You are on page 1of 3

Artikel

Bulan

: April

Disusun oleh : Agus Budi Raharjo Cermin

Anda tentu sering melihat aktivis berdemo dan dengan semangat membara menyampaikan aspirasi tentang bangsa ini. Tak terkecuali aktivis dakwah yang rutin dan dengan ghirah mujahid berdakwah dalam berbagai aspek kehidupan. Atau mungkin kita sendiri bagian dari aktivis dakwah tersebut. Namun apakah semua hal yang kita suarakan sudah kita laksanakan? Minimal itu berlaku untuk diri kita sendiri. Sudahkah? Sebagai contoh, kita menuntut para pejabat DPR agar tidak korupsi dan menegakkan hukum. Namun berapa kali kita terlambat datang ketika berjanji dengan orang lain? Padahal jika kita refleksikan kedua hal tersebut tak jauh berbeda. Hanya saja mereka korupsi uang dan kita korupsi waktu. Mungkin dari hal itu jugalah yang menyebabkan para anggota DPR mulai belajar korupsi. Kita menuntut para penjahat untuk jujur dengan aksi yang mereka perbuat dan menegakkan kebenaran meski pahit. Namun berapa kali kita TA (baca: titip absen) saat kuliah? Berapa kali kita yang sejatinya tidak hadir dalam kuliah namun tanda tangan kehadiran kita tertera pada lembar presensi? Kita pun juga berbohong dalam hal kehadiran saat kuliah. Ketika kita membuat KTP dan membutuhkan waktu yang lama dan molor, kita komplain dan menuduh hal yang mungkin tidak dilakukan birokrasi. Namun, seberapa sering kita memohon pada dosen dan asisten untuk memperpanjang batas pengumpulan tugas dengan alasan A,B, sampai alasan R. Dan kita pun berada di posisi yang sama dengan posisi petugas yang terkesan bekerja lambat. Kita meminta tolong teman satu organisasi untuk mencarikan perizinan kegiatan yang sudah dekat dan teman kita masih kuliah. Ketika ia minta izin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, kita yang sudah tertekan dengan kegiatan kemudian berkata bahwa teman kita egois. Padahal amanah yang diberikan padanya juga baru saja kita sampaikan. Apakah dalam kenyataannya ia memang benar-benar egois? Atau kita yang egois meminta tolong tiba-tiba dan harus dipenuhi permintaannya? Ketika kemiskinan semakin bertambah, kita menyuarakan pemerintah untuk bertanggung jawab mengatasinya. Jika tidak ada perubahan signifikan, kita mengatakan pemerintah kurang becus, tutup mata dan pandangan negatif lainnya. Namun ketika kita

