You are on page 1of 19

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu penyakit yang sering muncul pada anak adalah demam dimana setidaknya 10-30% anak ke tempat pelayanan kesehatan adalah dengan keluhan demam. Demam ini dapat terjadi hanya dalam waktu 3 hari dan sembuh sendiri ataupun berlangsung lebih lama, tergantung penyebabnya. Demam sendiri dapat menimbulkan kedaan-keadaan khusus yang menakutkan bagi orang tua, salah satunya yang sering muncul pada anak adalah kejang demam.1 Insiden kejang demam berkisar antara 2-5% dari seluruh kejang yang terjadi pada anak.2,3 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang muncul berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh (> 380C rektal) disebabkan proses ekstrakranial. Walaupun kemungkinannya kecil, suatu kejang demam dapat berkembang menjadi status epileptikus, epilepsi (1-2,4%), kejang berulang baik tanpa demam ataupun dengan demam (30-50%).4 Keadaan ini akan mengancam pertumbuhan dan perkembangan otak anak sehingga sangat penting bagi pelayan kesehatan ataupun orang tua untuk mempelajari penanganan yang tepat dalam menghadapi kasus kejang demam.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Epidemiologi Kejang demam adalah bangkitan kejang yang muncul berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh (> 380C rektal) disebabkan proses ekstrakranial, tanpa adanya infeksi Sistem Saraf Pusat (SSP) ataupun ketidakseimbangan elektrolit akut, dan terjadi pada anak berumur lebih dari satu bulan. Jika anak pernah menderita kejang tanpa demam sebelumnya, maka kejang selanjutnya tidak dapat dikatakan kejang demam walaupun disertai panas badan.3,5 Biasanya terjadi pada umur 6 bulan sampai 5 tahun, dengan puncak insidennya pada umur 14-18 bulan. Sekitar 2-5% kejang yang terjadi pada anak adalah kejang demam dan 80% dari kejang demam tersebut berupa kejang demam sederhana.2,3,5,6 Dalam hal jenis kelamin, anak laki-laki lebih sering mengalaminya dibanding perempuan.6 Salah satu penelitian menemukan empat faktor risiko anak mengalami kejang demam yaitu : 1) terdapat riwayat keluarga kejang demam (saudara atau orang tua); 2) riwayat rawat inap saat neonatus selama lebih dari 30 hari; 3) perkembangan terhambat atau 4) kebiasaan dirawat di tempat penitipan anak. Anak yang mempunyai dua faktor risiko, memiliki kemungkinan 28% untuk menderita setidaknya satu kali kejang demam.3 2.2 Etiologi Penyebab kejang demam adalah segala infeksi di luar otak yang bisa menyebabkan demam, misalnya Otitis Media Akut (OMA), infeksi saluran pernapasan akut seperti faringitis, gastroenteritis khususnya yang disebabkan oleh Shigella atau Campylobacter, bronkopneumonia dan infeksi saluran kemih. Sekitar 86% kasus disebabkan oleh virus. Imunisasi juga dapat menjadi penyebab kejang demam.4,5 Namun untuk kerentanan anak terhadap demam tersebut dikatakan berkaitan dengan kromosom 19p dan 8q13-21 dimana pola penurunannya bersifat dominan autosomal, biasanya terlihat dari adanya riwayat keluarga, yaitu saudara kandung atau orang tua yang juga menderita kejang

Toksin Metabolik

Perubahan kadar Na+

Pompa Na+ lemah

Channelopathi +-

demam.2 2.3 Patogenesis

Hipoksia Hipoglikemia

Pada keadaan tubuh yang normal, membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan ion khlorida (Cl-) namun sulit dilalui oleh ion natrium (Na+). Karena itulah konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi sedangkan Na+ rendah, sebaliknya dengan di luar sel neuron. Karena perbedaan konsentrasi ini terjadilah perbedaan potensial yang disebut potensial membran sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial ini, terdapat sebuah jalur sebagai tempat Kejang masuk atau keluarnya Na+ yang membutuhkan enzim Na+-K+ ATPase dan energi yang didapatkan dari metabolisme glukosa melalui proses oksidasi.5

