You are on page 1of 9

MAKALAH PANCASILA

PERANAN PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI


MUDA YANG BERMORAL DAN BERETIKA

STMIK DIPANEGARA
MAKASSAR
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan hidayahNya sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini saya buat sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah
pancasila tahun ajaran 2010/2011.

Saya selaku penulis sekaligus penyusun mengharapkan masukan dari semua pihak untuk
penyempurnaan makalah ini pada masa-masa mendatang. Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat
bagi kita semua.

Amien.
BAB 1

PERANAN GENERASI MUDA DALAM KONTEKS PERJUANGAN DAN


PEMBANGUNAN

Peran generasi muda atau pemuda dalam konteks perjuangan dan pembangunan dalam
kancah sejarah kebangsaan Indonesia sangatlah dominan dan memegang peranan sentral,
baik perjuangan yang dilakukan secara fisik maupun diplomasi, perjuangan melalui
organisasi sosial dan politik serta melalui kegiatan-kegiatan intelektual. Masa revolusi fisik
dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah ladang bagi tumbuh suburnya
heroisme pemuda atau generasi muda yang melahirkan semangat patriotisme dan
nasionalisme. Pemuda atau generasi muda yang hidup dalam nuansa dan suasana pergolakan
kemerdekaan dan perjuangan akan cenderung memiliki kreativitas tinggi dan keunggulan
untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan dan masalah yang dihadapi, akan tetapi
bagi para pemuda atau generasi muda yang hidup dalam nuansa nyaman, aman dan tentram
seperti kondisi sekarang, cenderung apatis, tidak banyak berbuat dan hanya berusaha
mempertahankan situasi yang ada tanpa usaha dan kerja keras melakukan perubahan yang
lebih baik dan produktif atau bahkan cenderung tidak kreatif sama sekali. Generasi muda
memiliki posisi yang penting dan strategis karena menjadi poros bagi punah atau tidaknya
sebuah negara, Benjamine Fine dalam bukunya 1.000.000 Deliquents, mengatakan "a
generation who will one day become our national leader". Generasi muda adalah pelurus dan
pewaris bangsa dan negara ini, baik buruknya bangsa kedepan tergantung kepada bagaimana
generasi mudanya, apakah generasi mudanya memiliki kepribadian yang kokoh, memiliki
semangat nasionalisme dan karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya
(nation and character), apakah generasi mudanya memilki dan menguasai pengetahuan dan
tekhnologi untuk bersaing dengan bangsa lain dalam tataran global dan tergantung pula
kepada apakah generasi mudanya berfikir positif untuk berkreasi yang akan melahirkan
karya-karya nyata yang monumental dan membawa pengaruh dan perubahan yang besar bagi
kemajuan bangsa dan negaranya.
BAB 2

GENERASI MUDA ADALAH ORANG YANG MEMBUAT SEJARAH

(People Makes History)


Peran dan perjuangan pemuda Indonesia dirintis dan dimulai dari berdirinya Indische
Vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia ada
tahun 1908. Organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda ini
Kemudian menerbitkan Koran Indonesia Merdeka. Dalam terbitannya yang pertama koran
ini menyatakan tentang kemauan besar bangsa Indonesia untuk merebut kembali hak-hak
dan menetapkan kedudukan atau keyakinan di tengah-tengah dunia, yaitu sebuah Indonesia
yang merdeka. Selanjutnya semangat nasionalisme dan patriotisme tersebut mulai merambah
ke Indonesia dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang
kemudian diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional, kemudian berdiri pula Organisasi
Sarikat Islam (SI) pada tanggal 10 September 1912. Semangat nasionalisme dan patriotisme
tersebut kemudian dipertegas dengan Sumpah Pemuda yang merupakan sumpah setia para
pemuda pada saat Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia dalam Kongres Pemuda II yang
dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yaitu tentang pengakuan generasi muda indonesia
untuk bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
dan menjunjung Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Sebelumnya pada rapat pertama,
Sabtu, tanggal 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB),
Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPI Sugondo
Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari
para pemuda. Acara kemudian dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti
dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa
memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan
kemauan. Militansi dan peran pemuda selanjutnya terlihat menjelang proklamasi
kemerdekaan yaitu dalam Peristiwa Rengas Dengklok berupa "penculikan" yang dilakukan
oleh sejumlah pemuda antara lain Adam Malik dan Chaerul Saleh dari Menteng 31 terhadap
Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 WIB.
Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang,
untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi, sampai kemudian terjadinya
kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Akhmad
Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan. Pada saat
mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda peran pemuda yang tergabung
dalam API, barisan pemuda pelopor dan laskar laskar perlawanan rakyat sangat jelas sekali.
Peristiwa 10 November Surabaya, Bandung Lautan Api, adalah bukti pengorbanan pemuda
atau generasi muda bagi bangsa dan negara.

