You are on page 1of 11

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Penyusun memilih teh untuk dijadikan bahan makalah ini.

Dilatarbelakangi dengan keinginan penyusun untuk lebih mendalami, bukan saja hanya mengetahui. Karena di sekeliling kita telah banyak teh akan tetapi kita tidak mengetahui kegunaan itu sendiri. Makalah ini berisikan hal-hal mengenai teh beserta proses fotosintesisnya. 1.2 Perumusan Masalah Dalam penyusunannya, makalah ini dibatasi dengan pertanyaan : 1. Bagaimana proses fotosintesis yang terjadi di daun teh. 1.3 Metode Penulisan Metode penyusunan makalah ini dengan dilakukan pengumpulanpengumpulan data mengenai teh dan apa yang dipermasalahkan. 1.4 Tujuan Penulisan Makalah ini disusun bertujuan: 1. Untuk mengetahui proses fotosintesis yang terjadi di daun teh. 1.5 Sistematika Penulisan KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Metode Penulisan 1.4 Tujuan Penulisan 1.5 Sistematika Penulisan BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Pembentukan Minyak Bumi 2.2 Komponen Minyak Bumi BAB III : PENUTUP Kesimpulan Saran

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pembentukan Minyak Bumi Berdasarkan teori, minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan jasad renik (mikroorganisme) yang terkubur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dimana dua ratus juta yang lalu bumi lebih panas dibandingkan sekarang. Laut yang didiami jasad renik berkulit keras sangat banyak jumlahnya jika jasad renik itu mati, kemudian membusuk sehingga jumlahnya makin lama makin menumpuk, kemudian tertutup oleh sedimen, endapan dari sungai, atau batuan-batuan yang berasal dari pergeseran bumi. Di sini kemudian terjadi pembusukan oleh bakteri anaerob, dan akibat pada tekanan tinggi sedimen, maka setelah berjuta-juta tahun terbentuklah minyak bumi dan gas alam tersebut. Minyak bumi yang terbentuk kemungkinan sekali terkumpul dalam poripori batuan sedimen laut, kemudian minyak bumi itu naik ke atas melalui batuan sedimen. Akhirnya sampai pada bagian dasar sedimen yang tidak dapat ditembus dan membentuk akumulasi minyak bumi dalam suatu perangkap yang bisa disebut dengan oil trap. Gas alam kemungkinan sekali terdapat di atas lapisan minyak, sedangkan air dibawah lapisan minyak. Karena proses pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang lama, maka minyak bumi digunakan pada sumber daya alam yag tidak dapat diperbaharui ( anrenewable ) 2.2 Komponen Minyak Bumi Apakah Minyak Bumi itu ? Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering menggunakan sumber energi sebagai bahan bakar di antaranya: batu bara, bensin, minyak tanah, minyak diesel, solar LPG, lilin dsb. Bahan-bahan tersebut diperoleh dari minyak bumi. Komponen-komponen apa sajakah yang terkandung dalam minyak bumi ? Di dalam minyak bumi terdapat campuran yang kompleks dari berbagai macam hidrokarbon terutama alkana mulai dari yang paling sederhana seperti :

metana ( CH4 ), etana ( C2H6 ), propane ( C3H8 ) dan butana ( C4H10) sampai dengan alkana yang berantai panjang lurus atau bercabang Senyawa alkana yang paling banyak ditemukan dalam minyak bumi adalah normal Oktana dan isooktana ( 2,2,4- trimetil pentana ) CH3 CH3 (CH2)6 CH3 H

CH3 C CH2 - C CH3 CH3 CH3

n-oktnan

( isooktana) 2,2,4 - trimetil pentana

Komponen lain yang terdapat pula di dalam minyak bumi adalah: a. Hidrokarbon aromatis Diantaranya adalah etil benzena O b. Sikloalkana Sikloalkana yang ditemukan dalam minyak bumi adalah siklopentana dan sikloheksana. Misalnya dalam senyawa metil siklopentana dan etil sikloheksana. dan etil sikloheksana dengan rumus Struktur: CH2 H2C H2C C CH2 metil siklopentana c. Senyawa anorganik Senyawa anorganik yang sering terdapat bersama-sama alkan didalam minyak bumi diantaranya : - belerang : 0,01-0,7 % CH CH3 CH2 H2C H2C C H2 etil sikloheksana CH CH2 CH3 CH2 - CH2 CH3 Atau - CH2 CH3

