You are on page 1of 16

1

BATAS GARIS KEMISKINAN:


KASUS KOTA BANDA ACEH
1



Aliasuddin
2


Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala




ABSTRACT

Poverty is main problem not only in developing countries but also in developed
countries. This problem is very serious in developing countries because almost two third
of the population are below the poverty line. To overcome the problem, every
government of developing countries tries to conduct some policies that can be used to
decrease the poverty problem. Some researchers believe that the trickle down effects are
effective to eliminate the poverty. But, the recent studies show that the theorem is not
working in developing countries because the owner of money will generate their income
but not the income of the poorest.
To alleviate the poverty, it is needed to know the poverty line in each region or
country. To obtain the poverty line, the empirical research should be conducted and the
results can be used to measure the poverty line. This research uses extended linear
expenditure system. The model is estimated by using seemingly unrelated regression
equations (SURE).
The results show that the average poverty line is Rp 115.157,08. This poverty line
is reasonable because to live in Banda Aceh, everyone needs at least Rp 115.157,08 per
month. But the poverty lines for the household and its members are not appropriate to

1
Penelitian yang dibiayai oleh Universitas Syiah Kuala, 1998.
2
Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.
2
show the real poverty line because the values are lower than the average one. This is
caused by the sample size used in this research.
The limitation of this research is sample size. To obtain the best performance of
this model it is needed further research that can represent the real value of poverty line by
obtaining the appropriate sample size. Appropriate sample size usually can eliminate the
econometric problems in estimate results.

Keywords: poverty line, welfare, SURE.



Kemiskinan merupakan persoalan pembangunan ekonomi tidak hanya di negara
miskin tetapi juga negara maju. Persoalannya sama namun dimensinya berbeda antara
negara maju dan negara miskin. Persoalan kemiskinan di negara maju merupakan bagian
terkecil dalam komponen masyarakat mereka tetapi bagi negara berkembang persoalan
menjadi lebih kompleks karena jumlah penduduk miskin hampir mencapai setengah dari
jumlah penduduk. Bahkan ada negara-negara sangat miskin mempunyai jumlah
penduduk miskin melebihi dua pertiga dari penduduknya (Booth dan Sundrum, 1987).
Persoalan kemiskinan ini menjadi salah satu target kebijakan pembangunan di
setiap negara. Untuk mengatasi kemiskinan diperlukan berbagai upaya pembangunan
dan kebijakan yang mendukung pelaksanaan pembangunan tersebut. Usaha yang telah
dilakukan tersebut sudah dapat dilihat dalam bentuk peningkatan pendapatan per kapita.
Namun, peningkatan per kapita semata belum menjadi terjadinya pendistribusian tingkat
kesejahteraan yang relatif merata (Sen, 1983). Ada sebagian penduduk yang masih
belum dapat memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang ada sehingga mereka tetap
miskin.
3
Kesenjangan pendapatan terjadi sebagai akibat adanya masyarakat yang memiliki
akses terhadap pembangunan dan yang tidak memiliki akses. Kelompok kedua ini tetap
miskin dan tidak mampu menaikkan taraf hidup mereka sedangkan kelompok pertama
terus mengalami peningkatan pendapatan dan kesejahteraan sehingga jurang antara si
kaya dan si miskin ini mengalami pelebaran yang tidak mungkin untuk terus dibiarkan
karena akan menimbulkan berbagai persoalan sosial politik di masa yang akan datang.
Untuk itu perlu perhatian yang cukup dari pemerintah agar kelompok kedua ini dapat
pula menerima manfaat yang ditimbulkan oleh pembangunan tersebut.
Teori penetesan ke bawah menjelaskan bahwa hasil-hasil pembangunan akan dapat
dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat melalui tahapannya tersendiri. Namun teori
tetesan ke bawah ini banyak mendapat kritikan karena dengan adanya akumulasi modal
pada pihak tertentu dan kegiatan penahan laba kemudian diinvestasikan kembali
menyebabkan akumulasi kekayaannya terjadi pada si kaya sedangkan si miskin tetap
tidak mengalami peningkatan kesejahteraan.
Terobosan telah dilakukan oleh pemerintah untuk memotong tetesan ke bawah ini
dengan tetesan langsung kepada si miskin. Salah satu kebijakan yang telah dilakukan
oleh pemerintah tersebut misalnya adalah pembagian aset produktif melalui kegiatan
Inpres Desa Tertinggal (IDT). Namun, usaha ini relatif tidak mengalami kemajuan
karena masih adanya anggapan bahwa pemberian modal oleh pemerintah dianggap oleh
sebagian masyarakat sebagai salah satu bentuk pemberian sehingga tidak perlu
diinvestasikan. Akibatnya posisi si miskin tetap miskin meskipun telah dilakukan upaya
perbaikan. Usaha lanjutan masih banyak dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar
masyarakat miskin menjadi lebih sejahtera.
4
Salah satu sebab terjadinya kegagalan dalam pemberian bantuan tersebut adalah
tidak adanya data yang jelas tentang status masyarakat miskin terutama sekali berapa
batas garis kemiskinan tersebut sehingga seseorang dapat dikategorikan sebagai miskin
atau tidak miskin. Persoalan ini sangat mendasar karena batas kemiskinan ini sangat
penting agar alokasi dana yang ada tetap sasaran dan tepat penggunaan. Tanpa batas
garis kemiskinan akan membuka peluang bagi siapa saja untuk menerima bantuan
pemerintah meskipun pada dasarnya mereka tidak miskin dan tidak berhak menerima
bantuan tersebut.
Berdasarkan pada pentingnya batas garis kemiskinan ini maka diperlukan upaya
empiris untuk mengetahui batas garis kemiskinan ini dengan tepat dan jelas dalam satuan
uang. Satuan uang lebih mudah diukur dan bersifat universal dibandingkan dengan
satuan makanan pokok karena adanya perbedaan makanan pokok antara satu daerah
dengan daerah lainnya.
Para ahli telah berusaha untuk memberikan batasan yang jelas tentang garis
kemiskinan ini. Ravallion (1992) misalnya berusaha untuk menentukan batas kemiskinan
yaitu menghitung rasio dari jumlah orang miskin dengan total jumlah populasi dalam
suatu masyarakat. Pengukuran ini dikenal dengan istilah Head Count Ratio dengan
formulasi sebagai berikut:

n
Qm
P =
0
(1)


di mana P
0
adalah indeks kemiskinan (poverty index), Q
m
adalah jumlah orang miskin,
dan n adalah total populasi.
5
Metode ini mempunyai kelemahan yaitu pergeseran tingkat kemiskinan dalam
kelompok jumlah orang yang miskin tersebut tidak terlihat sehingga orang miskin yang
bertambah miskin dalam kelompok miskin tersebut tidak tergambarkan dalam indeks ini.
Penyelesaian terhadap permasalah ini dilakukan dengan menggunakan metode The
Average Depth of Poverty. Metode ini dapat dilakukan dengan mengukur pendapatan
rata-rata terlebih dahulu dari kelompok miskin tersebut, Y. Selanjutnya, dilakukan
penghitungan kemiskinan dengan menggunakan rumus berikut:

Z
Y Z
I

= (2)


di mana Z adalah garis kemiskinan, Y adalah pendapatan rat-rata kelompok miskin, dan I
adalah rasio jurang pendapatan.
Perbaikan ini terus dilakukan dengan menggunakan pendekatan Poverty Gap Index
(PGI). Indeks ini menggabungkan dua unsur dari rasio jumlah orang miskin (P
0
) dan
rasio jurang pendapatan. Perumusan ini dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut:

I P P
0 1
= (3)


Jika persamaan (2) disubstitusikan ke persamaan (3) diperoleh PGI sebagai berikut:

|
.
|

\
|
=
Z
Y Z
n
Q
P
m
1
(4)


