You are on page 1of 11

Produksi Amilase dari Ragi Saccahromycopsis fibuligera Serta Potensinya untuk Digunakan pada Proses Produksi Glukosa dari

Pati Mentah
Safri Ishmayana, Dian S. Kamara dan Saadah D. Rachman Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran

ABSTRAK Amilase adalah suatu enzim yang mengkatalisis hidrolisis pati dan substrat lain yang berhubungan. Pada industri bioetanol, enzim ini digunakan untuk memecah pati menghasilkan glukosa, yang kemudian diubah menjadi etanol. Enzim pemecah pati mentah merupakan enzim yang menjanjikan untuk digunakan pada industri bioetanol, karena dapat mengurangi penggunaan energi pada pemrosesan pati. Saccharomycopsis fibuligera R64 menghasilkan dua jenis amilase, yaitu -amylase dan glukoamilase yang mampu memecah pati mentah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh sumber karbon yang berbeda terhadap aktivitas amilase yang dihasilkan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan kemampuan enzim yang dihasilkan untuk memecah beberapa jenis pati mentah. Media yang digunakan untuk produksi enzim mengandung 1% ekstrak ragi dan 1% pati (sagu, jagung, singkong dan beras). Media dikocok dengan kecepatan 180 rpm pada suhu kamar selama 72 jam. Ekstrak kasar yang diperoleh dari media pertumbuhan digunakan untuk memecah pati mentah. Ekstrak kasar ditambahkan ke dalam larutan pati mentah 5% (b/v) dalam bufer fosfat sitrat 25 mM pH 5,8. Campuran tersebut kemudian dikocok pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam, sampel kemudian diambil, dan kadar gula pereduksi yang dihasilkan ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan reagen kalium ferisianida basa. Hasil penelitian menunjukan produksi enzim dengan menggunakan sumber karbon sagu menghasilkan aktivitas amilolitik tertinggi (305,77 unit/mg). Sagu adalah pati yang paling mudah untuk dipecah (1.885,38 g/g) oleh enzim, diikuti oleh beras (873,84 g/g), jagung (700,77 g/g) dan singkong (670,00 g/g). Kata kunci: amilase, glukosa, pati mentah, Saccharomycopsis fibuligera ABSTRACT Amylase is an enzyme that catalyzes the hydrolysis of starch and related substrates. In bioethanol industry, the enzyme is used to digest starch to get glucose, and subsequently changed to ethanol. Raw starch digesting enzyme is a promising enzyme to be used in bioethanol production, since it can save energy requirement of starch processing. S. fibuligera R64 produces two types of amylolytic enzymes, which are -amylase and glucoamylase that are capable to digest raw starch. This research is directed to investigate the influence of different carbon sources on amylase activity. This research also aimed to investigate enzyme ability in digesting some raw starches. The media used in the production media were 1% of yeast extract and 1% of starch (sago, corn, cassava and rice). The media was shaked (180 rpm) in room temperature for 72 hour. The crude extract that obtained form the growth media, is used for digesting raw starches. The crude extract is added to 5% (w/v) raw starch solution in phosphate-citrate buffer 25 mM pH 5.8. The mixture then shaked in room temperature for 24 hours. After 24 hours, the sample is taken, and then the reducing sugar determined using colorimetric method using basic potassium ferry cyanide. The results showed that sago in growth media is the best carbon source, give the highest amylolytic activity (305.77 unit/mg). Sago is the easiest starch digested by the enzyme (1.885,38 g/g), followed by rice (873,84 g/g), corn (700,77 g/g) and cassava (670,00 g/g). Keywords: amylase, glucose, raw starch, Saccharomycopsis fibuligera

