You are on page 1of 11

Aku mempercepat langkahku. Langit Jakarta sangatlah gelap saat ini.

Pertanda hujan
deras akan segera turun mengguyur rata daratan Jakarta. Kabar baik dan kabar buruk. Kabar
baiknya: tidak ada sinar terik yang membakar kulit karena sinar sang surya tengah tertutup
awan tebal. Kabar buruknya? Aku tengah berada puluhan kilometer jauhnya dari rumah.
Kalau hujan sekarang, mau berteduh dimana?

Pagi ini aku nekat keluar rumah untuk menjelajahi Jakarta sendiri. Ya, sendiri. Aku
naik angkutan umum sendiri, meninggalkan mobilku di garasi dan menjelajahi ibukota ini
sendiri. Benar-benar sendiri. Kedengarannya gila, iseng dan kurang kerjaan, tapi ini adalah
cara terbaik karena aku tidak siap menghadapi kamu saat ini. Karena itulah aku melarikan
diri hari ini. Melarikan diri dari kamu.

Baiklah, sekarang sepertinya aku harus berlari karena gerimis mulai turun. Ayo
bertaruh! Dalam hitungan detik, pasti gerimis ini berubah menjadi hujan deras. Kabar baik:
aku menang taruhan. Kabar buruk: Hujan turun sangat deras dengan bonus angin besar dan
petir menyambar dan pakaian serta rambutku mulai basah.

Aku berlari mencari tempat berteduh. Setelah melewati sebuah tikungan, aku melihat
café cukup ternama di Jakarta bergaya Inggris lama. Our Café. Bagus. Aku butuh tempat
berteduh yang dapat

menyediakan segelas besar coffee latte hangat. Aku pun memutuskan ke café itu.

Bel berdenting pelan ketika aku membuka pintu.

“Selamat datang di Our Cafe!”, sapa pelayan di balik meja kasir sambil tersenyum
lebar.

Aku membalas senyumnya, membuka jaketku yang basah lalu menyambangi meja
kasir.

“Selamat sore! Mau pesan apa, kak?" ,tanyanya ramah.

Aku memandang menu di atas meja. “Coffee latte dengan marshmallow ya. Minum
disini.”

“Medium atau large?”

“Large.”

“Oke! Ada lagi?” Aku menggeleng lalu membayar dan memilih tempat duduk.

Aku memilih duduk di sofa pojok dekat jendela yang terlihat nyaman. Sambil
menyenderkan kepala di sofa nan empuk, aku memandangi hujan di luar. Sepertinya hujan
lebat ini akan membuatku terpenjara selama beberapa jam di cafe sepi ini. Ah, tapi tak apa
lah. Akhir yang lumayan sebagai penutup dari sebuah perjalanan gila ini.

Aku menatap sofa di depanku. Kosong. Ah aku benci sendiri! Membuatku merasa
seperti ditinggalkan. Sesaat aku merogoh tas untuk mengambil rokok, tapi aku
mengurungkan niat. Kamu melarangku untuk merokok. Akhirnya aku memutuskan untuk
membaca majalah yang telah disediakan.

Aku mengambil sebuah majalah remaja dari rak. Membolak-balik halaman tak tentu.
Make Up, mode pakaian ini-itu. Ah bosan! Aku benci ketika tidak ada seorang pun yang
dapat aku ajak bicara. Dan astaga! Kenapa rasanya hatiku meronta untuk menghubungi
kamu? Tidak! Tidak boleh! Duh, inilah yang aku benci bila sedang berpangku tangan. Tidak
ada kegiatan membuatku ingin menghubungi kamu.

Lalu halaman majalah terbuka pada sebuah cerpen. Judulnya Cerita. Lalu aku ingat
kamu. Ingat Cerita Tentang Kamu.

∞∞∞

Ada satu cerita. Cerita ini tidak pernah ku bagi dengan siapapun. Bahkan dengan
sahabat-sahabatku sendiri. Cerita ini milikku. Hanya milikku. Kusimpan sendiri dan
kunikmati sendiri. Tersimpan rapi di laci di hatiku. Di dasar laci, terdapat setumpuk kertas
berwarna pelangi yang bertuliskan sepenggal cerita. Cerita tentang kamu.

