You are on page 1of 17

MANAJEMEN NYERI POSTOPERATIF

Pendahuluan
Nyeri, suatu ciri yang umumnya terdapat pada berbagai proses penyakit, biasanya
berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau yang akan datang. Nyeri akut dalam
pengaturan perioperatif didefinisikan sebagai nyeri yang terdapat pada pasien bedah karena
penyakit, prosedur bedah atau kombinasinya. Merupakan komponen yang tidak
menyenangkan dan tidak terelakkan dari pengalaman post bedah. Orang yang menjalani
operasi mungkin menginginkan haknya untuk memperoleh pereda nyeri post operasi yang
adekuat. Pasien, meskipun begitu, terus mengalami nyeri postoperasi karena kurangnya
upaya dari ahli anastesi dan ahli bedah untuk mengurangi rasa sakitnya. Jika seseorang
berpikir bahwa mengurangi nyeri secara adekuat adalah hak dasar pasien, kegagalan
mengurangi nyeri adalah penyelewengan moral dan etika dari seorang dokter.
"Pasien mengharapkan pengurangan nyeri poesoperasi yang tidak efektif dan perawat mereka
menjamin bahwa mereka tidak akan dikecewakan" kata suatu ulasan dari Inggris di awal
1990. Adalah anggapan saya bahwa skenario di India juga sama, jika tidak lebih buruk!
Ahli anastesi modern membanggakan dirinya sebagai dokter perioperatif. Adalah
kewajibannya untuk meyakinkan kenyamanan pasien dalam menjalani periode preoperatif,
intraoperatif, dan postoperatif. Meskipun kebanyakan diantara kita memberikan dosis
analgesik yang piten pada pasien dengan tujuan memberikan analgesia ontraoperatif yang
baik, kualitas perawatan yang sama tidak berlanjut pada periode postoperatif. Hasil akhirnya
adalah pasien tidak puas, tidak senang dan bingung.
Disamping derita yang berkaitan dengan nyeri, pasien postbedah sering tidak dapat bernapas
dengan adekuat, batuk dengan efektif, bergerak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan berpartisipasi dalam rehabilitasi mereka. Hal ini sering mebghasilkan perasaan tidak
tertolong, ketakutan, kecemasan, dan depresi. Dengan demikian, terdapat kebutuhan untuk
dokter terlibat dalam perawatan postoperatif pasien bukan hanya memahami efek merugikan
dari nyeri, tapi juga memberikan rencana manajemen nyeri yang efektif pada pasien
postbedah mereka.

Efek merugikan dari nyeri perioperatif


nyeri menyebabkan respons fisiologis dan psikologis pada pasien, yang menentukan hasil
akhir postoperatif. Hal tersebut menjadi alasan pengurangan nyeri yang adekuat dapat
memberikan hasil akhir perioperatif yang lebih baik.
Respons fisiologis
nyeri akut yang berat menghasilkan peningkatan tonus simpatetik yang bermanifes pada
peningkatan denyut jantung, tekanan darah, kardiak output, resistensi vaskuler koroner dan
sistemik. Efek kardiovaskular yang merugikan ini dapat diperkecil dengan anastesi epidural
yang cukup tinggi untuk menghambat serat simpatetik jantung (T1 sampai T5). Analgesia
perioperatif yang efektif juga bermaksud untuk melindungi kardiovaskuler.
Nyeri yang berkaitan dengan bedah thoraks dan abdomen dapat menyebabkan disfungsi
pernapasan postoperatif yang signifikan. Nyeri menyebabkan peningkatan tonus otot di
sekitar lokasi cedera. "Bebatan otot" ini, bersamaan dengan penurunan volunter otot
pernapasan, menyebabkan penurunan volume paru (tidal volume, kapasitas vital dan
kapasitas residual fungsional), kempisnya paru setempat (atelektasis) dan penurunan ventilasi
alveolarm yang mengakibatkan hipoksemia dan hiperkapnia. Perubahan pernapasan ini juga
menghasilkan penurunan kemampuan untuk batuk, retensi sekresi dan peningkatan resiko
infeksi di dada. Pengurangan nyeri perioperatif yang adekuat, diiringi latihan pernapasan,
dapat mencegah efek pernapasan yang merugikan ini.
Peningkatan aktivitas simpatetik yang berkaitan dengan nyeri juga menghasilkan penurunan
motilitas gastrointestinal (stasis lambung dan ileus paralitik), peningkatan sekresi intestinal
dan peningkatan tonus sfingter otot polos. Perlanjutan anastesi epidural dengan anastesi lokal
untuk beberapa hari dalam periode postoperatif membantu tidak hanya meningkatkan
motilitas gastrointestinal melalui efek langsung blokade epidural, tapi juga memperkecil
kebutuhan opioid (dan efek merugikan yang berkaitan dengan motilitas gastrointestinal).
Nyeri dapat menyebabkan peningkatan motilitas uretra dan kandung kemih dan
mengakibatkan kesulitan berkemih.
Perubahan neuroendokrin dan metabolik yang mencetuskan respons sres terhadap operasu
menghasilkan peningkatan tingkat katabolik yang menyebabkan penurunan berat dan
keseimbangan nitrogen negatif. Pemeliharaan anastesi epidural dengan anastesi lokal selama
48 hingga 72 jam dalam periode postoperatif memiliki efek terhadap efek metabolik ini. Efek
yang bermanfaat dalam operasi mencakup abdomen bagian bawah dan anggota gerak bawah
(sebagai perbandingan dengan abdomen bagian atas dan thoraks akbibat kesulitan dalam
menghambat impuls nosiseptif di kasus yang tadi).
Respons psikologis
nyeri postoperatif akut menyebabkan ketakutan dan kecemasan dalam pasien rawat inap. Jika
tidak ditemani, ia dapat berkembang menjadi kemarahan, kebencian dan permusuhan kepada
personik medis yang bertanggung jawab terhadap pengurangan nyeri. Gangguan tidur dapat
meningkatkan perasaan ini, pasien dapat jatuh ke dalam depresi dan perasaan tidak tertolong,
perhatian yang adekuat terhadap pereda nyeri dapat membantu memberikan perasaan sehat
yang merupakan pengaruh positif pada hasil akhir postoperatif.