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan berbagai sumber daya alam. Salah satu sumber daya alam yang melimpah di Indonesia adalah pati. Meskipun pati merupakan sumber daya alam yang melimpah, pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Selama ini, pemanfaatan pati lebih banyak sebagai makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Padahal, pati dapat diubah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi melalui berbagai proses. Untuk meningkatkan nilai ekonomis pati, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengubah pati menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah. Salah satu produk turunan dari pati yang banyak dibutuhkan adalah glukosa. Untuk memperoleh glukosa dari pati, diperlukan proses hidrolisis. Proses hidrolisis ini dapat dilakukan dengan menggunakan asam atau dengan menggunakan enzim. Proses hidrolisis dengan menggunakan asam pada saat ini sudah mulai ditinggalkan karena memiliki dampak yang negatif untuk lingkungan. Proses enzimatis memiliki berbagai kelebihan seperti tidak terbentuk produk samping yang tidak diharapkan. Pada proses yang biasa dilakukan di industri, pati yang akan dihidrolisis dipanaskan terlebih dahulu untuk membuat pati tersebut larut, sehingga dapat dipecahkan oleh enzim. Untuk enzim-enzim yang dapat memecah pati mentah, proses pelarutan pati tidak perlu dilakukan sehingga dapat menghemat penggunaan energi. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian enzim-enzim amilolitik yang dapat memecah pati mentah, sehingga dapat dikembangkan menjadi suatu proses yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Pati merupakan bentuk simpanan karbohidrat paling melimpah pada tumbuhan dan merupakan sumber produksi sirup yang mengandung glukosa, fruktosa dan maltosa yang tidak mahal (Roy & Gupta, 2004). Selain itu, gula-gula yang dihasilkan dapat difermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan bioetanol (Giordano et al., 2000). Pada granula pati, molekulnya tersusun sedemikan padat dalam bentuk polikristalin dengan ikatan inter dan intramolekular sehingga menyebabkan menjadi tidak larut dalam air dingin dan sering kali tahan terhadap hidrolisis kimiawi dan enzimatik (Hamilton et al., 1999). Granula-granula pati tersusun atas daerah amorf dan daerah kristal (Gambar 1). Di daerah amorf terkandung amilosa, sedangkan di daerah kristal terkandung amilopektin (van der Maarel et al., 2002). Pada umumnya pati mengandung 25% amilosa dan 75% amilopektin (Myllarinen, 2002). Amilosa merupakan molekul linier yang disusun oleh unit-unit D-glukosa melalui ikatan -1,4 glikosidik (Xiaohan & Kaplan, 1997). Sedangkan, amilopektin memiliki struktur yang lebih kompleks, dengan berat molekulnya

100 kali lebih besar dari amilosa (Zhenghong, 2003). Amilopektin mengandung ikatan 1,4 dan -1,6 glikosidik (Xiaohan & Kaplan, 1997).

Gambar 1 Struktur pati dari kentang. (A) umbi; (B) granul pati dilihat dengan mikroskrop elektron; (C) irisan granul pati menunjukkan pertumbuhan cincin membentuk daerah amorf dan daerah kristal; (D) detail dari daerah semi-kristal; (E) molekul amilopektin yang membentuk struktur mirip pohon; (F) 2 molekul glukosa dengan ikatan -1,4 glikosidik (van der Maarel et al., 2002). Berdasarkan ukuran granulnya, pati yang berasal dari non-sereal relatif lebih sukar di degradasi oleh enzim (Fuwa et al., 1977). Salah satu pati non-sereal yang mudah dipecah adalah pati singkong (Rickard et al., 1991). Ukuran granula pati dari beberapa sumber dapat di lihat pada Tabel 1. Tabel 1 Diameter dan bentuk beberapa granula pati (Zhenghong, 2003)

Enzim yang cukup populer dalam industri pengolahan pati adalah -amilase dan glukoamilase. -Amilase menghidrolisis amilosa dan amilopektin dalam pati pada ikatan -1,4, dan menghasilkan berbagai produk oligosakarida. Sedangkan glukoamilase menghidrolisis pati pada ikatan -1,4 dan -1,6 ujung non pereduksi menghasilkan Dglukosa (Tester et al., 2004) Pada proses sakarifikasi enzimatik konvensional, suatu campuran yang mengandung 15% pati dipanaskan pada suhu 105oC sampai mengalami proses gelatinisasi sehingga dapat membuka struktur kristal pati dan pada akhirnya dapat diproses dengan enzim (Itkor

