Вы находитесь на странице: 1из 10

ASKEB Solusio Plasenta

ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN DENGAN SOLUSIO PLASENTA TERHADAP Ny. W DI RSUD BANGIL TAHUN 2011

Oleh : NOVITA ROHMAWATI NIM. 09002182

POLITEKNIK KESEHATAN MAJAPAHIT MOJOKERTO PROGRAM STUDI KEBIDANAN TAHUN 2011 LANDASAN TEORI Pengertian Solusio plasenta ialah pelepasan placenta sebelum waktunya dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusito plasenta dimulai

dengan terjadinya perdarahan dalam disidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplsenter. Hematoma dapat semakin membersar kearah pinggir plasenta sehingga jika amniok horion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaiknya apabila amniokhorion tidak terlepas. Perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi). Perdarahan keluar Perdarahan tersembunyi Keadaan umum penderita relatif lebih baik Keadaan penderita lebih jelak Plasenta terlepas sebagian atau inkomplit Plasenta terlepas luas, uterus keras/kejang Jarang berhubungan dengan hipertensi Sering berkaitan dengan hipertensi Merupakan 80% dari solusio placenta Hanya merupakan 20% dari solusio plasenta Sering disertai toxaemia Pelepasan biasanya komplit (Manuaba, 1999) Etiologi Sebab primer solusio plasenta belum jelas tapi diduga bahwa penyebabnya adalah : Hipertensi assentiaus atau pre eklamsi, dekompresi uterus mendadak Tali pusat yang pendek, anomali atau tumor uterus defisiensi gizi Trauma, merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior Uterus yang sangat mengecil (hydromnion gemeli) obstruksi vena kavo inferior dan vena ovarika Disamping itu juga ada pengaruh terhadap : Umur lanjut Multiparitas Defisiensi ac. Folicum Solusio plasenta dimulai dengan perdarahan dalam acidua basalis, terjadilah hematoma dalam acidua yang mengangkat lapisan-lapisan diatasnya. Hematoma ini makin lama makin besar, sehingga bagian plasenta yang terlepas dan tak berfaal. Akhirnya hematoma mencapai pinggir placenta dan mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim. (Mansjoer, 2001) Gejala-gejala Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his Anemia dan shock : beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois) Palpasi sukar karena rahim keras Fundus uteri makin lama makin naik Bunyi jantung biasanya tidak ada Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah) Sering ada proteinuria karena disertai toxemia Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang

dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Perdarahan dapat terhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin. Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik, disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro, 2005). Terapi Atasi syok Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dala 15 menit pertama dan 3 l dalam 2 jam pertama Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulatif Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan eksresi sistem urinaria, tetepai bila syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan oliguria (produkdi urin < 30 ml/jam) pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan dilakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan : Furosemida 40 mg dalam 1 liter krostoloid dengan 40-60 tetes/menit Bila belum berhasil gunakan manital 500 ml dan 40 tetes/menit Atasi hipofibrigonemia Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai fungsi pembekuan darah (penilaian tidak langsung kadar ambang fibrinogen)). Carananya sebagai berikut : Ambil darah vena 2 ml masukkan dalam tabung kemudian diobservasi Gangguan bagian tabung yang berisi darah Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapiran koagulasi dipermukaan, lakukan hal yang sama tiap menit Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit, maka diperkiran titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal (kritis) Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung dimiringkan, keadaan ini juga menunjukan kadar fibrinogen di bawah ambang normal. Bila darah segera tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kg BB) Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan kriopresipatat fibrinogen Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi desminato intravaskuler yang berlanjut yang berlanjut dengan pengedapan fibrin, pengendapan fibrin, pembendugan mikrosirkulasi di dalam, di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis hipofisis dan otak. Bila perdarahan masih berlangsung (koagulatif) dan trombosit di bawah 20.000 berikan konsetra trombosit. Hypofibrinogenemia : coagulopathi ialah kelainan pembekuan darah : dalam ilmu kebidanan paling sering disebabkan oleh solusio plasenta, tapi juga dijumpai pada emboli air ketuban, kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc. bila kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc terjadilah gangguan pembekuan darah. Terjadinya hipofibrinogenemia : Fase I : pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, vena terjadi pembekuan darah disebut disseminated intravaskuler clotting, akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Jadi pada fase I turunya kadar fibrinogen disebabkan karena

