You are on page 1of 18

RANGKUMAN ADMINISTRASI USAHA-USAHA NEGARA

A. Pengertian Administrasi Usaha-Usaha Negara

Perusahaan negara adalah suatu organisasi, baik secara


keseluruhan maupun sebagian dimiliki oleh negara, terlibat dalam
kegiatan ekonomi dalam bidang industri, pertanian, perdagangan dan
jasa, terlibat dalam kegiatan investasi dan mengembangkan investasi,
melakukan penjualan barang dan jasa, dan seluruh kegiatan yang
dilakukan dapat dinyatakan dalam neraca dan perhitungan laba rugi.
Dengan demikian lingkup studi administrasi usaha-usaha negara dapat
meliputi berbagai bidang, antara lain asuransi, industri, perbankan,
perdagangan, pertanian dan pertamina.

B. Tujuan Studi Administrasi Usaha-Usaha Negara

Tujuan Studi Administrasi Usaha-Usaha Negara dapat


dikemukakan menjadi :

1. Tujuan utama (teoritis), yaitu menyusun teori untuk mendudukkan

studi Administrasi Usaha-Usaha Negara Sebagai disiplin ilmu.

2. Tujuan sampingan (pragmatis), yaitu dimaksudkan untuk melihat

peranan, kedudukan dan fungsi Administrasi Usaha-Usaha Negara


dalam pembangunan nasional.

3. Metode Administrasi Perusahaan Negara.

Dalam upaya mendudukkan Studi Administrasi Usaha-Usaha


Negara sebagai suatu disiplin ilmu diperlukan adanya metodologi,
adapun persyaratan yang seharusnya dipenuhi oleh metodologi ilmiah,
dikemukakan Nimrod Rafnaelu sebagai berikut :

1. Memusatkan perhatian kepada hubungan (korelasi).

1
2

2. Mempergunakan konsep-konsep abstrak.

3. Mengembangkan batasan kerja (operational definition).

Adapun karakteristik metodologi ilmiah adalah sebagai berikut :

1. Memusatkan perhatian pada hubungan (berusaha menjelaskan


hubungan).

2. Menggeneralis.

3. Mengembangkan batasan-batasan kerja untuk memperjelas


pengertian tentang Studi Administrasi Usaha-Usaha Negara.

C. Studi Mengenai Administrasi Usaha-Usaha Negara

Fritz Morstein Mark mengemukakan bahwa “Administrasi


Usaha-Usaha Negara itu tumbuh sebagai konsekuensi dari
perluasan fungsi pemerintah yang diwadahkan kedalam suatu
bentuk organisasi yang bersifat khusus”. Adapun yang dimaksud
dengan organisasi yang bersifat khusus dirumuskan lebih lanjut oleh
Fritz Morstein Mark sebagai “suatu perusahaan yang pada waktu
yang bersamaan menghilangkan dan memperoleh ciri-ciri
persamaan dengan perusahaan swasta (both lost and retained
characteristics of resemblance to private corporation)”. Selanjutnya
dkemukakan pula oleh Fritz Morstein Mark bahwa “Perusahaan
Negara itu memiliki ciri yang dimiliki oleh instansi pemerintahan
dan sekaligus mendapatkan pula perbedaan-perbedaan
perlakuan”.

Suatu perkembangan yang sangat berarti dalam Studi


Administrasi Usaha-Usaha Negara tumbuh dalam lingkungan negara-
negara berkembang sendiri. Perkembangan ini ditandai dengan
dibentuknya “International Center For Public Enterfrises In
3

Developing Countries” (ICPE). yang didukung oleh 77 negara


berkembang. Dari segi kepentingan Ilmu Administrasi Usaha Usaha
Negara, maka ICPE telah pula melakukan penelitian induktif tentang
perusahaan negara, mengembangkan “Post Graduate Program” untuk
Master dan Ph. D. dalam Administrasi Perusahaan Negara dengan
bekerja sama dengan berbagai universitas dan perguruan tinggi.