- nitrogen : 0,01-0,9 % - oksigen : 0,06-0.4 % dan sedikit senyawa organologam (vanadium dan nikel). Komposisi kandungan senyawa anorganik dalam minyak bumi bergantung pada tingkat penemuannya. d. Senyawa hidrokarbon tak jenuh Senyawa hidrokarbon tak jenuh, sedikit sekali terdapat dalam minyak bumi, Karena senyawa tersebut mudah teradisi membentuk alkana. 2.3 Pemisahan Fraksi-fraksi Minyak Bumi telah kita ketahui bahwa minyak bumi terdiri dari berbagai campuran hidrokarbon. Komponen- komponenn dari minyak bumi itu disebut juga dengan isstilah fraksi-fraksi minyak bumi yang daapt dipisahkan satu dengan yang lain melalui proses penyulingan atu destilasi secara bertingkat-tingkat berdasarkan perbedaan titik didih masing-masing komponennya. Proses destilasi dikerjakan dengan menggunakan kolom-kolom destilasi , pada jarak tertentu, kolom-kolom dilengkapi dengan pelat-pelat yang mempunyai bublle cup (tutup / sungkup gelembung). Pelat-pelat ini berguna untuk memisahkan fraksi-fraksi yang mempunyai titik didih tertentu. Mula-mula minyak mentah dipanaskan pada suhu sekitar 350 derajat celcius, kemudian dipompakan kedalamj kolom destilasi. Sebagian dari minyak akan menguap dan naik ke atas melalui bublle cup. Pada bublle cup ini, uap minyak yang mempunyai titik didih tinggi diembunkan dan mencair. Uap yang tidak mencair akan naik terus ke atas dan akan mencair pada bublle cup di atasnya. Uap yang tidak mencair pada saat melalui bublle cup akan keluar sebagai gas, langsung dari kolom bagian atas. Adeapun fraksi- fraksi yanmg diperoleh dari destialsi minyak bumi tersebut adalah : a. Gas Umumnya gas terdiri dari campuran metana, etana , propane atau isobutana, campuran gas ini kemudian dicairkan pada tekanan tinggi dan diperdagangkan dengan nama LPG (Liquipied Petroleum Gas ). Gas yang terdapat dalam LPG umumnya campuran propane, butana, dan isobutana.

LPG biasanya dikemas dalam botol-botol baja yang beratnya 15 kg,dan dipakai sebagai bahan bakar rumah tangga. b. Bensin Bensin diperoleh sebagai hasil destilasi pada suhu 70-140. bensin banyak digunakan sebagai bahan bakar mobil dan motor c. Napta Napta dikenal sebagai bensin berat, dan diperoleh sebagai hasil destilasi yang mempunyai trayek titik didih antara 140-180. Napta digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan senyawa-senyawa kimia yang lain misalnya :etilena dan senyawa aromatik yang sering digunakan untuk zat aditif pada bensin. d. Kerosin Kerosi mempunyai trayek didih antara 180-250. dalam kehiduan seharihari, kerosin diperdagangkan dengan nama minyak tanah. e. Minyak Diesel Minyakm diesel mempunyai trayek titik didih 25-350C minyak diesel dipergunakan sebagai bahan bakar pada motor-motor diesel. f. Fraksi yang menghasilkan minyak pelumas Paraffin cair dan padat, teristimewa terdapat di Sumatera dan Kalimantan, paraffin dipergunakan sebagai bahan bakar g. Residu Residu yaitu zat-zat yang masih tertinggal dalam ketel. Menghasilkan petroleumasfalt yang dipakai pada konstruksi jalan 2.4 Daerah Daerah Penambangan Minyak Bumi Di Indonesia Indonesia sebagai anggota OPEC merupakan salah satu negara pengekspor minyak bumi ke negara-negara lain. Lapangan-lapangan minyak yang sudah lama di antaranya Biruen (aceh Utara) sampai Tanjung Pura (Sumut) dengan tambang-tambangnya di pase, peurelak dan pangkalan susu. Di Riau mulai dari sungai Rokan sungai Siak dengan pusatnya di Pekanbaru, Jambi (Sumsel). Dengan pusat-pusatnya si Plaju dan sungai Gerong. Di Kalimantan terdapat di daerah Balikpapan. Di Maluku

terdapat di di pulau Seram, Irian Jaya di daerah Kepala Burung, sedangkan di jawa terdapat di Kerawang Surabaya dengan daerah penambangan di Cepu, Blora dan Wonokromo. Lapangan-lapangan minyak baru dalam repelita satu adalah: a. b. c. d. Lapangan minyak bumi Sinta terletak di lepas pantai lampung Lapangan minyak bumi Arjuna, di lepas pantai utara pulau jawa, Lapangan minyak bumi Jatibarang. Tahun 1975 produksinya Lapangan minyak bumi kasim 3 terletak di bagian barat selatan. Pada tahun 1973 produksinya mencapai 13.684.228 barel tahun 1973 produksinya mencapai 23.357.059 barel mencapai 7.285.265 barel semenanjung kepala Burung. Pada tahun 1973 produksinya mencapai 3.425.062 barel Kilang minyak bumi di Indonesia ada 8 yaitu; Pangkalan Brandan. Dumai, Sungai Pakuning, Palju, sungai gerong, Wonokromo, Cepu dan Balikpapan, ke delapan kilang minyak tersebut, tahun 1975 menghasilkan 120.198.00 barel pabrik pengilangan baru terdapat di Cilacap 2.5 Mutu Bensin Bensin teristimewa yang berisi alkana berantai lurus ternyata kurang baik dipakai sebagai bahan bakar motor, karena bensin tersebut berkompresi tinggi, sehingga menyebabkan knocking/ketukan pada mesin, ketukan tersebut menyebabkan mesin sangat bergetar dan menjadi sangat panas, sehingga merusak motor. Tetapi menggunakan bahan bensin alkana bercabang, misalnya isooktana, peristiwa knocking akan berkurang, untuk menyatakan mutu bensin dipergunakan istilah bilangan oktana. sebagai contoh bensin standar yang terdiri dari campuran angka oktan 100. bila kerja suatu bensin sama dengan untuk kerja campuran 80% isooktana dan 20% normal heptana, maka angka oktannya bensin itu adalah 80. Bensin mobil yang diperdagangkan di Indonesia adalah premium yang memilki bilangan oktana 80, dan bensin super memiliki bilangan oktana 98, untuk meningkatkan mutu bensin dilakukan dengan mencampurkan senyawa-senyawa tertentu pada bensin itu misalnya; tetra etil lead (TEL), ketika terbakar senyawa