BAB 3

MEMAKNAI PERISTIWA SEJARAH SEBAGAI SUMBER EDUKASI DAN


INSPIRASI
Experience is the best teacher. Jadi terminologi "belajar dari sejarah" bukahlah hal yang
sepele, justru sebaliknya lewat sejarah itulah identitas seorang warga negara diperkokoh.
Mengambil makna edukasi dan inspirasi dari peristiwa-peristiwa sejarah besar (great
historical events) di atas tidak sebatas diperingati dalam upacara seremonial sambil
mengenang jasa para pemuda Indonesia. Lebih jauh para pemuda atau generasi muda saat ini
haruslah mengambil makna mendalam dan menemukan inspirasi dan edukasi atas peristiwa
bersejarah itu. Sejarah akan terus berulang untuk masa dan pelaku sejarah yang berbeda.
Pemuda atau generasi muda saat ini mempunyai potensi besar mengulang sejarah yang lebih
besar dan monumental. Perjuangan merintis kemerdekaan, Proklamasi kemerdekaan, satunya
Indonesia sebagai sebuah nation atau bangsa, bukanlah sekedar ikrar, tetapi harus jauh
merayapi setiap nurani generasi muda dan rakyat Indonesia untuk kemudian melahirkan
gerakan yang nyata bagi perwujudan untuk mencapai tujuan negara yaitu melindungi
segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Masa untuk mencapai tujuan negara telah beberapa
tahapan dilalui, mulai dari masa orde lama, orde baru bahkan sekarang bangsa Indonesia
memasuki era reformasi.
Sejak bergulirnya reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan Bulan Mei tahun 1998
yang ditandai dengan adanya pergantian rezim orde baru dengan orde reformasi, belum
banyak terjadi perubahan-perubahan mendasar dan menyeluruh di segala aspek dan sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Orde reformasi yang menggantikan orde baru dan
diharapkan dapat membawa perubahan besar atau lompatan besar menuju Indonesia Baru
untuk menggantikan Indonesia Lama (Orde Baru) yang dipandang sebagai masa yang penuh
dengan kekurangan (deficiencies) dan berbagai macam penyakit sosial (social ills),
tampaknya masih jauh dari harapan. Masa-masa sulit diawal reformasi yang dijalankan
tampaknya belum mampu untuk mewujudkan Indonesia Baru yang diharapkan. Masa-masa
awal reformasi justru penuh dengan situasi yang penuh dengan ketidakpastian, tidak
dihormatinya hukum dan keadilan (law and order). Harapan dan tuntutan masyarakat
terutama kalangan pemuda dan mahasiswa yang dikenal dengan agenda reformasi hingga
saat ini hampir dikatakan tidak berjalan atau dapat dikatakan berjalan di tempat. Perubahan
yang terjadi tampak dirasakan hanya pada bidang demokrasi, yang dalam prakteknya malah
cenderung kepada demokrasi keterlaluan dan berlebihan (too much democracy). Pada level
bangsa (nation) kita jauh dari ketentraman (in order), malah cenderung tidak aman (dis
order). Penyakit masyarakat (social ills) dan ketidakpastian hukum cenderung meningkat
kemudian harga diri bangsa dimata dunia saat ini malah semakin terpuruk dan ada
kecenderungan, bangsa ini hampir kehilangan kebanggaan dan identitas (jatidiri) sebagai
bangsa Indonesia (having no pride as Indonesian). Bangsa seolah-olah saling menyalahkan
dan membuka aib sendiri, bagaikan membuka kotak pandora (pandora box). Kemudian tak
dapat dinafikan, bahwa kemiskinan dan pengangguran meningkat, investasi dan
pertumbuhan ekonomi menurun ditengah dominasi asing, kekerasan dan kesemrawutan
berbagai kota, berbagai bencana melanda, ditingkahi lakon elit politik yang jauh dari
harapan rakyat. Permasalahan-permasalahan bangsa semakin rumit dan semakin tidak
beradab, amuk masa, tawuran, kerusuhan sosial dan konflik horizontal di daerah menjadi
pemandangan yang mencengangkan. Berbagai konflik kepentingan antara pusat dan
daerahpun ikut meramaikan kondisi bangsa dan cenderung ke arah disintegrasi bangsa.
Kemudian lebih menyedihkan lagi bangsa semakin diperparah dengan berbagai bencana dan
musibah di berbagai pelosok penjuru nusantara serta ancaman akan kehilangan generasi (lost
generation) akibat penyalahgunaan narkoba. Seharusnya disaat kita sedang memulai
pembangunan Indonesia baru yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang drastis, cepat
dan berjangka panjang di bidang politik diperlukan semangat kecintaan kepada bangsa,
kebersamaan dan persaudaraan yang dapat menumbuhkan harapan-harapan pencerahan bagi
bangsa untuk membangun Indonesia baru atau Indonesia yang lebih baik, maka dimanakah
para pemuda atau generasi muda mengambil peran dalam situasi bangsa seperti ini.

