You are on page 1of 13

PERANCANGAN MODEL ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MENENTUKAN

STANDARD UNIT COST PENDIDIKAN PROGRAM S-1


(Studi Kasus : Jurusan Statistik - ITS)

Aestikani Mahani, Arman Hakim Nasution


Jurusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Email: aestikani@yahoo.com

ABSTRAK
Status Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang akan
segera bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Pendidikan Badan Hukum Milik Negara (PT-
BHPMN) memacu pihak manajemen untuk berbenah diri dalam mewujudkan tata pengelolaan yang
baik. Salah satu isu strategis yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah penentuan besar biaya
jasa pendidikan (belajar-mengajar) yang pembiayaannya diambil dari Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) yaitu dana SPP dan SPI. Mengingat sumber pendapatan tersebut menopang sebagian
besar kebutuhan dana operasional maupun pengembangan organisasi maka diperlukan upaya
efisiensi dan akuntabilitas pengelolaannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka diperlukan
kajian mengenai penggunaan biaya pada aktivitas pendidikan baik di jurusan dan fakultas sebagai
activity centre. Sehingga perancangan model dan penerapan model Activity based Costing merupakan
metode yang dapat mengakomodasi hal tersebut. Penelitian diawali dengan me-review sistem
akuntansi perguruan tinggi, penetapan asumsi model, identifikasi proses bisnis dan aktivitas di
jurusan Statistik sebagai pilot project, identifikasi cost component tiap aktivitas, penentuan cost driver
dan mengalokasikan overhead cost ke masing-masing aktivitas serta menghitung besarnya total cost
dan variansi antara metode existing terhadap metode ABC. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
besarnya biaya per unit yang diperoleh dengan metode ABC adalah sebesar Rp. 3.399.323 sedangkan
dari metode traditional costing adalah sebesar Rp. 3.550.948. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
terjadi over-costing dengan variansi (selisih) biaya sebesar Rp. Rp. 115.625 per unit.
Kata kunci : Activity based Costing, Biaya Jasa Pendidikan, Variansi Biaya

ABSTRACT
Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) status as State Owned University that will be
transformed into Corporate State Owned University trigger the organization improving its
management in order to achieve Good University Governance. One of strategic issue examined in this
research is the determination of teaching service cost which its funding taken from SPP and SPI,
called Non-taxes Government’s Revenue. Considering those funds is used to support major
operations and development activities, efficiency and accountability are needed in its financial
management. To achieve these goal, a research in cost management is necessary to be done, not only
in the particular department but also faculty/institute as activity center. Therefore, Activity Based
Costing model and its application could accommodate this matter. Research initially conducted by
reviewing accounting system used in Higher Education, defining model assumptions, identifying
business process and activities in Statistics Department as pilot project, identifying cost component
for each activities, identifying cost driver and allocating overhead cost on each activities. Thereafter,
calculating total cost and cost variance between existing traditional methode to ABC method. As s
result, total cost per unit obtained from ABC method is Rp. 3.399.323, while traditional costing per
unit is Rp. 3.550.948. Hence, there is over-costing indication and the variance per unit is Rp.
115.626.
Keyword : Activity based Costing, Teaching Service Cost, Cost Variance