selesai makan, apakah kita juga sudah bertanggung jawab mencuci piring dan gelas? Kita mungkin bisa saja berkata, Ah, ada mbak Yah, ada pembantu. Kalau kita yang mencuci sendiri, terus kerjaannya apa? sebenarnya bukan itu esensinya, namun bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas sesuatu yang kita perbuat atau yang menjadi amanah kita. Terlebih ketika kita selesai makan dan ada bekas makanan yang tercecer atau air yang tumpah. Sudahkah kita bertanggung jawab untuk membersihkan? Ada info tentang program kreativitas mahasiswa. Sebagai seorang aktivis yang peduli lingkungan, kita berlomba-lomba menciptakan hal baru yang ramah lingkungan dan irit tenaga. selain karena faktor inovasi, tentu faktor harga diri jika lolos, menjadi finalis dan mendapat hadiah pasti terbesit dalam hati kita. Namun sudahkah kita mematikan lampu kamar dan lampu kost ketika tidak digunakan, mematikan air ketika sudah tidak dipakai dan tidak menggunakan AC ruangan umum hanya untuk kepentingan pribadi? Kita mungkin bisa berkata, saya kan sudah membayar uang kost bulanan, listrik dan AC kan sudah ditanggung donatur, jadi sayang kalau tidak digunakan. Suatu ketika kita diberi kesempatan untuk mengikuti kepelatihan mewakili teman teman satu organisasi. Setelah kita pulang teman-teman berharap bisa mendapatkan materi yang diberikan saat pelatihan. Minimal menceritakan pengalaman. Namun kita semakin jarang di organisasi tersebut dan meninggalkan teman-teman yang menaruh harapan besar pada kita. Terlebih, kita cenderung oportunis dan kurang bermanfaat pada orang lain. Itukah kita? Ketika kualitas pendidikan semakin menurun dan kebodohan bertambah, kita sebagai mahasiswa mendesak menteri pendidikan untuk melakukan kebijakan strategis, termasuk dalam hal kegiatan belajar mengajar dan penyampaian ilmu. Namun, apakah kita sudah menularkan ilmu yang kita miliki kepada masyarakat sekitar? Atau kita hanya mengkomersialkan ilmu kita dan hanya vokal tanpa beraksi? Ketika ada pengangguran, kita cenderung menghina dan berkata pada mereka agar bekerja lebih keras agar bisa berhasil. Sedangkan kita, baru mengerjakan tugas saja sudah mengeluh, tidur berkurang satu jam dan setelah subuh kita tidur lagi sampai jam 09.00 sudah dikatakan bekerja keras. Mungkin yang sering terlupa, Allah memberi akal dan kemampuan pada setiap orang berbeda-beda. Mungkin kita dilebihkan oleh Allah menjadi lebih pandai agar bisa memberdayakan orang-orang yang (mohon maaf) kurang pandai. Namun, sudahkah kita menggunakan kemampuan kita sebaik mungkin dan sebermanfaat mungkin? Terkadang, mungkin kita sangat bangga ketika bisa bertemu dengan presiden, menteri, diundang ke sana ke sini, mendapat beasiswa, menjadi juara lomba dan berbagai kejadian bergengsi. Namun, apakah kita sudah benar-benar berkontribusi pada masyarakat? Atau hanya sekedar menambah kapabilitas diri sendiri? Ketika kita berada dalam satu asrama, kita mendapat rezeki makanan. Tanpa menghiraukan teman-teman seasrama yang di sedang berada di luar, makanan langsung kita habiskan. Padahal mungkin teman-teman kita yang membantu tersedianya makanan tersebut

untuk kita. Inikah kita yang sering menjelaskan bahwa kita harus berbagi antara si kaya dan si miskin? Kita minta pemerintah menghargai karya anak bangsa, meminta masyarakat membeli produk dalam negeri. Namun ketika ditanya setelah lulus kita ingin kerja dimana, dengan optimisnya kita ingin bekerja di perusahaan XXX(perusahaan luar negeri yang berada di dalam negeri) dengan alasan ingin keluarganya sejahtera dan berkecukupan dengan gaji yang lebih tinggi. Namun, apakah dengan uang yang banyak menjamin keluarga kita bisa menjadi keluarga madani? yang pasti kita telah berusaha memajukan perusahaan luar negeri yang menjajah lahan milik kita, bangsa Indonesia. Ketika reog ponorogo,batik, alat musik angklung dirampas bangsa lain, kita dengan kompak membela dan berusaha merebut kembali kebudayaan kita. Namun, ketika kita mengadakan kegiatan, supaya lebih keren kita memakai kata-kata berbahasa inggris. Itukah kita yang di jaketnya terdapat bendera Indonesia? Kita tentu sering berkata bahwa kita harus menghargai ilmu yang kita dapat dan kita amalkan, dan juga menghargai orang lain yang memiliki kesempatan sama dal m menuntut a ilmu bersama kita. Namun ketika kita selesai membaca koran di asrama, kita tinggalkan koran itu berserakan. Yang lebih buruk, kita jadikan koran hari ini yang berserakan sebagai keset, sedangkan mungkin ada teman yang lain belum dan ingin membaca berita hari ini. Semoga bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Yang pasti mulailah dari hal yang terkecil, saat ini dan dari hal yang terdekat bisa kita lakukan. Allahualam bish showab. ( Untuk aku, kamu dan orang-orang yang membaktikan diri pada jalan dakwah ini )