Ya. Kamu. Kamu lah cerita itu. Inti cerita itu. Tokoh cerita itu. Pemeran utama cerita
itu. Kamu. Oke, sebenarnya aku juga bagian dari cerita itu. Jadi bisa di katakan bahwa cerita
itu adalah cerita tentang kamu dan aku. Tentang aku dan kamu. Tentang Kita. Tunggu dulu.
Kita? Hahahahaha. Kata ‘kita’ itu membuatku terbahak. Karena sesungguhnya tidak pernah
ada kita. Ceritanya itu ya tentang kamu dan aku. Aku dan kamu. Tapi bukan kita. karena kita
tidak bisa bersama. Bahkan mungkin tidak akan pernah bersama.

Bagiku kamu itu Matahari. Tahu kenapa? Karena kamu bersinar terang menyinari
duniaku, tapi hanya sementara. Karena pada penghujung hari, kamu akan pergi. Dan duniaku
kembali gelap gulita. Namun kamu pasti muncul lagi keesokan harinya. Kembali menyinari
duniaku. Benarkan? Baiklah, kalau aku mengandaikan dirimu Matahari, bolehkan aku
mengandaikan diriku Bumi? Dan sebagai Matahari, kamu berdiri angkuh di atas sana. Tidak
tergapai oleh ku, Si Bumi. Kamu memang berada di sekelilingku. Itu pasti. Namun, kamu
tidak pernah di dekatku. Di sampingku. Mengapa? Karena kita adalah Matahari dan Bumi.
Terpisah jarak tapi bagaimanapun selalu ada sebuah koneksi yang tidak dapat aku jelaskan
antara kamu dan aku. Matahari dan Bumi.

“Permisi kak, ini coffee lattenya.”, Kata seorang pelayan sambil menaruh sebuah mug
besar di depanku. Aku pun tersadar dari lamunanku tentang kamu.

“Oh iya. Terima kasih.", Sahutku sambil tersenyum.

“Selamat menikmati!” Aku mengangguk.

Lalu perhatianku teralih pada cerpen di majalah tadi. Iseng, aku membacanya.
Mmmm secara keseluruhan cerpen ini jelek. Tahu kenapa? Karena cerpen ini tidak seindah
Cerita Tentang Kamu. Hahahaha. Apa kataku tadi? Tidak
seindah Cerita Tentang Kamu? Astaga! Dari mana aku mendapat ide mengatakan kalimat
yang-astaga-Tuhan-sangat-norak itu? Hahahahaha. Aku tertawa lagi. Kamu sudah
membuatku gila seperti ini, Matahari!

Dan kamu tahu? Aku itu terlalu mengagungkan kamu. Ah aku tahu, kamu tahu hal ini.
Tapi kamu tidak peduli, bukan? Karena seluruh kepedulianmu, perhatian kamu seutuhnya
tercurah ke dia. Ke Gadismu.

Lalu aku tersadar. Kenapa aku jadi memikirkan kamu? Bukankah maksudku pergi
hari ini adalah untuk menghindari kamu? Menjauhi kamu? Melupakan kamu? Hmm,
mungkin akan lebih tepat kalau semua kata-kataku barusan ditambahkan kata ‘mencoba’.
Mencoba menghindari kamu. Mencoba menjauhi kamu. Mencoba melupakan kamu.

Karena sumpah Demi Tuhan, aku tidak bisa menghindari, menjauhi atau melupakan kamu.
Huh.

Aku menyeruput kopiku. Manis. Seperti cerita tentang kamu. Aku teringat dulu. Saat
kita tertawa. Saat kita bertengkar. Dan sungguh, aku menikmati ini. menikmati membuka
kembali lembaran yang telah tersimpan rapi di laci hatiku. Cerita kamu itu lho. Sembari
menunggu hujan lebat ini mereda, bagaimana kalau aku kembali membacanya? Bagaimana
jika aku membacanya dari lembaran pertama?