et al., 1989; Singh & Soni, 2001). Proses ini meningkatkan kekentalan campuran dan menimbulkan masalah pada pencampuran dan pemompaan (Mamo & Gessesse, 1999). Pati yang telah mengalami gelatinisasi kemudian dilanjutkan proses likuifasi pada suhu tinggi dengan menggunakan -amilase pada saat yang sama, diikuti dengan sakarifikasi dengan glukoamilase pada suhu yang jauh lebih rendah, yaitu 50-60oC (Singh & Soni, 2001). Keseluruhan proses memerlukan energi yang tinggi, sehingga meningkatkan biaya produksi produk berbahan pati. Dari sudut pandang biaya energi, penggunaan efektif sumber daya alam dan masalah kekentalan, hidrolisis langsung pati di bawah suhu gelatinisasi lebih diinginkan (Kelly et al., 1995). Belakangan ini, pentingnya sakarifikasi enzimatik pati mentah tanpa pemanasan menjadi popular, terutama dari sudut pandang penghematan energi dan penggunaan biomassa yang efektif sehingga mengurangi biaya pemrosesan pati (Itkor et al., 1989; Singh & Soni, 2001). Hal ini telah menciptakan ketertarikan peneliti di seluruh dunia untuk mencari amilase pemecah pati mentah yang tidak memerlukan proses gelatinisasi dan dapat secara langsung menghidrolisis pati mentah dalam satu tahap serta pada suhu yang jauh di bawah suhu gelatinisasi (Kelly et al., 1995). Lebih sulit bagi enzim-enzim amilolitik bekerja pada pati mentah dibandingkan dengan pada pati yang telah mengalami proses gelatinisasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sakarifikasi pati mentah oleh enzim-enzim amilolitik kemungkinan berhubungan dengan besarnya adsorpsi enzim tersebut pada granula pati. Mikroorganisme yang dilaporkan menghasilkan amilase yang dapat memecah pati mentah pada umumnya adalah golongan jamur seperti Aspergilus sp., Rhizopus sp., Corticium rolfsi (Kelly et al., 1995; Shiau et al., 2003; Jeang et al., 2002; Chiou et al., 1995; Omemu et al., 2005), meskipun ada beberapa laporan kemungkinan pemecahan pati mentah oleh dan amilase dari bakteri (Itkor et al., 1989). Beberapa amilase dari lumut dan bakteri dilaporkan dapat memecah pati mentah pada suhu yang tidak terlalu tinggi (30-50oC) dimana sakarifikasi dapat dicapai dengan waktu inkubasi lebih lama (Kim et al., 1989). Lebih dari 150 spesies ragi dapat mendegradasi pati. Meskipun amilase yang dihasilkan ragi tidak memiliki aplikasi yang luas seperti hal nya yang dihasilkan oleh bakteri dan jamur, ada beberapa amilase yang dihasilkan ragi seperti S. fibuligera, yang digunakan untuk proses sakarifikasi pati pada proses fermentasi makanan (Hostinova, 2002). S. fibuligera adalah ragi yang aman bagi makanan dan dikenal sebagai penghasil enzim-enzim amilolitik. Kemampuan S. fibuligera untuk memecah pati berhubungan dengan kemampuannya untuk menghasilkan dua jenis amilase: -amilase, yang bekerja

