Вы находитесь на странице: 1из 4

BABI PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hampir seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, sebab baik virus penyebab (dengue) maupun nyamuk penularnya yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus sudah tersebar luas di perumahan maupun tempat-tempat umum di seluruh Indonesia, kecuali wilayah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut (Kristina, 2005). Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun. KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 dalam tahun 2000, 21,66 dalam tahun 2001, 19,24 dalam tahun 2002 dan 23,87 dalam tahun 2003 (Kristina, 2005). Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang

nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun (Kristina, 2005). Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan (Kristina, 2005). Terjadinya penyakit DBD ini ada hubungan erat antara lingkungan dengan perilaku manusia, oleh karena itu dalam pemberantasan habitat Aedes aegypti perlu diketahui faktor-faktor lingkungan dan faktor-faktor (karakteristik) individu. Kasus penyakit DBD selama 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan selama tahun 2009 jumlah penderita DBD dengan angka CFR 0,89% dan IR sebesar 66,48% (Depkes, 2010). Dilihat dari kejadian penyakit DBD dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, yaitu pada tahun 2005 angka CFR sebesar 1,59% dan IR 15%, tahun 2006 angka CFR sebesar 1,88% dan IR 19%, tahun 2007 angka CFR sebesar 0,85% dan IR sebesar 38%, tahun 2008 angka CFR 1,36% dan IR sebesar 63%, sedangkan pada tahun 2009 angka CFR sebesar 1,27% dan IR sebesar 35,36% (Dinkes Aceh, 2009). Menurut data Dinkes Aceh Barat (2009), terdapat 43 kasus demam berdarah dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat dengan jumlah penderita terbanyak berasal dari Kecamatan Johan Pahlawan yaitu 30 kasus, 8 orang diantaranya berasal dari Desa Lapang. Dari hasil pengamatan awal penulis, didapat bahwa mayoritas pendidikan masyarakat desa Lapang adalah tamatan SLTA dan mayoritas bekerja sebagai pegawai negeri. Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk 2

meneliti predisposing factors PSN Aedes aegypti di Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010. 1.2. Rumusan Masalah DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang menyebabkan terjangkitnya penyakit ini hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Secara umum jumlah kasus di Aceh dari tahun ke tahun meningkat. Hal ini dapat dilihat dari tahun 2005 yaitu angka IR sebesar 15% dan sampai pada tahun 2009 terus menerus meningkat sehingga IR mencapai 35,36%. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang predisposing factors PSN Aedes aegypti di Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat tahun 2010. 1.3. Ruang Lingkup Penelitian Mengingat keterbatasan yang ada maka penelitian ini hanya melihat variabel pendidikan, pendapatan, dan pengetahuan masyarakat yang dapat mempengaruhi PSN Aedes aegypti.
1.4.Tujuan Penelitian

1.4.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui predisposing factors PSN Aedes aegypti di Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010. 1.4.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan PSN Aedes aegypti di

Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010.

2. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendapatan dengan PSN Aedes aegypti di

Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010.
3. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan PSN Aedes aegypti di

Desa Lapang Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2010.
1.5.Manfaat Penelitian 1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat dapat menggunakan hasil

penelitian ini sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pemberantasan penyakit DBD.
2. Bagi Kepala Puskesmas Johan Pahlawan, mengetahui bagaimana tingkat

pendidikan, pendapatan, pengetahuan masyarakat desa Lapang tentang PSN Aedes aegypti.
3. Bagi masyarakat desa Lapang sebagi masukan untuk dapat meningkatkan

pengetahuan tentang PSN Aedes aegypti.