Вы находитесь на странице: 1из 24

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang sakit harus terlebih dahulu mengetahui struktur dan fungsi setiap alat dari susunan tubuh manusia yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia merupakan dasar yang ppenting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Dengan mengetahui struktur dan fungsi tubuh manusia, seorang perawat professional dapat makin jelas menafsirkan perubahan yang terdapat pada alat tubuh tersebut. Jantung adalah organ penting dalam tubuh manusia yang difungsikan untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Darah yang di pompa ke seluruh tubuh melalui system peredaran darah membawa zat-zat sangat dibutuhkan oleh tubuh. Pemompaan darah dipicu oleh simpul SA yang terdapat di sebelah serambi kiri jantung. Untuk mengetahui aktuvitas elektris otot jantung diperlukan pencatatan atau perekaman dari permukaan tubuh. Perekaman dapat dilakukan pada permukaan tubuh sebab tubuh adalah konduktor yang baik. Perekaman ini dilakukan dengan menempelkan elektroda-elektroda pada lokasi tertentu yang disebut sandapat (lead) pada permukaan kulit pasien. Salah satu fungsi perekaman ini adalah mengetahui frekuensi detak jantung yang dinyatakan dengan satuan detak/ menit. Frekuensi memberikan informasi mengenai bagaimana keadaan jantung, cepat lambatnya impuls jantung, ada tidaknya gangguan pembentukan impuls dan gangguan fungsi jantung. Frekuensi detak untuk jantung normal yaitu antara 60-100X/ menit, takikardia adalah detak jantung yang lebih besar dari 100X/ menit, bradikardia adalah detak jantung yang lebih kecil dari 60X/ menit, takikardia abnormal

adalah detak jantung antara 140-250X/ menit, flutter adalah detak jantung antara 250-350X/ menit dan fibrilasi adalah detak jantung yang lebih besar dari 350X/ menit.

B. TUJUAN Makalah ini memiliki tujuan,yaitu: a. Tujuan umum Menjelaskan tentang Disritmia dan Asuhan Keperawatan pada klien dengan kasus Disritmia. b. Tujuan khusus 1.Menjelaskan tentang Disritmia 2.Menjelaskan tentang penyebab dari Disritmia. 3.Menjelaskan tentang manifestasi klinis dari Disritmia 4.Menjelaskan tentang patofisiologi dari Disritmia 5.Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang untuk Disritmia 6.Menjelaskan tentang komplikasi Disritmia 7.Menjelaskan tentang penatalaksanaan Disritmia 8.Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Disritmia C. SISTEMATIKA PENULISAN Untuk mendukung terhadap penyusunan makalah yang baik, makaMakalah

hendaknya disesuaikan dengan sistematika sebagai berikut : 1) Lembar Judul , memuat: a) Judul Makalah b) Nama c) Nama dan Tempat Perguruan Tinggi d) Tahun 2) Kata Pengantar 3) Daftar Isi
2

4) Batang Tubuh Makalah , terdiri dari : a) Pendahuluan Pendahuluan berisi pengantar ke permasalahan pokok yang memberikan gambaran tentang batasan dan tujuan penulisan. Isi pendahuluan + 15 %. Bab ini dibagi dalam 3 Sub Bab sebagai berikut : (1) Latar Belakang Memberikan penjelasan tentang manfaat/ pentingnya timbulnya Judul/ Topik untuk dibahas. (2) Ruang Lingkup Memberikan penjelasan tentang ruang lingkup permasalahanyang rnenjadi batasan pembahasan. (3) Maksud dan Tujuan Penulisan Memberikan penjelasan tentang maksud penulisan makalah dan tujuan berisi tentang hal yang diinginkan pada

penulisanmakalah, sesuai dengan konteks permasalahan yang akan dibahas. b) Pembahasan (Disritmia) Pembahasan merupakan isi dari makalah, berupa uraian yang relevan dengan ruang lingkup. Isi pembahasan +75%, dengan pembagian meliputi : (1) Uraian yang membahas pemecahan masalah sesuai dengan lsi topik. (2) Dalam menguraikan pembahasan ini dapat menggunakan bahan referensi yang resmi. (3) Pada dasarnya uraian tersebut adalah untuk menjawab permasalahan dengan alternatif pemecahan masalah.

c) Penutup Pada bab yang terakhir ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang pada dasarnya merupakan penegasan inti makalah yang dirumuskan dengan jelas, singkat, dan tegas. Isi penutup + 10%. (1) Kesimpulan Berisi jawaban dan permasalahan dalam bentuk resume atau ikhtisar dari permasalahan. (2) Saran Saran yang dimaksud di sini, merupakan usul atau pendapatdari penulis yang mengacu pada materi pembahasan. Hendaknya

dikemukakan secara jelas dan kemungkinan dapat dilaksanakan. d) Daftar Pustaka Merupakan acuan dalam penulisan makalah baik dari buku, surat

kabar, internet, dan sumber tertulis lainnya.

