You are on page 1of 14

1

Hubungan Antara Kadar Fenol Dalam Urin


Dengan Kadar Hb, Eritrosit, Trombosit dan Leukosit
(Studi Pada Tenaga Kerja di Industri Karoseri CV Laksana Semarang)
Oleh : Eni Mahawati

Abstrak : Kadar fenol dalam urin merupakan indikator biologis yang akurat untuk
mengetahui paparan benzen terhadap tenaga kerja. Salah satu efek kronis paparan
benzen adalah kerusakan sumsum tulang yang mengganggu sistem pembentukan
darah, sehingga menyebabkan penurunan jumlah komponen-komponen darah. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara kadar fenol urin dengan kadar Hb,
eritrosit, trombosit dan leukosit pada tenaga kerja yang terpapar benzen di CV
Laksana. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan “cross
sectional” melalui wawancara dan observasi untuk mengumpulkan data tentang kadar
fenol urin, Hb, eritrosit, trombosit dan leukosit. Hasil analisis data menggunakan uji
korelasi pearson menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kadar fenol urin
dan eritrosit pada tingkat signifikansi 0,05, dengan nilai p 0,036 dan koefisien korelasi
–0,356. Ini berarti arah hubungan kedua variabel tersebut negatif, sehingga adanya
peningkatan kadar fenol urin diikuti dengan penurunan jumlah eritrosit dalam darah.
Uji statistik untuk variabel-variabel lain menunjukkan tidak ada hubungan yang
bermakna. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat keracunan benzen berdasarkan
kadar fenol urin masih dalam tahap awal. Jumlah eritrosit responden menunjukkan
adanya penurunan, sedangkan jumlah komponen darah lainnya masih normal. Tenaga
kerja, perusahaan dan Depnaker perlu menangani dan mencegah tingkat keracunan
benzen lebih lanjut. Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan dengan desain kohort.

Kata Kunci : Fenol, benzen, Hb, eritrosit, trombosit, leukosit

Abstract :The concentration of phenol within urine represent accurate biological


indicator to know benzene exposure on workers. One of chronic effect of benzene
exposure is bone marrow disorder that disturbs hematopoesis system, which cause
decreasing of blood component count. The aim of this research is to analyze
correlation between phenol urine concentration with Hb, Erythrocyte, Thrombocyte,
and Leukocyte Concentration on workers that exposed with benzene in CV Laksana.
This is an explanatory research with cross sectional approach which use observation
and interview for collecting data about phenol urine concentration, Hb; erythrocyte;
thrombocyte; leukocyte concentration. The result of the research which are analyzed
with Pearson correlation test shows that there is a significant correlation between
phenol urine concentration and erythrocyte concentration at 0.05 significant levels
with p value 0.036 and correlation coefficient –0.356. It is meaning that there is a
negative correlation between those two kinds of variables. Other statistical tests
between the other variables have no significant correlation. The conclusions of this
research are benzene toxicity levels based on phenol urine concentration still in early
exposure category. Erythrocyte count is decrease but Hb, thrombocyte and leukocyte
concentration are still normal. Workers, company, and worker department need to
handle and prevent of benzene toxicity furthermore. This research should be
continued with cohort design.
Keyword : Fenol, benzen, Hb, eritrosit, trombosit, leukosit
2

