You are on page 1of 24

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Di era globalisasi sekarang ini, banyak aktivitas yang tidak terlepas dari praktek kecurangan atau fraud. Kecurangan yang terjadi tidak mudah dihilangkan seperti membalikkan kedua telapak tangan. Banyak tindakan kecurangan yang masih terjadi dan masih sulit untuk diatasi serta ditekan keberadaannya. Kecurangan bisa saja terjadi dilakukan oleh perorangan, tetapi juga bisa dilakukan oleh sekelompok orang didalam organisasi yang bekerja sama dalam praktek kecurangan. Beberapa kecurangan kebanyakan terjadi di perusahaan-perusahaan yang memiliki struktur organisasi yang cukup kompleks, tetapi tidak menutup kemungkinan dalam perusahaan kecil pun yang baru berdiri indikasi terjadinya kecurangan atau fraud lebih besar terjadi. Dalam pemerintahan tindak kecurangan juga banyak terjadi seperti di pemerintahan pusat hingga pemerintahan daerah juga tidak luput dari praktek kecurangan. Kecurangan yang terjadi di instansi pemerintahan seringkali berkaitan dengan praktik korupsi dan kolusi diantara kelompok yang berkepentingan. Dalam prakteknya kecurangan yang terjadi khususnya di perusahaan biasanya disebabkan oleh sistem pengendalian perusahaan tidak mampu untuk menekan tindakan kecurangan yang dilakukan oleh pegawainya. Pegawai yang melakukan kecurangan biasanya mempunyai kekuasaan atau kesempatan untuk melakukan kecurangan yang merugikan perusahaan. Kecurangan tidak hanya terjadi pada jajaran pegawai tingkat bawah saja, tetapi untuk pegawai jajaran tingkat atas kecurangan bisa terjadi lebih besar. Perusahaan bidang perbankan pun menjadi lahan basah orang atau kelompok untuk melakukan kecurangan. Perbankan memberikan peluang yang cukup besar untuk berbuat curang. Beberapa tahun terakhir ini banyak kasus kecurangan yang terjadi di bidang perbankan, dari praktek korupsi, kolusi dan kecurangan lainnya. Beberapa kasus fraud yang terjadi di bidang

perbankkan terjadi akibat tindakan yang dilakukan oleh orang di dalam bank yang bersangkutan. Kasus terakhir yang menggemparkan dunia perbankan nasional di indonesia ialah kasus Malinda dee, seorang karyawan di salah satu bank di indonesia yang membobol rekening milik nasabahnya hingga meraup Rp. 17 M. Kepolisian menjerat Melinda Dee bernama asli Inong Melinda dalam kasus pembobolan dana nasabah citibank ini dengan pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang. Selain itu juga Melinda Dee diduga dengan sengaja melakukan kejahatannya dengan mengaburkan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer penarikan dana pada rekening nasabahnya dengan dibantu tersangka D ( Chempornet, 30 maret 2011 ). Pakar tindak pidana pencucian uang Yenti Ganarsih mengatakan, kasus-kasus kejahatan perbankan belakangan ini sudah termasuk dalam kategori kejahatan pencucian uang karena modusnya dengan menyebarkan dana yang berhasil digelapkan kepada beberapa pihak atau perusahaan lain. Yenti menyarankan agar pihak berwajib juga menggunakan UU Pencucian Uang untuk menyelesaikan berbagai kasus perbankan belakangan ini sehingga bisa melacak larinya dana yang digelapkan dari perbankan. Beberapa kasus kejahatan di perbankan hanya akan diselidiki menggunakan UU pidana perbankan atau UU korupsi jika pelaku adalah pejabat negara atau pimpinan perusahaan negara, namun para penerima dana sulit diungkap atau dipidanaka ( Arsip Berita, 14 mei 2011 ). Dari beberapa kasus yang telah terjadi di dunia perbankan di indonesia, membuktikan bahwa perbankan di indonesia masih rawan terhadap tindakan kecurangan atau fraud. Kasus fraud perbankan rata-rata disebabkan oleh tindakan kecurangan dari orang di dalam bank dimana tempat dia

