You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian Diuretik
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine.
Diuretik menunjukkan adanya volume urine yang di produksi dan dapat
menunjukkan jumlah pengurangan (kehilangan) zat-zat yang terlarut dalam air.
Fungsi utama diuretik adalah membobilisasi cairan edema, yaitu mengubah
keseimbangan cairan sehingga cairan ekstrasel menjadi normal. Pengaruh diuretik
terhadap ekskresi at terlarut penting untuk menentukan tempat kerja diuretik
sekaligus meramalkan akibat penggunaan suatu deiretik.
Secara umum diuretik dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: (1)
penghambat mekanisme transport elektrolit di dalam tubuli ginjal yang meliputi
benzotiadiazid, diuretik kuat, diuretik hemat kalium, dan dan Inhibitor karbonik
anhidrase; (2) diuretic osmotic. Secara terperinci diuretic dapat dibagi menjadi
lima golongan, yaitu: (1) diuretic kuat; (2) benzotiadiazid; (3) diuretic hemat
kalium; (4) diuretic osmosis; (5) Inhibitor karbonik anhidrase.

B. Pembentukan Kemih Fungsi Ginjal


Fungsi utama ginjal adalah memulihkan kemurnian darah dengan jalan
mengeluarkan dari dalam darah darah semua zat asing dan sisa pertukaran zat.
Darah mengalami filtrasi, di mana semua komponennya melintasi ‘saringan’
ginjal kecuali zat putih telur dan sel-sel darah. Setiap ginjal mengandung lebih
kurang 1 juta filter kecil (glomeruli) dan setiap 50 menit se;uruh darah tubuh (k.l.
5 liter) sudah ‘dimurnikan’ melewati saringan tersebut.
Fungsi penting lainnya adalah meregulasi kadar garam dan cairan tubuh.
Ginjal merupakan organ terpenting dalam pengaturan homeostasis, yaitu
keseimbangan dinamis antara cairan intrasel dan ekstrasel, serta pemeliharaan
volume total dan susunan cairan ekstrasel. Homeostasis sangat dipengaruhi oleh
jumlah ion Na+, yang sebagian besar terdapat di luar sel, di cairan intrasel, dan di
plasma darah. Kadar Na+ di cairan ekstrasel diregulasi oleh sekresi ADH di
neurohipofisis.
Proses deuresis dimulai dengan mengalirnya darah kedalam glumeruli
(gumpalan kapiler), yang terletak di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glumeruli
inilah yang berkerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air,
garam, dan glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi dan mnegandung
banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang mengelilingi setiap
glomerulus seperti corong (kapsul bowman) dan disalurkan ke pipa kecil. Tubuli
ini terdiri dari bagian proksimal dan distal, yang dihubungi oleh sebuah
lengkungan (Henle’s loop).
Air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh, seperti glukosa dan
garam-garam, antara lain ion Na+, ditarik kembali secara aktif di ginjal. Zat-zat
tersebut dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli.
Sisanya yang tidak berguna seperti perombakan metabolism protein untuk
sebagian besar tidak diserap kembali.
Filtrate dari semua tubuli ditampung disuatu saluran pengumpul (ductus
colligens), dimana air di serap kembali. Filtrate akhir disalurkan kekandung kemih
dan ditimbun sebagai urine. Ultrafiltrat bagi orang dewasa, setiap harinya
dihasilkan rata-rata 180 liter yang dipekatkan sampai lebih kurang 1 liter air
kemih. 99% lainnya dirabsosi dan dikembalikan pada darah. Suatu obat hanya
diperlukan sedikit untuk mengurangi reabsosi tubuler, misalnya dengan 1%
mampu melipatgandakan volume urine (menjadi k.l 2,6 liter).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mekanisme Kerja Diuretik