pemakaian zat tersebut. Maka fase I disebut juga coagulopatihi consumtif. Diduga bahwa hematom retroplacentair mengeluarkan thtomboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrocirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoxia, kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri, akibat gangguan mocrocirculsi ialah shock Fase II : fase regulasi reparatif ialah usaha badan untuk membuka kembali perdarahan. Darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolyse. Fibrinolyse yang berlebihan lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis Penentuan hypofibrinogenaemi Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot obsevation test. Beberapa CC darah dimasukkan dalam tabung reagens. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse (Winkjosastro, 2005). Patofisiologi Terjadinya solusio placenta dipicu oleh perdarahan ke dalam disidua basalis, yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada meometrium sehingga terbentuk hematoma disidual yang menyebabkan perlepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran placenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis disidua menyebabkan hematoma retroplacenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan placenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban (Mansjoer, 2001). Pengobatan Umum Pemberian darah yang cukup Pemberian O2 Pemberian antibiotica Pada shock yang berat diberi kortikasteroid dalam dosis tinggi Khusus Teraphy hypoibrinogenemi Subtitusi dengan human fibrinogen 10 gram atau darah segar Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200.000 s IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus Untuk merangsang diurese : mannit/mannitol Deurese yang baik lebih dari 30-40 cc/jam Obstetris Pimpinan persalinan pada solusio placenta bertujuan untuk mempercepat persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3-6 jam. Alasannya adalah : Bagian placenta yang terlepas meluas Perdarahan bertambah Hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah Tujuan ini dicapai dengan : Pemecahan ketuban : pada solusio placenta tidak bermaksud untuk menghentikan perdarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan dengan demikian mempercepat persalinan Pemberian infus pitocin ialah 5 c dalam 500 cc glucase 5% SC dilakukan : Kalau cerviks panjang dan tertutup Kalalu setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum pecah juga ada his Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tak dapat diatasi dengan usahausaha yang lazim. (Manuaba, 1999) Seksio Sesaria Seksio sesaria dilakukan apabila : Janin hidup dam pembekuan belum lengkap Janin hidup, gawat janin, tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera Janin mati pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat Persiapan untuk sesaria cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma meometrium tidak mengganggu kontraksi uterus Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang (koagulopatti) (Manuaba, 1999) Partus Pervaginam Partus pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembekuan lengkap, dan bagian terendah didasari panggul Janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm Pada kasus pertama, amniotomii (bila ketuban belum pecah), kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forceps (vakum) Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan

5 unit oksitosin dla dekstore 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus. Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan batu terjadi dalam 2-4 hari kemudian) (Manuaba, 1999) Manifestasi Klinis Anamnesis Perdarahan biasanya pada trimester ke III perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan pervaginam yang banyak, syok, dan kematian janin intrauterin. Pemeriksaan fisik Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok Pemeriksaan obstetri Nyeri tekanan uterus dan tegang, bagian-bagian janin sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai atau tidak ada air ketuban berwarna kemerahan karena bercampur darah. (Mansjoer, 2001) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium Hemoglobin Hematokrit Trombosit Waktu protrombin Waktu pembekuan Waktu tromboplastin Kadar fibrinogen Elektrolot plasma KTG untuk menilai kesejahteraan janin USG untuk menilai letak plasma, usia gestasi, dan keadaan janin. (Mansjoer, 2001) ASUHAN KEBIDANAN TERHADAP Ny. W DENGAN SOLUSIO PLASENTA DI BPS WAHYU NINGSIH TAHUN 2007 PENGUMPULAN DATA DASAR tanggal 21 Januari 2007 Jam 07.00 WIB Identitas Nama : W Nama suami : Tn. R Umur : 30 tahun umur : 38 tahun Suku : Jawa Suku : Lampung Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh Alamat : Jl. Kh. Hasim Asari Alamat : Jl. Kh. Hasim Asari No 5 Mataram Baru No 5 Mataram Baru Anamnesa