Penelitian-penelitian terhadap Administrasi Perusahaan Negara


yang banyak dilakukan akhir-akhir ini, terutama ditujukan kepada
Administrasi Perusahaan Negara yang terdapat di negara-negara
berkembang, akan dapat memberikan kontribusinya bagi
pengembangan Ilmu Administrasi Usaha-Usaha Negara. Sudah barang
tentu peranan-peranan lembaga-lembaga penelitian, karya-karya tulis
yang dihasilkan dan minat para sarjana akan besar artinya dalam hal ini.

D. Administrasi Perusahaan Negara dan Administrasi Pembangunan

Administrasi Perusahaan Negara timbul terutama di negara-negara


maju adalah sebagai akibat dari intervensi negara di sektor industri. Di
negara-negara berkembang Perusahaan Negara dimanfaatkan sebagai
instrumen bagi pembangunan sosial ekonomi.

Bintoro Tjokroamijojo mengemukakan bahwa dalam Studi


Administrasi Usaha-Usaha Negara pada akhir-akhir ini terdapat empat
kecenderungan yang dominan, yaitu :

1. Perhatian terhadap masalah-masalah pelaksanaan dan pencapaian


tujuan-tujuan pembangunan.

2. Pendekatan “behavorial” terhadap birokrasi atau secara ringkas


dinyatakan bahwa Administration becomes concerned with
governing complex human system.
4

3. Pendekatan manajemen dalam administrasi (yang dimaksud adalah


aplikasi Management Techniques dalam Administrasi Negara).

4. Studi komperatif Administrasi Negara.

Dari keempat kecenderungan yang dominan yang dikemukakan


diatas, maka Administrasi Pembangunan termasuk pada kecenderungan
angka nomor satu diatas. Selanjutnya ditinjau dari segi ruang lingkup,
maka Administrasi Pembangunan mencakup :

1. Administrasi untuk pembangunan (the administration of


development).

2. Pembangunan Administrasi (the development of administration).

Beberapa kaitan antara Administrasi Perusahaan Negara dengan


Administrasi Pembangunan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Bagi Administrasi Pembangunan Perusahaan Negara dianggap

sebagai sasaran bagi pelaksana atau instrumen kebijakan


pembangunan dan sekaligus dijadikan sasaran bagi pendayagunaan
aparatur perekonomian negara.

2. Bagian negara-negara berkembang perusahaan bukanlah pulau-

pulau yang mandiri (autonomous island). Rencana Perusahaan


Negara harus terkait dengan rencana pembangunan yang juga
menjadi pokok perhatian Administrasi Pembangunan.

3. Administrasi Perusahaan Negara dan Administrasi Pembangunan

merupakan perluasan konsep dan sekaligus merupakan perluasan


jawaban terhadap peranan Administrasi Negara dalam proses
pembangunan. Dalam hubungan ini ada baiknya kita memanfaatkan
cara berpkir Rananadnan bahwa Administrasi Perusahaan Negara
dan Administrasi Pembangunan merupakan hal yang bersifat “the
facto” dalam Administrasi Negara. Sehingga dengan demikian akan
5

dapat dihindari “conceptual overlap” dengan Administrasi Negara


dalam arti “proper” (tradisional).

E. Perusahaan Negara

Perusahaan Negara adalah semua badan usaha dalam segala


bentuk dan ruang lingkupnya, yang modal seluruhnya atau sebagian
dimiliki oleh negara. Ruang lingkup Perusahaan Negara dapat meliputi:
perbankan, asuransi, keuangan, industri, pertanian dan sebagainya,
sedangkan bentuknya adalah PERJAN, PERUM dan PERSERO.
Pengertian dimiliki oleh negara terutama dimaksudkan oleh pemerintah
pusat, dapat juga dimiliki oleh pemerintah daerah, yang lebih dikenal
dengan Perusahaan Daerah (Undang-Undang No. 5 tahun 1962).

