You are on page 1of 5

http://advokat-rgsmitra.

com
Tanya-Jawab Hukum

Pertanyaan Seputar Yayasan

Berdasarkan pengamatan kami dalam praktek dalam memberi saran hukum


seputar lingkup hukum Yayasan, berbagai pertanyaan yang hampir mirip & sering
diajukan klien kami usahakan untuk dirangkum dalam satu kesatuan, sebagaimana
uraian di bawah ini. Rangkuman pertanyaan dan jawaban yang kami tuangkan
secara tertulis dimaksudkan agar masyarakat pembaca mudah memahami atau-pun
sekedar menambah pengetahuan hukum yang berkaitan dengan aspek hukum
Yayasan, baik terhadap Yayasan yang telah didirikan sebelum berlakunya UUY
maupun setelah berlakunya UUY ataupun bagi masyarakat yang ingin mendirikan
Yayasan baru berdasarkan Undang-Undang No.16 tahun 2001 yang telah
disempurnakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004.

1. PERTANYAAN :
suatu YAYASAN yang dalam pendiriannya telah di-prakarsai oleh 3 orang,
dimana salah satu diantara pendiri tersebut adalah memegang jabatan selaku
Direksi & Karyawan PT. OK. Apakah dimungkinkan adanya penggabungan
antara Yayasan dengan PT. OK yang sekarang ini telah berjalan ?

JAWAB :
a. Bahwa, untuk susunan pendiri dari Yayasan sebaiknya terpisah dengan
susunan pendiri dari PT.OK & maksud dari pemisahan ini untuk
menghindari tumpang-tindih manajemen & ketidak-pastian hukum dalam
melaksanakan kegiatan usaha sesuai tujuan dari masing-masing Badan
Hukum antara PT dan Yayasan berdasarkan Undang-Undang ; selain itu
b. Terdapat perbedaan prinsipil antara Perseroan Terbatas & Yayasan,
terutama dalam hal TUJUAN dari para pendiri untuk mendirikan masing-
masing Badan Hukum tersebut, antara lain :
1. PT memiliki tujuan utama memperoleh keuntungan sebesar-
besarnya dari adanya pengumpulan saham dari para pemegang
saham atau persero, yang disetorkan pertama kali oleh
pemegang saham atau dibeli oleh para investor melalui pasar
modal, untuk menjalankan suatu kegiatan usaha yang
dijalankannya oleh PT dimaksud, sedangkan
2. Yayasan hampir sama dengan PT, yaitu ada penggabungan
uang, kekayaan, dan ada harta yang dipisahkan dari kekayaan
pribadi pendiri dan menjadi kekayaan pertama dan tersendiri
bagi Yayasan. Namun Yayasan didirikan sama sekali bukan
bertujuan untuk mencari keuntungan atau tidak berorientasi
bisnis [mencaari laba], melainkan didirikan untuk tujuan
SOSIAL, KEAMAAN & KEMANUSIAAN [Pasal 1 ayat 1 UUY]
c. Dasar hukum dari masing-masing badan hukum adalah berbeda, dimana
PT & tunduk pada Ketentuan Undang-Undang No.1 Tahun 1995 mengenai
Perseroan Terbatas, dan Yayasan tunduk pada ketentuan Undang-Undang
No.16 Tahun 2001 tentang YAYASAN beserta perubahannya yaitu
Undang-Undang No.26 Tahun 2004

2. Bagaimanakah susunan & struktur organisasi dari Yayasan yang didirikan?


http://advokat-rgsmitra.com
Tanya-Jawab Hukum

JAWAB : Berdasarkan UUY, maka organ yang harus ada pada Yayasan terdiri
dari :
a. Organ Pembina ; diperkenankan terdiri dari 1 orang
b. Organ Pengurus ; diangkat oleh Pembina, biasanya terdiri dari Ketua,
Sekretaris & Bendahara ) untuk pembentukan organ pada badan
pengurus merupakan keputusan Ketua dan merupakan hak perogratif
yang bersangkutan untuk membentuk serta menentukan para pengurus
Yayasan.
c. Organ Pengawas ; minimum 1 orang.

Yayasan Sebagai Suatu Badan Hukum


Yang Terdiri Atas Kekayaan Yang Dipisahkan
Dan Diperuntukan Untuk Mencapai Tujuan /
Kegiatan Yayasan sesuai Anggaran Dasar.

