You are on page 1of 5

Dewasa ini, barangkali, pembangunan yang paling banyak dibicarakan orang.

Pembangunan dijadikan dasar berbagai kebijakan dan alasan bagi setiap kebijakan yang di keluarkan pemerintah. Hal ini dikarenakan adanya harapan untuk menjadikan bangasa ini lebih baik, dengan berbagai cara yang dilakukan mulai dari modernisasi,perubahan social dan masih banyak lagi yang kesemuanya itu mengarah kepada sebuah konsep keterbelakangan (kemiskinan).

Salah satu contoh konsep adalah modernisasi, dimana konsep ini mengedepankan tentang kemiskinan yang dilihat dari sebuah keadaan yang asli, keadaan ekonomi yang sudah ada. Dalam hal ini, untuk mencapai kemajuan, perlu dibentuk masyarakat yang modern. Konsep ini juga cenderung mengesampingkan potensi dan perkembangan awal yang sedang berproses dalam masyarakat.

Adapula pandangan yang mengatakan, kemiskinan dilihat dari kapasitas masyarakat yang tidak mampu mengumpulkan modal, dimana, ketergantungan ekonomi dapat pula menghasilkan kemiskinan. Kemiskinan dapat berasal dari karakteristik orang-orang miskin itu sendiri, artinya, ada semacam budaya kemiskinan.

Dalam hal ini, untuk kalangan liberal mengatakan, manusia adalah makhluk yang baik, namun dipengaruhi oleh lingkungan, maksudnya, ketika kondisi ekonomi diperbaiki dengan menghilangkan perbedaan antara miskin dan kaya, maka budaya-budaya kemiskinan akan ditinggalkan. Tetapi, ada pula yang memandang bahwa orang menjadi miskin karena dia kuasai oleh para pemegang kekuasaan. Dari berbagai pemikiran di atas menunjukkan, fenomenafenomena kemiskinan belum disentuh secara persepstif konfrehensif dan terkesan belum dilaksanakan secara terpadu.

Dalam mencermati persoalan ini, pendidikan dan proses pembelajaran, sangat penting dalam pemberantasan kemiskinan, pendidikan masyarakatlah yang terlebih dahulu mesti di perbaiki sehingga apabila masyarakat yang cerdas dan bermoral tidak lagi terpuruk dalam jurang kemiskinan yang dimana masyarakat sebagai obyek pembangunan haruslah cerdas. Tetapi kenyataan sekarang, pemberdayaan/pembelajaran dalam rangka pembangunan sumber daya, lebih dititikberatkan pada aspek intelektual. Sedangkan aspek sikap dan moral, sering terabaikan yang mengakibatkan bergesernya nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang ditandai dengan besarnya sifat individualistik manusia yaitu: ketidakadilan, ketidakjujuran, dsb.

Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain, bahwa dalam upaya tersebut perlu mengedepankan kualitas sumber daya yang lebih terfokus pada proses pendidikan yang sebenarnya, yaitu, menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Perencanaan pembangunan, haruslah menghayati benar apa yang menjadi hakekat kemiskinan melalui profil kemiskinan. Ini tidak terbatas pada pengadaan dan alokasi aset, pelayanan sosial, , peningkatan pendapatan, melakukan mobilisasi social..

Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama ini juga tidak lepas dari pendekatan modernisasi. Asumsi modernisasi sebagai jalan satu-satunya dalam pembangunan menyebabkan beberapa permasalahan baru yang hingga kini menjadi masalah krusial Bangsa Indonesia. Penelitian tentang modernisasi di Indonesia yang dilakukan oleh Sajogyo (1982) dan Dove (1988). Kedua hasil penelitian mengupas dampak modernisasi di beberapa wilayah Indonesia. Hasil penelitian keduanya menunjukkan dampak negatif modernisasi di daerah pedesaan.

Apabila kita perhatikan kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah bentuk kemiskinan struktural (buatan) karena sebenarnya secara alamiah Indonesia mempunyai potensi dan sumber daya yang cukup untuk tidak mengalami kemiskinan. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan akibat dari super struktur yang membuat sebagian anggota atau kelompok masyarakat tertentu mendominasi sarana ekonomi, sosial, politik dan budaya.benturan dua budaya yang berbeda dan adanya kecenderungan penghilangan kebudayaan lokal dengan nilai budaya baru. Budaya baru yang masuk bersama dengan modernisasi.

