You are on page 1of 15

Menyelamatkan Kehancuran Pertambangan Timah

Bangka Belitung (1)


Kamis, 07/01/2010 11:29 WIB | email | print

Berikut ini merupakan laporan khusus yang ditulis oleh Ketua KPK-N (Komite
Penyelamat Kekayaan Negara), Marwan Batubara *). Laporan khusus ini tersaji dalam
sebuah buku beliau yang berjudul 'Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam, Menuju
Negara Berdaulat'.

Insya Allah, Eramuslim akan memuat tulisan ini dalam rubrik laporan khusus yang
disajikan secara berseri.

Latar Belakang

Aktivitas penambangan timah di Indonesia telah berlangsung lebih dari 200 tahun,
dengan jumlah cadangan yang cukup besar. Cadangan timah ini, tersebar dalam
bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 kilometer, yang disebut The Indonesian Tin
Belt. Bentangan ini merupakan bagian dari The Southeast Asia Tin Belt, membujur
sejauh kurang lebih 3.000 km dari daratan Asia ke arah Thailand, Semenanjung Malaysia
hingga Indonesia.

Di Indonesia sendiri, wilayah cadangan timah mencakup Pulau Karimun, Kundur,


Singkep, dan sebagian di daratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus ke arah selatan
yaitu Pulau Bangka, Belitung, dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan.
Penambangan di Bangka, misalnya, telah dimulai pada tahun 1711, di Singkep pada
tahun 1812, dan di Belitung sejak 1852.

Namun, aktivitas penambangan timah lebih banyak dilakukan di Pulau Bangka, Belitung,
dan Singkep (PT Timah, 2006). Kegiatan penambangan timah di pulau-pulau ini telah
berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Dari sejumlah pulau
penghasil timah itu, Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di
Indonesia.

Pulau Bangka yang luasnya mencapai 1.294.050 ha, seluas 27,56 persen daratan
pulaunya merupakan area Kuasa Penambangan (KP) timah. Area penambangan terbesar
di pulau ini dikuasai oleh PT Tambang Timah, yang merupakan anak perusahaan PT
Timah Tbk. Mereka menguasai area KP seluas 321.577 ha.

Sedangkan PT Kobatin, sebuah perusahaan kongsi yang sebanyak 25 persen sahamnya


dikuasai PT Timah dan 75 persen lainnya milik Malaysia Smelting Corporation,
menguasai area KP seluas 35.063 ha (Bappeda Bangka, 2000). Selain itu terdapat
sejumlah smelter swasta lain dan para penambang tradisional yang sering disebut
tambang inkonvensional ( TI ) yang menambang tersebar di darat dan laut Babel.
Permasalahan

Penambangan timah yang telah berlangsung ratusan tahun itu belum mampu melahirkan
kesejahteraan bagi rakyat. Padahal, cadangan timah yang ada kian menipis pula. Tak
heran, jika kemudian pertambangan timah di Bangka Belitung membawa dampak sosial
berupa masalah kemiskinan dan kecemburuan sosial di sekitar wilayah pertambangan.
Hal krusial yang memantik masalah itu muncul karena potensi timah yang berlimpah itu
belum diatur secara optimal. Sehingga pendapatan berlimpah dari aktivitas penambangan
pada akhirnya belum mampu mendukung bagi terwujudnya kemakmuran rakyatnya.
Salah satu penyebabnya adalah terjadinya penyelundupan timah yang dilakukan melalui
aktivitas penambangan illegal.

Pemberian ijin tambang inkonvesional (TI) di Bangka Belitung telah mengurangi


pendapatan negara dan daerah akibat terjadinya penyeludupan, serta mengancam
terkurasnya ketersediaan cadangan timah di Bangka Belitung. Pemberian izin TI
mungkin mendukung usaha pertambangan PT Timah sebagai BUMN dan PT Kobatin,
sebab kedua perusahaan tersebut tidak perlu membuka area penambangan baru. Namun,
keberadaan TI ini pada akhirnya justru memperburuk ketersediaan logam timah di
Bangka Belitung dan membuat rusak lingkungan wilayah Bangka Belitung karena
penambangan dilakukan di semua tempat.

Mestinya, pemerintah pusat dan daerah serta BUMN di bidang pertambangan timah
berperan lebih besar agar hasil penambangan seluruhnya masuk ke kas negara. Bila
kondisi seperti itu terwujud, jumlah produksi timah Indonesia bisa menyamai bahkan
melampaui Cina yang mencapai 130.000 ton per tahun. Berdasarkan data tahun 2007,
melalui penambangan legal, Indonesia menghasilkan timah sebesar 71.610 ton per tahun.
Dari penambangan ilegal, sebanyak 60.000 ton per tahun.

Kerugian Negara Akibat Penyelundupan Timah

Pihak intelijen Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, pada tahun 2006 melaporkan, nilai
penyelundupan timah di Bangka Belitung mencapai sekitar Rp 10 miliar per bulan.
Penyelundupan timah terjadi berkali-kali dan seolah menjadi suatu kelaziman. Pada akhir
2005, pernah terjadi penyelundupan timah sebanyak 714 karung pasir timah, atau senilai
Rp 1 miliar.

Timah yang diselundupkan ke luar wilayah Indonesia, umumnya berasal dari tambang-
tambang rakyat (TI). Awalnya, penambang mitra PT Timah masih menjual seluruh hasil
tambang timahnya ke PT Timah. Namun, godaan harga yang lebih tinggi dari pembeli
lain membuat penjualan timah ke PT Timah menurun. Penambang TI menjadi marak
setelah UU Otonomi Daerah disahkan dan Keputusan Menperindag No.
146/MPP/Kep/4/1999 tertanggal 22 April 1999 menyatakan timah dikategorikan sebagai
barang bebas.