PEMBINA,
PENGURUS, PENGAWAS,
Min. 1 Orang biasanya bisa Min. 1 Orang
terdiri dari
1. Ketua
Umum
2. Sekretaris

3. Apa sajakah larangan yang harus diperhatikan bagi Organ Yayasan :


a. Badan Pembina, Pengurus dan Pengawas Yayasan dilarang untuk
1. Merangkap jabatan ganda pada organ Yayasan atau tidak boleh
merangkap jabatan yang berbeda pada Yayasan dimaksud.
2. Dilarang Merangkap sebagai Direksi atau Pengurus, dan Anggota
Dewan Komisaris atau Pengawas dari suatu Badan Usaha yang
didirikan oleh Yayasan itu sendiri yang kegiatannya sesuai dengan
maksud dan tujuan yayasan ; Misalkan dalam suatu hal YAYASAN
HARTA memiliki kekayaan yang cukup besar. Untuk mempertahankan
kelangsungan tujuan Yayasan, telah diputuskan untuk menyertakan
saham Yayasan Harta sebesar 25% dari seluruh kekayaan Yayasan
kepada PT. Subur, dimana dari keikutsertaan saham ini, PT. Subur
akan memberi deviden yang mencukupi bagi kelangsungan tujuan
Yayasan Harta. Larangan disini, yaitu Anggota Pembina, Pengurus &
Pembina Yayasan HARTA, tidak diperkenankan untuk menjadi Direksi
atau-pun Komisaris pada PT. Subur, baik dalam kedudukannya secara
pribadi maupun dalam kedudukannya selaku salah satu
OrganYayasan.
4. Sesuai tujuan kegiatan Yayasan yang diprakarsai oleh para pendiri, maka
kegiatan Yayasan yang akan didirikan adalah untuk melaksanakan
kegiatan/aktivitas yang misalnya meliputi kegiatan seperti :
a. Menyelenggarakan Pendidikan pada salah satu bidang keahlian tertentu
[meningkatkan skill].
b. Menyelenggarakan Pendidikan untuk meningkatkan pemahaman dalam
bidang hukum seputar Hak Cipta atas hasil karya seni.
http://advokat-rgsmitra.com
Tanya-Jawab Hukum

c. Menyelenggarakan Pendidikan untuk meningkatkan pemahaman secara


objektif terhadap suatu karya cipta foto yang bermakna porno atau tidak,
sesuai dengan norma kesusilaan, ketertiban umum dan Undang-Undang.
d. Menyelenggarakan pameran hasil karya seni kepada masyarakat.
Berdasarkan contoh tujuan Yayasan tersebut diatas, termaksud klasifikasi tujuan
apakah Yayasan yang akan didirikan?

JAWAB :
a. Bahwa sesuai ulasan [singkat] dari kegiatan yang akan dilaksanakan oleh
yayasan diatas, maka Yayasan yang akan didirikan adalah memiliki
Tujuan Sosial, dengan lingkup kegiatan untuk menyelenggarakan
kegiatan Pendidikan In-formal.
b. Jika tujuan kegiatan Yayasan termaksud dalam lingkup pendidikan
formal, sebaiknya Yayasan memperoleh izin dari Departemen
Pendidikan Nasional, setelah akta pendirian Yayasan memperoleh status
Badan Hukum [dari Departemen Kehakiman & HAM].
5. Apa-apa sajakah yang penting untuk diperhatikan dalam menjalankan tujuan /
kegiatan Yayasan, yang berkaitan dengan harta / kekayaan Yayasan ?
JAWAB :
a. Yayasan selaku Badan Hukum, yang merupakan suatu ciri pokok dari
kekayaan Yayasan disini yaitu adanya kekayaan yang terpisah dari
kekayaan pribadi para pendiri & dalam prakteknya diberikan untuk
disumbangkan kepada Yayasan, yang menjadi modal dasar [awal] dari
Yayasan bersangkutan, untuk menjalankan tujuan Yayasan.
b. Setelah dalam menjalankan kegiatan usaha / tujuan Yayasan, apabila
ternyata kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan
lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan Undang-Undang, adalah
Dilarang untuk Dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak
langsung kepada Pembina, Pengurus Pengawas, Karyawan atau pihak
lain yang memiliki kepentingan dengan Yayasan.
c. SUATU PENGECUALIAN [berdasarkan Pasal Pasal 5 Undang-Undang
No.26 Tahun 2004] larangan pembagian/pemberian kekayaan Yayasan
dalam bentuk gaji, upah, honorarium, atau bentuk lain yang dapat dinilai
dengan uang, BOLEH diberikan kepada PENGURUS, dengan syarat :
1. Pemberian ini ditetapkan pada Anggaran Dasar Yayasan
2. Pengurus yang menerima gaji, upah, honorarium ini bukan
termaksud jajaran Pendiri Yayasan & Tidak Terafiliasi dengan
Pendiri, Pembina dan Pengawas
3. Personil Pengurus ini melaksanakan kepengurusan Yayasan
Secara Langsung dan Penuh, dimana
4. Besarnya jumlah Pemberian gaji, upah dan honorarium ini harus
sesuai dengan kemampuan Yayasan.
http://advokat-rgsmitra.com
Tanya-Jawab Hukum