∞∞∞

Cerita Tentang Kamu ada Enam lembar. Meskipun sebenarnya ada jutaan cerita
tentang kamu yang terekam dalam memori otakku. Senyummu, lirikan matamu, gelak
tawamu, aromamu dan segalanya masih terekam jelas diotakku.

Aku pun membuka halaman pertama dari Cerita Tentang Kamu. Halaman pertama itu
masih putih polos karena belum aku mengenalmu. Dan inilah awal aku mengenalmu.

Awalnya aku berjalan lurus ke arah utara. Tanpa menengok. Mengaitkan tangan
dengan Priaku. Priaku itu bukan kamu. Saat itu aku belum mengenal kamu. Priaku adalah
sosok yang jauh berbeda denganmu. Priaku kasar, meskipun menyayangiku. Priaku cuek, tapi
peduli padaku. Dialah Priaku. Aku setia berjalan bersamanya. Terus. Terus. Lurus. Namun
semakin lama jalan yang kami tempuh semakin curam, semakin berat dan semakin sulit. Dan
pegangan tangan kamu merenggang. Meski aku mencoba mempereratnya lagi, tapi aku tidak
sanggup. Kami tidak sanggup. Akhirnya kami memutuskan melepaskan genggaman tangan
kami. Saling menyuarakan selamat tinggal. Dan kini, jalan kami terpisah. Priaku ke barat, aku
tetap ke utara. Kini aku terlunta-lunta berjalan sendirian.

Lalu kamu datang dari arah selatan. Dengan senyuman, perhatian dan keindahan yang
kamu tawarkan, kamu mampu mengalihkan pandanganku. Kamu mengajakku berjalan
bersama menuju tenggara. Tentu saja aku dengan senang hati mengikutimu. Segala yang
kamu berikan membuatku bahagia. Setiap hari, kamu membimbingku menjalani hidup.
Menyinari hariku dan duniaku. Membuatku tersenyum seperti orang idiot kala berhadapan
denganmu, berbicara denganmu dan bertatapan denganmu. Membuatku menampar pipiku
sendiri kala aku tidak bisa berhenti tersenyum saat kamu ada di dekatku. Meskipun kita tidak
saling mengaitkan tangan, aku tetap menerima dan bahagia. Dan di tengah lembaran kertas
pertama, kamu goreskan semburat kemerahan. Membuat kertas putih pucatku merona.
Halaman keduaku berwarna merah jambu pekat karena goresanmu. Lembar kedua itu pun
penuh kata-kata darimu. Penuh dengan Cerita Tentang Kamu. Dan saat itulah aku
memutuskan memberi lembaran-lembaran ini nama. Cerita Tentang Kamu.

Namun di lembaran ketigaku tanpa kamu sadari, kamu goreskan warna hitam. Kamu
tahu kenapa? Karena kamu mengatakan padaku bahwa kamu jatuh hati pada rembulan indah
di atas. Kamu memujanya. Gadismu. Sahabatku. Hatiku yang tadinya sedang melambung
jauh dan menari-nari di langit bersama para malaikat, kini terjun bebas dan hancur berserak.
Perih jika tersentuh. Sakit. Inilah pertama kalinya kamu memberikan aku luka. Namun hitam
ini segera berganti merah lagi karena kamu tetap ada di sisiku meskipun kamu memujanya.
Dan perlahan tanpa kamu sadari, kamu mengobati hatiku. Tapi fakta bahwa kamu memuja
Gadismu, membuatku ragu. Ragu akan kamu. Aku memutuskan untuk menyembunyikan
cerita ini dari semua orang termasuk sahabat-sahabatku. Rapat-rapat. Namun kamu
membuatku tak mampu ragu lebih banyak, karena kamu tetap setia berjalan di sisiku.

Lembar keempatku kosong. Bersih. Tanpa satupun kata darimu. Kamu menghilang
secara tiba-tiba. Tanpa kata selamat tinggal atau kata perpisahan lainnya. Begitu pun pada
lembar kelima. Kosong. Yang ada hanya warna merah pudar bekas goresanmu. Sungguh, aku
sekarat ketika menantimu. Kamu bagai oksigen yang aku butuhkan setiap saat. Kamu seperti
candu.