BAB II KONSEP TEORI

A. DEFENISI Disritmia (gangguan irama jantung) yaitu perubahan pada pembentukan dan/atau penyebaran eksitasi yang menyebabkan perubahan urutan eksitasi yang menyebebkan perubahan urutan eksitasi atrium atau ventrikel atau transmisi atrioventrikulor. Dimana, gangguan ini dapat mengenai frekuensi, keteraturan, atau tempat pembentukan potensial aksi. (Silbernagl, Stefan, dkk.2007.Teks buku kedokteran EGC Disritmia merupakan gangguan system hantaran jantung dan bukan struktur jantung. Disritmia dapat diidentifikasi dengan menganalisa gelombang EKG. Disritmia dinamakan berdassarkan pada tempat dan asal impuls dan mekanisme hantaran yang terlambat. Misalnya, disritmia yang berasal dari lobus sinus (modus SA) dan frekuensinya lambat dinamakan sinus bradikardia.Ada empat kemungkinan tempat asal disritma: nodus sinus, atrial, modus AV atau sambungan, dan ventrikel. Gangguan mekanisme hantaran yang mungkin dapat terjadi meliputi bradikardi, fluter, fibrilasi, denyut premature, dan penyekat jantung. (Brunner., Suddart. Keperawatan Medical-Bedah. Edisi 9, Jakarta: Buku Kedokteran EGC Disritmia jantung adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrikal abnormal atau otomatis. Disritmia bermacam-macam jenis berat dan efeknya pada fungsi jantung, dimana sebagian di pengaruhi oleh sisi asal (ventrikel atau supraventrikel). (Dongoes, E Marylynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien). Atlas Berwarna Patofisiologi,Jakarta:

B. ETIOLOGI Etiologi Disritmia dalam garis besarnya dapat disebabkan: 1. Peragangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi) 2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner, misalnya iskemia miokard, infark miokard). 3. Karena obat (intoksikasi antara lain oleh digitalis, quinidin, dan obatobat anti aritmia lainnya). 4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemi) 5. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang

mempengaruhi kerja dan irama jantung. 6. Gangguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat 7. Gangguan metabolik (asidosis,alkalosis) 8. Gangguan endokrin(hipertiroidisme,hipotiroidisme) 9. Gangguan irama jantung atau gagal jantung 10. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung 11. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi(fibrosis system konduksi jantung).

C. MANIFESTASI KLINIS Kebanyakan manifestasi klien dengan aritmia tidak disadari, sehingga terdeteksi pada saat rasa yang tidak nyaman seperti berdebar-

debar,palpitasi,atau adanya denyut jantung yang berturut-turut bertambah serta adanya irama denyut yang tidak teratur. keadan ini tidak terlalu membahayakan, jika tidak terjadi gangguan hemodinamik. Tetapi manifestasi klinik pada klien dengan aritmia yang berbahaya adalah klien merasakan nyeri dada, pusing, bahkan keadan yang lebih serius kemungkinan klien ditemukan meninggal mendadak. Hal itu dikarenakan pasokan darah yang

mengandung nutrient dan oksigen yang dibutuhkan kejaringan tubuh tidak mencukupi sehingga aktivitas/kegiatan metabolisme terganggu. Adapun penampilan klinis klien sebagai berikut: 1. Anxietas 2. Gelisah 3. Capek dan lelah serta gangguan aktivitas 4. Palpitasi 5. Nyeri dada 6. Vertigo, syncope 7. Tanda dan gejala sesak, crakles 8. Tanda hipoperfus