Penilaian klinis dari nyeri akut


Nyeri tidak hanya proses biologis dari persepsi sensoris. Ia merupakan "pengalaman" karena
sensasi "psikologis" dari nyeri tidak terpisahkan dengan komponen "emosional". Orang harus
bisa membedakan antara "ambang nyeri" dan "toleransi nyeri". Ambang nyeri ialah istilah
yang digunakan dalam laboratorium dan menggambarkan tingkat dimana 50% dari stimuli
dianggap menyakitkan. Ia mendefinisikan isstilah stimulus dan bukan rasa sakit, sehingga
membatasi aplikasi klinisnya. Toleransi nyeri merupakan pengalaman subjektif dari individu
dan merupakan alat klinis yang lebih baik. Meskipun begitu, fakta bahwa sebagian individu
"lebih toleran" terhadap nyeri menjadi permasalahan sehingga skor nyeri yang dilaporkan
tidak dapat digunakan untuk perbandingan antar pasien.
Beberapa sistem skor nyeri yang tersedia termasuk skala taksiran kategorikal (CRS) dimana
nyeri nyeri dinilai sebagai tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat, skala
analog visual (VAS) dimana individu menilai nyeri pada garis 10 cm dimana titik sebelah kiri
diberi nama "tidak nyeri" dan titik sebelah kanan diberi nama "paling nyeri" atau skala
penilaian numerikal verbal (VNRS) dimana pasien memperkirakan nyeri sebagai angka
antara 0 yang mengindikasikan "tidak nyeri" dan 10 yang mengindikasikan "paling nyeri".
Apapun sistem skor yang digunakan, seseorang harus mencatat nyeri postoperatif baik pada
beristirahat dan pada pergerakan yangdiarahkan (fisioterapi dada untuk torakotomi,
pergerakan lutut pasif pada operasi lutut, dsb). Hal tersebut harus dicatat tiap 5 menit selama
fase inisial saat injeksi bolus opioid intravena atau opioid epidural / anastesi lokal diberikan.
Saat analgesia basal telah ditegakkan, prekuensi penilaian diturunkan tiap 2 jam selama 24
hingga 48 jam pertama, dan setelah itu tiap 4 jam.
Sebagai tambahan, skor nyeri harus dilakukan bersamaan dengan skor sedasi dan pencatatan
bangsal tradisional seperti suhu, nadi, tekanan darah, dan pernapasan. Enam observasi ini
merupakan data minimum yang dicatat di grafik postoperatif (dengan skor nyeri dan skor
sedasi menjadi tanda vital yang ke5 dan ke6). Mencatat nyeri postoperatif adalah salah satu
cara mamusatkan perhatian semua pemberi pelayanan terhadap nyeri postoperatif akut dan
kebutuhan untuk manajemennya.

Manajemen nyeri postoperatif akut


Strategi manajemen untuk nyeri postoperatif ditujukan pada menurunkan nyeri pasien ke
tingkatan yang dapat ditoleransi. Penghapusan komplit nyeri bukanlah tujuan dan memang
kurang diinginkan. Meski pendekatan tradisional telah memulai terapi nyeri saat operasi
selesai, konsep "analgesia awal" menjadi sangat populer dimana perawatan antinosiseptif
dimulai sebelum onset nyeri. Pengobatan seperti itu mencegah pembentukan proses sentral
yang terganggu yang normalnya meningkatkan nyeri postoperatif dengan merangsang sistem
saraf sentral ke input sensoris.
Ketika "teknik anatesi seimbang" digunakan untuk memperoleh kebutuhan anastesi
intraoperatif pasien dengan menggunakan beberapa agen, "analgesia seimbang"
menggunakan beberapa modalitas manajemen nyeri untuk memberikan keadaan bebas nyeri
dan stres, yang memberikan hasil akhir operasi yang baik, teknik multimodak dari
manajemen nyeri melibatkan administrasi dua atau lebih obat yang bekerja dengan
mekanisme berbeda melalui rute tunggal (seperti opioid epidural + anastesi lokal +/-
klonidin) untuk memberikan keampuhan analgesik yang lebih unggul dengan efek merugikan
yang setara atau berkurang. Sebagaimana direkomendasikan oleh American Society of
Anaesthesiologists (ASA), kapanpun mungkin, ahli anastesi harus melakukan terapi
manajemen nyeri multimodal.

Opioid sistemik
Opioid sistemik telah menjadi arus utama manajemen nyeri di masa lampau dan masih
berlanjut menjadi teknik yang populer saat strategi lainnya masih dibangun. Semua opioid
yang diberikan dalam dosis ekuianalgesik menghasilkan efek analgesik yang sama. Opioid
biasanya diberikan dengan rute intramuskular (IM), intravena (IV), subkutan (SC) atau
transdermal.
Idealnya, administrasi opioid dimulai dengan peresepan terindividualisasi sesuai kebutuhan
pasien. Resep harus mencantumkan agen, dosis, frekuensi, dan rute administrasi. Umur
dibandingkan berat merupakan prediktor kebutuhan opioid yang lebih baik dalam 24 jam
pertama setelah operasi. Kebutuhan morfin 24 jam rata-rata (dalam mg) menggunakan teknik
analgesia terkontrol mengikuti operasi mayor pada pasien berusia antara 20 dan 70 tahun
dibarikan formula 100 - usia dalam tahun. Dengan demikian, orang 4( tahun akan
memerlukan 60 mg morfin dalam 24 jam. Formula sederhana ini dapat digunakan untuk
mencetuskan terapi opioid sistemik dalam periode postoperatif.