Kelompok Perusahaan Negara di bidang perbankan, meliputi :

1. Bank Indonesia

2. Bank Negara Indonesia

3. Bank Rakyat Indonesia

4. Bank Tabungan negara

5. Bank Mandiri

F. Kelompok Perusahaan Negara Yang Diatur Secara Khusus

Disamping kelompok perbankan yang disebut diatas, terdapat


Perusahaan Negara yang diatur secara khusus, yaitu Perusahaan Negara
PERTAMINA, yang dibentuk dengan Undang-Undang No. 8 tahun
1971 sebagai perubahan dari peraturan pemerintah No. 27 tahun 1968,
yang menggabungkan PERMINA (Perusahaan Minyak Negara),
PERTAMIN (Perusahaan Tambang Minyak Negara) dan PERMIGAN
(Perusahaan Minyak dan Gas Negara). Sebagai usaha penyempurnaan
6

organisasi PERTAMINA dikeluarkan Keppres No. 44 tahun 1975,


tentang reorganisasi PERTAMINA. Pembentukan Perusahaan Negara
PERTAMINA dipertimbangkan karena merupakan suatu perusahaan
minyak dan gas bumi sebagai bahan galian yang strategis dan vital bagi
pertahanan, keamanan dan ekonomi negara. Dalam ekonomi negara
bahan tersebut adalah menguasai hajat hidup orang banyak sesuai
dengan pasal 33 UUD 1945. Oleh karena itu pemerintah wajib
mengusahakan sendiri terutama dalam meningkatkan pembangunan
nasional.

G. Perusahaan Daerah

Perusahaan daerah sesuai dengan Undang-Undang No. 5 tahun


1962 diartikan sebagai perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-
Undang yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan
daerah itu yang dipisahkan. Dalam undang-undang ini tidak dibedakan
bentuk-bentuk perusahaan daerah, berbeda dengan perusahaan negara
menurut Inpress No. 17 tahun 1967. Dalam undang-undang daerah
disebutkan tiga bentuk usahanya, yaitu : Perusahaan Dinas Daerah
(Perdin), Perusahaan Umum Daerah (Perum Daerah) dan Perusahaan
Perseroan Daerah (Persero Daerah).

Adapun tujuan didirikannya Perusahaan Daerah adalah :

1. Memberikan dana pembangunan daerah kepada pemerintah daerah.

2. Mengurangi pengangguran dengan memberikan lapangan usaha


bagi masyarakat.

3. Memberikan ketentraman kerja dan kegembiraan kerja bagi para


karyawan.

Untuk mencapai tujuan tersebut Perusahaan Daerah harus :


7

1. Mempunyai potensi, berarti pengelola Perusahaan Daerah harus

mengenal dan menguasai dahulu potensi yang ada di Perusahaan


Daerah, dan setelah diketahui dan dikuasai kemudian diarahkan ke
tujuan Perusahaan Daerah.

2. Mempunyai sasaran, adapun sasaran-sasaran Perusahaan Daerah

antara lain :

a. Dana pembangunan daerah

b. Pengembangan perusahaan

3. Mempunyai alat dan cara untuk mencapai sasaran, untuk mencapai

sasaran itu Perusahaan Daerah harus membuat rencana yang terarah


dan terpadu yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Perusahaan
yang wajib dibuat oleh setiap Perusahaan Daerah, yang didalamnya
tergambar secara jelas dan nyata hal-hal yang akan dicapai dalam
waktu pendek maupun panjang sehingga urut-urutan ataupun
sarana-sarana untuk mencapai sasaran itu nampak jelas.

4. Menampakkan hasil yang dicapai, setiap usaha haruslah


menampakkan hasil, dan hasil usaha harus dinilai dan diukur agar
posisi atau keadaan perusahaan dapat diketahui.

H. Bentuk-Bentuk Perusahaan Negara

1. Perusahaan Jawatan (PERJAN)

a. Kedudukan daripada perusahaan jawatan :

1. Perusahaan jawatan adalah suatu badan usaha pemerintah


yang bertujuan memberikan pelayanan umum (public
service), yaitu suatu pelayanan yang diberikan dengan
memegang teguh syarat-syarat efisiensi, efektivitas dan
penghematan, serta berdasarkan prinsip-prinsip manajemen
perusahaan yang baik dan memuaskan.
8

2. Perusahaan jawatan disusun sebagai suatu unit dari suatu


Departemen atau Direktorat Jendral atau Pemerintahan
daerah.