pada bagian dalam pati (endo-acting) dan glukoamilase, yang bekerja pada bagian luar pati (exo-acting). Beberapa galur S. fibuligera dapat mensintesis keduanya sedangkan yang lain hanya menghasilkan satu jenis amilase. Pada beberapa galur S. fibuligera, enzim lain dengan spesifisitas ikatan -D-glukosidik, terutama -glukosidase dan transglukosilase juga ditemukan (Hostinova, 2002). Kemampuan amilase untuk memecah pati mentah merupakan sifat yang menarik. Enzim-enzim semacam ini dapat digunakan untuk menghemat energi pada pemrosesan pati (Hostinova, 2002). Kemampuan memcah pati mentah jarang ditemukan pada amilase dari ragi, namun enzim glukoamilase yang dihasilkan oleh ragi S. fibuligera IFO 0111 dikenal memiliki kemampuan ini (Hostinova, 2002; Harvathova et al., 2004). Di Indonesia, terdapat salah satu galur S. fibuligera, yaitu S. fibuligera R64. Ragi ini menghasilkan dua tipe amilase sekaligus, yaitu -amilase dan glukoamilase. Sampai saat ini telah dilakukan penelitian terhadap -amilase dari ragi tersebut, mulai dari produksi, pemurnian, modifikasi kimiawi dan optimasi produksi secara genetik (Soemitro, 2005). Kemudian Soemitro (1996) dan Ismaya dkk. (2003) menunjukkan bahwa glukoamilase S. fibuligera R64 dapat memecahkan pati sagu mentah. Walaupun enzim yang mampu mendegradasi pati mentah telah diketahui sejak lama, namun penggunaannya masih pada sumber sereal. Masih sedikit informasi penggunaan enzim tersebut untuk pati dari umbi-umbian (Omemu et al., 2005). Sehubungan dengan hal tersebut dan dengan kemampuan enzim-enzim S. fibuligera yang mampu mendegradasi pati mentah juga kelimpahan pati di Indonesia, maka pada penelitian ini, enzim-enzim tersebut akan digunakan untuk memproses beberapa jenis pati. Hasil akhir dari proses enzimatik ini berupa glukosa yang banyak dibutuhkan oleh berbagai industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh sumber karbon yang berbeda terhadap aktivitas amilase yang dihasilkan serta untuk mengetahui kemampuan degradasi enzimatik pati mentah yang berasal dari berbagai sumber oleh enzim amilolitik yang dihasilkan ragi Saccharomycopsis fibuligera untuk menghasilkan gukosa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data awal untuk pengembangan teknologi yang dapat menghemat energi serta ramah lingkungan. METODE PENELITIAN Bahan Ragi Saccharomycopsis fibuligera R64 merupakan koleksi dari Laboratorium Biokimia KPP Bioteknologi ITB dan semua mikroba dipelihara dan diregenerasi di

Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran Bandung (FMIPA-Unpad). Bahan kimia yang digunakan terdiri atas agar bakto, air suling, asam sitrat, ekstrak ragi, kalium ferisianida, natrium dihidrogen fosfat natrium karbonat, pati beras, pati jagung, pati sagu, pati singkong, sukrosa, dan tauge. Produksi enzim S. fibuligera ditumbuhkan pada media agar miring yang terdiri atas 6% sukrosa dan 1,5% agar bakto dalam 10% ekstrak tauge. Pertumbuhan dilanjutkan pada inokulum yang mengandung 1% pati sagu dan 1% ekstrak ragi selama 48 jam sambil dikocok dengan kecepatan 180 rpm. Setelah itu, inokulum dipindahkan ke media produksi yang komposisinya sama dengan komposisi inokulum, dimana inokulum berjumlah 10% dari media produksi. Fermentasi ini dilakukan pada kecepatan pengocokan 180 rpm selama 120 jam. Enzim yang dihasilkan merupakan enzim ekstraselular. Enzim tersebut diisolasi dengan sentrifugasi pada kecepatan 4000 g sehingga sel dan supernatannya terpisah. Kemudian supernatannya disaring menggunakan kertas saring pada kondisi dingin. Hasilnya merupakan ekstrak kasar enzim (mengandung -amilase dan glukoamilase). Pemecahan pati mentah dengan ekstrak enzim Produksi glukosa dilakukan mengikuti prosedur yang dikemukakan oleh Harvathova et al. (2004) dengan beberapa modifikasi. Suspensi pati mentah (singkong, jagung, beras dan sagu) dibuat dengan konsentrasi 5% b/v dengan pelarut bufer fosfatsitrat 25 mM pH 5,8. Kedalam 20 mL suspensi tersebut ditambahkan 1 mL ekstrak kasar enzim (2000 unit/mL). Campuran ini kemudian dikocok dengan menggunakan shaker pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam sampel diangkat dan ditentukan kadar gula pereduksinya dengan menggunakan metode kalium ferisianida basa. HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Glukosa Total Pati Untuk dapat menentukan efisiensi pemecahan pati, maka perlu dilakukan analisis glukosa total yang terdapat dalam masing-masing sampel pati yang akan diuji. Penentuan glukosa total dilakukan dengan metode hidrolisis asam menggunakan asam klorida, dan hidrolisatnya ditentukan kandungan glukosa nya dengan metode enzimatis menggunakan enzim glukosa oksidase (GOD). Gambar 2 menunjukan perbandingan kadar glukosa yang terkandung dalam masingmasing pati yang digunakan pada penelitian ini. Hasil analisis menunjukan bahwa tapioka