Opioid spesifik
Kodein ialah opioid spesifik. Molekulnya tidak memiliki aktivitas analgesik. Kodein-6-
glukoronida dan morfin yang dibentuk sebagai hasil metabolisme (2-10%) dicatat untuk
aktivitas analgesiknya. Kodein biasanya dikombinasikan dengan parasetamol yang membantu
menambah pengurangan nyeri.
Dekstropropoksifen juga merupakan opioid lemah yang juga dikombinasikan dengan
parasetamol untuk mengurangi nyeri. Meskipun begitu insidens terjadinya pusing sangat
tinggi. Nordektropropoksifen, yang merupakan suatu metabolit, dapat menghasilkan depresi
sistem saraf sentral (CNS), pernapasan atau kariovaskuler.
Metadon sering digunakan untuk terapi pemeliharaan pasien yang ketergantungan opioid
karena bioavailabilitas oral yang baik (60-95%). Potensinya yang tinggi, durasi kerjanya yang
panjang, harga murah, aktivitas antagonistik NMDA dan aktivitas penghambat reuptake
serotonin berguna dalam mengobati nyeri kronik. Penggunaannya dalam mengobati nyeri
akut dibatasi oleh durasi kerja yang panjang dan tidak terprediksi dan resiko akumulasi
metabolit.
Fentanil merupakan opioid kuat yang sering digunakan untuk mengobati nyeri akut karena
kurangnya metabolit aktif dan onset kerja yang cepat.
Morfin adalah opioid yang sering digunakan secara luas dalam manajemen nyeri akut. Ia
dimetabolisme menjadi morfin-6-glukoronida dan morfin-3-glukoronida di hati. Morfin-6-
glukoronida adalah u-agonis dan lebih poten daripada morfin ketika morfin-3-glukoronida
memiliki afinitas yang rendah pada reseptor opioid dan tidak memiliki aktifitas analgesik. Ia
terkadang berkaitan dengan efek samping neurotoksik seperti alodinia, hiperalgesia, dan
mioklonus. Metabolit terakumulasi dalam keadaan disfungsi renal, dosis yang lebih tinggi,
kelompok usia yang lebih tua, dan dengan pemberian oral.
Petidin ialah opioid sintetik yang masih digunakan secara luas meskipun dengan berbagai
kerugiannya. Studi menunjukkan bahwa ia tidak lebih baik dari morfin dalam pengobatan
kolik renal dan bilier. Petidin menginduksi lebih banyak mual dan muntah dibandingkan
morfin saat digunakan parenteral. Akumulasi norpetidin berkaitan dengan efek samping
neuroeksitatori. Melihat fakta ini, penggunaan petidin diganti dengan opioid yang lain.
Tramadol adalah analgesik kerja sentral atipikal karena efek kombinasinya sebagai agonis
opioid (umumnya metabolitnya, O-desmetil-tramadol) dan penghambat reuptake serotonin
dan noradrenalin. Ia dicatat sebagai opioid lemah oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Resiko
depresi pernapasan lebih rendah pada dosis ekuianalgesik dan tidak ,emekan respons ventilasi
hipoksik. Ia memiliki efek terbatas pada fungsi pergerakan gastrointestinal. Mual dan muntah
merupakan efek samping paling sering dan tramadol tidak meningkatkan insidens kejang saat
dibandingkan dengan agen analgesik lainnya.
Rute intravena memiliki keuntungan menghasilkan tingkat darah yang cepat dan dapat
diprediksi. Rute ini memungkinkan titrasi yang sesuai dari keperluan analgesik ke kebutuhan
pasien. Saat analgesia yang adekuat telah diperoleh dengan bolus IV, pemeliharaan dapat
diperoleh dengan infus IV atau SC, atau injeksi IM.
Rute intravena digunakan dalam unit perawatan intensif postoperatif atau unit kebutuhan
yang lebih tinggi untuk memperoleh kontrol nyeri yang cepat. Ia juga rute yang diminati pada
pasien yang hipotensi atau hipovolemik saat ia menghasilkan tingkat darah terapeutik yang
instan dan dapat diprediksi. Ketika infus berulang memberikan tingkat darah yang tetap,
harus diingat bahwa ia memerlukan 5 kali waktu paruh obat (20 jam dalam kasus morfin)
untuk memperoleh 95% konsentrasi keadaan tetap yang akhir. Kemudian, analgesia yang
tidak adekuat pada pasien yang memperoleh infus IV lebih baik dihadapi dengan bolus IV
dibandingkan dengan meningkatkan rasio infus obat.
Opioid juga dapat diberikan dengan rute SC sebagai injeksi intermitten atau sebagai infus
terus menerus melalui kanula kecil atau jarum kupu-kupu yang ditempatkan di jaringan
subkutan lengan atas. Seperti rute IM, rute SC juga menghasilkan tingkatan darah yang tidak
dapat diprediksi jika perfusi perifer jelek (seperti yang terjadi di hipovolemia dan
hipotermia). Absorpsi lambat dari depot obat dapat terjadi saat perfusi dikembalikan
menghasilkan tingkatan plasma yang sangat tinggi dari obat. Meskipun begitu, dengan
adanya perfusi jaringan normal, rute SC memiliki keuntungan menghasilkan tingkatan
plasma yang stabil.
Pemberian obat transdermal memungkinkan pemberian obat parenteral terus-menerus tanpa
memerlukan peralatan jarum atau suntuk. Obat larut lemak seperti fentanil adalah sesuai.
Tempelan fentanil transdermal tersedia dengan tingkat pemberian yang berbeda yang berkisar
dari 25 hingga 100 mikrogram/jam. Tempelan yang tersedia saat ini memiliki onset lambat
dan offset kerja dan absorpsi berlanju hingga 72 jam saat tempelan ditempatkan.

Efek merugikan dari opioid


Efek opioid merugikan yang umum adalah sedasi, pruritus, mual, muntah, melambatnya
fungsi gastrointestinal dan retensi urin. Efek merugikan yang berarti secara klinis berkaitan
dengan dosis. Saat dosis ambang dicapai, setiap kenaikan 3-4 mg dosis ekuivalen morfin per
hari berkaitan dengan tambahan satu peristiwa merugikan atau satu hari rawat pasien di
rumah sakit.
Depresi pernapasan adalah efek samping yang peling ditakuti yang biasanya dihindari dengan
titrasi hati-hati dari dosis terhadap efek. Mayoritas studi yang mempelajari hipoksia yang
berkaitan dengan opioid di periode postoperatif menemukan bahwa pengukuran rasio
pernapasan sebagai indikator depresi pernapasan memiliki nilai yang kecil saat episode
hipoksemik sering terjadi pada tidak adanya rasio respirasi yang rendah. Sedasi adalah
indikator klinis awal yang paling baik dari akumulasi obat.
Pemberian oksigen 48 jam diikuti operasi mayor adalah menguntungkan, khususnya pada
lansia dan pasien resiko tinggi, karen kaitan antara hipoksemia postoperatif, takikardia dan
iskemi miokard.
Mual dan muntal postoperatif (PONV) merupakan efek merugikan dari opioid yang paling
sering. Gejala dan tandanya dikurangi oleh droperidol, deksametason, dan ondansetron yang
semuanya efektif. Penghilangan nitrous oksida dan propofol dalam sekuens anastesi kurang
efektif dalam menurunkan insidens PONV.
Pruritus yang diinduksi opioid biasanya diobati dengan nalokson, naltrekson, droperidol,
ondansetron atau infus propofol dosis rendah. Dosis efektif yang minimum dari obat-obat ini
masih belum diketahui.