TEL cenderung bersenyawa dengan radikal karbon bercabang, hal ini memperlambat proses kerja letupan, agar lebih efisien. Untuk menghindari akumulasi Pb dalam silinder piston, maka ditambah 1,2 dibroma etana; (CH2BrCH2Br), zat ini dapat menyebabkan terbentuknya senyawa PbBr2 yang mudah menguap. Senyawa timbal ini di udara sangat berbahaya, karena jika masuk dan berkumpul di dalam tubuh dapat menyebabkan anemia, sakit kepala, atau perusakan pada otak, yang dapat menyebabkan kebutaan/kematian. Agar kadar PbBr2 tidak terlalu tinggi, harus diusahakan tidak menggunakan zat antiknock sebagai gantinya digunakan senyawa hidrokarbon baik aromatik/alifatik. Dari berbagai Pengamatan diketahui bahwa pemakaian hidrokarbon jenuh dengan katalis ALCL3 dan H2SO4 dapat menghasilkan hidrokarbon bercabang yang tidak terlalu banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. 2.6 Dampak Pembakaran Bensin Yang Tidak Sempurna Terhadap

Lingkungan Pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna, akan menghasilkan senyawa-senyawa kimia yang dalam bentuk gas dapat mencemari udara dan kadang-kadang mengasilkan partikel-pertikel yang menimbulkan asap cukup tebal, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Pencemaran lain adalah gas karbon monoksida, Co, gas ini berbahaya pada tubuh manusia karena lebih mudah terikat pada hemoglobin darah, sehingga kemampuan darah mengikat oksigen menjadi menurun. 2.7 Industri Petrokimia Industri Petrokimia adalah industri yang memproduksi bahan-bahan kimia dengan cara derivatisasi bahan baku minyak bumi, gas alam, serta residu minyak bumi secara komersial Beberapa industri lanjutan yang sangat erat hubungannya dengan Petrokimia; 1. 2. Industri plastik Industri serat sintetis

3. 4. 5. a. b.

Indsutri bahan pelumas Industri pertisida Industri pembuat Pelarut Bahan dasar bagi industri Petrokimia: Jenis paraffin dan olefin, seperti hidrokarbon dengan jumlah Jenis aromat (hidrokarbon aromatik) benzena, pembuatan Beberapa contoh proses kimia yang diterapkan pada industri pertokimia:

atom (1,2,3 dan 4) pembuatan asam asetat, karet dan fiber. plastik, penol dan karet 1. 2. 3. alcohol 4. 5. Eterifikasi, pembuatan senyawa ester, misalnya pembuatan etil polimerisasi, pembentukan polier dari bahan yang lebih sederhana, asetat, vinil asetat misalnya pembuatan plastik / karet sintetis. Alkilasi, yaitu penambahan gugus alkil pada suatu bahan induk, Dealkilasi, penghilangan gugus alkil, misalnya pembuatan kapur Dehidrasi, penghilangan gugus H2O, misalnya pembuatan eter dan

misalnya bahan dasar detergen barus (naftalen) dari minyak bumi

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Minyak bumi uang terbentuk berasal dari fosil yang mengalami pengendapan Berjuta-juta tahun lalu. Kemudian dilakukan pengeboran dan diproses / dengan proses destilsi hingga menghasilkan minyak bumi. Adapun mutu bensin yang baik itu yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. 3.2 Saran Oleh karena minyak bumi itu proses pembentukannya lama, maka kita harus berhemat dalam pemanfaatannya, agar minyak bumi itu tidak cepat habis. Dan penggunaan bensin / bahan bakar haruslah yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan alam sekitarnya.

10

DAFTAR PUSTAKA Tim penulis, 1994. Kimia 1 SMU, Jakarta; Yusidtira Sumarna, Omay. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas X Jilid 1, Bandung; Regina

11