PENDAHULUAN
Penggunaan bahan kimia dalam industri jika tidak ditangani sesuai dengan
prosedur yang tepat akan menyebabkan gangguan kesehatan. Salah satu bahan kimia
yang dapat menimbulkan gangguan tersebut dan banyak digunakan dalam industri
adalah benzen. Tenaga kerja yang mempunyai risiko terbesar terpapar benzen adalah
tenaga kerja petrokimia; tenaga kerja di industri kimia dan laboratorium yang
menggunakan benzen; pembuat lem sintetis di perusahaan sepatu, kulit dan furniture;
pembuat zat warna; dan penyemprot cat Nilai ambang batas (NAB) benzen di tempat
kerja berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE-01/MEN/1997
tentang NAB Faktor Kimia di Lingkungan Kerja adalah sebesar 10 ppm.
Jalur absorbsi benzen adalah melalui pernafasan/inhalasi, kulit atau mukosa
mata. Paparan tersebut dapat menyebabkan keracunan yang bersifat akut maupun
kronik. Efek paparan benzen secara akut yaitu depresi pada susunan saraf pusat
merupakan kasus yang jarang terjadi dibandingkan efek secara kronik yaitu kerusakan
pada sistem pembentukan darah (sumsum tulang). Salah satu dampak lanjut dari
kerusakan sumsum tulang ini adalah risiko terjadinya penurunan jumlah elemen sel
darah secara progresif yang meliputi penurunan kadar hb, jumlah eritrosit, trombosit
dan leukosit.
Metabolisme benzen yang masuk ke dalam tubuh terutama melalui inhalasi,
sebagian dikeluarkan lagi oleh paru-paru dan sebagian mengalami proses
metabolisme. Pada proses metabolisme, benzen mengalami oksidasi menjadi senyawa
fenolik seperti fenol, katekol dan quinol. Fenol kemudian dikonyugasikan dengan
sulfat anorganik menjadi fenol sulfat lalu dikeluarkan melalui urin. Oleh karena itu
kadar fenol di dalam urin digunakan sebagai indikator biologik atas paparan benzen
terhadap manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya. American
Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) pada tahun 1996
menetapkan Biological Exposure Indices (BEI) untuk tenaga kerja yang terpapar
benzen adalah kadar fenol dalam urin tidak melampaui 20 mg per gram kreatinin urin.
Semakin tinggi kadar fenol dalam urin mengindikasikan semakin tingginya derajat
keracunan benzen pada tenaga kerja. Hal ini didukung oleh hasil penelitian tentang
benzen yang menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara kadar benzen di
udara tempat kerja dengan kadar fenol dalam urin tenaga kerja. Berdasarkan hasil
penelitian pada tenaga kerja yang terpapar benzen di pabrik sepatu, juga telah
3

dilaporkan adanya kasus anemia 33 persen, leukopenia 9,7 persen, trombositopenia


1,8 persen, pansitopenia 2,7 persen, trombositopenia dan leukopenia 4,6 persen.
CV Laksana Semarang merupakan salah satu industri karoseri yang
memproduksi mobil jenis bus dengan kapasitas produksi dalam 10 tahun terakhir rata-
rata 425 bus per tahun dan menggunakan benzen sebagai pelarut cat dengan tenaga
kerja sebanyak 437, dimana bagian produksi terdiri dari 243 orang yang meliputi
beberapa bagian yaitu : pembentukan rangka mobil (92 orang); pendempulan
(53 orang); pengecatan (12 orang); pengoplosan (1 orang); pengovenan (2 orang);
finishing (82 orang). Berdasarkan jenis pekerjaan tersebut, tenaga kerja yang berisiko
mengalami keracunan benzen diperkirakan di bagian pendempulan, pengecatan,
pengovenan, dan pengoplosan. Dari data awal diketahui bahwa kadar benzen di
udara 4 bagian kerja tersebut telah melebihi nilai ambang batas (lebih dari 10 ppm).
Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan di perusahaan tersebut juga
ditemukan adanya kejadian anemia 68,9 persen; anemia dan trombositopenia 6,6
persen; serta anemia dan leukopenia 1,6 persen pada tenaga kerja yang terpapar
benzen .
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keracunan benzene
berdasarkan indikator fenol urin serta hubungannya dengan gambaran penurunan
jumlah komponen darah yang terjadi pada tenaga kerja di industri karoseri.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah "explanatory research" dengan metode analitik
untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan
pendekatan "cross sectional" dalam pengambilan data, dimana subyek diobservasi
dan dilakukan pengukuran terhadap status, karakter atau variabel subyek pada satu
saat. Sampel yang diteliti sebanyak 35 orang tenaga kerja dari 65 orang total populasi
setelah disesuaikan dengan kriteria inklusi yang meliputi jenis kelamin laki-laki; tidak
sedang menderita penyakit/ gangguan kesehatan jantung, gangguan fungsi ginjal,
hepatitis, TBC, Typhus; tidak menderita penyakit berat / yang memerlukan opname /
rawat inap dalam 1 bulan terakhir; tidak mengalami perdarahan berat
dalam 1 bulan terakhir serta bersedia dijadikan sampel penelitian.
Data yang dikumpulkan berupa kadar fenol dalam urin, kadar Hb, jumlah eritosit,
jumlah trombosit dan jumlah leukosit. Semua data dalam penelitian
ini adalah data primer yang diukur dengan alat yang sudah distandarisasi. Kadar Hb
4

diperiksa menggunakan metode Sianmet-Hemoglobin, dengan satuan mg/dl. Jumlah


eritrosit diperiksa menggunakan metode Pipet Thoma Eritrosit, dengan satuan
sel/µ l. Jumlah trombosit diperiksa menggunakan metode Pipet Thoma Trombosit,
dengan satuan sel/µ l. Jumlah leukosit diperiksa menggunakan metode Pipet Thoma
Leukosit, dengan satuan sel/µ l. Kadar fenol dalam urin diperiksa menggunakan
metode semi kuantitatif, dengan satuan mg/l
Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (kadar fenol urin) dan
variabel terikat (kadar Hb, Jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit) dalam penelitian
ini dilakukan analisis data secara bivariat dengan uji korelasi pearson dengan nilai
kemaknaan ( α ) = 0,05. Apabila hasil uji statistik memiliki nilai p ( p value ) < 0,05
maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara di antara variabel
yang diuji.

