, BUMN
wajib pula memperhatiakn azas pemerataan dalam penyaluran.
Penyaluran dana Bina Lingkungan per tahun serta akumulasi dana Bina
Lingkungan sampai dengan tahun 2009 disajikan sebagai berikut:

(Rp Juta)

Prognosa 2009

b. Realisasi Program Bina Lingkungan BUMN Peduli

Kementerian BUMN bersama BUMN melaksanakan program Bina Lingkungan


BUMN Peduli yang merupakan program bina lingkungan yang dilakukan secara bersama-
sama antar BUMN dan pelaksanaannya ditetapkan dan dikoordinir oleh Menteri BUMN.
Selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2009, Bina Lingkungan BUMN
Peduli telah berpartisapasi aktif dalam berbagai penanggulangan bencana alam antara
lain bencana Tsunami Aceh, gempa bumi di Padang dan Bengkulu, banjir besar Jakarta,
gempa bumi Jogjakarta, bencana Situ Gintung dan bencana gempa di Jawa Barat. Program
bantuan untuk bencana dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap tanggap darurat berupa
bantuan sembako, obat-obatan dan perawatan selama periode darurat dan tahap
rehabilitasi yang merupakan bantuan pasca bencana. Fokus Program Bina Lingkungan
BUMN peduli pada tahap rehabiitasi adalah pembangunan sarana umum dan pemulihan
ekonomi masyarakat antara lain pembangunan pasar, sekolah dan sarana ibadah,
jembatan, pusat kesehatan masyarakat desa dan penyediaan air bersih.

48
Pada tahun 2008 Disamping membangun fasilitas umum, bantuan diberikan
dalam bentuk bea siswa dan bantuan buku kepada siswa sekolah, mulai SD sampai
dengan SMA. Buku-buku yang disumbangkan kepada sekolah didaerah lokasi Gempa
berupa buku-buku referensi penunjang pelajaran dan majalah-majalah sains agar dapat
membantu meningkatkan pengetahuan umum siswa.

Dalam rangka membantu mengurangi tingkat penganguran, BUMN Peduli telah


membuat program BUMN peduli pendidikan dan pelatihan dalam bentuk memberikan
pelatihan keterampilan praktis seperti Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dibidang las,
bengkel, otomotive, garment dan keterampilan lainnya.
Bentuk pelatihan lain diberikan pula kepada guru guru SMP, MTs dan SMA
berupa pelatihan mengajar Fisika secara gampang, asik dan menyenangkan. Program ini
sangat membantu guru-guru dalam memberikan metode lain pengajaran Fisika pada
siswa, dengan demikian diharapkan fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan.
Program Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2009 berupa bantuan pendidikan
beasiswa pendidikan dan pelatihan yaitu pemberian beasiswa untuk S1, S2 dan S3 yang
direncanakan akan dikerjasamakan dengan pihak Universitas Negeri. Disamping itu
program ini juga untuk mahasiswa kurang mampu yang akan menyelesaikan program
pendidikannya. Selain program bea siswa pendidikan untuk pendidikan formal, bantuan
untuk pelatihan tetap dilaksanakan, tujuannya terutama untuk siswa putus sekolah agar
mendapat pelatihan guna mendapat pekerjaan.

49
Kinerja seluruh BUMN selama periode waktu 2005-2009 terus mengalami
pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas
masing-masing dari Rp 1.291,25 Triliun dan Rp 370,06 Triliun pada tahun 2005
menjadi Rp 2.150,03 Triliun dan Rp 566,03 Triliun pada tahun 2009. Selanjutnya
pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82,57 Triliun
dan Rp 25,77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110,78 Triliun dan Rp 72,84
Triliun pada tahun 2009. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return
on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3,15% dan 11,20%.
BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara,
yaitu berupa dividen rata-rata dividen sebesar Rp 23,04 Triliun per tahun atau
mengalami peningkatan rata-rata sekitar 25% per tahun. Disamping kontribusi
Dividen, BUMN juga menyumbangkan kontribusi pajak, yang dalam periode 2004-
2008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per
tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61,65 Triliun per tahun.
Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, maka dalam kurun waktu tahun 2005-
2009 BUMN telah menyalurkan dana Program Kemitraan sebesar Rp 8,56 Triliun
dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai
640.417 orang/unit kerja. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan
oleh BUMN selama kurun waktu 2005-2009 seluruhnya mencapai sebesar Rp 1,98
Triliun.
BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip
tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang yang
ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori
Baik.

50
BAB III
RENCANA DAN PELAKSANAAN
PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009

Selama kurun waktu tahun 2005-2009 Kementerian BUMN telah melakukan


berbagai upaya pembinaan BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai BUMN. Secara
umum dari data-data yang disajikan terlihat bahwa pertumbuhan aset BUMN
tidak/kurang agresif, dan modal perusahaan tumbuh lebih lambat serta return relatif
masih rendah karena selama ini sebagian besar kegiatan BUMN dibiayai dari dana
eksternal/hutang.
Namun demikian, disadari bahwa perlu dilakukan upaya-upaya pembinaan lebih
lanjut untuk lebih meningkatkan kinerja dan nilai BUMN tersebut. Kegiatan
restrukturisasi yang salah satu pokok utamanya adalah regrouping/konsolidasi BUMN
secara sektoral untuk memetakan kembali jumlah dan skala usaha masing-masing
BUMN/sektor tersebut, untuk mendapatkan jumlah dan skala yang lebih ideal
(rightsizing), sampai dengan akhir 2009 memang belum dapat dilakukan sepenuhnya.
Berdasarkan ketentuan yang ada, tindakan/kegiatan penataan jumlah dan skala BUMN
menuju jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing) sebagaimana telah dikemukakan
dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 yaitu tahun 2007 menjadi 102 BUMN,
tahun 2008 menjadi 87 BUMN, tahun 2009 menjadi 69 BUMN, mengharuskan adanya
kajian bersama antara Menteri BUMN dan Menteri Keuangan (Menteri Teknis jika
diperlukan). Kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap beberapa sektor menggunakan
DIPA Kementerian BUMN dan biaya perusahaan selama tahun 2005-2009 adalah
Sektor Perkebunan, Holding PT RNI, Sektor Farmasi, Sektor Konstruksi, Sektor Industri
Strategis, Sektor Pertambangan serta Sektor Dok dan Perkapalan.
Di samping itu, dalam rangka sosialisasi Master Plan BUMN Tahun 2005-2009,
telah disampaikan Master Plan tersebut kepada pihak-pihak terkait yaitu antara lain
Kantor Kementerian Perekonomian, Kementerian Keuangan, DPR (Komisi VI dan
Komisi XI) dan dalam berbagai kesempatan dan seminar juga telah disampaikan rencana
jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing), karena berdasarkan data yang
ada, 25 BUMN Besar per Desember 2008, menunjukkan lebih dari 97% dari total aset
dan laba bersih serta 92% ekuitas dan 87% penjualan seluruh BUMN. Sebenarnya
jumlah BUMN sebanyak 141 BUMN seperti sekarang ini, mungkin bukan merupakan

51
masalah sepanjang memiliki kinerja yang baik yang memberikan konstribusi yang terus
tumbuh dalam perekonomian nasional.

III.1 Rencana Program Tahun 2005 - 2009

III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009

Pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing)


merupakan inti dari program restrukturisasi sektoral tahun 2005-2009.
Strategi rightsizing tersebut telah digariskan oleh Kementerian BUMN
untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh dalam
rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal. Secara garis
besar, program rightsizing tersebut tetap berpegang pada asas-asas yang
telah disepakati dalam konstitusi yaitu Pasal 33 Undang-undang Dasar
1945, terutama mengenai keberadaan BUMN.

Selanjutnya, tata cara dan model penataan perlu dikaji secara


obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan
perekonomian nasional. Beberapa opsi untuk rightsizing tersebut secara
garis besar dapat digambarkan sebagai berikut Stand Alone,
Merger/Konsolidasi, Holding, Divestasi, dan Likuidasi

Rencana program rightsizing tahun 2005-2009 atas masing-masing


opsi dapat disampaikan sebagai berikut :

a. Stand Alone

Kebijakan stand alone (BUMN tetap seperti sediakala) diterapkan


untuk mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN tertentu utamanya
yang memiliki salah satu kriteria sebagai berikut:

1) Market share cukup signifikan dan mengandung unsur keamanan;

2) Single player atau masuk sebagai pemain utama;

3) Belum memiliki potensi untuk dimerger ataupun holding;

4) Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan


umumnya captive market.

52
Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009, terdapat 35 BUMN
yang masuk kriteria stand alone (Lampiran 7.1.a)

b. Merger/Konsolidasi

Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif


bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar
yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Secara garis besar
kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger atau konsolidasi
adalah sebagai berikut:
1) Jenis usaha dan segmen pasar sama;
2) Kompetisi tinggi;
3) Mayoritas saham dimiliki Pemerintah;
4) Kinerja tergolong kurang baik;
5) Going Concern diragukan, namun masih memiliki potensi untuk
digabung dengan BUMN lain.
Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 11 Sektor BUMN
(27 BUMN) yang dilakukan merger/konsolidasi (Lampiran 7.1.b).

c. Holding

Pembentukan holding menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN


yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun
sasaran pasar yang berbeda, tingkat kompetisi yang tinggi, prospek bisnis
yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. Beberapa
kriteria utama BUMN-BUMN yang akan di-holding adalah sebagai
berikut:
1) Sektor usaha sama;
2) Jenis usaha dan segmen pasar berlainan;
3) Kompetisi tinggi;
4) Masih ada prospek/ bisnis prospektif;
5) Pemerintah merupakan pemilik mayoritas.
Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 8 Sektor BUMN
(48 BUMN) yang dilakukan holding (Lampiran 7.1.c).

53
d. Divestasi

Kebijakan ini diutamakan bagi investor dalam negeri atau melalui


proses akuisisi dan/atau merger/konsolidasi oleh BUMN lain. Alternatif
ini dilakukan sesuai dengan kriteria dalam Undang-undang Nomor 19
tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005. Disamping
itu terdapat kriteria tambahan yaitu:
1) Berbentuk Persero;
2) Berada pada sektor usaha atau industri yang kompetitif atau unsur
teknologinya cepat berubah;
3) Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus
dikelola oleh BUMN;
4) Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan;
5) Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan
peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi;
6) Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan
tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan
dengan kepentingan masyarakat;
7) Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila privatisasi
dilakukan melalui pasar modal.
Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 27 BUMN yang
masuk kriteria divestasi (Lampiran 7.1.d).

e. Likuidasi

Kebijakan likuidasi dilakukan untuk BUMN-BUMN yang tidak


memiliki kewajiban PSO, berada dalam sektor yang kompetitif, skala
usaha kecil, mengalami kerugian selama beberapa tahun dan mempunyai
ekuitas yang negatif. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian
BUMN lebih lanjut. Beberapa BUMN yang termasuk dalam kategori ini
antara lain BUMN Sektor Angkutan Darat dan Aneka Industri.

54
III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang


BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Privatisasi, jo Peraturan Pemerintah 59 Tahun 2010, maka prosedur
privatisasi meliputi : Penyusunan Program Tahunan Privatisasi (PTP),
Pembahasan PTP untuk mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan
Rekomendasi Menteri Keuangan, Konsultasi dengan DPR untuk
mendapatkan persetujuan, Sosialisasi PTP serta Pelaksanaan PTP.

Sepanjang tahun 2007 – 2011 telah dimasukkan program privatisasi.


Untuk tahun 2007 sebanyak 24 BUMN, tahun 2008 sebanyak 15 BUMN,
dan 2009-2011 sebanyak 11 BUMN (Lampiran 7.2).

Pemilihan-pemilihan BUMN tersebut untuk diprivatisasi sesuai


dengan ketentuan/peraturan yang ada meliputi antara lain, industri
kompetitif atau kepemilikan negara minoritas. Di samping itu, sesuai
kebijakan yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir, maka hasil privatisasi
diutamakan untuk kepentingan dan pengembangan BUMN.

III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation -


PSO) Tahun 2005 - 2009

Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation - PSO)


adalah kewajiban dunia usaha termasuk BUMN untuk melaksanakan
penyediaan fasilitas pelayanan umum berdasarkan penugasan dari
Pemerintah (Kementerian/Lembaga). Penyediaan fasilitas pelayanan umum
oleh Pemerintah adalah merupakan amanat dari pasal 34 ayat (3) Undang-
Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Pemerintah bertanggung
jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Sesuai dengan pasal 66 UU nomor 19/2003 tentang BUMN,
Pemerintah dapat menugaskan penyediaan fasilitas pelayanan umum
tersebut kepada BUMN dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan
kegiatan BUMN yaitu sebagai unit usaha yang ditugaskan untuk memupuk
keuntungan dan menyetor bagian keuntungan (deviden) kepada Negara,

55
dalam arti apabila penugasan (yang wujudnya berupa penyediaan barang
dan jasa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat) tersebut menurut
kajian tidak fisibel, maka Pemerintah harus memberikan kompensasi atas
semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN termasuk margin yang
diharapkan.
Dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 dan UU No. 19/2003
tersebut diatas, Kementerian BUMN telah menetapkan arah Kebijakan
Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation - PSO),
yaitu:
- Mewujudkan kesamaan persepsi stakeholder (Eksekutif, legislatif,
yudikatif dan BUMN) terkait dengan pengertian, prinsip, substansi dan
peran strategis program PSO.

- Mewujudkan sistem dan prosedur baku yang bersifat teknis operasional


dalam pelaksanaan PSO.

- Mengupayakan penurunan peran PSO secara selektif dalam pengaturan


ekonomi berdasarkan perkembangan kondisi sosial ekonomi
masyarakat dan kebijakan Pemerintah.

- Menerapkan analisa ” risk management ” dalam pelaksanaan PSO.

Penjabaran atas arah kebijakan tersebut diatas dituangkan dalam bentuk


Program Kerja Utama sebagai berikut:
- Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya PSO-BUMN tahun
yang akan datang, yang dilaksanakan setiap tahun.

- Evaluasi atas Laporan pelaksanaan PSO-BUMN tahun lalu, yang


dilaksanakan setiap tahun.

- Monitoring (on the spot) Pelaksanaan PSO-BUMN tahun yang lalu,


yang dilaksanakan setiap tahun.

- Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka


Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard
Operating Procedure/SOP) Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum
oleh BUMN.

- Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Negara BUMN tentang


Model Pemisahan Administrasi Pembukuan Kegiatan Kewajiban
Pelayanan Umum dari Kegiatan Komersial di BUMN.

56
III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009

Aset BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang sudah


dipisahkan dan disertakan pada BUMN untuk dikelola dan dimanfaatkan
secara optimal oleh Direksi BUMN dalam rangka menghasilkan barang
dan/atau jasa sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian masing-masing
BUMN. Sampai dengan saat ini, kegiatan pengelolaan aset dimaksud telah
dilakukan oleh Direksi BUMN yang meliputi :

- penggunaan aset-aset produktif sebagai prasarana/sarana produksi; dan

- optimalisasi aset-aset tidak produktif melalui “pola kerjasama” dengan


pihak ketiga terhadap aset-aset yang idle/underutilized untuk
menciptakan nilai tambah dan “pola penghapusbukuan” terhadap aset-
aset yang secara ekonomis tidak menguntungkan untuk tetap
dipertahankan.
Namun demikian, dalam kenyataannya masih terdapat aset-aset
BUMN yang idle/belum termanfaatkan secara optimal. Beberapa
permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi aset BUMN tersebut
antara lain :

- Belum adanya ketentuan dan prosedur baku mengenai optimalisasi aset


BUMN (baik pendayagunaan maupun pemindahtanganan) yang dapat
digunakan sebagai dasar konsep bagi Direksi BUMN dan dasar
penetapan kebijakan oleh Kementerian BUMN (selaku Pemegang
Saham) yang dapat diaplikasikan dan sesuai ketentuan/peraturan umum
terkait yang berlaku saat ini.
- Sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi aset-aset BUMN masih
belum banyak dilakukan. Hal ini terkait keterbatasan informasi dan
koordinasi antar masing-masing BUMN.
- Terdapat beberapa peraturan dan kebijakan sektoral yang diterbitkan
oleh instansi/lembaga/pemerintah daerah yang cenderung menyebabkan
upaya optimalisasi aset oleh BUMN menjadi tidak mudah untuk
dilakukan.
Dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan yang kemungkinan
timbul dalam pengelolaan asset, pada tahun 2006 Kementerian BUMN
membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset,
sebagai kelengkapan unit yang menangani penghapusbukuan/pelepasan
asset BUMN. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung
kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah
pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi

57
BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber
daya dan pengelolaan resiko. Dalam pelaksanaan pengelolaan asset
BUMN, setelah dibentuknya unit organisasi yang menangani
Pendayagunaan Aset pada tahun 2006, telah disusun rencana pelaksanaan
pengelolaan aset sebagai berikut :

Rencana Kegiatan / Tahun 2007 2008 2009 Keterangan


1. Menyusun Kajiaan SOP konsultan - - selesai 2007
2. Menyusun Ketentuan Baku - internal internal belum realisasi
3. Menyusun Surat Edaran - internal - selesai 2009
4. Pemetaan Aset Idle - - internal belum realisasi
5. Penelitian Manfaat PA - - internal belum realisasi
6. Monitoring Berkala internal internal internal terealisasi

III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009

Sebagai acuan arah pengembangan teknologi informasi, telah


disusun master plan teknologi informasi Kementerian BUMN tahun 2006-
2009 yang berisi road map dan action plan per tahun berkaitan dengan tata
kelola teknologi informasi yaitu perencanaan, pengembangan,
pengoperasian, pemeliharaan, dan evaluasi/pengedalian. Tata kelola
teknologi informasi mencakup SDM/organisasi, tata laksana/proses, dan
teknologi, sehingga dalam master plan dimuat rencana tiga tahun ke depan
untuk infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi, aplikasi,
kebijakan teknologi informasi, dan pengembangan SDM teknologi
informasi. Sedangkan untuk untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi
yang lengkap, cepat, dan relevan dilakukan pengumpulan, pengolahan, dan
penyajian, serta pendokumentasian laporan BUMN. Laporan BUMN
dikumpulkan dalam bentuk hardcopy, digital dokumen, dan e-reporting
(rincian program terlampir pada Lampiran 10).

58
III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009

III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009

a. Restrukturisasi Sektoral dalam rangka perampingan BUMN untuk


mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing).
Rencana Rightsizing 139 BUMN menjadi 102 BUMN pada
tahun 2007, 87 BUMN pada tahun 2008 dan 69 BUMN tahun 2009
(sebagaimana lampiran) secara umum belum dapat dilaksanakan
termasuk pergeseran jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal
(righsizing), sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus
program ekonomi tahun 2008-2009 karena beberapa hal antara lain,
belum seluruh BUMN dilakukan kajian dan masih diperlukan
koordinasi beberapa instansi terkait.

1). Stand Alone

Terhadap 35 BUMN besar dalam Master Plan BUMN


Tahun 2005-2009 dalam pelaksanaannya menjadi 34 BUMN.
Adapun PT Bank Ekspor Indonesia yang semula berada dalam
BUMN dengan kriteris Stand Alone, sesuai dengan Undang-undang
Nomor 2 Tahun 2009 telah menjadi Lembaga Ekspor Indonesia
yang pembinaan dan pengawasan di bawah Menteri Keuangan.

2). Merger/Konsolidasi

Terhadap 11 sektor BUMN yang direncanakan akan dimerger/


konsolidasi dalam Master Plan Tahun 2005-2009, telah dilakukan
kajian beberapa sektor BUMN sebagai berikut:

No Sektor Kegiatan
1). BUMN Farmasi Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi
dengan PT Mandiri Sekuritas pada tahun
2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis,
rekomendasi : Konsolidasi usaha melalui
peleburan KAEF dan INAF adalah lebih
baik dibandingkan dengan struktur
konsolidasi usaha lainnya.
2). BUMN Dok dan Perkapalan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi
dengan PT Sucofindo Appraisal Utama
pada tahun 2008 dengan rekomendasi :
Holding BUMN Dok dan Perkapalan
dengan terlebih dahulu dilakukan
restrukturisasi internal

59
No Sektor Kegiatan
3). Kehutanan : Sudah dilakukan kajian oleh E&Y pada th
Inhutani I-V & Perhutani 2003, namun masih diperlukan kajian lebih
lanjut.
Untuk sektor perdagangan, pertanian, kehutanan telah
dilakukan kajian awal oleh konsultan independen, namun konsultan
independen mengundurkan diri. Sedangkan 5 sektor lainnya belum
dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat
dimasukkannya dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN
dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran
DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan
yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada
konsultan yang memenuhi kriteria dan adanya keterbatasan waktu
untuk diulang kembali.

3). Holding

Untuk BUMN-BUMN/ sektor yang direncanakan akan


dilakukan/dimasukkan dalam kegiatan holding telah dilakukan kajian
sebagai berikut :

No Sektor Kegiatan
1). BUMN Perbankan dan Jasa Telah dilakukan kajian awal pembentukan
Keuangan holding Perbankan dan Jasa Keuangan
bersama deputi Teknis, dimana hal tersebut
juga dalam rangka menindaklanjuti PBI
Nomor 8/16/2006 tentang Kepemilikan
Tunggal pada Perbankan Indonesia

2). Perkebunan : Telah dilakukan kajian restrukturisasi


PT PN I-XIV & RNI BUMN Perkebunan oleh Konsultan
Independen PT Danareksa Sekuritas & PT
Bahana Securities tahun 2005 dengan
rekomendasi pembentukan satu holding
(satu perusahaan induk)

3). Kontruksi: Konsultan PT Primus Sarana Artha


Adhi, WIKA, Waskita, PP, Consultan
HK, Nindya, Istaka, Hasil kajian : 9 BUMN konstruksi menjadi
Brantas, Amarta 4-5, 5 BUMN konsultan divestasi.
Rapat forum BUMN karya, 9 BUMN
konstruksi jadi 6 BUMN, 5 BUMN
konsultan masuk ke BUMN konstruksi.

4). Pertambangan : Telah dilakukan kajian oleh Citigroup,


PT BA, ANTAM & Konsultan Hukum & Perpajakan yang
TIMAH ditunjuk oleh BUMN Pertambangan dan
dikoordinir oleh Deputi PISET.

60
No Sektor Kegiatan
5). BUMN Industri Strategis Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi
dengan KAP Aryanto Amir Jusuf & Mawar
tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi
Teknis, rekomendasi : revitalisasi bagi PT
KS (revitalisasi, divestasi perusahaan anak
& privatisasi), PT PAL, PT INKA dan PT
Barata Indonesia. Sedangkan untuk PT BBI
direkomendasikan untuk likuidasi atau
alternatif lain adalah pembentukan Strategic
Holding Company (SHC).

Untuk sektor kawasan, sektor kebandarudaraan dan sektor


pelabuhan belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena
belum dapat dimasukkan dalam rencana anggaran DIPA Kementerian
BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam
anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses
pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN
tidak ada konsultan yang memenuhi. Sedangkan untuk sektor
pelayaran telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen,
namun konsultan independen mengundurkan diri karena tidak dapat
menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang ditentukan.

Khusus mengenai holding, maka telah pula dilakukan kajian


mengenai pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif
pendekatan seperti dikemukakan dibawah ini. Namun demikian,
pendekatan yang digunakan dalam pendekatan holding pada akhirnya
bukanlah pembentukan super holding melainkan pembentukan
holding secara sektoral. Sebagai gambaran tentang rencana
pembentukan super holding dapat disampaikan sebagai berikut:

Alternatif I :
Top Down/ Secara Sekaligus
- Super Holding dibentuk melalui pendirian Satu Perusahaan Induk
(PT BUMN Holding) yang penyertaannya berasal dari inbreng
penyertaan Negara RI pada 141 BUMN.

- Selanjutnya manajemen PT BUMN Holding melakukan langkah-


langkah konsolidasi internal (merger, akuisisi, holding sektoral,
likuidasi dll)

61
Alternatif II:
Bottom Up/ Secara Sektoral (Approach yang dijalankan bertahap
selama ini)
- Pembentukan Super Holding dilakukan secara bertahap melalui
pembentukan Holding-Holding sektoral misal Holding
Perkebunan, Holding Pertambangan, Holding Farmasi, Holding
Karya dll.

- Setelah Holding Sektoral terbentuk, maka dilanjutkan dengan


pembentukan Super Holding BUMN(PT BUMN Holding).

Alternatif III :
Fokus BUMN2 Besar dan Sektoral Yang Sudah Selesai

- Kombinasi holding sektoral yang relatif sudah selesai


(perkebunan, pertambangan, farmasi, dll) dan BUMN2 besar

Dalam kajian tersebut, fungsi-fungsi yang ditangani “Super Holding”


antara lain:

- Perencanaan Korporasi, Investasi dan Pengembangan

 Merencanakan, mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis


tentang investasi/pengembangan serta strategic procurement
pada sub2 Holding.

 Mengkoordinasikan program investasi dan pengembangan


serta strategic procurement sub2 Holding.

 Mengevaluasi pelaksanaan investasi dan pengembangan dan


strategic procurement pada sub2 Holding.

- Keuangan

 Merencanakan, mengkaji dan menyusun kebijakan-kebijakan


yang menyangkut masalah2 keuangan dan pendanaan untuk
investasi/pengembangan dan strategic procurement.

 Mengkoordinasikan penyusunan sistem perencanaan dan


pengelolaan keuangan serta sistem akuntansi keuangan.

 Mengevaluasi pelaksanaan sistem perencanaan dan


pengelolaan keuangan pada sub2 holding.

62
- Teknologi Informasi dan Komunikasi

 Merencanakan, mengkaji dan menyusun kebijakan sistem


informasi dan komunikasi Super holding.

 Merencanakan, mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis


terkait SDM.