3. Perusahaan jawatan berkedudukan berdasarkan atas hukum


publik, artinya bertindak sebagai pemerintah, baik keluar
maupun kedalam.

4. Perusahaan jawatan didalam usahanya harus didasarkan atas


prinsip manajemen perusahaan.

5. Sebagai perusahaan negara Perusahaan jawatan berhak


mendapatkan fasilitas negara.

6. Pengawasan dilakukan seperti halnya pada instansi


pemerintah lainnya.

b. Landasan hukumnya :

Instruksi Presiden No. 17 tahun 1967, Undang-Undang No. 9


tahun 1969, dengan mempergunakan dasar IBW S . 1927/ 419,
sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan S. 1936/ 445,
Undang-Undang Darurat No. 3 tahun 1954 dan Undang-Undang
No. 12 tahun 1955 dan ICW sepanjang tidak bertentangan
dengan IBW.

c. Nomenklatur :

Menyebut jawatan didepan nama peusahaan yang menjadi


bidangnya. Unit-unit organisasi dalam lingkungan Perusahaan
jawatan nomenklaturnya hendaknya dibedakan dengan unit-unit
organisasi departemen.

d. Tugas, struktur dan hubungan kerja :

1. Jawatan melakukan tugas pemerintahan dan tugas perusahaan


sekaligus tercermin dalam struktur organisasi departemen.
9

2. Jawatan dipimpin oleh seorang kepala jawatan yang


bertanggung jawabkepada menteri atau direktorat jenderal.

3. Tingkat jawatanserendah-rendahnya sama dengan tingkat


direktorat, sehingga memerlukan penggabungan bagi
perusahaan-perusahaan kecil.

4. Jika sesuatu usaha melayani instansinya dan bukan instansi


lain, maka unti usaha tersebut harus merupakan unit integrasi
dengan unit organisasi yang bersangkutan, sebaliknya apabila
usaha itu juga melayani instansi lain harus dijadikan bentuk
usaha sendiri, sehingga unit organisasi departemen yang
melakukan tugas ini sebelumnya supaya diusahakan untuk
dibubarkan.

e. Modal dan keuangan :

1. Modal permulaan dan mutasi-mutasi modal lainnya tercermin


dalam APBN.

2. Biaya exploitasi ditutup dengan pendapatan jawatan.

3. Tarif ditetapkan oleh menteri yang bersangkutan bersama-


sama dengan menteri keuangan.

f. Personal :

Pegawai jawatan adalah pegawai negeri yang penghasilannya


disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.

g. Ciri-ciri pokok :

1. Makna usaha adalah pelayanan masyarakat (public service).

Barang-barang atau jasa-jasa yang dihasilkan oleh perusahaan


itu dianggap merupakan barang-barang atau jasa-jasa yang
menjadi kewajiban pemerintah untuk menghasilkan, karena
10

barang-barang atau jasa-jasa itu besar dan penting artinya bagi


kehidupan rakyat banyak.

2. Badan itu harus menunjukkan sifat-sifat perusahaan, sehingga


harus diperoleh gambaran-gambaran yang seteliti-telitinya
dari pengaruh perusahaan tersebut terhadap APBN. Hasil-
hasil perusahaan harus nampak didalam APBN karena
kekayaan negara tidak dipisahkan pada bentuk usaha negara
Perjan.

3. Bidang usahanya merupakan monopoli pemerintah.

4. Usahanya mempunyai rate of return yang kecil, sedang resiko


dan investasinya besar sehingga tidak menarik bagi swasta.

2. Perusahaan Umum (PERUM)

a. Kedudukan daripada Perusahaan Umum (PERUM)

1. PERUM adalah sebagai badan usaha pemerintah yang


bertujuan untuk melayani kepentingan umum di bidang
produksi, distribusi, konsumsi dan sebagainya dan sekaligus
untuk memupuk keuntungan.