Analgesia yang dikontrol pasien


Analgesia yang dikontrol pasien (PCA) adalah teknik dimana pasien memberikan sendiri
sejumlah kecil opioid (biasanya dengan rute IV atau SC) ketika mereka merasakan nyeri.
Teknik ini tidak hanya memberikan pasien kendali dari nyeri mereka, tapi juga
menanggulangi permasalahan yang berkaitan dengan variabilitas farmakodinamik dan
farmakokinetik diantara individu pasien.
Kebanyakan alat PCA intravena (IV-PCA) terdiri dari pompa yang dikontrol mikroprosesor
yang dipicu dengan menekan tombol. Saat ditekan, jumlah yang telah diatur sebelumnya
(dosis tambahan) dari obat diberikan secara intravena. Timer di pompa mencegah pemberian
bolus hingga periode tertentu (interval penguncian) berlalu. Dengan demikian, pasien
individu dapat mentitrasi opioid sesuai kebutuhan mereka dalam batasan keselamatan yang
diambil oleh ahli anastesi. Dosis tambahan dan periode penguncian untuk beberapa opioid
yang sering digunakan untuk analgesia yang dikontrol pasien diberikan di tabel 2.
Analgesia yang adekuat dapat didiirikan dengan mentitrasi dosis loading intravena untuk
memulai administrasi opioid yang dikontrol pasien. Lansia atau pasien terkompromisasi
memerlukan dosis opioid yang lebih kecil.
Kebanyakan pompa PCA memberikan pilihan infus latar belakang yang berlanjut pada mode
dasar yang dikontrol pasien. Teknik ini memiliki keuntuungan memberikan tingkatan darah
yang lebih terkontrol dan peningkatan analgesia (khususnya saat tidur) dengan pengaturan
kebutuhan opioid yang dilakukan sendiri oleh pasien. Kerugiannya mencakup kesulitan
dalam menentukan tingkat infus latar belakang yang optimal (memungkinkan overdosis pada
beberapa individu) dan kehilangan salah satu dari fitur keselamatan dari teknik PCA karena
pasien yang tertidur dapat berlanjut pada menetima medikasi diluar kebutuhan mereka. Infus
latar belakang sekarang tidak dirkomendasikan pada orang dewasa untuk penggunaan rutin;
meskipun begitu, hal ini dapat berguna pada pasien yang toleran-opioid.
Saat akses IV sulit diperoleh, PCA dapat diberikan melalui rute SC. Pompa PCA standar
direkatkan pada alat administrasi dapat digunakan untuk memberi obat dalam taraf SC
melalui kanula atau jarum kupu-kupu. Konsentrasi obat biasanya ditingkatkan 5 kali lipat
untuk mencegah administrasi volume cairan jumlah besar ke dalam bidang subkutan.
Analgesia epidural yang dikontrol pasien (PCEA) adalah rute kedua yang paling sering
digunakan untuk pemberian PCA untuk manajemen nyeri akut. Keuntungannya mencakup
analgesia yang lebih superior, peningkatan kepuasan pasien dan penurunan efek samping.
Variabel PCEA yang optimal belum ditentukan dengan jelas. Untuk analgesia postoperatif, 2
sampai 4 ml dari 0.0625% hingga 0.25% bupivakain dengan interval penguncian 10 sampai
20 menit dan infus kontinu 3 hingga 10 ml/hari umumnya digunakan. Infus kontinu telah
direkomendasikan dengan PCEA untuk mengoptimalisasi keuntungan fisiologis potensial
dari analgesia epidural dan mempertahankan blokade neural secara kontinu. Menggabungkan
opioid larut lemak memberikan analgesia yang lebih kuat.
Rute lain dari pemberian PCA mencakup oral PCA, intranasal PCA (PCINA), transdermal
PCA dan regional PCA (PCRA).

Analgesia neuraksial
Opioid intratekal
Opioid intratekal sekarang ini digunakan sendiri secara luas atau sebagai tambahan dalam
pengobatan nyeri akut. Dalam spinal cord, mereka berikatan dengan reseptor spesifik di
tanduk dorsal. Menggabungkan opioid dosis rendah dengan agen anastesi untuk pemberian
intratekal tampak meningkatkan kecepatan onset, densitas blok dan durasi analgesia.
Opioid larut lemak tinggi seperti fentanil dan sufentanil tercatat untuk penyebaran rostral
yang minimal, ikatan analgesia dermatomal yang relatif kecil dan aksi yang memiliki durasi
yang terbatas tidak seperti opioid hidrofilik seperti morfin yang mempunyai derajat
penyebaran rostral yang lebih besar, depresi pernapasan yang tertunda,dan
analgesiadermatomal tambahan. Studi saat ini menunjukkan pemberian intratekal dari opioid
lipofilik juga dapat menghasilkan depresi pernapasan yang terjadi 20-30 menit setelah injeksi.
Ini akibat distribusi cepat obat dalam cairan serebrospinal. Meskipun begitu efek ini hanya
bertahab beberapa menit tidak seperti morfin yang memuncak kurang lebih 6 jam dan
terdapat selama 18-24 jam.
Secara internasional, opioid dan analgesik tambahan disediakan sebagai preparat yang
mencakup bahan pengawer. Benzil alkohol dan parabens dapat menyebabkan neurotoksisitas
setelah pemberian intratekal dan oleh karena itu dihindari. Khasiat farmakologis dari opioid
yang sering digunakan intratekal dirangkum di tabel 3. Dosis intratekal optimal untuk
indikasi spesifik dirangkum di tabel 4.
Efek samping opioid intratekal mencakup pruritus, mual, dan muntah, retansi urin dan
depresi pernapasan.