D. KOMPLIKASI Komplikasi disritmia berhubungan dengan keberadaannnya dalam tubuh, dan fungsinya yang tidak sesuai. Komplikasi berikut dapat timbul akibat aadanya disritmia: 1. Infeksi lokal (sepsis atau pembentukan hematoma dapat terjadi di tempat pemotongan vena atau pada penempatan disritmia di bawah kulit. 2. Disritmia-aktivitas ektovit ventrikel dapat terjadi akibat iritasi dinding ventrikel oleh elektroda. 3. Dapat terjadi perforasi miokardium atau ventrikiel kanan olkeh kateter. 4. Cetusan hilang secara mendadak akibat tingginya ambang vebtrikel. Malfungsi disritmia dapat terjadi akibat kegagalan satu atau beberapa komponen system cetusan. Adapun penyebab dari disritmia jantung biasanya satu atau gabungan kelainan berikut ini dalam system irama konduksi jantung yaitu: 1. Irama abnormal dari pacu jantung
7

2. Pergeseran pacu jantung dari nodus sinus sebagian lain dari jantung. 3. Blog pada tempat-tempat yang berbeda sewaktu menghantarkan impuls melalui jantung. 4. Jalur hantaran impuls yang abnormal mellui jantung. 5. Pembentukan yang spontan dari impuls abnormal pada hamper semua bagian jantung. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan disritmia adalah: 1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi). 2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme atau arteri koroner), misalnya iskemia miokard, impard miokard. 3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinudin, dan obat-obat anti disritmia lainnya. 4. Gangguan keseimbangn elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia). 5. Gangguan paada pengaturan susunan saraf autonom yang

mempengaruhi kerja dan irama jantung. 6. Gangguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat. 7. Gangguan metabolic (asedosis, alkalosis). 8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme). 9. Gangguan irama jantung akibat gagal jantung. 10. Gangguan irama jantung karena karniopaki atau tumor jantung. 11. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis system konduksi jantung).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG EKG: menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidak seimbangan elektrolit dan obat jantung. Monitor holder: gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (dirumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk

mengevaluasi fungsi pacu jantung/ efek obat antidisritmia. Foto dada: dapat menunjukkan pembesaran bayangan jantung

sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup. Skan pencitraan miokardia:dapat menunjukan area iskemik miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa. Tes stress latihan: dapat dilakukan untuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia. Elektrolit: peningkatan atau penurunan kalium, kalsium, dan magnesium dapat menyebabkan disritmia. Pemeriksaan obat: dapat menyebabkan toksisitas abat jantung, adanya obat jalanan, atau dugaan obat intraksi, contoh digitalis, quinidin, dll. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penurunan kadar tiroid serum dapat menyebabkan/meningkatkan disritmia Laju sedimentasi: peninggian dapat menunjukan proses inflamasi akut/aktif, contoh endokarditis sebagai factor pencetus untuk disritmia. GDA/nadi oksimetri: hipoksemia dapat menyebabkan/

mengeksasernasi disritmia.

F. KONSEP KEPERAWATAN Yang mencakup dasar data pengkajian pasien yaitu: 1. Aktivitas/ istirahat a. Gejala: kelemahan, kelelahan umum dank arena kerja. b. Tanda: perubahan frekwensi jantung/ TD dengan aktivitas/ olahraga. 2. Sirkulasi a. Gejala: riwayat IM sebelumnya/ akut (90%-95%

mengalami disritmia), kardiomiopati, penyakit katup jantung, hipertensi. b. Tanda: perubahan TD, contoh hipertensi atau hipotensi selama periode disritmia.

Nadi: mungkin tidak teratur, contoh denyut kuat: pulsus alternant (denyut kuat teratur/ denyut lemah); nadi bigeminal (denyut kuat tak teratur/ denyut lemah). Defisit nadi nadi (perbedaan antara nadi apical dan nadi radial).

Bunyi jantung: irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun.

Kulit: warna dan kelembaban berubah, contoh pucat, sianasis, berkeringat (gagal jantung, syok).

Haluaran urin: menurun bila curah jantung menurun berat. 3. Integritas ego

10

a.

Gejala: perasaan gugup (disertai takidisritmia), perasaan terancam. Stressor sehubungan dengan masalah medic.

b.

Tanda: cemas, takut, menolak, marah, gelisah, menangis.