Gambar 1. Patogenesis Kejang Demam7

Demam akan menyebabkan peningkatan metabolisme tubuh dan mengakibatkan terjadinya hipoksia dan hipoglikemia sehingga energi yang dibutuhkan untuk pengoperasian jalur Na+ menjadi tidak tersedia dan terjadi perubahan kadar Na+ di intrasel dan ekstrasel neuron. Selain itu, demam juga akan mengakibatkan terjadinya produksi toksin metabolik yang selanjutnya akan meningkatkan permeabilitas membran sel dan semakin memudahkan terjadinya

perubahan kadar Na+. Hal ini ditambah dengan mutasi yang telah terjadi pada gama amino butiric acid (GABA) dan jalur Na+ mengakibatkan adanya channelopathi yaitu perubahan pada h-channel, suatu hyperpolarization-activated cation channel atau disebut juga pacemaker channel yang bisa berfungsi sebagai eksitasi atau inhibisi, yang berhubungan dengan peningkatan suseptibilitas terhadap kejang. Berawal dari perubahan kadar Na+ disertai difusi K+, terjadi depolarisasi membran sel dan tercipta potensial aksi. Potensial aksi ini sangat besar hingga dapat menyebar ke seluruh sel neuron yang didahului oleh peningkatan ion kalsium (Ca2+) presinap lalu neurotransmiter juga meningkat. Bersama dengan mutasi sebelumnya, terjadi eksitasi yang berlebihan dibandingkan dengan inhibisi lalu menimbulkan depolarisasi post sinap. Kemudian konsentrasi Ca2+ akan semakin banyak pada hubungan antara saraf dengan otot, lalu Ca2+ yang berlebihan tersebut akan berikatan dengan troponin otot dan akhirnya mengakibatkan kejang.3,5,7 2.4 Klasifikasi Kejang demam dibedakan menjadi 2 tipe: a. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) Lama kejang 15 menit Kejang bersifat umum, tonik dan atau klonik Frekuensi 1 kali dalam 24 jam, umumnya berhenti sendiri b. Kejang demam kompleks (Complex Febrile Seizure) Lama kejang > 15 menit Kejang bersifat fokal atau parsial, pada satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial Frekuensi kejang lebih dari 1 kali dalam 24 jam (kejang multipel atau kejang serial)2,3,5,6 2.5 Diagnosis Pada evaluasi awal, pemeriksa harus bisa mengeksklusi penyebab kejang lain, seperti meningitis, encephalitis, ketidakseimbangan elektrolit berat dan penyakit neurologis akut yang lain serta mencari etiologi demam.2,3 Misalnya untuk

meningitis, biasanya terdapat faktor risiko yang jelas, salah satu penelitian mengungkapkan bahwa anak dengan meningitis memiliki salah satu dari empat ciri: riwayat ke tempat pelayanan kesehatan 48 jam sebelum mengalami kejang demam, datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dalam keadaan kejang, mengalami kejang fokal, atau adanya hasil pemeriksaan fisik atau neurologis yang mencurigakan.2 a. Anamnesa Identifikasi/pastikan terjadi kejang, jenisnya bagaimana, durasinya, frekuensi, penyebab demam di luar SSP Riwayat kejang tanpa demam Riwayat kelahiran, tumbuh kembang, kejang demam, Riwayat epilepsi dalam keluarga Eksklusi penyebab kejang yang lain5 b. Pemeriksaan Fisik Kesadaran, suhu, tanda infeksi di luar SSP Tanda perangsanagan meningeal dan peningkatan tekanan intrakranial Pemeriksaan neurologis5 c. Pemeriksaan Penunjang

Jika berupa kejang demam sederhana, maka sebenarnya tidak diperlukan pemeriksaan apapun, tetapi jika hal yang terjadi adalah kejang demam kompleks atau jika terdapat hal-hal dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang meragukan, maka diperlukan adanya pemeriksaan penunjang, seperti berikut. Darah lengkap, Gula darah, elektrolit serum lengkap (Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium) dilakukan untuk mencari adanya kondisi lain seperti bukti terjadinya dehidrasi2,5 Lumbal pungsi dilakukan dengan indikasi untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, yaitu jika pada pemeriksaan fisik dan neurologis didapatkan kecurigaan adanya meningitis. Pemeriksaan