Analgesia epidural
Rute epidural lebih populer untuk manajemen nyeri postoperatif sabaga teknik yang dapat
digunakan sendiri atau kombinasi dengan anastesi umum. Teknik epidural memberikan
penurunan nyeri lebih baik daripada opioid sistemik dan juga mengurangi insidens
komplikasi postoperatif. Kateter epidural lumbar dapat disimpan untuk periode yang lama.
Kateter epidural ditempatkan di lokasi yang sama dengan insisi dermatom tampak
memberikan analgesia yang lebih kuat. Analgesia segmental untuk bedah abdominal bagian
atas dapat diperoleh dengan menempatkan kateter di tingkat T8 hingga T10. Morfin diberikan
di daerah lumbar dan dapat memberikan analgesia postoperatif yang baik untuk abdomen
bagian atas dan juga bedah thoraks. Sifat hidrofilik dari morfin menghasilkan penyebaran
rostralnya, memungkinkannya memperoleh pengurangan nyeri yang baik untuk prosedur
abdominal bagian atas dan thoraks mengikuti administrasi melalui kateter yang ditempatkan
di daerah lumbar. Fentanil, di sisi lain, adalah lipofilik dan oleh karenanya perlu diberikan
dekat dengan tingkat segmental dimana analgesia diperlukan. Morfin memiliki onset kerja
yang lebih lambat jika dibandingkan dengan fentanil. Sebagai tambahan, fentanil cenderung
menghasilkan blok segmental yang lebih terdefinisi dibandingkan morfin.
Dosis bolus inisial morfin berkisar pada 1 hingga 6 mg, diikuti infus 0.1 hingga 1.0 mg/jam.
Dosis bolus menghasilkan analgesia dalam 30 menit dan efeknya bertahan 6 sampai 24 jam.
Fentanil dalam bolus 25 hingga 100 mikrogram menghasilkan analgesia dalam 5 menit,
efeknya bertahan 1.5 hingga 3 jam. Jumlah infus fentanil 25 hingga 100 mikrogram/jam.
Pasien usia lanjut memerlukan dosis yang lebih rendah untuk menghasilkan analgesia yang
efektif. Dosis total yang efektif dari morfin epidural yang dibutuhkan dalam 24 jam dapat
diprediksi dengan rumus :
Dosis morfin epidural 24 jam yang efektif (mg) = 18 - (umur x 0.15)
Opioid dapat diberikan sendiri atau dengan bupivakain 0.0625 - 0.125 %. Saat opioid
diberikan dengan rute epidural atau sub arachnoid, harus dihindari penggunaan penggunaan
opioid atau sedatif sistemik lainnya. Pasien harus dipantau untuk efek opioid sistemik seperti
penurunan rasio pernapasan atau sedasi yang berlebihan. Saat dikombinasikan dengan
anastesi lokal, harus juga dipantau hemodinamik dan blokade motorik.
DepoDur ialah formulasi analgesik baru dari morfin untuk manajemen nyeri postoperatif
yang ditujukan untuk pemberian epidural. Ia terdiri dari morfin yang terbungkus dalam
liposom untuk memberikan pelepasan tambahan dari obat. DepoDur diberikan sebagai injeksi
epidural tunggal sebelum operase telah menunjukkan depat menghasilkan penurunan nyeri
hingga 48 jam.

Teknik analgesik nonopioid


Jumlah yang meningkat dari operasi yang kompleks dilakukan pada dasar pasien rawat jalan
yang mana penggunaan IV-PCA, analgesia spinal atau epidural bukanlah teknik manajemen
nyeri. Penggunaan lebih lanjut dari opioid perioperatif berkaitan dengan efek samping seperti
PONV, pruritus, retensi urin dan ileus paralitik, teknik analgesik nonopioid berfungsi sebagai
tambahan untuk manajemen nyeri perioperatif. Teknik ini digabungkan sebagai bagian dari
teknik analgesia multimodal atau seimbang.

Teknik anastesi lokal


Infiltrasi lokal dari insisi dengan anastesi lokal jangka panjang, blok pleksus/saraf perifer, dan
blok neuraksial kontinu dapat memberikan analgesia yang efektif dan aman dalam periode
postoperatif. Sebagai tambahan, penggunaan ini dapat menurunkan insidens PONV. Infiltrasi
bupivakain 0.25% pada insisi bedah memberikan analgesia yang efektif untuk beberapa jam.
Dalam sikap yang serupa, teknik regional yang dapat direkomendasikan termasuk blok
interscalene untuk operasi bahu, blok nervus skiatik dan femoralis untuk operasi anggota
gerak bagian bawah, blok interkostal untuk prosedur thoraks dan abdomen bagian atas, dan
analgesia interpleural untuk operasi batu kandung kemih dan ginjal (unilateral). Kerugian
teknik anastesi lokal adalah mereka efektif hanya selama 6-8 jam. Kontrol nyeri dapat
ditingkatkan dengan penggunaan teknik yang berlanjut untuk infus anastesi lokal (LA).
Suspensi LA kerja panjang dan formulasi pelepasan tertunda yang mencakup liposom /
polimer mikrosfer dapat mengecilkan kebutuhan sistem pemberian kateter berkesinambungan
di masa yang akan datang.