4. Makanan/ cairan a. Gejala: hilang nafsu makan, anoraksia. Tidak toleran terhadap makanan (karena adanya obat), mual/ muntah, perubahan berat badan. b. Tanda: perubahan berat badan, edema, perubahan pada kelembaban kulit/ turgor, pernafasan krekels. 5. NeuroSensori a. Gejala: pusing, berdenyut, sakit kepala. b. Tanda: status mental/ sensori berubah, contoh disorientasi, bingung, kehilangan memori, perubahan pola bicara/ kesadaran, pingsan, koma. Perubahan perilaku, contoh, menyerang, letargi, alusinasi. Perubahan pupil (kesamaan reaksi terhadap sinar). Kehilangan reflex tendon dalam dengan disritmia yang mengancam hidup (takikardia ventrikel, bradikardi berat). 6. Nyeri/ ketidaknyamanan a. Gejala:nyeri dada,ringan sampai berat,dimana dapat atau tidak bisa hilang oleh obat antiangina b. Tanda:Perilaku distraksi,contoh gelisah.

7. Pernafasan a. Gejala: penyakit paru kronis, riwayat atau penggunaan tembakau, napas pendek. b. Tanda: perubahan kecepatan/ ke dalam pernafasan selama episode disritmia, bunyi nafas: bunyi tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi
11

pernafasan, seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena troemboembolitik pulmonal, hemoptisis. 8. Keamanan Tanda: demam, kemerahan kulit(reaksi obat), inflamasi, eritema, edema, kehilangan tonus otot/ kekuatan. 9. Penyuluhan/ pembelajaran Gejala: factor resiko keluarga, penggunaan/ tidak

menggunakan obat yang diresepkan, kurang pemahaman tentang proses penyakit/ program terapeutik, serta adanya kegagalan untuk memperbaiki.

12

BAB III PEMBAHASAN

Disritmia merupakan kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan frekwensi atau irama atau keduanya. Dengan kata lain disritmia merupakan perubahan pada pembentukan dan/ atau penyebaran eksitasi yang menyebabkan perubahan urutan eksitasi atrium atau ventrikel atau transmisi atrioventrikular. Gangguan ini dapat mengenai frekwensi, keteraturan, atau tempat pembentukan potensial aksi. Disritmia dapat di identifikasi dengan menganalisa gelombang EKG. Disritmia di namakan berdasarkan pada tempat dan asal impuls dan mekanisme hantaran yang terlibat. Misalnya, disritmia yang berasal dari nodus sinus (nodus SA) dan frekwensinya lambat dinamakan sinus bradikardia. Ada 4 kemungkinan tempat asal disritmia, seperti nodus sinus, atria, nodus AV, atau smbungan, dan ventrikel. Gangguan mekanisme hantaran yang mungkin dapat terjadi meliputi bradikardi, takikardi, flutter, fibrilasi, denyut premature, dan penyekat jantung.

A. Patofisiologi 1. Disritmia Nodus Sinus a. Bradikardi sinus Bradikardi sinus bisa terjadi karena stimulus vagal, intoksikasi digitalis, peningkatan tekanan intracranial/ infark miokard. Bradikardi sinus juga dijumpai pada olahragawan berat, orang yang sangat kesakitan/ orang yang mendapat pengobatan, pada hipotermia. Karakteristik: 1) Frekwensi: 40-60 denyut/ menit 2) Gelombang P: mendahului setiap kompleks QRS; interval PR normal 3) Kompleks QRS: biasanya normal 4) Hantaran: biasanya normal
13

5) Hantaran: biasanya normal 6) Irama: regular b. Takikardi sinus Takikardi sinus (denyut jantung cepat) dapat disebabkan oleh demam, kehilangan darah akut, anemia, syok, latihan, gagal jantung kongestif, nyeri, kecemasan, simpatomimetika/ pengobatan parasimpatoliktik. Karakteristik: 1) Frekuensi: 100-180 denyut/ menit 2) Gelombang P: mendahului setiap kompleks QRS, dapat tenggelam dalam gelombang T yang mendahuluinya; interval PR normal 3) Kompleks QRS: biasanya mempunyai durasi normal 4) Hantaran: biasanya normal 5) Irama: regular 2. Disritmia Atrium Kontraksi premature atrium Kontraksi premature atrium dapat disebabkan oleh iritabilitas otot atrium karena kafein, alcohol, nikotin, miokardium atrium yang teregang seperti pada gagal jantung kongestif, stress atau kecemasan, cedera, infark, atau keadaan hipermetabolik. 3. Abnormalitas Hantaran a. Penyekat AV derajat-satu Biasanya berhubungan dengan penyakit jantung organic atau mungkin disebabkan oleh efek digitalis. Hal ini biasanya terlihat pada pasien dengan infark miokard dinding inferior jantung. b. Penyekat AV derajat-dua Ini juga disebabkan oleh penyakit jantung organic, IM, atau intoksikasi digitalis. Bentuk penyekat ini menghasilkan penurunan frekuensi jantung dan bisanya penurunan curah jantung (curah jantung = volume sekuncup X frekuensi jantung).
14