bekerja. Kasus pembobolan dana nasabah yang terjadi berulang kali di Indonesia dinilai karena perbankan nasional tidak memiliki fraud database yang bisa menjadi bahan pembelajaran untuk menghindari kasus pembobolan dana masa lalu terjadi kembali di masa mendatang. Pengamat perbankan dari Strategic Indonesia Jos Luhukay mengatakan bank nasional saat ini memiliki informasi yang minim tentang kasus pembobolan dana yang pernah terjadi di Indonesia, karena belum adanya fraud database. Hanya dua sumber bagi bank untuk mempelajari kasus fraud yaitu media massa dan pengalaman dari bankir yang pernah menghadapi kasus pembobolan dana, ujar mantan Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia tersebut, hari ini ( ArsipBerita, 2 mei 2011 ). Tindakan yang diambil oleh bank indonesia sebagai regulator peraturan perbankan di indonesia ialah dengan menyiapkan pedoman untuk mengurangi tindakan kecurangan yang terjadi di dunia perbankan. Bank Indonesia akan segera menyusun pengaturan Pedoman Penyusunan Strategi AntiFraud yang harus diterapkan dalam sistem pengendalian internal bank untuk mencegah terjadinya kasus-kasus penyimpangan operasional di perbankan, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Muliaman D. Hadad ( ArsipBerita, 25 mei 2011 ). Pedoman anti fraud atau anti pembobolan yang sedang disiapkan oleh Bank Indonesia dalam menekan tindakan kecurangan serta mengurangi praktek tindak pidana kejahatan perbankan akan diwajibkan untuk diadopsi di perbankan indonesia. Pedoman anti fraud menjadi ukuran tentang kewajiban perbankan nasional untuk memenuhi standar keamanan operasional bank. Dari gambaran diatas peneliti tertarik untuk membahas tentang konsep pedoman anti fraud dan peranannya dalam mengurangi tindakan fraud di perbankan. Peneliti akan mengambil judul PERANAN PEDOMAN ANTI FRAUD DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECURANGAN PERBANKAN NASIONAL DI INDONESIA yang akan diteliti di salah satu bank nasional di kota malang Bank Mandiri Cabang Universitas Brawijaya.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas dalam latar belakang, maka permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah : a) Apakah pengertian dari pedoman anti fraud perbankan? b) Bagaimanakan peran pedoman anti fraud di perbankan nasional di indonesia ? c) Bagaimana penerapan pedoman anti fraud dalam menurunkan tingkat kecurangan perbankan nasional di indonesia indonesia ( studi kasus pada Bank Mandiri Cabang Universitas Brawijaya Malang ) ? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah : a. Mengetahui pengertian dari pedoman anti fraud perbankan b. Mengetahui bagaimana peran pedoman anti fraud di perbankan nasional di indonesia c. Mengetahui bagaimana penerapan pedoman anti fraud dalam menurunkan tingkat kecurangan perbankan nasional di indonesia ( studi kasus pada Bank Mandiri cabang Universitas Brawijaya Malang ) ? 1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang ingin disampaikan oleh peneliti dalam penelitian ini ialah : a. Peneliti 1. Memberikan manfaat ilmu pengetahuan tentang pedoman anti fraud dan bagaimana peran pedoman anti fraud dalam mengurangi tingkat kecurangan perbankan di indonesia 2. Memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana program studi S1 pada Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya Malang b. Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat lebih lanjut. untuk

menambah wawasan dan dapat dijadikan referensi atau bahan penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kecurangan Beberapa orang (pakar) mendefinisikan kecurangan dengan pendapat berbeda-beda. Albrecht, (2009) mengemukakan dalam bukunya Fraud examination menyatakan bahwa fraud is a generic term, and embraces all the multifarious means which human ingenuity can devise, which are resorted to by one individual, to get an advantage over another by false representations. No definite and invariable rule can be laid down as general proportion in defining fraud, as it includes surprise, trickery, cunning and unfair ways by which another is cheated. The only boundaries defining it are those which limit human knavery ( Albrecht, 2009 ).

Sedangkan definisi fraud menurut Black Law Dictionary ialah 1. A knowing misrepresentation of the truth or concealment of a material fact to induce another to act to his or her detriment; is usual a tort, but in some cases (esp. when the conduct is willful) it may be a crime, 2. A misrepresentation made recklessly without belief in its truth to induce another person to act, 3. A tort arising from knowing misrepresentation, concealment of material fact, or reckless misrepresentation made to induce another to act to his or her detriment. Yang diterjemahkan (tidak resmi), kecurangan adalah : 1. Kesengajaan atas salah pernyataan terhadap suatu kebenaran atau keadaan yang disembunyikan dari sebuah fakta material yang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan perbuatan atau tindakan yang merugikannya, biasanya merupakan kesalahan namun dalam beberapa kasus (khususnya dilakukan secara disengaja) memungkinkan merupakan suatu kejahatan; 2. penyajian yang salah/keliru (salah pernyataan) yang secara ceroboh/tanpa perhitungan dan tanpa dapat dipercaya kebenarannya berakibat dapat mempengaruhi atau menyebabkan orang lain bertindak atau berbuat; 3. Suatu kerugian yang timbul sebagai akibat diketahui keterangan atau penyajian yang salah (salah pernyataan), penyembunyian fakta material, atau penyajian yang ceroboh/tanpa perhitungan yang mempengaruhi orang lain untuk berbuat atau bertindak yang merugikannya. Dari beberapa pendapat di atas mengenai pengertian fraud ( kecurangan) mengemukakan tentang adanya aktivitas penipuan, cara yang tidak adil dan ketidakjujuran demi mendapatkan keuntungan lebih dari yang lain dengan cara-cara yang tidak etis yang menyebabkan kerugian untuk orang lain. Beberapa tindakan kecurangan yang dilakukan dapat disebabkan tindakan yang disengaja maupun tidak disengaja. Kecurangan yang dilakukan secara disengaja merupakan salah satu bentuk kejahatan.
2.2. Jenis-jenis Kecurangan

The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasis Pemeriksa Kecurangan Bersertifikat, merupakan organisasi professional bergerak di bidang pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di

Amerika Serikat dan mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan, mengklasifikasikan fraud (kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan dikenal dengan istilah Fraud Tree yaitu Sistem klasifikasi mengenai hal-hal yang ditimbulkan oleh kecurangan
1. Penyimpangan

atas

asset

(Asset

Misappropriation);

Asset

misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined value).
2. Pernyataan

palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement);

Fraudulent statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan (financial engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah window dressing.
3. Korupsi (Corruption). Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena

menyangkut kerja sama dengan pihak lain seperti suap dan korupsi, di mana hal ini merupakan jenis yang terbanyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya masih dipertanyakan. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisma). Termasuk didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion) ( Albrech, 2009 ).