Pengukuran yang dinyatakan dalam persamaan (4) mempunyai kelemahan yaitu
belum mencakup sensitivitas dari kelompok masyarakat paling miskin dari kelompok
miskin tersebut. Untuk mengatasi ini dibuat perumusan baru yaitu:
6

=
|
.
|

\
|
=
m
Q
i
x
x
Z
Y Z
n
P
1
1
(5)

Persamaan (5) bersifat umum karena pangkat x dari persamaan tersebut
menunjukkan tingkatnya. Jika x = 0 misalnya maka P
x
akan berubah menjadi P
0
, jika x =
1 maka P
x
akan berubah menjadi P
1
.
Persamaan (5) ini masih mempunyai kelemahan karena tidak mampu
menggambarkan batas garis kemiskinan dalam bentuk nilai nominal yang diukur dalam
uang. Untuk mengatasi ini banyak usaha telah dilakukan terutama sekali dengan
menerapkan sistem pengeluaran dalam menentukan batas garis kemiskinan tersebut.
Salah satu usaha ini telah dilakukan oleh de Vos (1991) dengan memberikan
definisi batas kemiskinan. Menurutnya batas garis kemiskinan adalah suatu keadaan di
mana seseorang tidak mampu mencapai salah satu atau lebih tujuan-tujuannya pada suatu
tingkat yang dapat dikatakan cukup. Suparta (1997) telah menerapkan sistem
pengeluaran ini untuk mengukur tingkat kemiskinan di Aceh Besar. Penelitian ini pun
akan menggunakan metode yang sama dalam mementukan batas garis kemsikinan
tersebut.


METODE PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan di Kota Banda Aceh dengan bentuk penelitian adalah studi
kasus karena jumlah sampel yang relatif terbatas. Penelitian ini dilakukan terhadap desa
bekas penerima Inpres Desa Tertinggal (IDT). Pertimbangannya bahwa di desa tersebut
terdapat orang miskin. Kecamatan yang dipilih sebagai kecamatan sampel adalah
7
Kecamatan Kuta Alam, Meuraxa, dan Syiah Kuala. Dari ketiga kecamatan ini dipilih
desa-desa yang berstatus sebagai bekas penerima IDT. Desa-desa sampel dalam
penelitian ini adalah Desa Gampong Pande, Kecamatan Kuta Alam, Desa Ulee Lheue,
Desa Deah Baro, Desa Gampong Baro, Kecamatan Meuraxa, Desa Ceurih dan Desa Alue
Naga, Kecamatan Syiah Kuala.
Selanjutnya dipilih sampel rumah tangga sebagai objek terkecil dalam penelitian
ini. Rumah tanggga ini adalah rumah tangga bekas penerima IDT baik kepala keluarga
tersebut laki-laki maupun perempuan. Dari setiap desa dipilih sebanyak lima kepala
keluarga, sehingga jumlah sampel keseluruhan adalah 30 orang.
Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data pendapatan dan pengeluaran
pada setiap alokasi penggunaan di samping data demografis lainnya yang dapat
dimanfaatkan dalam estimasi batas kemiskinan. Estimasi dilakukan dengan menggunkan
metode SURE (Seemingly Unrelated Regression Equations). Metode SURE diterapkan
pada model sistem pengeluaran linear yang telah dimodifikasi karena telah memasukkan
data demografi dalam estimasinya (Howe, 1975). Estimasi dilakukan dengan persamaan
dasar dengan perumusan sebagai berikut:

|
|
.
|

\
|
+ =

+
=
1
1
n
j
j i i i
y X | (6)


di mana n+1 adalah kategori barang,

+
=
=
1
1
1
n
i
i
| , dengan nilai
i
> 0 untuk semua i.
Dengan demikian fungsi yang akan diestimasi adalah:

Y X
i i i
| o + = dengan i = 1,2, ... n. (7)

8
di mana

+
=
=
1
1
n
j
j i i i
| o disebut juga sebagai batas garis kemiskinan,
j
merupakan
pengeluaran subsisten yang sejalan dengan batas garis kemiskinan. Pengukuran batas
garis kemiskinan dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:

+
=
= I
1
1
n
j
j
(8)



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


a. Karakteristik Responden

Umur responden dalam penelitian ini terbanyak adalah 35 hingga 39 tahun dengan
jumlah responden sebanyak enam orang dari 30 sampel. Paling sedikit adalah pada umur
55 hingga 59 tahun dengan jumlah responden sebanyak satu orang. Selanjutnya tingkat
pendidikan responden dalam penelitian ini yang terbanyak adalah hanya tamat sekolah
dasar dengan jumlah responden sebanyak 17 orang atau 56,7 persen, sedangkan yang
paling sedikit adalah tamat sekolah lanjutan pertama dengan jumlah responden sebanyak
dua responden atau 6,7 persen. Rendahnya tingkat pendidikan ini sesuai dengan kondisi
umum masyarakat miskin yang berpendidikan rendah.
Bila ditinjau dari segi pekerjaan, maka jumlah terbanyak adalah nelayan dan
industri kecil dengan jumlah responden masing-masing sebanyak tujuh orang dan paling
sedikit adalah buruh bangunan dengan jumlah satu orang responden. Selain mempunyai
pekerjaan utama, banyak dari responden ini mempunyai pekerjaan sampingan. Industri
kecil menempati urutan pertama sebagai pekerjaan sampingan dengan jumlah responden
sebanyak tujuh orang atau 23,33 persen, sedangkan yang paling sedikit adalah buruh
9
bangunan dengan jumlah responden sebanyak satu orang. Pekerjaan sampingan ini harus
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang belum mencukupi dari sumber
pendapatan pekerjaan utama.
Jumlah tanggungan responden terbanyak adalah empat orang dan paling sedikit
delapan dan sembilan orang dengan jumlah responden masing-masing sebanyak delapan
dan satu orang. Jumlah tanggungan yang relatif tinggi ini memperberat biaya
pengeluaran bagi keluarga miskin tersebut.
Sementara itu, jumlah rata-rata pendapatan responden yang tertinggi berasal dari
nelayan dengan nilai sebesar Rp 101.250, diikuti oleh pendapatan dari jasa dengan nilai
sebesar Rp 83.166,67. Nilai pendapatan rata-rata ini secara lebih lengkap disajikan di
Tabel 1.

Tabel 1. Pendapatan Rata-rata Responden Menurut Sumber Pendapatan


Sumber Pendapatn Jumlah Responden Pendapatan Rata-rata (Rp)


Pertambakan 5 67.460,00
Peternakan 9 42.638,89
Perdagangan 6 74.750,00
Jasa 6 82.166,67
Industri Kecil 9 76.611,11
Nelayan 4 101.250,00



Pengeluaran rumah tangga yang terbesar pada makanan dapat digunakan sebagai
indikator adanya tingkat kemiskinan. Kondisi ini juga terjadi pada penelitian ini di mana
pengeluaran rata-rata terbesar dialokasikan untuk keperluan makanan dengan nilai
sebesar Rp 117.749,17. Walau demikian, responden ini tidak melupakan pendidikan
10
terbukti dari besarnya pengeluaran untuk pendidikan. Pengeluaran untuk pendidikan ini
menempati urutan kedua dengan nilai rata-rata sebesar Rp 18.517,50. Pengeluaran ini
dapat dilihat dengan terperinci pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Pengeluaran Responden Menurut Jenis


Jenis Pengeluaran Rata-rata Pengeluaran (Rp)


Makanan 117.749,17
Bahan Bakar 8.353,33
Listrik 3.416,67
Keperluan Rumah Tangga 4.768,33
Pendidikan 18.517,50
Transportasi 4.875,00
Kesehatan 2.623,33
Pakaian 15.738,33
Lain-lain 733,33



Karakteristik lainnya adalah tentang tingkat pendidikan anak responden. Ada
sebanyak 14 responden memiliki anak yang belum atau tidak pernah sekolah, sebanyak
31 orang tidak tamat sekolah dasar, 14 orang tamat sekolah dasar, 17 orang tamat sekolah
lanjutan pertama, dan 15 orang tamat menengah atas. Gambaran jelas tentang pendidikan
anak responden ini disajikan di Tabel 3.