HASIL PENELITIAN
CV Laksana adalah perusahaan yang bergerak di bidang karoseri, didirikan
pada tahun 1979 dan berlokasi di Jalan Raya Ungaran Km. 24,9 Semarang dengan
kapasitas produksi rata-rata 425 bus per tahun dan menggunakan benzen sebagai
pelarut cat. Proses pembuatan bus secara garis besar dapat dilihat pada gambar 1
berikut ini :
Pembentukan rangka bus Pendempulan Pengecatan

Produk Finishing Pengovenan

Gambar 1 Bagan Alir Proses Produksi di CV Laksana Tahun 2005


Tenaga kerja yang mampu diserap perusahaan saat ini sebanyak 437 orang
yang terdiri dari 142 orang tenaga kerja harian, 52 orang tenaga kerja bulanan dan 243
orang tenaga kerja borong bagian produksi. Adapun tenaga kerja produksi meliputi
beberapa bagian yaitu : pembentukan rangka mobil (92 orang); pendempulan
(53 orang); pengecatan (12 orang); pengoplosan (1 orang); pengovenan (2 orang);
finishing (82 orang). Adapun distribusi tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin terdiri
dari 426 orang laki-laki dan 11 orang wanita (bagian gudang dan administrasi).
Perusahaan ini memiliki 6 hari kerja; hari Senin-Jum’at pukul 08.00–16.00 WIB,
sedangkan hari Sabtu pukul 08.00 – 13.00 WIB. Jam lembur seringkali diperlukan
saat kapasitas produksi tinggi dan target pesanan harus diselesaikan.
5

Perusahaan tidak menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di


lingkungan perusahaan, sehingga tenaga kerja yang membutuhkan pelayanan
kesehatan harus pergi ke Rumah Sakit Umum Ungaran. Tidak tersedianya fasilitas
kesehatan tersebut, menyebabkan pelayanan kesehatan yang diperoleh tenaga kerja
hanya bersifat kuratif, sedangkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan
preventif belum dapat diperoleh.
Sampel urin dikumpulkan setelah responden bekerja ± 4 jam yaitu pada pukul
12.00 WIB. Kadar fenol urin secara normal adalah < 20 mg,l. Berdasarkan data hasil
pemeriksaan laboratorium diketahui adanya responden yang sudah mengalami
paparan atau keracunan benzen (kadar fenol urin > 20 mg/l), namun tingkat paparan
dan keracunan benzen secara individual masih dapat dikategorikan dalam kadar
paparan awal yaitu dengan kadar rata-rata fenol dalam urin responden sebesar
20 (± SD 4,519) mg/l, dengan kadar terendah 17 mg/l dan teringgi 26 mg/l. Adapun
prevalensi keracunan benzen yang terjadi dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Prevalensi Keracunan Benzen Berdasarkan Kadar Fenol Urin
Responden di CV Laksana tahun 2005
Kategori Keracunan Benzen Frekuensi (orang) %
Tidak Mengalami Keracunan Benzen 20 57,1
Mengalami Keracunan Benzen 15 42,9

Berdasarkan data pada tabel 1 dapat diketahui bahwa prevalensi keracunan


benzen sudah hampir 50% yaitu terjadi pada 42,9% dari total responden.
Gambaran hematologi responden yang meliputi kadar Hb, jumlah eritrosit,
trombosit dan leukosit berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel
darah responden dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Gambaran Hematologi Responden di CV Laksana tahun 2005
Jenis Pemeriksaan
Hematologi Rata-rata ( ± SD ) Terendah Tertinggi
Kadar Hb (mg/dl) 14,8 ± 0,7 13,5 16,3
Jumlah Leukosit (sel/µ l) 8.072,9 ± 1.627,9 4.500 12.200
Jumlah Trombosit
282.857,1 ± 64.389,5 175.000 425.000
(sel/µ l)
Jumlah Eritrosit (sel/µ l) 4.651.428,6 ± 25.403,5 4.300.000 5.000.000