memiliki kadar glukosa paling tinggi dibandingkan dengan pati yang lain, yaitu sebesar 421,06 mg/g pati. Rendahnya kadar glukosa pati yang lain dapat disebabkan pada proses hidrolisis dengan asam, glukosa yang telah terbentuk mengalami reaksi lebih lanjut menjadi senyawa furfural atau turunannya (Holme & Peck, 1993). Metode penentuan glukosa secara enzimatis menggunakan GOD sangat spesifik untuk senyawa glukosa, sehingga jika produk glukosa telah berubah menjadi senyawa furfural atau turunnya, maka glukosa tersebut tidak terukur sebagai glukosa.

430,00 glukosa per berat pati (mg/g) 420,00 410,00 400,00 390,00 380,00 370,00 360,00 350,00 340,00 Sagu Singkong Jenis Pati Beras Jagung

Gambar 2 Perbandingan kadar glukosa (mg glukosa/g pati) beberapa jenis pati yang ditentukan dengan metode hidrolisis asam dengan asam klorida dilanjutkan dengan penentuan kadar glukosa dengan metode enzimatis dengan GOD

Produksi Enzim Amilase Salah satu faktor yang mempengaruhi enzim yang dihasilkan pada proses produksi enzim adalah nutrisi yang tersedia pada media produksi. Untuk menentukan pengaruh pati sebagai sumber karbon terhadap aktivitas enzim yang dihasilkan, maka dilakukan proses produksi dengan menggunakan beberapa jenis pati. Gambar 3 menunjukkan pengaruh beberapa jenis pati yang digunakan sebagai sumber karbon pada proses produksi terhadap aktivitas enzim yang dihasilkan. Gambar tersebut menunjukan bahwa sagu merupakan sumber karbon yang paling baik untuk produksi enzim amilase dari ragi S. fibuligera R64. Perbedaan aktivitas ini dapat disebabkan perbedaan kemudahan pati sebagai substrat untuk digunakan sebagai nutrisi oleh ragi.

350,00 Aktivitas Spesifik (unit/mg) 300,00 250,00 200,00 150,00 100,00 50,00 0,00 Sagu Singkong Beras Jagung Sumber Pati

Gambar 3 Pengaruh berbagai pati sebagai sumber karbon terhadap aktivitas spesifik enzim amilase. Produksi dilakukan pada suhu kamar, dengan kecepatan pengocokan 180 rpm. Ragi S. fibuligera R64 dapat memproduksi dua jenis amilase, yaitu -amilase dan glukoamilase. Aktivitas yang ditentukan masih merupakan gabungan dari kedua aktivitas enzim tersebut, karena sampel yang diuji adalah ekstak kasar yang masih mengandung kedua enzim tersebut. Oleh karena kedua enzim memberikan hasil positif ketika diuji dengan metode pati-iodin, maka hasil perhitungan yang diperoleh tidak menunjukan aktivitas salah satu enzim tersebut. Untuk menentukan aktivitas masing-masing enzim, maka harus dilakukan pemisahan terlebih dahulu. Pemecahan Pati Mentah oleh Ekstrak Kasar Enzim Amilase Ragi S. fibuligera menghasilkan dua enzim amilase, yaitu -amilase dan glukoamilase. Hasil penelitian Hasan et al. (2007) mengungkapkan perbedaan sifat kedua enzim pemecah pati tersebut. -Amilase dapat memecah pati mentah tanpa mekanisme penyerapan, sedangkan glukoamilase dapat menyerap pada pati mentah, namun belum ada data yang menunjukan kemampuan glukoamilase untuk memecah pati mentah. Sifat pemecah pati mentah merupakan sifat yang menarik, karena tidak semua enzim pemecah pati memiliki sifat tersebut. Ekstrak kasar yang ditambahkan pada beberapa janis pati mentah ternyata dapat menghasilkan glukosa sebagai produknya. Gambar 4 menunjukan glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis pati mentah. Sagu memberikan hasil glukosa tertinggi dibandingkan dengan pati lain yang diuji, sedangkan yang menghasilkan glukosa terendah adalah pati singkong. Hal ini berbeda dengan hasil yang ditemukan oleh Hasan et al. (2007). Hasan et al. (2007) menemukan bahwa pati jagung adalah pati yang