 Mengkoordinasikan sitem administrasi dan analisa seluruh


informasi serta sistem perencanan dan pengembangan SDM
pad sub2 holding

 Mengevaluasi kebijakan-kebijakan sistem dan teknologi


informasi pad sub2 holding.

4). Divestasi

Dari rencana divestasi sebanyak 27 BUMN sesuai Master Plan


BUMN Tahun 2005-2009, belum dapat dilaksanakan seluruhnya.
Namun pelaksanaan divestasi hanya dapat dilakukan terhadap 2
BUMN yaitu divestasi 5,31% saham PT PGN pada tahun 2006 yang
merupakan divestasi lanjutan IPO tahun 2003 yang telah mendapat
persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintahnya, serta 11,3%
saham PT BNI pada tahun 2007 yang masuk dalam Program Tahunan
Privatisasi Tahun 2007.

Rencana divestasi terhadap 27 BUMN tersebut tidak terlaksana


karena beberapa hal sebagai berikut:

No BUMN Keterangan
1). PT Garuda Indonesia semula direncanakan divestasi melalui
strategic sale, namun dalam perjalanannya
berubah menjadi privatisasi melalui IPO
melalui penerbitan saham baru dan telah
mendapat persetujuan DPR tahun 2009
2). PT Merpati Nusantara Dilakukan restrukturisasi / penyehatan oleh
Airlines (MNA) PT PPA pada tahun 2007 karena kondisi
keuangan yang buruk
3). PT Asuransi Jiwasraya, PT Telah masuk dalam Program Tahunan
Asuransi Jasa Indonesia, PT Privatisasi Tahun 2008, namun belum
Semen Baturaja, PT Industri mendapatkan persetujuan DPR.
Sandang Nusantara, PT
Sucofindo, PT Suveyor
Khusus untuk PT Pengerukan Indonesia
Indonesia, PT Sarana Karya,
berubah dari rencana semula privatisasi
PT Pengerukan Indonesia,
menjadi pengalihan saham secara inbreng
PT Yodya Karya, PT
kepada PT Pelindo I-IV
Virama Karya, PT Indra
Karya, PT Indah Karya, PT

63
No BUMN Keterangan
Bina Karya.

4). PT Permodalan Nasional Telah diusulkan dalam Program Tahunan


Madani (PNM) dan PT Privatisasi tahun 2007, namun tidak
Cambrics Primissima mendapatkan Arahan Komite Privatisasi
dan Rekomendasi Menteri Keuangan.
5). PT Danareksa, PT PANN Belum diusulkan masuk dalam PTP
Multi Finance, PT Asuransi
Ekspor Indonesia, PT
Reasuransi Umum
Indonesia, Perum Damri, PT
Boma Bisma Indra, PT
Konversi Energi Abadi (PT
EMI)
6). PT Garam Direncanakan akan masuk dalam Program
Tahunan Privatisasi tahun 2012

7). PT Industri Soda Indonesia Direncanakan untuk didivestasi sesuai


Master Plan BUMN Tahun 2005-2009,
telah dilakukan likuidasi (dibubarkan)
berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal
9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah
Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi
keuangan perusahaan yang sangat buruk
8). PT Industri Gelas Diputuskan direstrukturisasi untuk
kelangsungan usaha mengingat kondisi
keuangan yang memprihatinkan.
Restrukturisasi oleh PT PPA

5). Likuidasi

PT Industri Soda Indonesia (ISI) yang semula direncanakan


untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009, telah
dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada
tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun
2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk dan
tidak ada prospek usaha. Dan saat ini sedang dilakukan penjualan
aset melalui lelang.

b. Restrukturisasi Korporasi

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang


BUMN, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka
penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk

64
memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja
dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi yang telah
dilakukan selama tahun 2005-2009 sebagai berikut:

1). PT Garuda Indonesia (Persero)

Restrukturisasi PT Garuda Indonesia yang dikoordinasikan oleh


Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. Restrukturisasi
yang telah dan sedang dilakukan adalah restrukturisasi hutang,
organisasi dan SDM serta armada. Dalam melakukan restrukturisasi
tersebut PT Garuda Indonesia telah mendapatkan suntikan dana
PMN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 500
miliar (total Rp 1 triliun).

Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut pada tahun 2007


dan 2008 PT Garuda Indonesia direncanakan akan diprivatisasi,
mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri
Keuangan serta telah mendapatkan persetujuan DPR RI.

2). PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

Restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines yang


dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk
tim. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Merpati
Nusantara Airlines telah mendapatkan suntikan dana PMN, yaitu
Tahun 2006 sebesar Rp 75 miliar dan 2007 sebesar Rp 450 miliar
untuk restrukturisasi hutang, restrukturisasi pegawai/lay off,
revitalisasi armada, dan modal kerja. Serta tahun 2008 kwartal IV,
menerima dana restrukturisasi sebesar RP 300 miliar melalui PT
PPA yang digunakan untuk restrukturisasi SDM, armada, relokasi
operasi dan penambahan modal kerja.

3). PT Bahtera Adhiguna (Persero)

Menyiapkan PT Bahtera Adhiguna (BAG) dalam Program Tahunan


Privatisasi (PTP) 2008. Sudah dibahas dalam Panja Komisi VI dan
Komisi XI DPR RI, namun belum memperoleh persetujuan
Pimpinan DPR. Karena Kondisi BAG yang memprihatinkan, sesuai

65
pembahasan dengan Meneg BUMN, maka bersama Kedeputian
Teknis dan Sekretaris Kementerian sedang disiapkan usulan inbreng
BAG kepada PLN (semula direncanakan BAG diakuisisi PTBA).

4). PT Pengerukan Indonesia (Persero)

Menyiapkan Rukindo dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP)


Tahun 2008. Seperti halnya dengan BAG, karena PT Pengerukan
Indonesia belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR untuk
diakuisisi oleh Pelindo I – IV yang selama ini membiayai
restrukturisasi Rukindo, maka Rukindo juga sedang disiapkan untuk
diinbrengkan kepada Pelindo I – IV.

5). Perum Pegadaian

Saat ini sudah dilakukan kajian untuk proses pemerseroan Perum


Pegadaian.

6). Restrukturisasi Korporasi yang Ditangani oleh PT PPA

Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008


tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset ,
maka tugas restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN menjadi tugas
PT PPA (matriks penanganan restrukturisasi oleh PT PPA sesuai
Lampiran 8), sedangkan unit Deputi Bidang Restrukturisasi dan
Privatisasi hanya mengikuti perkembangan pelaksanaan restrukturisasi
dan/atau revitalisasi BUMN tersebut dalam pembahasan-pembahasan
dengan PT PPA dan Unit Teknis bersama Menteri BUMN, yaitu
restrukturisasi BUMN sebagai berikut :

- PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

- PT Waskita Karya (Persero)


- PT Berdikari (Persero)
- PT Djakarta Lloyd (Persero)
- PT Hotel Indonesia Natour (Persero)
- PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero)

66
- Perum Pengangkutan Djakarta
- Perum Produksi Film Negara
- PT Balai Pustaka (Persero)
- PT PAL Indonesia (Persero)
- PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)
- PT Industri Gelas (Persero)
- PT Industri Sandang Nusantara (Persero)
- PT Kertas Kraft Aceh (Persero)
- PT PLN (Persero)
- PT Industri Kapal Indonesia (Persero)
- PT Cambrics Primissima (Persero)
- PT Semen Kupang (Persero)

III.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 - 2009

Selama kurun waktu 2005 - 2009 telah dilakukan langkah-langkah


sebagai berikut:
a. Persiapan Privatisasi
- Melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan
dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN),
PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007)
dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008)
Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru
terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden
RI Nomor 18 Tahun 2006.
- Menyampaikan Usulan PTP kepada Komite Privatisasi untuk
mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk
mendapatkan rekomendasi;
- Melakukan pembahasan dengan Tim Pelaksana Komite Privatisasi;
- Mendampingi Menteri BUMN melakukan pembahasan PTP dalam
rapat Komite Privatisasi;
- Berkoordinasi dengan BUMN dalam rangka melakukan konsultasi
dengan DPR RI (Komisi VI dan Komisi XI);
- Seleksi lembaga/profesi penunjang untuk privatisasi PT Wijaya Karya
Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT BNI Tbk, 6 BUMN minoritas, PT BTN,
PT Pembangunan Perumahan, PT Krakatau Steel (pelaksanaannya
direncanakan tahun 2010), PTPN III (ditunda pelaksanaannya), PTPN
IV (ditunda pelaksanaannya), PTPN VII (ditunda pelaksanaannya)
dan PT Rekayasa Industri/minoritas (ditunda pelaksanaannya).

67
b. Pelaksanaan privatisasi
- Koordinasi dengan underwriter/Penasehat Keuangan melakukan due
diligence
- Pembahasan dan penandatanganan perjanjian-perjanjian/kontrak
dengan lembaga/profesi penunjang
- Usulan dan Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP)
dengan instansi terkait
- Pembahasan atas hasil due diligence dan hasil valuasi saham
- Pembahasan prospektus
- Usulan penetapan pricing, sizing atas saham yang akan dilepas oleh
Menteri BUMN.
- Pelaksanaan penjualan saham
- Laporan Penyetoran hasil penjualan saham
- Penetapan biaya dan hasil privatisasi
c. Hasil Privatisasi

Hasil privatisasi selama pelaksanaan Master Plan Tahun 2005 –


2009 adalah sebagai berikut:

PERUSAHAAN % TARGET HASIL PRIVATISASI % SISA


PERSEROAN/ SAHAM METODE APBN/ SAHAM
BUMN DIJUAL APBN-P APBN PERUSAHAAN NEGARA RI
TAHUN 2005 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 1 T)
TAHUN 2006

PT PGN Tbk 5,31 Placement Rp 3,195 T Rp. 2.088 miliar - 55,33

TAHUN 2007

11,3 Rp. 3.086 miliar -


PT BNI Tbk. SPO 76,36
15 - Rp. 3.854 miliar

PT Jasa Marga 30 IPO Rp 4,7 T - Rp. 3.362 miliar 70

PT Wijaya Karya 31,7 IPO - Rp. 759,58 miliar 68,3

Total Tahun 2007 Rp 3.086 mliar Rp 7.975,58 miliar


TAHUN 2008 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 0,5 T)
TAHUN 2009
PT BTN 27,08 IPO - - Rp 1.888,05 miliar 72,92%

TOTAL HASIL PRIVATISASI 2005 - 2009 Rp 5.174 miliar Rp 9.863,63 miliar

Tahun 2005 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena tidak ada PTP
(Komite Privatisasi baru terbentuk tanggal 13 Oktober 2006). Dan pada
tahun 2006 juga tidak ada PTP, namun pelaksanaan privatisasi PT PGN

68
Tbk merupakan privatisasi lanjutan yang sudah mendapat persetujuan
DPR dan telah ada Peraturan Pemerintah.

Pada tahun 2008 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena kondisi


perekonomian dan pasar modal tidak mendukung, sedangkan pelaksanaan
privatisasi terhadap 6 BUMN Minoritas sampai saat ini masih dalam
proses karena PP tentang privatisasi 6 BUMN minoritas tersebut baru
terbit pada tanggal 31 Desember 2008.

Tahun 2009 dilaksanakan privatisasi terhadap PT Bank Tabungan Negara


(Persero).

d. Perkembangan dan Penyelesaian pelaksanaan privatisasi Yang


Masih Berlanjut
Hal-hal yang sedang ditindaklanjuti terkait dengan rencana pelaksanaan
privatisasi adalah :

1). Menindaklanjuti proses pelaksanaan privatisasi 5 BUMN minoritas


yang telah mendapatkan ada Peraturan Pemerintahnya.
2). Melakukan persiapan pelaksanaan privatisasi PT Garuda Indonesia
dan PT Krakatau Steel yang telah mendapatkan persetujuan DPR dan
rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009.
3). Mengusulkan kembali rencana privatisasi beberapa BUMN kepada
Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
selaku Ketua Komite Privatisasi.
4). Melakukan langkah-langkah persiapan privatisasi terhadap BUMN-
BUMN yang disulkan tersebut.

e. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan privatisasi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi


kendala/tantangan dalam pelaksanaa privatisasi adalah :

1). Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan Komite


Privatisasi, rekomendasi Menteri Keuangan dan persetujuan DPR
memerlukan waktu yang relatif lama sehingga terkadang sering
kehilangan momentum.
2). Perlunya sosialisasi program privatisasi secara menyeluruh kepada
seluruh stakeholders untuk menyamakan persepsi sehingga
pelaksanaan privatisasi tidak terhambat.
3). Pelaksanaan privatisasi dalam rangka restrukturisasi terhadap BUMN
yang kondisinya sudah mengkhawatirkan (penyelamatan) sulit
dilakukan karena tidak ada/terbatasnya investor yang berminat.

69
4). Beberapa ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan privatisasi masih perlu disinkronisasikan kembali.

III.2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009

Terkait dengan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public


Service Obligation - PSO), Kementerian BUMN telah melakukan berbagai
kegiatan sebagai berikut:

a. Sosialisasi Pelaksanaan PSO, antara lain melalui:


- Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tentang PSO pada tanggal 3-4
Agustus 2006 di Bali, yang dihadiri oleh para pimpinan Komisi IV, V dan
VI DPR-RI, para pejabat dari (Kementerian/Lembaga) K/L pemberi tugas
PSO, para Direksi BUMN pelaksana PSO, para pejabat Departemen
Keuangan, dan Kementerian BUMN, dengan menampilkan para pakar
dan pejabat K/L sebagai pembicara.

- Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan PSO, pada tanggal 12 Mei 2009 di


Bogor, yang dihadiri oleh para pejabat eselon II K/L pemberi tugas, BPK,
Departemen Keuangan, dan Kementerian BUMN serta para Direktur
Keuangan BUMN pelaksana PSO, dimana dari Rakor tersebut telah
diperoleh berbagai masukan dan kesamaan pandangan mengenai prinsip
pelaksanaan PSO. Kesamaan pandangan tersebut merupakan bahan
masukan yang sangat berharga dalam penyusunan konsep Peraturan
Presiden tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur
Operasional Baku (Standard Operating Procedure - SOP) Pelaksanaan
PSO. Keberadaan ketentuan tersebut sangat diperlukan untuk
menghindari timbulnya multi tafsir terhadap pelaksanaan PSO baik dari
sisi K/L pemberi tugas (regulator), penerima tugas (operator), maupun
pemeriksa (auditor).

b. Pengkajian pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial


BUMN, dimana dari kajian tersebut telah diperoleh model pemisahan
pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN.
c. Penyusunan draft Peraturan Menteri BUMN tentang Pemisahan Pembukuan
Kegiatan PSO dari Kegiatan Komersial BUMN.
d. Finalisasi draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand
Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure -
SOP) Pelaksanaan PSO
e. Pembentukan Tim Kecil guna menyelesaikan proses finalisasi Kerangka
Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating
Procedure - SOP) Pelaksanaan PSO dengan melibatkan wakil dari
Kementerian Keuangan.

70
f. Penyampaian draft Perpres tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan
Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure - SOP)
Pelaksanaan PSO dan pembahasannya dengan Sekretariat Kabinet.
Adapun Data Perkembangan Dana PSO selama 4 tahun terakhir dapat dijelaskan
pada Lampiran 9

III.2.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009


a. Pendayagunaan Aset BUMN
Pendayagunaan aset BUMN dimaksudkan untuk menciptakan nilai
tambah atas idle/underutilized sehingga dapat memberikan tambahan
kontribusi kepada BUMN. Manfaat dari pelaksanaan pendayagunaan aset
selain dapat menghasilkan tambahan pendapatan, BUMN akan menikmati
pula hal-hal sebagai berikut :
- Penghematan beban atas aktiva yang semula idle (beban PBB dan biaya
perawatan);
- Pendapatan ikutan kegiatan utama BUMN akibat bertambahnya volume
dengan adanya kerja sama pemanfaatan aktiva;
- Terbebasnya BUMN dari resiko okupasi aset akibat terlantarkan;
- BUMN dapat pula memperoleh akses dana/modal serta akses pasar
melalui mitra kerjasama dalam pendayagunaan aset.

Tabel : Perkembangan Pendayagunaan Aset BUMN


Periode tahun 2005 - 2009

Keterangan/Tahun 2006 2007 2008 2009


Persetujuan Pendayagunaan Aset 0 45 Surat 15 Surat 18 Surat
BUMN Memperoleh Persetujuan 0 17 BUMN 12 BUMN 12 BUMN
Kajian (NDB) Pendayagunaan 0 48 Nota 25 Nota 32 Nota

Catatan : Unit Pelaksana Pendayagunaan Aset baru dibentuk akhir tahun 2006 dan
secara efektif melakukan kegiatan pada tahun 2007.

b. Penghapusbukuan dan/atau Pemindahtanganan Aset (Aktiva Tetap)


BUMN

Kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan kekayaan BUMN


lebih diarahkan pada optimalisasi/pemanfaatan aktiva tetap yang dimiliki
BUMN terutama untuk aktiva tetap berupa tanah dan bangunan.
Penghapusbukuan dan pelepasan asset yang dimiliki BUMN hanya dilakukan
jika berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis tidak menguntungkan
bagi BUMN.

71
Penetapan persetujuan Menteri BUMN atas usulan penghapusbukuan
dan pemindahtanganan aktiva tetap BUMN dilakukan secara prudent dengan
mempertimbangkan aspek legal, operasional dan dampak keputusan terhadap
kebijakan umum Kementerian BUMN dalam penghapusbukuan aktiva tetap
BUMN. Permohonan ijin atas penghapusbukuan harus disertai dengan
menyampaikan Pakta Integritas dari Direksi yang bersangkutan.

Tabel : Perkembangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN


Periode tahun 2005 - 2009

Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Surat penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN 144 52 23 69 66 58


Jenis Aktiva Tetap :
- Tanah dan Bangunan 95 36 13 35 39 35
- Lainnya 49 16 10 34 27 23
Pola Pemindahtanganan :
- Kepada Pemda utk proyek pembangunan 8 5 1 3 10 8
- Kepada Pemda/Instansi (jual beli) 17 6 3 5 6 13
- Lelang/Hapus Administrasi 119 41 19 61 50 37

c. Penyediaan Sistem Informasi Aset BUMN

Dalam rangka mewujudkan wadah inventarisasi data dan informasi asset


BUMN berbasis Teknologi Informasi, Kementerian BUMN pada tahun 2008
telah membangun aplikasi portal asset Kementerian BUMN dan telah mulai
melakukan sosialisasi kepada 15 BUMN pada tahun 2009.
Untuk mendukung persiapan implementasi Portal Aset Kementerian
BUMN tersebut, telah dilakukan langkah awal sejak tahun 2007 dengan
memerintahkan kepada Direksi BUMN untuk melakukan inventarisasi dan
pemetaan aktiva tetap yang dimiliki masing-masing perusahaan.

72
III.2.5 Pelaksanaan Penyediaan Data, Informasi serta Teknologi Informasi
2005 - 2009

a. Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi

Dalam kurun waktu tahun 2004-2009 pengembangan sistem informasi


dan teknologi informasi yang telah dicapai adalah :
- Tersedianya draft masterplan teknologi informasi tahun 2006-2009
yang menjadi acuan pengelolaan sistem informasi/teknologi
informasi Kementerian Negara BUMN
- Pengelolaan infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi
Kementerian Negara BUMN yaitu (a) tersedianya domain
bumn.go.id untuk seluruh aplikasi Kementerian Negara BUMN, (b)
tersedianya layanan internet bagi seluruh pegawai selama 24/7,
disamping telah dilakukan penambahan bandwith layanan internet
yang semula 256 Kbps menjadi 4.196 Kbps, penyediaan 31 server
untuk mendukung aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Negara
BUMN yang berada di colocation Telkom Slipi dan penyediaan
jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN, Jl. Medan Merdeka
Selatan 13, Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai, (c)
tersedianya satu PC untuk satu pegawai, yaitu dengan penggantian
dan penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian
Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada
tahun 2009.
- Pengembangan sistem informasi, yaitu (a) layanan pengaduan
melalui SMS dengan short code 2866 (SMS Center), (b) tersedianya
portal publik Kementerian Negara BUMN yang telah diredesain,
portal PKBL, portal SDM, portal aset, Executive Information System
(EIS) dan Office Automation (OA), (c) tersedianya 300 akun email
bagi pegawai, (d) tersedianya draft panduan penyusunan masterplan
TI BUMN, tata kelola TI BUMN dan sinergi TI BUMN yang
dihasilkan oleh kelompok kerja TI BUMN yang dibentuk pada rapat
koordinasi bidang TI antara Kementerian Negara BUMN dengan
BUMN mulai tahun 2006.

Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan,


pengolahan, dan penyajian, serta pendokumentasian laporan BUMN untuk
memenuhi kebutuhan data dan informasi adalah:
- pengumpulan buku laporan BUMN yang kemudian dilanjutkan
dengan inputing/pemasukan data ke dalam database, penyimpanan
laporan secara fisik di perpustakaan juga sudah dilakukan scaning
laporan untuk menuju sistem pendokumentasian secara elektronik.
- Penyediaan data dividen baik mencakup kegiatan
perencanaan/penetapan target hingga monitoring penyetoran.

73
- Penyiapan dan penyampaian data untuk Laporan Kinerja Pemerintah
Pusat yang dilakukan secara periodik yaitu Semester, Unaudited, dan
Audited.
- Pembangunan dan Pengelolaan Perpustakaan.
Saat ini sedang dilakukan implementasi penyampaian data/laporan
secara elektronik berbasis web melalui Executive Information System.
Dengan aplikasi ini maka akan dapat dilakukan electronic reporting,
electronic analyzing, hingga electronic documentation. Namun demikian
pengisian/input data ke dalam database existing (sistem lama) tetap
dilakukan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan informasi di
Kementerian BUMN. Hal ini mengingat dibutuhkan payung hukum dan
SDM yang memadai untuk implementasi sistem baru dimana terdapat
perubahan cara penyampaian laporan periodik BUMN yang semula
disampaikan kepada Menteri BUMN dalam bentuk hardcopy sekarang
dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting.

b. Implementasi, Sosialisasi dan Pelatihan Aplikasi

Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–


21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN.
Peluncuran dan sosialisasi portal publik diselenggarakan pada 22
Agustus 2007 yang dihadiri oleh 228 undangan yang terdiri dari Direksi
BUMN, instansi pemerintah, dan wartawan.
Pelatihan Portal EIS, SDM, PKBL dan Publik kepada admin BUMN
yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8
September 2009, diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN.
Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh
pegawai Kementerian Negara BUMN.
Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan
pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN mulai dari Oktober
2008 - 2009.
 Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN
(Linux) pada tahun 2008.
 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian
Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006.
 Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun
panduan masterplan TI BUMN, Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi
BUMN pada tahun 2006.
 SDM
Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI, 1 orang tahun 2004 menjadi
10 orang pada tahun 2009.

74
Kursus dan Pelatihan
 CCNA 1 orang
 CISA Reviw Course 2 orang
 Linux 15 orang
 Zend Framework 3 orang
c. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti
Implementasi Portal Kementerian BUMN
Berdasarkan catatan BPK bahwa pemanfaatan aplikasi belum optimal
maka perlu diperlukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan
seluruh modul-modul secara bertahap yang membutuhkan dukungan
(sponsorship) dari Menteri BUMN dalam bentuk kebijakan formal dan
peraturan.
Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi
Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi 2010 – 2014
mengacu pada Rencana Strategis Kementerian BUMN 2010 – 2014
dengan memperhatikan perubahan teknologi, kebutuhan, efisiensi, dan
kelanjutan implementasi sebelumnya.
Penambahan jumlah SDM yang memiliki kompetensi
Agar organisasi pengelola teknologi informasi dapat optimal
mendukung pencapaian strategi dan tujuan Kementerian BUMN dengan
memanfaatkan teknologi informasi, maka dibutuhkan jumlah SDM
yang memadai dan kompeten.
Panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN
Konsep panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN yang
meliputi panduan tata kelola, panduan penyusunan master plan, dan
panduan sinergi teknolgi informasi dapat ditetapkan Menteri BUMN
sehingga dapat diimplementasikan sebagai pedoman bagi BUMN untuk
menngkatkan peran teknologi informasi di perusahaan untuk
menciptakan nilai tambah dan daya saing.
Penyediaan Data dan Informasi
Agar perubahan cara penyampaian laporan BUMN kepada Menteri
BUMN dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting, maka
dibutuhkan kebijakan Kementerian BUMN yang secara terintegrasi
mengaitkan dengan kepatuhan BUMN menyampaikan laporan dan
dipertimbangkan dalam penilaian kinerja BUMN dan penilaian GCG
BUMN.

III.2.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan


Statusnya (BPYBDS) 2005 - 2009

Bantuan pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada


umumnya merupakan investasi Pemerintah pada infrastruktur. Melalui
Kementerian Teknis Pemerintah melakukan pembangunan fasilitas serta
infrastruktur yang dicatat sebagai asset Negara hasil proyek. Berdasarkan data
yang tersedia, umumnya BPYBDS berasal dari asset eks proyek berupa tanah
dan bangunan, meskipun ada beberapa BPYBDS berasal dari eks dana

75
talangan/pinjaman dari Pemerintah seperti pada PT Sarana Karya maupun PT
Dirgantara Indonesia. Aset Negara eks proyek Pemerintah diserahkelolakan
kepada BUMN dengan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Operasi
(BASTO) atau Berita Acara Serah Terima (BAST).