Kebanyakkan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium,
sehingga pengeluarannya lewat kemih sehingga volume air meningkat. Obat-obat
tersebut bekerja khusus pada tubuli, tetapi juga ditempat lain, yaitu:
1. Tubuli proksimal
Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang direabsorpsi secara
aktif untuk lebih kurang 70%, antara lain ion Na+ dan air, begitu pula glukosa
dan ureum. Reabsorpsi berlangsung secara proporsional sehingga susunan
filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika osmosis
(manitol dan sorbitol) bekerja disini dengan merintangi rabsorpsi air dan juga
natrium.
2. Lengkung Henle
Semua k.l 25% ion -Cl- yang telah difiltrasi direabsorpsi secara aktif,
disusul dengan reabsorpsi pasif dai Na+ dan K+ tanpa air, hingga filtrate
menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan seperti fulosemida,bumetamida, dan
etakrinat bekerja merintangi tranpor -Cl- dan dengan demikian reabsorbsi Na+.
pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak.
3. Tubuli distal
Di bagian pertama segmen ini, Na+ direabsorpsi secara aktif tanpa air
sehingga filtrat menjadi lebih caor dan hipotonis. Senyawa thiasida dan
klortalidon bekerja memperbanyak ekskresi sekresi Na+ dan Cl- sebesar 5-
10%. Bagian kedua segmen ini, ion -Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau NH4+;
proses ini dikendalikan oleh hormon aldiosteron. Antagonis aldosteron
(spironolakton) dan zay-zay penghemat kalium (amilorida, triamteren) bertitik
kerja disini dengan mengakibatkan sekresi Na+ (kurang dari 5%) dan retensi
-K+.
4. Saluran pengumpul
Hormon antidiuretik ADH (vasopresin) dari hipofisis bertitik kerja disini
dengan jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini.
B. Jenis-Jenis Diuretik
1. Diuretik kuat
Diuretic kuat (high-celling diuretics) mencakup sekelompok diuretic yang
efeknya sangat kuat dibandingkan dengan diuretic lain. Tempat kerja utamanya
dibagian epitel tebal ansa henle bagian asenden, karena itu kelompok ini
disebut juga sebagai loop diuretics. Termasuk dalam kelompok ini adalah
furosemid, torsemid, asam etakrinat, dan bumetanid.
Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril 5-sulfomoil antranilat masih
tergolong derivate sulfonamid. Oba ini merupakan slah satu obat standard
untuk pengobatan gagal jantung dan edema paru.
Farmakodinamik
Diuretic kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi
elektrolit Na+/K+/2Cl- di ansa henle asendens bagian epitel tebal; tempat
kerjanya dipermukaan sel epitel bagian luminal. (yang menghadap ke lumen
tubuli). Pada pemberian secara IV obat ini cenderung meningkatkan aliran
darah ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan
hemodinamik ginjal ini mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan
elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek elektrolit di tubuli
proksimal serta meningkatnya efek awal dieresis.
Diuretic kuat juga menyebabkan meningkatnya eksresi K+ dan kadar asam
urat plasma, mekanismenya kemungkinan besar sama dengan tiazid. Eksresi
Ca+2 dan Mg+ juga ditingkatkan sebanding dengan peningkatan eksresi -Na+.
Berbeda dengan tiazid, golongan ini tidak meningkatkan re-absorpsi Ca+2 di
tubuli distal.
Farmakokinetik
a. Absorpsi : diuretic kuat mudah diserap melalui saluran
cerna. Bioavailabilitas furosemid 65% sedangkan bumetenid
hampir 100%.
b. Distribusi : diuretic kuat terikat pada protein plasma secara
ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerulus, tetapi cepat
sekali disekresi melalui system transport asam organic
ditubuli proksimal.
c. Eskresi : 2/3 dari asam etakrinat yang diberikan secara IV
dieskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh dan dalam
konjugasi dengan senyawa sulfhidril terutama sistein dan N-
asetil sistein. Sebagian lagi dieksresi melalui hati. Sebagian
besar furosemid dieksresi dengan cara yang sama, hanya
sebagian kecil dalam bentuk glukoronid. Kira-kira 50%
bumetanid dieksresi dalam bentuk asal, selebihnya sebagai
metabolit.
2. Benzotiadiazid
Benzotiadiazid atau tiazid disintesis dalam rangka penelitian zat Inhibitor
enzim karbonik anhidrase. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa
benzotiadiazid berefek langsung terhadap transport -Na+ dan -Cl- di tubuli
ginjal, lepas dari efek penghambatannya terhadap enzim karbonik anhidrase.
Sebagian besar senyawa benzotiadiazid merupakan analog dari 1,2,4-
benzo-tiadiazin-1,1dioksida, golongan ini biasa disebut sebagai
benzootiadiazid atau tiazid saja.

Farmakodinamik
Diuretic tiazid bekerja menghambat simporter -Na+,-Cl-, di hulu tubulus
distal. System transpor ini dalam keadaan normal berfungsi membawa -Na+
dan -Cl- dari lumen ke dalam sel epitel tubulus. -Na+ selanjutnya dipompakan
ke luar tubulus dan ditukar dengan K+ sedangkan -Cl- dikeluarkan melalui
kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah meningkatkan
eksresi natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis ini
disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu
tubuli distal (early distal tubule). Laju eksresi -Na+ maksimal tiazid relative
lebih rendah dibandingkan diuretic lain, hal ini disebabkan 90% -Na dalam
cairan filtrate telah direabsorpsi lebih dahulu sebelum ia mencapai tempat kerja
tiazid.
Pada pasien hipertensi tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena
efek diuretiknya, tetapi juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga
terjadi vasodilatasi.

Fungsi ginjal
Tiazid dapat mengurangi kecepatan filtrasi glomerulus, terutama bila
diberikan secara intravena. Namun berkurangnya filtrasi ini sedikit sekali
pengruhnya terhadap efek diuretic tiazid, dan hanyaa mempunyai arti klinis
bila fungsi ginjal memang sudah kurang. Efek kaliuresis disebabkan oleh
bertambahnya natriuresis dan pertukaran antara -Na+ dan K+ yang menjadi
lebih aktif pada tubuli distal.
Asam urat
Tiazid dapat meningkatkan kadar asam urat darah dengan kemungkinan 2
mekanisme :
1. Tiazid meninggikan reabsorpsi asam urat di tubuli proksimal.
2. Tiazid mungkin sekali menghambat ekskresi asam urat oleh tubuli.
Tiazid menurunkan ekskresi kalsium sampai 40% karena tiazid tidak dapat
menghambat reabsorpsi kalsium oleh sel tubuli distal. Hal ini dapat
meningkatkan kadar kalsium darah dan terbukti dapat menurunkan insiden
fraktur pada osteoporosis.

3. Diuretik hemat kalium


a. Antagonis aldosteron
Aldosteron antagonis mengacu pada obat diuretik yang menentang
tindakan aldosteron pada reseptor mineralokortikoid. Kelompok obat
sering digunakan sebagai terapi tambahan, dalam kombinasi dengan
obat lain, untuk manajemen gagal jantung kronis . Spironolactone ,
anggota pertama kelas, juga digunakan dalam pengelolaan
hyperaldosteronism (termasuk 's sindrom Conn ) dan perempuan
hirsutisme .