paling mudah dipecah oleh enzim -amilase sedangkan yang paling sulit dipecah adalah pati jagung.

2.500 Produk Glukosa (g/g pati) 2.000 1.500 1.000 500 0 Sagu Singkong Jenis Pati Beras Jagung

Gambar 4 Kadar glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis pati mentah dengan menggunakan ekstrak kasar enzim amilase yang dihasilkan oleh S. fibuligera. Hidrolisis dilakukan pada suhu kamar selama 24 jam dengan pelarut bufer fosfat-sitrat 25 mM pH 5,8. Perbedaan hasil ini dimungkinkan karena penelitian yang dilakukan oleh Hasan et al. (2007) menggunakan enzim -amilase yang telah dimurnikan, sedangkan penelitian ini menggunakan ekstrak kasar, yang selain mengandung -amilase juga mengandung glukoamilase. Kemampuan glukoamilase dalam memecah pati mentah juga berpengaruh terhadap hasil akhir (glukosa yang terbentuk). Dari hasil yang diperoleh, ada kemungkinan perbedaan kemampuan -amilase dan glukoamilase dalam memecah pati yang sama. Namun, karena data mengenai kemampuan glukoamilase dalam memecah pati mentah belum ada, maka fenomena ini belum dapat dijelaskan lebih lanjut. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi enzim amilase dengan menggunakan sagu sebagai sumber karbon menghasilkan aktivitas spesifik amilase tertinggi, yaitu sebesar 3.057,69 unit/mg. Pati yang paling mudah dipecah oleh ekstrak kasar amilase adalah sagu (377,08 mg/g), diikuti oleh beras (174,77 mg/g), jagung (140,15 mg/g) dan singkong (134,00 mg/g).

Saran Perlu dilakukan optimasi hidrolisis pati mentah sehingga diperoleh suatu kondisi optimum untuk produksi glukosa dari pati mentah, sehingga dapat diterapkan dalam skala yang lebih besar. UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini didanai oleh dana DIPA Universitas Padjadjaran tahun anggaran 2007 berdasarkan SPK No. 251D/JO6.14.LP/PL/2007 tanggal 3 April 2007. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran atas dana yang telah diberikan. DAFTAR PUSTAKA Chiou, S.Y. & Jeang, C.L. 1995. Factors affecting production of raw starch-digesting amylase by the soil bacterium Cytophaga sp. Biotechnol. Appl. Biochem. 22:377 384. Fuwa, H., Nakajima, M. & Hamada, A. 1977. Comparative susceptibility to amylases of starches from different plant species. Cereal Chem. 54: 230-237. Giordano, R.L., Hirano, P.C., Goncalves, L.R. & Netto, W.S. 2000. Study of biocatalysts to produce ethanol from starch. Coimmobilisation of glucoamylase and yeast in gel. Appl. Biochem. Biotechnol. 86:64354. Hamilton, L.M., Kelly, C.T. & Fogarty, W.M. 1999. Purification and properties of the raw starch degrading -amylase of Bacillus sp. IMD 434. Biotechnol. Lett. 21:111115. Harvathova, V., Slajsova, K. & Sturdik, E. 2004. Evaluation of glucoamylase Glm from Saccharomycopsis fibuligera IFO 0111 in hydrolysing the corn starch. Biologia Bratislava. 59/3 : 361-365 Hasan K., Ishmayana, S., Kardi, I., Andiyana, Y., Kusumawidjaja, S. & Soemitro, S. 2007. Performance of Saccharomycopsis fibuligera -amylase on raw starches and the influence of 10-kDa fragment removal on kinetics and thermostability. Poster presentation on international meeting of the second symposium on carbohydrate and carbohydrate acting enzyme applied and biomedical aspects. Jakarta, May, 15th16th2007. Holme, D.J. & Peck, H. 1993. Analytical Biochemistry. Longman Scientific & Technical. Singapore. Hostinova, E. 2002. Amylolytic enzymes produced by the yeast Saccharomycopsis fibuligera. Biologia, Bratislava, 57/Suppl. 11: 247-251. Itkor P, Tsukagoshi N, Udaka S. 1989. Purification and properties of divalent cationdependent raw starch digesting -amylase from Bacillus sp. B. 1018. J. Ferment. Bioeng. 68:247251. Ismaya, W. T., Setiana, T., Natalia, D. & Soemitro, S.. 2003. Peningkatan kestabilan amilase melalui rekayasa protein. Hibah Bersaing IX. Jakarta. Jeang, C.L., Chen, L.S. & Shiau, R.J. 2002. Cloning of a gene encoding raw starch digesting amylase from Cytophaga sp. and its expression in E. coli. Appl Environ Microbiol. 68:36513654. Kelly, C.T., Tigue, M.M., Doyle, E.M. & Fogarty W.M. 1995. The raw starch-degrading alkaline amylase of Bacillus sp. IMD 370. J. Ind. Microbiol.15:446448.