1
1. Pendahuluan 1.2 Permasalahan
1.1 Latar Belakang Permasalahan yang akan dibahas pada
Pengelolaan perguruan tinggi yang penelitian ini adalah bagaimana
mengacu pada ketentuan Direktur Jendral mengidentifikasi dan merancang suatu model
Pendidikan Tinggi (DIKTI) dalam HELTS perhitungan biaya layanan pendidikan pada
(Higher Education Long Term Strategy) 2003- tingkat jurusan yaitu program Sarjana S-1, yang
2010 mengenai otonomi perguruan tinggi dalam berbasis aktivitas (ABC) dan menghitung
bentuk perubahan status PTN menjadi besarnya variansi biaya yang terjadi terhadap
Perguruan Tinggi Berbadan Hukum Pendidikan metode existing traditional costing.
Milik Negara (PTBHP-MN) telah memotivasi
1.3 Tujuan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya untuk berbenah diri. Salah satu usaha Tujuan yang ingin dicapai dari
untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan penelitian tugas akhir ini antara lain:
merancang sistem pengelolaan keuangan 1. Merancang model pengalokasian
perguruan tinggi berbasis aktivitas dan biaya berbasis aktivitas (Activity based
menghitung standart cost pendidikan per Costing) berdasarkan proses bisnis dan
mahasiswa dengan metode Activity based aktivitas teridentifikasi pada perguruan
Costing (ABC) . tinggi yaitu ITS.
Pada pengelolaan anggaran keuangan 2. Menentukan service cost
perguruan tinggi dengan sistem konvensional, pendidikan per unit berbasis metode ABC
pengalokasian dana hanya didasarkan pada serta membandingkannya dengan metode
proporsi kegiatan dan sistem plafon yang existing.
diusulkan oleh unit-unit di dalam institusi
(bottom-up system) dengan melalui serangkaian 1.4 Ruang Lingkup Penelitian
pembahasan dengan tim reviewer bidang II.
Untuk memperjelas dan membatasi
Sistem ini pada kondisi aktual menyebabkan
penelitian ini maka ditetapkan ruang lingkup
distorsi penggunaan dana anggaran sehingga
penelitian berikut ini. Batasan yang digunakan
terjadi over-absorption maupun under-
dalam penelitian ini adalah:
absorption. Hal tersebut berdampak pada
inefisiensi operasional anggaran yang akan 1. Data sekunder yang
bermuara pada ketidakakuratan estimasi dana digunakan adalah data keuangan Jurusan
pendidikan yang akan dikenakan pada Statistik tahun 2005/2006 dengan sumber
masyarakat melalui SPP (Sumbangan dana PNBP/eks-DIKS yaitu SPP dan SPI.
Pengembangan Pendidikan) dan SPI Data primer diperoleh dari observasi
(Sumbangan Pengembangan Institusi) lapangan, brainstorming dengan pihak
mengingat salah satu komponen dana PNBP terkait dan kuesioner pembobotan.
tersebut akan memegang peranan strategis di 2. Perhitungan standart unit
masa mendatang. cost dibatasi pada produk
pendidikan/belajar-mengajar.
Penelitian ini memfokuskan pada
3. Depresiasi peralatan,
perancangan model Activity based Costing
gedung, dan kendaraan tidak diperhatikan.
(ABC) untuk menentukan harga pokok kegiatan
4. Model diaplikasikan pada
pelayanan pendidikan program Sarjana (S-1) per
tingkat jurusan dibatasi pada jurusan
unit (mahasiswa) di level jurusan. Dalam
Statistika – ITS.
penyusunan model Activity based Costing
Sedangkan, asumsi yang digunakan dalam
(ABC) ini mengacu pada model ABC yang
penelitian ini antara lain :
diusulkan Roztocki (1999) dan diadaptasikan
menurut sistem pengelolaan perguruan tinggi 1. Data yang diberikan oleh unit yang
yang bertugas menyediakan standar pelayanan terkait dianggap valid.
minimal kepada masyarakat. Setelah service 2. Tidak ada perubahan kebijakan
cost diperoleh kemudian dibandingkan dengan selama dilakukan penelitian.
metode tradisional (existing) sehingga dapat 3. Variabel penelitian lain akan
diketahui besarnya variansi yang terjadi dan dicantumkan sebagai keterangan
apakah terjadi over-costing atau under-costing. tambahan dalam pengolahan data.

2
4. Model yang dirancang adalah model oleh jurusan, fakultas dan institut, ke
generik yang dapat diaplikasikan pada dalam activity dictionary.
semua jurusan. 4. Mengidentifikasi dan menetapkan Cost
Object, Direct Labor Cost, Direct
Material Cost dan Overhead Cost.
2. Metodologi Penelitian
penetapan dimaksudkan untuk
Kerangka kerja yang digunakan yaitu
menyamakan persepsi pembaca dan
dengan merancang model sistem ABC untuk
menjelaskan acuan istilah tersebut dalam
perguruan tinggi yaitu ITS, kemudian
penelitian ini.
menghitung standart unit cost untuk
5. Identifikasi Expense Category, Cost
produk/output yang dihasilkan yaitu pendidikan.
Driver, dan Cost Component.
Standart unit cost ini kemudian dibandingkan
6. Penyusunan hirarki alokasi activity
dengan biaya yang dibebankan menurut sistem
overhead cost pada tingkat fakultas dan
traditional costing yang selama ini digunakan
institut. Untuk menentukan/mengestimasi
(existing).
proporsi biaya yang diserap, yaitu melalui
 Tahap I — Aktivitas proporsi yang besarnya ditentukan oleh
1. Mengidentifikasi semua aktivitas yang cost driver yang telah diidentifikasi.
terjadi di dalam area cakupan proyek.  Tahap Aplikasi model ABC pada
2. Mengidentifikasi semua sumber daya Jurusan Statistika ITS
(resources) yang dikonsumsi oleh organisasi 7. Merekonstruksi aktivitas jurusan
baik yang berpa uang (dana anggaran), tenaga berdasarkan activity dictionary pada
kerja, mesin/peralatan, dan lainnya. tahun anggaran 2005-2006.
3. Mengidentifikasi resource driver (jumlah 8. Mengalokasikan activity cost sesuai
orang, jumlah peralatan dan perlengkapan, besar model ABC yang telah dibuat.
gaji/honor/insentif, dan lain-lain). Untuk setiap 9. Perhitungan variansi (distorsi) biaya
resources, hubungkan ke aktivitas yang antara biaya pada kondisi existing
mengkonsumsinya. terhadap biaya dari hasil perhitungan
4. Membebankan biaya ke aktivitas secara ABC.
penuh sesuai dengan banyaknya resource yang
dikonsumsi melalui cust driver. 3. Perancangan Model
 Tahap II — Cost Objects
3.1 Kebijakan Manajemen Keuangan
1. Mengidentifikasi cost object. Program anggaran terpadu di Perguruan
2. Mengidentifikasi activity driver (misal : Tinggi terangkum dalam dokumen DIPA
jam penggunaan ruang, jumlah (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), yaitu :
mahasiswa peserta praktikum, dan lain
I. Anggaran yang berasal dari Penerimaan
sebagainya) untuk setiap aktivitas yang
Negara Bukan Pajak (PNBP) atau disebut
menyerap biaya penuh, untuk menghubungkan
juga eks-DIKS, terdiri dari :
aktivitas ke cost object yang dikonsumsinya.
3. Membebankan biaya ke cost object • Kelompok SPP : Untuk
secara penuh sesuai besarnya biaya yang operasional rutin bulanan di
dikonsumsi melalui activity driver. institut/jurusan/fakultas, misalnya :
Langkah-langkah penelitian yang honorarium jabatan fungsional unit,
dilakukan adalah antara lain: honorarium jabatan fungsional jurusan,
honorarium pembina kegiatan
• Tahap Perancangan model Activity Based
kemahasiswaan, honorarium panitia
Costing (ABC)
pengadaan, honorarium panitia
1. Identifikasi proses bisnis Perguruan UTS/UAS, perjalanan dinas, kegiatan
Tinggi. kemahasiswaan (PIMITS, PIMNAS,
2. Review data keuangan PT, untuk Seminar/Studium general, bantuan
mengetahui mata anggaran yang ada serta operasional ORMAWA, dll), perjalanan
batasan penggunaannya. dinas, penghargaan mahasiswa
3. Mengidentifikasi dan membuat definisi berprestasi, penghargaan penyerahan
aktivitas-aktivitas utama yang dilakukan nilai UTS/UAS tepat waktu, langganan

