You are on page 1of 1

Aku pikir yang namanya perjodohan takkan menghampiriku.

Aku pikir Cuma


temenku yang jelas – jelas akan mengalami Perjodohan, ternyata aku sendiripun sedang
mengalaminya dan dilema akan sebuah yang namanya perjodohan. Bingung sekaligus
kesel setelah aku dengar bahwa diriku akan dijodohkan, seperti mereka tak percaya akan
kemampuanku memilih calon suami.
Memang untuk saat ini aku masih menikmati masa – masa mudaku, aku tak mau
terburu – buru dengan yang pernikahan. Usiaku baru genap menginjak 22 tahun dan kata
mereka dengan usia seperti sekarang patutlah seorang perempuan untuk menikah.
”Haaaahhhhh.....rasanya aku pusing bila harus memikirkan pernikahan diusiaku
yang sekarang”. Batinku berkata
”Tapi Nak, kamu sudah pantas buat menikah. Apa lagi yang kamu tunggu-
tunggu?. Kau sudah hampir lulus dengan kuliahmu, masalah kerja biar calon suamimu
yang berkerja dan kamu pun akan didukungnya untuk bekerja. Apalagi dengan cita – cita
kamu yang ingin meneruskan sekolah lagi, kau pasti didukung dan dibiayai
olehnya”.nasehat Mamahku saat aku sedikit beragumen dengan pendapatku.
”Mah, aku masih muda. Aku belum siap mengurus segala hal tentang rumah
tangga, apalagi ditambah aku yang belum lulus kuliah. Bagaimana aku bisa mengurus
suami dan rumah tangga sedangkan mengurus sendiri saja masih kaya gini?”. Mencoba
menjelaskan kepada Mamah.

***
Setelah pembicaraan itu, sekalinya ibuku telpon pasti menanyakan kesiapan aku
untuk menerima perjodohan itu. Semakin lama akupun semakin bosan mendengar
nasehat – nasehat dari Ibu. Ibu telah merencanakan pertemuan ku dengan dirinya, nanti
bila saat lebaran. Saat – saat lebaran itulah aku dan dia selalu bertemu bahkan keluargaku
dan keluarganya.