c. Penyekat AV derajat-tiga Juga berhubungan dengan penyakit jantung organik, intoksikasi digitalis, dan MI. frekuensi jantung berkurang drastis, mengakibatkan penurunan perfusi ke organ vital. Seperti otak, jantung, paru, dan kulit. 4. Asistole Ventrikel Tidak akan terjadi kompleks QRS. Tidak ada denyut jantung, denyut nadi dan pernafasan. Tanpa penatalaksanaan segera, asistole ventrikel sangat fatal.

B. Sifat Otot Jantung Sifat otot jantung memiliki sifat fisioligis yang mencakup: 1. Eksitabilitas adalah kemampuan sel miokardium untuk merespon stimulus. 2. Otomatisitas memungkinkan sel mencapai potensial ambang dan membangkitkan impuls tanpa adanya stimulus dari sumber lain. 3. Konduktifitas mengacu pada kemampuan otot untuk menghantarkan impuls dari satu sel ke sel lain. 4. Kontraktilitas memungkinkan otot untuk memendek pada saat terjadi stimulasi. Apabila semua sifat tersebut utuh, otot jantung distimulasi oleh impuls yang berasal dari nodus sinus; dalam hal ini nodus sinus dianggap sebagai pemacu jantung. Disritmia dapat muncul apabila terjadi ketidakseimbangan pada salah satu sifat dasar jantung. Ketidakseimbangan jantung dapat disebabkan oleh aktifitas normal seperti latihan atau oleh kondisi patologis seperti infark miokard. Pada infark miokard, terjadi peningkatan respon miokardium terhadap stimulus akibat penurunan oksigenasi ke miokardium, yang menyebabkan eksabillitas. Hal ini merupakan salah satu contoh yang paling sering menyebabkan DISRITMIA.

15

Jantung bekerja di bawah kendali system saraf otonom, yang terdiri dari serat simpatis dan parasimpatis. System simpatis juga dikenal sebagai adrenergic. Jadi, stimulus system simpatis akan mempercepat frekuensi jantung, meningkatkan tekanan darah, dan memperkuat kontraksi miokard. Sebaliknya, stimulus parasimpatis akan memperlambat frekuensi jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi frekuensi kontraksi.

C. Klasifikasi Disritmia Pada umumnya disritmia dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu: 1. Gangguan pembentukan impuls, terdiri dari: a. Gangguan pembentukan impuls di sinus 1) Takikardia sinus 2) Bradikardia sinus 3) Aritmia sinus 4) Henti sinus b. Gangguan pembentukan impuls di atria (aritmia atrial) 1) Ekstrastistol atrial 2) Takikardia atrial 3) Gelepar atrial 4) Fibrilasi atrial 5) Pemacu kelan atrial c. Pembentukan impuls di penghubung AV (aritmia penghubung) 1) Ekstrasistol penghubung AV 2) Takikardia penghubung AV 3) Irama lolos penghubung AV d. Pembentukan impuls di ventrikuler (aritmia ventrikuler) 1) Ekstrasisitol ventrikuler 2) Takikardia ventrikuler 3) Gelepar ventrikuler
16