Alasan kunjungan saat ini Ibu mengatakan hamil anak ke-2 usia kehamilan 9 bulan dengan keluhan nyeri pada bagian perut, perut terasa sesak hanya karena tekanan dan kadang-kadang perutnya tegang. Riwayat kehamilan ini Riwayat mentruasi Menarche : 12 tahun HPHT : 11-05-2006 TP : 24-02-2007 Siklus : 28 hari Lamanya : 5-6 hari Sifat darah : encer bercampur lendir Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut Riwayat persalinan yang lalu No Tahun Tempat persalinan Usia kehamilan Jenis persalinan Penolong Penyulit kehamilan Jenis kelamin BB PB 1 1998 Rumah 9 bulan Spontan Dukun Tidak ada Perempuan 3500 gram 50 cm Riwayat kehamilan sekarang Ibu hamil yang ke-2 usia kehamilan 9 bulan Ibu mendapatkan imunisasi TT 2 x pada usia kehamilan 5 bulan dan 6 bulan Selama hamil ibu sering merasa perutnya nyeri, perut terasa sesak karena tertekan dan kadangkadang perutnya tegang Ibu periksa 5 x selama hamil di BPS. Wahyuningsih Riwayat Penyakit Riwayat kesehatan ibu Ibu tidak memiliki penyakit keturunan atau penyakit menular lainnya Riwayat kesehatan keluarga Dalam keluarga ibu dan suami tidak ada yang menderita penyakit menular atau keturunan serta tidak terdapat riwayat menular atau keturunan serta tidak terdapat riwayat keturunan anak kembar Riwayat perkawinan Menikah : 1 kali Usia saat menikah : 20 tahun Lama pernikahan : 10 tahun Pola kebiasaan Nutrisi Sebelum hamil : Makan 3 x sehari dengan menu nasi, lauk, sayur, dan buah-buahan ditambah susu, minum 7-8 gelas/hari Saat hamil : Makan 3 x sehari dengan menu gizi seimbang, nasi, lauk, sayur, dan buah-buahan ditambah susu dan makanan kecil, minum 7-8 gelas/hari Eliminasi Sebelum hamil : BAB 1 x setiap hari, BAK 5-6 setiap hari Saat hamil : BAB 1 x setiap hari, BAK 7-8 setiap hari Aktivitas Sebelum hamil : Ibu dapat melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya

Saat hamil : Ibu dapat melakukan aktivitas seperti biasa (seperti saat sebelum hamil) tidak pernah terasa lelah Istirahat dan tidur Sebelum hamil : 7-8 jam/hari, tidak mengalami kesulitan Saat hamil : 5-6 jam/hari, kadang-kadang makan terjaga karena ingin BAK Personal hygiene Sebelum hamil : mandi dan ganti pakaian 2 kali sehari hygiene terjaga Saat hamil : mandi dan ganti pakaian 2 x sehari hygiene terjaga Olah raga Ibu sering melakukan jalan-jalan pagi setelah hamil tidak pernah Sexsualitas Sebelum hamil : hubungan seksualitas dilakukan 2 x 1 minggu Saat hamil : hubungan seksualitas dilakukan 1 x seminggu Riwayat KB Ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi suntik depo progestin Data Psikologi Ibu merasa bahagia dengan kehamilannya dan berharap anaknya lahir dengan sehat dan selamat Data Sosial Rumah ibu permanen dan lingkungan sekitar baik Pemeriksaan Pemeriksaan fisik Keadaan umum : baik Tanda-tanda vital : TD : 110 /70 mmHg Nadi : 80 x/menit Suhu : 37 oC RR : 20 x/menit BB sebelum hamil : 53 kg BB saat hamil : 64 kg Kenaikan BB : 12 kg Tinggi badan : 160 Pemeriksaan kebidanan Inpeksi Rambut : hitam, bersih, tidak mudah dicabut Telinga : pendengaran baik, telinga ibu bersih, simetris kanan kiri Mata : simetris kanan-kiri, seklera putih, konjungtiva merah muda, refeks pupil baik fungsi penglihatan normal Hidung : septul masal simetris, tidak ada polips, fungsi penciuman normal Mulut : tidak terdapat stomatitis, dan caries dentis Leher : tidak terdapat pembersaran stomatitis, dan caries dentis Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan pembersaran vena jugularis Dada : payudara ibu bersih, simetris kanan-kiri, tidak ada kelainan putting susu menonjol, aerola hitam Perut : perut ibu membesar, terdapat strie gravidarum, tidak terdapa bekas operasi