Berdasarkan data 2, maka dapat diketahui bahwa rata-rata kadar Hb, jumlah
trombosit maupun leukosit masih dalam kategori normal. Standart normal kadar Hb
6

untuk laki-laki adalah 13,8 – 17,2 sel/µ l darah; standart normal jumlah trombosit
untuk laki-laki adalah 150.000 – 400.000 sel/µ l darah; sedangkan standart normal
leukosit untuk laki-laki adalah 3900 – 10.600 sel/µ darah. Jumlah eritrosit
(4.651.428,57 ± 225.403,465 sel/µ l darah) sudah menunjukkan adanya penurunan
jika dibandingkan dengan standart normal untuk laki-laki dewasa (5.200.000 ±
300.000 sel/µ l darah). Adapun hasil uji statistik secara lengkap dapat dilihat pada
tabel 3.
Tabel 3.Hasil Uji Korelasi Pearson Antara Kadar Fenol Dalam Urin
dengan Kadar Hb, Eritrosit, Trombosit dan Leukosit Responden
di CV Laksana tahun 2005
Parameter Hematologi Nilai p r
Kadar Hb 0,313 -0,176
Jumlah Eritrosit 0,036 -0,356
Jumlah Trombosit 0,824 -0,039
Jumlah Leukosit 0,788 0,047

Berdasarkan data pada tabel 3, dapat disimpulkan ada hubungan antara kadar
fenol dalam urin dengan jumlah eritrosit responden, karena nilai p (0,036) lebih kecil
dari α (0,05). Adapun arah hubungan adalah negatif berdasarkan koefisien korelasi (r)
sebesar –0,356. Hal ini berarti semakin tinggi kadar fenol dalam urin maka semakin
rendah jumlah eritrosit responden atau peningkatan kadar fenol dalam urin diikuti
dengan penurunan jumlah eritrosit responden.
Berdasarkan hasil uji korelasi pearson, juga disimpulkan tidak ada hubungan
antara kadar fenol urin dengan kadar Hb responden, antara kadar fenol urin dengan
jumlah trombosit responden, antara kadar fenol urin dengan jumlah leukosit
responden.

PEMBAHASAN
Kadar Fenol Urin
Berdasarkan data pada tabel 1 dapat kita ketahui bahwa 42,9 % responden
sudah mengalami paparan atau keracunan benzen yang dinyatakan dengan kadar fenol
urin lebih dari 20 mg/l (26mg/l). Meskipun demikian, tingkat paparan dan keracunan
benzen secara individual masih dapat dikategorikan dalam kadar paparan awal yaitu
dengan kadar rata-rata fenol dalam urin responden sebesar 20 ± 4,519 mg/l. Hal ini
berkaitan dengan kadar benzen di udara yang belum terlalu tinggi meskipun sudah
7

melebihi NAB. Dalam survei awal telah diketahui bahwa kadar benzen di lokasi
penelitian adalah 13,60 ± 0,74 ppm sampai dengan 17,90 ± 0,65 ppm. Efek toksik
kronis yang terjadi karena seringkali zat toksik dalam jumlah kecil diabsorbsi
sepanjang jangka waktu lama, terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan karena
itu akhirnya menimbulkan gejala keracunan.
Salah satu faktor penentu paparan suatu zat kimia antara lain adalah dosis
paparan. Dosis dapat ditentukan oleh konsentrasi dan lamanya paparan zat yang
diberikan pada seseorang. Dosis juga dipengaruhi oleh jumlah jam kerja dan waktu
kerja. Untuk membatasi paparan sebaiknya istirahat kerja dilakukan di tempat yang
tidak tercemari (terkontaminasi), juga penting untuk mempersingkat jangka waktu
paparan dengan melakukan pergantian kerja. Pergantian yang dimaksudkan di sini
adalah rotasi kerja dari bagian kerja yang memiliki risiko terpapar benzen dengan
bagian kerja lain yang tidak memiliki risiko terpapar benzen di perusahaan tersebut.
Faktor pada diri tenaga kerja sendiri, yang meliputi : usia, jenis kelamin, ras, status
gizi, kesehatan, faktor genetik dan kebiasaan lain juga berperan penting dalam
penentuan tingkat toksisitas yang dialami seseorang. Di samping itu, higiene
perorangan di tempat kerja juga mempengaruhi tingkat toksisitas tenaga kerja
terhadap bahan kimia. Higiene perorangan ini dapat dicapai antara lain dengan
menjelaskan pada tenaga kerja, misalnya bagaimana membatasi tercecernya bahan
kimia dan sedapat mungkin menghindari kontak langsung antara bahan berbahaya
dengan kulit, juga memakai alat-alat kerja dan alat pelindung diri secara benar. Alat
Pelindung Diri / Masker yang tepat dan efektif untuk meminimalkan risiko tersebut
berupa canister respirator yang dapat melindungi paparan partikel gas toksik karena
dilengkapi filter. Respirator ini berfungsi melindungi pemakainya dari paparan
(inhalasi) debu, gas, uap, mist, fumes, asap, dan fog. Alat ini dipakai terutama apabila
toksisitas zat kimia yang terpapar dan kadarnya dalam udara tempat kerja rendah.
Respirator tipe ini membersihkan udara yang terkontaminasi dengan cara filtrasi,
adsorbsi dan absorbsi.Canister gas mask (canister respirator) tidak boleh digunakan
ditempat kerja dengan kadar toksik tinggi (immedietly dengerous to life).Akan tetapi
alat ini dapat melindungi dari paparan partikel-partikel karena dilengkapi filter dan
kanister yang digunakan berfungsi untuk menghilangkan kontaminan kimia dalam
udara.
Kadar fenol dalam urin melebihi 20 mg/l dianggap berlebihan dan petunjuk
pemaparan minimal terhadap benzen. Pada paparan di atas 100 ppm, dapat terjadi
8