Aku selalu menunggumu di tempat kita biasa berjumpa. Namun kamu tak kunjung
muncul. Aku berteriak memanggil namamu, namun kamu tak balas menjawab. Tapi aku setia
menunggu. Seminggu, sebulan, setahun, sewindu. Entahlah. Aku tak bias menghitung hari
tanpamu. Semakin lama ku tunggu, semakin aku kehilangan harapanku akan kamu.

Baiklah. Aku memutuskan melepaskan kamu. Karena mungkin kini kamu dan
Gadismu telah saling mengaitkan tangan. Saling berkomitmen untuk bersama. Aku mencoba
melepaskan kamu. Aku memutuskan untuk merobek lembaran Cerita Tentang Kamu.
Memutuskan keluar dari jalan menuju tenggara dan menyerah pada angin. Memutuskan
membiarkan angin membawaku pergi entah kemana.

Namun di akhir lembar kelima, kamu muncul lagi. Dengan wajah tanpa dosa atau
merasa bersalah karena telah meninggalkanku, kamu menahan tanganku. Menarikku untuk
tetap pada jalan menuju tenggara. Kamu membawaku kembali ke duniamu. Dan aku sangat
tidak keberatan. Kertasku kembali berwarna merah pekat karena goresanmu. Aku bahagia.

Dalam hati aku bersumpah bahwa aku tidak akan membiarkanmu lepas dari
pandanganku lagi. Lembar keenam sama seperti biasanya. Merah jambu pekat dan penuh
kata-kata darimu. Duniaku berputar indah, mengikuti rotasi duniamu. Semua terasa
sempurna. Namun di tengah kertas, kamu berikan kejutan padaku. Kamu kini bergandengan
tangan dengan Gadismu. Hatiku hancur. Di akhir lembar keenam ini, kamu goreskan warna
abu-abu. Warna perpisahan. Di lembar terakhir Cerita Tentang kamu.
∞∞∞

Eventhough you're the only one i see

If you ask, i'll cut you free

Lagu Slow life dari Grizzly bear mengalun pelan. Aku tersentak. Rupanya handphone-ku
menerima sebuah pesan. Pesan itu dari kamu. Matahariku.

From: Agrael

Anka, kamu dimana? Kita punya janji kan hari ini? Kamu lupa janji kita?

Aku ingin cerita segalanya. Menjelaskan semua...

Aku tersenyum pedih lalu menekan tombol reply.

To: Agrael

Di Our cafe. Cerita tentang apa?

Gadismu lagi? Tentang keberhasilan sang matahari yang melawan hukum alam karena
berhasil menarik sang bulan mendekat padanya? Aku tak sabar mendengarnya

From: Agrael

Sindiranmu kentara sekali. Aku tahu kamu marah. Maaf.. Hmm aku tau dimana our cafe. Aku
kesana sekarang ya? Tunggu aku.

To: Agrael

Pernahkah sekali saja aku tidak menunggumu?

∞∞∞
Satu jam kemudian, saat aku tengah menikmati tuna sandwich yang baru saja ku
pesan, aku melihat sebuah mobil hitam masuk ke di halaman cafe. Kamu.

Selera makanku hilang seketika. Kamu telah datang. Lengkap dengan penjelasan
terhadap satu tahun terakhir yang telah kita jalani. Sungguh, aku tak siap.

Beberapa menit kemudian, kamu memasuki pintu cafe. Denting bel pintu terdengar
mencekam di telingaku. Rambut dan bajumu sedikit basah. Tentu saja, karena hujan masih
tetap setia mengguyur Jakarta. Kamu terlihat tampan. Uhm ralat. Kamu selalu terlihat
tampan. Aku tak bisa melepaskan pandanganku darimu. Sungguh. Meskipun aku tahu kamu
datang untuk menjelaskan semuanya.

Dengan santai, kamu berjalan menuju meja kasir. Memesan Black Coffee
kesukaanmu lalu berjalan ke arahku. Duduk di depanku lalu tersenyum.

“Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini? Ini tempat kesukaanku. Apakah aku sudah
pernah cerita sebelumnya?” Kamu mengawali pembicaraan sambil mencomot satu kentang
gorengku.