2.3. Penyebab Orang Melakukan Kecurangan ( Triangle Fraud)

Siapa yang melakukan fraud atau kecurangan, ini yang selalu menjadi pertanyaan untuk orang yang menyelidiki tentang fenomena kecurangan dan gejalanya. Albrecht, (2009) menyatakan bahwa Pelaku fraud umumnya lebih berpendidikan, lebih beragama, dan sedikit dari mereka yang memiliki catatan kriminalitas. Mereka juga memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik. Sedangkan untuk perbandingan yang nomor dua, yaitu dengan pelajar, mereka hanya berbeda tipis. Dimana pelaku fraud cenderung lebih tidak jujur, lebih mandiri, lebih dewasa, lebih memiliki penyimpangan sosial, serta lebih empatik daripada pelajar/mahasiswa ( Albrecht, 2009 ). Alasan orang untuk melakukan sebuah kecurangan dipicu oleh beberapa alasan yang berbeda. Dalam buku Fraud Examination karangan Albrect mengemukakan bahwa ada tiga alasan utama mengapa orang-orang melakukan fraud, yaitu: (1) tekanan (2) kesempatan dan (3) suatu cara untuk merasionalisasi bahwa tindakan fraud diperbolehkan. Ketiga elemen itulah yang kita sebut dengan fraud triangle ( Albrecht, 2009 ). Elemen pertama orang melakukan kecurangan ialah saat dia berada dalam tekanan. Tekanan paling umum yang sering membuat orang melakukan sebuah kecurangan ialah tekanan finansial, dimana tekanan akan kebutuhan pribadi keuangan menjadi penyebab yang mendorong orang untuk berbuat curang. Tekanan yang lain berhubungan dengan pekerjaan, dimana pekerjaan seseorang menuntut dia secara sadar atau tidak untuk melakukan kecurangan. Faktor-faktor yang memicu timbulnya fraud yang berhubungan dengan tekanan pekerjaan, yaitu seperti tidak adanya penghargaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukannya, ketidakpuasan terhadap pekerjaan, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, sedang mencari-cari promosi kenaikan jabatan, serta kurangnya upah atau gaji yang diberikan ( Albrecht, 2009 ). Penyebab kedua orang dapat melakukan tindakan kecurangan ialah adanya kesempatan. Setidaknya ada enam faktor utama yang dapat meningkatkan kesempatan bagi individu-individu untuk dapat terlibat dalam tindakan fraud, yaitu: Kurangnya pengendalian yang mengitari untuk dapat

mencegah

atau

mendeteksi

adanya

perilaku

kecurangan/fraud;

Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja. ;Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud.; Kurangnya akses informasi. ;Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis. ;Kurangnya jejak audit ( Albrecht, 2009 ). Penyebab yang ketiga dalam fraud triagle ialah rasionalisasi. Rasionalisasi disini maksudnya adalah pelaku fraud meyakinkan diri mereka sendiri bahwa fraud tersebut diperbolehkan dengan berbagi argumentasi yang mereka berikan. Ada beberapa rasionalisasi yang biasanya digunakan oleh para fraudsters/pelaku fraud, yaitu: perusahaan meminjamkannya padaku; aku hanya meminjam-nanti akan kukemablikan lagi; tidak ada orang yang terluka; aku pantas mendapatkan lebih; ini untuk tujuan baik; kami akan memperbaiki pencatatan secepatnya setelah kesulitan ekonomi kami selesai; sesuatu harus dikorbankan, entah tiu integritasku atau reputasiku( Albrecht, 2009).

2.4. Kecurangan di Perusahaan Multinasional Skandal fraud yang terjadi sampai sekarang sudah tidak terhitung, dari yang tingkat kecil hingga skandal mega fraud yang menyebabkan perusahaan itu hancur. Beberapa skandal kecurangan yang terjadi di berbagai negara dan penyebab yang memicu kebangkrutan di perusahaan tersebut menurut Sunarsip ( kompas, 15/7/02 ), ada berbagai sebab yang memicu kebangkrutan berbagai perusahaan tersebut, sebagaimana diikhtisarkan dalam tabel berikut ini : Skandal Kejahatan Korporat di AS Nama Perusahaan Enron Corp Tyco Internasional Adelphia Communications Global Crossing Xerox Corporation Pemicu Permasalahan Manipulasi Pembukuan Penggelapan Pajak Penipuan Sekuritas Insider Trading, Penipuan Sekuritas Manipulasi Pembukuan