3
daya dan jasa, pemeliharaan tingkat 3.2 Perancangan Model ABC
institut dan lain-lain. Alokasi anggaran
3.2.1 Review Data Keuangan Existing dan
untuk fakultas dan jurusan terhadap
Identifikasi Proses Bisnis Perguruan
institut adalah sebesar 60 : 40.
Tinggi
• Kelompok SPI : Kegiatan
pengem-bangan institusi / fakultas Dalam data keuangan existing yang disusun
/jurusan, digunakan pada saat-saat berdasarkan mata anggaran belanja,
tertentu, misalnya : langganan daya dan diketahui bahwa komposisi anggaran
jasa, renovasi lab, bantuan studi lanjut belanja eks-DIKS (PNBP) untuk produk
dosen dan karyawan, DRK inherent, pendidikan disusun atas :
asuransi hari tua tenaga honorer, Tabel 1 Mata Anggaran dan Sub-Mata Anggaran
bantuan insentif jurusan, pembangunan
fisik, dan penggunaan lain-lain yang
diatur melalui surat keputusan Rektor.
Alokasi anggaran untuk fakultas dan
jurusan terhadap institut adalah sebesar
60 : 40.
• Kelompok PPM: Kegiatan
promosi, pengem-bangan dan
kesejahteraan lembaga PPM.
• Kelompok Manajemen Aset :
Kegiatan rutin dan pengembangan Unit
Manajemen Aset (AMU) secara
mandiri.
• Kelompok MMT dan program
kerja sama pendidikan.
II. Anggaran yang berasal dari pemerintah,
terdiri dari :
• DIK (eks-DIK) : yaitu
anggaran yang digunakan untuk keperluan
administrasi umum misalnya gaji,
tunjangan pegawai, vakasi, dan lain-lain.
• DIP (eks-DIP) : yaitu
anggaran yang digunakan untuk
penyelenggaraan kegiatan dan usaha
Perguruan Tinggi, misalnya pembangunan
gedung, perawatan gedung, pengadaan
peralatan dan mebelair, serta
pengembangan unit-unit misalnya UPT
SAC, Pusat Jaminan Mutu (PJM), UPT
Bahasa dan lain-lain.
III. Dana yang berasal dari hibah (Block Grant)
maupun hibah kompetisi (competitive grant)
misalnya TPSDP, QUE, DUE-LIKE, A2
dan A3. Dana hibah ini pada umunya
digunakan untuk meningkatkan mutu suatu
jurusan/unit di PT.

4
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 1. Proses manajerial (managerial process)
dengan sistem mata anggaran tersebut,  Penentuan visi dan misi
penyerapan biaya aktivitas yang dilakukan oleh
PT menjadi kurang akurat, mengingat harus  Penyusunan strategi
dikelompokkan dalam kategori mata anggaran  Monitoring dan evaluasi
yang belum tentu sama penyebab biayanya (cost 2. Proses utama (core process)
driver) dan sulit untuk ditelusuri efektivitas
penggunaannya.  Identifikasi kebutuhan dan pengembangan
produk PT
Observasi yang dilakukan pada data
keuangan PT bertujuan memisahkan obyek  Proses transformasi dan pemenuhan
pembelanjaan dalam mata anggaran sesuai kebutuhan produk perguruan tinggi.
aktivitas yang dilakukan. Sehingga perlu  Proses pemasaran produk PT
pengklasifikasian mata anggaran yang ada ke
 Proses tambahan pada produk PT
dalam kategori belanja operasional/rutin dan
kategori pengembangan, seperti pada tabel 3. Proses pendukung (support process)
berikut :  Proses pengembangan SDM
Tabel 2 Pengelompokan Mata Anggaran  Proses pengadaan infrastruktur TI
 Proses administrasi dan keuangan
 Proses pemeliharaan
Dari flow chart proses bisnis PT
tersebut, dapat diidentifikasi bahwa core
process PT yang menghasilkan salah satu
produk tri dharma PT yaitu pendidikan, berada
di jurusan sebagai pusat aktivitas belajar-
mengajar.
3.2.2 Identifikasi Cost Object, Direct Labor
Cost, Direct Material Cost dan Overhead
Cost
Tabel 3 Penetapan Cost Object, Direct Labor
Cost, Direct Material Cost dan Overhead Cost