Pemda Bangka Belitung kemudian menerbitkan Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan
Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana
Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum
dan Mineral Ikutan Lainnya. Semua peraturan ini untuk melegitimasi pembukaan
tambang inkonvensional dengan tujuan mengatrol pendapatan daerah yang mandiri.
Terkait hal ini, Juru Bicara PT Timah, Dwi Agus, menyatakan kebijakan otonomi daerah
membawa dampak buruk bagi PT Timah.

Sebab, ujar Dwi, muncul saingan usaha. Di sisi lain, pengawasan penuh konsesi terutama
di darat tak bisa dilakukan karena juga meliputi daerah-daerah hutan. Dengan demikian,
banyak kebocoran di lapangan yang dilakukan mitra. Jika timah diselundupkan ke luar
negeri, tentu negara tidak mendapatkan royalti dan pajak, dan pemegang KP ditunggangi
penambang. Kerugian lain pemerintah meliputi dana reklamasi dan pungutan lain yang
diatur dalam Perda, yang tidak dibayar oleh penambang liar.

Sejak penertiban timah ilegal dilakukan besar-besaran pada bulan Oktober 2006, harga
logam timah di pasar dunia terus meningkat. Tercatat harga logam timah di London
Metal Exchange (LME) dan Kualalumpur Tin Market berkisar pada level 13.000
dolar/ton, meningkat dari harga sebelumnya sekitar 8.000 dolar/ton. Hal ini karena pasar
dunia logam timah terjadi kekurangan pasokan, karena Indonesia (PT Timah Tbk) hanya
memasok 5.500 ton/bulan. Sementara negara-negara pemasok logam timah lainnya
seperti Malaysia, Singapura dan Thailand tidak mempunyai kemampuan produksi yang
besar. Menurut Dirut PT Timah pada tahun 2007, Thobrani Alwi, sebelumnya PT Timah
mengekspor hanya 5.500 ton/bulan. Pada Januari 2007, PT Timah hanya mengirim 3.500
ton, sehingga harga meningkat. Namun, stok timah dunia masih banyak sekitar 9.000
hingga 10.000 ton.

Selanjutnya, Indonesia sudah mulai mampu mempengaruhi harga logam timah dunia
pasca penertiban timah ilegal. Pembeli-pembeli yang sebelumnya membeli komoditi ini
dari Singapura, Malaysia dan Thailand mulai minta pasokan dari PT Timah Tbk. Akan
tetapi, saat ini PT Timah mendahulukan customer-customer yang sudah lama bermitra
dengan PT Timah. Andai sebelumnya pemain-pemain pertimahan di Indonesia mengikuti
aturan, pasti Indonesia sejak dulu bisa menjadi price maker. Diharapkan ke depan,
Indonesia dapat memegang harga timah dunia, bila perlu Kualalumpur Tin Market yang
menentukan patokan harga timah saat ini, pindah ke Jakarta atau Bangka menjadi Jakarta
Tin Market atau Bangka Tin Market.

Sebelumnya, jika kebutuhan timah dunia mencapai 120.000 ton maka 60.000 ton
dikeluarkan Malaysia, Indonesia hanya 60.000 ton secara legal. Padahal, 60.000 ton yang
dijual oleh Malaysia sebagian besar adalah timah dari Indonesia. Oleh karena itu, ke
depan pelaku-pelaku bisnis timah harus dapat mengekspor sesuai peraturan. Dengan
harga timah tinggi, pemerintah akan mendapat royalti dan pajak lebih besar. Selain
pasokan berkurang di pasar dunia, kenaikan harga juga dipicu oleh konsumsi timah pada
industri yang menggunakan bahan dasar timah saat ini semakin meningkat. Kemudian,
kalangan industri mulai memerhatikan unsur kesehatan dan lingkungan.

Pendapatan PT Timah
Pendapatan PT Timah pada tahun 2008 adalah Rp. 9,053 Triliyun, pendapatan ini
meningkat jika dibandingkan pendapatan tahun 2007, yakni Rp 8, 542 Triliyun atau
sekitar 906.932 Juta USD. Sedangkan di tahun 2006, pendapatan PT Timah sekitar Rp. 4,
076 Triliyun. Dari tahun 2006 hingga tahun 2008, tren pendapatan PT Timah memang
terus mengalami peningkatan. Artinya royalti dan pajak serta deviden yang diterima
negara pun meningkat.

Tabel 1. Produksi Timah Indonesia

Sumber: PT Timah Tbk.

Tabel 1 di atas memperlihatkan produksi timah Indonesia yang terus meningkat dari
tahun ke tahun. Melalui PT Timah, Indonesia pun memperoleh pendapatan yang terus
meningkat. Khusus 2006, 2007, dan 2008 keuntungan bersih PT Timah masing-masing
adalah Rp 208 miliar, Rp 1,7 triliun, dan Rp 2 triliun. Dengan peningkatan keuntungan
yang begitu besar, ditambah lagi dengan dampak ekonomi dan efek multiplier dari
aktivitas pertambangan timah, seharusnya negara mendapat manfaat yang besar dan
kesejahteraan rakyat Babel juga meningkat.