“Kebetulan saja. Belum, kamu belum pernah cerita. Mungkin kamu menceritakannya
kepada Gadismu.” jawabku dengan nada sinis.

Kamu mengehela nafas lalu menatap mataku dalam-dalam. “Aku tahu kamu marah.
Aku ingin menjelaskan semuanya. Kamu mau kan mendengarkan?”.

Aku menggeleng sambil membuang muka. Namun kamu tetap memulai bercerita.

∞∞∞

Aku tidak pernah tahu bahwa kamu tidak pernah serius menganggap kehadiranku.
Kamu menganggap aku apa? Adik? Hahaha. Kamu anggap aku ini Batu Loncatan, Matahari!
Adik hanyalah kata halus untuk batu loncatan. Ya Tuhan, betapa bodohnya aku selama ini!
Pantas saja selama ini aku ragu. Rupanya hati kecilku telah mengirimkan pesan padaku.
Namun akal mengalahkan nurani. Heart never gives a damn nor fuck of what brain says.
Brain says no, heart says GO!

Dan disinilah aku. Terpuruk di sudut sofa, mendengarkan penjelasanmu. Tuhan,


kuatkan aku mendengarkan semua kata-kata terkutuk ini. Badanku gemetar dan mataku
panas. Namun aku berakting sebaik mungkin agar kamu percaya bahwa aku baik-baik saja.

Matahariku, aku tahu aku tidak seistimewa Rembulanmu. Fuck it. Aku mengerti akan
keputusanmu. Baiklah.

“Jadi? Kamu sudah mengerti kan? Ngga marah lagi kan?” Tanyamu hati-hati.
“Iya, aku mengerti. Tidak, aku tidak marah.” Aku menggeleng.

“Sungguh?”

“Ya. Meskipun sekarang aku tahu bahwa aku hanyalah batu loncatanmu untuk
menggapai Dhita dan kini sudah tak terpakai dan harus segera ditendang ke dasar jurang.”
Kataku datar. Kamu tersentak.

“Ya Tuhan! Apa tadi aku bilang begitu?! Aku mengatakan bahwa kamu itu bagai adik
perempuanku! Yang kusayang dan ingin ku jaga! Dan aku tidak pernah menganggap kamu
itu batu loncatan! Kamu berani mengatakan hal itu?!”

Matahari, tidakkah kamu mengerti? Bukan posisi adik yang aku inginkan!

“Oke. What the fuck ever. Aku bukan batu loncatan dan aku disayang. Tapi tidak
dicintai, kan? Kamu tidak pernah menganggap aku serius, kan?” Tanyaku sinis.

“Aku... Uhm... Eh...” Kamu terdiam. Kita terdiam. Tidak saling menatap satu sama
lain.

Matahariku, aku tahu kamu tidak sampai hati mengatakan ya. Sungguh, aku membacanya
dari matamu. Kamu tahu, matahariku? Sekali lagi kamu menghancurkan hatiku. Tidak, bukan
menghancurkan. Namun menusuknya perlahan. Tepat di ulu hati. Dan itu sangat
menyakitkan. Tapi Demi Tuhan, aku tidak bisa marah kepadamu. Aku terlalu sayang
padamu.

“Kamu wanita hebat. Aku tidak pantas untukmu. Kamu berhak mendapatkan pria
yang lebih baik dariku, Nka.. Itulah sebabnya kita tidak bersama."

Aku tertawa sinis dalam hati. Kata-kata basi khas pria.

"Aku tahu, kamu sayang aku. Karena aku juga menyayangimu dan tetap akan
menyayangimu meskipun mungkin sekarang kamu benci padaku..."

Aku menggeleng. Tidak. Aku masih menyayangimu. Sekejam apapun kamu padaku,
aku tetap menyayangimu. Mencintaimu.

"Tapi, aku minta maaf. Karena kita tidak mungkin bisa menghabiskan waktu seperti
dulu lagi. Karena aku dan Dhita bersama. Jadi aku mohon, lepaskan aku.. Biarkan aku pergi..
Lupakan aku.."