Dalam penetapan BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN)


diawali dengan usulan dari BUMN kepada Kementerian Teknis pemilik proyek,
yang selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Keuangan. Sebelum
ditettapkannya BPYBDS, Menteri Keuangan meminta BPKP melakukan
reviu/audit guna menetapkan nilai actual BPYBDS yang akan dijadikan PMB,
karena beberapa pertimbangan :
- Pada dasarnya anggaran eks proyek tidak menyebutkan peruntukkan
BPYBDS menjadi PMN;
- Kondisi asset BPYBDS sangat bervariatif, karena kondisi sudah cukup lama;
- Kelayakan penetapan status BPYBDS untuk dijadikan penyertaan atau
lainnya seperti disewakan atau dijual putus.
Penanganan penetapan status BPYBDS menjadi PMN selama ini belum
sebagaimana yang diharapkan, mengingat eksisting BPYBDS berasal dari
akumulasi tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1990. Rekapitulasi dan
penanganan BPYBDS dimulai dari tahun 2007 sejak dikeluarkannya Keputusan
Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara.
Gambaran penanganan BPYBDS dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel.
Perkembangan Rekapitulasi BPYBDS dan PMN
Dalam Rp Juta
Keterangan/Tahun 2007 (Audit) 2008 (Audit) 2009 (un-Audit)
Jumlah BPYBDS 12.692.929,0 46.362.303,6 50.991.566,0
Menjadi PMN 100.000,0 99.272,4 59,980,0
Saldo BPYBDS 12.592.929,0 46.263.041,2 50.931.586,0
Catatan : 1. Tahun 2007 PMN pada PT Inka sebesar Rp.100 milyar
2. Tahun 2008 PMN pada PT PGN sebesar Rp 99,272 milyar
3. Tahun 2009 PMN pada PT PGN dan PJT II sebesar Rp 59,98 milyar

76
Secara umum rencana rightsizing BUMN untuk mencapai jumlah dan skala
BUMN yang lebih ideal serta rencana privatisasi pada tahun 2005–2009 belum dapat
terlaksana sepenuhnya karena beberapa hal antara lain masih diperlukannya
kajian independen untuk beberapa sektor serta updating data untuk sektor-sektor
yang waktu kajiannya dirasakan memerlukan pembaharuan datanya, kesamaan
persepsi, serta sinkronisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan terkait.
Dengan adanya kajian yang lebih mendalam serta sosialisasi dan koordinasi dengan
instansi terkait, diharapkan program righsizing dan privatisasi dapat terlaksana
sesuai rencana.

Dari sisi peraturan perundangan, setiap BUMN dapat ditugaskan untuk


melaksanakan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). PSO
mempunyai peran penting dan strategis dalam pelaksanaan kebijakan Pemerintah
khususnya dibidang subsidi. Oleh karena itu kondisi BUMN yang ditugaskan oleh
Pemerintah (Kementerian/Lembaga – K/L) untuk melaksanakan tugas PSO harus
senantiasa terpelihara dengan baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Penugasan Pemerintah (K/L) kepada BUMN harus benar-benar memperhatikan
peran dan fungsi BUMN sebagai unit usaha, di sisi lain penugasan Pemerintah tidak
dapat dijadikan alasan oleh BUMN untuk mengalami kerugian. Pemisahan
pembukuan antara kegiatan usaha komersiil dan kegiatan usaha atas dasar
penugasan Pemerintah harus dilakukan secara jelas.

Dalam rangka pelaksanaan pendayagunaan aset BUMN, dengan adanya


ketentuan baku berupa peraturan Menteri diharapkan pemanfaatan aset BUMN
akan semakin optimal. Sedangkan percepatan penyelesaian BPYBDS menjadi PMN
akan membantu BUMN dalam melakukan restrukturisasi permodalan sehingga
akan meningkatkan leverage perusahaan.

Pembangunan dan pengembangan sistem informasi sangat diperlukan dalam


proses pengolahan data pada Kementerian BUMN. Pengolahan data dengan
memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung proses analisis
secara lebih cepat dan akurat. Hal ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan
dalam rangka pembinaan BUMN. Dengan mengikuti kemajuan perkembangan
teknologi informasi, Kementerian BUMN akan lebih efektif melakukan pembinaan
terhadap BUMN.

77
BAB IV
PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014

IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014

IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan


Usaha Milik negara, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka
penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk
memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan
meningkatkan nilai perusahaan.

Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar


dapat beroperasi secara efisien dan efektif/produktif dan menerapkan tata kelola
perusahaan yang baik (GCG). Restrukturisasi juga bertujuan untuk meningkatkan
kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak
kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif
kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. Pelaksanaan program
restrukturisasi harus tetap memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh.

IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi

a. Restrukturisasi Sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan


sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan;
b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi yang meliputi :
1). Peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang
terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah;
2). Penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan
BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsip-
prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam
rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik.
3). Restrukturisasi Internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen,
operasional, sistem dan prosedur.

78
IV. 1.3. Program Restrukturisasi

a. Restrukturisasi Sektoral

1). Rightsizing BUMN

Program restrukturisasi sektoral pada intinya adalah untuk mencapai


jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal yang merupakan kelanjutan dan
penajaman dari program rightsizing BUMN yang terdapat di dalam Master
Plan BUMN 2005 – 2009.

Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa dengan


memperhatikan perkembangan BUMN yang ada saat ini (tahun 2009)
sebanyak 141 BUMN, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja
dan skala usaha yang relatif kecil dengan kinerja yang belum optimal. Jika
diperhatikan, dari 141 BUMN yang ada pada akhir tahun 2009, berdasarkan
data per 31 Desember 2008, sebanyak 25 BUMN (25 BUMN besar) telah
mempresentasikan 97,16% dari total aset, 91,73% dari total ekuitas, 86,69%
dari total penjualan dan 98,11% dari total laba bersih seluruh BUMN.

Menyadari bahwa sebagian besar BUMN yang ada saat ini


kinerjanya belum optimal dan belum memiliki daya saing yang kuat
terutama dalam menghadapi perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat
dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh
batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa,
pasar dan perusahaan-perusahaan. Kenyataan tersebut mengharuskan
Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan nyata guna
terwujudnya BUMN yang handal dan mampu menjadi pemain utama
(champion) baik di tingkat nasional, regional maupun global, sehingga
reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi), profitisasi dan
privatisasi menjadi perioritas utama Kementerian BUMN dalam kebijakan
pembinaan BUMN ke depan.

Reformasi BUMN yang menjadi perioritas utama kebijakan


Kementerian BUMN dalam pembinaan BUMN tersebut dituangkan dalam
Program Rightsizing BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN

79
secara menyeluruh. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari
program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan
secara lebih tajam, dan dilakukan regrouping/konsolidasi, untuk mencapai
jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. Program ini tetap
dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara
pada suatu BUMN, profil sektoral, kinerja, penciptaan nilai dan potensi
sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam
Pasal 33 UUD 1945.

BUMN-BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang


dihasilkannya termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang
banyak” sebagaimana digariskan pada Pasal 33 UUD 1945 tetap harus
dipertahankan kepemilikan mayoritas Negara pada BUMN tersebut.
Sedangkan terhadap BUMN yang bidang usahanya atau produk/jasa yang
dihasilkan tidak termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang
banyak”, maka kepemilikan Negara pada BUMN tersebut dapat
dipertimbangkan untuk tidak mayoritas atau bahkan dilepas (divestasi),
tertutama untuk sektor-sektor atau BUMN yang dirasakan Negara tidak
perlu lagi ikut serta dalam sektor usaha tersebut.

2). Pedoman Rightsizing BUMN

“Kesepakatan” yang melibatkan berbagai elemen stakeholders


BUMN mengenai bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan BUMN
yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” perlu diterjemahkan
secara lebih riil. Ini berdasarkan pada konsep dasar penataan BUMN bahwa
apapun bentuknya kebijakan penataan BUMN tidak boleh mengurangi
fungsi pelayanan kepada masyarakat. BUMN-BUMN yang secara nyata
mengemban fungsi Public Service Obligation (PSO) akan tetap
dipertahankan keberadaannya tanpa mengurangi tuntutan efisiensi dan
transparansi manajemen.

Kriteria BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak”


selama ini menjadi perdebatan berbagai kalangan, namun beberapa kriteria
di bawah ini setidaknya dapat menerjemahkan berbagai pendapat tersebut
yaitu:
80
Amanat Pendirian oleh Peraturan Perundangan untuk tetap
dimiliki oleh Negara;
Mengemban PSO;
Terkait erat dengan Keamanan Negara;
Melakukan Konservasi Alam/Budaya;
Berbasis Sumber Daya Alam yang menurut Undang-undang
harus dimiliki mayoritas oleh Negara;
Penting bagi stabilitas ekonomi/Keuangan Negara.

Apabila suatu BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang


dihasilkan memiliki satu atau lebih kriteria-kriteria tersebut, maka dapat
dikategorikan sebagai BUMN yang ”menyangkut hajat hidup orang
banyak”. Konsekuensinya, BUMN tersebut mayoritas sahamnya harus
dimiliki oleh Negara. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan berapa
minimal saham yang harus dimiliki oleh Negara pada kategori ini. Apakah
kepemilikan 51% sudah mencukupi, ataukah harus lebih dari 51%. Bila
memperhitungkan kemungkinan terjadi dilusi pada momen-momen tertentu,
mungkin perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan
Negara sedikitnya 55%.

Penataan BUMN melalui penerapan program rightsizing BUMN


perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka
panjang BUMN dan perekonomian nasional. Secara umum cara atau model
rightsizing BUMN tersebut dapat dilakukan melalui berbagai shareholder
action dengan gambaran sebagai berikut:

Stand Alone

Kebijakan stand alone (tetap berdiri sendiri) diterapkan untuk


mempertahankan keberadaan BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah
satu dari kriteria sebagai berikut:
Market share cukup signifikan;
Mengandung unsur keamanan;
Single player atau masuk sebagai pemain utama;
Belum memiliki potensi untuk dimerger/konsolidasi ataupun holding;
Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
umumnya captive market.

Merger/Konsolidasi

81
Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif
bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang
identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Secara garis besar kriteria untuk
BUMN-BUMN yang akan di-merger/konsolidasi adalah sebagai berikut:
Jenis usaha dan segmen pasar sama;
Kompetisi tinggi;
Mayoritas saham dimiliki Pemerintah;
Kinerja tergolong kurang baik;
Going Concern diragukan, namun masih memiliki potensi untuk
digabung dengan BUMN lain.

Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui


merger/konsolidasi secara umum adalah :

Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan akan lebih


fokus pada kegiatan operasional, sedangkan pemasaran, pendanaan dan
kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk;
Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal, seperti penciptaan industri
hilir baru;
Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih
baik;
Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan
untuk ekspansi bisnis;
Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan
peningkatan kapasitas pendanaan.

Holding

Pembentukan holding ini menjadi pilihan yang rasional untuk


BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk
maupun sasaran pasar yang berbeda, tingkat kompetisi yang tinggi, prospek
bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan.
Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan diholding adalah sebagai
berikut:
Sektor usaha sama;
Jenis usaha dan segmen pasar berlainan;
Kompetisi tinggi;
Masih ada prospek/ bisnis prospektif;
Pemerintah merupakan pemilik mayoritas.

82
Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui
pembentukan holding secara umum adalah :
Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan asal lebih
fokus pada kegiatan operasional, sedangkan pemasaran, pendanaan dan
kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk;
Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal, seperti penciptaan industri
hilir baru;
Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih
baik;
Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan
untuk ekspansi bisnis;
Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan
peningkatan kapasitas pendanaan.

Divestasi

Terkait dengan Program Rightsizing BUMN, kebijakan divestasi


dilakukan dengan melepas saham milik Negara pada suatu BUMN dalam
jumlah mayoritas. Kriteria BUMN yang dapat didivestasi sesuai dengan
kriteria BUMN yang boleh diprivatisasi sebagaimana diatur dalam Undang-
undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan
Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi
Perusahaan Perseroan (Persero). Selain kriteria-kriteria tersebut, terkait
dengan Program Rightsizing, terdapat kriteria tambahan lainnya, yaitu:
Berbentuk Persero;
Bergerak di bidang usaha yang kompetitif atau pihak swasta juga telah
banyak ikut berperan serta dalam menghasilkan produk/jasa yang sama
dengan suatu BUMN yang akan didivestasi;
Guna meningkatkan kinerja dan pengembangan usaha dibutuhkan modal
yang cukup besar, sementara kemampuan negara tidak memungkinkan
melakukan tambahan modal.
Dalam rangka penyelamatan dan mempertahankan kelangsungan hidup
suatu BUMN, dimana kemampuan negara tidak memungkinkan
melakukan tambahan modal.
Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila divestasi saham
Negara RI pada suatu BUMN dilakukan melalui pasar modal.

83
Likuidasi

Kebijakan likuidasi merupakan langkah terakhir yang diambil untuk


suatu BUMN guna mencegah kerugian yang lebih besar yang dapat
menimbulkan permasalahan yang lebih berat. Secara garis besar kriteria
BUMN yang akan dilikuidasi adalah sebagai berikut:
Tidak ada PSO – ”non strategis” (tidak harus dipertahankan status
BUMN);
Dalam beberapa tahun mengalami kerugian terus-menerus;
Kompetisi usaha tinggi;
Eksternalitas rendah;
Ekuitas negatif;
Usahanya tidak prospektif.

3). Skenario Program Rightsizing BUMN 2010 - 2014

Sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang


Percepatan Pelaksanaan Perioritas Pebangunan Nasional Tahun 2010, terdapat 3
(tiga) program utama yang menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN yang
meliputi restrukturisasi PT PLN, restrukturisasi PT Pertamina dan pelaksanaan
rightsizing 33 BUMN.

Melalui penerapanan Program Rightsizing BUMN, diharapkan Negara


akan memiliki beberapa BUMN dengan jumlah dan skala usaha BUMN yang
ideal dengan skenario rightsizing sebagai berikut:

Tahun 2010 ± 117 BUMN


Tahun 2011 ± 102 BUMN
Tahun 2012 ± 91 BUMN
Tahun 2013 ± 85 BUMN
Tahun 2014 ± 78 BUMN

84
Program Rightsizing BUMN Tahun 2010

No Sektor BUMN Jmlh Jenis Restrukturisasi Jmlh


Sblm SA L D H MK Stlh
1 Kontruksi: 9 - - - 8
Adhi, WIKA, Adhi, Waskita
Waskita, PP, HK, WIKA, diambil
Nindya, Istaka, PP, HK, alih oleh
Brantas, Amarta Nindya, PPA
Amarta,
Brantas,
Istaka

Konsultan 5 - - - - 0
Konstruksi : 5 BUMN
Indra, Indah, Konsultan
Virama, Yodya & Konstruksi
Bina dialihkan
ke BUMN
Konstruksi
SA
2 Pengerukan 1 - - - - 0
PT Rukindo Diinbreng-
kan ke
Pelindo
3 Pelayaran : 1 - - - - 0
BAG Diinbreng-
kan ke
PLN
4 Perkebunan : 15 - - - - 1
PT PN I-XIV & PTPN
RNI I-XIV
& RNI
5 Aneka Industri : 1 - - - - 0
PT Cambric
Primissima
6 Pertambangan: 1 - - - - 0
PT Sarana Karya
Jumlah 33 9

BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi


BUMN Konstruksi terdiri dari PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk,
PT Waskita Karya, PT PP Tbk, PT Hutama Karya, PT Nindya Karya,
PT Istaka Karya, PT Brantas Adipraya, PT Amarta Karya.
BUMN Konsultan Konstruksi terdiri dari PT Indra Karya, PT Indah Karya,
PT Virama Karya, PT Bina Karya dan PT Yodya karya.
Rencana restrukturisasi BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi telah
dilakukan kajian oleh Konsultan PT Primus Sarana Artha pada tahun 2005.

85
Hasil kajian merekomendasikan dari 9 BUMN Konstruksi akan tetap
dipertahankan 5 BUMN Konstruksi Stand Alon (SA), yaitu PT Adhi Karya
Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Waskita Karya, PT PP Tbk, PT Hutama
Karya. Sedangkan 4 BUMN Konstruksi lainnya dan 5 BUMN Konsultan
Konstruksi (PT Indra Karya, PT Indah Karya, PT Virama Karya, PT Bina
Karya dan PT Yodya karya) akan dilakukan program Merger/Konsolidasi
dengan mengalihkan saham milik Negara kepada 5 BUMN Konstruksi.
Dalam forum BUMN Karya telah disepakati bahwa 9 BUMN Konstruksi
akan diregrouping menjadi 6 BUMN, sedangkan 5 BUMN Konsultan
Konstruksi akan diakuisisi/inbreng ke 6 BUMN tersebut.
Memperhatikan kondisi masing-masing BUMN sampai dengan akhir tahun
2009, rencana restrukturisasi 9 BUMN Konstruksi akan dipertahankan SA
sebanyak 8 BUMN, sedangkan PT Waskita Karya karena memerlukan
restrukturisasi permodalan akan dikonsolidasikan dengan PT PPA yang
mengakibatkan kepemilikan Negara minoritas. 5 BUMN Konsultan
Konstruksi direncanakan akan diinbrengkan pada BUMN Konstruksi SA.
Namun demikian, mengingat hasil kajian sudah cukup lama (tahun 2005),
maka sebelum rencana restrukturisasi dilaksanakan, perlu dilakukan kajian
ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.

PT Rukindo

Saham Negara RI pada PT Rukindo direncanakan akan diinbrengkan kepada


BUMN Kepelabuhan (PT Pelindo I - IV).

PT BAG

Terhadap PT BAG akan dilakukan pengalihan Saham Negara RI pada


PT BAG kepada PT PLN dalam rangka penyelamatan PT BAG.
Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, telah dilakukan penilaian kembali terhadap saham
Negara RI pada PT BAG oleh konsultan independen untuk menentukan
nilai wajar (nilai pasar) atas saham Negara RI pada PT BAG tersebut yang
akan dialihkan kepada PT PLN untuk dituangkan di dalam Rancangan
Peraturan Pemerintah tentang pengalihan saham tersebut.

BUMN Perkebunan

BUMN Perkebunan terdiri dari 15 BUMN, yaitu PTPN I – XIV dan


PT RNI.
Rencana Restrukturisasi BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI)
telah dilakukan kajian PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities
pada tahun 2005 dan dilanjutkan oleh Tim Holding BUMN Perkebunan
(terdiri dari wakil Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan dan
BUMN Perkebunan) pada tahun 2006-2007.
Hasil kajian merekomendasikan pembentukan satu holding.

86
Telah dilakukan pembahasan di Rakortas pada tanggal 8 November 2007.

Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan


yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008, Nomor S-
867/MBU/2008 tanggal 11 November 2008 & Nomor S-67/MBU/2009
tanggal 29 Januari 2009.
Menanggapi surat Menteri BUMN Nomor S-10/MBU/2008 tanggal 4
Januari 2008 kepada Menteri Keuangan yang juga ditembuskan kepada
Menteri, Menteri Pertanian melalui surat Nomor 45/TU.210/M/2/2008
tanggal 28 Februari 2008 telah menyatakan sependapat dengan rencana
pembentukan holding BUMN Perkebunan.
Telah dilaksanakan Seminar tentang Holding BUMN Perkebunan yang
diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum dan Pembangunan pada tanggal
18 Maret 2010 yang dibuka oleh Menteri BUMN dan dihadiri oleh Ketua
Komisi VI DPR RI dan beberapa anggota Komisi VI dan Komisi XI DPR
RI, Deputi Menteri BUMN yang membidangi BUMN Perkebunan dan
Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi. Dalam
seminar tersebut dapat disimpulkan bahwa restrukturisasi BUMN
Perkebunan dilakukan melalui pembentukan Holding BUMN Perkebunan
yang akan dilaksanakan pada tahun 2010.
Mengingat kondisi BUMN Perkebunan, baik internal maupun eksternal
telah mengalami perubahan yang cukup signifikan, terutama akibat krisis
keuangan pada akhir tahun 2008, maka rencana restrukturisasi BUMN
Perkebunan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi
terkini.

PT Cambrics Primissima

PT Cambrics Primissima akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara


(52,79%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic
Sale/SS) dengan pertimbangan :

Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya


cepat berubah;
Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus
dikelola oleh BUMN;
Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan;
Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan
peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi;
Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas
khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat;
Beberapa tahun terakhir mengalami kerugian dan nilai ekuitas terus
menurun;

87
Operasional perusahaan mulai terganggu karena peralatan sudah tua dan
kesulitan likuiditas;
Terbatasnya akses pendanaan karena performance neraca yang terus
memburuk, sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan
Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil;
Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan
dana, juga diperlukan adanya alih teknologi, jaringan pemasaran yang lebih
luas dan sistem manajerial yang lebih baik.

PT Sarana Karya

PT Sarana Karya akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (100%)
melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan
mengutamakan akuisisi oleh BUMN lain (akusisi) dengan pertimbangan :

Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya


cepat berubah;
Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus
dikelola oleh BUMN;
Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan;
Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan
peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi;
Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas
khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat;
Peralatan dan fasilitas produksi sangat terbatas dan tua dan kesulitan
likuiditas;
Pangsa pasar masih terbatas (PU);
Kesulitan akses pendanaan untuk investasi dan modal kerja karena
performance neraca yang jelek, sedangkan kemungkinan untuk
mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil;
Guna memperbaiki kinerja, sejak tahun 2008 telah dilakukan KSO dengan
PT Timah Tbk, dimana PT Timah Tbk telah memberikan dana sebesar Rp
17,86 milyar untuk investasi, pengembalian KP dan modal kerja.
Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan
dana, juga diperlukan adanya alih teknologi, jaringan pemasaran yang lebih
luas dan sistem manajerial yang lebih baik.

Pada tahun 2010, akan terjadi rightsizing terhadap 33 BUMN, sehingga pada akhir
tahun 2010 diharapkan jumlah BUMN menjadi ± 117 BUMN.

88
Program Rightsizing BUMN Tahun 2011

No Sektor Jmlh Jenis Restrukturisasi Jmlh


BUMN Sblm SA L D H MK Stlh
1 Asuransi : 10 - - - - 10
Askes, Askes,
Asabri, Asabri,
Taspen, Taspen,
Jamsostek, Jamsostek,
Jasindo, Jasindo,
Jiwasraya, Jiwasraya,
RUI, ASEI, RUI,
Jasa Raharja, ASEI, Jasa
Askrindo Raharja,
Askrindo
2 Pelabuhan : 4 - - - - 2
Pelindo I-IV
3 Kebandar- 2 - - - - 1
udaraan :
AP I – II
4 Perda- 3 - - - - 1
gangan :
PT PPI, PT
Sarinah, PT
PP Berdikari
5 Pelayaran : 3 - - - - 1
Pelni,
Djakarta
Lloid, ASDP
6 Kehutanan : 6 - - - 2
Inhutani I-V Perhutani Inhutani
& Perhutani I-V
7 Pertanian : 2 - - - - 1
PT SHS, PT
Pertani
8 Pertam- 3 - - - - 1
bangan :
PT BA,
ANTAM &
TIMAH
9 Farmasi : 3 - - - 2
INAF, KF & Biofarma INAF
Biofarma & KF
Jumlah 36 21

89
BUMN Asuransi

BUMN Asuransi terdiri dari 10 BUMN, yaitu PT ASABRI, PT Askes,


PT Taspen, PT Jamsostek, PT RUI, PT ASEI, PT Jasindo, PT Jiwasraya dan
PT Jasa Raharja dan PT Askrindo.
4 BUMN Asuransi (PT ASABRI, PT Askes, PT Taspen, PT Jamsostek) akan
menjadi Badan Penyelenggara SJSN dengan kemungkinan perubahan bentuk
hukum menjadi Perusahaan Umum (Perum), sehingga tetap menjadi BUMN
(SA).
Dengan demikian, 10 BUMN Asuransi tersebut tetap SA.

BUMN Pelabuhan

BUMN Pelabuhan terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT Pelindo I – IV.


Dari 4 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 2 holding BUMN
Pelabuhan berdasarkan wilayah, yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur,
namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

BUMN Kebandar-udaraan

BUMN Kebandar-udaraan terdiri dari 2 BUMN, yaitu PT Angkasa Pura I &


II.
Dari 2 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN
kebandar-udaraan, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

BUMN Perdagangan

BUMN Perdagangan terdiri dari 3 BUMN, yaitu PT Perusahaan Perdagangan


Indonesia (PT PPI, PT Sarinah dan PT Berdikari.
Terhadap BUMN perdagangan tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi
menjadi 1 BUMN, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih
dahulu.

BUMN Pelayaran

BUMN Perlayaran terdiri dari 3 BUMN, yaitu PT Pelni, PT Djakarta Lloyd,


dan PT ASDP.

Terhadap 3 BUMN Pelayaran tersebut akan dilakukan pembentukan 1


holding BUMN Pelayaran, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian
terlebih dahulu.

90
BUMN Kehutanan

BUMN Kehutanan terdiri dari 6 BUMN, yaitu PT Inhutani I – V dan Perum


Perhutani.
Terhadap PT Inhutani I – V akan dilakukan pembentukan 1 holding, namun
sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.
Perum Perhutani tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA)

BUMN Pertanian

BUMN Pertanian terdiri dari 2 BUMN, yaitu PT Sang Hyang Seri dan
PT Pertani.
Terhadap BUMN Pertanian tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi
menjadi 1 BUMN, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

BUMN Pertambangan

BUMN Pertambangan terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT Antam Tbk,


PT Timah Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA Tbk).
Rencana restrukturisasi terhadap 3 BUMN Pertambangan tersebut telah
dilakukan kajian oleh Citigroup sebagai Financial Advisor (FA) dan
Soemadipradja & Taher (Konsultan Hukum) pada tahun 2006 yang
merekomendasikan pembentukan perusahaan induk (holding) yang
mengintegrasikan seluruh BUMN Pertambangan (Integrated Resouces
Comapny/IRC).
Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan
yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 taggal 4 Januari 2008, Nomor S-
867/MBU/2008 taggal 11 Nopember 2008 & Nomor S-67/MBU/ 2009 taggal
29 Januari 2009
Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2006 dan beberapa tahun terakhir telah
terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal, maka
rencana restrukturisasi BUMN Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang
dengan memperhatikan kondisi terkini.