Namun di sisi lain, aktivitas penambangan timah ilegal dan penyelundupan timah pun
marak terjadi. Transaksi penyelundupan timah tersebut nilainya mencapai Rp 10 miliar
per bulan (Kejati Babel, 2006). Dari nilai tersebut, tidak satu rupiah pun masuk menjadi
kas negara. Artinya, negara dirugikan Rp 10 Miliar per bulan, ditambah lagi cadangan
timah terus menipis akibat aktivitas penambangan ilegal merajalela.

Sementara itu, faktor harga akan selalu mempengaruhi pendapatan PT Timah serta
besarnya royalti dan pajak yang masuk sebagai kas negara. Harga tertinggi logam timah
dunia selama tahun 2008 adalah US$ 25.500/ton dan terendah adalah US 10.000/ton.
Harga rata-rata timah tahun 2008 adalah sebesar US$ 18,512/ton atau meningkat 27 %
dari harga rata-rata logam timah dunia tahun 2007 yang sebesar US$ 14,529/ton
Menurunnya harga logam timah pada triwulan keempat 2008 terpengaruh oleh arus krisis
ekonomi global yang menyebabkan berkurangnya permintaan logam timah. Perkiraan
banyak analis, harga timah tahun 2009 akan berada pada kisaran US$ 13.000 per ton,
menurun dibandingkan tahun 2008 (Majalah Kontan, 2009). Diharapkan dengan harga
yang terus membaik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia, pendapatan PT
Timah juga akan terus meningkat.

Cadangan dan Potensi Ekonomi Timah Nasional


Berdasarkan informasi dari US Geological Survey 2006, disebutkan bahwa cadangan
terukur timah di Indonesia adalah sekitar 800.000 sampai 900.000 ton. Dengan tingkat
produksi rata-rata sekitar 60.000 ton/tahun, atau setara dengan 90.000 ton/tahun pasir
timah, cadangan tersebut akan mampu bertahan sekitar 10 - 12 tahun lagi, atau hingga
tahun 2017 – 2019. Pada harga rata-rata US$ 20.000/ton (diasumsikan sebagai harga rata-
rata timah selama 8 tahun ke depan), sumber daya timah ini menyimpan potensi ekonomi
dengan nilai sekitar US$ 18 miliar atau sekitar Rp 190 triliun. Belum lagi jika multiplier
effect dari industri timah ini diperhitungkan maka potensi ekonomi tambang timah Babel
menjadi semakin besar untuk dapat berperan meningkatkan PDB, pendapatan negara dan
daerah, serta kesejahteraan rakyat, khususnya di Babel.

Ketersediaan timah yang semakin menipis seharusnya diperhitungkan pemerintah pusat,


khususnya Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), serta pemerintah
daerah setempat. Sebab, industri timah dengan tingkat produksi yang berlangsung 4–5
tahun belakangan ini, berkontribusi sangat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Babel.
Di masa mendatang, tingkat produksi timah lambat laun pasti menurun. Oleh sebab itu,
pemerintah harus memperhitungkan keberlanjutan ekonomi masyarakat Bangka Belitung
sejak produksi menurun hingga cadangan timah habis. Jika industri timah berakhir,
sedang sumber penggerak ekonomi alternatif tidak tersedia maka kesejahteraan
masyarakat akan berkurang atau bahkan angka kemiskinan pasti bertambah. Berikut ini
adalah data cadangan timah yang dikelola PT Timah.

Tabel 2. Luas KP dan Cadangan Timah

Sumber: PT Timah Tbk.

Pada Tabel 2 kita melihat bahwa cadangan timah Indonesia memang semakin menipis.
Oleh sebab itu, seharusnya pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengamankan
produksi, menyediakan cadangan nasional masa depan, sekaligus menggunakannya untuk
mengendalikan harga. Salah satu yang penting adalah membatasi dan menetapkan batas
maksimum atau kuota produksi timah nasional setiap tahun, misalnya 75.000 ton per
tahun. Ini perlu dilakukan terutama untuk pengendalian harga dan proteksi kebutuhan
jangka panjang dalam negeri.

Pemerintah harus berupaya mengantisipasi habisnya sumber daya timah dengan


pengaturan regulasi. Misalnya, jalur ekspor harus dari satu pintu, yakni PT Timah yang
telah ditunjuk sebagai BUMN yang menggarap sektor ini, termasuk mengembalikan
eksplorasi hanya kepada PT Timah. Kemudian, PT Timah lebih fokus mengatur kuota
produksi dan menghadapi persaingan produsen timah dari negara lain di pasar
internasional. Penegakan hukum dan penerapan sanksi juga sangat penting untuk
mengamankan kebijakan pemerintah dalam industri timah nasional.

Indonesia kini merupakan negara produsen timah terbesar ke-2 di dunia, setelah Cina
sebagai produsen terbesar pertama. Indonesia merupakan negara eksportir timah nomor
satu di dunia, lebih dari 90% produksinya diekpor ke manca negara. Sedangkan Cina
mengonsumsi hampir seluruh produksinya untuk kebutuhan domestik. Perbandingan
produksi timah Indonesia dengan negara lain dapat dilihat di Grafik 1.

Grafik 1. Produksi Timah Indonesia, China dan Negara-negara lain.