Antagonis Aldosteron adalah, seperti namanya, reseptor antagonis pada


reseptor mineralokortikoid. Antagonisme reseptor ini menghambat
natrium resorpsi dalam saluran pengumpulan dari nefron pada ginjal.
Hal ini mengganggu natrium / pertukaran kalium, mengurangi ekskresi
kalium kencing dan lemah meningkatkan ekskresi air (diuresis). Pada
gagal jantung kongestif , mereka digunakan di samping obat lain untuk
aditif diuretik efek, yang mengurangi edema dan jantung beban kerja.

Anggota kelas ini digunakan secara klinis termasuk:


1) Spironolactone Spironolactone
2) Eplerenone Eplerenone
3) Canrenone (canrenoate potassium)
4) Prorenone (prorenoate potassium)
5) Mexrenone (mexrenoate potassium)
b. Triamteren dan amilorid
Kedua obat ini terutama memperbesar ekskresi natrium dan klorida,
sedangkan eksresi kalium berkurang dan ekskresi bikarbonat tidak
mengalami perubahan.
Triamteren menurunkan ekskresi K+ dengan menghambat sekresi
kalium di sel tubuli distal. Dibandingkan dengan triamteren, amilorid
jauh lebih mudah larut dalam air sehingga lebih mudah larut dalam air
sehingga lebih banyak diteliti. Absorpsi triamteren melalui saluran
cerna baik sekali, obat ini hanya diberikan oral. Efek diuresisnya
biasanya mulai tampak setelah 1 jam. Amilorid dan triameteren per oral
diserap kira-kira 50% dan efek diuresisnya terlihat dalam 6 jam dan
berkahir sesudah 24 jam.

Triamteren tersedia sebagai kapsul dari 100mg. Dosisnya 100-300mg


sehari. Untuk tiap penderita harus ditetapkan dosis penunjang
tersendiri. Amilorid terdapat dalam bentuk tablet 5 mg. Dosis sehari
sebesar 5-10mg. Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5 mg dan
hidroklortiazid 50 mg terdapat dalam bentuk tablet dengan dosis sehari
antara 1-2 tablet.
4. Diuretik Osmosis
Obat-obat ini hanya diabsorpsi sedikit oleh tubuli, hingga reabsorpsi air
juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmotis dengan ekskresi air kuat dan
relatif sedikit eskresi Na+. terutama manitol, yang hanya jarang digunakan
sebagai infus intravena untuk mengeluarkan cairan dan menurunkan tekanan
intraokuler (pada glaucom), juga untuk menurunkan volume CCS (cairan
cerebrospinal) dan tekanan intracranial (dalam tengkorak).
Diuretik Osmosis dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan dan
cepat diekskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretik osmosis
apabila mempunyai 4 syarat:
a. Difiltrasi secara bebas oleh glomerulus
b. Tidak atau hanya sedikit direabsorpsi sel tubuli ginjal
c. Secara farmakologis merupakan zat yang inert.
d. Umumnya resisten terhadap perubahan metabolik.
Dengan sifat-sifat ini, maka diuretik osmotik dapat diberikan dalam jumah
cukup besar sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma filtrat
glomerulus dan cairan tubuli. Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea,
gliserin, isosorbid.
Manitol paling sering digunakan diantara obat ini, karena manitol tidak
mengalami metabolisme dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorpsi
tubuli bahkan praktis dianggap tidak direabsorpsi. Manitol harus diberikan
secara IV, jadi obat ini tidak praktis untuk pengobatan udem kronik. Pada
penderita payah jantung pemberian manitol berbahaya, kerana volume darah
yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah gagal.
Diuretik osmotik terutama bermanfaat pada pasien oliguria akut akibat
syok hipovolemik yang telah dikoreksi, reaksi transfusi atau sebab lain yang
menimbulkan nekrosis tubuli, karena dalam keadaan ini obat yang kerjanya
mempengaruhi fungsi tubuli tidak efektif.
Manitol digunakan misalnya untuk :
a. Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat
timbul akibat operasi jantung, luka traumatik berat, atau
tindakan operatif dengan penderita yang juga menderita
ikterus berat.
b. Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler
atau cairan serebrospinal.
Diuretik osmotik mempunyai tempat kerja :
a. Tubuli proksimal
Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli proksimal dengan cara
menghambat reabsorpsi natrium dan air melalui daya osmotiknya.
b. Ansa Henle
Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa henle dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula
menurun.
c. Duktus Koligentes
Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus Koligentes dengan cara
menghambat reabsorpsi natrium dan air akibat adanya papillary wash
out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain.
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakaiuntuk zat bukan elektrolit yang
mudah dan cepat diekskresi oeh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik
adalah ; manitol, urea, gliserin dan isisorbid.