anemia aplastik total. Meskipun toksisitas memiliki hubungan langsung dengan


jumlah dan durasi paparan, namun masih memungkinkan adanya variasi individual.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan sumsum tulang setelah ditemukan adanya
kelainan pada hitung jenis darah.

Gambaran Hematologi Responden


Penurunan jumlah komponen darah merupakan indikasi awal yang perlu
dilanjutkan dengan biopsi / pemeriksaaan sumsum tulang untuk lebih jelas
mengetahui tingkat kerusakannya akibat paparan benzen. Pemeriksaan sumsum tulang
tersebut masih jarang dilakukan, mengingat keterbatasan yang ada dan tingkat
kerusakan elemen darah yang terjadi. Meskipun demikian, pemeriksaan ini diperlukan
untuk memastikan diagnosis penyakit akibat kerja yang berkaitan dengan gangguan
kesehatan akibat paparan di tempat kerja. Tingkat penurunan jumlah eritrosit, Hb,
trombosit dan leukosit akibat paparan benzen dapat bervariasi antara individu yang
satu dengan individu lainnya. Misalnya, pada seseorang tampak lebih jelas tanda-
tanda anemianya (penurunan jumlah eritrosit), sedangkan penurunan jumlah trombosit
(trombositopenia) dan jumlah leukosit (leukopenia) hanya ringan saja. Berdasarkan
data pada tabel 2 dapat diketahui bahwa jumlah eritrosit sudah mengalami penurunan
(4.651.428,57 ± 225.403,465 sel/µ l darah) jika dibandingkan dengan standart normal
untuk laki-laki dewasa yaitu 5.200.000 ± 300.000 sel/µ l darah. Hal ini berarti
komponen darah yang sudah menunjukkan adanya efek paparan benzen adalah
penurunan jumlah eritrosit, sedangkan pada elemen Hb, trombosit dan leukosit secara
umum belum menunjukkan adanya penurunan dibandingkan standart normal. Sel
darah merah berasal dari sel hemositoblast, yang secara kontinyu dibentuk dari stem
sel primordial yang terdapat di seluruh sumsum tulang. Jumlah eritrosit yang lebih
rendah dari normal mengindikasinya adanya anemia atau kegagalan / kerusakan
sumsum tulang. Anemia berarti defisiensi sel darah merah yang dapat disebabkan
karena kehilangan sel darah merah yang terlalu banyak atau pembentukan sel darah
merah yang terlalu lambat. Anemia dapat dibuktikan melalui jumlah sel darah merah /
eritrosit atau kadar hemoglobin. Tingkat keparahan anemia tersebut tergantung pada
beratnya kerusakan sumsum tulang. Namun indikasi awal yang akurat untuk
menggambarkan keracunan benzen adalah penurunan jumlah eritrosit.
9