Proses bisnis perguruan tinggi yang


berhasil diidentifikasi pada penelitian ini
mengacu pada model CIMOSA (Computer
Integrated Manufacturing for Open System
Architecture) yang secara garis besar dibagi
menjadi 3 level yaitu managerial process, core
process, dan support process.

Gambar 1 Proses Bisnis PT

5
3.2.3 Identifikasi Expense Category, Cost Statistik pada Tahun Anggaran 2005-
Driver, dan Cost Component 2006
Hasil identifikasi expense category, cost Setelah model diidentifikasi selanjutnya
driver dan cost component sebagai berikut : diidentifikasi aktivitas dan karakteristik proses
Tabel 4 Penetapan Expense Category, Cost Driver, bisnis jurusan Statistik. Hal ini dimaksudkan
dan Cost Component untuk memperjelas cost driver apa saja yang
terkait dengan penelitian dan alur proses
pendidikan/belajar-mengajar
5.1.1 Rekonstruksi Aktivitas
Rekonstruksikan aktivitas Jurusan
Statistik tahun 2005-2006 disajikan dalam
bentuk activity dictionary sebagai berikut :
Tabel 5 Activity Dictionary

Sehingga model yang dapat


merepresentasikan proses integrasi sistem
akuntansi existing yang berbasis mata anggaran
ke dalam aktivitas ditunjukkan pada gambar
berikut ini :
RESOURCES ACTIVITIES COST OBJECTS

Cost
component Cost
Managerial driver
Belanja Rutin Activities

Cost Cost
component driver Pendidikan
Core Activities Program S-1

Belanja Cost Cost


Pengembangan component driver
Support Activities

Activity Based Process Activity


Activity based Object
Costing Centre
Costing

Gambar 2 Model ABC Terintegrasi

5. Aplikasi Model
5.1 Rekonstruksi Aktivitas, Identifikasi
Karakteristik dan Proses Bisnis Jurusan

6
Sedangkan sumber dana keuangan jurusan
Statistik – ITS berdasarkan laporan keuangan
pada tahun 2005-2006 terbagi dalam 2 jenis
sumber anggaran yaitu :
a. Sumber dana SPP.
Rekapitulasi penggunaan dana SPP untuk
pendidikan yaitu sebesar Rp. 286.814.860,00,
sedangkan untuk kemahasiswaan sebesar Rp.
144.183.844,00.
b. Sumber dana SPI.
Rekapitulasi penggunaan dana SPI bulan
Maret 2005 dan Januari-Februari 2006 untuk
pendidikan yaitu sebesar Rp. 43.975.670,00
dan kemahasiswaan sebesar Rp.
3.657.000,00.
Data-data lain yang berkaitan dengan
Jurusan Statistik – ITS yaitu :
• Jumlah dosen : 40 orang
• Jumlah karyawan : 11 orang
• Jumlah mahasiswa (orang)

Tabel 6 Jumlah Mahasiswa Jurusan Statistik tahun


2005-2006 (Sumber : www.bapsi.its.ac.id )
Prodi D3 S-1 S-2 Total
Jumlah Mahasiswa 155 296 52 503
Persentase 31% 59% 10% 100%
Proporsi mahasiswa S-1 tersebut sekaligus
menjadi faktor konversi penggunaan sumber
daya (biaya) yang diserap oleh prodi S-1.
• Anggota senat jurusan : 7 orang
• Anggota tim pengajaran : 1 orang
• Anggota tim mutu jurusan : 3 orang
• Koordinator inventaris : 1 orang
• Bagian umum dan perlengkapan : 1 orang
• Bagian pengadaan : 1 orang
• Jumlah laboratorium : 5 buah
• Jumlah lulusan S-1 tahun 2005-2006 : 61
orang
Evaluasi Entry Nilai
I/O Mahasiswa baru di
Jurusan Akademik UTS Belum

Sudah 110 sks ?