5. Inhibitor karbonik anhidrase.


Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara menghambat
reabsorpsi bikarbonat. Yang termasuk golongan diuretik ini adalah
asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalis reaksi CO2 + H2O
H2CO3. Enzim ini terdapat antara lain dalam sel korteks renalis,
pankreas, mukosa lambung, mata, eritrosit dan SSP, tetapi tidak terdapat dalam
plasma.
Inhibitor karbonik anhidrase adalah obat yang digunakan untuk
menurunkan tekanan intraokular pada glaukoma dengan membatasi produksi
humor aqueus, bukan sebagai diuretik (misalnya, asetazolamid). Obat ini
bekerja pada tubulus proksimal (nefron) dengan mencegah reabsorpsi
bikarbonat (hidrogen karbonat), natrium, kalium, dan air semua zat ini
meningkatkan produksi urine. Yang termasuk golongan diuretik ini adalah
asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
Asetazolamid
Farmakodinamika
Efek farmakodinamika yang utama dari asetazolamid adalah
penghambatan karbonik anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi
perubahan sistemik dan pearubahan terbatas pada organ tempat enzim tersebut
berada.
Asetazolamid memperbesar ekskresi K+, tetapi efek ini hanya nyata pada
permulaan terapi saja, sehingga pengaruhnya terhadap keseimbangan kalium
tidak sebesar pengaruh tiazid.
Farmakokinetik
Asetazolamid diberikan per oral.Asetozalamid mudah diserap melalui
saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi
melalui ginjal sudah sempurna dalam 24 jam. Obat ini mengalami proses
sekresi aktif oleh tubuli dan sebagian direabsorpsi secara pasif. Asetazolamid
terikat kuat pada karbonik anhidrase, sehingga terakumulasi dalam sel yang
banyak mengandung enzim ini, terutama sel eritrosit dan korteks ginjal.
Distribusi penghambat karbonik anhidrase dalam tubuh ditentukan oleh ada
tidaknya enzim karbonik anhidrase dalam sel yang bersangkutan dan dapat
tidaknya obat itu masuk ke dalam sel. Asetazolamid tidak dimetabolisme dan
diekskresi dalam bentuk utuh melalui urin.

C. Indikasi Diuretik
1. Diuretik kuat
a. Gagal jantung
b. Edema refrakter
c. Gagal ginjal akut
2. Benzotiadiazid
a. Payah jantung ringan – sedang
b. Pada pengobatan digitalis kombinasi dengan diuretik hemat K →
mencegah hipokalemi dan intoksikasi digitalis
c. Hipertensi
d. Diabetes insipidus
3. Diuretic hemat kalium
a. Antagonis aldosteron
Antagonis aldosteron digunakan secara luas untuk pengobatan
hipertensi dan udem yang refrakter. Biasanya obat ini dipakai bersama
diuretik lain dengan maksud mengurangi ekskresi kalium, disamping
memperbesar diuresis.
b. Triamteren dan amilorid
Bermanfaat untuk pengobatan beberapa pasien udem. Tetapi obat ini
akan bermanfaat bila diberikan bersama dengan diuretik golongan lain,
misalnya dari golongan tiazid.
4. Diuretik Osmosis
Manitol digunakan misalnya untuk :
a. Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat
operasi jantung, luka traumatik berat, atau tindakan operatif dengan
penderita yang juga menderita ikterus berat.
b. Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler atau cairan
serebrospinal
5. Inhibitor karbonik anhidrase.
a. Penggunaan utama adalah menurunkan tekanan intraokuler pada
penyakit glaukoma. Asetazolamid juga efektif untuk mengurangi gejala
acute mountain sickness.
b. Asetazolamid jarang digunakan sebagai diuretik, tetapi dapat
bermanfaat untuk alkalinisasi urin sehingga mempermudah ekskresi zat
organik yang bersifat asam lemah.