BUMN Farmasi

BUMN Farmasi terdiri dari 3 BUMN, yaitu PT Bio Farma, PT Kimia Farma
Tbk dan PT Indofarma Tbk.
PT Bio Farma tetap dipertahankan SA karena adanya penugasan khusus dari
pemerintah untuk memperoduksi vaksin.
Terhadap 2 BUMN Farmasi lainnya (PT Kimia Farma Tbk dan
PT Indofarma Tbk) telah dilakukan kajian oleh PT Mandiri Sekuritas pada
tahun 2005.

91
Hasil Kajian merekomendasikan untuk dilakukan merjer/konsolidasi melalui
peleburan PT Kimia Farma Tbk dengan PT Indofarma Tbk. Alternatif lain
yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Farmasi.
Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah
terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal, maka
rencana restrukturisasi BUMN Farmasi perlu dilakukan kajian ulang dengan
memperhatikan kondisi terkini.

Pada tahun 2011, akan terjadi rightsizing terhadap 35 BUMN, sehingga pada akhir
tahun 2011 jumlah BUMN akan menjadi ± 102 BUMN.

Program Rightsizing BUMN Tahun 2012

No Sektor Jmlh Jenis Restrukturisasi Jmlh


BUMN Sblm SA L D H MK Stlh
1 Sertifikasi 4 - - 2
Sucofindo, SI, BKI Survai SI,
BKI, Survai Udara Sucofindo
Udara Penas Penas
2 Kertas & 6 - - 3
Percetakan/ Peruri & KKA Balai
Penerbitan : PNRI & Pustaka,
PT Balai Kertas & Pradya
Pustaka, PT Leces Paramita
Pradya
Paramita,
PERURI,
PNRI,KKA,
Kertas Leces
3 Penunjang 2 - - - - 1
Pertanian :
Perum Jasa
Tirta I/II
4 Dok & 4 - - - - 1
Perkapalan :
PT DKB,
DPS, IKI,
PAL
5 Aneka 2 - - - - 0
Industri :
PT Garam
PT Insan
Jumlah 18 7

92
BUMN Sertifikasi

BUMN Sertifikasi terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT Biro Klasifikasi


Indonesia (PT BKI), PT Sucofindo, PT Surveyor Indonesia dan PT Survai
Udara Penas.
PT BKI akan tetap dipertahankan SA.
PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan dilakukan
Merger/Kosolidasi, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih
dahulu.
PT Survei Udara Penas akan dilakukan tindakan likuidasi karena kondisi
perusahaan baik keuangan, operasional dan prospek usaha yang tidak
memungkinan lagi untuk dipertahankan.

BUMN Kertas, Percetakan dan Penerbitan

BUMN Kertas, percetakan dan penerbitan terdiri dari 6 BUMN, yaitu


Perum Percetakan Uang RI (PERURI), Perum Percetakan Regara RI
(Perum PNRI), PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA), PT Kertas Leces,
PT Balai Pustaka (PT BP) dan PT Pratnya Paramita.
PERURI dan Perum PNRI akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA).
PT KKA dan PT Kertas Leces akan dilakukan divestasi seluruh saham
Negara RI melalui metode penjualan saham Negara langsung kepada
investor (strategic sale/SS) atau pengalihan saham Negara kepada BUMN
lain.
PT BP dan PT Pradnya Paramita akan dilakukan merger/konsolidasi
menjadi 1 BUMN, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih
dahulu.

BUMN Penunjang Pertanian

BUMN Penunjang Pertanian terdiri dari 2 BUMN, yaitu Perum Jasa Tirta I
dan Perum Jasa Tirta II.
Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II akan dilakukan
merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN, namun sebelumnya perlu dilakukan
kajian terlebih dahulu.

BUMN Dok dan Perkapalan

BUMN Dok & Perkapalan terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT PAL Indonesia,
PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB), PT Dok & Perkapalan
Surabaya (PT DPS) dan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI).
Rencana restrukturisasi BUMN Dok & Perkapalan telah dilakukan kajian
terhadap PT DKB dan PT PAL Indonesia oleh PT Sucofindo Appraisal
Utama pada tahun 2008.

93
Hasil kajian merekomendasi untuk dilakukan restrukturisasi internal
terlebih dahulu, selanjutnya dibentuk holding BUMN Dok dan Perkapalan
bersama-sama dengan BUMN Dok dan Perkapalan lainnya, yaitu PT DPS
dan PT IKI.
Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir
telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal,
maka rencana restrukturisasi BUMN Dok & Pertambangan perlu dilakukan
kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.

BUMN Aneka Industri

BUMN Aneka Industri terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT Iglas, PT Insan dan
PT Garam.
Terhadap PT Garam dan PT Insan akan dilakukan divestasi seluruh saham
milik Negara melalui metode penjualan langsung saham Negara RI kepada
investor (strategic sale/SS) dengan pertimbangan selain membutuhkan
dana untuk memperbaiki kinerja dan pengembangan usaha, juga
membutuhkan teknologi yang lebih baik, jaringan pemsaran yang lebih luas
dan sistem manajerial yang lebih baik.

Pada tahun 2012, akan terjadi rightsizing terhadap 18 BUMN, sehingga pada akhir
tahun 2012 jumlah BUMN akan menjadi ± 91 BUMN.

Program Rightsizing BUMN Tahun 2013

No Sektor Jmlh Jenis Restrukturisasi Jmlh


BUMN Stlh SA L D H MK Stlh
1 Hotel & 4 - - - 3
Pariwisata : PT TWC BTDC,
PT BTDC, PT PPFN HIN
HIN, PT
TWC, PPFN
2 Energi : 4 - - - 3
PLN, PLN, PT EMI
Pertamina, Pertamina,
PGN, EMI PGN
3 Perikanan : 2 - - - - 1
Perikanan
Nusantara &
PPPS
4 Logistik 4 - - - 2
Perum Bulog, Bulog, BGR,
PT BGR, PT Posindo VTP
VTP, Posindo
5 Aneka 1 - - - - 0
Industri PT Iglas
PT Iglas
Jumlah 15 9

94
BUMN Hotel & Pariwisata

BUMN Hotel dan Pariwisata terdiri dari 3 BUMN, yaitu PT Hotel


Indonesia Natour (PT HIN), PT TWC Borobudur, PT BTDC.
PT TWC Borobudur tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) karena terkait
dengan pelestarian budaya.
PT BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding, namun sebelumnya perlu
dilakukan kajian terlebih dahulu.

BUMN Energi

BUMN Energi terdiri dari 4 BUMN, yaitu PT Perusahaan Listrik Negara


(PT PLN), PT Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN Tbk),
dan PT Energi Manajemen Indonesia (PT EMI)
PT PLN, PT Pertamina, PT PGN Tbk tetap dipertahankan berdiri sendiri
(SA).
PT EMI akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui
penjualan langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan
seluruh saham Negara kepada BUMN lain.

BUMN Perikanan

BUMN Perikanan teridi dari 2 BUMN, yaitu PT Perikanan Nusantara dan


Perum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS).
PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudra akan
dilakukan merger/konsolidasi, namun sebelumnya harus dilakukan kajian
terlebih dahulu.

BUMN Logistik

BUMN Logistik terdiri dari 4 BUMN, yaitu Perum Bulog, PT Banda Ghara
Reksa (PT BGR), PT Varuna Tirta Prasada (PT VTP) dan PT Pos
Indonesia.
Perum Bulog dan PT Pos Indonesia akan tetap dipertahankan berdiri sendiri
(SA).
PT BGR dan PT VTP akan dilakukan divestasi seluruh saham negara
melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor
(strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara pada BUMN lain.

95
BUMN Aneka Industri

PT Iglas akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode


penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau
metode lain yang sesuai.

Pada tahun 2013, akan terjadi rightsizing terhadap 15 BUMN, sehingga pada akhir
tahun 2013 jumlah BUMN akan menjadi ± 85 BUMN.

Program Rightsizing BUMN Tahun 2014

No Sektor BUMN Jmlh Jenis Restrukturisasi Jmlh


Stlh SA L D H MK Stlh
1 Angkutan & 3 - - - 2
Prasarana PT JM Damri,
Angkutan & PPD
Darat :
DAMRI &
PPD, PT Jasa
Marga
2 Industri 8 - 3
Strategis : PT KS, LEN, PT Pindad &
PT Inti, PT PT INTI Barata, PTDahana
Barata, PT BBI
LEN, PT INKA, INKA
PTKS, PT diakuisisi
Pindad, PT oleh PT KAI
Dahana, PT
BBI
3 Semen 3 - - - 2
PT Semen PT Semen PT
Gresik Tbk, PT Gresik Semen
Semen Baturaja, Tbk, Kupang
PT Semen PT Semen
Kupang Baturaja
Jumlah 14 7

BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan

BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan terdiri dari 3 BUMN, yaitu


Perum PPD dan Perum Damri (BUMN Angkutan) serta PT Jasa Marga
(BUMN Prasarana Angkutan).
PT Jasa Marga akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA).
Perum PPD dan Perum Damri akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi
1 BUMN, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

96
BUMN Industri Strategis

BUMN Industri Strategis terdiri dari 8 BUMN, yaitu PT Krakatau Steel


(PT KS), PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI), PT LEN
Industri, PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra (PT BBI),
PT Dahana, PT Pindad dan PT Industri Kereta Api (PT INKA).
PT KS dan PT INTI tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA
PT LEN Industri, PT Barata Indonesia dan PT BBI akan dilakukan
divestasi seluruh saham negara RI melalui metode penjualan saham Negara
RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh
saham negara RI kepada BUMN lain.
PT Pindad dan PT Dahana yang merupakan BUMN dengan bidang usaha
yang terkait pada keamanan dan pertahanan akan dilakukan merger/
konsolidasi, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.
PT INKA akan dialihkan kepada PT KAI, sehingga PT INKA menjadi anak
perusahaan PT KAI, namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih
dahulu.

BUMN Semen

BUMN Semen terdiri dari 3 BUMN, yaitu PT Semen Gresik Tbk,


PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang.
PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja tetap dipertahankan berdiri
sendiri (SA).
PT Semen Kupang akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI
melalui metode penjualan seluruh saham Negara RI langsung kepada
investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI pada
PT Semen Kupang kepada BUMN sejenis lainnya.

Pada tahun 2014, akan terjadi rightsizing 14 BUMN, sehingga pada akhir tahun
2014 jumlah BUMN akan menjadi ± 78 BUMN.

97
Jumlah BUMN Hasil Rightsizing

No. BUMN Keterangan


BUMN PERBANKAN
1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk SA
2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk SA
3 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk SA
4 PT Bank Tabungan negara (Persero) Tbk SA
BUMN ASURANSI
5 PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) 4 BUMN (PT Asabri,
6 PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) PT Askes, PT Taspen,
7 PT Asuransi Jasa Raharja (Persero) PT Jamsostek)
8 PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Asuransi menjadi
9 PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Badan penyelenggaran
10 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) SJSN sengan
11 PT Asuransi ABRI (Persero) kemungkinan berubah
12 PT Asuransi Kesehatan (Persero) badan hukum menjadi
13 PT Asuransi Tabungan Pensiunan (Persero) Perum (2011)
14 PT Asuransi Jaminan Sosial Tenaga kerja (Persero)
BUMN JASA PEMBIAYAAN
15 Perum Pegadaian SA
16 Perum Jamkrindo SA
17 PT Danareksa SA
18 PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) SA
19 PT PANN Multi Finance (Persero) SA
20 PT Permodalan Nasional Madani (Persero) SA
21 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) SA
BUMN JASA KONSTRUKSI & KONSULTAN KONSTRUKSI
22 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 8 BUMN Konstruksi SA,
23 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 1 BUMN Konstruksi
24 PT Hutama Karya (Persero) (PT Waskita Karya) diambil
25 PT Nindya Karya (Persero) alih oleh PT PPA dalam
26 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk rangka
27 PT Amarta Karya (Persero) restrukturisasi/revitalisasi dan
28 PT Istaka Karya (Persero) 5 BUMN Konsultan
29 PT Brantas Adipraya (Persero) Konstruksi dialihkan ke
BUMN Konstruksi SA (2010)
BUMN PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI
30 Perum Pembangunan Perumahan Nasional SA
31 PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) SA
32 PT Kawasan Industri Makasar (Persero) SA
33 PT Kawasan Industri Medan (Persero) SA
34 PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero) SA
35 PT PDI Pulau Batam (Persero) SA
BUMAN FARMASI
36 PT Bio Farma (Persero) SA
37 Hasil Merger/Konsolidasi PT Kimia Farma dan 2011
PT Indofarma
BUMN LOGISTIK
38 Perum Bulog PT VTP dan PT BGR dilakukan
39 PT Pos Indonesia (Persero) divestasi atau dialihkan ke BUMN lain
(2013)

98
BUMN PARIWISATA
40 PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) SA
41 Holding (PT HIN dan PT BTDC) 2013
42 Perum Produksi Film Negara SA
BUMN JASA PENILAI
43 PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) PT Survai Udara Penas
44 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sucofindo dilikuidasi dan PT SI & PT
dan PT Surveyor Indonesia Sucofindo Merger/Konsolidasi
(2012)
BUMN PELABUHAN
45 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Barat 4 BUMN Pelabuhan menjadi 2
(Pelindi I – II) Holding berdasarkan wilayah
46 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Timur (2011)
(Pelindo III – IV)
BUMN PELAYARAN
47 Holding BUMN Pelayaran (PT Pelni, PT Djakarta PT BAG diinbrengkan
Lloyd, PT ASDP) kepada PT PLN (2010)
BUMN KEBANDARUDARAAN
48 Holding BUMN Kebandarudaraan (PT AP I – II) 2011
BUMN ANGKUTAN DARAT & KERETA API
49 PT Kereta Api Indonesia (Persero) SA
50 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Damri dan PPD 2014
BUMN PENERBANGAN
51 PT Garuda Indonesia (Persero) SA
52 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) SA
BUMN PERDAGANGAN
53 Hasil Merger/Konsolidasi PT PPI, PT Sarinah dan 2011
PT Berdikari
BUMN JALAN TOL
54 PT Jasa Marga (Persero) Tbk SA
BUMN BAJA & KONSTRUKSI BAJA
55 PT Krakatau Steel (Persero) PT Barata Indonesia dan PT BBI dilakukan
divestasi atau dialihkan ke BUMN lain (2014)
BUMN DOK & PERKAPALAN
56 Holding BUMN Dok & Perkapalan (PT PAL, PT DKB, 2012
PT DPS, PT IKI)
BUMN ENERGI
57 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT EMI
58 PT Pertamina (Persero) didivestasi
59 PT Perusahaan Gas Negara (Persero) 100% (2013)
BUMN INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI
60 PT Batan Teknologi (Persero) PT LEN Industri didivestasi atau
61 PT Dirgantara Indonesia (Persero) dialihkan kepada BUMN lain, PT Pindad
62 PT Industri Telekomunikasi dan PT Dahana Merger/Konsolidasi dan
Indonesia (Persero) PT INKA dialihkan ke PT KAI (2014)
BUMN INDUSTRI PERTAHANAN
63 Hasil Merger/Konsolidasi PT Pindad dan PT Dahana 2014
BUMN PERTAMBANGAN
64 Holding BUMN Pertambangan (PT Antam, PT Timah, 2011
PT BA)
BUMN TELEKOMUNIKASI
65 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) SA
66 Perum LKBN Antara SA

99
BUMN SEMEN
67 PT Semen Gresik (Persero) Tbk PT Semen Kupang dilakukan divestasi atau
68 PT Semen Baturaja (Persero) dialihkan kepada BUMN lain (2014)
BUMN KEHUTANAN
69 Perum Perhutani SA
70 Holding BUMN Pertaniann (PT Inhutani I – V) 2011
BUMN PERIKANAN
71 Hasil Merger/Konsolidasi PT Perikanan Nusantara dan 2013
Perum PPS
BUMN PERKEBUNAN
72 Holding BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) 2010
BUMN PERTANIAN
73 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sang Hyang Seri dan 2011
PT Pertani
BUMN PENUNJANG PERTANIAN
74 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Jasa Tirta I - II 2012
BUMN PERCETAKAN & PENERBITAN
75 Perum Percetakan Negara Republik Indonesia PT KKA, PT Kertas Leces
76 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia dilakukan divestasi atau
77 Hasil Merger/Konsolidasi PT Balai Pustaka dan dialihkan kepada BUMN
PT Pratnya Paramita lain (2012)
BUMN PUPUK
78 PT Pupuk Sriwijaya (Persero) SA

b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi

Dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah


strategis untuk memperbaiki kondisi internal BUMN guna memperbaiki kinerja dan
meningkatkan nilai perusahaan, restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan
program rutin yang berkesinambungan yang dilaksanakan dari tahun-ketahun.
Program restrukturisasi ini harus dituangkan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) masing-masing BUMN setiap tahunnya.

Restrukturisasi perusahaan/korporasi ini tidak hanya dilakukan terhadap


BUMN yang mengalami kerugian atau kesulitan dalam kegiatan usahanya, tetapi
dilakukan pula pada setiap BUMN guna terus mengupayakan terwujudnya kinerja dan
nilai tambah perusahaan yang lebih baik. Restrukturisiasi perusahaan/korporasi ini
dilakukan terhadap segala aspek kegiatan perusahaan yang meliputi keuangan,
organisasi/manajemen, operasional, sistem dan prosedur. Melalui pembenahan dalam
segala aspek kegiatan perusahaan yang berkesinambungan tersebut BUMN akan
memiliki daya saing yang semakin baik yang selanjutnya akan berdampak kepada
peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan.

100
Selain itu, melalui pembenahan sistem dan prosedur yang tidak dapat
terpisahkan dari kegiatan restrukturisasi perusahaan/korporasi akan memperbaiki tata
kelola BUMN mengarah kepada tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsip-
prinsip Good Corporate Governance (GCG).

Khusus untuk penanganan BUMN-BUMN yang mengalami kerugian dan


mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional, restrukturisasi dilakukan
oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PT PPA sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang
Pengelolaan Aset, dimana tugas PT PPA ditambah untuk melakukan restrukturisasi
dan/atau revitalisasi BUMN. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh
PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya
Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang
Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan
perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset.

Restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut, pelaksanaanya


berpedoman kepada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU/2009
tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN oleh PT PPA dan dalam
pelaksanaannya dibentuk Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN yang
keanggotaannya terdiri dari Menteri BUMN, Menteri Keuangan dan Menteri Teknis
tempat dimana sektor usaha BUMN bergerak (apabila diperlukan). Tugas Komite
Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN antara lain menetapkan BUMN yang akan
direstrukturisasi dan/atau direvitalisasi oleh PT PPA serta skema restrukturisasi
dan/atau revitalisasi yang akan diterapkan.

Berdasarkan data per 31 Desember 2008 (audited), BUMN mengalami


kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir berjumlah 22 BUMN. Dari 22 BUMN
tersebut, pada tahun 2009 telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA untuk
dilakukan kajian tuntas (due deligence) sebanyak 11 BUMN, yaitu :

1). PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)


2). PT Kertas Kraft Aceh (Persero)
3). PT Industri Sandang (Persero)

101
4). PT Industri Gelas (Persero)
5). PT Balai Pustaka (Persero)
6). PT Cambrics Primissima (Persero)
7). Perum PPD
8). PT Industri Kapal Indonesia (Persero)
9). Perum PFN
10). PT Survey Udara Penas (Persero)
11). PT Semen Kupang (Persero)

Selain 11 BUMN tersebut, pada tahun 2009 juga telah diserahkan kepada
PT PPA untuk menangani 6 BUMN lainnya yang mengalami kesulitan baik keuangan
maupun operasional (tidak termasuk dalam 24 BUMN rugi tersebut di atas), yaitu :

1). PT PAL Indonesia (Persero)


2). PT Waskita Karya (Persero)
3). PT Djakarta Lloyd (Persero)
4). PT PP Berdikari (Persero)
5). PT Hotel Indonesia Natour (Persero)
6). PT Varuta Tirta Persada (Persero)

Dari 17 BUMN yang telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA, 3


BUMN diantaranya, yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT PAL
Indonesia (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) saat ini sedang dilaksanakan
program restrukturisasi dan revitalisasi. Sedangkan 13 BUMN lainnya masih dalam
proses kajian tuntas (due deligence) dengan progres yang bebeda-beda untuk
selanjutnya akan dimintakan keputusan skema restrukturisasi dan revitalisasinya
kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi dan persetujuan dari Menteri
Keuangan.

Sisanya sebanyak 11 BUMN yang mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun


terakhir akan dilanjutkan penyerahan penangannya kepada PT PPA pada tahun 2010
adalah :

1). PT Indah Karya (Persero)


2). PT Pelayaran nasional Indonesia (Persero)
3). PT Pengerukan Indonesia (Persero)
4). PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero)
5). PT Kertas Leces (Persero)
6). PT Pradnya Paramita (Persero)
7). PT Perikanan Nusantara (Persero)
8). Perum Prasarana Perikanan Samudera
9). PT Boma Bisma Indra (Persero)
10). PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

102
11). PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

Terhadap 11 BUMN tersebut, sebelum penanganannya diserahkan kepada PT


PPA, maka akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu berdasarkan kinerja per 31
Desember 2009 guna menentukan apakah akan diserahkan kepada PT PPA atau
langsung dilakukan restrukturisasi sektoral melalui shareholder action tertentu dalam
rangka rightsizing BUMN. Selanjutnya, penyerahan penanganan restrukturisasi dan
revitalisasi BUMN yang memiliki permasalahan kepada PT PPA akan dievaluasi
setiap tahunnya guna menentukan BUMN mana yang akan diserahkan.

Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian dalam Program Restrukturisasi

Pelaksanaan program restrukturisasi baik restrukturisasi sektoral maupun


restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA yang telah dilakukan kajian yang
melibatkan tidak hanya Kementerian BUMN, tetapi sesuai dengan ketentuan dan
peraturan yang berlaku juga melibatkan instansi terkait lainnya antara lain seperti
Kementerian Keuangan, Kementerian Teknis, DPR RI, Kementerian Hukum dan
HAM, Sekretaris Negara dan Presiden yang akan membutuhkan waktu yang relatif
cukup lama, sehingga permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tidak serta merta
dapat diatasi dan kajian yang telah dilakukan memerlukan pemutakhiran data dan
kajian kembali. Untuk itu, diperlukan peningkatan upaya-upaya koordinasi dan
komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut.
Dengan kondisi keterbatasan APBN saat ini, restrukturisasi BUMN yang
memerlukan pendanaan sulit diharapkan mendapatkan suntikan dana dari APBN;
Terhadap BUMN yang sulit atau tidak mungkin lagi dipertahankan kelangsungan
hidupnya karena kondisi perusahaan yang sudah sangat mengkhawatirkan dan
tidak memiliki prospek, dalam penanganannya tetap harus mempertimbangkan
berbagai aspek sebelum keputusan likuidasi diambil.
Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak, perlu
mendapatkan kejelasan untuk penanganan dampak pajak tersebut.
Perlu ditingkatkan sosialisasi program restrukturisasi untuk menyamakan persepsi
mengenai tujuan pelaksanaan program restrukturisasi BUMN.

103
IV. 2. Program Privatisasi 2010 - 2014

IV. 2.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Privatisasi

Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik


Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara
Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59
Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005
tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero), Privatisasi adalah
penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain
dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat
bagi negara dan masyarakat, serta memperluas kepemilikan saham oleh
masyarakat.

Maksud privatisasi adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas


Persero, meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, menciptakan
struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat, menciptakan struktur
industri yang sehat dan kompetitif, menciptakan Persero yang berdaya saing dan
berorientasi global, dan menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas
pasar”. Sedangkan Tujuan privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja dan nilai
tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan
saham Persero. Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip
transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggung-jawaban, dan kewajaran.

IV. 2.2. Arah Kebijakan Privatisasi

Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan


APBN, tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan
dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Disamping juga
untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di


pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. Metode ini
terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang
tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta

104
memerlukan peningkatan kompetensi tehnis, manajemen dan pemasaran. Selain
itu, privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing
BUMN.

IV. 2.3. Kriteria Privatisasi

Kriteria Umum bagi BUMN-BUMN yang akan diprivatisasi telah


ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah
Nomor 33 tahun 2003 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Kriteria umum tersebut adalah sebagai
berikut:

a. Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria:


1) Industri/sektor usahanya kompetitif; atau
2) Industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah.

b. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban


pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan
usahanya harus dilakukan oleh BUMN, dapat dipisahkan untuk dijadikan
penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan
dapat diprivatisasi.

Sedangkan kriteria khusus yang harus dimiliki oleh BUMN yang akan
diprivatisasi adalah sebagai berikut:

1) Tidak ada PSO;


2) Telah dan sedang dalam restrukturisasi;
3) Ada kebutuhan dana untuk pengembangan;
4) Perbaikan struktur modal/leverage;
5) Rugi terus menerus;
profitisasi sulit dilaksanakan;
masih potensial profitisasi;
ada alokasi PMN tapi perlu pendanaan tambahan.
6) Perubahan regulasi yang berpengaruh pada sektor usaha;
7) Kepemilikan minoritas sehingga tidak ada kontrol negara dan lambat laun
kepemilikan akan terdilusi dan tidak strategis;
8) Untuk yang IPO, dalam 2 tahun berturut-turut menghasilkan laba.

105
Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah:

1) Persero yang bidang usahanya berdasarkan peraturan perundangan hanya


boleh dikelola oleh BUMN;
2) Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan
dan keamanan negara;
3) Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan
tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat;
4) Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas
berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang dilarang untuk
diprivatisasi.