Persiapan Perkuliahan Perkuliahan
Ya
Monitoring II Kerja Praktek
Perwalian
Belum
Perkuliahan Evaluasi PBM
Sudah 125 sks ?
Perkuliahan
Evaluasi PBM Ya

Monitoring III Tugas Akhir


Monitoring I
Belum
Evaluasi Sudah 144 sks?
Perkuliahan Akademik UAS
Ya

Yudisium

Wisuda

7
Gambar 3 Alur Core Business Process • Frekuensi
rapat/pertemuan
5.2 Mentransformasikan Mata Anggaran • Jumlah ATK
Belanja dari Laporan Keuangan ke Pelaksanaan praktikum • Jumlah peserta
• Jumlah bahan habis
dalam Aktivitas pakai lab
• SKS
Setelah aktivitas dan proses bisnis utma
• Frekuensi
diketahui, selanjutnya dilakukan identifikasi rapat/pertemuan
mata anggaran yang terkait terhadap aktivitas Persiapan dan pelaksanaan KP
• Jumlah ATK
yang telah diidentifikasi sebelumnya. Tujuan • Jumlah mahasiswa
dilakukannya transformasi adalah untuk • Frekuensi
pertemuan
mengetahui komponen biaya (cost component) Persiapan, pelaksanaan, ujian dan
• Jumlah ATK
evaluasi TA
dari aktivitas yang terkait dengan mata anggaran • Jumlah peserta
tertentu. Hasil transformasi dilampirkan dalam • Jumlah bahan habis
lampiran. • Frekuensi
Persiapan dan pelaksanaan kegiatan
rapat/pertemuan
5.3 Identifikasi dan Seleksi Cost Driver kemahasiswaan
• Jumlah ATK
Setelah mengetahui aktivitas pada tahun Pemberian insentif dan bantuan dana • Frekuensi
rapat/pertemuan
anggaran 2005-2006, maka selanjutnya penelitian (TA)
• Jumlah ATK
diidentifikasi cost driver apa saja yang terkait
• Frekuensi
pada aktivitas melalui metode interview dan Pembinaan pengembangan karir
rapat/pertemuan
mahasiswa
brainstorming dengan pihak Jurusan Statistik. • Jumlah ATK
Pemilihan cost driver didasarkan pada prinsip • Frekuensi
kemudahan/ketersediaan data. Pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan
rapat/pertemuan
pengukuran kinerja
• Jumlah ATK
Tabel 7 Activity Cost Driver
• Frekuensi
Persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
rapat/pertemuan
pelaporan rekrutmen SDM
Activity Cost Driver • Jumlah ATK
• Frekuensi
Perumusan kebijakan mutu dan • Frekuensi
Bantuan studi lanjut rapat/pertemuan
monitoring mutu jurusan (quality rapat/pertemuan
• Jumlah ATK
assurance) • Jumlah peserta
Penyusunan dan penyebarluasan • Frekuensi • Frekuensi
Persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
kebijakan strategis dan garis besar rapat/pertemuan rapat/pertemuan
pelaporan pengembangan SDM
program kerja tahunan jurusan • Jumlah peserta • Jumlah ATK
• Frekuensi • Frekuensi
Evaluasi kurikulum dan materi
rapat/pertemuan, Perencanaan jenjang karir SDM rapat/pertemuan
perkuliahan Jurusan
• Jumlah ATK • Jumlah ATK
• Frekuensi Pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan
Penyusunan kurikulum • Frekuensi
rapat/pertemuan pengadaan materi kebutuhan
jurusan/program studi rapat/pertemuan
• Jumlah ATK infrastruktur dan kelengkapan jurusan
• Jumlah ATK
• Frekuensi melalui lelang/tender
rapat/pertemuan Pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan
Penyusunan materi perkuliahan sesuai • Frekuensi
• Jumlah ATK pengadaan materi kebutuhan
kurikulum Jurusan dan Program Studi rapat/pertemuan
• Jumlah dan jenis infrastruktur dan kelengkapan jurusan
perjalanan dinas • Jumlah ATK
tanpa melalui lelang/tender
• Frekuensi • Frekuensi
rapat/pertemuan, Persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
Pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan pelaporan pengelolaan administrasi rapat/pertemuan
• Jumlah ATK • Jumlah ATK
popularisasi Jurusan/ program studi kemahasiswaan
• Jumlah dan jenis
perjalanan dinas Persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
• Frekuensi
pelaporan pelaksanaan pelaksanaan
• Frekuensi rapat/pertemuan
pemeliharaan fasilitas dan infrastruktur
rapat/pertemuan • Jumlah ATK
Pendaftaran dan perwalian meliputi ruang lab, kelas, ruang dosen,
• Jumlah ATK • Jenis perjalanan
ruang sidang, peralatan lab, studio,
• Jumlah mahasiswa dinas
komputer, OHP, dll.
• Jumlah ATK
Persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan • Frekuensi
Persiapan, pelaksanaan evaluasi dan • SKS
pelaporan pemeliharaan kendaraan dan rapat/pertemuan
pelaporan perkuliahan • Frekuensi rapat/
sarana transportasi • Jumlah ATK
pertemuan
Pengadaan dan pemeliharaan gedung • Frekuensi kegiatan
• Mata kuliah
Persiapan dan pelaksanaan Ujian • Jumlah ATK
UTS/UAS • Jumlah dosen
• Jumlah peserta