Kadar Hb, trombosit dan leukosit secara umum belum menunjukkan adanya
penurunan dibandingkan standart normal. Pada orang normal, persentase hemogobin
tiap-tiap sel hampir selalu mendekati maksimal. Akan tetapi bila pembentukan
hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang, persentase hemoglobin dalam sel dapat
turun sampai serendah 15 gram atau kurang. Pada umumnya satu mm3 darah orang
dewasa mengandung 150.000 – 400.000 butir trombosit. Pembentukan trombosit yang
menurun dibuktikan dengan oleh aspirasi dan biopsi sumsum tulang dan bisa terjadi
pada setiap keadaan yang mengganggu atau menghambat fungsi sumsum tulang,
misalnya pada kejadian anemia aplastik, leukemia akut, defisiensi vitamin B12 &
asam folat, paparan agen kimia seperti benzen,dll.
Batas normal jumlah sel darah putih adalah 3900 – 10.600 / mm3. Peningkatan
jumlah leukosit melebihi jumlah maksimal didefinisikan sebgai leukositosis, biasanya
sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh dari serangan
mikroorganisme.Terhadap respon infeksi atau radang akut, sumsum tulang
melepaskan sumber cadangannya dan meningkatkan granulopoiesis. Ini akibat respon
terhadap infeksi, bahan toksik, peradangan, keganasan, khususnya pada ginjal, paru-
paru, payudara dan karsinoma metastatik. Hasil pemeriksaan terhadap sampel darah
responden menunjukkan adanya kecenderungan jumlah leukosit yang cukup tinggi
atau lebih mendekati nilai maksimal dari standart. Hal ini dapat merupakan indikasi
awal adanya respon tubuh terhadap zat toksik yaitu benzen.

Hubungan Antara Kadar Fenol Dalam Urin Dengan Kadar Hb, Jumlah
Eritrosit, Trombosit dan Leukosit.
Berdasarkan hasil uji korelasi pearson dapat disimpulkan adanya hubungan
yang signifikan antara kadar fenol dalam urin dengan jumlah eritrosit responden,
karena nilai p (0,036) lebih kecil dari α (0,05). Hal ini berarti tingkat keracunan
benzen secara individual yang telah dialami oleh responden sudah menunjukkan efek
yang signifikan terhadap gangguan pembentukan eritrosit meskipun tingkat keracunan
benzen yang terjadi masih dalam tingkat awal (kadar fenol dalam urin 20±4,519 mg/l)
dan masa paparan yang belum terlalu lama (11,9 ± 6,4 tahun). Sifat benzen yang
mudah menguap menyebabkan bahaya paparan utama di tempat kerja adalah melalui
proses pernapasan. Uap benzen yang masuk ke paru akan cepat terdifusi ke seluruh
permukaan membran saluran pemapasan, masuk dalam aliran darah, dan kemudian
didistribusikan ke organ tubuh lain. Sifat benzen yang dapat melarutkan lemak
10

menyebabkan benzen mudah masuk ke dalam aliran darah. Parke dan Williams adalah
orang yang pertama kali menyatakan bahwa salah satu metabolit benzen dapat
menyebabkan keracunan. Efek paparan benzen secara kronik adalah kerusakan pada
sistem pembentukan darah, berupa kerusakan sumsum tulang yang sifatnya sering
menetap. Efek ini kemungkinan disebabkan oleh metabolit benzen epoksida. Sumsum
tulang menunjukkan gambaran adanya infiltrasi yang luas dari sel-sel yang belum
terdiferensiasi, sebagian besar merupakan micromyeloblast atau paramyeloblast.
Gejala obyektif keracunan kronik adalah menurunnya jumlah elemen sel darah secara
progresif, yaitu: jumlah eritrosit (anemia), jumlah trombosit (trombositopenia),
jumlah leukosit (leukopenia), atau gabungan ketiga gejala tersebut (pansitopenia).
Penelitian pada manusia mengenai efek kronik paparan benzen, menunjukkan bahwa
indikasi awal yang akurat untuk menggambarkan gejala keracunan benzen adalah
menurunnya jumlah eritrosit Penderita keracunan benzen secara kronik hanya
mempunyai 50% jumlah eritrosit dari keadaan normal. Berdasarkan koefisien korelasi
sebesar –0,356 dapat diketahui bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut
bersifat negatif, dimana peningkatan kadar fenol dalam urin diikuti dengan penurunan
kadar eritrosit pada responden yang terpapar benzen. Pada responden yang mengalami
penurunan kadar eritrosit / tidak normal ternyata lebih banyak mengalami keluhan-
keluhan subyektif yang berkaitan dengan gangguan kesehatan. Hal ini sesuai dengan
hasil uji statistik pada pembahasan sebelumnya yang menyatakan adanya hubungan
yang signifikan antara kadar fenol dalam urin dengan kadar eritrosit.
Berdasarkan hasil uji korelasi pearson dapat disimpulkan tidak adanya
hubungan yang signifikan antara kadar fenol urin dengan kadar Hb, jumlah tombosit
dan leukosit responden, karena nilai p lebih besar dari α (0,05). Hal ini dimungkinkan
karena tingkat keracunan benzen secara individual yang dialami responden masih
dalam tingkat awal ( kadar fenol dalam urin 20±4,519 mg/l ) sehingga tingkat
kerusakan sumsum tulang dan gangguan pembentukan elemen darah, khususnya Hb,
jumlah trombosit dan leukosit masih relatif ringan. Penurunan jumlah komponen
darah secara keseluruhan akan jelas tampak pada paparan benzen yang lama dan pada
kadar paparan di atas 100 ppm.
Dengan demikian dapat dikatakan penurunan jumlah komponen darah yang
terjadi pada responden belum ada variasi yang bermakna, yaitu hampir seluruh
komponen darah kecuali jumlah eritrosit masih dalam batas normal. Namun demikian,
masih perlu dilakukan pengujian lebih lanjut tentang hubungan variabel-variabel
11