Sumber: www.bhaktisecurities.com

Cadangan timah di seluruh dunia diperkirakan sebesar 11 juta ton (US Geological
Survey, 2009). Jika dikomparasikan dengan empat negara-negara penghasil timah
terbesar di dunia, cadangan timah Indonesia paling sedikit. Negara dengan cadangan
terbesar adalah Cina sebanyak 3 juta ton, Brasil 2,5 juta ton, Peru 1 juta ton, dan
Indonesia 0,9 juta ton Dalam konteks ini, pemerintah belum menyeimbangkan aspek-
aspek pendapatan negara dan reservasi atau pengamanan cadangan. Penambangan
produksi timah dilakukan hanya berdasarkan upaya untuk mengejar pertumbuhan dan
peningkatan pendapatan. (bersambung)

foto ilustrasi: metro bangka belitung

*) Tentang Penulis:

Marwan Batubara, lahir di Delitua, Sumatera Utara, 6 Juli 1955. Marwan adalah
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2004-2009, mewakili provinsi
DKI Jakarta. Menamatkan S1 di Jurusan Tehnik Elektro Universitas Indonesia dan S2
bidang Computing di Monash University (Australia). Marwan adalah mantan karyawan
Indosat 1977-2003 dengan jabatan terakhir sebagai General Manager di Indosat.
Melalui wadah Komite Penyelamatan Kekayaan Negara (KPK-N), ke depan Marwan
berharap bisa berperan untuk mengadvokasi kebijakan-kebijakan pengelolaan
sumberdaya alam, agar dapat bermanfaat untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Menyelamatkan Kehancuran Pertambangan Timah


Bangka Belitung (2)
Jumat, 08/01/2010 12:39 WIB | email | print

Berikut ini merupakan laporan khusus yang ditulis oleh Ketua KPK-N (Komite
Penyelamat Kekayaan Negara), Marwan Batubara *). Laporan khusus ini tersaji dalam
sebuah buku beliau yang berjudul 'Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam, Menuju
Negara Berdaulat'.

Insya Allah, Eramuslim akan memuat tulisan ini dalam rubrik laporan khusus yang
disajikan secara berseri.

**

Pemerintah Belum Optimal Kelola Pertambangan Timah

Mekanisme pertambangan timah di Indonesia bisa dikatakan masih jauh dari prinsip
demokrasi ekonomi. Sebab, endapan timah yang merupakan kekayaan nasional bangsa
Indonesia belum sepenuhnya dimanfaatkan sesuai amanat UUD 1945 pasal 33. Kekayaan
itu harus digunakan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Jadi, negara harus mampu
menguasai secara efektif dan memanfaatkan sumber daya itu demi kemakmuran
rakyatnya.
Sudah menjadi kewajiban semua pihak, baik pemerintah maupun rakyat memanfaatkan
potensi tambang bagi kemakmuran rakyat. Namun, hal itu belum mewujud dalam
pengelolaan pertambangan timah yang ada di sepanjang Pulau Bangka, Belitung,
Singkep, dan Karimun-Kundur. Padahal, Indonesia diakui sebagai penghasil timah
terbesar kedua di dunia setelah Cina. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia bisa disebut
sebagai negara yang masih memiliki kandungan timah berlimpah.

Sayang, potensi timah yang bisa membawa Indonesia menuai pendapatan berlimpah
untuk kemakmuran rakyatnya belum diatur secara optimal. Masih sering terjadi
penyelundupan timah melalui penambangan ilegal. Bayangkan saja, penambangan ilegal
mampu menghasilkan 60 ribu ton per tahun, tak begitu beda jauh dengan jumlah produksi
penambangan legal sebesar 71.610 per tahun. Hasil penambangan ilegal tentu tak masuk
ke dalam kas negara, terutama dalam bentuk royalti dan pajak.

Biasanya, timah dari aktivitas penambangan ilegal itu dipasarkan ke sejumlah negara,
seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Cina. Menurut Batubara (2008), ada sejumlah
masalah yang mestinya segara mendapatkan solusi. Permasalahan tersebut antara lain
adalah belum optimalnya kebijakan nasional, peraturan yang bermasalah, penegakan
hukum yang tidak konsisten, KKN berbagai oknum, pencurian, penyeludupan, perusakan
lingkungan, dominasi asing dan pemilik modal, serta kemiskinan dan ketertinggalan
masyarakat.

Banyak dampak negatif yang timbul akibat kesalahan dan penyelewengan pengelolaan
tambang timah. Sekitar 40% produksi timah nasional setiap tahun diseludupkan. Negara
kehilangan pendapatan, hanya dari royalty (besarnya 2% harga jual timah), sekitar US$
9,5 juta per tahun. Belum lagi kerugian akibat penggelapan pajak, yang jumlahnya pasti
jauh lebih besar! Sudah bertahun-tahun sejak larangan ekspor biji timah dikeluarkan pada
31 Januari 2002 yang lalu, smelter Singapura – negara yang tidak punya tambang timah –
terus memroduksi timah lebih dari 25.000 ton/tahun.

Smelter di Malaysia dan Thailand juga menadah timah seludupan dari Indonesia. Dalam
tiga tahun terakhir, hasil tambang timah Malaysia dan Thailand hanya sekitar 3000-5000
ton/tahun. Namun, smelter mereka bisa memproduksi batangan timah 25.000-35.000
ton/tahun. Hal ini terjadi tentu karena adanya penyeludupan dari Babel! Berdasarkan rilis
Commodity Research Unit (CRU), sejak tahun 2000-2008 timah Indonesia yang masuk
pasar internasional tanpa dilaporkan secara resmi, ilegal/diseludupkan, mencapai 266.000
ton. Jika diasumsikan harga rata-rata timah US 14,000/ton dan kurs US$/Rp = 12.000
maka kehilangan negara dari royalty yang besarnya hanya 2% dari harga jual, sudah
mencapai Rp 1 triliun. Apalagi jika kerugian negara dari pajak (minimal 25% harga jual)
diperhitungkan, kerugian negara bisa lebih dari Rp 13 triliun! Kerugian ini belum
memperhitungkan berbagai kehilangan kesempatan dalam seluruh lingkup kegiatan bisnis
industri timah akibat penyeludupan.