IV. 2.4. Metode Privatisasi

Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di


bawah ini yaitu:
1) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal;
2) Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS)
3) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and
Management Buy Out /EMBO)

a. Penjualan Saham Berdasarkan Ketentuan Pasar Modal

Selain kriteria sebagaimana diatur sesuai dengan Undang-undang Nomor


19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003, masing-masing
metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. Kriteria BUMN yang akan
diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal
selain harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan pasar modal, juga
harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku lainnya yang terkait
dengan BUMN yang akan diprivatisasi.

b. Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS)

Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) dapat


dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini:
1). Memerlukan bantuan dan keahlian, “know-how”, expertise dari mitra
strategis, seperti operasi/teknis, inovasi/pengembangan produk, manajemen,
pemasaran teknologi, dan kemampuan pendanaan;
2). Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari
Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar
modal;

106
3). Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian
aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan
dengan mitra strategis;
4). Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak
bertentangan dengan regulasi;
5). Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah.

c. Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and


Management Buy Out /EMBO)

Adapun metode penjualan saham kepada Manajemen dan/atau karyawan


(Employee and Management Buy Out / EMBO) digunakan untuk BUMN-
BUMN yang masuk dalam kriteria:
1). Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional
(brainware), atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang
usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus;
2). Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu besar;
3). Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang
telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan
mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi
kegiatan usaha;
4). Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh
karyawan/manajemen;
5). Modal perusahaan tidak terlalu besar, sehingga karyawan dan manajemen
mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya.

IV. 2.5. Prosedur Privatisasi

Prosedur privatisasi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang


Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata
Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun
2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata
Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) secara garis besar adalah sebagaimana
flowchart berikut ini.

107
Seleksi Arahan
BUMN Komite Konsultasi/ Penerbitan
(dituangkan Privatisasi & Sosialisasi Persetujuan Peraturan Pelaksanaan
dalam Program Rekomendasi DPR Pemerintah
Tahunan Menkeu
Privatisasi)

a. Program Privatisasi Tahun 2010


% Saham % Saham
No Perusahaan Metode
Negara RI Dilepas
1. PT PN III 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)
2. PT PN IV 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)
3. PT PN VII 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)
4. PT BNI Tbk 76,36 Maks. 15 SPO
(right issue)
5. PT Primissima 52,79 Maks. 52,79 SS
(divestasi)
6. PT Kertas Padalarang 48,54 Maks 48,54 SS
(divestasi)
7. PT Sarana Karya 100 Maks 100 SS/akuisisi
(divestasi)
Catatan : PT Garuda Indonesia dan PT Krakatau Steel telah mendapatkan
persetujuan DPR RI pada tahun 2009 dan privatisasi akan dilaksanakan
tahun 2010.

Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2010 telah disampaikan kepada


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi untuk
mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan
rekomendasi masing-masing melalui surat Nomor S-885/MBU/2009 dan Nomor :
S-884/MBU/2009 tanggal 28 Desember 2009.

108
b. Program Privatisasi Tahun 2011
% Saham % Saham
No Perusahaan Metode
Negara RI Dilepas
1. PT Hutama Karya 100 Maks. 35 IPO
(saham baru)
2. PT Jasindo 100 Maks. 35 IPO
(saham baru)
3. PT Rekayasa Industri 4,97 Maks. 4,97 IPO
(divestasi)
4. PT Semen Baturaja 100 Maks. 35 IPO
(saham baru)
5. PT PNM 100 Maks. 49 IPO/SS
(saham baru)
6. PT KBN 88,74 Maks. 30 IPO
(saham baru)
7. PT KBI 100 Maks. 40 SS
(divestasi)

c. Program Privatisasi Tahun 2012

% Saham % Saham
No Perusahaan Metode
Negara RI Dilepas
1. PT PANN 93,10 Maks. 30 IPO/SS
(saham baru)
2. PT Garam 100 Maks. 100 SS
(divestasi)
3. PT INTI 100 Maks. 49 SS
(divestasi)
4. PT Industri Sandang 100 Maks. 100 SS
(divestasi)
5. PT Kertas Kraft Aceh 96,65 Maks 96,65 SS
(divestasi)
6. PT Pegadaian 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)
7. PT Danareksa 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)

109
d. Program Privatisasi Tahun 2013
% Saham % Saham
No Perusahaan Metode
Negara RI Dilepas
1. PT SIER 50 Maks. 50 SS
(divestasi)
2. PT Industri Gelas 63,82 Maks. 63,82 SS
(divestasi)
3. PT Bhanda Gara Reksa 100 Maks. 100 SS/akuisisi
(divestasi)
4. PT Bahana PUI 17,78 Maks. 17,78 SS/akuisisi
(divestasi)
5. PT EMI 100 Maks. 100 SS
(divestasi)
6. PT Asuransi Jiwasraya 100 Maks. 30 IPO
(saham baru)

e. Program Privatisasi Tahun 2014


% Saham % Saham
No Perusahaan Metode
Negara RI Dilepas
1. Holding/Merger 100 Maks.30 IPO
Farmasi (saham baru)
2. PT Semen Kupang 61,48 Maks. 61,48 SS
(divestasi)
3. PT Barata Indonesia 100 Maks 100 SS
(divestasi)
4. PT BBI 100 Maks 100 SS
(divestasi)
5. PT SOCFINDO 10 Maks. 10 SS
(divestasi)
6. PT Merpati Nusantara 93,20 Maks. 40 IPO
(saham baru)
Catatan : PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan DPR RI pada
tahun 2008 dan privatisasi akan dilaksanakan tahun 2014 setelah program
restrukturisasi diselesaikan.

Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun


waktu 2010 – 2014 tersebut di atas (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100%
kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif
kecil), diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai
berikut :

110
1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009
menjadi Rp 2.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5,28 kali).
2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2.149 Triliun pada tahun 2009
menjadi Rp 11.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5,39 kali).

Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Pelaksanaan Privatisasi BUMN

1). Proses pelaksanaan privatisasi, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku
tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN, tetapi juga instansi dan lembaga
lainnya seperti Komite Privatisasi, Kementerian Keuangan, DPR RI, Kementerian
Hukum dan HAM, Sekretaris Negara dan Presiden, sehingga membutuhkan waktu
yang relatif cukup lama yang kadang sering mengakibatkan hilangnya momentum
yang tepat dari pelaksanaan privatisasi tersebut. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya
peningkatan koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait
tersebut.
2). Perlu dilakukan peningkatan upaya-upaya sosialisasi yang lebih intensif dalam
rangka menyamakan persepsi mengenai privatisasi.

IV. 3. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 - 2014

Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan


peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No.
19 tahun 2003 tentang BUMN, dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau
Peraturan Pemerintah) PSO, khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure
(SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO, pelaksanaan PSO, dan pertanggungjawaban
pelaksanaan PSO; aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO;
dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas.

Dengan ketaatan semua pihak terhadap ketentuan perundang-undangan yang


berlaku dan penyempurnaan ketentuan-ketentuan pelaksanaan PSO, diharapkan
pelaksanaan PSO oleh BUMN akan dapat berjalan secara transparan, fair, dan
bertanggung jawab.

111
Apabila pelaksanaan PSO dapat dilakukan secara transparan, fair dan
bertanggungjawab, maka penugasan pelaksanaan PSO oleh K/L akan dapat berjalan
dengan baik di satu sisi, dan di lain sisi BUMN yang ditugaskan untuk melaksanakan PSO
akan dapat berkembang secara sehat, dan tidak ada alasan bagi BUMN untuk rugi karena
adanya penugasan dari Pemerintah (K/L). Terpisahnya pembukuan kegiatan pelaksanaan
PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan, sehingga memudahkan
monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO.

Kedepan diharapkan dana PSO/subsidi akan menurun seiring dengan


meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Namun naik-turunnya jumlah dana PSO/subsidi
sangat tergantung kepada kebijakan Pemerintah.

IV. 4. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 - 2014

Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset,


baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Dalam pelaksanaan
tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut, Kementerian BUMN telah membangun
sistem Bank Data Aset. Sistem Bank Data Aset tersebut dilakukan secara bertahap
sebagai berikut :

Pembangunan Portal Aset telah dilakukan tahun 2009 dan akan segera dilanjutkan
dengan sosialisasi serta trial pengisian Bank Data Aset tahun 2010 (Sistem Informasi
Aset BUMN berbasis TI);
Dalam rangka mempercepat pengumpulan data, telah dilakukan permintaan data aset
kepada para Deputi Teknis sebagai bahan masukan penyusunan Bank Data Aset
(Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI);
Kementerian BUMN secara langsung akan mengumpulkan data aset untuk
menyusun Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI) untuk tahun
buku 2011 dari BUMN;
BUMN diwajibkan mengisi Bank Data Aset melalui Portal Aset setelah selesai
dilakukannya sosialisasi dan trial pengisian.

Dalam kurun waktu 2010 – 2014, beberapa kegiatan dan kebijakan yang akan
dilaksanakan dalam rangka optimalisasi aset BUMN adalah sebagai berikut :

112
No Kegiatan 2010 2011 2012 2013 2014
1. Sistem Informasi Aset BUMN Berbasis TI
a. Pembangunan
b. Pemeliharaan
c. Sosialisasi
d. Implementasi
e. Monitoring, evaluasi, dan integrasi data BUMN

2. Optimalisasi Aset BUMN


a. Ketentuan dan prosedur
- Peraturan Pemindahtanganan Aktiva Tetap
BUMN
- Peraturan Pendayagunaan Aktiva Tetap
BUMN
- Standard Operating Procedure
b. Kajian optimalisasi aset BUMN
- Kajian aktiva tetap BUMN oleh konsultan
- Swakelola
c. Monitoring Pengelolaan Aset BUMN

3. Informasi dan akses data kepada stakeholders

IV. 5. Program Pengembangan Data, Informasi & Teknologi (TI) 2010 - 2014

IV. 5.1. Data

Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan
informasi yang lengkap, akurat, tajam dan terpercaya serta menjadi pendukung
think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN.

Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan penyediaan data dan


informasi tentang BUMN secara lengkap, akurat, dan mutakhir dengan
mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan,
pengolahan, dan pendokumentasiannya. Disamping itu, melaksanakan kajian-
kajian tentang isu-isu strategis BUMN yang menjadi salah satu referensi dalam
pengambilan keputusan Kementerian serta menjadi pusat penelitian yang kredibel
dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi
pihak internal maupun eksternal.
Kebijakan-kebijakan strategis yang akan diambil terkait pengembangan
data adalah :

113
Mendorong pengumpulan dan pengolahan data yang efektif dan efisien dengan
memberdayakan system teknologi informasi;
Melibatkan secara aktif BUMN-BUMN dalam pengumpulan dan penyediaan
data dan infromasi dengan mengkaitkannya pada pengukuran kinerja BUMN
dan Direksi BUMN
Merekrut, melatih dan memberdayakan SDM yang trampil, cerdas dan
berpengalaman dalam melakukan analisa korporat
Tajam dan sensitive dalam melihat permasalahan BUMN dan berusaha
memberikan kajian untuk memberikan referensi solusi atas masalah yang
dihadapi tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk pengembangan pusat data


dan informasi yang lengkap, akurat, tajam dan terpercaya dalam kurun waktu 2010
– 2014 adalah sebagai berikut :

NO KEGIATAN 2010 2011 2012 2013 2014


Penyiapan infrastruktur dan suprastruktur
1
data dan informasi
Positioning Pusat data dan Mapping isu-
2
isu strategis BUMN
Pelaksanaan kajian atas isu-isu strategis
3
BUMN
Diseminasi hasil kajian kepada
4
stakeholders

IV. 5.2. Informasi Dan Teknologi Informasi

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN


diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan
reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di
lingkungan Kementerian BUMN. Terkait dengan tujuan tersebut, implementasi teknologi
informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian,
meningkatkan efisiensi dan efektivitas, dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip
penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain
seperti transparansi, akuntabilitas, dan kewajaran. Selain itu, dengan implementasi
teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi
dengan murah, cepat, tepat, lengkap, konsisten, terkini, dan mudah diperoleh, sehingga
dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat.

114
Sebagaimana disebutkan dalam PerMenKominfo No. 41 tentang Panduan Tata
Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Versi 1 Tahun 2007, bahwa
mengingat pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi oleh institusi pemerintahan
telah semakin meningkat, untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan, maka
harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko.
Untuk mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan, diperlukan rencana teknologi
informasi dan komunikasi yang lebih harmonis, pengelolaan yang lebih baik, peningkatan
efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang
meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan
komunikasi nasional.

Dengan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik, diharapkan
Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi
informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN, efisiensi belanja
teknologi informasi dan komunikasi, realisasi solusi teknologi informasi dan komunikasi
yang sesuai kebutuhan secara efisien, operasi sistem teknologi informasi dan komunikasi
yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada public dan internal manajemen
pemerintahan, serta dapat mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan
teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan kerja kementerian BUMN untuk
internal manajemen dan pelayanan public.

Secara terperinci, Kementerian BUMN akan menetapkan Master Plan khusus yang
terkait dengan teknologi informasi.

IV. 6. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan


Statusnya (BPYBDS)

Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada


umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya
dipenuhi dari DIPA/APBN. Hasil proyek tersebut biasanya diserahkankelolakan kepada
BUMN, sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang
diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas,
karena belum ada penetapan secara legal. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi

115
permodalan BUMN, status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan
Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan.

Menteri BUMN melalui Keputusan No.: Kep- 15/MBU/2010 tertanggal 25 Januari


2010 telah membentuk suatu Tim yang bertugas melakukan koordinasi dengan BUMN
Pemilik BPYBDS dalam rangka monitoring perkembangan penyelesaian BPYBDS
menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN). Pada sat ini jumlah BPYBDS diperkirakan
mencapai Rp 47,3 trilyun dan US$ 18.29 juta, yang tersebar pada 23 BUMN, sebagaimana
terlampir.

Untuk dapat segera menyelesaikan perubahan status BPYBDS yang saat ini
tercatat pada BUMN tersebut, perlu ditempuh kebijakan sebagai berikut.

1) BUMN Pemilik BPYBDS diminta memberikan konfirmasi maupun penyempuranaan


atas hasil rekapitulasi Tim BPYBDS, baik jumlah BPYBDS maupun perkembangan
terakhir, agar data hasil rekapitulasi Tim BPYBDS akurat, updated sehingga valid
untuk melakukan monitoring.
2) BPYBDS yang baru saja diserahterimakan kepada BUMN melalui Berita Acara Serah
Terima (BAST) / Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) maupun yang akan
diserahterimakan pada waktu mendatang, diharapkan secara langsung dimohonkan
untuk diproses menjadi penambahan Penyertaan Modal Negara dengan tetap
dilakukan reviu/audit dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta instansi
terkait lainnya untuk preoses penyelesaian penetapan statusnya (seperti proses PMN
pada Bandara Dipati Amir, Bangka dan Bandara Sultan Toha, Jambi).
3) BPYBDS yang telah ditetapkan statusnya menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN)
melalui Peraturan Pemerintah (PP) pada tahun-tahun sebelumnya, agar ditindaklanjuti
dengan tindakan korporasi melalui pengesahan RUPS tentang
Perubahan/Penambahan Modal Disetor serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan.
Penetapan RUPS tentang Perubahan Modal Disetor tersebut dapat dimohonkan secara
tertulis kepada Menteri BUMN dengan melampirkan dokumen pendukung.

116
Dengan dapat diprosesnya secara langsung BAST/BASTO sebagaimana dimaksud
pada angka 2) di atas, eksisting BPYBDS saat ini secara bertahap dapat diselesaikan
penetapan statusnya sebagai PMN yang diharapkan dapat selesai hingga tahun 2013
dengan perkiraan jadwal penyelesaian sebagai berikut :

Keterangan/Tahun 2010 2011 2012 2013


Jumlah BPYBDS 47,35 triliun 19,13 triliun 11,96 triliun 4,79 triliun
Penyelesaian (PMN) 28,22 triliun 7,17 triliun 7,17 triliun 4,79 triliun
Penambahan Baru 0,00 triliun 0,00 triliun 0,00 triliun 0,00 triliun
Saldo BPYBDS 19,13 triliun 11,96 triliun 4,79 triliun 0,00 triliun

117
Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN
guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan, sehingga dapat
memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan
layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan
privatisasi. Restrukturisasi meliputi restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya
disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau peraturan peundang-undangan dan
restrukturisasi perusahaan/korporasi.
Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program
restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam, dan
dilakukan regrouping/konsolidasi, untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang
lebih ideal. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan
mayoritas Negara pada suatu BUMN, profil sektoral, kinerja, penciptaan nilai dan potensi
sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD
1945.
Cara atau model dalam rangka rightsizing BUMN dapat dilakukan melalui
berbagai shareholder action, yaitu Stand Alone, Merger/Konsolidasi, Holding, Divestasi
dan Likuidasi.
Skenario hasil rightsizing BUMN dalam kurun waktu 2010 – 2014, diharapkan
jumlah BUMN pada tahun 2010 menjadi ± 117 BUMN, pada tahun 2011 menjadi ± 102
BUMN, tahun 2012 menjadi ± 91 BUMN, tahun 2013 menjadi ± 85 BUMN dan tahun
2014 menjadi ± 78 BUMN.
Restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang
berkesinambungan dari tahun ke tahun dalam rangka terus memperbaiki kinerja dan
meningkatkan nilai perusahaan dan dituangkan dalam RKAP setiap BUMN setiap
tahunnya. Selain itu, terhadap perusahaan yang mengalami kerugian dan kesulitan
keuangan serta operasional, restrukturisasi dilakukan oleh PT PPA sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang
Pengelolaan Aset.
Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan
sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor
PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan
Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero)

118
PT Perusahaan Pengelola Aset. Dengan dilakukannya restrukturisasi perusahaan/korporasi
oleh PT PPA, diharapkan sampai dengan akhir tahun 2014 seluruh BUMN yang
mengalami kerugian dan memiliki permasalahan keuangan dan operasional telah
menunjukkan perbaikan kinerja dan tidak ada lagi BUMN yang mengalami kerugian.
Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya,
kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar
manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas kepemilikan saham oleh
masyarakat.
Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN,
tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan
metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Disamping juga untuk lebih
mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.
Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar
modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. Metode ini terutama digunakan
untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi
dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis,
manajemen dan pemasaran. Selain itu, privatisasi juga dilakukan dalam rangka program
restrukturisasi dan rightsizing BUMN. Dalam kurun waktu 5 tahun ke depan terdapat 36
BUMN yang akan diprivatisasi.
Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010
– 2014 (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN
hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil), diharapkan akan terjadi peningkatan
kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut :
1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi
Rp 2.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5,28 kali).
2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2.149 Triliun pada tahun 2009 menjadi
Rp 11.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5,39 kali).
Dalam kaitan dengan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO),
Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. 19 tahun
2003 tentang BUMN, dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan
Pemerintah) PSO, khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP)
tentang pengusulan/penugasan PSO, pelaksanaan PSO, dan pertanggungjawaban

119
pelaksanaan PSO; aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO;
dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. Selain itu, perlu
dilakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan
komersial BUMN secara keseluruhan, sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan PSO.
Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset,
baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Dalam pelaksanaan
tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut, Kementerian BUMN telah membangun
sistem Bank Data Aset.
Data dan informasi yang lengkap, akurat, tajam dan terpercaya akan menjadi
pendukung think tank pengambilan keputusan di Kementerian BUMN. Untuk mencapai
hal tersebut, maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara
lengkap, akurat, dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas
dalam pengumpulan, pengolahan, dan pendokumentasiannya.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN
diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan
reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di
lingkungan Kementerian BUMN. Terkait dengan tujuan tersebut, implementasi teknologi
informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian,
meningkatkan efisiensi dan efektivitas, dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip
penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain
seperti transparansi, akuntabilitas, dan kewajaran. Selain itu, dengan implementasi
teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi
dengan murah, cepat, tepat, lengkap, konsisten, terkini, dan mudah diperoleh, sehingga
dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat.
BPYBDS pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang
sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN yang diserahkankelolakan kepada
BUMN, sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang
diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas,
karena belum ada penetapan secara legal. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi
permodalan BUMN, status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan
Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan.

120
BAB V
KESIMPULAN

1. Keberadaan serta Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN


Sesuai dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar Tahun 1945 Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional
disamping Koperasi dan Swasta. BUMN pada dasarnya memiliki potensi yang sangat
besar namun belum termanfaatkan secara optimal, antara lain: (a) keberadaan BUMN di
hampir semua sektor usaha, (b) kepemilikan aset yang besar, (c) brand image BUMN, (d)
pengalaman usaha BUMN, (e) profesionalisme SDM, dan (f) penguasaan data, informasi
dan teknologi informasi. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang
Badan Usaha Milik Negara, BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan: a) memberikan
sumbangan bagi perkembangan perekonomian Nasional pada umumnya dan penerimaan
Negara pada khususnya; b) mengejar keuntungan; c) menyelenggarakan kemanfaatan
umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi
pemenuhan hajat hidup orang banyak; d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang
belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi; dan e) turut aktif memberikan
bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan
masyarakat.

2. Perkembangan Kinerja BUMN 2005-2009


Jumlah BUMN sampai dengan saat iniadalah sebanyak 141 BUMN terdiri dari
15 BUMN Tbk, 112 BUMN Persero dan 14 BUMN Perum. Kinerja seluruh BUMN
selama waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari
pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1.291,25 Triliun dan Rp 370,06
Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.150,03 Triliun dan Rp 566,03 Triliun pada tahun
2009. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp
82,57 Triliun dan Rp 25,77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110,78 Triliun dan Rp
72,84 Triliun pada tahun 2009. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return
on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3,15% dan 11,20%.

121
3. Kontribusi BUMN 2005-2009

Dalam kurun waktu 2005-2009, BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif
besar kepada Negara, baik berupa dividen, Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor
riil. Rata-rata dividen BUMN sebesar Rp 23,04 Triliun per tahun dengan peningkatan rata-
rata sekitar 25% per tahun. Sedangkan kontribusi pajak dalam periode 2004-2008
mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan
sumbangan rata rata sebesar Rp 61,65 Triliun per tahun.

Kontribusi/peran dari 15 BUMN yang sudah masuk Pasar Modal (BUMN Tbk)
pada dasarnya juga relatif besar jika dilihat dari penguasaan/kapitalisasi pasar per 30
Desember 2009 yang mencapai 31,57% atau senilai Rp 637,48 Triliun dari total
kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui


Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dalam kurun waktu 2005-2009 penyaluran dana
Program Kemitraan sebesar Rp 8,56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai
dengan tahun 2009 mencapai 640.417 orang/unit kerja. Sedangkan dana Bina Lingkungan
yang telah disalurkan BUMN seluruhnya mencapai sebesar Rp 1,98 Triliun.

4. Pelaksanaan Master Plan 2005-2009

Dalam pelaksanaan Master Plan 2005-2009 banyak upaya-upaya yang telah


dilakukan Kementerian BUMN meskipun belum memberikan hasil yang optimal. Kegiatan
restrukturisasi melalui regrouping/konsolidasi sektoral untuk mendapatkan jumlah dan
skala BUMN yang ideal (rightsizing) sampai dengan akhir 2009 belum berhasil, dalam
artian bahwa rencana rightsizing BUMN menjadi 69 pada tahun 2009 belum dapat
dilaksanakan. Meskipun demikian Kementerian BUMN dibantu oleh konsultan
independen telah banyak menghasilkan kajian-kajian dan alternatif model terkait dengan
rencana rightsizing dimaksud. Kementerian BUMN juga telah melakukan kajian terhadap
25 BUMN besar dengan pendapatan, laba, aset dan ekuitas terbesar selama kurun waktu
2005-2009, dan kajian tentang kemungkinan pembentukan Super Holding dengan 3
alternatif pendekatan. Selain itu, Restrukturisasi korporasi, terutama terhadap BUMN yang
ditangani/diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) juga belum
berjalan secara baik. Dari 17 BUMN yang diserahkan kepada PT PPA, pelaksanaannya

122
tidak dapat berjalan secara cepat sebagaimana yang diharapkan, sehingga banyak BUMN
yang tidak bisa segera pulih dari kesulitan yang dihadapinya.

Selanjutnya untuk pelaksanaan program Privatisasi, hingga akhir tahun 2009 baru
terdapat 15 BUMN yang Go Public (menjual sahamnya melalui Pasar Modal) atau baru
sekitar 11% dari jumlah BUMN yang ada. Meskipun demikian Kementerian BUMN telah
melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan
Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN), PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry
over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun
2008). Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada
tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006.

Kemudian terkait dengan program Optimalisasi Aset BUMN Kementerian


BUMN telah membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset
pada tahun 2006. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebijakan
Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas
kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi
dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko.