Aku nyaris tertawa mendengar hal itu. Melepaskanmu? Pernahkah sekalipun kau ada
dalam genggaman tanganku?

"Jadi.... Kita teman?" tanyamu memecah keheningan.

Aku menatapmu. Menatap matamu dalam-dalam. Mencari secercah cahaya yang


tersimpan untukku. Nihil. “Teman.”
Aku tersenyum. Melihatku tersenyum, kamu juga tersenyum. Aku melihat kelegaan di
wajahmu.

“Terima kasih.” Katanya perlahan. “Untuk membiarkan aku pergi.”

Aku mengiyakan dengan mengangkat kedua alisku dan hanya diam. Menatap keluar
jendela. Menahan tangis yang siap tumpah.

"Mobil kamu mana?" tanyanya sambil melihat ke halaman parkir café.

"Di rumah," jawabku singkat.

“Aku mau pergi ke rumah Dhita habis ini. Kamu mau aku antar pulang dulu?”

Kamu mencoba menutupi rasa bersalahmu dengan mengantarku. Aku tahu, ini adalah
kata perpisahan transparanmu. Setelah ini, mungkin kamu tak akan peduli meski aku
mengiris nadiku atau terjun bebas dari atas gedung.

“Tidak. Terima kasih.”

“Hah? Kamu serius? Hujan masih deras. Kamu mau pulang basah-basahan?”

“Aku akan menunggu sampai hujan reda, oke?”. Suaraku meninggi. Keningnya
berkerut.

“Kamu masih marah. Aku tahu.” Katanya pelan.

Ya! Aku marah! Aku kecewa! Aku sedih!

Kenapa kamu harus menanyakan itu, hah? Tak bisakah kamu melihatnya dari mataku?

“Tidak. Aku hanya... Yah ingin sendiri dulu.” Kilahku sambil tersenyum.

“Oh... Oke. Baiklah...” Katamu sambil meminum black coffeemu. Lalu kita sama-
sama terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tanganku bergerak perlahan merogoh saku tas. Mengeluarkan sebungkus rokok


beserta korek. Kamu hanya diam sambil memperhatikan. Aku mengeluarkan sebatang rokok,
membakarnya dan menghisapnya dalam-dalam. Mengeluarkan asapnya bersamaan dengan
mengeluarkan air mata transparanku.

"Kamu sudah lupa apa yang aku katakan tentang rokok?", tanyanya kalem.

"Ya. Kamu baru saja memintaku melupakanmu kan?", jawabku sambil menatapnya.

"Ya.. Tapi maksudku jangan lupakan nasihatku. Rokok itu buruk untuk kesehatan..."

"Toh kamu juga merokok. Sudahlah diam saja. Jangan campuri urusanku lagi. Urusan
Dhita tampaknya lebih menarik."
"Anka!"

"Apa?!"

"What's your problem?!"

"That fucking problem is I just fucking love you, motherfucker! Can't you just fucking
look at me in the eyes and see?! I'm dying! Everyword you've said to me, it's killing me
inside! You are the one who set this up, now when I falling for you, you even don't give a
fuck!" aku berteriak. Menangis. Semua orang seketika menengok ke arahku. Mencari tahu
apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Anka! Shhh!" kamu panik dengan meledaknya aku. Kamu langsung berdiri, pindah
ke sampingku dan merangkulku.

Hatiku meleleh saat kamu merangkulku. Tapi aku teringat Gadismu. Aku pun
menepis tanganmu. Kamu terpana. Maaf, tapi akal sehatku telah berjalan. Tak lagi dibutakan
oleh kabut cinta.

"Aku baik-baik saja." kataku sambil mengusap air mataku.

"Kamu yakin?" katanya sambil menatap cemas diriku.

"Ya." kataku singkat sambil menjauh dari dirimu. Kamu mengerti bahasa tubuh
singkat itu. Kamu pindah kembali ke kursimu semula.

Lalu kami sama-sama terdiam. Hening. Aku merokok sedangkan kamu diam sambil
meminum kopimu. Kamu melamun. Aku memandangimu.

mengapa kamu tak bisa menjadi milikku, matahari? Mengapa bukan aku gadis yang
kamu pilih? Mengapa harus sahabatku?

tiba-tiba terdengar sayup suara stereo café mengumandangkan lagu Jason mraz. If it
kills me. Sial.