BAB 4
PERAN SERTA GENERASI MUDA DALAM PEMBANGUNAN

Disaat kondisi bangsa seperti saat ini peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar,
penggerak dan pengawal jalannya reformasi dan pembangunan sangat diharapkan. Dengan
organisasi dan jaringannya yang luas, pemuda dan generasi muda dapat memainkan peran
yang lebih besar untuk mengawal jalannya reformasi dan pembangunan. Permasalahan yang
dihadapi saat ini justru banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi,
dislokasi dan terlibat pada kepentingan politik praktis. Seharusnya melalui generasi muda
atau pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang
yang ada. Pemuda atau generasi muda yang mendominasi populasi penduduk Indonesia saat
ini mesti mengambil peran sentral dalam berbagai bidang untuk kemajuan antara lain:

1. Saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan. Pemuda
harus meletakkan cita-cita dan masa depan bangsa pada cita cita perjuangannya. Pemuda
atau generasi muda yang relatif bersih dari berbagai kepentingan harus menjadi asset yang
potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa depan. Saatnya pemuda memimpin perubahan.
Pemuda atau generasi muda yang tergabung dalam berbagai Organisasi Kemasyarakatan
Pemuda memiliki prasyarat awal untuk memimpin perubahan. Mereka memahami dengan
baik kondisi daerahnya dari berbagai sudut pandang. Kemudian proses kaderisasi formal dan
informal dalam organisasi serta interaksi kuat dengan berbagai lapisan sosial termasuk
dengan elit penguasa akan menjadi pengalaman (experience) dan ilmu berharga untuk
mengusung perubahan.
2. Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama (common interest) untuk suatu
kemajuan dan perubahan. Tidak ada yang bisa menghalangi perubahan yang diusung oleh
kekuatan generasi muda atau pemuda, sepanjang moral dan semangat juang tidak luntur.
Namun bersatunya pemuda dalam satu perjuangan bukanlah persoalan mudah. Dibutuhkan
syarat minimal agar pemuda dapat berkumpul dalam satu kepentingan. Pertama, syarat dasar
moral perjuangan harus terpenuhi, yakni terbebas dari kepentingan pribadi dan perilaku
moral kepentingan suatu kelompok. Kedua, kesamaan agenda perjuangan secara umum
Ketiga, terlepasnya unsur-unsur primordialisme dalam perjuangan bersama, sesuatu yang
sensitive dalam kebersamaan.
3. Mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme dikalangan generasi muda atau
pemuda akan mengangkat moral perjuangan pemuda atau generasi muda. Nasionalisme
adalah kunci integritas suatu negara atau bangsa. Visi reformasi seperti pemberantasan KKN,
amandeman konstitusi, otonomi daerah, budaya demokrasi yang wajar dan egaliter
seharusnya juga dapat memacu dan memicu semangat pemuda atau generasi muda untuk
memulai setting agenda perubahan.
4. Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan jatidiri daerah. Semangat