11
Tabel 3. Tingkat Pendidikan Anak Responden


Tingkat Pendidikan
Anak _______________________________________________________________

Belum/Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP SLTA
Pertama 3 6 4 5 8
Kedua 2 10 2 5 4
Ketiga 5 5 3 3 3
Keempat 2 6 3 2 0
Kelima 1 2 2 1 0
Keenam 1 2 0 1 0
Ketujuh 1 0 0 0 0
Kedelapan 1 0 0 0 0
Jumlah 14 31 14 17 15



b. Hasil Estimasi


Ada sembilan kelompok pengeluaran responden dalam penelitian ini. Estimasi
dilakukan terhadap semua kelompok. Kelompok tersebut adalah pengeluaran untuk
makanan, bahan bakar, listrik, keperluan rumah tangga, pendidikan, transportasi,
kesehatan, pakaian, dan lain-lain. Hasil estimasi terhadap kelompok pengeluaran ini
disajikan di Tabel 4.
Hasil estimasi yang ditampilkan di Tabel 4 hanya sebagian yang signifikan baik
secara teori maupun secara statistik. Secara teori semua variabel seharusnya bertanda
positif, tetapi hasil estimasi ini ada yang negatif dan bahkan tidak sesuai secara teori. Hal
ini terjadi karena sampel yang digunakan dalam penelitian ini relatif kecil. Persamaan
pengeluaran untuk pendidikan yang mempunyai hasil estimasi relatif lebih baik
dibandingkan dengan persamaan lainnya. Pada persamaan ini ada tiga variabel yang
signifikan baik secara teori maupun secara statistik. Pada persamaan pengeluaran untuk
12
keperluan rumah tangga, ada dua variabel yang signifikan secara teori dan statistik,
sedangkan pada persamaan pengeluaran untuk transportasi dan pakaian hanya ada satu
variabel yang signifikan. Walau demikian, persamaan ini hanya langkah awal untuk
menghitung batas garis kemiskinan sehingga masih memungkinkan untuk menggunakan
persamaan-persamaan ini untuk menghitung garis kemiskinan tersebut.

c. Batas Garis Kemiskinan


Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan di Tabel 4 maka dihitunglah batas garis
kemiskinan responden dalam penelitian ini. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan
persamaan (8). Secara keseluruhan rata-rata garis kemiskinan diperoleh nilai sebesar
Rp 115.157,08. Batas garis kemiskinan ini merupakan suatu besaran yang apabila ada
penduduk dengan pendapatan kurang dari nilai tersebut dapat dinyatakan sebagai miskin.
Sebaliknya, bila lebih tinggi dari nilai tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai tidak
miskin.
Batas garis kemiskinan ini bervariasi sesuai dengan jumlah tanggungan atau jumlah
anggota keluarga dalam keluarga sampel. Sebagai gambaran, batas garis kemiskinan
untuk keluarga dengan jumlah tanggungan satu orang adalah sebesar Rp 165.107,85.
Sedangkan untuk keluarga dengan jumlah anak dua orang sebesar Rp 56.265,33. Nilai
ini seharusnya lebih tinggi dari nilai anggota keluarga satu orang. Ada beberapa hal
yang menyebabkan terjadinya persoalan ini seperti ada kemungkinan anggota keluarga
yang telah berusia sekolah tetapi tidak sekolah namun bekerja untuk membantu
pendapatan keluarga sehingga jumlah tanggungan menurun. Kemungkinan lain adalah
hasil estimasi persamaan yang kurang sesuai secara teori dan statistik.
13
Halaman ini untuk Tabel 4






