Genetalita eksterna Tidak dilakukan pemeriksaan 3 kali ganti celana dalam perhari, tidak ada keputihan dan gatalgatal Ekstermitas Bawah : simetris kanan-kiri, reflek babinski negatif tidak terdapat oedema dan varises Atas : bentuk simetris kanan-kiri, normal, berfunsi baik, tidak terdapat kelainan Palpasi Leopold I : TFU 35 cm, pada bagian fundus teraba keras, bulat, dan melenting bila digoyangkan berarti kepala Leopold II : pada bagian kiri teraba keras, datar memanjang, berarti punggung Leopold III : teraba keras, bulat dan kurang melenting berarti kepala, susah digoyangkan, kepala sudah masuk PAP Leopold IV : kedua tangan pemeriksa sejajar Auskultasi : DJJ tidak terdengar (-) Perkusi : refleks pattela (+), refleks babonski (+) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium Haemoglobin : 11 gr% Protein urine : tidak dilakukan Reduksi urine : tidak dilakukan INTERPRESTASI DATA DASAR Diagnosa Ibu dengan GIIPIAo hamil 36 minggu, janin tunggal hidup, letak memanjang, intra uterin, posisi punggung kiri dengan presentasi kepala. Dasar : Ibu mengatakan hami ke-2 HPHT : 11-05-2006 TP : 24-02-2007 TFU : 35 cm TBJ : (35-11) x 155 = 3720 gram Palpasi : pada fundus teraba lunak, tidak melenting, yaitu bokong, bagian kiri ibu terab ada tahanan yang memanjang (PU-KI) sebelah kanan teraba bagian-bagian kecil yaitu ektermitas. Asukultasi : DJJ kadang tidak terdengar Masalah Gangguan rasa nyaman Dasar : Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang Ibu hamil 36 minggu Kebutuhan Pemenuhan cairan dan nutrisi Penyuluhan tentang senam hamil Ajarkan posisi yang benar pada ibu hamil Penyuluhan tentang presnatal breast care

Penyuluhan tentang tanda-tanda persalinan Penyuluhan tentang resiko yang terjadi pada persalinan IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL Potensial terjadi hipoksia pada bayi dan perdarahan pada ibu KEBUTUHAN TERHADAP INTERVENSI DAN KOLABORASI SEGERA Kolaborasi dengan dokter jika diperlukan PERENCANAAN ASUHAN Jelaskan keadaan ibu saat ini Anjurkan ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit Ajarkan pada ibu untuk mengatasi gangguan rasa nyaman Ajarkan pada ibu untuk senam hamil Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu Jelaskan tentang gizi ibu hamil Ajarkan cara minum Fe Jelaskan tanda-tanda persalinan Cara mengurangi rasa sakit Jelaskan pengaruh sering BAK adalah normal IMPLEMENTASI Menjelaskan pada ibu tentang keadaan kehamilannya saat ini, bahwa keadaan janinnya sehat, letak Puki presentasi kepala, dan anjurkan pada ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit. Dan beritahu ibu sekitar 1 minggu lagi ibu akan melahirkan. Bila dalam 1 minggu kedepan belum melahirkan, dianjurkan ibu untuk datang lagi. menganjurkan pada ibu untuk makan-makan yang bergizi antara lain, nasi, sayur, lauk (misal, tahu, tempe, ikan, telur, hati, daging) Menganjurkan pada ibu untuk lebih cenderung miring kiri, apabila ibu sedang tidur agar peredarahan ibu lancar Memberikan pada ibu tablet penambah darah (Fe) dan vitamin C agar diminum bersama-sama satu kali sehari Mengajarkan pada ibu tentang prental breast care Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan yaitu : sakit dan tegang pada perut dengan jarak 2-5 menit, bila untuk berjalan semakin sakit, kadang-kadang disertai pengeluaran lendir dan vagina berwarna merah muda. EVALUASI Ibu mengatakan sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan Ibu akan melakukan apa yang dianjurkan Ibu dapat mengulangi apa yang diajarkan ibu berjanji akan datang lagi untuk memeriksakan kehamilannya 1 minggu kemudian. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer, A., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga, Media Aeculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Manuaba, IBG., 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Arcan, Jakarta Winkjosastro, H., 2005, Ilmu Kandungan Edisi 2 Cetakan Ke-4, YBP-SP, Jakarta