tersebut pada kondisi yang lebih bervariasi dan tingkat keracunan benzen yang lebih
berat atau kadar paparan benzen di atas 100 ppm untuk lebih mengetahui dengan jelas
hubungan antara karakteristik tenaga kerja dan kadar fenol dalam urin dengan
gangguan pembentukan elemen darah akibat paparan benzen.

KESIMPULAN
1. Kadar fenol urin responden 17 – 26 mg/l; prevalensi keracunan benzen 42,9 %.
2. Komponen darah yang mengalami penurunan adalah jumlah eritrosit
(4.651.4528,6±225.403,5 sel/μl darah); sedangkan kadar Hb (14,8±0,7 mg/dl),
jumlah trombosit (282.857,1±64.389,5 sel/μl darah) dan jumlah leukosit
(8.072,9±1.627,9 sel/μl darah) masih dalam batas normal.
3. Ada hubungan antara kadar fenol urin dengan jumlah eritrosit
4. Tidak ada hubungan antara kadar fenol urin dengan kadar Hb, jumlah leukosit
dan trombosit

SARAN
1. Dalam upaya meminimalkan dampak gangguan kesehatan dan mencegah tingkat
keruskan organ tubuh secara lebih lanjut akibat keracunan benzen, sebaiknya
pihak perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan kerja secara berkala dan
khusus terutama untuk tenaga kerja yang terpapar benzen antara lain dengan
monitoring kadar fenol dalam urin yang dapat dilakukan melalui kerja sama
dengan Bali Keselamatan Kerja & Hiperkes Jawa Tengah.
2. Pihak perusahaan sebaiknya melaksanakan penyempurnaan prosedur kerja yang
berhubungan dengan penggunaan benzen / cat, antara lain dengan pembuatan
SOP ( Standart Operating Procedure ) tentang teknik pengecatan yang aman
dengan memperhatikan arah angin, sehingga mengurangi paparan langsung
benzen dalam cat tersebut kepada tenaga kerja.
3. Dalam upaya mendeteksi secara dini risiko keracunan benzen sebaiknya pihak
perusahaan melakukan pengukuran kadar benzen di lingkungan kerja secara
berkala di bagian kerja yang terpapar benzen ( pendempulan, pengecatan,
pengoplosan dan pengovenan )
4. Dalam upaya proteksi tenaga kerja dari bahaya pemaparan benzen sebaiknya
pihak perusahaan menyediakan alat pelindung pernafasan yang lebih tepat yaitu
12

berupa canister respirator. Adapun pengadaan APD tersebut dapat dilakukan


secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi perusahaan.
5. Tenaga kerja wajib menggunakan alat pelindung diri yang telah disediakan
pihak perusahaan untuk pencegahan gangguan kesehatan dan penyakit akibat
kerja. Hal ini seharusnya disertai dengan adanya aturan dan sanksi yang jelas
dari pihak perusahaan.
6. Pihak departemen tenaga kerja sebaiknya melakukan evaluasi, monitoring dan
penyuluhan tentang nilai ambang batas benzen di teat kerja pada perusahaan-
perusahaan yang menggunakan benzene
7. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek benzen terhadap gangguan
hematologis dengan menggunakan desain penelitian kohort pada lokasi yang
sama.