ini sangat dianjurkan untuk bayi <12 bulan, dianjurkan pada bayi berumur 12-18 bulan dan tidak rutin dikerjakan pada anak > 18 bulan.2,5 Elektroensefalografi untuk memprediksi berulangnya kejang atau kemungkinan terjadi epilepsi dilakukan jika kejang demam yang terjadi berupa kejang yang atipikal seperti kejang fokal, kejang demam kompleks frekuen, kejang demam plus (FS+), dan pemeriksaan EEG tidak terlalu berarti pada kejang demam sederhana.2,5 CT scan dan atau MRI, diindikasikan pada keadaan jika terjadi kejang fokal, kelainan neurologis ada (khususnya fokal dan menetap seperti hemiparesis), parese nervus VI, papiledema, atau adanya peningkatan tekanan intrakranial.2-6

2.6 Penatalaksanaan Prinsip penanganan kejang ada tiga, yaitu mengatasi fase kejang akut, mengatasi demam, mencari dan mengobati penyebab demam, serta pengobatan profilaksis berulangnya kejang demam.5 a. Mengatasi kejang fase akut Serangan kejang bisa terjadi dimana saja, kemungkinan terjadi di rumah, sekolah, pasar, tempat perbelanjaan dan sebagainya. Sebagai pertolongan pertama mungkin pasien akan dibawa ke klinik atau tempat pelayanan kesehatan terdekat yang tidak memiliki fasilitas seperti di rumah sakit, karena itu tentu saja pertolongan yang dapat diberikan menjadi berbeda. Penanganan awal yang pasti dilakukan adalah mengamankan jalan napas anak, yaitu dengan memposisikan anak terlentang dengan kepala miring dan membersihkan muntahan atau lendir di mulut dan hidung serta tidak memasukkan apapun kedalam mulut.6 Karena itu terdapat suatu algoritme penanganan kejang akut seperti yang dijabarkan pada Gambar 2. Pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit, bila kejang sudah

Monitoring ICU/ED Lorazepam 0,05-0,1 mg/kg/iv 10-20 menit Midazolam 0,2 mg/kg/iv bolus prehospital Diazepam 5-10 mg/rectal max 2x 2 mg/kg/iv bolus Airway Diazepam infusePentotal-Tiopental jarakmenit) dilanjutkan per 0,25-0,5 mg/kg/iv/io (kec.2 mg/ 5 menit 0-10 menit Propofol ICU Refracter Hospital/ 30-60 menit Phenytoin 20 mg/kg/iv (20 menit/50mL NS) max 1000mgmg/kg/infus level Breathing 2-4 dosis (kec. >5-10 menit, maxmenitDrug blood Catatan : tambahan dosis 5-10 (+) mg/kg/iv mg.kg/iv Phenobarbiton 20 g) 20-30 1 3-5 tatanED Tambahan: Jika preparat mg /kg/iv max 20 mg Circulation ARU 1 KALI PRE HOSPITAL BOLEH TAMBAH RECTAL 1X

berhenti dengan diazepam maka selanjutnya dapat diberikan antikonvulsan long acting (phenobarbital) jika ada faktor risiko berupa kejang lama, kejang fokal/parsial, kejang multipel >2 kali, adanya keluhan neurologis yang nyata atau terdapat riwayat epilepsi keluarga.5

Gambar 2. Algoritme Penanganan Kejang Akut dan Status Konvulsif5

Dosis yang diberikan untuk phenobarbital long acting adalah: loading dose secara intramuskuler, yaitu: Neonatus : 30 mg