14
Batas garis kemiskinan untuk keluarga dengan jumlah anak tiga orang adalah
sebesar Rp 68.667,95. Keadaan ini hampir sama dengan nilai batas kemiskinan untuk
dua anak. Keadaan ini mungkin saja disebabkan oleh dua penyebab yang telah
disebutkan pada keluarga dengan dua anak.
Selanjutnya, untuk keluarga dengan anak sebanyak empat, lima, enam, tujuh, dan
delapan dengan keadaan yang hampir sama tidak rasional seperti pada persoalan awal.
Nilai masing-masing batas garis kemiskinan ini adalah Rp 141.019,87; Rp
128.380,33; Rp 120.406,16; Rp 91.197,46; dan Rp 150.211,71. Walaupun nilai ini
relatif tidak menunjukkan rasionalitas tetapi telah dapat memberikan gambaran secara
rata-rata sangat rasional bahwa pendapatan yang paling sedikit untuk dapat hidup adalah
Rp 115.157,08 per orang per bulan. Perincian batas garis kemiskinan rata-rata dan
menurut jumlah anggota keluarga ditampilkan di Tabel 5.

Tabel 5. Batas Garis Kemiskinan Rata-rata dan Menurut Anggota Keluarga (Rp)


Batas Kemiskianan Rata-rata 115.157,08
Satu Anak 165.107,05
Dua Anak 56.265,33
Tiga Anak 68.667,95
Empat Anak 141.019,87
Lima Anak 128.380,33
Enam Anak 120.406,16
Tujuh Anak 91.197,46
Delapan Anak 150.211,71



PENUTUP

Hasil estimasi memperlihatkan adanya persoalan pelanggaran terhadap asumsi
model regresi linear klasik. Asumsi utama adalah adanya heteroskedastisitas dalam data
15
yang digunakan dalam penelitian ini. Akibat dari sampel yang relatif kecil sehingga
distribusi sampel belum menggambarkan kondisi populasi dengan baik. Akibat
selanjutnya adalah banyak persamaan yang kurang signifikan tidak hanya dari segi
statistik tetapi juga dari segi teori. Hasil estimasi memberikan gambaran yang kurang
tepat dalam nilai batas kemiskinan terutama untuk keluarga dengan jumlah tanggungan
tertentu. Namun, secara umum hasil estimasi batas garis kemiskinan masih sangat
relevan untuk digunakan sebagai patokan awal untuk menentukan status tingkat
kemiskinan penduduk.
Keterbatasan utama dalam penelitian ini adalah jumlah sampel yang digunakan
dalam penelitian ini relatif kecil. Atas dasar ini maka diperlukan pelaksanaan penelitian
pada tahap berikutnya dengan metode yang sama tetapi jumlah sampel yang lebih besar
sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil penelitian
ini. penelitian lanjutan sangat penting karena krisis ekonomi telah menambah jumlah
penduduk miskin. Faktor berikutnya adalah situasi keamanan yang kurang kondusif telah
menambah jumlah penduduk miskin di Aceh.


REFERENSI


Booth, A. dan R.M. Sundrum. 1987. Distribusi Pendapatan, dalam A. Booth dan P.
McCawley (Eds.) Ekonomi Orde Baru. Jakarta: LP3ES.

de Vos, K. 1991. Microeconomic Definition of Poverty. Unpublished Ph.D. Dissertation.
Erasmus Universiteit.

Howe, H. 1975. The Extended Linear Expenditure System from Saving Assumption.
European Economic Review, 6, 305310.

Ravallion, M. 1992. Poverty Comparisons: A Guide to Concepts and Methods. LSMS
Working Paper # 88. World Bank.
16
Sen, A.K. 1983. Poor Relatively Speaking. Oxford Economics Paper, 35, 135169.

Sumardi, M. dan H.D. Evers. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta: Rajawali.

Suparta, I.W. 1997. Model Mikroekonometrika dalam Menganalisis Garis Kemiskinan
Rumah Tangga Penduduk Desa Tertinggal di Kabupaten Aceh Besar Propinsi
Daerah Istimewa Aceh. Tesis Tidak Dipublikasikan. Banda Aceh: Program Pasca
Sarjana Universitas Syiah Kuala.