D. Efek Samping Diuretik


Efek-efek samping utama yang dapat diakibatkan diuretika adalah :
1. Hipokaliemia, yakni kekurangan kalium dalam
darah. Semua diuretika dengan titik kerja dibagian
muka tubuli distal memperbesar ekskresi ion-k+
dan ion H- karena di tukarkan dengan ion –Na+.
akibatnya adalah kadar-kalium plasma dapat turun
dibawah 3,5 mmol/liter. Keadaan ini terutama
dapat terjadi pada penanganan gagal jantung
dengan dosis tinggi furosemida, mungkin bersama
thiazida. Gejala kekurangan kalium bergejala
kelemahan otot, kejang-kejang, obstipasi,
anoreksia, kadang-kadang juga aritmia jantung,
tetapi gejala ini tidak selalu menjadi nyata.
2. Thiazida yang digunakan pada hipertensi dengan
dosis rendah (HCT dan klortalidon 12,5 mg
sehari), hanya sedikit menurunkan kadar kalium.
Oleh karena itu tak perlu disuplesi kalium (slow –
K 600 mg), yang dahulu agak sering dilakukan,
kombinasinya dengan suatu zat penghemat
kaliumsudah mencukupi.
3. Pasien jantung dengan gangguan ritme atau yang
diobati dengan digitalis harus dimonitor dengan
seksama, karena kekurangan kalium dapat
memperhebat keluhan dan meningkatkan
toksisitas digoksin. Pada mereka juga
dikhawatirkan peningkatan resiko kematian
mendadak (sudden heart death).
4. Hiperurikemia akibat retensi asam urat (uric acid)
dapat terjadi pada semua diuretika, kecuali
amilorida. Menurut perkiraan, hal ini disebabkan
oleh adanya persaingan antara diuretikum dengan
asam urat mengenai transpornya di tubuli.
Terutama klortalidon memberikan resiko lebih
tinggi untuk retensi asam urat dan seragam encok
pada pasien yang peka.
5. Hiperglikemia dapat terjadi pada pasien diabetes,
terutama pada dosis tinggi, akibat dikuranginya
metabolisme glukosa berhubung sekresi insulin
ditekan. Terutama thiazida terkenal menyebabkan
efek ini, efek antidiabetikaoral diperlemah
olehnya.
6. Hiperlipidemia ringan dapat terjadi dengan
peningkatan kadar kolesterol total (juga LDL dan
VLDL) dan trigliserida. Kadar kolesterol –HDL
yang diaanggap sebagai faktor pelindung untuk
PJP justru diturunkan, terutama oleh klortalidon.
Pengecualian adalah indapamida yang praktis
tidak meningkatkan kadar lipida tersebut. Arti
klinis dari efek samping ini pada penggunaan
jangka panjang belum jelas.
7. Hiponetriemia akibat dieresis yang terlalu pesat
dan kuat oleh diuretika lengkungan, kadar
naplasma dapat menurunkan drastic dengan akibat
hiponatriemia. Gejalanya berupa gelisah, kejang
otot, haus, letargi (selalu mengantuk), juga kolaps.
Terutama lansia peka untuk dehidrasi, maka
sebaiknya diberikan dosis permulaan rendah yang
berangsur-angsur dinaikkan, atau pula obat
diberikan secara berkala, misalnya 3-4 kali
seminggu. Terutama pada furosemida dan
etakrinat dapat terjadi alkalosis (berlebihan alkali
dalam darah).
8. Lain-lain : gangguan lambung usus (mual,
muntah, diare,) rasa letih, nyeri kepala, pusing dan
jarang reaksi alergis kulit. Ototoksisitas dapat
terjadi pada penggunaan furosemida/bumetamida
dalam dosis tinggi.
Efek-efek samping yang dapat diakibatkan diuretika dilihat dari penggunaan
diuretikanya adalah :
1. Diuretik kuat
a. Gangguan cairan dan elekrolit, antara lain hipotensi, hiponatremia,
hipokalemia, hipokloremia, hipokalsemia, dan hipomagnesemia.
b. Ototoksisitas, Asam etakrinat dapat menyebabkan ketulian sementara
maupun menetap. ketulian sementara juga dapat terjadi pada furosemid.
Ketulian ini mungkin sekali disebabkan oleh perubahan komposisi
elektrolit cairan endolimfe.
c. Hipotensi, dapat terjadi akibat deplesi volume sirkulasi
d. Efek metabolic, berupa hiperurisemia, hiperglikemia, peningkatann
kolesterol LDL dan trgliserida, serta penurunan HDL
e. Reaksi alergi, Diuretic kuat dan diuretic tiazid dikontraindikasikan pada
pasien dengan riwayat alergi sulfonamid. Asam etakrinat merupakan
satu-satunya diuretic kuat yang tidak termasuk golongan sulfonamid
dan digunakan khususnya untuk pasien yang alergi terhadap
sulfonamid.
f. Nefritis interstisialis alergik.
g. Diuretic kuat tidak dianjurkan pada wanita hamil, kecuali bila mutlak
diperlukan
2. Benzotiadiazid
a. Intoksikasi jarang terjadi
b. Reaksi alergi (karena penyakitnya sendiri): purpura, dermatitis,
fotosensitive dan kelainan darah
c. Kadar Na, K, Cl diperiksa berkala
d. Memperberat insufisiensi ginjal.
3. Diuretic hemat kalium
Efek toksik yang utama dari spironolakton adalah hiperkalemia yang
sering terjadi bila obat ini diberikan bersama-sama dengan asupan kalium yang
berlebihan. Tetapi efek toksik ini dapat pula terjadi bila dosis yang biasa
diberikan bersama dengan tiazid pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal
yang berat. Efek samping lain yang ringan dan reversible diantaranya
ginekomastia, efek samping mirip androgen dan gejala salura cerna.
4. Diuretik Osmosis
Manitol dapat menimbulkan reaksi hipersensitif.
5. Inhibitor karbonik anhidrase.
a. Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia dan kantuk yang terus-
menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan batu ginjal karena
berkurangnya sekskresi sitrat, kadar kalsium dalam urin tidak berubah
atau meningkat.
b. Asetazolamid dikontraindikasikan pada sirosis hepatis karena
menyebabkan disorientasi mental pada penderita sirosis hepatis.
c. Reaksi alergi yang jarang terjadi berupa demam, reaksi kulit, depresi
sumsum tulang dan lesi renal mirip reaksi sulfonamid.
d. Asetazolamid sebaiknya tidak diberikan selam kehamilan karena pada
hewan percobaan obat ini dapat menimbulkan efek teratogenik.

E. Pengobatan dengan Diuretik


1. Hipertensi
Diuretik golongan Tiazid, merupakan pilihan utama step 1, pada sebagian
besar penderita. Diuretik kuat (biasanya furosemid), digunakan bila terdapat
gangguan fungsi ginjal atau bila diperlukan efek diuretik yang segera. Diuretik
hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau diuretik kuat, bila ada bahaya
hipokalemia.
2. Payah jantung kronik kongestif
Diuretik golongan tiazid, digunakann bila fungsi ginjal normal. Diuretik
kuat biasanya furosemid, terutama bermanfaat pada penderita dengan
gangguan fungsi ginja. Diuretik hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau
diuretik kuat bila ada bahaya hipokalemia.
3. Udem paru akut
Biasanya menggunakan diuretik kuat (furosemid)
4. Sindrom nefrotik
Biasanya digunakan tiazid atau diuretik kuat bersama dengan
spironolakton.
5. Payah ginjal akut
Manitol dan/atau furosemid, bila diuresis berhasil, volume cairan tubuh
yang hilang harus diganti dengan hati-hati.
6. Penyakit hati kronik
Spironolakton (sendiri atau bersama tiazid atau diuretik kuat).
7. Udem otak
Diuretik osmotik
8. Hiperklasemia
Diuretik furosemid, diberikan bersama infus NaCl hipertonis.
9. Batu ginjal
Diuretik tiazid
10. Diabetes insipidus
Diuretik golongan tiazid disertai dengan diet rendah garam
11. Open angle glaucoma
Diuretik asetazolamid digunakan untuk jangka panjang.
12. Acute angle closure glaucoma
Diuretik osmotik atau asetazolamid digunakan prabedah. Untuk pemilihan
obat Diuretik a yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan
konsultasi ke dokter.

