You are on page 1of 11

BAB I Pendahuluan 1.1.

Latar Belakang Masalah


Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang. Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Secara internasional, WHO menyebut sebagai young people dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut adolescenea atau remaja.1 Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki definisi beragam. Definisi tentang pemuda di atas lebih pada definisi teknis berdasarkan kategori usia sedangkan definisi lainnya lebih fleksibel. Dimana pemuda atau generasi muda adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif.2

1.2.

Permasalahan
Era globalisasi, modernisasi, dan kemajuan teknologi membuat tatanan

masyarakat semakin kompleks dan dinamis. Ada banyak tantangan dan masalah yang dihadapi manusia setiap harinya. Menilik dari sisi usia maka pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat secara

1 2

Solikhin (2010), Definisi Pemuda, http://sh0likhin.wordpress.com/2010/03/24/definisi-pemuda/ Ibid.

umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat pembaharu.3 Tantangan hidup remaja dunia saat ini dan yang akan datang tiada lain, yakni globalisasi, dimana tidak ada lagi batas-batas yang signifikan di antara satu negara dengan negara lain, suatu daerah dengan daerah lain, ataupun suatu benua dengan benua lain. Di zaman global tersebut, tidak ada batas-batas ideologi dan agama, semuanya berinteraksi secara harmonis dan tanpa mempermasalahkan saya berideologi apa? Anda berideologi apa? Oleh karena itu, interaksi dan pergaulan para remaja pada abad global ini menjadi sangat terbuka atau tanpa batas. Mau tidak mau, sasaran empuk dari globalisasi ini adalah remaja dan para pemuda. Tidaklah mengherankan jika sebagian pemuda dan mahasiswa saat ini berpikiran instan, pragmatis dan individualis. Mereka lebih sering bersikap manja, mudah mengeluh, mudah putus asa padahal teknologi komunikasi dan teknologi informasi lebih maju dibanding pemuda dan mahasiswa di masa lampau. Mereka lebih sering pergi ke tempat hiburan, mall-mall, tempat yang membuat mereka nyaman dan selfish. Mereka juga melemah sikap kritisisme terhadap program pembangunan pemda yang tidak pro rakyat, pro kurangi pengangguran dan pro gender. Informasi televisi, radio dan media cetak yang terkadang tanpa sadar mengajak pemuda dan mahasiswa berpikir dan bertindak materialisme, meniru budaya barat yang sebagian tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.4

1.3. Tujuan Penelitian


Makalah ini dibuat untuk mengetahui bagaimana caranya membentuk pemimpin islami yg berpikiran terbuka serta mampu melangkah di masa depan.
3 4

Sara Wenner (2001), Study of world religions, http://www.mnsu.edu/emuseum/cultural/religion/ Satriya Nugraha (2011), Peranan Pemuda dan Mahasiswa Yang Visioner, http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/08/peranan-pemuda-dan-mahasiswa-yang-visioner/

1.4.

Metode Penelitian
Penulis menggunakan metode kualitatif dengan metode penyampaian

deskriptif analitis. Dengan metode ini pada dasarnya hasil penelitian yang diinginkan berupa data fakta dan analisis yang deskriptif dan komprehensif mengenai masalah yang dikemukakanberdasarkan pada data-data, fakta dan dokumendokumen yang dimiliki untuk menggambarkan kejadian yang sedang atau pernah berlangsung. Sedangkan metode penelitian kualitatif sendiri adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari kejadian yang diamati.5

1.5.

Sistematika Pembahasan
Penyusunan penelitian ini terbagi ke dalam tiga bab. Setiap bab terdiri dari

beberapa sub-bab. Secara garis besar sistematika penulisan dalam penulisan penelitian ini adalah:

Bab 1. Pendahuluan. Pada bab Pendahuluan, Penulis akan mendeskripsikan tentang Latar Belakang masalah yang terjadi. Setelah itu penulis akan merumuskan Permasalahan, serta menentukan Tujuan Penelitian serta Metode yang akan dipakai. Terakhir, penulis juga menuliskan Sistematika Pembahasan untuk penelitian ini. Bab 2. Isi

Lexy. J. Moleong (1990). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja, Rosdakarya.

Bab ini mendeskripsikan bagaimana caranya membentuk pemimpin islami yg berpikiran terbuka serta mampu melangkah di masa depan. Bab 3. Kesimpulan. Penulis akan memberikan kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di bab-bab sebelumnya.