2. Berkedudukan sebagai bdan hukum yang diatur berdasarkan


undang-undang.

3. Bergerak di bidang jasa-jasa yang vital (public utilities).

4. Mempunyai nama dan kekayaan serta kebebasan bergerak,


seperi perusahaan swasta, untuk mengadakan suatu perjanjian,
kontrak-kontrak dan hubungan-hubungan lainnya.

5. Mempunyai landasan hukum yang berdasarkan hukum


perdata (privat rechtelijk).
11

6. Pada prinsipnya secara fungsional harus dapat berdiri sendiri,


kecual apabila karena politik pemerintah mengenai tarif dan
harga tidak mengijinkan tercapainya tyjuan ini.

7. PERUM tidak diperkenankan mempunyai anak perusahaan.


Pendirian PERUM pada masa yang akan datang dilakukan
dengan peraturan pemerintah sehingga bersifat fleksibel
dalam memenuhi kebutuhan kebijaksanaan departemen yang
bersangkutan.

8 laporan tahunan perusahaan memuat secara untung rugi dan


neraca kekayaan disampaikan pada pemerintah.

b. landasan hukumnya :

Undang-undang No. 19 tahun 1960, tentang perusahaan negara,


yang selanjutnya pendirian tiap-tiap PERUM diatur dengan
peraturan pemerintah. Menurut Instruksi Presiden No. 17 tahun
1967 jo undang-undang No. 9 tahun 1969, peralihan perusahaan
negara berdasarkan undang-undang No. 19 tahun 1960 tersebut,
tidak mengalami perubahan apa-apa yang dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang sewajarnya bagi perusahaan-
perusahaan negara.

c. Nomenklatur :

Menyebut PERUM didepan nama perusahaannya, atau menyebut


otorita apabila PERUM diserahi tugas-tugas oleh pemerintahan.

d. Tugas, struktur dan hubungan kerja :

1. PERUM bertugas melayani kepentingan umum dan sekaligus


untuk memupuk keuntungan dan bergerak di bidang yang
oleh pemerintah dianggap vital.
12

2. PERUM pada umumnya menjalankan tugas perusahaan, akan


tetapi dapat pula dibebani tugas pemerintahan. Dalam hal
dibebani tugas pemerintahan, tingkat struktur dalam
departemen serendah-rendahnya tingkat direktorat sehingga
pada departemen tidak ada unit organisasi yang menjalankan
tugas pemerintahan yang telah diserahkan kepada PERUM.

3. PERUM dipimpin oleh direksi yang bertanggung jawab


kepada menteri yang bersangkutan. Dalam hal Perum otorita,
direksi perusahaan menjalankan tugas pemerintahan,
pelaksanaan pimpinan perusahaan diserahkan kepada General
Manager.

e. Modal dan keuangan :

1. Modal perusahaan seluruhnya dimiliki oleh negara dari


kekayaan negara dipisahkan, modal perusahaan tidak terbagi
atas saham-saham.

2. PERUM tidak diperkenankan menyertakan kekayaan dalam


permodalan perusahaan lain.

3. Perusahaan mempunyai nama dan kekayaan sendiri serta


mempunyai kebebasan untuk mengadakan hubungan dengan
Perum lainnya, kecuali dalam hal penyertaan modal.

4. Jika politik pemerintah menerapkan tarif dan harga untuk


golongan-golongan konsumen tertentu lebih rendah dari tarif
dan harga menurut yang berlaku pada Perum, maka
pemerintah memberikan subsidi untuk pemakaian jasa-jasa
oleh konsumen-konsumen tersebut.

f. Personal :
13

1. Status dan penghasilan pegawai Perum diatur tersendiri


dengan peraturan pemerintah diluar ketentuan-ketentuan yang
berlaku bagi pegawai negeri.

2. Direksi diangkat dan diberhentikan oleh presiden atas usul


menteri yang bersangkutan.