8
5.4 Perhitungan Direct Labor Cost, Direct 2006. Faktor proporsi ini digunakan untuk
Material Cost, dan Overhead Cost dan kegiatan yang bersifat manajerial dan
Variansi Biaya support yang tidak diserap secara langsung
Setelah activity overhead cost berhasil oleh produk (mahasiswa). Karena frekuensi
ditelusuri dan dipilah komponen biaya apa yang kegiatan adalah cost driver yang paling
diserap, maka tahap selanjutnya adalah mudah ditelusuri.
mengklasifikasikan activity overhead cost
tersebut ke dalam kategori indirect labor cost, Contoh perhitungan overhead cost
indirect material cost, dan support cost. jurusan adalah sebagai berikut :
Tabel 8 Overhead Cost Aktivitas Penyusunan
5.4.1 Direct Labor Cost Kebijakan Strategis
Komponen direct labor cost yaitu HR Biaya Overhead (Variable
Activity cost)
pejabat tertentu, HR Kalab, HR Koord. RB
Jenis Biaya Rp.
Statistik, HR pembimbing KP, HR Pembimbing
TA, HR penguji TA HR asisten dosen, HR 1
Foto copy
Penyusunan dan 0,262
Panitia UTS/UAS, HR evaluasi UTS/UAS, HR penyebarluasan kebijakan
Langganan daya dan 1
unsur akademik, HR TKK, HR Tim Mutu strategis dan garis besar
jasa 5,889
program kerja tahunan
Jurusan (TMJ). Hasil perhitungan menunjukkan jurusan 4
nilai direct labor cost sebesar Rp. 11,448,089 Konsumsi
2,364
atau Rp. 386,649 per unit (mahasiswa). Biaya overhead aktivitas 68,515
5.4.2 Direct Material Cost Uraian dari tiap jenis biaya adalah sebagai
Komponen direct material cost adalah berikut :
kertas, bahan habis pakai laboratorium, tinta a.Foto copy
printer, spidol white board, dan lain-lain. Hasil
perhitungan menunjukkan nilai direct labor cost Pembelian toner dan kertas foto copy = Rp.
sebesar Rp. 26,547,370 atau Rp. 89,687 per unit 841.500
(mahasiswa). Frekuensi Kegiatan = 1 kali / th
5.4.3 Perhitungan Overhead (support) Cost Frekuensi total kegiatan yang memerlukan
pada Jurusan foto copy = 82 kali
Hasil perhitungan menunjukkan nilai Maka, biaya foto copy kegiatan ini = (1/82)
overhead cost sebesar Rp. 254,563,953 atau Rp. * Rp. 841500 = Rp. 10.262
860,013. Nilai ini diperoleh dengan b. Langganan daya dan jasa
menggunakan faktor proporsi sebagai pengganti
cost driver yang tidak diketahui. Sehingga Total biaya langganan daya dan jasa = Rp.
walaupun ada resource sharing antar program 1.302.881
studi, biaya penyerapan sumber daya oleh Frekuensi kegiatan = 1 kali / th
program studi tertentu dapat ditelusuri. Metode Frekuensi total kegiatan yang menggunakan
penentuan faktor proporsi ini adalah sebagai daya dan jasa = 82 kali
berikut :
Maka, biaya daya dan jasa kegiatan ini =
 Cost driver Jumlah mahasiswa S-1 = 0,59 (1/82) * Rp. 1302881 = Rp. 15.889
(jumlah mahasiswa S1 : jumlah total
c. Konsumsi
mahasiswa = 296 : 503). Faktor proporsi ini
digunakan untuk mengkonversi biaya Total biaya konsumsi rapat = Rp 3.473.815
overhead yang diserap oleh produk Frekuensi kegiatan = 1 kali/th
(mahasiswa), misalnya biaya-biaya yang
Pelaksanaan Popularisasi Jurusan Frekuensi
terjadi pada aktivitas core process seperti
total kegiatan yang memelukan konsumsi =
pendaftaran dan perwalian, KP/TA,
82
UTS/UAS, dan lain sebagainya.
 Cost driver frekuensi pertemuan/kegiatan = Maka, biaya konsumsi = (1/82)*Rp.
jumlah frekuensi kegiatan tertentu ÷ jumlah 3.473.185 = Rp. 42.364
frekuensi total kegiatan dalam tahun 2005-