Bayi: 50 mg >1 tahun: 75 mg5 Dilanjutkan 12 jam kemudian dengan phenobarbital oral: 8-10 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis (selama 2 hari) Selanjutnya 3-5mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis5 b. Mengatasi demam, mencari dan mengobati etiologi demam Walaupun tidak terbukti mencegah kejang berulang, tetapi pemberian antipiretik tetap dilakukan untuk membuat anak lebih nyaman dan tenang. Antibiotik diberikan jika terdapat indikasi untuk mengatasi kausa demam.5 Selain itu juga dapat dilakukan penanganan demam seperti, anak ditempatkan di ruangan bersuhu normal, pakaian diusahakan tidak tebal, memberikan minum yang banyak dan memberikan kompres.1 c. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam Terdapat dua macam profilaksis yaitu intermiten dan terus-menerus, dengan penjelasan sebagai berikut: Profilaksis intermiten, yang diberikan saat demam terdiri dari dua obat yaitu: 1) antipiretik, bisa berupa Parasetamol (10-15 mg/kgBB/kali, maksimal 4-5 kali/hari) atau ibuprofen (5-10 mg/kgBB/kali, maksimal 3-4 kali/hari), dan 2) Obat antikonvulsan, yaitu Diazepam oral (0,3 mg/kg setiap 8 jam) atau diazepam rektal (0,5 mg/kgBB atau 5 mg untuk BB<10 kg dan 10 mg untuk BB >10 kg setiap 8 jam)5 Profilaksis terus-menerus, diberikan dengan indikasi terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, kejang lama >15 menit atau terdapat kejang fokal. Pemberian profilaksis ini juga bisa dipertimbangkan jika terdapat kejang berulang >2 kali dalam 24 jam, pada bayi usia <12 bulan, atau kejang demam kompleks berulang 4 kali. Profilaksis jenis ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang. Obat yang digunakan adalah antikonvulsan asam valproat dan phenobarbital (3-5/kgBB/hari dosis tunggal sebelum tidur).4,5

2.8 Prognosis Kejadian kematian ataupun kecacatan karena kejang demam belum pernah dilaporkan. Gangguan akut kemampuan kognitif setelah kejang demam juga belum dilaporkan. Beberapa penelitian besar telah menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kontrol dengan kasus dalam hal kemampuan kognitif dan prestasi sekolah begitu juga dengan memori.3,6 Yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan berkembangnya kejang demam menjadi epilepsi yang dapat diperkirakan dengan mencari faktor risiko yang dimiliki yaitu kelainan neurologis, riwayat keluarga epilepsi atau pendeknya durasi antara mulainya demam dengan munculnya kejang (<1jam). Salah satu faktor risiko saja dimiliki anak maka kemungkinan menderita epilepsi atau kejang tanpa demam menjadi 9-10% dibandingkan dengan yang tanpa memiliki faktor risiko yaitu sebesar 1-2,4 % 2,8

BAB III LAPORAN KASUS 3.1 Identitas Penderita Nama : NKAIM

Umur Jenis kelamin Alamat Nama Ayah Pekerjaan 3.2 Heteroanamnesis

: 10 bulan : Perempuan : Jl. Tukad Petanu Gang Cendrawasih no 10 Sidakarya : IWDP : Pegawai Swasta

Tanggal pemeriksaan : 15 September 2011

Keluhan Utama : Mencret dan Muntah Riwayat Penyakit Sekarang Pasien dikeluhkan mencret sejak 1 hari SMRS, sudah tiga kali sebanyak kurang lebih seperempat gelas tiap kalinya, dengan konsistensi cair, berbau amis tanpa adanya lendir, darah dan ampas. Warna mencret kuning kehijauan. Pasien juga dikeluhkan muntah kurang lebih 10 kali sejak 1 hari SMRS, sebanyak setengah gelas aqua, isi makanan dan minuman yang dimakan, dikatakan sejak pagi apa yang dimakan kembali dimuntahkan. Dikatakan lebih dulu muncul mencret daripada muntah. Demam juga dikeluhkan terjadi sejak pagi, sumersumer. Batuk dan pilek disangkal. Pasien juga dikatakan sempat kejang kurang lebih 15 menit SMRS, saat kejang dikatakan mata mendelik ke atas dan tangan serta kaki menghentak-hentak, Kejang ini berlangsung kurang lebih satu menit dan setelah kejang pasien menangis. Saat kejang dikatakan pasien sedang demam. Ketika datang ke rumah sakit pasien dikatakan sudah bisa makan dan minum dengan baik Riwayat penyakit sebelumnya Penderita dikatakan pernah mencret kurang lebih 3 bulan yang lalu dengan konsistensi lembek, berobat ke spesialis anak dan membaik. Sebulan yang lalu juga dikatakan pernah muntah, dibawa ke dokter dan dikatakan karena demam. Riwayat pengobatan Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit minum insana setengah tablet yang dijadikan puyer dan diminumkan.