Well I really wanna do is love you. A kind much closer than friend used. But I still
can't say after all we've been through.

and all I really want from you is to feel me. As the feeling inside keeps building. I'll
find a way to you if it kills me.

aku nyaris mengeluarkan air mata saat mendengarkan lagu itu. Nyaris. Aku akan
menemukan jalan untuk membuatmu menjadi milikku meski itu membunuhku. Tapi
bagaimana? Bagaimana caraku untuk membuat kita bersama?

“Uhm kamu keberatan ngga kalau aku pinjam jaketmu?” tanyaku memecah
keheningan.

“Hah? Apa? Maaf aku tadi melamun. ”


“Boleh ngga aku pinjam jaketmu? Jaketku basah. Kamu bawa jaket cadangan kan di
mobil?”

“Oh boleh kok. Aku bawa. Kamu mau aku ambilkan?”

“Aku saja. Di taruh dimana?” Tanyaku sambil berdiri.

“Baiklah. Di kotak merah di bawah jok belakang. Di sebelah kotak perkakasku. Kamu
cari aja.” Jelasmu sambil menyerahkan kunci mobil.

“Oke.”

∞∞

“Kamu yakin benar-benar ngga mau aku antar pulang dulu?” Kamu berdiri
menatapku. Aku menggeleng pasti.

“Ya.”, aku menyeruput coffee latte ku yang sudah dingin sambil memandangi keluar
jendela.

“Baiklah. Aku pergi dulu ya. Hati-hati ya. Bye.” Ia membelai perlahan rambutku.

Aku mengangguk dan tersenyum singkat. Ia tersenyum lalu berjalan meninggalkan


cafe. Aku memandanginya dari jendela. Memandangi mobilnya yang meluncur perlahan dan
akhirnya menghilang dari pandangan.

Aku kembali memandang ke dalam cafe. Ke sofa di depanku. Membayangkan kamu


masih ada di situ. Aku kembali mengeluarkan sebatang rokok dan korek dari dalam tasku.
Membakar dan menghisapnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Lututku memangku
jaketmu. Perlahan, tanganku membelainya.

Kamu tahu, Matahari? Jujur, aku tidak bisa membiarkan kamu pergi. Tidak! Aku
tidak rela! Aku tidak akan pernah rela kamu pergi ke dunia Gadismu itu, Demi Tuhan!
Bagaimana dengan kelangsungan duniaku kalau kamu pergi menyinari dunia Gadismu?
Apalagi kali ini kamu akan benar-benar pergi dan tidak akan menyinari duniaku lagi!

Aku tidak rela! Aku tidak siap kehilangan kamu! Kehilangan satu-satunya sumber
cahayaku!

Tapi aku tahu sebuah cara. Cara untuk menang. Cara untuk membuatmu tetap
disisiku. Oke, koreksi. Mungkin tidak di sisiku. Tapi setidaknya, Gadismu juga tidak bisa
memilikimu. Jadi seri. Satu sama. Meski membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, tapi
aku rela.

Aku kembali menghisap rokokku dalam-dalam dan menghembuskan asapnya keluar.


Aku memandangi hujan di luar. Masih deras. Tidak diragukan, jalanan pun pasti licin. Dan di
ujung jalan sana ada sebuah tikungan tajam. Perlahan aku meraba saku jaketmu dan
mengeluarkan sebuah benda. Tang. Aku memutar-mutar tang itu di meja dan
memandanginya.

Matahari, alat itu aku ambil dari kotak perkakasmu selagi aku mengambil jaketmu.
Alat itu aku adalah sebuah kenangan terakhir darimu. Ya, terakhir. Karena aku tidak akan
pernah bertemu kamu lagi. Karena aku menggunakan tang itu untuk memutus kabel rem
mobilmu.

Maaf. Tapi aku benar-benar tidak rela kamu berpindah meninggalkan duniaku ke
dunia Gadismu. Maaf Matahariku, aku tidak punya pilihan. Aku terlalu sayang kamu.