4) Fibrilasi ventrikuler 5) Henti ventrikuler 6) Irama lolos ventrikuler

2. Gangguan hantaran impuls a. Blok sinus atrial b. Blok atrio ventrikuler c. Blok intraventrikuler

D. Penyebab Disritmia Penyebab dari aritmia jantung biasanya satu atau gabungan dari kelainan berikut ini dalam system irama-konduksi jantung, yaitu: 1. v Irama abnormal dari pacu jantung 2. v Pergeseran pacu jantung dari nodus sinus ke bagian lain dari jantung 3. v Blok pada tempat-tempat yang berbeda sewaktu menghantarkan impuls melalui jantung 4. v Jalur hantaran impuls yang abnormal melalui jantung 5. v Pembentukan yang spontan dari impuls abnormal pada hamper semua bagian jantung. Adapun factor-faktor yang dapat mencetuskan disritmia yaitu: 1. obat-obatan, terutama obat-obat kelas IA (quinidin, disopiramid, prokaninamid) dan IC (flekanid, profapenon), digitalis, antidepresan trisiklik, teofilin. 2. Gangguan keseimbangan elektrolit dan dan gas darah terutama hipo dan hiperkalemia, asidosi. 3. Payah jantung kongestif akibat terjadinya aktifasi neurohumoral 4. Kelainan jantung dan aritmogenik 5. Gangguan ventilasi, infeksi, anemia, hipotensi dan renjatan: bisa terjadi takikardia superventrikuler.
17

6. Tirotoksitosis menimbulkan fibrilasi dan flutter atrium. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan disritmia adalah: 1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi). 2. Gangguan sirkulasi koroner , misalnya iskemia miokard, infark miokard. 3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin, dan obatobat anti aritmia lainnya. 4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hippokalemia). 5. Gangguan pada pengaturan susunan saraf otonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung. 6. Gangguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat 7. Gangguan metabolic (asidosis, alkalosis(. 8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme). 9. Gangguan irama jantung akibat gagal jantung. 10. Gangguan irama jantung karena karmiopati atau tumor jantung. 11. Gsngguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis system konduksi jantung).

E. Prosedur diagnostic 1. EKG: menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidak seimbangan elektrolit dan obat jantung. 2. Monitor holder: gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (dirumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk

mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia. 3. Foto dada: dapat menunjukan pembesaran bayang jantung

sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup.


18

4. Skan

pencitraan

miokardia:

dapat

menunjukan

area

iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa. 5. Tes stress latihan: dapat dilakukan untuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia. 6. Elektrolit: peningkatan atau penurunan kalium, kalsium, dan magnesium dapat menyebabkan disritmia. 7. Pemeriksaan obat: dapat menyebabkan toksisitas abat jantung, adanya obat jalanan, atau dugaan obat intraksi, contoh digitalis, quinidin, dll. 8. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penurunan kadar tiroid serum dapat menyebabkan/meningkatkan disritmia 9. Laju sedimentasi: peninggian dapat menunjukan proses inflamasi akut/aktif, contoh endokarditis sebagai factor pencetus untuk disritmia. 10. GDA/ nadi oksimetri: hipoksimia dapat menyebabkan/

mengeksasernasi disritmia.

F. Penatalaksanaan Medik Pada prinsipnya tujuan terapi disritmia adalah (1) mengembalikan irama jantung yang normal, (2) menurunkan frekwensi denyut jantung , (3) mencegah terbentuknya bekuan darah. Terapi sangat tergantung pada jenis aritmia. Selain itu dapat juga dilakukan dengan: 1) Terapi medis Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu : Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker Kelas 1 A Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.

19

Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi. Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang Kelas 1 B Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia. Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT Kelas 1 C Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade) Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation) Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker) Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia 2) Kardioversi Mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks QRS, biasanya merupakan prosedur elektif. Pasien dalam keadaan sadar dan diminta persetujuannya. 3) Defibrilasi Defibrilasi adalah cardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat. Biasanya terbatas penatalaksanaan fibrilasi ventrikel apabila tidak ada irama jantung yang terorganisasi. Defibrilasi akan mendepolarisasi secara lengkap semua sel miokard sekaligus, sehingga memungkinkan nodus sinus memperoleh kembali fungsinya sebagai pacemaker. 4) Terapai Pacemaker