BAB II ISI

Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari depan pasti lebih baik.6 Pemuda selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mereka sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para pemuda. Suara-suara mahasiswa dan pelajar kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mereka untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa dengan cara mereka sendiri.7 Pada beberapa ayat, Al Quran juga mendefinisikan pemuda dalam ungkapan sifat dan sikap (1) Berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim yang mencela (berhalaberhala) buatan ayahnya (QS.Al-Anbiya, 21:59-60). (2) Memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda
6

Anggit Saputra Dwi Pramana (2008), Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan, http://anggitsaputradwipramana.blogspot.com/2008/05/peran-pemuda-sebagai-agen-perubahan.html 7 Solikhin (2010), Loc. Cit.,

penghuni gua). (QS.18: 13-14), dan (3) Seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa yang tidak berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut (QS. Al-Kahfi,18 : 60).8 Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan. Hal ini yang menjadi peran paling penting dari pemuda. Jika kita melihat kembali sejarah Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan. Dimulai dari kebangkitan nasional 100 tahun silam, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, lahir dan tumbangnya orde baru serta lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan. Dalam hal ini, secara umum pemuda menyandang tiga fungsi strategis, yaitu (1) sebagai penyampai kebenaran (agent of social control), (2) sebagai agen perubahan (agent of change), dan (3) sebagai generasi penerus masa depan (iron stock) Mereka dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan mengembang tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran pemuda untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan yang harmonis. Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instant, dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial. Sehingga muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikataka sebagai agen perubahan di masa saat ini? tentu saja jawabannya adalah ya. Masih ada pemuda8

Anggit Saputra Dwi Pramana (2008), Loc. Cit.,

pemuda Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia. Pemuda sebagai agen perubahan tidak akan mampu melakukan perubahan yang signifikan bila tidak didukung dengan sebuah sistem atau perangkat-perangkat pendukung. Menurut hemat saya, organisasi adalah sarana paling efektif untuk menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut. Kita tidak dapat melakukan perubahan secara individual karena kemampuan kita yang terbatas. Kita memerlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun.9

Ibid.

BAB III KESIMPULAN


Dorongan dan motivasi serta perhatian yang lebih, agaknya perlu lebih intensif dicurahkan pada generasi muda kita agar mampu berkembang ke arah yang optimal dan mampu menjawab kebutuhan bangsa Indonesia di era globalisasi, yaitu lahirnya remaja modern yang unggul dalam ilmu dan anggun dalam akhlak. Remaja yang dapat membedakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang tidak. Remaja yang dapat membedakan zaman dulu dengan zaman sekarang. Remaja yang dapat membedakan nilai-nilai baik dan buruk, lalu memilihnya secara baik dan benar. Remaja yang dapat membedakan mana nilai lama yang mesti ditinggalkan dan mana nilai lama yang harus tetap dipertahankan. Remaja yang dapat membedakan nilainilai kekinian mana yang baik dan tidak. Remaja yang dapat mempertimbangkan keseimbangan hidupnya. Remaja yang dapat mengikuti ritme kehidupan (kapan pun dan dimana pun), namun tetap menjadi dirinya sendiri karena selalu berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Itulah perspektif remaja modern yang kita harapkan. Saya yakin harapan ini akan dapat diwujudkan di masa mendatang melalui peran serta kita semua yang peduli akan masa depan pemuda dan bangsa Indonesia.Untuk itu, mari kita jadikan momentum awal tahun ini untuk mengawali sebuah perubahan besar. Insya Allah tak ada usaha yang sia-sia jika kita mau bersungguh-sungguh dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Perubahan yang besar selalu berawal dari hal-hal yang kecil, dimulai dari sekarang dan mulainya pun dari diri sendiri

Daftar Pustaka
Solikhin (2010), Definisi Pemuda, http://sh0likhin.wordpress.com/2010/03/24/definisi-pemuda/ Sara Wenner (2001), Study of world religions, http://www.mnsu.edu/emuseum/cultural/religion/ Satriya Nugraha (2011), Peranan Pemuda dan Mahasiswa Yang Visioner, http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/08/peranan-pemuda-dan-mahasiswa-yang-visioner/ Lexy. J. Moleong (1990). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja, Rosdakarya. Anggit Saputra Dwi Pramana (2008), Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan, http://anggitsaputradwipramana.blogspot.com/2008/05/peran-pemuda-sebagai-agenperubahan.html

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Personal Data Full Name Nick Name Gender Birth Place/Date Religion Nationality Address : Anggita Sekar Permata : Anggit : Female : Jakarta, December 19th 1995 : Moslem : Indonesian : Pondok Kopi Blok C VII/14, Jakarta, Indonesia B. Formal Educational Background Year of 1998 2002 Year of 2002 2008 Year of 2008 2011 : Al-Muhajirin Pre-School Jakarta : Al-Azhar 6 Islamic Elementary School, Bekasi, West Java : Al-Azhar 6 Islamic Junior High, Bekasi, West Java 10

Year of 2011 Now

: Al-Azhar 4 Islamic Senior High, Bekasi, West Java

11