3. Pegawai Perum diangkat dan diberhentikan oleh direksi atas


persetujuan menteri.

g. Ciri-ciri pokok :

1. PERUM usahanya bersifat melayani kepentingan umum


(public utilities) dan sekaligus untuk memupuk keuntungan
dan bergerak dibidang yang oleh pemerintah dianggap vital.

2. Perusahaan dapat menuntut dan dituntut, dan dasar hukumnya


diatur berdasarkan hukum perdata (privat rechtelijk).

3. Modal seluruhnya dimiliki oleh negara dari kekayaan negara


yang dipisahkan, serta dapat mempunyai dan memperoleh
dana dari kredit-kredit dalam dan luar negeri atau dari
obligasi.

4. Pada prinsipnya secara finansialharus dapat berdiri sendiri.

5. Oleh karena sifatnya, politik tarif dapat ditentukan oleh


pemerintah.

2. Perusahaan Perseroan (PERSERO)

a. Kedudukan daripada Perusahaan Perseroan (PERSERO)

1. Makna dari Perusahaan Perseroan (PERSERO) bertujuan


untuk memupuk keuntungan. Keuntungan dalam arti
memperoleh surplus atau laba, dari hasil pelayanan dan
14

pembinaan organisasi yang baik berdasarkan atas prinsip-


prinsip manajemen perusahaan yang menguntungkan.

2. Status hukumnya sebagai badan hukum perdata yang


berbentuk perseroan terbatas.

3. Hubungan usahanya diatur menurut hukum yang berlaku.

4. Tidak memiliki fasilitas negara.

5. Hubungan Persero dengan departemen teknis berlaku sama


seperti halnya hubungan perusahaan swasta dengan
departemen teknis.

6. Persero dimungkinkan mengadakan joint enterprise, akan


tetapi saham-sahamnya hendaknya diserahkan kepada negara.

b. landasan hukumnya :

Instruksi presiden No. 17 tahun 1967, Undang-undang No. 9


tahun 1960, peraturan pemerintah No. 12 tahun 1969, KUHP,
KUHD serta peraturan-peraturan perunang-undangan lainnya,
seperti peraturan pemerintah tentang penyertaan modal,
pengalihan bentuk, penegasan status disamping pula akte
pendirian masing-masing.

c. Nomenklatur :

Menyebut PT (perseroan terbatas) didepan nama perusahaannya,


namun perusahaan tidak perlu menyebut lapangan usahanya agar
flexibiilitas perusahaan dalam perkembangannya tidak
terganggu.

d. Tugas, struktur dan hubungan kerja :

1. Persero melakukan usaha-usaha perusahaan yang biasa


dilakukan oleh perusahaan swasta dan bukan semata-mata
menjadi tugas pemerintahan.
15

2. Menteri keuangan mewakili negara selaku pemegang saham


yang dibantu oleh Direktorat Persero, dalam
menyelenggarakan penata usahaan dari persero-persero
(Keppres No. 87/ 1969).

3. Untuk bahan pengesahan laporan tahuan Persero dilakukan


oleh rapat pemegang saham.

4. Direktorat Akuntan Negara dapat mengadakan pemeriksaan


(audit) dan mengeluarkan laporan akuntan.

e. Modal dan keuangan :

Modal perusahaan terdir dari sham-saham yang sebagian atau


seluruhnya milik negara yang merupakan kekayaan negara yang
dipisahkan. Hal ini dapat berarti bahwa :

1. Modal perusahaan dapat merupakan modal milik negara


seluruhnya atau dapat merupakan campuran antara modal
milik negara dan milik swasta.

2. Perusahaan dapat mempunyai penyertaan/ pemilik saham


pada perusahaan lain.