5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN 2010-2014


Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 pada dasarnya
masih melanjutkan atau memantapkan program restrukturisasi, revitalisasi dan profitisasi
BUMN secara bertahap dan berkesinambungan, guna mencapai jumlah dan skala BUMN
yang ideal (rightsizing) sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan,
memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara.
Arah kebijakan tersebut sejalan Visi dan Misi Presiden untuk masa pemerintahan
periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan” dan
sejalan dengan Visi Kementerian BUMN yaitu “Meningkatnya peran BUMN sebagai
instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme
korporasi”. Arah kebijakan pembinaan BUMN kedepan juga diselaraskan dengan bidang-
bidang yang menjadi perhatian utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014.
Adapun arah kebijakan pembinaan BUMN tahun 2010-2014 adalah sebagai
berikut :

123
a. Terkait Program Restrukturisasi
Restrukturisasi Sektoral pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor
dan/atau Peraturan Perundang-undangan yang ada, dan Restrukturisasi
Perusahaan/Korporasi diarahkan untuk meningkatkan intensitas persaingan usaha, menata
hubungan antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, dan
restrukturisasi secara internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen,
operasional, sistem dan prosedur.
Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan skala
BUMN yang ideal (rightsizing) dengan skenario hasil rightsizing diharapkan menghasilan
jumlah BUMN sebagai berikut : a) tahun 2010 sebanyak +117 BUMN; b) tahun 2011
sebanyak +102 BUMN; c) tahun 2012 sebanyak +91 BUMN; d) tahun 2013 sebanyak
+85 BUMN; dan e) tahun 2014 sebanyak +78 BUMN.

b. Terkait Program Privatisasi


Arah kebijakan privatisasi ke depan adalah bahwa privatisasi bukan semata-mata
untuk pemenuhan APBN, tetapi diprioritaskan guna mendukung pengembangan
perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal (Initial Public
Offering/IPO). Privatisasi dilakukan dalam rangka mendukung program restrukturisasi dan
rightsizing BUMN, yang pelaksanaannya dilakukan melalui kriteria-kriteria tertentu
sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan
Peraturan Pemerintah 33 tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2009.
Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode yaitu: a) Penjualan
Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal; b) Penjualan Saham Langsung kepada
Investor/Strategic Sale (SS); dan c) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau
Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO). Dalam kurun waktu 2010-2014
Kementerian BUMN diharapkan dapat melakukan privatisasi terhadap sekitar 36 BUMN.

c. Terkait Program PSO


Kementerian BUMN akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66
UU No. 19 tahun 2003 tentang BUMN, dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan
(Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat
berjalan secara transparan, fair, dan bertanggung jawab dengan melakukan pemisahan
pembukuan antara kegiatan PSO dan kegiatan komersial.

124
d. Terkait Program Optimalisasi Asset
Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk restrukturisasi aset,
baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Dalam pelaksanaan
tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut, Kementerian BUMN telah membangun
sistem Bank Data Aset.

e. Terkait Program Pengembangan Data, Informasi dan Teknologi


Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi
yang lengkap, akurat, tajam dan terpercaya serta menjadi think tank pengambilan
keputusan Kementerian BUMN. Kementerian BUMN diharapkan dapat menjadi pusat
penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan
BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. Selanjutnya pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat
terwujudnya program tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik, sehingga
diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana
teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN

6. 25 BUMN Terbesar, Penguasaan Pasar BUMN Terbuka dan Value Creation


Dari 141 BUMN yang dimiliki Negara, ternyata 25 BUMN terbesar menguasai
97,16% dari total asset, 91,73% dari total Ekuitas, 86,69% dari total penjualan dan 98,11%
dari total laba bersih seluruh BUMN. Selanjutnya untuk 15 BUMN yang sudah go public
(Tbk) menguasai 46,14% dari total asset, 25,99% dari total Ekuitas, 12,82% dari total
penjualan dan 36,71% dari total laba bersih seluruh BUMN. Ditambahkan pula bahwa
penguasaan/kapitalisasi pasar BUMN Tbk per 30 Desember 2009 yang mencapai 31,57%
atau senilai Rp 637,48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Arah kebijakan pembinaan
BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 untuk tetap melanjutkan/memantapkan program
restrukturisasi, revitalisasi dan profitisasi BUMN guna mencapai jumlah dan skala BUMN
yang ideal (rightsizing) pada dasarnya sudah sangat tepat, guna mendukung peningkatan
kinerja dan peningkatan nilai perusahaan, serta peningkatan kontribusi berupa dividen dan
pajak kepada Negara.
Diharapkan pada tahun 2014 nanti nilai perusahaan (value creation) dari BUMN
dari sisi ekuitas mencapai Rp 2.986 Triliun dan dari sisi asset mencapai Rp 11.583 Triliun

125
dari posisi awal tahun 2010 masing-masing sebesar Rp 370,06 Triliun dan Rp 1.291,25
Triliun atau meningkat sekitar 5,39 kali.

7. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pelaksanaan Master


Plan BUMN 2010-2014
a. Master Plan BUMN 2005-2009 walaupun telah mendapatkan legitimasi dari
pimpinan pemerintahan tertinggi (Inpres Nomor 5 Tahun 2008), namun tetap perlu
menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait untuk mengimplementasikannya. Untuk
itu Master Plan BUMN 2010-2014 perlu mendapatkan legitimasi lebih dini dari
pimpinan tertinggi pemerintahan sehingga akan menjadikan perhatian semua pihak
yang terkait untuk melaksanakannya. Di samping itu, perlunya sosialisasi yang
intensif guna menyamakan persepsi mengenai tujuan dari pelaksanaan rightsizing
BUMN.

b. Pelaksanaan program restrukturisasi baik sektoral maupun korporasi tidak hanya


melibatkan Kementerian BUMN, namun juga melibatkan Kementerian Keuangan
dan Kementerian Teknis serta DPR-RI. Dengan demikian penyelesaian proses
restrukturisasi harus melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan dan relatif
membutuhkan waktu yang lebih lama/panjang, sehingga permasalahan yang
dihadapi BUMN tidak serta merta segera dapat diatasi.

c. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak sangat


memberatkan keuangan BUMN sehingga memerlukan adanya ketegasan
penanganan dari dampak perpajakan tersebut.

d. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan dari Komite


Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan memerlukan waktu yang relatif
lama, sehingga sering kehilangan momentum pelaksanaannya di samping dapat
muncul resistensi dari stakeholder yang menghambat pelaksanaan privatisasi.

e. Perlunya sinkronisasi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan


kegiatan BUMN sehingga tidak saling bertentangan antara peraturan yang satu
dengan yang lainnya.

f. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata


kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang

126
ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori
Baik.

g. Pelaksanaan PSO sangat tergantung dari kebijakan Kementerian Teknis mengingat


DIPA PSO melekat pada Kementerian Teknis dimana BUMN beroperasi.

h. Implementasi Portal Kementerian BUMN belum optimal dan penyediaan Data dan
Informasi dari laporan BUMN yang terintegrasi perlu terus peningkatan.

i. Perlunya dukungan internal Kementerian BUMN dan seluruh pemangku


kepentingan (stakeholders) untuk pelaksanaan Master Plan 2010-2014.

127
LAMPIRAN
1. Pokok-pokok Data Keuangan BUMN Berdasarkan Sektor

2. Value Creation

3. Data BUMN 25 Besar

4. Data BUMN yang telah Listing di Bursa Efek

5. Peraturan yang terkait dengan Pembinaan BUMN

6. Program Kemitraan & Bina Lingkungan

7. Rencana Rightsizing dan Privatisasi Tahun 2005-2009

8. Matriks Penanganan Restrukturisasi Korporasi oleh PT PPA

9. Data BUMN Penyelenggara PSO

10. Program Berkesinambungan Teknologi Informasi Tahun 2006 - 2009

11. Master Plan Teknologi Informasi 2010 - 2014


LAMPIRAN 1

POKOK-POKOK DATA KEUANGAN


BUMN BERDASARKAN SEKTOR
Rp. Juta
No SEKTOR Akun 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
Total Aset 563.054.282 624.234.048 742.855.386 851.248.814 938.427.310
Ekuitas 49.943.503 59.774.023 68.688.364 71.380.184 85.509.644
I PERBANKAN Pendapatan 61.602.709 68.186.406 75.877.567 88.039.178 91.391.359
Laba Bersih 6.263.393 8.969.481 10.484.173 13.576.186 16.025.677
ROA (%) 1,11% 1,44% 1,41% 1,59% 1,71%
ROE (%) 12,54% 15,01% 15,26% 19,02% 18,74%
DER (X) 10,27 9,44 9,81 10,93 9,97
Total Aset 69.561.960 86.219.343 105.450.022 133.828.033 147.076.592
Ekuitas 6.690.292 9.719.298 12.026.606 12.327.440 18.793.500
II ASURANSI Pendapatan 15.815.546 21.341.422 25.212.022 33.622.612 36.455.403
Laba Bersih 1.728.015 2.318.960 2.606.968 3.291.739 4.548.966
ROA (%) 2,48% 2,69% 2,47% 2,46% 3,09%
ROE (%) 25,83% 23,86% 21,68% 26,70% 24,20%
DER (X) 9,40 7,87 7,77 9,86 6,83
Total Aset 11.974.288 13.711.267 16.943.413 22.133.573 30.553.607
III JASA KEUANGAN Ekuitas 1.423.014 1.963.253 3.025.047 5.218.840 7.076.563
Pendapatan 2.661.342 3.107.638 3.543.823 4.198.697 5.380.300
Laba Bersih 520.676 767.030 754.749 973.257 1.010.009
ROA (%) 4,35% 5,59% 4,45% 4,40% 3,31%
ROE (%) 36,59% 39,07% 24,95% 18,65% 14,27%
DER (X) 7,41 5,98 4,60 3,24 3,32
Total Aset 10.672.501 12.499.312 16.274.265 20.768.360 23.116.379
IV JASA KONSTRUKSI Ekuitas 1.482.430 1.607.573 2.737.117 3.159.503 3.763.908
Pendapatan 13.478.513 16.163.158 19.361.457 25.324.570 29.843.766
Laba Bersih 254.734 295.231 417.257 512.082 657.933
ROA (%) 2,39% 2,36% 2,56% 2,47% 2,85%
ROE (%) 17,18% 18,37% 15,24% 16,21% 17,48%
DER (X) 6,20 6,78 4,95 5,57 5,14
Total Aset 2.240.055 2.548.070 3.147.972 3.342.452 3.627.184
V INDUSTRI FARMASI Ekuitas 1.556.985 1.665.878 1.828.228 2.017.965 2.321.245
Pendapatan 2.934.173 3.832.050 4.384.238 4.989.103 5.083.027
Laba Bersih 117.766 145.208 180.034 198.810 267.279
ROA (%) 5,26% 5,70% 5,72% 5,95% 7,37%
ROE (%) 7,56% 8,72% 9,85% 9,85% 11,51%
DER (X) 0,44 0,53 0,72 0,66 0,56
Rp. Juta
No SEKTOR Akun 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
Total Aset 876.741 804.468 778.308 874.226 971.543
VI ANEKA INDUSTRI Ekuitas 214.944 119.302 47.261 45.168 (65.832)
Pendapatan 658.648 554.513 557.661 441.221 473.101
Laba Usaha (30.697) (69.468) (51.121) (97.095) -
Laba Bersih (53.432) (94.117) (72.014) (158.210) (97.948)
ROA (%) -6,09% -11,70% -9,25% -18,10% -10,08%
ROE (%) -24,86% -78,89% -152,38% -350,27% 148,78%
DER (X) 3,08 5,74 15,47 18,35 (15,76)
Total Aset 1.862.744 1.844.286 1.882.827 1.975.317 2.194.730
Ekuitas 992.286 1.033.394 977.377 1.035.817 784.543
VII PERUMAHAN & Pendapatan 614.335 541.794 569.469 795.642 547.035
KAWASAN INDUSTRI Laba Bersih 66.319 59.479 (44.540) 69.965 79.056
ROA (%) 3,56% 3,23% -2,37% 3,54% 3,60%
ROE (%) 6,68% 5,76% -4,56% 6,75% 10,08%
DER (X) 0,88 0,78 0,93 0,91 1,80
Total Aset 20.838.857 22.745.403 26.236.458 29.773.930 30.310.131
VIII Sarana Angkutan dan Ekuitas 8.455.946 8.558.845 6.094.218 8.957.672 11.550.057
Pariwisata Pendapatan 19.756.565 20.900.200 23.421.342 30.915.881 29.242.802
Laba Bersih (1.078.189) (641.928) (259.700) (67.269) 1.232.228
ROA (%) -5,17% -2,82% -0,99% -0,23% 4,07%
ROE (%) -12,75% -7,50% -4,26% -0,75% 10,67%
DER (X) 1,46 1,66 3,31 2,32 1,62
Total Aset 29.756.136 31.581.510 39.905.883 44.119.357 48.430.061
IX Prasarana Angkutan Ekuitas 18.156.546 20.156.595 27.771.345 31.167.157 33.925.330
Pendapatan 9.220.220 10.170.750 11.544.916 13.885.706 14.976.955
Laba Bersih 2.224.508 2.168.984 2.669.753 3.818.881 3.534.367
ROA (%) 7,48% 6,87% 6,69% 8,66% 7,30%
ROE (%) 12,25% 10,76% 9,61% 12,25% 10,42%
DER (X) 0,64 0,57 0,44 0,42 0,43
Total Aset 19.061.184 17.164.292 22.581.622 24.702.243 24.055.692
X LOGISTIK DAN JASA Ekuitas 7.397.124 7.051.687 7.569.082 5.243.791 4.730.631
SERTIFIKASI Pendapatan 14.438.575 13.020.885 16.421.619 23.966.967 28.766.245
Laba Bersih (28.672) 63.687 201.019 153.864 (493.168)
ROA (%) -0,15% 0,37% 0,89% 0,62% -2,05%
ROE (%) -0,39% 0,90% 2,66% 2,93% -10,42%
DER (X) 1,58 1,43 1,98 3,71 4,09
Rp. Juta
No SEKTOR Akun 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
Total Aset 21.686.263 24.024.230 29.148.790 34.817.283 37.221.838
XI PERKEBUNAN Ekuitas 7.288.544 7.688.783 9.915.193 12.124.789 13.338.934
Pendapatan 20.708.684 21.392.560 27.947.074 33.328.532 33.212.420
Laba Bersih 1.236.507 1.003.547 2.474.774 2.929.335 1.803.400
ROA (%) 5,70% 4,18% 8,49% 8,41% 4,85%
ROE (%) 16,97% 13,05% 24,96% 24,16% 13,52%
DER (X) 1,98 2,12 1,94 1,87 1,79
Total Aset 2.652.404 2.746.187 2.712.451 2.681.087 2.660.510
XII KEHUTANAN Ekuitas 2.054.601 2.055.379 1.934.810 1.904.732 1.894.671
Pendapatan 1.587.490 1.814.031 2.352.597 2.603.839 2.530.760
Laba Bersih 41.104 45.043 37.487 118.131 103.736
ROA (%) 1,55% 1,64% 1,38% 4,41% 3,90%
ROE (%) 2,00% 2,19% 1,94% 6,20% 5,48%
DER (X) 0,29 0,34 0,40 0,41 0,40
Total Aset 102.304 147.613 197.204 198.112 202.116
XIII PERIKANAN Ekuitas 82.592 (77.037) (16.463) (21.457) (22.224)
Pendapatan 72.472 103.459 98.232 123.294 156.563
Laba Bersih (1.263) (15.955) (11.907) (253) 2.223
ROA (%) -1,23% -10,81% -6,04% -0,13% 1,10%
ROE (%) -1,53% 20,71% 72,33% 1,18% -10,00%
DER (X) 0,24 (2,92) (12,98) (10,23) (10,09)
Total Aset 2.964.367 3.130.927 3.862.694 3.863.871 3.743.045
XIV KERTAS, PERCETAKAN Ekuitas 347.771 241.728 616.929 492.071 294.163
& PENERBITAN Pendapatan 1.818.628 1.717.406 2.482.568 2.578.222 2.581.518
Laba Bersih (110.565) (123.653) 47.289 (16.344) (145.319)
ROA (%) -3,73% -3,95% 1,22% -0,42% -3,88%
ROE (%) -31,79% -51,15% 7,67% -3,32% -49,40%
DER (X) 7,52 11,95 5,26 6,85 11,72
Total Aset 20.646.942 21.553.074 24.586.399 33.296.701 32.994.934
XV PENUNJANG Ekuitas 8.568.255 9.098.299 11.148.122 12.601.730 15.529.732
PERTANIAN Pendapatan 17.224.337 17.073.962 24.473.379 39.126.581 39.297.837
Laba Bersih 868.136 897.935 1.719.806 2.184.835 2.049.956
ROA (%) 4,20% 4,17% 6,99% 6,56% 6,21%
ROE (%) 10,13% 9,87% 15,43% 17,34% 13,20%
DER (X) 1,41 1,37 1,21 1,64 1,12
Rp. Juta
No SEKTOR Akun 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009
Total Aset 197.834.182 225.610.789 279.771.590 321.841.157 329.413.225
XVI PERTAMBANGAN DAN Ekuitas 81.918.469 134.420.344 161.505.091 169.361.679 171.453.926
SEMEN Pendapatan 329.958.353 371.854.949 420.952.937 585.867.650 374.807.089
Laba Bersih 9.069.349 22.081.547 33.186.800 35.566.054 19.496.734
ROA (%) 4,58% 9,79% 11,86% 11,05% 5,92%
ROE (%) 11,07% 16,43% 20,55% 21,00% 11,37%
DER (X) 1,42 0,68 0,73 0,90 0,92
Total Aset 15.982.193 18.305.011 19.790.843 24.724.658 22.169.961
XVII INDUSTRI STRATEGIS Ekuitas 3.566.036 4.404.781 4.364.670 4.646.064 4.823.251
Pendapatan 15.062.416 15.780.303 18.638.017 25.398.892 21.274.755
Laba Bersih 228.707 (237.971) (181.194) 373.554 400.863
ROA (%) 1,43% -1,30% -0,92% 1,51% 1,81%
ROE (%) 6,41% -5,40% -4,15% 8,04% 8,31%
DER (X) 3,48 3,16 3,53 4,32 3,60
Total Aset 236.310.016 266.199.786 297.965.615 322.428.217 376.484.955
XVIII ENERGI Ekuitas 146.049.529 147.756.069 145.186.024 138.119.760 151.239.966
Pendapatan 85.011.144 114.944.477 127.013.989 184.268.485 166.361.897
Laba Bersih (3.588.986) 452.330 (3.758.415) (9.962.804) 13.040.486
ROA (%) -1,52% 0,17% -1,26% -3,09% 3,46%
ROE (%) -2,46% 0,31% -2,59% -7,21% 8,62%
DER (X) 0,62 0,80 1,05 1,33 1,49
Total Aset 63.176.678 76.301.596 83.230.795 92.500.325 96.378.922
XIX TELEKOMUNIKASI Ekuitas 23.871.848 28.651.835 34.276.989 34.847.399 38.092.656
Pendapatan 42.528.270 52.220.931 60.496.862 62.020.947 48.617.237
Laba Bersih 8.012.347 11.017.141 12.854.898 10.623.901 9.324.478
ROA (%) 12,68% 14,44% 15,44% 11,49% 9,67%
ROE (%) 33,56% 38,45% 37,50% 30,49% 24,48%
DER (X) 1,65 1,66 1,43 1,65 1,53

Total Aset 1.291.254.098 1.451.371.212 1.717.322.536 1.969.117.714 2.150.032.735


Ekuitas 370.060.716 445.890.031 499.696.008 514.630.305 565.034.664
TOTAL Pendapatan 655.152.420 754.720.896 865.349.769 1.161.496.020 931.000.069
Laba Bersih 25.770.454 49.171.979 63.307.236 64.185.713 72.840.956
ROA (%) 2,00% 3,39% 3,69% 3,26% 3,39%
ROE (%) 6,96% 11,03% 12,67% 12,47% 12,89%
DER (X) 2,49 2,25 2,44 2,83 2,81
LAMPIRAN 2

VALUE CREATION SEKTOR BUMN


Value Creation
NILAI PERUSAHAAN (Rp. Miliar)

No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN

PER 2010 =20.75 dan asumsi


1 Perbankan 332,533 399,039 478,847 574,617 689,540
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =9.07 dan asumsi


2 Asuransi 41,271 49,525 59,430 71,316 85,580
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =9.82 dan asumsi


3 Jasa Pembiayaan 10,559 12,670 15,204 18,245 21,894
pertumbuhan laba 20% per tahun

Percetakan & PER 2010 =12.98 dan asumsi


4 1,784 2,141 2,569 3,083 3,699
Penerbitan pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =47.99 dan asumsi


5 Perikanan 107 128 154 184 221
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =34.02 dan asumsi


6 Kehutanan 3,529 4,235 5,082 6,098 7,318
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =12.04 dan asumsi


7 Perkebunan 21,713 26,056 31,267 37,520 45,024
pertumbuhan laba 20% per tahun

Logistik dan PER 2010 =32.45 dan asumsi


8 6,603 7,924 9,509 11,410 13,693
Sertifikasi pertumbuhan laba 20% per tahun

8
KEDEPUTIAN RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI 3
Value Creation … Lanjutan
NILAI PERUSAHAAN (Rp. Miliar)

No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN


PER 2010 =16.2 dan asumsi
9 Konstruksi 11,303 13,563 16,276 19,531 23,437
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =59.9 dan asumsi


10 Kawasan Industri 3,392 4,070 4,884 5,861 7,033
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =20.23 dan asumsi


11 Aneka industri 8,025 9,630 11,556 13,867 16,640
pertumbuhan laba 20% per tahun

Sarana Angkutan & PER 2010 =25.76 dan asumsi


12 33,111 39,734 47,680 57,217 68,660
Pariwisata pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =16.97 dan asumsi


13 Prasarana Angkutan 57,968 69,562 83,474 100,169 120,203
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =34.67 dan asumsi


14 Penunjang Pertanian 71,072 85,286 102,344 122,812 147,375
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =48.03 dan asumsi


15 Pertambangan 197,247 236,697 284,036 340,843 409,012
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =18.03 dan asumsi


16 Industri Strategis 13,298 15,957 19,149 22,978 27,574
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =17.66 dan asumsi


17 Energi 502,143 602,571 723,085 867,702 1,041,243
pertumbuhan laba 20% per tahun

PER 2010 =13.33 dan asumsi


18 Telekomunikasi 124,313 149,175 179,010 214,812 257,774
pertumbuhan laba 20% per tahun

1,439,969 1,727,963 2,073,556 2,488,267 2,985,920


Kesimpulan Value Creation BUMN
2009 2010 2011 2012 2013 2014

Aset BUMN 2.150,00 11.582,54


Ekuitas 566,03 2.985,92
Hutang 1.629,60 8.596,61
DER 2.88x 2.88x

Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp.566T pada tahun 2009


menjadi Rp.2.986 T pada tahun 2014
(meningkat 5,28x)

Aset BUMN akan meningkat dari Rp.2.150T pada tahun 2009


menjadi Rp.11.583 T pada tahun 2014
(meningkat 5,39x)

(Dengan asumsi DER sama dengan posisi 2009 yaitu 2,88 x)


LAMPIRAN 3

DATA BUMN 25 BESAR


Coverage 25 BUMN Besar
Dari 141 BUMN, sebagian besar adalah perusahaan dengan Kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Lebih dari
97% dari Total ASET dan LABA BERSIH serta 92% EKUITAS dan 87% PENJUALAN seluruh BUMN berasal dari
hanya dari 25 BUMN terbesar (data Audited 2008).