Worldcom Manipulasi Pembukuan Wald Disney Company Manipulasi Pembukuan ImClone System Inc Insider Trading Sumber: Gugus Irianto, Skandal Korporasi dan Akuntan 2 juli 2003 Dalam daftar skandal kejahatan kecurangan yang terjadi di berbagai perusahaan di atas sangat memprihatikan, khususnya skandal kecurangan yang terjadi pada Enron Corp di tahun 2001 yang menampar wajah profesi akuntan di dunia. Beberapa skandal kecurangan diatas pemicu permasalahannya ialah manipulasi pembukuan, penggelapan pajak dan insider trading. Dari data diatas rata-rata skandal kecurangan yang terjadi karena manipulasi pembukuan, dan ini yang berimbas pada profesi akuntan dan Arthur Andersen, salah satu dari The Big Five Public Accounting Firms, juga ikut terlilit dalam permasalahan ini ( Gugus Irianto, 2003 ). Beberapa kasus fraud atau kecurangan juga terjadi di indonesia, khususnya kasus manipulasi pembukuan dan manipulasi pasar. Perusahaanperusahaan di indonesia terkena sangsi yang dijatuhkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) baik itu perseorangan atau dalam bentuk lembaga berbadan hukum, beberapa diantaranya ialah 12 perusahan sekuritas , 1 rekan dari salah satu KAP besar di Indonesia (didenda sebesar Rp. 100 juta), salah satu manajemen perusahaan farmasi (didenda sebesar Rp. 500 juta), dan sekitar 15 individu dan 1 PT (secara keseluruhan didenda lebih dari Rp. 3 milyar) . Total denda keuangan secara keseluruhan mencapai lebih dari Rp. 4,4 milyar. Berikut ini data tentang perusahaan yang tersandung masalah :

Nama Perusahaan Jasabanda Sekuritas dan Ficor Sekuritas Indonesia BNI Securities

Jumlah Denda 500 juta*) 150 Juta*)

Kuo Capital Raharja, Megakarya Securities dan Intra Asia 100 Juta*) Securities

Arab Malaysia Securities, Samuel Sekurities, dan Intra Asia 75 Juta*) Securities, Global Inter Capital, Jalur Wahana, dan Panin Securities Sumber: Gugus Irianto, Skandal Korporasi dan Akuntan 2 juli 2003 2.5. Kasus Perbankan Nasional Kasus kecurangan perbankan yang terjadi di indonesia bulan september 2010 yang dikemukakan oleh Bank Indonesia menyatakan bahwa hampir 70% bank perkreditan rakyat yang tutup selama ini karena terjadi kasus kecurangan perbankan atau fraud. Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI) Edy Setiadi menyatakan sebagian besar bank perkreditan rakyat (BPR) yang berstatus pengawasan khusus disebabkan karena terjadi pembobolan dana oleh manajemen atau pemilik bank mikro itu ( kompas, 13 mei 2011 ). Skandal kecurangan lain yang terjadi di dunia perbankan seperti yang dikutip dari okezone 8 juni 2011 ialah tentang Bank Indonesia (BI) yang mengatakan fraud (kekacauan) di perbankan khusus kartu kredit mencapai 2.741 kasus dengan nilai kerugian mencapai Rp11,78 miliar dari Januari sampai April 2011. BI mengatakan fraud ini terjadi karena pencurian identitas. Bank sentral mencatat fraud dari pencurian identitas tercatat sebanyak 1.204 kasus dengan kerugian Rp5,963 miliar. Sedangkan terbanyak kedua adalah fraud kartu kredit terjadi akibat adanya pemalsuan kartu yang mencapai 545 kasus dengan kerugian Rp 2,530miliar. Sedangkan untuk fraud kartu ATM (debet), BI memaparkan terdapat 3.246 kasus dengan kerugian sebanyak Rp 294 juta. Paling banyak kasus fraud kartu ATM (debet} karena hilang dan atau dicuri dimana mencapai 3.005 kasus dengan kerugian Rp62 juta ( Okezone, 8 juni 2011 ). Beberapa kasus kecurangan dalam bidang perbankan yang telah terekam dan di publikasikan di harian kompas. Berikut ini adalah sembilan kasus perbankan pada kuartal pertama yang dihimpun oleh Strategic Indonesia melalui Badan Reserse Kriminal Mabes Polri:

1. Pembobolan Kantor Kas Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tamini Square. Melibatkan supervisor kantor kas tersebut dibantu empat tersangka dari luar bank. Modusnya, membuka rekening atas nama tersangka di luar bank. Uang ditransfer ke rekening tersebut sebesar 6 juta dollar AS. Kemudian uang ditukar dengan dollar hitam (dollar AS palsu berwarna hitam) menjadi 60 juta dollar AS. 2. Pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada Bank Internasional Indonesia (BII) pada 31 Januari 2011. Melibatkan account officer BII Cabang Pangeran Jayakarta. Total kerugian Rp 3,6 miliar. 3. Pencairan deposito dan melarikan pembobolan tabungan nasabah Bank Mandiri. Melibatkan lima tersangka, salah satunya customer service bank tersebut. Modusnya memalsukan tanda tangan di slip penarikan, kemudian ditransfer ke rekening tersangka. Kasus yang dilaporkan 1 Februari 2011, dengan nilai kerugian Rp 18 miliar. 4. Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Margonda Depok. Tersangka seorang wakil pimpinan BNI cabang tersebut. Modusnya, tersangka mengirim berita teleks palsu berisi perintah memindahkan slip surat keputusan kredit dengan membuka rekening peminjaman modal kerja. 5. Pencairan deposito Rp 6 miliar milik nasabah oleh pengurus BPR tanpa sepengetahuan pemiliknya di BPR Pundi Artha Sejahtera, Bekasi, Jawa Barat. Pada saat jatuh tempo deposito itu tidak ada dana. Kasus ini melibatkan Direktur Utama BPR, dua komisaris, komisaris utama, dan seorang pelaku dari luar bank. 6. Pada 9 Maret terjadi pada Bank Danamon. Modusnya head teller Bank Danamon Cabang Menara Bank Danamon menarik uang kas nasabah berulang-ulang sebesar Rp 1,9 miliar dan 110.000 dollar AS. 7. Penggelapan dana nasabah yang dilakukan Kepala Operasi Panin Bank Cabang Metro Sunter dengan mengalirkan dana ke rekening pribadi. Kerugian bank Rp 2,5 miliar. 8. Pembobolan uang nasabah prioritas Citibank Landmark senilai Rp 16,63 miliar yang dilakukan senior relationship manager (RM) bank tersebut. Inong Malinda Dee, selaku RM, menarik dana nasabah tanpa

sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang sudah ditandatangani nasabah. 9. Konspirasi kecurangan investasi/deposito senilai Rp 111 miliar untuk kepentingan pribadi Kepala Cabang Bank Mega Jababeka dan Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk ( Kompas, 3 mei 2011 ).

2.6. Pedoman Anti Fraud Indonesia Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Muliaman D. Hadad menyatakan di bahwa pedoman antifraud tersebut harus mencakup empat tahapan yaitu tahap preventif yang mencakup penguatan governance, pengawasan aktif dari manajemen, dan penerapan prinsip know your employee, tahap deteksi termasuk whistleblowing system, fraud data, dan pelaporannya. Kemudian tahap ketiga adalah investigasi yang meliputi standar investigasi, evaluasi kelemahan sistem, dan pengenaan sanksi, dan empat tahap monitoring yang meliputi evaluasi mengenai asesmen dan appetite risiko fraud yang terjadi di bank. Selain itu, lanjutnya, dengan semakin terintegrasinya sistem keuangan yang memungkinkan terjadinya penyimpangan yang melibatkan bank dan lembaga keuangan nonbank, Bank Indonesia akan meningkatkan koordinasi dan menyelenggarakan pemeriksaan bersama dengan otoritas pengawas lembaga keuangan nonbank dan lembaga penjamin simpanan. Dalam kesempatan itu, BI juga meminta agar perbankan melakukan penguatan pengendalian internal Bank, dengan memperkuat seluruh lapis pengawasan yang ada untuk mencegah, mendeteksi, dan meminimalkan peluang atau kesempatan terjadinya risiko dari kegiatan operasional, termasuk diantaranya menyempurnakan prosedur standar operasional (SOP) ( ArsipBerita, 25 mei 2011 ). Bank Indonesia (BI) mengatakan maraknya kasus pembobolan dan fraud di perbankan belakang ini terjadi karena kelalaian pihak perbankan dalam hal-hal klasik dan sederhana. BI mengatakan semua kecolongan di permasalahan dasar ini. "Modusnya klasik, sederhana, basic classic malah,

itu berarti lebih banyak karena semua kecolongan pada permasalahan yang basic dalam internal kontrolnya, hal yang basic, akuntan publiknya tidak mampu menangkap hal-hal yang basic dan pengawasan kita tidak menangkap ada hal yang aneh padahal ini basic," ungkap Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta. Kemudian menanggapi pelanggaran dari PT Bank Mega Tbk (MEGA), Darmin mengatakan juga disini ada pelanggaran yang bersifat dasar seperti kepala cabang Bank Mega yang juga ikut terlibat dalam pembobolan dana PT Elnusa Tbk (ELSA) ( Okezone, 1 juni 2011 ).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Metode Penelitian yang Digunakan Dalam menyusun skripsi ini, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Menurut Moh. Nazir, Phd (2003;54-55), metode deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Secara harfiah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.. Adapun teknik pengumpulan data serta informasi yang dilakukan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data yang bersifat teoritis dari literatur, catatan-catatan kuliah, bahan tulisan lainnya yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti sehingga dapat dijadikan data sekunder. Tujuan dari penelitian kepustakaan ini adalah untuk mendapatkan landasan teori dan berbagai pengertian mengenai masalah yang diteliti.
2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu suatu metode penelitian yang digunakan dengan cara melakukan penelitian secara langsung terhadap masalah yang akan dibahas yang merupakan objek penelitian untuk mendapatkan data-data dan informasi yang diperlukan. Data dikumpulkan dengan cara mempelajari data tertulis, wawancara dengan pejabat yang berwenang, memberikan kuesioner dan meneliti praktik serta prosedur pelaksanaan secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Albrech, W. Steve, Conan C. Albrech ext. 2009. Fraud Examination . Canada : SouthWestern, a part of Cengage Learning Moh. Nazir, Ph.D. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia

Ganarsih, Yenti. Diunduh dari KCM (kompas Cyber Media ) www.kompas.com 20 juni 2011. Tanggal upload 14 mei 2011 Irianto SE. MSA. Ph.D. Ak. , Gugus. 2003. Skandal Korporasi dan Akuntan. Malang : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Luhukay, Jos . Mantan Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia. Diunduh dari www.ArsipBerita.com 20 juni 2011. Tanggal upload 25 mei 211 D. Hadad, Muliaman. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). BI Susun Pedoman Anti Fraud. diunduh dari www.arsipberita.com senin 19 juni 2011. Tanggal upload 25 mei 2011 Rusadi Putra, Idris. Kuartal 1, Fraud Kartu Kredit capai 2.741 Kasus. Diunduh dari www.okezone.com senin 19 juni 2011, tanggal upload 8 juni 2011
Strategic Indonesia melalui Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Kejahatan Perbankan. Diunduh dari Inilah 9 Kasus

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/-

2011/05/03/09441743/Inilah.9.Kasus.Kejahatan.Perbankan tanggal 19 juni 2011. Diupload tanggal 3 mei 2011 http://chempornet.com/malinda-dee-si-seksi-melinda-dee-pembobol-citibank/ diunduh tanggal 19 juni 2011. Tanggal upload 30 maret 2011
Nasution, Darmin. Gubernur Bank Indonesia. Fraud & Pembobolan Bank Cuma GaraGara Hal Mendasar. Diunduh dari www.kompas.com tanggal 19 juni 2011. Tanggal upload 23 mei 2011 Setiadi, Edy. Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia. Hampir 70% BPR tutup karena fraud. diunduh di arsipberita.com tanggal 19 juni 2011. Tanggal upload 13 mei 2011

PERANAN PEDOMAN ANTI FRAUD DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECURANGAN PERBANKAN NASIONAL DI INDONESIA STUDI KASUS BANK MANDIRI CABANG UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Disusun untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Forensic Accounting and Fraud Examination

Dosen : GUGUS IRIANTO, SE. MSA. Ph.D. Ak.

Oleh

Benni P. Wijaya 0810230050

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang 2011 2. Akuntan dapat memiliki peran sentral dalam upaya pencegahan (prevention), pendeteksian (detection), dan investigasi (investigation) fraud. Setujukah anda dengan pernyataan tersebut? Jelaskan (catatan: kaitkan jawaban Sdr. dengan profesi akuntan yang mana yang relevan untuk memiliki peran masing-masing)? Setuju, karena Akuntan memang memiliki peran yang sangat penting dalam perusahaan dalam pencegahan, pendeteksian dan investigasi fraud atau kecurangan yang terjadi di perusahaan atau. Pencegahan kecurangan memang tidak mudah, dalam buku albrech menjelaskan bahwa pencegahan kecurangan di suatu lingkungan organisasi diawali dengan menciptakan budaya yang jujur, terbuka dan saling membantu di dalam organisasi. Jika setiap pegawai di dalam perusahaan dapat mendukung terciptanya lingkungan yang jujur dan terbuka, maka kecurangan mungkin tidak akan pernah terjadi. Sedangkan untuk peran akuntan dalam pencegahan ( prevention) ialah akuntan dapat menciptakan suatu sistem internal kontrol yang baik dalam perusahaan, akuntan menciptakan pengendalian di setiap sistem operasional di perusahaan, seperti pembuatan struktur organisasi, SOP dan kebijakan serta pembuatan sistem pengendalian berbasis komputer atau sofware. Semakin kuat sistem pengendalian yang dibuat oleh akuntan, maka kesempatan untuk melakukan kecurangan atau fraud akan semakin kecil.

Ketika sistem tidak mampu untuk mencegah tindakan kecurangan, maka tindakan kecurangan akan terjadi di dalam organisasi atau perusahaan. Inilah peran akuntan yang kedua untuk mendeteksi (detection) kejadian atau hal-hal gejala terjadiinya kecurangan di dalam perusahaan. Albrech dalam bukunya fraud examination menyatakan bahwa gejala kecurangan dibagi menjadi 6 grup, antara lain : (1) anomali akuntansi, (2) kelemahan pengendalian internal, (3) anomali analitik, (4) gaya hidup mewah, (5) kebiasaan yang berbeda dan (6) adanya tips. Peran akuntan dalam mendeteksi gejala kecurangan dapat dilakukan dalam mendeteksi terjadinya anomali akuntansi di dalam pencatatan transaksi untuk laporan keuangan. Akuntan dapat mendeteksi dari pencatatan akuntansi, psoting hingga pembuatan laporan keuangan apakah sudah dibuat sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Akuntan dapat membantu juga untuk menemukan kelemahankelemahan pengendalian internal di perusahaan dan memberikan rekomendasi untuk membuat perbaikan pengendalian. Peran penting akuntan selanjutnya ialah bagaimana seorang akuntan dapat menginvestigasi kecurangan yang terjadi, mencari penyebabnya, dalang dibalik kecurangan, dan dampak yang ditimbulkan dari kecurangan yang telah terjadi. Akuntan sangat diperlukan untuk menginvestigasi dan menemukan letak kecurangan yang ada. Kecurangan bisa dilakukan dalam penyusunan laporan keuangan, dalam organisasi seperti korupsi dan kolusi. Akuntan yang bertugas dalam menginvestigasi biasanya ialah akuntan internal perusahaan atau disebut juga sebagai auditor internal.