Analgesik nonopioid
Meskipun opioid dengan berbagai cara telah menjadi arus utama dalam teknik manajemen
nyeri, mereka tidak memberikan solusi lengkap di pasien yang mengalami nyeri postoperatif
yang berat. Penambahan analgesik nonsedasi, nonopioid pada suatu opioid sekarang
merupakan bentuk multimodal yang populer dari terapi yang memberikan analgesia yang
lebih ampuh dibandingkan obat itu sendiri. Saat analgesik nonopioid berfungsi sebagai
tambahan terapeutik terhadap opioid pada 24 hingga 48 jam pertama, mereka dapat
digunakan sebagai analgesik satu-satunya setelah 48 jam.
Obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) seperti asetaminofen, ibuprofen, ketorolak,
diklofenak dan penghambat COX-2 adalah obat yang populer untuk tujuan ini. Obat-obat ini
diberikan melalui rute oral, rektal, atau intramuskular untuk menambah analgesia berbasis
opioid. Mereka sering diberikan bersamaan dengan premedikasi dalam teknik yang disebut
"analgesia awal". Saat NSAID tradisional seperti asetaminofen, ibuprofen, ketorolak, dan
diklofenak menghambat bentuk COX-1 dan COX-2 dari enzim siklo-oksigenase, NSAID
yang lebih baru menghambat bentuk yang dapat terinduksi dari enzim, enzim COX-2, yang
dilepaskan saat trauma bedah, sepsis, dan hipoksia.
Parasetamol (asetaminofen) digunakan dalam praktek klinik sebagai analgesik dan antipiretik
yang efektif, ia bekerja dengan menghambat siklo-oksigenase-2 (COX-2) pusat di sistem
saraf pusat. Ia juga menghambat pusat putatif 'COX-3, yang secara selektif rentan terhadap
parasetamol. Ia memodulasi penghambatan jalur serotonergik yang turun dan mencegah
produksi prostaglandin di tingkatan transkripsi seluler.
Asetaminofen yang diberikan sendiri efektif untuk nyeri yang ringan dan sedang. Ia
merupakan tambahan yang berguna untuk opioid dalam nyeri yang lebih parah. Ia digunakan
secara oral dalam dosis 10-15mg/kg setiap 4 hingga 6 jam dengan dosis maksimum tidak
melebihi 100 mg/kg/hari. Dosis oral asetaminofen pada dewasa ialah 650 hingga 975 mg
setiap 4 hingga 6 jam. Dosis oral tunggal yang melebihi 100 mg/kg dapat menyebabkan
kerusakan hati yang parah dan nekrosis tubular akut. Obat ini juga dapat diberikan secara
rektal dengan dosis inisial 35-40 mg/kg, diikuti 20 mg/kg setiap 6 jam. Preparat parasetamol
intravena sama efektif dengan ketorolak dan setara dengan morfin setelah operasi.
Ibuprofen oral dalam dosis 6-10 mg/kg tiap 6 jam dapat menghasilkan penurunan 30% di
keperluan opioid.
Ketorolak intramuskular (dosis 10 dan 30 mg) sama efektifnya dengan morfin IM (12 mg)
untuk mengurangi nyeri pada hari 1 dan 2 postoperatif setelah operasi mayor. Studi pada
pasien yang menjalani kolesistektomi menunjukkan bahwa morfin (10mg IM) memberikan
analgesia yang lebih superior saat dibandingkan dengan ketorolak (30 mg IM). Regimen
dosis biasa untuk ketorolak ialah 30 mg IM pada awalnya, diikuti dengan 10 hingga 30 mg
IM tiap 4 hingga 6 jam. Perawatan yang diberikan tidak melebihi dosis 120 mg/hari untuk
lebih dari 5 hari. Diklofenak dapat diberikan dengan rute rektal atau IM sebagai tambahan
terhadap medikasi opioid dalam manajemen nyeri postoperatif. Saat supposituria rektal
tersedia dalam sediaan 12.5, 25, 50 dan 100 mg, sediaan intramuskular tersedia dalam ampul
75 mg/3ml. Penghambat COX-2 seperti rofecoxib dan valdecoxib tersedia untuk pemberian
oral. Obat-obatan ini diberikan per oral sebagai analgesik awal bersamaan dengan
premedikasi. Parecoxib, suatu obat awal dari valdecoxib, adalah satu-satunya penghambat
COX-2 injeksi yang tersedia. Ia diberikan pada dosis 40 mg IV dua kali sehari, dosis pertama
langsung diberikan setelah operasi. Tabel 5 menunjukkan penghambat COX-2 yang tersedia
dan dosisnya.
Berdasarkan bukti yang ada, NSAID tidak cukup efektif sebagai agen tunggal untuk
memberikan penurunan nyeri setelah operasi mayor meskipun mereka efektif pada operasi
minor dan sedang. Saat dikombinasikan dengan opioid, mereka menurunkan kebutuhan
opioid dan juga memperkecil efek yang merugikan yang berkaitan dengan opioid. Mereka
sering meningkatkan waktu perdarahan dan dapat mengakibatkan peningkatan kehilangan
darah. Tapi tinjauan sistematik saat ini dari literatur menunjukkan bahwa bukti menunjukkan
kecenderungan perdarahan masih belum jelas. Penghambat COX-2 memiliki pengaruh
negatif pada pertumbuhan tulang. Oleh karena itu, penghambat COX-2 tidak digunakan lebih
dari 3 hingga 5 hari setelah operasi.

Tambahan analgesik
Antagonis NMDA : Ketamin, dekstrometorfan, magnesium dan adenosin telah dicoba
sebagai penambah analgesik untuk manajemen nyeri postoperatif. Hal ini tampaknya
menghambat arus reseptor gerbang kalsium yang memperkeras pelepasan neuronal. Ketamin
tampak sebagai tambahan yang berguna saat diberikan sebagai bolus IV, infus IV
berkesinambungan (0.5 mg/kg/jam hingga 20 mg/jam) atau infus epidural (0.25 mg/kg/jam)
tanpa peningkatan apapun dari efek SSP yang merugikan.
A2 agonis : klonidin dosis rendah terbukti menjadi analgesik tambahan yang berguna saat
diberikan secara neuroaksial (150 µg intratekal atau 2-3 µg/kg epidural), dan dalam
kombinasi dengan penghambat saraf perifer (0.5 µg/kg). Dosis yang lebih tinggi berkaitan
dengan efek yang merugikan seperi sedasi, bradikardi dan hipotensi dan harus dihindari.
Neostigmin : pemberian intratekal 25-100 µg neostigmin berhubungan dengan tingginya
insidens mual dan untah, bradikardi, hipotensi, berkeringat, agitasi dan distras. Dengan
demikian, ia tidak direkomendasikan untuk penggunaan intratekal. Neostigmin dilaporkan
sebagai tambahan analgesik untuk penggunaan intra-artikular dan epidural.
Nalokson, kortikosteroid dan gabapentin adalah obat-obatan lainnya yang masih dipelajari
untuk digunakan sebagai tambahan analgesik.