F. Interaksi
Kombinasi dari obat-obat lain bersama diuretika dapat menimbulkan interaksi
yang tidak dikehendaki seperti :
1. Penghambat ACE dapat menimbulkan
hipotensi yang hebat, maka sebaiknya baru
diberikan setelah penggunaan diuretikum
dihentikan selama 3 hari.
2. Obat – obat rema (NSAID’s) dapat agak
memperlemah efek diuretic dan antihipertensif
akibat sifat retensi natrium dan airnya.
3. Kortikosteroida dapat memperkuat kehilangan
kalium.
4. Aminoglikosida : ototoksitasdiperkuat
hubungan diuretika sendiri dapat menyebabkan
ketulian (reversible).
5. Antidiabetika oral dikurangio efeknya bila
terjadi hiperglikemia
6. Lithiumklorida dinaikkan kadar darahnya
akibat terhambatnya ekskresi.

G. Zat-Zat Tersendiri
1. Furosemida : frusemida, lasix, impungan
Turunan sulfonamide ini (1964) berdaya diuretic kuat dan bertitik kerja di
lengkungan henle bagian menaik. Sangat efektif pada keadaan udema di otak
dan paru-paru yang akut. Mulai kerjanya pesat, oral dalam 0,5-1 jam dan
bertahan 4-6 jam, intravena dalam beberapa menit dan 2,5 jam lamanya.
Resorpsinnya dari usus hanya lebih kurang 50%, PP-nya k.l 97%, plasma –
t1/2-nya 30-60 menit; ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi
juga lewat empedu.
Efek sampingnya berupa umum, pada injeksi i.v terlalu cepat, ada kalanya
tetapi jarang terjadi ketulian (reversibel) dan hipotensi.hipokaliemia reversibel
dapat terjadi pula.
Dosis: pada udema oral 40-80 mg pagi p.c, jika perlu atau pada insufisiensi
ginjalsampai 250-2000 mg sehari dalam 2-3 dosis. Injeksi i.v (perlahan) 20 –
40 mg, pada keadaan kemelut hipertensi sampai 500 mg(!). penggunaan i.m .
tidak dianjurkan.
Bumetanida (burinex adalah juga derivate-sulfamoyl (1972) dengan kerja
diuretis yang 50 kali lebih kuat. Sifat-sifat kinetiknya lebih kurang sama
dengan furosemida, juga penggunannya.
Dosis : oral 0,5-1 mg pagi, bila perlu 3-4 dd. i.m./i.v 0,5-2mg.
2. Asam etakrinal : edecrin
Derivate fenoksiasetat ini (1963) juga bertitik kerja dilapangan henle.
Efeknya pesat dan kuat, bertahan 6-8 jam. Ekskresinya berlangsung melalui
empedu dan kemih.
Berhubung ototksisitasnya dan seringnya mengakibatkan gangguan
lambung-usus, zat ini tidak boleh diberikan paa anak-anak di bawah usia 2
tahun.
Dosis : oral 1-3 dd 50mg p.c,i.v (perlahan) 50 mg garam Na.
3. Hidroklorthiazida: HCT, Esidrex
Senyawa sulfamoyl ini (1959) diturunkan dari klorthiazida yang di
kembangkan dari sulfanilamida. Bekerja di bagian muka tubuli distal, efek
diuretisnya lebih ringan dari diuretika lengkungan tetapi bertahan lebih lama,
6-12 jam. Daya hipotensifnya lebih kuat (pada jangka panjang), maka banyak
digunakan sebagai pilihan pertama untuk hipertensi ringan sampai sedang.
Sering kali pada kasus yang lebih berat dikombinasikan dengan obat-obat lain
untuk memperkuat efeknya khususnya beta blockers. Efek optimal ditetapkan
pada dosis 12,5 mg dan dosis diatasnya tidak akan menghasilkan penurunan
tensi lagi, (kurva dosis-efek datar). Zat induknya klorthiazida berkhasiat 10 kali
lebih lemah, maka kini tidak digunakan lagi.
Resorpsinya dari usus sampai 80%, PP-nya k.l 70% dengan plasma-t1/2 6-
15 jam. Ekskresinya terutama lewat memilih secara utuh.