Seluruh masalah ini saling terkait dan telah berkontribusi terhadap tidak optimalnya hasil
tambang timah bagi pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat. Pemerintah belum
dapat menyeimbangkan aspek-aspek pendapatan negara, reservasi atau pengamanan
cadangan timah, dan pemberdayaan ekonomi atau kehidupan rakyat. Penambangan
dilakukan hanya berdasarkan upaya untuk mengejar pertumbuhan dan peningkatan
pendapatan.

Dengan total cadangan yang terbatas sekitar 900.000 ton, timah Indonesia diperkirakan
hanya akan bertahan 12 tahun kedepan, atau paling lama 15 tahun jika cadangan baru
ditemukan. Undang-undang dan peraturan seputar tambang timah sebagian tidak relevan
dan tidak sejalan dengan kepentingan nasional. Demikan pula dengan penegakan hukum
di lapangan, yang sering tidak konsisten dan bermasalah. Pemerintah terlihat belum
optimal mengatur mekanisme penambangan timah.

Hingga 2009, penyelundupan timah masih marak terjadi. Pemerintah tidak tegas
memberikan sanksi terhadap para pelaku penyelundupan timah. Sejauh ini, pertambangan
dilakukan untuk mengejar pertumbuhan dan peningkatan pendapatan tanpa penghematan.
Hal ini kemudian memberikan peluang bisnis terhadap para investor asing dan domestik.
Bahkan, tercatat sejumlah cukong dari Jakarta menguasai tambang timah ilegal melalui
konsorsium yang beranggotakan banyak perusahaan.

Menurut Ketua Komisi VII DPR Airlangga Hartanto, terdapat 6.507 usaha pengelolaan
timah di Bangka dan Belitung. Tercatat 199 pertambangan dilengkapi izin, sedangkan
6.308 usaha lainnya ilegal. Merebaknya penambangan dan pemasaran timah ilegal karena
pimpinan daerah, seperti bupati memiliki otoritas memberi izin usaha pertambangan.
Lokasi pertambangan PT Timah yang dianggap tidak ekonomis kemudian dialihkan ke
kontraktor lokal, yaitu PT Tambang Karya.
Hal ini menyebabkan kerusakan lahan dan hutan. Penambangan ilegal terjadi pada 30
persen luas hutan di provinsi Bangka Belitung. Hal ini mengakibatkan pencemaran air,
lahan tandus, abrasi pantai, dan kerusakan cagar alam. Di sisi lain, kini PT Timah,
sahamnya tak lagi sepenuhnya dimiliki pemerintah. Sebanyak 35 persen milik swasta dan
65 persen lainnya masih dikuasai pemerintah.

Pihak swasta memiliki kewenangan untuk usaha-usaha pertambangan yang juga memiliki
izin smelter, mempunyai kewenangan untuk peleburan dan pemurnian, memiliki izin
ekspor dan juga tentu mendapatkan keuntungan. Keuntungan swasta, seratus persen tentu
menjadi milik swasta seluruhnya. Dan kepemilikan PT Timah seperti di atas membuat
seolah-olah sudah tidak ada bedanya lagi status antara BUMN dengan swasta. Jadi sudah
tidak ada sama sekali perlindungan terhadap aset negara.

Negara tidak lagi sepenuhnya melindungi badan usaha yang mewakilinya, pun tidak lagi
melindungi aset negara yang dikandung di dalam wilayahnya itu. Sehingga, timah yang
naik dari dalam ke atas tanah di Bangka Belitung seolah sudah tidak dimiliki lagi oleh
negara. Penguasaan negara dan pengelolaan negara terhadap timah dipertanyakan. Jika
negara memang ingin kembali melindungi asetnya, mestinya ekspor balok timah murni
tidak dilakukan oleh pengusaha swasta. Balok timah murni merupakan logam dasar,
belum merupakan produksi yang dihasilkan melalui industri. Oleh karena itu, ekspor
logam dasar itu harus dikendalikan negara melalui BUMN yaitu PT Timah. Selain logam
dasar itu, seperti solder dan tin chemical, pemerintah mungkin bisa saja memberikan izin
kepada pihak swasta untuk mengekspornya.

Selain itu, PT Timah sebagai wakil negara harus membuka kesempatan seluas-luasnya di
sektor hulu kepada masyarakat dan pengusaha-pengusaha, khususnya di daerah Bangka
Belitung untuk memperoleh kesempatan secara terkendali dan berkeadilan. Seperti
diketahui, politik penguasaan sumber daya timah di daerah tersebut semakin meluas
tanpa mempertimbangkan luas pulau yang hanya sepertiga luas Jawa Barat itu. Padahal,
karakter industri timah mempunyai daya rusak tinggi namun pemerintah daerah
cenderung mengeluarkan izin baru. Sepanjang tahun 2000 setidaknya 50 ribu hektar
kebun lada di provinsi Bangka Belitung berubah menjadi lahan tambang. Akibatnya,
sekitar 32 ribu petani di provinsi itu kini beralih profesi menjadi penambang.

Mencermati kondisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa begitu borosnya lahan
industri tambang timah. Kegiatan penambangan timah dilakukan oleh masyarakat biasa
dengan modal seadanya sampai pengusaha ataupun investor besar, baik dalam negeri
maupun luar negeri. Padahal, sebelum masa reformasi, penambangan timah hanya dapat
dilakukan perusahaan besar, yaitu PT Timah Tbk. Mereka memiliki kuasa penambangan
(KP) hampir dua pertiga Kepulauan Bangka Belitung.