3. Negara dapat mengurangi, menambah atau melepaskan


pemilikan saham Persero dari perusahaan.

f. Personal :

Pegawainya berstatus sebagai pegawai perusahaan swasta biasa,


hubungan kerja antara pegawai dan perusahaan diatur dengan
kontrak kerja. Direksi dan komisaris mengadakan ikatan kerja
dengan pemilik Persero. Gaji dan pensiun pegawai ditetapkan
dalam kontrak kerja berdasarkan persetujuan kolektif.

g. Ciri-ciri pokok :
16

1. Perusahaan bertujuan untuk memupuk keuntungan atas dasar


persaingan yang sehat.

2. Perusahaan mempunyai status badan hukum perdata dengan


bentuk perusahaan perseroan terbatas, sehingga hubungan
usahanya diatur menurut hukum perdata.

3. Barang-barang atau jasa-jasa yang dihasilkan perusahaan


bukan merupakan kewajiban negara untuk menghasilkannya.

4. Bidang usahanya harus dapat memberikan keuntungan


finansial kepada negara baik dalam jangka panjang maupun
jangka pendek.

5. Persero pada prinsipnya tidak diberikan hak monopoli atau


perlakuan khusus lainnya oleh pemerintah.

6. Saham-saham Persero dapat pula dijual dalam bursa efek


melalui badan pelaksana pasar modal.

I. Swastanisasi Perusahaan Negara

Dalam rangka pengurangan beban bagi anggaran negara, beberapa


pengamat ekonomi menyarankan agar perusahaan negara yang merugi
terus sebaiknya dijual saja kepada pihak swasta, gagasan swastanisasi
perusahaan negara ini diilhami oleh pengalaman beberapa negara maju
(Amerika dan Inggris) dan negara-negara berkembang lainnya
(Singapura dan Meksiko) yang telah berhasil mengalihkan pemilikan
perusahaan negara kepada pihak swasta dengan hasil baik sekali atas
prestasi ekonomi perusahaan-perusahaan tersebut.

Akan tetapi pengaruh terbesar atas gagasan swastanisasi


perusahaan negara di negara-negara berkembang termasuk Indonesia
mungkin datang dari badan-badan bantuan internasional, seperti Bank
Dunia dan Dana Moneter International (IMF). berdasarkan temuan
17

penelitian empirik mereka, badan-badan bantuan internasional ini


berkesimpulan bahwa banyak perusahaan-perusahaan negara di negara-
negara berkembang yang menderita kerugian, sehingga terpaksa diberi
subsidi oleh pemerintah yang sebenarnya bisa disalurkan kepada bentuk
usaha-usaha yang mempunyai manfaat sosial yang lebih baik seperti
pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Beragam fenomena yang melatar belakangi swastanisasi


perusahaan negara sangat bergantung kepada kondisi perekonomian
suatu negara, di negara industri swastanisasi perusahaan negara
dilakukan dengan cara menjual saham perusahaan negara swastanisasi
pemilikan. Tindakan ini didukung oleh kondisi pasar modal yang telah
berjalan baik.

Secara konseptual swastanisasi perusahaan negara mengandung


beberapa pengertian, yaitu :

1. Pengalihan asset kepada pihak swasta. Dalam hal ini swastanisasi


memang dilakukan dengan menjual saham kepada pihak swasta,
baik melalui bursa atau lainnya.

2. Deregulasi dan hak monopoli. Dalam hal ini bisa diikuti dengan

penjualan asset tetapi bisa juga tidak. Dalam hal tidak diikuti
dengan penjualan asset berarti yang diswastakan adalah lingkungan
manajemen, sehingga memaksa manajemen menggunakan
pertimbangan bisnis.

3. Franchising atau contracting dari hasil maupun masukan yang dapat


dipasarkan kepada badan usaha swasta. Keterkaitan dengan badan
usaha swasta dalam memasarkan hasil dan mendapatkan masukan
akan mengembangkan pertimbangan bisnis dalam perusahaan
negara.
18

Dalam arti yang luas ini terlihat bahwa swastanisasi perusahaan


negara tidak selalu berarti pengalihan asset kepada pihak swasta, yang
lebih menjadi landasan pemikiran swastanisasi perusahaan negara
adalah pengembangan suatu iklim manajemen yang mendorong
pertimbangan bisnis menjadi penting.