Dosis : hipertensi : 12,5 mg pagi p.c, udema: 1-2 dd 25-100 mg,


pemeliharaan 25-100 mg 2-3x seminggu. sediaan kombinasi: *lorinid,
*moduretic = HCT 50 + amilorida 5 mg, *dytenzide = HCT 25 + triamteren 50
mg.
Derivate HCT yang banyak sekali disintesa semuanya memiliki daya kerja
sama dan hanya berlainan mengenai potensi dan lama kerjanya,rata – rata 12-
18 jam. Khususnya digunakan dalam kombinasi dengan obat-obat hipertensi
lain, antara lain :
a. aldazide =buthiazhida 2,5 +
spironolakton 25 mg
b. dyta- urese = epitizida 4 + triamteren
50 mg
c. inderetic = bendroflumethiazida 2,5 +
propranolol 80 mg
4. Klortalidon : hygroton
Devivat sulfonamida ini (1959) rumusnya mirip dengan thiazida, begitu
pula khasiat diuretisnya sedang. Mulai kerjanya sesudah 2 jam dan bertahan
sangat lama, antara 24-72 jam tergantung pada tingginya dosis. Efek
hipotensifnya bertambah secara berangsur-angsur dan baru optimal sesudah 2-4
minggu.
Resorpsinya dari usus tak menentu, rata – rata 50% dan mengalami FPE
dari 10 – 15 %. Plasma –t1/2nya amat tinggi, lebih kurang 54 jam, mungkin
berhubung terikat kuat pada eritrosit.ekskresinya lewat kemih lebih kurang
45% secara utuh.
Dosis : hipertensi : 12,5 mg pagi p.c (dosis optimal), udema : setiap 2 hari
100-200 mg, pemeliharaan 25-50 mg setiap hari.
Sediaan kombinasi :
a. *trasitensin = klortalidon 10 +
okspresinolol 80 mg
b. *tenoretic 50 klortalidon 12,5 +
aternolol 50 mg.
c. *indapamida (natrilix, fludex) adalah
dericat sulfamoyl long acting (1974)
dengan efek hipotensif kuat pada dosis
sub-diuretis, yang baru optimal setelah
2-4 bulan. Efeknya bertahan beberapa
minggu sesudah terapi dihentikan,
tanpa terjadi rebound effect.
d. Resorpsinya lengkap, bersifat sangat
lipofil dan terikat kuat pada eritrosit :
PPnya 79% plasma-t1/2-nya 15-18
jam. Ekresinya lewat kemih, yakni
60% terutama sebagai metabolit dan
20% lewat tinja. Dosis hipertansi : 2,5
mg pagi p.c. Dapat dikombinasikan
dengan beta-blockers.
e. *klopamida adalah derivate sulfamoyl
pula dengan lama kerja 12-24 jam.
Hanya digunakan dalam sediaan
kombinasi, antara lain :
f. *brinerdin = klopamida 5 + reserpin
0,1 + dihidroergokristin 0,5 mg
g. *viskaldix = klopamida 5 +pindolol 10
mg
h. *mefrusida (baycaron) adalah derivat
disulfonamida (1967) dengan titik
kerja di lengkungan henle, tetapi
dengan pola kerja seperti thiazida.
Mulai kerjanya lambat, setelah 6 jam
dan bertahan 20-24 jam. Dosis
hipertensi : 12,5 mg pagi p.c., udema
25-100 mg sehari.
5. Spironolakton : aldacton, lectona, *aldazide
Penghambat aldosteron ini (1959) berumus steroida, mirip struktur
hormone alamiah. Mulai kerjanya setelah 2-3 hari dan bertahan sampai
beberapa hari pula setelah [pengobatan dihentikan. Daya diuretisnya agak
lemah, maka khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika umum lainnya.
Efek kombinasi demikian adalah adisi di samping mencegah kehilangan
kalium. Akhir – akhir ini ditemukan bahwa spironolakton pada gagal jantung
berat berdaya mengurangi resiko kematian sampai 30% (NEJ Med Sept 199).
Resorpsinya dari usus tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. PP-nya
98%. Dalam hati zat ini dirombak menjadi metabolit aktif, antara lain
kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja. Plasma-t1/2-nya sampai
2 jam, kanrenon 20 jam.
Efek sampingnya berupa umum : pada penggunaan lama dan dosis tinggi
efeknya antiandrogen dengan gynomastie, gangguan potensi dan libido pada
pria, sedangkan pada wanita nyeri buah dada dan gangguan haid. Pada tikus
ternyata berefek karsinogen, maka hendaknya digunakan untuk jangka waktu
singkat!
Dosis oral 1-2 dd 25-100mg pada waktu makan.
*aldazide = spironolakton 25 + thiabutazide 2,5 mg
*kanrenoat (canrenoic acid, soldactone)adalah derivate yang dapat larut
dan hanya digunakan sebagai injeksi (1967). Sifat – sifatnya dan efek
sampingnya sama dengan spironolakton, tetapi mulai kerjanya lebih cepat dan
bertahan lebih lama. Ekskresinya juga berlangsung sebagai kanrenon.
Dosis : i.v./infuse 200-600 mg sehari (garam K) selama maksimal 2
minggu.
6. Amilorida : *loronid, midamor
Derivate pirazin ini (1967) bertitik kerja dibagian ujung tubuli distal
dengan menghambat penukaran ion-K+ dan –H+. hasilnya ialah bertambahnya
ekskresi Na+ (bersama CI + karbonat), sedangkan pengeluaran kalium
berkurang. Efek maksimalnya tercapai setelah k.l. 6 jam dan bertahan 24 jam.
Resorpsinya dari usus lebih kurang 50% yang di kurangi oleh makanan,
PP-nya 40%, plasma-t1/2-nya 6-9 jam, mungkin juga lebih lama. Ekskresinya
lewat kemih terutama secara utuh.