Tingginya tingkat kemiskinan yang terjadi di Negara kita bukan karena masyarakat kita terbelakang, trlebih karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahtraan masyarakat dan juga pendididkan yamg masih kurang dikalangan masyarakat menengah ke bawah. Tingginya tingkat pengangguran tidak di barengi dengan meningkatnya pembangunan sehingga tingkat kemiskinana semakin tinggi.

Pembangunan yang di laksanakan oleh pemerintah dalam hal untuk memberantas kemiskinan , bukan suatu ha yang mudah, modernisasi yang terjadi di dalam masyarakat merupakan salah bentuk bentuk kemajuan dalam bidang pembangunan, namunn di balik semua itu, modernisasi juga mengakibatka tingkat pengangguran semakin tinggi, di mana yang dulunya pekerjaan dapat di lakukan oleh beberapa orang karena adanya proses modernisasi, sehingga pekerjaan yang dulunya di lakukan oleh manusia di gantikan oleh mesin.

Tingginya tingkat kemiskinan di Negara kita merupakan salah satu permasalahan kesejahteraan sosial yang krusial. Pada dekade 1976-1996, persentase penduduk miskin pernah mengalami penurunan yaitu dari 40,1% menjadi 11,3%, namun pada periode 1996-1998 persentase mereka menjadi 24,29% atau 49,5 juta jiwa. Bahkan International Labour

Organization (ILO) memperkirakan jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 129,6 juta atau sekitar 66,3% (BPS, 1999). Pada tahun 2002, persentase kemiskinan telah mengalami penurunan, namun secara absolut jumlah mereka masih tergolong tinggi, yaitu 43% atau sekitar 15,6 juta (BPS dan Depsos 2002).

Dalam rangka penanganan kemiskinan, hampir semua kajian masalah kemiskinan masih berporos pada paradigma modernisasi (the modernisation paradigm) dan the product cantered model yang kajiannya didasari teori pertumbuhan ekonomi capital dan ekonomi neoclasic ortodox (Elson, 1977, Suharto, 2002). Hal ini tercermin dari tolak ukur yang digunakan untuk melihat garis kemiskinan pada beberapa pendekatan seperti Gross National Product (GNP), Human Development Index (HDI) dan Human Poverty Index (HPI), Social Accounting Matrix (SAM), Physical Quality of Life Index (PQLI).

Jika dicermati, pendekatan yang dipergunakan masih melihat kemiskinan sebagai individual poverty dan bukan structural and social Poverty. Sistem pengukuran serta indikator yang digunakan terpusat untuk meneliti kondisi atau keadaan kemiskinan berdasarkan variabel sosial-ekonomi yang dominan. Pendekatan dimaksud belum menjangkau variabel yang menunjukkan dinamika kemiskinan dan berporos pada outcomes sehingga kurang

memperhatikan aktor atau pelaku kemiskinan serta sebab-sebab yang mempengaruhinya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan, bahwa dalam mengatasi masalah kemiskinan diperlukan kajian yang komprehensif, yang dapat dijadikan acuan dalam merancang program pembangunan kesejahteraan sosial yang lebih menekankan pada konsep pertolongan. Pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan yang fokus utamanya membantu orang untuk dapat membantu dirinya sendiri. Dalam pertolongannya, pekerja sosial berpijak pada nilai,

pengetahuan dan keterampilan yang menekankan pada prinsip keberfungsian sosial (Siporin, 1975; Zastrow, 1982; 1989; Morales, 1989; Suharto, 1997). Konsep keberfungsian sosial pada intinya menunjuk pada kapabilitas (capabilituies) individu, keluarga atau masyarakat dalam peran-peran sosial di lingkungannya. Konsep ini mengkedepankan nilai bahwa klien adalah subjek pembangunan; klien memiliki kapabilitas dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pertolongan; klien memiliki dan atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi aset dan sumber yang ada disekitarnya.