3. Berbagai upaya dapat dilakukan oleh manajemen suatu organisasi dalam menghadapi tindakan kecurangan keuangan (fraud). Jelaskan pendekatanpendekatan yang dapat dipilih oleh manajemen dalam menghadapi kecurangan? Pendekatan yang dapat dipilih manajemen dalam menghadapi tindakan kecurangan keuangan ialah dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara lain :

a. Pendekatan Preventif Fraud Perusahaan dapat menghadapi kecurangan dengan pendekatan preventif atau pencegahan sebelum kecurangan itu terjadi. Pendekatan ini memfokuskan bagaimana kondisi di dalam perusahaan tidak memungkinkan terjadinya tindak kecurangan. Seperti menanamkan budaya kejujuran dan etika yang baik untuk seluruh jajaran karyawan dan manajer agar setiap sumber daya manusia di dalam perusahaan memiliki integritas yang tinggi kepada perusahaan. Hal ini bisa dilakukan perusahaan dengan menaikkan pangkat pegawai yang jujur serta dengan mengikutkan karyawannya dalam training fraud. Kedua perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif dimana setiap pekerja mempunyai etos kerja yang tinggi dan berperilaku baik. Ketiga perusahaan dapat mengeliminasi kesempatan untuk berbuat kecurangan di dalam lingkungan organisasi. Perusahaan yang baik harusnya memiliki sistem pengendalian yang kuat, semakin kuat sistem pengendalian di perusahaan maka pencegahan terhadap tindak kecurangan akan semakin besar pula. Perusahaan dapat terus memonitor kegiatan operasionalnya. b. Pendekatan Deteksi Kecurangan Mendeteksi indikasi terjadinya kecurangan memang tidak mudah, tetapi mendeteksi kecurangan dapat dilakukan dengan mengenali gejala-gejala tindakan kecurangan dan dari data pendeteksian kecurangan. Mendeteksi kecurangan dengan meneliti gejala-gejala kecurangan yang terjadi di dalam perusahaan. Perusahaan dapat mendeteksi gejala kecurangan yang dibagi menjadi enam grup, antara lain : (1)anomali akuntansi, (2)kelemahan pengendalian internal, (3)anomali analitik, (4)gaya hidup mewah, (5)kebiasaan yang tidak seperti biasa, dan (6)adanya uang tip. Beberapa bentuk pendeteksian kecurangan dapat difokuskan kedalam enam grup diatas. Untuk anomali akuntansi, pendeteksian dapat dilakukan pada pencatatan dan hasil dari proses dalam prosedur sistem akuntansi perusahaan. Kelemahan pengendalian internal di perusahaan

menunjukkan adanya peluang indikasi terjadinya kecurangan, contohnya seperti pengendalian yang lemah pada sistem pembelian maka perusahaan dapat memfokuskan deteksi di sistem pembelian. Anomali analitikal ialah mendeteksi kesesuaian hubungan dalam data finansial atau nonfinansial yang tidak wajar, seperti perusbahan volume, harga dan lain-lain. Gaya hidup mewah merupakan faktor bawaan seseorang dapat melakukan kecurangan, perusahaan dapat melakukan pendeteksian terhadap karyawan perusahaan yang memiliki gaya hidup yang mewah. Perubahan kebiasaan merupakan salah satu hal yang mengindikasikan terjadinya kecurangan, perusahaan dapat mencek karyawan yang terjadi perubahan pola perilaku yang mungkin saja melakukan sebuah kecurangan. Terakhir adanya tip-tip atau hadiah yang diberikan mungkin saja sebagai uang tutup mulut untuk menutupi kecurangan. c. Pendekatan Investigasi Pendektan investigasi yang bisa dilakukan perusahaan ialah dengan beberapa tahapan melalui penyelidikan aksi pencurian, penyelidikan aksi penyembunyian , dan penyelidikan aksi konversi hasil dari pencurian serta membuat laporan terjadinya kecurangan. Pendekatan investigasi ini dilakukan perusahaan dengan menyelidiki proses dari pembuatan laporan keuangan hingga setiap akun dalam laporan apakah menunjukkan nilai yang wajar. Penyelidikan oleh perusahaan dilakukan dengan menganalisis bagaimana cara pegawai melakukan kecurangan,selanjutnya bagaimana pegawai menyembunyikan harta yang didapat dari tindakan kecurangan, serta menyelidiki bagaimana cara pegawai merubah atau mengkonversi harta pencurian menjadi aktiva lain.

4. Bagaimana relevansi matakuliah ini (a) dalam konteks perusahaan swasta dan instansi publik di Indonesia, dan (b) terkait dengan pasar kerja di masa yang akan datang?