Analisa Terhadap Larangan Pengalihan Barang & Kemungkinan Pengalihan


Pasal 5 Undang-Undang Yayasan menyatakan bahwa Kekayaan Yayasan baik
berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan
Undang-undang ini, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak
langsung kepada Pembina, Pengurus, Pengawas, karyawan, atau pihak lain yang
mempunyai kepentingan terhadap Yayasan. Pasal ini menegaskan LARANGAN
pengalihan terhadap kekayaan Yayasan dalam bentuk apapun yang dilaksanakan
baik dengan cara penjualan, hibah, penjaminan, gadai dan berbagai upaya bentuk
pengalihan hak. Adapun definisi barang menurut hukum meliputi :

Berwujud [mobil, computer


dan sebagainya]
Bergerak

Benda/ Tidak Berwujud [hak atas


Barang kekayaan intelektual [mis.hak cipta,
merek], nama baik Yayasan, piutang,
hutang, bunga atau keuntungan yang
akan diperoleh dikemudian hari]

Tidak Bergerak
[contohnya tanah dan
bangunan, kapal laut
yang beratnya lebih
dari 10.000 ton]

a. Namun demikian, larangan pengalihan barang pada Pasal 37 ayat 1.b. : [1]
Pengurus tidak berwenang : (a) mengikat Yayasan sebagai penjamin utang ; (b)
mengalihkan kekayaan Yayasan kecuali dengan persetujuan Pembina; dan (c)
membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain. [2] Anggaran
Dasar dapat membatasi kewenangan Pengurus dalam melakukan perbuatan
hukum untuk dan atas nama Yayasan. Ketentuan bisa ditafsirkan adanya
kemungkinan untuk dialihkan oleh Badan Pengurus, yang menyatakan bahwa
“Pengurus tidak berwenang untuk mengalihkan kekayaan Yayasan KECUALI
dengan persetujuan pembina” & yang berdasarkan penafsiran a-contrario bisa
kita nyatakan bahwa apabila badan pembina menyetujui pengalihan kekayaan
Yayasan, maka pengurus diperkenankan melakukan pengalihan kekayaan
dimaksud.
b. Dari kedua Pasal 5 & Pasal 37 ayat 1.b telah memperlihatkan adanya benturan
aturan yang saling bertentangan, namun keadaan ini secara kebetulan ada
dalam Undang-Undang Yayasan ) Sesuai hasil seminar Yayasan yang
diselenggarakan oleh PK2HE & Pengadilan Negeri Sukabumi, telah disimpulkan
bahwa ketentuan Undang-Undang Yayasan ini banyak yang tidak “membumi”
dan sulit untuk diterapkan.
c. Dalam kenyataannya pengalihan kekayaan Yayasan sesuai pengamatan dalam
praktek, biasanya tetap berlangsung atau tidak bisa dihindari. Misalkan
penjualan peralatan operasional Yayasan, yang semata-mata dilakukan untuk
meremajakan peralatan yang mulai usang, dimana tindakan pengalihan ini
http://advokat-rgsmitra.com
Tanya-Jawab Hukum

dilakukan untuk meningkatkan efektifitas kerja Yayasan [bukan untuk


memperoleh keuntungan pribadi Pengurus Yayasan] dan untuk selanjutnya
d. Berdasarkan pembatasan ini, untuk itu kami sarankan agar hal-hal yang
berkaitan dengan kewenangan Pengurus dalam mengalihkan kekayaan
Yayasan agar dituangkan secara rinci dalam AD/ART Yayasan, baik dalam hal
kewenangan dan pembatasan-pembatasannya, dan hal utama untuk
diperkenankannya pengalihan tersebut semata-mata untuk menjalankan tujuan
Yayasan sebagai hal yang utama.