9
Sedangkan contoh perhitungan Fotocopy
49
6,485
overhead cost untuk salah satu aktivitas core Persiapan, pelaksanaan,
evaluasi dan pelaporan Langganan 76
process adalah sebagai berikut : pengelolaan administrasi daya dan jasa 8,700
Tabel 9 Overhead Cost Aktivitas Pelaksanaan kemahasiswaan
23,15
Popularisasi Jurusan ATK
5,417
Aktivitas Jenis Biaya Rp.
Biaya overhead aktivitas 24,420,602
SPPD 3,007,000
Foto copy 20,524
Cetak kalender 4,427,500
Uraian dari tiap jenis biaya adalah sebagai
Pelaksanaan, evaluasi berikut :
dan pelaporan
Langganan daya
popularisasi Jurusan/
dan jasa a. Foto copy
program studi 31,778
Pembelian toner dan kertas foto copy = Rp.
HR penanggung
705890 841.500 ;
jawab website
Proporsi cost driver jumlah mahasiswa S-1
Biaya overhead aktivitas 8,192,692 = 0,59 ;
Maka, biaya foto copy = 0,59*841500 =
Uraian dari tiap jenis biaya adalah sebagai Rp. 496.485
berikut :
b.Langganan daya dan jasa
a. SPPD
Total biaya langganan daya dan jasa = Rp.
Tidak dikonversikan karena pengeluaran 1.302.88 ;
SPPD ( Rp. 3.007.000) seluruhnya untuk
kemahasiswaan S-1. Faktor proporsi dari cost driver jumlah
mahasiswa = 0,59 ;
b.Foto copy
Biaya daya dan jasa aktivitas ini = 0.59 *
Pembelian toner dan kertas = Rp. 841.500 ; Rp. 1.302.881 =Rp. 768.700
Frekuensi kegiatan ini = 2 kali/th ; c. ATK
Biaya foto copy = (2/82)* Rp. 841500 = Rp. Belanja ATK = Rp. 39.246.470 ;
20.524
Faktor proporsi dari cost driver jumlah
c. Cetak kalender mahasiswa = 0,59 ;
Tidak ada konversi karena seluruhnya Maka, Rp. ATK = 0.59 *39246470 = Rp.
digunakan untuk program S-1. 23.155.417
d.Langganan daya dan jasa 5.4.4 Perhitungan Overhead Cost pada
Total biaya langganan daya dan jasa = Rp. Fakultas/Institut
1.302.881 ; Pada level fakultas dan institut, sebagian
Frekuensi kegiatan ini = 2 kali ; besar aktivitas adalah administrasi,
Frekuensi seluruh kegiatan yang pemeliharaan, pengadaan dan perawatan yang
menggunakan daya dan jasa = 82 kali ; dialokasikan berdasarkan proporsi institut :
fakultas : jurusan = 40% : 5%-10% : 55% -60%.
Biaya daya dan jasa untuk kegiatan ini =
Hal ini menyebabkan biaya di level fakultas
(2/82) * 130.2881 = Rp. 31.778
(FMIPA) dan institut tergolong biaya overhead
e. HR penanggung jawab website karena tidak dapat ditelusuri secara langsung
Tidak dikonversikan, karena pada program pada produk. Berikut ini adalah tabel proporsi
studi lain tidak ada program kerja dana SPP dan SPI Jurusan Statistik program S-1
popularisasi. pada facility-level activities FMIPA dan institut
yang dikutip dari buku Petunjuk Operasional
Contoh perhitungan overhead cost
edisi Revisi tahun 2005-2006.
untuk salah satu aktivitas support process
adalah sebagai berikut :
Tabel 11 Penyerapan Overhead Cost pada level
Tabel 10 Overhead Cost Aktivitas Pelaksanaan FMIPA dan Institut (Sumber : BAPSI-ITS, 2005c )
Pengelolaan Administrasi Kemahasiswaan

10
Metode
Traditional
Metode ABC Costing
Total Rp 395,559,412 Rp 677,945,761
Per unit Rp 3,399,323 Rp 3,550,948
Variansi/unit Rp 151,625

6. Kesimpulan
Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa
diambil dari penelitian yang telah dilakukan
overhead cost FMIPA yang diserap oleh
antara lain sebagai berikut:
program S-1 jurusan Statistik adalah sebesar Rp.
1. Hasil perancangan model aplikasi ABC
66,919,266 atau 12,78% dari SPP dan 7,7% dari
menetapkan adanya proses bisnis yang
SPI. Sedangkan overhead cost institut yang
diidentifikasi dengan pendekatan
diserap oleh program S-1 adalah sebesar Rp.
CIMOSA, serta mengidentifikasi 26
543,720,881 atau 44% dari SPP dan 62% dari
aktivitas utama.
SPI. Sehingga total biaya facility-level overhead
2. Hasil perancangan model ABC
adalah sebesar Rp. 610,640,147.
mengidentifikasikan aktivitas yang
5.5 Perhitungan Distorsi Biaya Existing dapat mewakili seluruh pelaksanaan
terhadap ABC operasional dan pengembangan jurusan.
Dari perhitungan biaya dengan metode 3. Matriks EAD yang disusun dapat
ABC diatas diperoleh : dipergunakan sebagai acuan
Tabel 12 Total Biaya dari Metode ABC
pengalokasian kebutuhan sumber daya
sesuai dengan mata anggaran bagi
Jenis Biaya Nilai belanja aktivitas tertentu di tingkat
Direct Labour Cost Rp 114,448,089 Jurusan.
Direct Material Cost Rp 26,547,370 4. Faktor proporsi yang merupakan
penganti cost driver dapat mewakili
Overhead Cost Rp 865,204,100
konversi biaya overhead tiap aktivitas.
Total Cost Rp 1,006,199,559 5. Hasil studi kasus aplikasi model pada
Cost Per unit Rp 3,399,323 jurusan Statistika – ITS menunjukkan
bahwa model dapat mengakomodasi
seluruh aktivitas aktual Jurusan Statistik
Sedangkan biaya yang didapatkan – ITS pada tahun anggaran 2005-2006
dengan menggunakan metode traditional dan mampu menghasilkan perhitungan
accounting yaitu : resource yang diserap oleh aktivitas
Tabel 13 Total Biaya dari Metode Traditional belajar-mengajar sebagai cost object.
Costing Hasil studi metode ABC menunjukkan
Jenis Biaya Jumlah bahwa direct labor cost yang diserap
Direct Cost Rp 140,995,459 oleh cost object adalah sebesar Rp.
114.448.089, direct material cost
Overhead Cost Rp 536,950,302 sebesar Rp. 26.547.370, dan overhead
Jumlah Total Rp 677,945,761 cost sebesar Rp. 865.204.100.
Per unit Rp 3,550,948 Sedangkan variansi yang terjadi per unit
adalah sebesar Rp. 151,625. Sehingga
Sehingga selisih/variansi biaya dari dapat disimpulkan bahwa terjadi over-
metode existing (traditional costing) terhadap costing.
metode ABC adalah : 6. Hasil studi pengaplikasian di Jurusan
Statistik – ITS pada tahun anggaran
2005-2006, perhitungan belanja
berbasis aktivitas dan penetapan
Tabel 5.9 Variansi Biaya ABC terhadap Traditional kebutuhan sumber daya melalui mata
Costing anggaran pada model aplikasi ABC