Mata kuliah forensic accounting and fraud examination mengajarkan mahasiswa tentang kejujuran dan untuk meraih prestasi dengan kerja keras sendiri. Relevansi yang bisa diambil dalam : a. Konteks perusahaan swasta dan instansi publik Forensic accounting and fraud examination, ialah salah satu mata kuliah yang sekarang ditempuh di jurusan akuntansi. Dalam mata kuliah ini diajarkan tentang bagaimana untuk mencegah, mendeteksi dan menginvestigasi terjadinya kecurangan di dalam organisasi atau perusahaan. Perkuliahan mata kulian ini memberikan materi tentang bagaimana untuk menekan terjadinya kecurangan yang terjadi dalam diri sendiri, orang lain serta di dalam perusahaan. Studi kasus sering dibahas dalam perkuliahan, dan ini memberikan gambaran bagaimana kasus-kasus kecurangan terjadi di perusahaan baik di indonesia maupun di tingkat internasional. Pelajaran inilah yang memberikan kemampuan dan pengalaman bagi mahasiswa untuk dapat terjun langsung di lapangan serta diharapkan dapat membantu perusahaan menekan terjadinya praktek kecurangan di perusahaan swasta maupun instansi publik. Harapan yang besar bagi mahasiswa untuk dapat bekerja secara profesional dan memiliki etika yang baik untuk tidak malakukan kecurangan yang merugikan orang lain dan perusahaan. b. Terkait dengan pasar kerja di masa depan Dalam perkembangannya dengan pasar kerja di masa depan, mata kuliah forensic accounting and fraud examination memberikan pengaruh yang cukup besar. Pasar kerja membutuhkan seorang karyawan dan pegawai yang memiliki kapabilitas serta integritas yang besar dalam menjalankan pekerjaannya. Perkembangannya pasar kerja menginginkan seorang karyawan yang memiliki loyalitas yang kuat terhadap perusahaan dan mampu bekerja dengan jujur. Seseorang yang memiliki kemampuan yang besar dalam bekerja, dan memiliki intergritas loyalitas yang besar pula memberikan keuntungan untuk perusahaan.

5. Bagaimana menanamkan kejujuran dan rasa malu untuk mahasiswa sebagai bagian dari fraud awareness training. Gunakan imajinasi terbaikmu untuk menjawab pertanyaan ini. Menanamkan rasa kejujuran memang tidak mudah, menanamkan kejujuran harus dimulai dari sekarang dan dari diri pribadi orang tersebut. Kejujuran tidak bisa dibangun hanya dengan lewat ceramah, penataran atau indoktinasi kepada masing-masing individu, melainkan kejujuran itu bisa dibangun lewat pemberian kepercayaan itu sendiri dan saling mempercayai diantara satu orang dengan orang lain. Beberapa cara agar orang menjadi jujur ialah dengan peraturan. Namun lagi-lagi peraturan seperti apapun, jika seseorang mau menyimpang atau melakukan hal yang tidak jujur, maka bisa saja dicari strategi penyimpangan itu. Menanamkan kejujuran harus dengan pendekatan ketauladanan, menumbuhkan rasa malu tatkala disebut tidak jujur, pemberian penghargaan, dan juga dengan hukuman. Seseorang akan jujur manakala yang bersangkutan tahu bahwa semua orang dalam lingkungannya telah berbuat jujur. Seseorang biasanya tidak mau berbuat salah sendirian, karena akan malu kalau dianggap berperilaku berbeda. Dan juga sebaliknya seseorang tidak akan mau berbuat jujur sendiri, sementara lainnya tidak jujur. Kejujuran didukung juga oleh lingkungan, dimana lingkungan yang selalu mengakui adanya kejujuran dari pribadi orang tersebut. Untuk itu membangun kejujuran harus dengan pendektan positif dengan memberikan citra positif kepada seseorang dan sebaliknya sedikit demi sedikit mengurangi cara-cara negatif seperti memberi pengawasan yang terlalu berlebihan. Menanamkan kejujuran dan rasa malu untuk mahasiswa juga harus dimulai dari lingkungan mahasiswa itu berada serta orang-orang disekitarnya. Lingkungan dan orang-orang disekitarnya yang selalu memberikan dukungan positif agar menciptakan budaya yang jujur. Kejujuran yang ditanamkaan untuk mahasiswa bisa diterapkan melalui pemberian penghargaan terhadap kejujuran dan hukuman jika melakukan kecurangan. Hukuman yang diberikan terhadap mahasiswa yang melakukan kecurangan harus memberikan efek jera sehingga mahasiswa harus berpikir jutaan kali untuk

melakukan kecurangan. Seperti hukuman tidak akan diluluskan dalam mata kuliah yang dilakukan kecurangan, hingga pemberian sangsi tegas dikeluarkan dari universitas tempat perkuliahan. Seharusnya menanamkan kejujuran dan rasa malu untuk mahasiswa tidak hanya sebatas memberikan tekanan dari peraturan yang ada, tetapi menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya kesadaran hingga mahasiswa sendiri yang malu saat dirinya melakukan tindakan kecurangan. *HANYA USAHA DAN DOA YANG BISA UNTUK MEWUJUDKAN SEBUAH HARAPAN*