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap Total


(Rp. Trilliun)

Aset Ekuitas Penjualan Laba bersih


Total 2008 1,977.80 526.13 1,161.71 78.47
% 46.14 25.99 12.82 36.71
14 Tbk Σ 912.56 136.74 148.93 28.81
%
25 BUMN 97.16 91.73 86.69 98.11
Σ 1,921.63 482.62 1,007.09 76.99
25 BUMN Terbesar 14 BUMN Tbk
1. PT Pertamina * 14. PT Jamsostek 1. PT Bank Mandiri Tbk 11. PT Kimia Farma Tbk
2. PT Bank Mandiri Tbk 15. PT TB Bukit Asam Tbk 2. PT Telkom Tbk 12. PT Indo Farma Tbk
3. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 16. PT Taspen 3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 13. PT Adhi Karya Tbk
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 17. Perum Bulog * 4. PT Bank Negara Indonesia Tbk 14. PT Wijaya Karya Tbk
5. PT Pupuk Sriwidjaja * 18. PT Jasa Marga Tbk 5. PT PGN Tbk
6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 19. PT Pelabuhan Indonesia II 6. PT Aneka Tambang Tbk
7. PT PGN Tbk 20. PT Bank Ekspor Indonesia 7. PT Semen Gresik Tbk
8. PT Aneka Tambang Tbk 21. PT Angkasa Pura II 8. PT Timah Tbk
9. PT Semen Gresik Tbk 22. PT Angkasa Pura I 9. PT TB Bukit Asam Tbk
10. PT Krakatau Steel 23. PT Garuda Indonesia 10. PT Jasa Marga Tbk
11. PT Askes 24. PT Kereta Api Indonesia * Catatan:
12. PT Timah Tbk 25. PT PLN * * BUMN Pelaksana PSO (5 yang lainnya yaitu PELNI, Sang
13. PT Bank Tabungan Negara Hyang Seri, Pertani, POS dan Antara)
Breakdown Figur Keuangan Pokok

Breakdown Berdasarkan Aset


BUMN Aset <1 T
72 BUMN Kecil Lainnya
DI, PNM, Waskita, Askrindo, PTPN II, Hutama, Jasindo, PTPN
XIII, Peruri, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN X, KF, Perhutani,
28 BUMN Pelindo I, ASDP, PANN, PTPN XI, PTPN IX, Jamkrindo, Kertas Aset 1 T -- <2,5 T
Leces, Perumnas, Pelindo IV, PPI, Djakarta Lloyd, Nindya,
MNA, PTPN XII

SGG, AP I, AP II, KAI, Pelindo II, Askes, Timah, Pelni, Wika, PTBA,
23 BUMN PTPN III, PTPN IV, Adhi Karya, Asabri, Posindo, Pelindo III, RNI, Aset 2,5 T -- <10 T
Danareksa, PAL, PTPN VII, PTPN V, PT PP, Jasa Raharja

14 BUMN
Telkom, Jamsostek, BTN, Pusri, Taspen, PGN, Bulog, KS, Jasa Aset 10 T -- <100 T
Marga, GIA, BEI, Jiwasraya, Pegadaian, Antam,

5 BUMN Bank Mandiri, Pertamina, PLN, BRI, BNI Aset > 100 T

Breakdown Berdasarkan Pendapatan


84 BUMN BUMN Pendapatan <1 T
Kecil Lainnya
Posindo, Jiwasraya, Pelindo II, Pelindo III, Perhutani, MNA,
23 BUMN AP II, Pelni, I, Jasa Raharja, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN II,
Pendapatan 1 T -- <2,5 T
PTPN XI, Peruri, PTPN X, Indo Farma, PTPN IX, PPI, SHS,
Nindya Karya, Sucofindo, BEI

23 BUMN Antam, Timah, Jamsostek, PTBA, Adhi Karya, Taspen, Askes, Wika, KAI, PTPN
III, BTN, PTPN IV, PP, PTPN V, PTPN VII, RNI, Jasindo, Waskita, Pegadaian, Jasa
Pendapatan 2,5 T -- <10 T
Marga, Hutama, PTPN XIII, KF

10 BUMN Pendapatan 10 T -- <100 T


Telkom, Pusri, BRI, Mandiri, KS, Bulog, GIA, BNI, SGG, PGN

2 BUMN Pendapatan>100T
Pertamina, PLN

NO COPY ALLOWED
Breakdown Figur Keuangan Pokok (Lanjutan)

Breakdown Berdasarkan Ekuitas


53 BUMN BUMN Ekuitas <100 M

Kecil Lainnya
PTPN XIII, KF, Peruri, PANN,
Jiwasraya, PPA, Taspen, Jasindo,
51 BUMN Bio farma, PAL, PTPN X, Asabri, PTPN VIII, Danareksa, RNI, Adhi Karya, Ekuitas 100 M -- < 1 T
ASEI, PTPN XII, PTPN VI, Perumnas, PNM, INTI, Sucofindo, PP, PTPN XI,
Waskita, GIA, KBN, Inhutani III, Posindo, Inhutani I, PTPN IX, Hutama,
INAF, Kertas Leces, Semen Baturaja, SI, Inka, Jasa Tirta II, Rukindo,
Garam, BTDC, Pindad, Inhutani II, Dahana, SHS, Berdikari, PTPN II,
Damri, KBI, TWC Borobudur

PGN, Antam, SGG, AP I, Jasa Marga, AP II, KS, PELNI, Pelindo II, BEI, Bulog, PTBA, Timah,
31 BUMN KAI, BTN, Pelindo III, PTPN IV, Askes, PTPN III, Jamsostek, Pegadaian, Askrindo, Jasa
Ekuitas 1 T -- <10 T
Raharja, Wika, ASDP, PTPN VII, Pelindo I, PTPN V, Perhutani, Jamkrindo, Pelindo IV

5 BUMN Ekuitas 10 T -- <100 T


Telkom, Bank Mandiri, BRI, BNI, Pusri
2 BUMN Ekuitas > 100 T
Pertamina, PLN
Breakdown Berdasarkan Laba Bersih
53 BUMN Laba Bersih<10 M
BUMN Kecil Lainnya

43 BUMN PPI, Bulog, PTPN X, PTPN XII, ASDP, PPA, PTPN IX, Waskita, PANN, Askrindo, Hutama,
Sucofindo, ASEI, PTPN II, INKA, Jasa Tirta II, BTDC, BKI, Dahana, Inhutani V, Jiwasraya, KBN,
Danareksa, Damri, KAI, Posindo, PTPN XI, Pindad, SI, KBI, BGR, Brantas, Istaka, KIM,
Laba Bersih 10 M -- < 100 M
Perumnas, Kertas Leces, Jasa Tirta I, Djakarta Lloyd, PNM, SHS, DPS, PTPN I, LEN

Jamsostek, Pelindo II, PTPN III, PTPN IV, Pegadaian, Jasa Marga, KS, Askes, AP II, Pelindo
35 BUMN III, BTN, KF, PTPN V, AP I, Taspen, PTPN VII, BEI, Jasa Raharja, Peruri, RNI, PTPN XIII, Laba Bersih 100M -- <1T
Pelindo I, Asabri, PTPN VIII, Perhutani, Wika, ADHI, GAI, Pelindo IV, PP, PTPN VI, Semen
Baturaja, Jasindo, Bio Farma, Jamkrindo

9 BUMN BRI, Bank Mandiri, PGN, SGG, PTBA, Antam, Timah, Laba Bersih 1T -- <10T
Pusri, BNI
2 BUMN
Pertamina, Telkom Laba Bersih>10T

NO COPY ALLOWED
LAMPIRAN 4

DATA BUMN YANG TELAH LISTING DI


BURSA EFEK
BUMN Yang Telah Listing

1. PT Telkom Tbk 11. PT Kimia Farma Tbk


2. PT Bank Mandiri Tbk 12. PT Indo Farma Tbk
3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 13. PT Adhi Karya Tbk
4. PT Bank Negara Indonesia Tbk 14. PT Wijaya Karya Tbk
5. PT Bank Tabungan Negara Tbk. 15. PT Jasa Marga Tbk
6. PT PGN Tbk 16. PT Pembangunan Perumahan Tbk
7. PT Aneka Tambang Tbk
8. PT Semen Gresik Tbk
8. PT Timah Tbk
9. PT TB Bukit Asam Tbk
RAHASIA & TERBATAS

Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk

Kapitalisasi pasar BUMN Terbuka (Rp triliun) % terhadap total kapitalisasi pasar

700.00 40.23%
630.77 45.00%
636.26
600.00 36.80% 35.87% 40.00%
32.40% 493.00
32.00% 35.00%
500.00
29.60% 30.00%
31.98%
400.00 25.00%
250.00 260.00 386.14
300.00 20.00%
15.00%
200.00
153.00 10.00%
100.00 5.00%
0.00 0.00%
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Catatan : Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk tahun 2005 dan 2006 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Jakarta,
sedangkan Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Tahun 2007, 2008 & 2009 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek
Indonesia

Sumber : diolah dari www.bapepam.go.id

Kementerian Negara BUMN 17


LAMPIRAN 5

PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN


PEMBINAAN BUMN
Pembinaan dan Pengelolaan BUMN

Pembinaan BUMN oleh Menteri Keuangan sebagai Pengalihan/ Pelimpahan Pelimpahan kedudukan, tugas
Pemegang Saham Negara RI / kedudukan, tugas dan
Departemen/ Menteri dan kewenangan Menteri
Pemilik Modal pada BUMN dan kewenangan Menteri
Teknis Keuangan pada Persero,
memegang Kewenangan Pembinaan Keuangan pada Persero, Perum dan Perjan kepada
BUMN Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN
UU No. 19 PRP th1960 Menteri BUMN
tentang Perusahaan PP No. 12 th 1998 tentang
Perusahaan Perseroan;
Negara PP No. 64 th. 2001 PP No. 41 th. 2003
PP No. 13 th 1998 tentang
Perusahaan Umum

(1960-1969) (1998) (2001-2003) (2003-Sekarang)


(1969-1998) (1998-2001) (2003-Sekarang)

UU 19/2003
PP No. 12 th 1969 tentang Perusahaan tentang BUMN
Perseroan; PP No. 50 th 1998; Inpres No. 15
Th 1998; Keppres No. 38/1999; Menteri BUMN adalah pihak
Inpres No. 11 tahun 1973; PP No. 3 th 1983
Keppres No. 39/1999 yang mendapatkan Kuasa dari
tentang Tata Cara Pembinaan dan
Negara/ Pem.Pus selaku
Pengawasan Perusahaan Jawatan,
Pemegang Saham/ Pemilik
Perusahaan Umum dan Perusahaan Modal BUMN (pasal 1 ayat 5)
Perseroan Pengalihan tugas dan
kewenangan Menteri Keuangan
sebagai Pemegang Saham
• Menteri Keuangan sebagai
dalam Perusahaan Perseroan
Pembina Keuangan
(Persero) kepada Menteri
• Menteri Teknis sebagai Pembina
Negara Pendayagunaan BUMN
Teknis

NO COPY ALLOWED
PEMBINAAN BUMN

No. Keterangan Dasar Hukum


1 • Dalam UU 17/2003, kewenangan pengelolaan keuangan Negara, Undang-Undang No.17 Tahun 2003
termasuk kepemilikan kekayaan Negara yang dipisahkan, serta tentang Keuangan Negara
pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan Negara (BUMN)
Undang-Undang No.19 Tahun 2003
dilakukan oleh Menteri Keuangan.
tentang BUMN
• Dalam UU 19/2003, kewenangan sebagai wakil Pemerintah selaku
pemegang saham atau pemilik modal pada BUMN dilakukan oleh Peraturan Pemerintah No.41 tahun
Menteri yang ditunjuk atau dikuasakan untuk itu. 2003
• PP 41/2003 tentang pelimpahan kewenangan Menteri Keuangan pada
persero, Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN.

2 Pembinaan BUMN secara ringkas: Undang-Undang No.19 Tahun 2003


• Bentuk BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Persero dan tentang BUMN
Perum, sedangkan bentuk hukum Perjan ditiadakan.
• Persero ditiadakan untuk mengejar keuntungan sedangkan Perum
dibentuk untuk melaksanakan kemanfaatan umum dalam kerangka
korporasi.
• Pembinaan terhadap Persero dan perum dilakukan oleh Menteri
BUMN dalam kedudukan sebagai pemegang saham/ pemilik modal
BUMN.
• Penatausahaan penyertaan saham/modal pada BUMN, pengusulan
penyertaan modal Negara, pendirian BUMN dan pengalihan bentuk
Perjan dilakukan oleh Menteri Keuangan.
• Penegasan kembali praktek-praktek corporate Governance yang
mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN secara baik
• Penetapan prosedur privatisasi untuk menjammin transparansi dan
persaingan yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik
daru program privatisasi tersebut.

20
PEMBINAAN BUMN

No. Keterangan Dasar Hukum


3 Ketentuan mengenai Good Corporate Governance Peraturan Menteri BUMN Nomor:
PER-8/4/PBI/2006
4 Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris BUMN Peraturan Menteri BUMN Nomor:
PER-03/MBU/2009
Keputusan Menteri BUMN Nomor:
KEP-09A/MBU/2005
KEP-59/MBU/2004
5 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Peraturan Menteri BUMN Nomor:
PER-5/MBU/2007
Keputusan Menteri BUMN Nomor:
KEP-236/MBU/2003

6 Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkuingan BUMN Peraturan Menteri BUMN Nomor:
PER-05/MBU/2008
Surat Menteri BUMN No: S-
298/S.MBU/2007
7 Sinergi BUMN Surat Edaran Menteri BUMN Nomor;
SE-03/MBU.S/2009
8 Privatisasi BUMN Undang-Undang No: 19/2003
Peraturan Pemerintah No: 33/2005
Jo. PP No: 59/2009
Peraturan Menteri BUMN No: 1/2010

9 Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap Instruksi Menteri No: 1&2 Tahun 2002
Keputusan Menteri Keuangan No:
89/KMK.013/1991
21
PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN

No. Keterangan Dasar Hukum

1 Kajian bersama rencana peleburan BUMN oleh Menteri Negara BUMN dan Ps 4 UU No. 19/2003 ttg BUMN
Menteri Keuangan. Kajian Bersama tersebut dapat mengikutsertakan Menteri
Teknis dan/atau Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap Ps 4 - 8 PP No. 45/2005 ttg Pendirian,
perlu dan/atau dapat menggunakan konsultan independen. Pengurusan, Pengawasan dan
Pembubaran BUMN

Ps 10 PP No. 44/2005 ttg Tata cara


penatausahaan dan PMN pada BUMN
dan PT

2 Pembahasan dengan DPR RI dalam rangka mendapatkan persetujuan Ps 45 - 46 UU No. 1/2004 ttg
(Terkait dengan pengalihan kekayaan negara berupa selain tanah dan Perbendaharaan Negara
bangunan yang nialainya lebih dari Rp 100 milyar kedalam perusahaan milik
Negara – UU Perbendaharaan Negara) UU No. 17/2003 ttg Keuangan Negara

3 Menteri Negara BUMN menyampaikan RPP tentang peleburan kepada Ps 11 PP No. 44/2005 ttg Tata cara
Menteri Keuangan untuk diteruskan ke Presiden guna mendapatkan penatausahaan dan PMN pada BUMN
persetujuan. dan PT

4 Menteri Negara BUMN melaksanakan peleburan BUMN setelah diterbitkannya Ps 10 UU No. 19/2003 ttg BUMN
PP mengenai peleburan BUMN Ps 10 PP No. 43/2005 ttg Penggabungan,
Peleburan, Pengambilalihan dan
Perubahan Bentuk Hukum BUMN

5 Tata cara peleburan BUMN dengan BUMN dilakukan sesuai dengan Peraturan PP 43/2005 Pasal 11 ayat (1)
perundang-undangan di bidang perseroan terbatas 22
PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN

No. Keterangan Dasar Hukum

6 Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan menyusun Rancangan UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (1) & (2)
Peleburan
7 Rancangan peleburan tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (3)
dan RUPS masing-masing BUMN

8 Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan wajib mengumumkan ringkasan UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (2) & (3)
rancangan paling sedikit dal 1 Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis
kepada karyawan BUMN yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu
paling lambat 30 hari sebelum pemanggilan RUPS yang di dalamnya juga
memuat bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan
peleburan di Kantor BUMN sejak tanggal pengumuman sampai
penyelenggaraan RUPS

9 Kreditur dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu paling lambat 14 dari UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (4) & (5)
setelah pengumuman. Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditur tidak
mengajukan keberatan dianggap menyetujui peleburan

10 Dalam hal keberatan kreditur tidak dapat diselesaikan oleh Direksi sampai UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (6) & (7)
dengan penyelenggaraan RUPS, maka keberatan tersebut harus disampaikan
dalam RUPS guna mendapat penyelesaian. Selama penyelesaian belum
tercapai, peleburan tidak dapat dilaksanakan.

23
PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN
No. Keterangan Dasar Hukum
11 Rancangan peleburan yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta peleburan UU 40/2007 tt PT Pasal 128 ayat (1)
yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa indonesia dan akta peleburan & (3)
tersebut akan menjadi dasar pembuatan akta pendirian BUMN hasil peleburan

12 Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk UU 40/2007 tt PT


mendapatkan keputusan Menteri Hukum dan Ham mengenai pengesahan badan Pasal 129 & 130
hukum hasil peleburan dan penyampaian pemberitahuan kepada Menteri Hukum
dan Ham tentang perubahan anggaran dasar

13 Direksi BUMN hasil peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 surat UU 40/2007 tt PT Pasal 133 ayat (1)
kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal berlakunya
peleburan

14 Peleburan Persero terbuka dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan PP 43/2005 Pasal 46


perundang-undangan di bidang pasar modal
15 • Merger & Akuisisi tidak boleh mengakibatkan monopoli dan atau persaingan Undang-undang No. 5/1999 tentang
usaha tidak sehat (ps. 28). Larangan Praktek Monopoli Dan
• Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membatalkan M&A yang Persaingan Tidak Sehat tanggal 5
mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. 47:2.e). Maret 1999
• Pelanggaran terhadap ps. 28 juga diancam pidana denda min. Rp. 25 milyar dan
max. Rp. 100 milyar atau pidana kurungan pengganti denda max. 6 bulan (ps.
48:1).
• Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha atau
larangan untuk menjadi direktur atau komisaris min. 2 tahun dan max. 5 tahun
(ps. 49).

Pasal 28 dan Pasal 29 UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat tidak bisa dilaksanakan karena belum adanya PP (Peraturan Pemerintah).

24
PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN

No. Keterangan Dasar Hukum

16 Perbankan : Untuk dapat memperoleh izin Merger atau Konsolidasi, wajib dipenuhi Pasal 8 (ayat 2) PP NO. 28 TAHUN
persyaratan sebagai berikut : 1999 Tentang Merger, Konsolidasi
Pada saat terjadinya Merger atau Konsolidasi, jumlah aktiva Bank hasil Merger atau dan Akuisisi Bank
Konsolidasi tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah aktiva seluruh
Bank di Indonesia;

17 Penggabungan Usaha Atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten. Peraturan Bapepam IX.G.1 &
• Merger/Konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan, No.IX.E.1 tentang Benturan
masyarakat dan persaingan sehat serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak-hak Kepentingan.
pemegang saham publik dan karyawan.
• Quorum dan Voting dalam RUPS hanya memperhitungkan kehadiran/suara
Pemegang Saham Independen.

25
LAMPIRAN 6

PROGRAM KEMITRAAN
DAN BINA LINGKUNGAN
Program Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Kementerian BUMN

Dari Menjadi UMKM


UMKM non-bankable bankable

Program Program Penyaluran Kredit Usaha


Kemitraan & Corporate Social Mikro, Kecil dan
Bina Lingkungan Responsibility Menengah (UMKM) oleh
(PKBL) (CSR) BUMN Sektor Perbankan
Program PKBL dan CSR

Program Kemitraan (2% dari laba bersih) :


Program untuk meningkatkan kemampuan
Program usaha kecil agar menjadi tangguh dan
BUMN wajib
Kemitraan & Bina menyisihkan sebagian mandiri melalui pemanfaatan dana dari
Lingkungan laba bersihnya untuk bagian laba BUMN
(PKBL) keperluan pembinaan
usaha kecil/koperasi Program Bina Lingkungan
Dasar Hukum : UU serta pembinaan (2% dari laba bersih) :
Nomor 19 tahun masyarakat sekitar Program pemberdayaan kondisi sosial
BUMN.
2003 masyarakat oleh BUMN melalui
pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN

Perseroan yang
Program menjalankan kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Corporate Social usahanya di bidang (2 % dari net profit yang diperkirakan):
dan/atau berkaitan Komitmen Perseroan untuk berperan serta
Responsibility dengan sumber daya dalam pembangunan ekonomi
(CSR) alam wajib melaksanakan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas
Tanggung Jawab Sosial kehidupan dan lingkungan yang
Dasar Hukum : UU dan Lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri,
Nomor 40 tahun dianggarkan dan komunitas setempat, maupun masyarakat
2007 diperhitungkan sebagai pada umumnya
biaya Perseroan
Pelaksanaan Program PKBL dan CSR

 Pemberian bantuan pelatihan dan penyediaan prasarana


 Penyalurkan pinjaman modal langsung dengan bunga rendah
 Penyaluran bantuan dengan metode kluster, baik dalam kluster
lokasi, sektor, jenis usaha dan kluster dari hulu hilir, dengan tujuan
Bentuk Program untuk memudahkan pelaksanaan penyaluran pinjaman dan
pembinaan usaha
 Pelaksanaan sinergi antara BUMN, yaitu BUMN yang mempunyai
dana bantuan besar bersinergi dengan BUMN yang tidak memiliki
dana namun mempunyai program yang bagus, melalui mekanisme
channeling atau executing untuk sektor-sektor usaha di atas
 Pemberian bantuan kesehatan dan bantuan dana pendidikan.

Contoh Pelaksaan Program:


 Pada bulan Januari 2010, Salah satu BUMN Karya telah menyalurkan dana kemitraan sebesar Rp 540 juta kepada 48 pengusaha mikro dan kecil
yang memiliki keterkaitan bidang usaha dengan perusahaan tersebut.

 Program Wirausaha Mandiri yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 s.d sekarang, dengan tujuan untuk menumbuhkan
kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Gambaran Umum Penyaluran PKBL Secara Nasional
.. terdapat peningkatan realisasi penyaluran PKBL .. peningkatan tersebut tercermin pula pada jumlah mitra
BUMN sebesar 138, 86 % antara tahun 2007 s.d binaan PKBL BUMN yang mengalami peningkatan sebesar
2009.. 138, 86 %..

Rp juta Orang
Realisasi Penyaluran Program PKBL Jumlah Mitra Binaan
90,000
2,500,000
80,000 79,510
77,194
2,000,000 1,971,687 70,000

1,717,837 60,000
1,500,000 50,000
47,346
40,000 39,087
1,000,000 1,026,929
30,000
825,473
20,000
500,000
10,000
-
-
2006 2007 2008 2009
2006 2007 2008 2009
Jumlah Mitra Binaan
Realisasi Penyaluran Program PKBL

Catatan:
Data penyaluran PKBL untuk tahun 2009 masih berdasarkan pada hasil prognosa
Penyaluran Kredit UMKM oleb BUMN Sektor Perbankan

… nilai kredit MKM yang disalurkan Bank BUMN


mengalami trend pertumbuhan yang positif ….. Key Findings

Rp. Triliun Penyaluran kredit MKM


oleh BUMN sektor
300,000 285,134 perbankan selama
periode 2007 s.d 2009
250,000 mengalami
230,152
pertumbuhan sebesar
61,33%
200,000
176,740

150,000

100,000

50,000

-
2007 2008 2009

Source : Bank Indonesia


Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para
Pengusaha

KEY POINTS
• Belanja Pemerintah untuk infrastruktur pada tahun 2009 meningkat 3 kali
dibandingkan tahun 2005 dari Rp.20,9 Triliun menjadi Rp. 61,8 Triliun.
• Sebagai salah satu upaya untuk mendukung program pengembangan
Infrastruktur infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah, Kementerian BUMN telah
mendorong BUMN Konstruksi untuk berpartisipasi dalam pembangunan
infrastruktur, diantaranya melalui pembangunan ruas tol Trans Jawa sepanjang
1.000 km yang dilakukan oleh kontraktor BUMN dan operator jalan tol Jasa
Marga. Diharapkan dengan kegiatan tersebut BUMN Konstruksi dapat
membangun kerjasama dengan para pengusaha, khususnya yang bergerak di
bidang jasa konstruksi.

Untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh


Pemerintah, Kementerian BUMN telah mendorong PTPN, baik secara sendiri-
sendiri dan bersinergi, sebagai BUMN Perkebunan untuk melakukan perluasan
Ketahanan lahan tanaman, pembangunan pabrik biodiesel, powerplant berbahan baku
Pangan biomassa sawit dan tebu, pabrik pupuk NPK dan kerjasama pembuatan pabrik
ban sepeda motor. Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan PTPN dapat
membangun kerjasama dengan para pengusaha yang bergerak di bidang usaha
perkebunan dan pengolahan produk-produk turunan dari hasil perkebunan.
Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para
Pengusaha (lanjutan………)

KEY POINTS
PLN
Untuk mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan oleh
Pemerintah, Kementerian BUMN telah mendorong PLN melakukan upaya-upaya
sebagai berikut:
• Penuntasan proyek pembangkit listrik 10.000 MW Tahap I yang dilanjutkan
dengan pembangkit listrik 10.000 MW Tahap II dengan fokus pada
pengembangan energi terbarukan yaitu panas bumi dan tenaga air.
• Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap industri listrik nasional baik dari
Energi sisi ketersediaan energi primer, penetapan Tarif Dasar Listrik, penyempurnaan
pelaksanaan independent power producer (IPP) dan kebijakan terkait dengan
subsidi.
Diharapkan melalui upaya-upaya tersebut PLN dapat membangun kerjasama
dengan para pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan bidang energi.