Teknik nonfarmakologis
Krioanalgesia
Pendinginan yang intensif dari nervus perifer pada suhu dibawah -5 hingga -20°C
menyebabkan disintegrasi akson dan menghancurkan selubung mielin tanpa mengganggu
perineurium dan epineurium. Hal ini menghasilkan gangguan konduksi saraf (dan
pengurangan nyeri) untuk beberapa minggu. Cryoprobe tipikal menggunakan sistem untuk
menghantarkan nitrous oksida terkompresi atau karbon dioksida melalui lubang kecil di
pinggirannya untuk menghasilkan pendinginan yang intensif. Krioanalgesia digunakan di
beberapa prosedug bedah tertentu. Ia dapat digunakan secara langsung untuk saraf interkostal
pada thorakotomi atau saraf ilioinguinal saat perbaikan hernia. Lesi juga dapat dibuat
perkutaneus melalui galian kecil.

Teknik elektroanalgesik
Hal ini mencakup stimulasi saraf elektrikal transkutaneus (TENS), TENS seperti akupunktur
(ALTENS), terapi neuromodulasi perkutaneus dan stimulasi elektrikal akupoin transkutaneus
(TAES). Teknik seperti itu mengurangi kebutuhan opioid postoperatif hingga 60%.
TENS adalah teknik sederhana, non invasif yang memberikan analgesia postoperatif.
Mekanisme bagaimana TENS mengurangi nyeri ialah melalui modulasi impuls nosiseptif di
sumsum tulang belakang sebagaimana diprediksi oleh teori pengandalian gerbang yang
dicetuskan oleh Melzack dan Wall. Segera setelah penutupan luka, elektroda adhesif yang
steril digunakan pada kulit di sisi manapun pada insisi. Luka dirawat dam elektroda
disambung ke stimulator, stimulator diatur untuk menghantarkan gelombang asimetris,
bifasik dengan kekuatan arus 12-20 mA, frekuensi stimulus 10-100Hz dan lebar denyut 60-
150 mikrodetik. Hal ini menuntun pada sensasi getar, geli, sejuk tapi tidak nyeri. Pengaturan
pada stimulator kemudian diatur untuk menghasilkan manfaat maksimum.
Teknik nonfarmakologi lainnya mencakup stimulasi laser, ultrasound, dan hipnoterapi. Studi
yang terkontrol baik diperlukan mendirikan manfaat dari teknik ini.

Kelompok khusus dalam manajemen nyeri


Anak-anak
Anak-anak merupakan kategori khusus yang memerlukan perhatian spesifik untuk
manajemen nyeri postoperatif. Di masa lampau, nyeri sering tidak tertanggulangi pada anak-
anak akibat adanya kesalahpahaman konsep. Anak-anak juga merasakan nyeri seperti orang
dewasa, dan tidak benar adanya jika anak-anak tidak mengingat nyeri. Nyeri dirasakan oleh
anak-anak memberikan efek fisiologis dan psikologis yang serupa. Hal ini juga terdapat pada
neonati dan bayi preterm.
Penilaian nyeri dalam kelompok usia pediatri memperoleh kendala karena perbedaan
perkembangan, kognitif dan emosional. Anak-anak sering ketakutan dengan semua
pengalaman postbedah sehingga mereka merasakah nyeri untuk rasa takut dari sesuatu yang
buruk yang sedang menimpa mereka. Anak-anak takut dengan injeksi IM. Kemudian, rute
alternatif pemberian obat seperti rute sublingual, rektal, dan transdermal lebih populer.
Bersihan opioid lebih lama pada neonati dan bayi. Hal ini membuat populasi pediatri menjadi
lebih rentan terhadap efek depresi pernapasan akibat opioid.
Epidural kaudal adalah rute yang populer untuk menurunkan nyeri pada prosedur abdomen
bagian bawah, anggota gerak bawah dan perineal. Rumus Armitage diberikan untuk
menghitung dosis obat analgesia kaudal.
Teknik regional lainnya dapat juga digunakan untuk memberikan penurunan nyeri yang
bagus pada anak. Blok pada nervus dorsalis penis atau penggunaan jeli lignokain dapat
memberikan analgesia postoperatif saat sirkumsisi. Blok pada nervus iliohipogastrik dan
ilioinguinal memberikan penurunan nyeri yang bagus pada herniotomi dan orchidopeksi.
Blok nervus infraorbital menurunkan nyeri pada operasi bibir sumbing.
NSAID oral, rektal, atau parenteral berguna dalam memberikan analgesia awal pada anak.
Meskipun begitu, sama seperti pada orang dewasa, hal ini sebaiknya dianggap sebagai
tambahan dibandingkan agen primer untuk manajemen nyeri. NSAID memiliki efek
merugikan yang serupa sebagaimana pada dewasa.
Asetaminofen oral digunakan pada dosis 10-20 mg/kg setiap 6 jam denga dosis keseharian
maksimum tidak melebihi 100mg/kg pada anak normal. Dosis oral maksimum asetaminofen
sehari tidak boleh melebihi 75 mg/kg pada neonati atau 40 mg/kg pada prematur yang kurang
dari 32 minggu. Asetamineofen rektal digunalan dengan dosis inisial 35-40 mg/kg diikuti 20
mg/kg setiap 6 jam.
Ibuprofen digunakan dengan dosis 10 mg/kg setiap 6 hingga 8 jam. Diklofenak oral
digunakan dengan dosis 0.5-1.0 mg/kg setiap 8 jam. Supposituria rektal diklofenak terdapat
dalam sediaan 12.5, 25, 50 dan 100 mg. Ketorolak intramuskular diberikan dalam dosis 0.25-
0.5 mg/kg setiap 6 jam.