Ada pula PT Kobatin, perusahaan gabungan Indonesia dan Malaysia, yang memiliki KP
seluas 42 ribu hektar di Bangka, sekarang Kabupaten Bangka Tengah dan Kabupaten
Bangka Selatan. Namun sejak reformasi, penambangan tidak hanya dilakukan dua
perusahaan besar itu. Kini banyak investor lain, banyak smelter baru yang beroperasi, dan
banyak izin KP baru dari pemerintah daerah di luar KP kedua perusahaan besar tadi.
Ditambah lagi dengan aktivitas penambangan masyarakat yang tersebar di seluruh Pulau
Bangka dan Belitung.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erwiza Erman, terjadi
penyalahgunaan kepentingan antara pejabat daerah dan pejabat pusat yang menyebabkan
praktik monopoli tambang timah di Bangka Belitung sangat kuat. Penyelewengan ini bisa
dilihat dari peraturan daerah yang memberikan kesempatan untuk menambang timah
secara terbuka dan Surat Izin Perdagangan Antar Daerah (SIPAD). Pebisnis
menggunakan SIPAD ini untuk memuluskan illegal economy. Salah satu bentuk illegal
economy adalah penyelundupan timah hasil produksi Bangka ke negara-negara jiran.

Dampaknya, lingkungan rusak sementara pendapatan daerah tak meningkat. Masyarakat


lokal tidak mempunyai akses turut menikmati keuntungan dari penjualan timah, bahkan
46 persen penduduk Bangka belum mendapatkan pelayanan listrik. Akibatnya, banyak
terjadi konflik pertambangan.

Kebijakan Tambang Inkonvensional Tak Membawa Kemakmuran

Pengelolaan timah di Bangka Belitung yang selama ini dilakukan PT Timah dan PT
Kobatin, telah memberikan kontribusi bagi perkembangan perekonomian daerah. Namun
pada kurun waktu 1991-1995, harga timah turun drastis yang mengakibatkan
bangkrutnya Tin Council dan berdampak pada kebijakan restrukturisasi perusahaan,
diantaranya pengurangan karyawan sebanyak 17.000 orang. Kebijakan perusahaan
tersebut telah memberikan dampak ekonomi dan sosial masyarakat di Bangka Belitung.

Untuk memenuhi kebutuhan kuota produksi, PT Timah selain melakukan penambangan


sendiri, sebagian lagi melalui mitra kerja Tambang Karya (TK) yang masih aktif lebih
kurang 40 %. Sedangkan sisanya sudah menghentikan kegiatannya. Hal ini
mengakibatkan pasokan bijih timah, termasuk yang ditambang sendiri oleh PT Timah,
tidak lagi dapat memenuhi target produksi yang telah ditentukan. PT Timah terancam
tidak dapat memenuhi kontrak penjualan dengan para buyers di pasar internasional.

Untuk mengatasi hal tersebut PT Timah mengeluarkan beberapa kebijakan:

1. Mengeluarkan Surat Ijin Produksi (SIP) kepada mitra kerjanya untuk menerima bijih
timah serta mengkoordinir kegiatan pendulangan oleh masyarakat.

2. PT Timah mengeluarkan lagi Surat Ijin mengumpulkan pembeli kepada beberapa sub
mitra kerjanya untuk bertindak sebagai koordinator pengumpul/pembeli bijih timah hasil
pendulangan masyarakat.

3. Setiap mitra kerja PT Tambang Timah diberikan terget minimal bijih timah yang harus
dipasok ke PT Tambang Timah per bulan.

Kebijakan ini mengakibatkan munculnya Tambang Inkonvensional (TI). Para mitra PT


Timah lebih banyak menampung hasil produksi TI daripada dengan produksi sendiri.
Karena banyak mitra kerja yang menampung hasil produksi TI dengan harga yang relatif
tinggi, akibatnya memicu makin maraknya usaha penambangan yang dikelola oleh
masyarakat (TI).

Pemerintah Daerah Bangka Belitung, dengan kewenangan otonomi yang dimiliki


mengeluarkan Perda No. 6 Tahun 2001 tentang pertambangan umum, membuka
kesempatan bagi masyarakat Bangka mengeksploitasi timah ini secara bebas. Dampak
kebijakan tersebut menyebabkan tambang inkonvensional semakin marak kemudian
memicu penyelundupan. Selain itu, hasil tambang inkonvensional milik rakyat dibeli
dengan harga lebih murah sehingga rakyat tetap berada dalam kemiskinan.

Sejumlah smelter atau perusahaan pengolahan bijih timah di Bangka Belitung, menadah
timah ilegal dari penambang tanpa izin. Jika penambang tanpa izin marak, tentunya hasil
bijih timah yang dihasilkan ada yang menampung yaitu smelter. Logikanya, tidak
mungkin pedagang pengumpul lada di pasar yang membeli timah. Bisnis timah ilegal di
Babel bagaikan mata rantai saling menguatkan dan menguntungkan. Sehingga sulit
memutus mata rantai itu, sepanjang tidak ada komitmen pemerintah pusat dan daerah,
termasuk aparat kepolisian dan TNI.

Sebagian smelter tentu untung bisa menadah timah ilegal dari hasil tambang
inkonvensional (TI) milik rakyat. Sebab mereka membeli dengan harga murah kemudian
dijual dengan harga tinggi. Sementara, masyarakat juga tergiur oleh penghasilan timah
yang cukup tinggi ketimbang penghasilan lain dari bertani lada, karet, dan sawit. Mereka
juga mudah menjual hasil bijih timahnya kepada kolektor lalu dilepas ke smelter. Praktik
ini, telah lama terjadi namun penambang ilegal mulai marak sejak 1998 hingga sekarang.