Pertamina
Di sektor hulu, Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk
meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dalam bentuk KSO (Kerjasama
Operasi). Sedangkan di sektor hilir, Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan
para pengusaha antara lain dalam keperluan distribusi BBM dan LPG.
LAMPIRAN 7

RENCANA RIGHTSIZING DAN PRIVATISASI


TAHUN 2005-2009
Rencana Rightsizing Tahun 2005 - 2009
Stand Alone
No BUMN N0. BUMN

1 PT Bank Mandiri, Tbk 18 PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES)


2 PT Pertamina 19 PT Asuransi Jasa Raharja
3 PT Bank Negara Indonesia, Tbk (BNI) 20 PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA)
4 PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI) 21 PT Asuransi ABRI (ASABRI)
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
5 22 PT Pos Indonesia (POSINDO)
(TELKOM)
Perum Pembangunan Perumahan Nasional
6 PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja 23
(PERUMNAS)
7 PT Bank Tabungan Negara (BTN) 24 Perum Percetakan Uang RI (PERURI)
8 PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) 25 Perum Perhutani
9 PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) 26 PT Biofarma

10 PT Semen Gresik, Tbk 27 Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU)

11 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) 28 Perum Percetakan Negara Indonesia (PNRI)

12 PT Taspen 29 Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS)


PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu
13 Perum Bulog 30
Boko
14 PT Jasa Marga 31 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
15 PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) 32 PT Batan Teknologi
16 PT Kereta Api Indonesia (KAI) 33 Perum Produksi Film Negara (PFN)
17 Perum Pegadaian 34 PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI)
35 PT Perikanan Nusantara
Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan
Merger/Konsolidasi
No SEKTOR BUMN

PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS)


1). Sektor Dok & Perkapalan PT Industri Kapal Indonesia (IKI)
PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia
2). Sektor Perdagangan PT PP Berdikari
PT Sarinah
PT Bhanda Ghara Reksa (BGR)
3). Sektor Pergudangan
PT Varuna Tirta Prakasya
PT Bali Tourism & Development Corporation
4). Sektor Pariwisata
PT Hotel Indonesia Natour (HIN)
Perum Jasa Tirta I
5). Sektor Penunjang Pertanian
Perum Jasa Tirta II
PT Inhutani I
PT Inhutani II
6). Sektor Kehutanan PT Inhutani III
PT Inhutani IV
PT Inhutani V
PT Sang Hyang Seri (SHS)
7). Sektor Pertanian
PT Pertani
PT Kertas Leces
8). Sektor Kertas
PT Kertas Kraft Aceh
PT Balai Pustaka (BP)
9). Sektor Percetakan
PT Pradnya Paramita
PT Pindad
10). Sektor Pertahanan
PT Dahana
PT Kimia Farma, Tbk
11). Sektor Farmasi
PT Indo Farma, Tbk
Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan
Holding
No Sektor BUMN
PT Perkebunan I (PTPN I)
PT Perkebunan II (PTPN II)
PT Perkebunan III (PTPN III)
PT Perkebunan IV (PTPN IV)
PT Perkebunan V (PTPN V)
PT Perkebunan VI (PTPN VI)
PT Perkebunan VII (PTPN VII)
1) Sektor Perkebunan PT Perkebunan VIII (PTPN VIII)
PT Perkebunan IX (PTPN IX)
PT Perkebunan X (PTPN X)
PT Perkebunan XI (PTPN XI)
PT Perkebunan XII (PTPN XII)
PT Perkebunan XIII (PTPN XIII)
PT Perkebunan XIV (PTPN XIV)
PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI)
PT Aneka Tambang, Tbk (ANTAM)
2) Sektor Pertambangan PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk (PT BA)
PT Timah, Tbk
PT Adhi Karya
PT Wijaya Karya (WIKA)
PT Waskita Karya
PT Pembangunan Perumahan (PP)
3) Sektor Konstruksi PT Hutama Karya
PT Nindya Karya
PT Istaka Karya
PT Brantas Abipraya
PT Amarta Karya
PT Krakatau Steel (KS)
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI)
PT Barata Indonesia
4) Sektor Industri Strategis
PT LEN Industri
PT Industri Kereta Api (INKA)
PT PAL Indonesia
Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan
Holding

No Sektor BUMN
PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN)
PT Kawasan Industri Medan (KIM)
5) Sektor Kawasan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA)
PT Pengembangan Daerah Industri (PDI) Pulau Batam
PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW)
PT Angkasa Pura I (AP I)
6) Sektor Kebandarudaraan
PT Angkasa Pura II (AP II)
PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI)
PT Djakarta Lloyd
7) Sektor Pelayaran
PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP)

PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG)


PT Pelabuhan Indonesia I (PELINDO I
PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II)
8) Sektor Pelabuhan
PT Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III)
PT Pelabuhan Indonesia IV (PELINDO IV)
Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan
Divestasi
No BUMN No. BUMN
1 PT Garuda Indonesia (GIA) 15 PT Industri Soda Indonesia (ISI)
2 PT Merpati Nusantara (MNA) 16 PT Industri Gelas (IGLAS)
3 PT Asuransi Jiwasraya 17 PT Industri Sandang Indonesia (INSAN)
PT Permodalan Nasional Madani
4 18 Perum Damri
(PNM)
5 PT Dana Reksa 19 PT Boma Bisma Indra (BBI)
6 PT PANN Multi Finance 20 PT Primissima
7 PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) 21 PT Indra Karya
8 PT Semen Baturaja 22 PT Yodya karya
9 PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) 23 PT Virama Karya
10 PT Sucofindo 24 PT Indah Karya
PT Reansuransi Umum Indonesia
11 25 PT Konservasi Energi Abadi (Koneba)
(RUI)
12 PT Pengerukan Indonesia 26 PT Bina Karya
13 PT Garam
27 PT Sarana Karya
14 PT Surveyor Indonesia (SI)
Rencana Privatisasi Tahun 2007

% Saham Rencana
No. BUMN Dasar Pertimbangan
Negara Metode
1 PT Jasa Marga 100 IPO Kompetitif
2 PT BNI 99,12 IPO/SPO Kompetitif
3 PT BTN 100 IPO Kompetitif
4 PT Wijaya Karya 100 IPO Kompetitif
5 PT Permodalan Nasional Madani 100 IPO Kompetitif
6 PT Garuda 100 IPO Kompetitif
7 PT Merpati 100 IPO Kompetitif
8 PT Krakatau Steel 100 IPO Kompetitif
9 PT Dirgantara 100 IPO Kompetitif
10 PT Industri Soda Indonesia 100 SS Kompetitif
11 PT IGLAS 100 SS Kompetitif
12 PT Cambrics Primissima 52,79 SS Kompetitif
13 PT Indah Karya 100 SS Kompetitif
14 PT Indra Karya 100 SS Kompetitif
15 PT Virama Karya 100 SS Kompetitif
16 PT Yodya Karya 100 SS Kompetitif
17 PT Bina Karya 100 SS Kompetitif
18 PT JIHD 1,33 SS Kepemilikan negara minoritas
19 PT Kertas Padalarang 40,76 SS Kepemilikan negara minoritas
20 PT Atmindo 36,56 SS Kepemilikan negara minoritas
21 PT Intirub 9,9 SS Kepemilikan negara minoritas
22 PT PPLI 5,00 SS Kepemilikan negara minoritas
23 PT Kertas Blabak 0,84 SS Kepemilikan negara minoritas
24 PT Kertas Basuki Rahmat 0,4 SS Kepemilikan negara minoritas
Rencana Privatisasi Tahun 2008

% Saham Rencana
No. BUMN Dasar Pertimbangan
Negara Metode
1 PT Asuransi Jasa Indonesia 100 IPO/Dilusi Kompetitif
2 PT Asuransi Jiwasraya 100 IPO/SO Kompetitif
3 PT Sarana Karya 100 IPO Pengembangan usaha
4 PT Rukindo 100 IPO Cut loss
Butuh dana Pengembangan teknologi
5 PT Semen Baturaja 100 IPO
dan pasar
6 PT Industri Sandang 100 IPO Pengembangan usaha
- Sektor terbuka dan kompetitif
7 PT Krakatau Steel 100 IPO - Untuk meningkatkan daya saing
perusahaan (competitiveness)
Sektor kompetitif, perlu permodalan tinggi
8 PT INTI 100 IPO untuk pengembangan (akan dikaji lebih
mendalam)
9 PT Koneba 100 IPO Kepemilikan Negara Minoritas
10 PT JIEP 50 SS/Divestasi Kompetitif
11 PT SIER 50 SS/Divestasi Kompetitif
12 PT Bank Bukopin 18 Placement Kepemilikan Negara Minoritas
- Perseroan membutuhkan tambahan
SS/Dilusi/ modal
13 PT Dirgantara 17
Divestasi
- Akses keteknologi dan pemasaran
EMBO/ Sektor kompetitif, kepemilikan negara
14 PT Rekayasa industri 4,97
Divestasi minoritas (akan ditinjau kembali)
SS/Divestasi
15 PT Surveyor 85,12 Pengembangan perusahaan
dan Dilusi
Rencana Privatisasi Tahun 2009-2011

% Saham Rencana
No. BUMN Dasar Pertimbangan
Negara Metode
1 PT Kliring Berjangka 100 SS/Dilusi Kebutuhan pengembangan dana
SS/
2 PT ASEI 100 Kompetitif
Divestasi
3 PT Reasuransi 100 IPO Pengembangan usaha
4 PT Danareksa 100 IPO Pengembangan usaha
Kompetitif/ Kebutuhan dana/
5 PT Sucofindo 95,00 SS
pengembangan usaha
6 PT Bank Mandiri Tbk 70 SO/Dilusi Butuh dana pengembangan bisnis
7 PT BRI Tbk 59,5 SO/Dilusi Kebutuhan pengembangan dana
8 PT Bank BTN 100 SO Kebutuhan pengembangan dana
9 PT Bahana PUI 17,78 SS/ Divestasi Kompetitif
10 PT Sucofindo 10 SS pengembangan usaha
11 BUMN Pupuk 100 IPO/SS pengembangan usaha
LAMPIRAN 8

MATRIKS PENANGANAN RESTRUKTURISASI


KORPORASI OLEH PT PPA
PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI/REVITALISASI BUMN OLEH PPA

2009
NO BUMN STATUS

PT Merpati Nusantara Airlines Menteri Keuangan telah menyetujui pemberian pinjaman untuk pembelian
1
(Persero) 15 unit pesawat MA 60 yang akan direalisasikan tahun 2010-2011

Perjanjian pemberian pinjaman telah ditandatangani pada tanggal 16


Desember 2009 yang digunakan untuk:
- Penyelesaian pembangunan 10 kapal dengan jumlah plafond sebesar
USD 25,6 juta
- Restrukturisasi korporasi sebesar maksimal Rp 193,37 M:
- Perampingan karyawan Rp 90,19 M
2 PT PAL (Persero) - Biaya talangan selama masa persiapan perampingan (3 bulan)
Rp38,50 M
- Tambahan Modal kerja divisi pemeliharaan / perbaikan kapal dan
rekayasa umum Rp 27,50 M
- Biaya talangan selama transisi fast cash business (3 bulan) Rp9,24 M
- Biaya pengeluaran barang dari pelabuhan Rp 11 M
- Pembayaran sebagian hutang pihak ketiga (closed project) Rp16,94 M

Pelaksanaan setoran modal oleh PT PPA akan dilakukan setelah terbitnya


3 PT Waskita Karya
Peraturan Pemerintah terkait Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PT WK.
PT Semen Kupang telah menandatangani Perjanjian KSO dengan PT
Sarana Agro Gemilang (SAG) pada tanggal 1 Sep 2009. Dengan adanya
4 PT Semen Kupang (Persero)
KSO tersebut maka diharapkan di PT Semen Kupang (Persero) dapat
segera beroperasi kembali.
Permasalahan pembayaran pesangon karyawan telah diselesaikan dengan
5 Perum Pengangkutan
melakukan penjualan aset property milik PPD.
PT PPA belum dapat memberikan bantuan pinjaman sebagaimana yang
6 Perum PPFN
diperlukan oleh PPFN
PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI BUMN OLEH PT PPA … Lanjutan
2010

NO BUMN STATUS

- Telah disampaikan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi pada tanggal 2


Oktober 2009
1 PT Iglas (Persero) - Mengusulkan pemberian pinjaman sebesar Rp 106,77 milyar
- Opsi penyelesaian lainnya yaitu kajian likuidasi dan divestasi telah disampaikan
kepada Ketuan Tim Pelaksana Komite RR

- Kajian Restrukturisasi PT Djakarta Lloyd masih membutuhkan kajian lanjutan yang


2 PT Djakarta LLyod (Persero)
harus dilengkapi dengan business plan dari Manajemen Djakarta Lloyd.
PPA telah memberikan talangan sebesar Rp 25 M di luar konteks restrukturisasi dan/atau
PT Industri Sandang Nusantara revitalisasi untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan dan saat ini sedang
3
(Persero) dilaksanakan finalisasi Kajian Kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi (FDD dan
Kajian Bisnis).
Saat ini PT BP dalam proses penyelesaian Rencana Bisnis.
4 PT Balai Pustaka (Persero) Arahan Menteri Negara BUMN dalam rapat tanggal 18 Januari 2010, disepakati bahwa PT
Balai Pustaka akan di restrukturisasi didasarkan sejarah Balai Pustaka.
5 PT Berdikari (Persero) Proses finalisasi kajian kelayakan restrukturisasi dan/atau revitalisasi

6 PT Hotel Indonesia (Persero) Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi

7 PT Primisima (Persero) Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi

- PPA telah memberikan dana talangan sebesar Rp 125,72 milyar untuk Rasionalisasi
karyawan
- Dilakukan Kajian menyeluruh atas opsi-opsi penyelesaian permasalahan KKA,
8 PT Kertas Kraft Aceh (Persero)
termasuk kajian pengoperasian kembali KKA.
- Laporan kajian awal upaya pengoperasian kembali PT KKA telah disampaikan kepada
Menteri Negara BUMN
Pengumpulan informasi dan identifikasi awal permasalahan. Sesuai informasi terakhir
Dirkeu, saat ini VTP sedang mempertimbangkan penyelesaian kewajiban kepada Bank
9 PT Varuna Tirta Prakasya (Persero)
Mandiri. PPA telah menawarkan untuk membantu melakukan pembahasan kemungkinan
penyelesaian kewajiban tsb.
10 PT Industri Kapal (Persero) Sedang dilakukan Financial Due Diligence (FDD) dan Legal Due Diligence (LDD).
11 PT Survai Udara Penas (Persero) Proses pengumpulan data dan penyusunan laporan kajian
LAMPIRAN 9

DATA BUMN PENYELENGGARA PSO


DASAR HUKUM PRODUK/JASA
NO BUMN PEMBERI TUGAS 2006 2007 2008 2009
PENUGASAN YANG DITUGASKAN
A. Bidang Sarana Perhubungan
-UU No. 13/2007 Ttg Penyediaan KA kelas
1. PT KAI Menhub Perkeretaapian ekonomi 450.00 425.00 408.50 505.00
-Kontrak (tahunan)
Penyediaan Kapal Laut
2. -Keputusan Dirjen Perla kelas 679.60 677.60 790.00 600.00
PT PELNI Menhub
-Kontrak (tahunan) Ekonomi
Penyediaan pelayanan
3. PT Posindo Menkominfo -Keputusan Menkominfo KPCLK 115.00 125.00 118.75 175.00
-Kontrak (tahunan)
Penyediaan dan/atau
-Keputusan Menkominfo distribusi - - 38.96 42.05
4. berita (cetak, vidio/TV,
Perum Antara
Menkominfo Foto) tertentu kepada
-Kontrak (tahunan) kelompok/

daerah tertentu
B. Bidang Energi

Keputusan BPH Migas Penyediaan dan


5. PT Pertamina BPH Migas (tahunan) distribusi 59,500.00 76,272.81 134,201.23 34,959.81
BBM tertentu

Penyediaan tenaga
6. PT PLN Menteri ESDM UU Nomor 30/2009 listrik 33,904.22 37,480.66 82,999.17 50,830.12

C. Bidang Pangan

Surat/Keputusan..(tahunan Penyediaan dan


7. PT Pusri Mentan ) distribusi 3,776.00 6,172.00 5,797.00 16,458.00
pupuk bersubsidi
Penyediaan dan
8. PT SHS Mentan Surat Nomor…(tahunan) distribusi 176.11 319.29 933.44 1,283.63
benih dan pupuk
Penyediaan dan
9. PT Pertani Mentan Surat Nomor…(tahunan) distribusi 31.84 68.31 732.64 1,169.54
benih dan pupuk

Penyediaan dan
10. Perum Bulog Menko Kesra Surat/Keputusan (tahunan) penyaluran 5,318.89 6,269.12 11,289.95 12,448.78
Raskin dan CBP

JUMLAH 100,282.93 127,809.79 237,309.64 118.471.93

Catatan: Data tahun 2005 tidak dapat disajikan karena datanya tersebar, dan Asdep Kewajiban Pelayanan Umum yang bertugas memonitor dan menginventarisir data PSO baru
dibentuk pada tahun 2006
47
LAMPIRAN 10

PROGRAM BERKESINAMBUNGAN
TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 - 2009
PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006

No Program Keterangan

1 Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi untuk diusulkan
Kementerian Negara BUMN dapat disahkan oleh Menteri dalam rangka
melaksanakan IT Governance
2 Pengembangan Infrastruktur Menambah jumlah server, PC/notebook, perangkat
jaringan, security, software, anti virus dan anti spyware
untuk mendukung aplikasi yang berjalan di atasnya
3 Pengembangan SDM Menambah jumlah SDM melalui outsorcing dan
meningkatkan kualitas SDM Teknologi informasi melalui
pendidikan, kursus dan sertifikasi
4 Pengembangan Aplikasi

a. Website Kementerian Negara BUMN dengan Website Kementerian Negara BUMN mulai diluncurkan
alamat www.bumn.go.id atau www.bumn-
pada tahun 2002. Agar website tersebut lebih dapat
ri.com
memenuhi kebutuhan Kementerian Negara BUMN dalam
mendukung transparansi dan tanggung jawab
Kementerian Negara BUMN kepada publik, maka
dilakukan perubahan rancangan dan konten informasi
website.
a. Pembangunan Aplikasi Privatisasi BUMN Membangun aplikasi yang digunakan untuk membantu
menangani proses privatisasi BUMN dan membangun
sub portal yang menyajikan informasi ahsil privatisasi
kepada publik melalui www.bumn.go.id.
PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007
No Program Keterangan

1 Pengembangan Aplikasi

a. Pembangunan Sistem Informasi BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan informasi
(Executive Information System)
terkait BUMN bagi pimpinan di lingkungan Kementerian Negara BUMN dan
membantu pimpinan dalam mengambil kebijakan dan keputusan terhadap
pengelolaan BUMN.
b. Pembangunan Office Automation dan Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan otomasi alur
pembuatan dokumen elektronik kerja yang melibatkan seluruh unit di Kementerian Negara BUMN seperti
perencanaan, keuangan, SDM, perlengkapan, arsip dan dokumentasi, dan unit tata
usaha. Implementasi Office Automation tersebut dimulai dengan pembuatan
dokumen elektronik yang akan disimpan dalam sistem.

c. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM
Proper Direksi BUMN BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi BUMN
UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN Direksi dan Komisaris BUMN (CV
Direksi, Komisaris dan 1 tingkat di bawah Direksi, mekanisme UJI
KEPATUTAN DAN KELAYAKAN)
d. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM
Proper Direksi Anak Perusahaan BUMN BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi Anak
Perusahaan BUMN.
Uji Kepatutan dan Kelayakan Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan BUMN
e. Pembangunan PKBL Online -
f. Knowledge Management Melakukan pembangunan aplikasi untuk menyimpan dan menyajikan informasi
Anggaran Dasar BUMN
2 Mobile access Portal publik dan eksekutif dapat diakses melalui HP, PDA
3 Operasional dan pemeliharaan

4 Sosialisasi Open source Sosialisasi pemakaian open sourse (Linux, Open Office di KNBUMN)

5 Penambahan Server Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi

6 Reliabilitas email
PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 & 2009

No Program Keterangan

2008

1 Pembangunan Portal Aset BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat


menyajikan informasi aset BUMN dan membantu
Kementerian Negara BUMN dalam rangka
mengoptimalkan aset BUMN.
2 Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Menyediakan perangkat yang memadai untuk
menjalankan aplikasi
3 Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Menyediakan perangkat yang memadai untuk
Phone menjalankan aplikasi

2009
1 Upgrade Server Menyediakan perangkat yang memadai untuk
menjalankan aplikasi
2 Upgrade Storage Menyediakan perangkat yang memadai untuk
menjalankan aplikasi
3 Unified Communication (Integrasi voice, data, Menyediakan perangkat yang memadai untuk
video, email ke dalam perangkat komunikasi) menjalankan aplikasi

4 Data Center standar Menyediakan infrastruktur datacenter bagi server dan


aplikasi dalam rangka mendukung ketersediaan dan
reliabilitas layanan TI
5 Reliabilitas jaringan dan keamanan Menyediakan keamanan data dan informasi yang
diproses melalui jaringan Kementerian BUMN
REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006

No. Program/Rencana Kerja Realisasi


1 Menyusun Kebijakan Teknologi Draft Master Plan Teknologi Informasi Kementerian BUMN tahun
Informasi Kementerian Negara BUMN 2006-2010

2 Pengembangan Aplikasi Pembangunan dan launching SMS Center 2866 untuk keluhan
dan pengaduan melalui SMS
Redesain Portal Publik dan Pembangunan Sub Portal Privatisasi
www.bumn.go.id dan http://priv.bumn.go.id

3 Pengembangan Infrastruktur Pengadaan Server (18 unit), storage, dan perangkat jaringan
(hardware/software) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner
Pengadaan anti virus (200 lisensi)
Langganan layanan dedicated internet (1.024 Kbps)
Langganan domain bumn.go.id dan bumn-ri.com
Langganan layanan informasi saham real time (4 client)

4 Pengembangan dan peningkatan Menambah jumlah SDM melalui outsorcing


kualitas SDM Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop, seminar,
pendidikan, kursus dan sertifikasi

5 Koordinasi pemanfaatan sistem Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas


informasi/teknologi informasi menyusun panduan masterplan TI BUMN, Tata Kelola TI BUMN
dan Sinergi BUMN pada tahun 2006
Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian
Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006
REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007
No. Program/Rencana Kerja Realisasi

1 Pengembangan Aplikasi
a. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Pembangunan Executive Information System http://eis.bumn.go.id
Information System)
a. Pembangunan Office Automation dan pembuatan Pembangunan Office Automation http://oa.bumn.go.id dengan modul-modul perencanaan,
dokumen elektronik pengelolaan keuangan, pengelolaan SDM, pengadaan, pengelolaan aset, penyediaan ATK,
persuratan, perpustakaan, dokumentasi dan arsip, produk dan bantuan hukum, pengelolaan
aset TI, kehumasan, pengelolaan agenda/ jadwal, dan pengumuman
a. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Pembangunan Portal SDM http://sdm.bumn.go.id/internal dan http://sdm.bumn.go.id
Direksi BUMN
a. Pembangunan PKBL Online Pembangunan portal PKBL http://pkbl.bumn.go.id/internal dan http://pkbl.bumn.go.id
2 Operasional dan pemeliharaan Migrasi colocation dari Telkom Slipi ke Telkom Karet untuk penambahan kapasitas server
karena kebutuhan aplikasi.
3 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner
Langganan layanan dedicated internet (2.048 Kbps)
Langganan layanan informasi saham real time (6 client)
Penyediaan layanan internet menggunakan Jaringan lokal yang menghubungkan Lapangan
Banteng-Merdeka Selatan melalui DINAccess
Penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN Jalan Merdeka Selatan 13,
Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai (Pindah Kantor dari Gedung 16 Lantai
Jalan Dr Wahidin Raya 1 Jakarta)
4 Sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sistem a. Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–21 Agustus
informasi/teknologi informasi 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN.

b. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai
Kementerian Negara BUMN.

c. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan


tambahan kepada masing-masing BUMN
5 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM a. Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI

b. Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop, seminar, pendidikan, kursus dan


sertifikasi
REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008

No Program/Rencana Kerja Realisasi

Pembangunan portal Aset (http://aset.bumn.go.id/internal dan


1 Pembangunan Portal Aset BUMN
http://aset.bumn.go.id)

Penambahan dan Upgrade Perangkat Menyediakan perangkat jaringan yang memadai untuk
2
Jaringan menjalankan aplikasi

Pengadaan Infrastruktur untuk Menyediakan prototype komunikasi voice dan video yang
3
menyiapkan IP Phone tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN

Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara


4 Sosialisasi Open source
BUMN (Linux) pada tahun 2008 (15 orang)

1) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner
Pengembangan Infrastruktur 2) Penggantian dan Penambahan PC untuk mendukung
5
(hardware/software) operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada
tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009.

Kursus dan Pelatihan


1) CCNA 1 orang
Pengembangan dan peningkatan 2) CISA Reviw Course 2 orang
6
kualitas SDM 3) Zend Framework 3 orang
4) Java Standard Edition Course 1 orang
5) Project Management Course 1 orang
REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2009

Program/Rencana Kerja Realisasi


Upgrade Server Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi
Upgrade Storage Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi
Unified Communication (Integrasi voice, Menyediakan implementasi penuh komunikasi voice dan video yang
data, video, email ke dalam perangkat
tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN
komunikasi)
Menyediakan email yang dapat memenuhi kebutuhan email yang aman,
Reliabilitas email
mobile messaging dan web mail yang nyaman bagi pengguna
Data Center standar Berdasarkan prioritas realisasi ditunda ke anggaran tahun 2010
Menyediakan server yang berfungsi sebagai Single Sign On server melalui
Reliabilitas jaringan dan keamanan
Active Directory
Pelatihan Portal EIS, SDM, PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang
Sosialisasi dan Implementasi Portal
dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September
Berkelanjutan
2009, diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN.
Upgrade jaringan internet menjadi 4.096 Kbps pada tahun 2009.
Pengembangan Infrastruktur
(hardware/software) Penambahan 80 komputer bagi pegawai kementerian BUMN
Kursus dan Pelatihan
Pengembangan dan peningkatan
1) Diklat Pimpinan III 1 orang
kualitas SDM
2) Diklat Pimpinan IV 1 orang
LAMPIRAN 11

MASTER PLAN TEKNOLOGI INFORMASI


KEMENTERIAN BUMN 2010 - 2014
ROADMAP 2010-2014

2010
Persiapan Fondasi Implementasi Sistem Terintegrasi

Monitoring BUMN dengan static Dashboard & Ekspansi Layanan

Peletakan Basis Knowledge Management


2012
Business Intelligent

2013 Pengambilan Keputusan Secara Dinamis


dengan BUMN Dashboard Dinamis
2014

57
ROADMAP 2010-2014
2010 2011 2012 2013 2014
1. Revitalisasi 1. Pemeliharaan dan 1. Pemeliharaan portal 1. Pemeliharaan portal 1. Redesain database dan
Infrastruktur Penambahan Fitur internal dan eksternal, internal dan eksternal, aplikasi
Datacenter Porta penyempurnaan fitur penyempurnaan fitur 2. Pembangunan
2. Pemeliharaan Portal Pemeliharaan dan dan optimalisasi dan optimalisasi dashboard dengan
Publik Penambahan Fitur pemanfaatan portal pemanfaatan portal Query Dinamik
3. Pemeliharaan Portal Portal 2. Pelatihan/kursus 2. Pelatihan/kursus 3. Optimalisasi
Internal 2. Mailing Room kompetensi TI kompetensi TI pemanfaatan portal
4. Sistem Keamanan 3. Control Room 3. Optimalisasi 3. Optimalisasi sebagai Knowledge
Terintegrasi 4. Server dan Storage pemanfaatan portal pemanfaatan portal Management
5. Unified Wireless LAN 5. ETL otomatis dari sebagai Knowledge sebagai Knowledge 4. Pelatihan/kursus
6. Pelatihan Pegawai system BUMN Management dan DSS Management dan DSS kompetensi TI
Sistem Informasi 6. Pelatihan 4. Pemeliharaan 4. Pembentukan Tim 5. Pemanfaatan Mailing
7. IT Steering Commitee hardware dan software Steering Committee Room
8. Rakor TI 5. Implementasi Mailing untuk proyek TI 6. Audit Tata Kelola TI
9. Tim Implementasi Room (Tahap I) 5. Pembangunan 7. Rakor TI
BUMN 6. Implementasi Control Business Intelligence
10. Tim Implementasi Room (Tahap I) 6. Rakor TI
Kementerian BUMN 7. Rakor TI