Kim, J., Nanmori, T. & Shinke, R. 1989. Thermostable, raw starch digesting amylase from Bacillus stearothermophilus . Appl. Environ. Microbiol. 55:16389. Mamo, G. & Gessesse, A. 1999. Purification and characterization of two raw starch digesting thermostable alpha amylases from a thermophilic Bacillus sp. Enzyme Microb. Technol. 25:433438. Myllarinen, P. 2002. Starches-From Granule to Novel Applications. Dissertasion. University of Helsinki, Department of Food Technology. Omemu, A. M., Akpan, I., Bankole, M. O. & Teniola, O. D. 2005. Hydrolysis of raw tuber starches by amylase of Aspergillus niger AM07 isolated from the soil. African Journal of Biotechnology. 4 (1): 19-25. Rickard J. E., Asaoka, J.M.V. & Flanshard, M. 1991. Review of the physicochemical properties of cassava starch. Trop. Sci. 31:189-207. Roy, I. & Gupta, M.N. 2004. Hydrolysis of starch by a mixture of glucoamylase and pullulanase entrapped individually in calcium alginate beads. Enzyme Microb. Technol. 34: 2632. Shiau, J.R., Hung, H.C. & Jeang, C.L. 2003. Improving the thermostability of raw starch digesting amylase from a Cytophaga sp. by site directed mutagenesis. Appl. Environ. Microbiol. 69:23832385. Singh, H. & Soni S.K. 2001. Production of starch gel digesting amyloglucosidase by Aspergillus oryzae HS-3 in solid state fermentation. Process Biochem. 37:453459. Soemitro, S. 2005. Engineering of Saccharomycopsis fibuligera -amylase. The first symposium on carbohydrate enzyme bioengineering. Bandung, 11 January 2005. Soemitro, S. 1996. Produksi enzim pemecah pati. Menristek: Seminar hasil RUT. Serpong, 9-12 Januari 1996. Tester, R.F., Karkalas, J. & QI, X. 2004. Starch structure and digestibility enzymesubstrate relationship. Worlds Poultry Science Journal. 60: 186-195 van der Maarel, M.J.E.C., van der Veen, B., Uitdehaag, J.C.M., Leemhuis, H. & Dijkhuizen L. 2002. Properties and applications of starch-converting enzymes of the -amylase family. J. Biotechnol. 94: 137155. Xiaohan, Z. & Kaplan, M.L. 1997. Soluble amylose cornstarch is more digestible than soluble amylopectin potato starch in rats. J. Nutr. 127: 13491356. Zenghong, C. 2003. Physicochemical properties of sweet potato starches and their application in noodle products. Ph.D. Thesis. University of Wageningen. The Netherlands.