20

Merupakan alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang otot jantung untuk mengontrol frekwensi jantung. Alat ini akan memulai dan mempertahankan frekwensi jantung ketika pacemaker aritmia jantung tak mampu lagi memenuhi fungsinya. Pacemaker biasanya di gunakan bila pasien mengalami gangguan hantaran atau loncatan gangguan hantaran yang mengakibatkan kegagalan curah jantung. 5) Pembedahan Hantaran Jantung Takikardian atrium dan ventrikel yang tidak berespon terhadap pengobatan dan tidak sesuai untuk cetusan anti takikardia dapat di tangani dengan metode selain obat dan pacemaker. Metode tersebut mencakup isolasi endokardial, resepsi endokardial, krioglasi, ablasi listrik dan ablasi frekwensi radio. Isolasi endokardial dilakukan dengan membuat irisan ke dalam endokardium, memisahkannya dari area endokardium tempat di mana terjadi disritmia. Batas irisan kemudian dijahit kembali. Irisan dan jaringan parut yang ditimbulakn akan mencegah disritmia mempengaruhi seluruh jantung pada reseksi endokardial, sumber disritmia diidentifikasi dan daerah endokardium tersebut dikelupas. Tidak perlu dilakukan rekonstruksi atau perbaikan. Krioblasi dilakukan dengan meletakkan alat khusus, yang didinginkan sampai suhu -60C (-76F), pada endokardiumdi tempat asal disritmia selama 2 menit. Daerah yang membeku akan menjadi jaringan parut kecil dan sumber disritmia dapat dihilangkan. Pada ablasi listrik sebuah kateter dimsukkan pada atau sumber disritmia dan 1-5 syok sebesar 100-300 joule diberikan melalui kateter langsung ke endokardium dan jaringan sekitarnya. Jaringan jantung menjadi terbakar dan menjadi parut, sehingga menghilangkan sumber disritmia. Ablasi frekwensi radio dilakukan dengan memasang kateter khusus pada atau dekat asal disritmia. Gelombang suara frekwensi
21

tinggi

kemudian

disalurkan jaringan

melalui

kateter kerusakan

tersebut, jaringan

untuk yang

menghancurkan

disritmia

ditimbulkan lebih spesifik yaitu hanya pada jaringan disritmia saja disertai trauma kecil pada jaringan sekitarnya dan bukan trauma luar seperti pada krioblasi atau ablasi listrik.

22

BAB IV PENUTUP

SIMPULAN Disritmia merupakan kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan frekwensi atau irama atau keduanya. Dengan kata lain disritmia merupakan perubahan pada pembentukan dan/ atau penyebaran eksitasi yang menyebabkan perubahan urutan eksitasi atrium atau ventrikel atau transmisi atrioventrikular. Gangguan ini dapat mengenai frekwensi, keteraturan, atau tempat pembentukan potensial aksi. Disritmia dapat di identifikasi dengan menganalisa gelombang EKG. Disritmia di namakan berdasarkan pada tempat dan asal impuls dan mekanisme hantaran yang terlibat. Misalnya, disritmia yang berasal dari nodus sinus (nodus SA) dan frekwensinya lambat dinamakan sinus bradikardia. Ada 4 kemungkinan tempat asal disritmia, seperti nodus sinus, atria, nodus AV, atau smbungan, dan ventrikel. Gangguan mekanisme hantaran yang mungkin dapat terjadi meliputi bradikardi, takikardi, flutter, fibrilasi, denyut premature, dan penyekat jantung.

SARAN Dengan disusunnya makalah ini, kami mengharapkan kepada semua pembaca agar pembaca dapat memberikan kritik dan saran pada penulis untuk kemajuan makalah yang selanjutnya dan umumnya untuk lebih meningkatkan pengetahuan para pembaca.

23

DAFTAR PUSTAKA
Brunner., Suddart. Keperawatan Medical-Bedah. Edisi 9, Jakarta: Buku Kedokteran EGC Dongoes, E Marylynn,dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: buku kedokteran EGC Black, Joyce M, dkk. Medical Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. 7 th Edition Guyton., Hall. 1997. Fisologi Kedokteran. Edisi 9,Jakarta: buku kedokteran EGC Knight, John F. Dr. 1995. Jantung Kuat Bernafas Lega. Bandung Lewis., Heitkemper., Dirksen., OBrien., Bucher. Medical-Surgical Nursing: Assessment and Manaagement of Clinical Problems. Noer, Sjaifoellah,Prof. dr. H. M,. dkk. 1996. Ilmu Penyakit Dalam: Jilid 1 Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Silbernagl, Stefan, dkk.2007.Teks buku kedokteran EGC http://kumpulan materi kep.com/2010/04/disritmia.html:ILHAM Amk, Ns, Ch http:// www.scribd.com/doc/427202004/aritmia:dr.Lisa M.Pd.I CHt http://info-medis.blogspot.com http://airsam.blogspot.com/2011/04/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan.html http://grandmall10.wordpress.com/2010/02/24/aritmia/ Atlas Berwarna Patofisiologi,Jakarta:

24