kebangsaan diperlukan sebagai identitas dan kebanggaan, sementara jatidiri daerah akan
menguatkan komitmen untuk membangun dan mengembangkan daerah. Keduanya
diperlukan agar anak bangsa tidak tercerabut dari akar budaya dan sejarahnya.
5. Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda dalam melaksanakan agenda-
agenda Pembangunan. Energi pemuda yang bersatu cukup untuk mendorong terwujudnya
perubahan. Sesuai karakter pemuda yang memiliki kekuatan (fisik), kecerdasan (fikir), dan
ketinggian moral, serta kecepatan belajar atas berbagai peristiwa yang dapat mendukung
akselerasi perubahan.
6. Pemuda menjadi aktor untuk terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya.
Tidak dapat dihindari bahwa politik dan ekonomi masih menjadi bidang eksklusif bagi
sebagian orang termasuk generasi muda. Pemuda harus menyadari , bahwa sumber daya
(resource) negeri ini sebagai aset yang harus dipertahankan, tidak terjebak dalam konspirasi
ekonomi kapitalis.
7. Secara khusus peranan pemuda di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung seharusnya lebih
berorientasi kepada upaya membangun kualitas sumber daya manusia dan upaya menjaga
kualitas sumber daya alam Bangka Belitung agar tetap dapat mempunyai daya dukung bagi
pembangunan Bangka Belitung dasawarsa kedepan dan untuk persiapan bagi generasi
mendatang. Sebagai suatu propinsi yang baru menginjak usia delapan tahun banyak hal yang
harus diperbuat, diperjuangkan dan ditingkatkan agar propinsi ini dapat sejajar serta dapat
mengejar ketertinggalan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Issue aktual tentang
kerusakan lingkungan di Bangka Belitung hendaknya menjadi perhatian serius dan utama
mengingat eksploitasi terhadap biji timah yang sudah dimulai sejak masa Kesultanan
Palembang Darussalam pada tahun 1710, kemudian dilanjutkan oleh bangsa asing kulit putih
yaitu bangsa Inggris tahun 1812 dan bangsa Belanda sejak tahun 1814 hingga kemerdekaan,
kemudian dilanjutkan eksploitasinya oleh perusahaan Timah milik negara dan sekarang
malah dieksploitasi secara bebas dan besar-besaran oleh rakyat tanpa memperhatikan aturan-
aturan dan kelestarian lingkungan, akan berakibat pada kerusakan dan kehancuran. Dalam
posisi inilah harusnya pemuda atau genersi muda dapat berperan menghentikan kerusakan
dan mengajukan alternatif solusi yang cerdas bagi penyelesaiannya dan terutama sekali
solusi terbaik bagi penghidupan rakyat pasca timah. Saat ini suara, pemikiran dan tindakan
nyata dari generasi muda atau pemuda, mahasiswa, akademisi atau dari golongan elite
terpelajar nyaris tak terdengar, sebetulnya banyak kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah daerah yang perlu dikritisi secara arif.

8. Pemuda atau generasi muda harus dapat memainkan perannya sebagai kelompok penekan
atau pressure group agar kebijakan-kebijakan strategis daerah memang harus betul-betul
mengakar bagi kepentingan dan kemashlatan umat.