DAFTAR PUSTAKA
1.Tusmiyati, Tutik. Faktor-Faktor Resiko Keracunan Benzen Pada Tenaga Kerja di
CV Laksana Semarang. Tesis, PPS UGM, Yogyakarta, 1998.
2.Wijaya, Caroline. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. EGC, Jakarta, 1995.
3.Heryuni, Siti. Kadar Fenol Dalam Kreatinin Urin Tenaga Kerja Industri Sepatu
“. Majalah Hiperkes & Keselamatan Kerja. Volume XXXIII No. Juli-
September, Jakarta, 2000.
4.Aksoy. Hematotoxicity and Carcinogenicity of Benzene. Environmental Health
Perspectives; Vol/Issue : 82, United States, 1989.
5.Guyton,C. Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta, 1990.
6.Nanda,Rita. Hematology. Department of Hematology.
www.nlm.nih.gov/medlineplus, 2005.
7.Mayo Clinic Staff. Anemia. Mayo Foundation For Medical Education And
Research, www.mayoclinic.com, 2005.
8.Griffith, H.Winter. Complete Guide to Symptoms, Illness & Surgery. Copyright by
Putnam Publishing Group, Electronic Right by Medical Data Exchange,
2005.
9.Burson, J.L. and Williams, P.L. Industrial Toxicology : Safety and Health
Applications in the Workplace. Van Nostrand Reinhold, New York, 1985.
13

10.Anderson, Price Sylvia & Mc.Carty, Wilson Lorraine.. Fisiologi Proses-Proses


Penyakit. Penerbit EGC, Jakarta, 1995.
11.Suma'mur, PK. Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. PT
Toko Gunung Agung, Jakarta, 1996.
th edition.
12..ILO. Encyclopedia of Occupational Health and Safety. 3 Volume 1,
Geneva, 1983.
13.Chlereminsoff, Paul N. Norresi, Agela C. Pollution Engineering and Technology,
Benzene Basic and Hazardous Properties. Marcel Dekker, New York, 1989.
Fourth Edition.
14..Casarett and Doull’s. Toxicology. The Basic Science of Poisons.
Pergamon Press, New York, 1991.
15.Santa, N, et.al.. Phenol Induced Haemolitic Anaemia. Journal Indian Academy of
Clinical Medicin, Vol 4, No.2, April – Juni 2003.
16.Hwa-Young Kim, et. Al. Effects of Phenol-Depleted and Phenol-Rich Diets on
Blood Marker of Oxidative Stress and Urinary Excretion of Quercetin and
Kaemferol in Healthy Volunteers. Journal of the American Colledge of
Nutrition, Vol. 22, No.3, 217-22, American Collegde of Nutrition. 2003.
17.Suwarno. Keluhan, Kadar Phenol Dalam Urine Seta Hb Rendah Sebagai Dasar
Pendugaan Terkena Efek Pemaparan Kronis Benzen Pada Tenaga Kerja
Bagian Produksi Industri Cat. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
Volume XXVII, No.2. April – Juni 1994, Depnaker RI, Jakarta, 1994.

BIODATA SINGKAT PENULIS

Nama : Eni Mahawati, SKM, M.Kes


Tempat/tanggal lahir : Kudus, 27 November 1975
Riwayat Pendidikan :
14

- SD Negeri Pasuruhan Lor II, Jati, Kudus; tamat tahun 1988


- SMP Negeri 2 Kudus; tamat tahun 1991
- SMA Negeri 1 Kudus; tamat tahun 1994
- Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP; tamat tahun 1999
- Magister Kesehatan Lingkungan Program Pasca Sarjana UNDIP; tamat
tahun 2005
Pengalaman Kerja :
- Interviewer pada penelitian yang dilaksanakan oleh BKKBN tahun 1998
- Interviewer pada penelitian Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan
tahun 1998 – 1999
- Research Beareau Indonesia ( RBI ) Cabang Semarang tahun 1999
- Dosen APIKES Lintang Nuswantoro Semarang tahun 1999 –2000
- Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UDINUS tahun 2000 – sekarang
- Ketua Program Studi DIII Hiperkes & KK STKES Lintang Nuswantoro
tahun 2000 – 2003
- Koordinator Peminatan Keselamatan Kerja & Kesehatan Lingkungan
Industri Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
UDINUS tahun 2003 - sekarang

Daftar Penelitian Yang Pernah Dilakukan:


- Hubungan antara Ergonomi dengan Beban Kerja Pada Penjahit Konveksi
di Desa Loram Wetan Kabupaten Kudus Tahun 1998
- Hubungan Antara Kadar Fenol Dalam Urin Dengan Kadar Hb, Eritrosit,
Trombosit dan Leukosit ( Studi Pada Tenaga Kerja Di Industri Karoseri
CV Laksana Semarang ) Tahun 2005
- Hubungan Antara Karakteristik Individu Dengan Keracunan Benzene
Pada Tenaga Kerja di Industri Karoseri CV Laksana Semarang Tahun
2005