Dampak Kerusakan Lingkungan Pertambangan Timah

Pertambangan timah Bangka Belitung yang dikelola PT Timah telah berkontribusi bagi
perekonomian negara, baik menyumbang devisa negara serta menjadi penggerak
perekonomian di wilayah Bangka Belitung. Pendapatan PT Timah pada 2007, seperti
disebutkan sebelumnya, mencapai Rp. 8, 626 triliun dan pada 2008 mencapai Rp. 9, 053
triliun. Namun, pertambangan timah Bangka Belitung juga telah mengabaikan
pengelolaan lingkungan hingga menimbulkan dampak kerusakan ekosistem.

Dampak kerusakan ekosistem akibat pertambangan timah Bangka Belitung merupakan


dampak lingkungan jangka panjang, berupa kolam-kolam bekas tambang, hilangnya
keanekaragaman hayati, dan berkurangnya vegetasi. Pemulihan dampak kerusakan
lingkungan itu bisa jadi membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding keuntungan produkti
timah yang telah diperoleh. Dan selama ini, PT Timah, PT Kobatin, atau pun penambang
inkonvensional hanya mengambil manfaat ekonomi dari sumberdaya timah.

Perlahan kondisi lingkungan provinsi pemasok 40 persen timah dunia ini mengalami
kehancuran. Tambang timah ilegal pun telah membuat bumi Bangka Belitung tercabik-
cabik. Setidaknya 15 sungai besar di wilayah ini telah rusak yang menyebabkan flora dan
fauna berada di ambang kepunahan. Ini disebabkan banyaknya pelanggaran aturan, dalam
bentuk penambangan di luar wilayah KP yang telah ditetapkan atau menjual hasil
penambangan kepada pihak lain selain kepada pemilik kuasa penambangan (KP).

Akibatnya, tambang timah bisa muncul di daerah aliran sungai atau pun di pantai.
Berdasarkan catatan Jaringan Advokasi Tambang, setidaknya 100 kilogram batuan digali
hanya untuk menghasilkan 0,35 kilogram bahan tambang. Sedangkan 99 persen bahan
sisa tambang itu dibuang sebagai limbah. Asosiasi Tambang Timah Rakyat (Astira)
Bangka Belitung bersama pemerintah daerah dan kepolisian bekerja sama menertibkan
tambang timah ilegal. Saat ini jumlah tambang timah tinggal 6.000-an unit karena
ketatnya penertiban. Tahun 2004-2006 tambang timah pernah mencapai 17.000 unit.

Mereka, tak memperhitungkan jasa ekologi yang mampu diberikan ekosistem hutan dan
lahan yang tereksploitasi. Keberadaan ekosistem hutan dan ekosistem hutan mangrove
misalnya, yang memiliki jasa ekologi seperti pertukaran energi (energy circuits), siklus
hidrologi, rantai makanan mahkluk hidup (food chains), mempertahankan
keanekaragaman hayati (diversity patterns), daur nutrien (nutrien cycles), dan pengendali
ketika terjadi pencemaran (control/ cybernetics).

Kelestarian fungsi ekosistem hutan seharusnya dipertahankan. Jika tidak, maka


keberlanjutan kehidupan mahkluk hidup dan bahkan manusia akan terancam. Kerusakan
ekosistem hutan telah berdampak panjang pada efek rumah kaca yang mengakibatkan
bumi semakin panas dan berdampak pada kesehatan manusia. Jika manusia menyadari
pentingnya menjaga kelestarian fungsi ekosistem hutan, sesungguhnya hal ini adalah
untuk keberlanjutan manusia itu sendiri.

Beberapa pakar mengungkapkan bahwa ekosistem hutan memiliki kemampuan suksesi


sehingga tidak menjadi masalah mengeksploitasi hutan. Hal ini sebenarnya keliru, sebab
ketika hutan dieksploitasi hingga habis maka hutan kehilangan fungsi ekologinya sebagai
pengatur/ ecological regulatory (siklus hidrologi, siklus nutrien, rantai makanan); fungsi
pemelihara/ ecological maintaning (mencegah erosi, abrasi) dan fungsi
pemulihan/ecological recovery (menyerap emisi karbon). Ketika hutan dieksploitasi
hingga habis maka seketika hutan tidak memilliki fungsi ekologi dan akan
mengakibatkan ketidakseimbangan dalam sistem alam dan berpotensi menimbulkan
bencana alam. Selain itu, proses suksesi hutan dan pertumbuhan sebuah pohon
membutuhkan waktu puluhan tahun.

Aktivitas tambang inkonvensional di Bangka Belitung semakin marak berdampak pada


kerusakan ekosistem. Sebab, obyek penambangan hampir mencakup ke segala aspek
ekosistem alam, yaitu wilayah darat dan laut Bangka. Objek penambangan terutama di
dalam ruang lingkup kerja wilayah hutan konservasi yang menjadi sasaran pertambangan
warga Bangka, membuat area hutan di pulau Bangka semakin terancam keberadaannya.
Ini menambah permasalahan global pembalakan liar hutan Bangka.