Efek sampingnya umum, fotosensibilissasi sering dilaporkan (di
Australia), adakalanya impotensi. Berlainan dengan diuretika lain, obat ini
tidak menekan sekresi urat, melainkan menstimulasinya. Semua penghemat
kalium tidak dapat saling di kombinasikan atau diberikan bersama suplemen
kalium berhubung bahaya hiperkaliemia.
Dosis : hipertensi : oral 1-2 dd 5 mg a.c, maksimal 20 mg sehari.
*lorinid = amilorida 5 + HCT 50 mg (mengandung kadar HCT terlampau
tinggi).
7. Triamteren : Dytac
Derivat – pteridin ini (1962) berkhasiat diuretic lemah,mulai kerjanya
lebih cepat, setelah 2-4 jam, tetapi hanya bertahan k.l. 8 jam. Mekanisme
kerjanya mirip amilorida.
Resorpsinya dari usus antara 30% dan 70%, PP-nya lebih kurang 60% dan
t1/2-nya k.l. 2 jam. Ekskresinya berlangsung lewat kemih, sebagian sebagai
metabolit aktif. Kemih dapat berwarna biru dan pembentukan batu ginjal
dilaporkan pada 1:1.500 pasien.
Dosis : hipertensi oral 1-2 dd 50 mg p.c, maksimal 200 mg.
*dyta-ureses dan *dytenzide, masing-masing bersama eptisida 4 mg dan
HCT 25 mg.
8. Azetazolamida : Diamox
Obat ini, ysng diturunksn dari sulfanilamide (1957), di anggapsebagai
pelopor thiazida dan merupakan diuretikum pertama yang digunakan secara
intermitten. Khasiat diuretisnya berdasarkan perintangan enzim
karbonanhidrase yang mengkatalisa reaksiberikut :
CO2 + H2O --- H2CO3 --- H+ + HCO3
Karena penghambatan reaksi ini di tubuli proksimal, maka tidak ada cukup
ion-H+ lagi untuk ditukarkan dengan Na+, K+, bikarbonat dan air. Kini
asetazolamida hanya jarang digunakan lagi pada penyakit mata glaucoma
untuk menurunkan produksi cairan di dalam mata dan menurunkan tekanan
intra-okuler. Berkat efek antikonvulsifnya obat ini dahulu digunakan sebagai
obat antilepilepsi. Penggunaan lainnya adalah sebagai obat ‘penyakit
ketinggian’ (hoogtevress, rasa takut di tempat yang amat tinggi) yang
bercirikan alkalosis dengan penghambatan pusat nafas ; gejala ini di
tanggulangi oleh acidosis yang ditimbulkan asetazolamida.
Resorpsinya baik mulai kerjanya dalam 1-3 jam dan bertahan selama k.l.
10 jam.PP-nya 90% lebih, plasma t1/2-nya 3-6 jam dan diekskresikan lewat
kemih secara utuh.
Dosis : pada glaoucoma oral 1-4 dd 250 mg, ‘penyakit ketinggian’ : 2 dd
250 mg dimulai 3 hari sebelum bertolak ke lokasi yang tinggi.
9. Mannitol ; manitol
Alcohol gula ini (C6H14O6) terdapat ditumbuh-tumbuhan dan getahnya,
juga di tumbuhan laut. Diperoleh dengan cara reduksi elektrolitis dari glukosa.
Efek diuretisnya pesat tetapi singkat dan berdasarkan sifatnya dapat melintasi
glomeruli secara lengkap, praktis tanpa reapsorbsi di tubuli, hingga penyerapan
kembali air dirintangi secara otomatis. Terutama digunakan sebagai infuse
untuk menurunkan tekanan intra – okuler pada glaucoma dan sewaktu bedah
mata, juga untuk meringankan tekanan intracranial pada bedah otak.
Manitol adalah 0,6 kali kurang manis dibandingkan gula (sakarosa),maka
penderita diabetes (1g menghasilkan 8kj) dan dalam pelbagai gula-gula bagi
anak-anak (candy) berkat sifat non-cariogennya. ( tidak mengakibatkan caries).
Di atas 20 g sehari, manitol berkhasiat laksatif, maka adakalanya digunakan
sebagai obat pencahar. Antidiabetika oral, zat-zat pemanis.
Dosis : infuse i.v1,5-2g/kg dalam 30-60 menit ( larutan 15-25%)
*sorbitol (sorbo) adalah stereoisomer dari manitol dengan khasiat, sifat
dan penggunaan sama. Insulin dan antidiabetika oral, zat-zat pemanis. Dosis :
infus i.v 1-2g/kg dari larutan 20-25%.
10. Daun kumis kucing : remukjung, orthosiphoni,folium,reinosan.
Daun dari tumbuhan orthosiphon stamineus ini sangat terkenal di
Indonesia dan mengandung glikosida orthosifonin, minyak terbang, dan kalium
(kadar tinggi, k.13,5%). Zat – zat ini memiliki khasiat diuretic dan
bakteriostatis, mungkin juga litholitys (melarutkan batu). Maka secara
tradisional remukjung merupakan obat rakyat berharga untuk mengobati
gangguan saluran kemih dan kencing batu. Penggunaannya sering kali di
kombinasikan dengan ramuan lain, seperti daun menir – meniran ( phyllantus
urinaria) daun keji beling (strobilanthus crispus), yang keduanya pun
mengandung banyak kalium.
Dosis : 2-3 dd 150 ml dari infus 10% (godokan, yang di peroleh dari
memanaskan 50 g daun halus dengan 500 ml air di atas suhu 900 C). renosan
(350 mg ekstrak remukjung : 3-4 dd 1-2 tablet).
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Rosfanty. 2009. Obat Diuretik. http://dokterrosfanty.blogspot.com/2009/07/obat-


diuretik.html. diakses pada tanggal 4 maret 2011
tan hoan tjay & kirana rahardja.2008.Obat-obat penting edisi ke enam.Jakarta :PT
elex media komputindo