11
yang dirancang ditentukan oleh Activity Based Costing (Case study :
karakteristik yang dimiliki jurusan Logistics Department – Balikpapan
tersebut. Support Facility PT. Thiess
Indonesia). Laporan Tugas Akhir.
7. Daftar Pustaka Jurusan Teknik Industri. ITS. Surabaya.
BAPSI-ITS. 2005a. Laporan Tahunan Jurusan Statistik – ITS. 2007. <URL:
Rektor : Disampaikan pada Rapat www.statistic.its.ac.id>
Terbuka Senat ITS Memperingati Mulyadi. 2003. Activity-Based Cost System.
Dies Natalis ke-45, 10 Nopember Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
2005. No, J. J., dan Kleiner, B.H., 1997. “How to
BAPSI – ITS. 2005b. Petunjuk Operasional Implement Activity based Costing”.
Penerimaan dan Penggunaan Dana Logistics Information Management
PNBP (Penerimaan Negara Bukan 10, 2:68-72.
Pajak) ITS tahun 2006-2007 Volume Rayburn, L.G., 1999. Akuntansi Biaya :
1 dan 2. Dengan Menggunakan Pendekatan
BAPSI – ITS. 2005c. Petunjuk Operasional Manajemen Biaya (Jilid I). Edisi 6.
Penerimaan dan Penggunaan Dana Diterjemahkan oleh Sugyarto. Jakarta :
PNBP (Penerimaan Negara Bukan Erlangga.
Pajak) ITS tahun 2006-2007 Edisi Roztocki, Narcyz, Valenzuela, J., Porter, J.,
Revisi. Monk, M.R., dan Needy, K.L.S., 1999.
BAPSI - ITS. 2007. < URL : A Procedure for Smooth
http://www.bapsi.its.ac.id > Implementation of Activity based
BAPSI-ITS. 2007. Laporan Tahunan Rektor : Costing in Small Companies.< URL :
Disampaikan pada Rapat Terbuka www2.newpaltz.edu/~roztockn/
Senat ITS Memperingati Dies Natalis virginia99. pdf >.
ke-47, 10 Nopember 2007. Sandora, Rina. 2004. Penentuan Harga Pokok
Cooper, Robin dan Kaplan, Robert. 1999. The Pelayanan Jasa Program Pendidikan
Design of Cost Management System. 1 tahun Komputer Aplikasi Bisnis
New Jersey : Prentice Hall – Upper dengan metode Activity Based
Saddle River. Costing (Studi Kasus : PASTI – ITS).
Laporan Tugas Akhir. Jurusan Teknik
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Industri ITS. Surabaya.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005.
SP4 2006 Sistem Perencanaan, Widjaja, S. 2002. Penerapan Konsep Activity
Penyusunan Program dan Based Costing (ABC) pada
Penganggaran : Panduan Perencanaan Anggaran Pendidikan
Penyusunan Dokumen. Jakarta. Tinggi. Proceeding Seminar Nasional
Pasca Sarjana II. Institut Teknologi
Glad, Ernest dan Becker, H., 1995. Activity Sepuluh Nopember. Surabaya.
Based Costing and Management. John
Wiley & Sons Ltd.
Granof, Michael, H., Platt, D. E., Vaysman, I.,
2000. Grant Report : Using Activity-
Based Costing to Manage More
Effectively. Department of Accounting,
College of Business Administration -
University of Texas at Austin.
Hilton, R. W., 2002. Managerial Accounting.
Irwin – McGrawHill.
Imawan, Rachmad. 2005. Determining Heavy
Equipment Service Pricing using

12
Lampiran

13