Beberapa penambang inkonvensional bahkan telah menggunduli area hutan, diantaranya


hutan fungsi khusus, hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi atau reklamasi eks
tambang timah hingga hutan magrove. Langkah tersebut dilakukan dengan tujuan
membuka lahan pertambangan timah. Para penambang inkonvensional membuka lahan
pertambangan dengan cara membabat, membakar, kemudian menggunduli area hutan,
guna kepentingan eksploitasi.

Hilangnya ekosistem hutan yang berganti menjadi area pertambangan telah


menghilangkan fungsi ekosistem hutan sebagai pertukaran energi (energy circuits), siklus
hidrologi, rantai makanan mahkluk hidup (food chains), mempertahankan
keanekaragaman hayati (diversity patterns), daur nutrien (nutrien cycles) dan pengendali
ketika terjadi pencemaran (control/ cybernetics). Kerusakan ekosistem hutan telah
berdampak pada ketidakseimbangan sistem alam.

Akibatnya, Bangka Belitung mengalami kekeringan ketika musim kemarau, hasil


pertanian mereka pun menurun. Apalagi banyak petani yang beralih profesi menjadi
penambang sehingga lahan pertanian pun terbengkalai. Hilangnya ekosistem hutan
mengakibatkan beberapa kawasan tererosi dan sungai-sungai pun mengalami abrasi.
Karena terjadi sedimentasi yang tinggi, terkadang sungai meluap ketika musim hujan.
Terlebih lagi, tailing yang dibuang ke sungai mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai
dan kematian beberapa biota perairan.

Masyarakat pun tidak dapat memanfaatkan sumberdaya sungai seperti sebelumnya,


misalnya untuk memancing, rekreasi, atau pun sebagai sumber air permukaan. Pada
musim hujan, kolong-kolong bekas galian tambang akan terisi air namun menjadi kering
dan gersang pada musim kemarau. Hal ini karena tidak ada lagi hutan yang berfungsi
sebagai daerah resapan air (catchment area). Hilangnya ekosistem hutan juga membawa
dampak pada degradasi lahan, termasuk lahan pertanian.

Dampaknya, hasil pertanian, hasil kebun petani pun menurun. Jika hasil pertanian yang
dihasilkan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bangka Belitung, mereka
terpaksa harus membelinya di luar. Hal ini tentu menambah biaya, dan mereka
mendapatkan harga hasil pertanian yang relatif lebih mahal. Lahan pertanian dan tanah-
tanah lapang di Bangka Belitung saat ini juga menjadi sangat tandus dan gersang.
Membutuhkan biaya besar untuk mereklamasi atau pun merevegetasi untuk menjadikan
lahan tersebut kembali berproduksi. Kekeringan, banjir, serta penurunan hasil pertanian
adalah bagian dari dampak karena penambang tidak melestarikan fungsi hutan lindung.

Akhiri Kerakusan

Kita sebagai bangsa hendaknya merasa prihatin, malu dan sekaligus terhina harga dirinya
menyaksikan negara-negara tetangga menadah barang seludupan, mengendalikan harga
timah dan melecehkan hukum negara, serta menikmati keuntungan sangat besar dari
pencurian kekayaan alam kita. Di sisi lain, kita mengerti bahwa semua ironi ini sebagian
besar berpangkal dari kesalahan kita sendiri, terutama para oknum investor, cukong-
cukong dan oknum penguasa serta oknum aparat pertahanan dan keamanan. Umumnya
mereka bermental KKN, manipulatif, konspiratif, dan rakus akan kekayaan dan
kekuasaan.

Keserakahan para eksekutif keuangan dan bank serta pemilik modal merupakan penyebab
utama terjadinya krisis keuangan global saat ini. Akibat kerakusan mereka, ratusan juta
orang menjadi miskin atau bertambah miskin, puluhan juta orang kehilangan pekerjaan,
ribuan perusahaan bangkrut, dunia kehilangan dana sekitar US$ 10 triliun, atau uang
yang lenyap di bursa saham mencapai US$ 50 triliun! Daya rusak orang-orang serakah
begitu besar sehingga merusak tatanan ekonomi dunia, merugikan keuangan negara dan
menyengsarakan demikian banyak orang.

Demikian pula yang terjadi di Babel. Prilaku serakah oknum-oknum investor dan pejabat
telah merugikan negara puluhan trilun rupiah, menyengsarakan rakyat, merusak
lingkungan, dan bahkan menjadikan negara terhina, tidak berdaulat, tidak punya harga
diri di hadapan negara-negara lain. Apakah pemerintah memang sudah tidak berdaya dan
akan terus membiarkan semua ini terus berlangsung? Apakah memang kita masih pantas
berharap kepada pemerintah? Belajar dari krisis keuangan global yang masih berlangsung
saat ini, kita menginginkan pembenahan industri timah secara seksama segera
diwujudkan, terutama melalui operasionalisasi UU Minerba No.4/2009 – dalam bentuk
sejumlah PP – yang sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. (bersambung)

foto: jsofian.wordpress

*) Tentang Penulis:
Marwan Batubara, lahir di Delitua, Sumatera Utara, 6 Juli 1955. Marwan adalah
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2004-2009, mewakili provinsi
DKI Jakarta. Menamatkan S1 di Jurusan Tehnik Elektro Universitas Indonesia dan S2
bidang Computing di Monash University (Australia). Marwan adalah mantan karyawan
Indosat 1977-2003 dengan jabatan terakhir sebagai General Manager di Indosat.
Melalui wadah Komite Penyelamatan Kekayaan Negara (KPK-N), ke depan Marwan
berharap bisa berperan untuk mengadvokasi kebijakan-kebijakan pengelolaan
sumberdaya alam, agar dapat bermanfaat untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.