Analgesia persalinan post-sesaria


Pengurangan nyeri postoperatif yang efektif pada wanita setelah seksio sesaria memberikan
berbagai manfaat seperti penurunan resiko penyakit tromboemboli, perawatan bayi yang
lebih baik pada periode peripartum dan fasilitasi menyusu yang efektif. Obat pilihan yang
digunakan harus berdasarkan pengetahuan dari pengaruh potensialnya pada menyusu dan
pada bayi yang ditransfer secara sekunder melalui susu manusia (tabel 7). Disarankan dosis
maternal sekecil mungkin dari analgesik yang akan digunakan. Menyusu sebaiknya dihindari
pada waktu konsentrasi obat puncak dalam susu dan bayi harus diawasi untuk efek obat yang
ditransfer melalui susu.
Morfin yang diberikan secara IM / IV / infus epidural terbukti aman pada periode
postoperatif. Hanya 6% dari dosis yang diberikan ditransfer dari susu ibu. Saat
bioavailabilitas oral pada bayi sekitar 25%, hanya sejumlah kecil yang mencapai bayi. Hanya
3% fentanil yang disekresi di susu ibu dan aman untuk periode postopertif. Norpetidin, yang
merupakan metabolit dari petidin, terakumulasi di susu ibu dengan penggunaan berulang dari
petidin. Bayi dari ibu yang terpapar dengan petidin PCA-IV didapati kurang waspada dan
berorientasi pada hari ke 3 dan ke 4 setelah seksio sesaria. Dengan demikian, petidin tidak
dianjurkan untuk penggunaan berulang pada periode postoperatif seksio sesaria. Analgesia
neuraksial menjadi sangta populer dengan peningkatan penggunaan anastesi regional untuk
seksio sesaria. Dosis tunggal 0.075 hingga 0.5 mg morfin intratekal pada waktu persalinan
sesaria memberikan analgesia yang baik hingga 24 jam. Pruritus tampak menjadi efek
samping pada pasien ini. Opioid yang sering digunakan intratekal kainnya antara lain petidin,
burenorfin, fentanil, dan nalbufin. Opioid epidural sendiri atau dengan kombinasi dengan
agen anastesi lokal sering digunakan untuk penurunan nyeri postoperatif dan menghasilkan
analgesia kualitas baik. Kateter epidural dapat ditinggalkan in situ selama periode
postoperatif untuj infus epidural berkelanjutan.
NSAID sendiri tidak cukup efektif mengobati nyeri post-seksio sedaria. Meskipun begitu,
inklusi pendekatan multimodal ini terhadap penurunan nyeri sangat sukses baik dalam
meningkatkan kualitas anastesi akibat opioidyang diberikan neuroaksial atau sistemik dan
menurunkan efek samping. Kerugian penggunaan NSAID berkaitan dengan efek samping
gastrointestinal dan disfungsi platelet. Dalam hal ini, penghambat COX-2 lebih baik.
Meskipun begitu penghambat COX-2 disekresi di susu dan terdapat sedikit pengalaman
dalam menggunakan obat ini di wanita yang menyusui.

Manajemen nyeri di usia lanjut


Kecanggihan dari teknik anastesi dan bedah berarti bahwa meningkatnya pasien usia lanjut
yang menjalani operasi mayor. Faktor yang dapat digabungkan untuk membuat kontrol yang
efektif dari nyeri akut pada orang lanjut usia lebih sulit termasuk insidens yang lebih tinggi
dari penyakit yang ada dan medikasi yang digunakan (yangmana meningkatkan resiko
interaksi obat-obat dan penyakit obat); perubahan berkaitan dengan usia dalam fisiologi,
farmakodinamik dan farmakokinetik; gangguan respons terhadap nyeri; dan kesulitan dengan
penilaian nyeri, termasuk permasalahan yang baerkaitan dengan kerusakan kognitif.
Kerusakan dalam farmakokinetik dan farmakodinamik dari obat menyebabkan terjadinya
penurunan dalam dosis bolus dan infus opioid; dan kebutuhan titrasi dan pemantauan yang
berkesinambungan agar pasien tidak overdosis. Akibat degenerasi neuronal sensoris dan
perubahan neurokimia yang berkaitan dengan usia, pasien lanjut usia memiliki ambang nyeri
yang lebih tinggi. Tapi, kemampuan mereka untuk mentoleransi nyeri yang hebat terbatas dan
perubahan fisiologis seperti hipertensi dan takikardia dapat mengganggu. Delirium adalah
bentuk umum dari kerusakan kognitif pada orang tua di periode postoperatif. Mereka
memerlukan lebih banyak waktu untuk memahami dan merespon pertnayaan mengenai nyeri.
Skala deskriptif verbal (VDS) tampak lebih berguna dibandingkan VAS atau NRS (skala nilai
numerikal) pada orang lanjut usia.
Lebih aman untuk menggunakan kombinasi teknik farmakologi dan nonfarmakologi pada
pemulihan nyeri di orang tua.
NSAID dan Parasetamol : Orang lanjut usia lebih menderita efek samping renal dan lamung
akibat pemberian NSAID. Gagal ginjal adalah perhatian utama karena mereka tampaknya
memiliki kerusakan ginjal sebelumnya. Penghambat COX-2 selektif menurunkan insidens
komplikasi gastrointestinal dan tidak mempunyai efek anti platelet. Meskipun begitu,
insidens efek samping renal serupa dengan NSAID nonselektif. Parasetamol terbukti aman
dan tidak memerlukan penurunan dosis pada orang tua.
Opioid : Pasien lanjut usia memerlukan opioid yang lebih sedikit daripada pasien yang muda.
Meskipun begitu, variabilitas yang besar masih ada dan dosis harus dititrasi ke efek pada
pasien. Kebutuhan morfin dan fentanil diturunkan dua hingga empat kali lipat. Eliminasi
waktu paruh opioid diperpanjang dan akumulasi cepat metabolisme seperti morfin-6-
glukoronida atau norpetidin dapat terjadu karena penurunan fungsi renal. Sedasi terjadi lebih
cepat dari depresi pernapasan. Dengan demikian, dosis harus dititrasi di bawah pengawasan
ketat. Insidens pruritus, mual dan muntah kurang pada pasien lansia. PCA merupakan metode
efektif dari analgesia postoperatif dengan toleransi pasien yang lebih baik, penurunan
kebingungan dan penurunan insidens komplikasi paru.
Anastesi lokal : Pasien tua lebih sensitif pada kerja agen anastesi lokal karena perlambatan
kecepatan konduksi neuron dan penurunan jumlah neuron. Durasi blok apidural dan
subarakhnoid diperpanjang. Saat anastesi lokal dan opioid digunakan di kombinasi untuk
teknik epidural yang berkesinambungan untuk perbaikan nyeri postoperatif, dosis berbasis
usia atau rasio infus seperti yag didiskusikan sebelumnya digunakan. Individu lanjut usia
rentan terhadap hipotensi selama analgesia neuraksial.