10

Riwayat keluarga Kakak pasien menderita mencret, muntah dan panas sejak 3 hari SMRS tetapi sudah membaik setelah dibawa ke dokter spesialis anak Riwayat nutrisi ASI : 0 hari 3 bulan Susu Formula : 0 bulan - sekarang Bubur susu : 4 bulan sekarang

Riwayat persalinan Penderita dilahirkan dengan normal di dokter dengan berat badan 3200 gram dan panjang 5 cm. Riwayat Imunisasi Riwayat imunisasi pada penderita adalah BCG 1 kali, Hepatitis B 1 kali, Polio 1 kali, DPT 1 kali dan campak 1 kali. Riwayat Tumbuh Kembang Menegakkan kepala : lupa Berbalik : lupa Duduk : lupa Merangkak : 7 bulan Berdiri : 9 bulan Bicara : lupa Berjalan : belum bisa

3.3 Pemeriksaan Fisik KU Kesadaran hR RR Tax BB BBI PB : sakit sedang : Compos Mentis : 148 X / menit : 44 X / menit : 37 C : 9 kg : 10,5 kg : 79 cm

11

LK Status gizi Status General

: 45 cm : 85,7 % (gizi kurang)

Kepala : normocephali, UUB cekung Mata : anemia -/- ; ikterus -/- ; reflek pupil +/+ isokor; mata cowong + Mulut : cyanosis (-), mukosa kering (+) THT : 1. Telinga : Inspeksi : dalam batas normal

Jika penderita dipanggil ada respon 2. Hidung : Inspeksi 3. Tenggorokan : Inspeksi 4. Leher : Inspeksi Palpasi : Benjolan (-), bendungan vena jugularis (-) : Pembesaran kelenjar (-) : Faring hiperemis (-), Tonsil hiperemis (-) : Nafas Cuping Hidung (-), cyanosis (-)

Thorax : 1. Jantung Inspeksi Palpasi : iktus kordis normal : thrill (-)

Auskultasi : S1S2 N reguler murmur (-) 2. Paru Inspeksi Palpasi Perkusi normal Auskultasi : bronkovesikuler +/+ ; ronkhi -/- ; wheezing -/- ; stridor (-) : gerakan dada simetris, retraksi (-) : vokal fremitus N/N : perkusi paru sonor, batas jantung paru dalam batas

12

+ +

3.

Abdomen Inspeksi : Distensi (-)

Auskultasi : Bising usus (+) meningkat Palpasi 4. Ekstremitas Inspeksi Palpasi Status Neurologis : Motorik 1. Tenaga kesan simetris 444 444 N N N 3. Trofik N N N 444 N N 2. Tonus 444 : Edema (-), deformitas (-) : Akral hangat (+) : Hepar tidak teraba, Lien tidak teraba, turgor kembali cepat

Reflek Fisiologis

Refleks Patologis Tanda perangsangan meningen : Kernig sign (-) Brudzkinski I dan II (-)

3.4 Diagnosis DIARE AKUT + DEHIDRASI RINGAN SEDANG + KEJANG DEMAM

13

SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELECTROLYTE 3.5 Pemeriksaan Penunjang DL, Elektrolit 3.6 Terapi Rehidrasi dengan URO 75 cc/kg BB habis 675 cc dalam 3 jam gagal karena keluarga pasien menolak Rehidrasi dengan IVFD Tridex 27 B 70 cc/kg BB habis dalam 5 jam 42 tetes/ menit (evaluasi tiap 30 menit 1000- 03.00) jika terehidrasi ganti dengan IVFD tridex 27 B 900 cc 12 tetes / menit Renalyt FL 10 cc/kg BB 90 cc tiap muntah / mencret L-Bio 1x I sachet Zincpro syrup 1x 1 cth Praxion syrup CT I jika Tax 38,5o C + kompres hangat dapat diulang @4 jam Diazepam Profilaksis intermiten 0,5 kg/kg BB/kali 4x cth 1/3 jika suhu lebih dari sama dengan 38, 5o C 3.7 Follow Up Tanggal 12/09/2011 00.55 Perjalanan Penyakit S: Pasien tidur, Setelah dibangunkan keadaan umum baik. Anak aktif O: St. Vital RR : 34x/menit Nadi : 136x/menit isi cukup Tax : 36,4oC St. General Kepala : normocephali UUB agak cekung Mata : mata cowong (+) Mulut : mukosa bibir kering (+) THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Terapi Tx: - Rehidrasi dengan URO75 cc/kg BB/3 jam - Rehidrasi dengan IVFD Tridex 27 B 70cc/kgBB habis dalam 5 jam ~ 42 tpm evaluasi @30 menit (00.00-03.00) - jika terehidrasi ubah menjadi tridex 27 B 900cc ~ 12 tpm - Renalyte FL 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret

14

Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU N Turgor kembali cepat Eks: Hangat + + + +

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG + KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK) 02.30 S: BAK (+) O: St. Vital RR: 36 x/menit Nadi : 112x/menit isi cukup Tax: 36,60C St. General Mata : mata cowong (+) Abdomen : BU meningkat Turgor kembali cepat Eks: Hangat + + CRT < 3 detik + +

- L. Bio sachet 1x1 sachet - Zincpro sirup 1x1 Cth - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C +kompres hangat diulang @ 4 jam - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ 4xcth 1/3 jika suhu 38,50C

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG (TEREHIDRASI)+ KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK)

Tx: - Kebutuhan cairan 900cc/hari Tridex 27 B 900cc ~ 12 tpm - Renalyte FL 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret - L. Bio sachet 1x sachet I - Zincpro sirup 1x Cth I - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C +kompres hangat diulang @ 4 jam - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ 4xcth 1/3 jika suhu 38,50C Pdx: tunggu hasil elektrolit Mx: - VS - Tanda-tanda dehidrasi - Balans Cairan

03.00 03.30 04.00

HR:132x/menit: RR:34x/menit: Tax:37,80C HR:148x/menit: RR:36x/menit: Tax:37,70C HR:153x/menit: RR:46x/menit: Tax:38,40C CM = 150 cc CK = 200 cc + 19,3 cc = 219,3 cc BC = - 69,3 cc PU = 8,1 cc / kgBB/jam

15

06.00

S: Demam (+) O: St. Vital RR : 40x/menit Nadi : 140x/menit isi cukup Tax : 38oC St. General Kepala : normocephali Mata : konjungtiva pucat (-); ikterus (-) mata cowong (-) Mulut : mukosa bibir agak basah THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU meningkat Turgor kembali cepat H/L ttb Eks: Hangat + + + +

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG (TEREHIDRASI)+ KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK) Hasil Pemeriksaan Elektrolit GDS : 64,38 Cl: 102,20 Ca: 9,608 Na : 134,2 K: 4,047 Hasil FL Makros : Mikros : Warna : Hijau Leu : Kons: encer Eri: Lendir: Amoeba: Darah : Telor cacing : 22.00 S : Kejang (+), 3 menit , kedua tangan dan kaki kaku, mata mendelik ke atas, kejang berhenti sendiri O: St. Vital RR : 44x/menit Nadi : 148x/menit isi cukup Tax : 39,2oC

Tx: - Kebutuhan cairan 900cc/hari Tridex 27 B 900cc ~ 12 tpm - Renalyte FL 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret - L. Bio sachet 1x sachet I - Zincpro sirup 1x Cth I - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C +kompres hangat dapat diulang @ 4 jam - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ 4xcth 1/3 jika suhu 38,50C - Vomita drop bila muntah Pdx: - Tunggu hasil elektrolit - FL Mx: - VS - Tanda-tanda dehidrasi - Balans Cairan

Tx: - O2 nasal kanul 2 lpm - Proxion syrup cth I +kompres hangat - Diazepam syrup 0,5 mg/ kgBB/ hari 4x cth Pdx: Mx:

16

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG (TEREHIDRASI)+ KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK) 13//09/2011 S: Demam (+), mencret (+) kuning kehijauan, 06.00 BAK (+), Makan-minum N O: St. Vital RR : 40x/menit Nadi : 140x/menit isi cukup Tax : 38,6oC St. General Kepala : normocephali Mata : konjungtiva pucat (-), ikterus (-) RP +/+ isokor, mata cowong (-) Mulut : mukosa bibir agak basah THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU meningkat H/L ttb Eks: Hangat + + + + Oedem -

- Kejang - VS - Tanda-tanda dehidrasi

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG + KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK) 06.10 S: Demam 38,60C, Kejang (-) O: N: 140x/menit RR: 40x/menit

Tx: - Kebutuhan cairan 900cc/hari Tridex 27 B 900cc ~ 12 tpm - Renalyte FL 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret - L. Bio 1x sachet I - Zincpro sirup 1x Cth I - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C +kompres hangat dapat diulang @ 4 jam - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ 4xcth 1/3 jika suhu 38,50C - Kalfoxim amp 3x250mg iv Mx: - VS - Balans Cairan - Tanda-tanda Dehidrasi

Tx: - Proxion syrup cth I - Diazepam syrup profilaxis 1/3 Cth - Kompres hangat - Usul ganti susu fill laktose Pdx: Mx: - Kejang - VS - Tanda-tanda dehidrasi Tx: - Kebutuhan cairan

14/09/2011 06.00

S: Mencret (+) cair seperti jus berisi ampas, kuning kehijauan, Demam (-)

17

O: St. Vital RR : 40x/menit Nadi : 132x/menit isi cukup Tax : 36,2oC St. General Kepala : normocephali Mata : konjungtiva pucat (-), ikterus (-) RP +/+ isokor, mata cowong (-) Mulut : mukosa bibir agak basah THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU N H/L ttb Eks: Hangat + + + + Oedem -

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG + KEJANG DEMAM SEDERHANA DD/ IMBALANCE ELEKTROLIT (METABOLIK) 15/09/2011 S: Mencret (+) 2 kali, konsistensi lebih kenyal seperti bubur, warna kekuningan, demam (-) O: St. Vital RR : 32x/menit Nadi : 124x/menit isi cukup Tax : 35,2oC St. General Kepala : normocephali Mata : konjungtiva pucat (-), ikterus (-) RP +/+ isokor, mata cowong (-) Mulut : mukosa bibir agak basah THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU N H/L ttb Eks: Hangat + + + + Oedem -

900cc/hari Tridex 27 B 900cc ~ 12 tpm - Renalyte FL 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret - L. Bio 1x sachet I - Zincpro sirup 1x Cth I - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C +kompres hangat dapat diulang @ 4 jam - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ Cth 3/4 jika suhu 38,50C - Kalfoxim amp 3x250mg iv Mx: - VS - Balans Cairan

Tx: - Kebutuhan cairan 950cc/hari ~ IVFD tridex 27 B 12 tpm - Renalyte 10cc/kgBB ~ 90cc @muntah/mencret - L. Bio 1x sachet I - Zincpro sirup 1x Cth I - Praxion sirup Cth I jika panas 38,50C dapat diulang @ 4 jam +kompres hangat - Diazepam profilaksis intermiten 0,5 mg/kgBB/kali ~ Cth 3/4 jika suhu 38,50C - Kalfoxim amp 3x250mg iv Pdx: Mx: - VS - Diare

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG + KEJANG DEMAM

18

SEDERHANA 16/09/2011 06.00 S: Mencret (+) 1 kali, konsistensi seperti bubur, gelas, ampas (+), lendir (-), darah (-) muntah 3x isi susu 70 cc demam (-), BAK (+), minum 6x140 cc, kejang (-) O: St. Vital RR : 36x/menit Nadi : 142x/menit isi cukup Tax : 36oC St. General Kepala : normocephali Mata : konjungtiva pucat (-), ikterus (-) RP +/+ isokor, mata cowong (-) Mulut : mukosa bibir basah THT: secret (-) NCH (-) Thorak: simetris (+) retraksi (-) Cor: S1 S2 Reg N murmur (-) Po: Bves +/+ Rh -/- Wh -/Abdomen : distensi (-), BU N H/L ttb Eks: Hangat + + + + Oedem Tx: - BPL - L-Bio 1xI sachet (po) - Zincpro syrup 1xCth I po - Fuzide syrup 3xcth I

A: DIARE AKUT DEHIDRASI RINGANSEDANG + KEJANG DEMAM SEDERHANA

19