You are on page 1of 9

ARTIKEL MANDIRI PSIKOLOGI LINGKUNGAN PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN DALAM LINGKUP PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Oleh:

VITA MARYATI
NPM. 10130717

PRODI: BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2011

PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN


DALAM LINGKUP PENDIDIKAN

Langkah-langkah pembangunan yang merusak selama beberapa dekade seperti urbanisasi, industrialisasi dan penggalian mineral serta kekayaan alam lain yang membabi-buta menyebabkan cepat menyusutnya keberagaman hayati di negeri ini, di samping juga memburuknya ekosistem yang amat rentan di manamana. Dari sekian banyak faktor yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di negeri ini, salah satunya adalah kenyataan bahwa para pembuat kebijakan serta masyarakat pada umumnya sering tidak punya pengetahuan tentang persoalanpersoalan yang dibawa oleh pola pertumbuhan ekonomi yang ada sekarang, atau tentang jalur-jalur alternatif apa saja yang bisa ditempuh untuk menyelenggarakan sumber-sumber penghidupan yang berkelanjutan tanpa merusak sumberdaya alam. Akibat ketidaktahuan itu maka terus-menerus terjadi pengurasan yang berlebihan dan perlakuan semena-mena terhadap sumberdaya alam.

Pembangunan pada dasarnya adalah upaya sadar untuk memanfaatkan potensi yang layak, memecahkan permasalahan yang dihadapi serta memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat menuju keadaan atau kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Potensi, permasalahan serta kebutuhan masyarakat Jawa Tengah tidak dapat dimanfaatkan, dipecahkan serta dipenuhi dalam jangka pendek. Demikian juga sumber daya yang tersedia untuk pembangunan selalu terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan, oleh karena itu diperlukan suatu perencanaan strategis pembangunan jangka menengah peternakan sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan tahunan yang saling berkaitan dan berkesinambungan.

Kebijakan pembangunan yang mengarah pada paradigma pembangunan berkelanjutan seringkali tidak mampu menyentuh masyrarakat pada level akar rumput. Masyarakat yang seharusnya melaksanakan kebijakan tersebut justru terkendala dengan minimnya pemahaman disebabkan oleh terbatasnya proses sosialisasi kebijakan yang dilakukan. Hal ini berakibat pada tidak tercapainya

tujuan pembangunan berkelanjutan sebagaimana telah dirumuskan sebelumnya yaitu untuk mencapai keseimbangan ekonomi,sosial dan lingkungan secara berkesinambungan. Pembangunan berkelanjutan salah satunya terkait dengan upaya pembentukan perilaku masyarakat terhadap lingkungan yang secara umum bertujuan untuk mewujudkan gaya hidup berwawasan lingkungan. Gaya hidup diukur dari beberapa variabel dimana salahsatunya adalah sampah. Kebiasaan seseorang mengelola sampah akan mengindikasikan sejauh mana gaya hidupnya pro terhadap lingkungan. Dalam masyarakat tradisional Indonesia, perempuan memiliki tempat yang sangat baik, mendapat penghargaan dan derajat yang sama dengan kaum laki-laki. Begitu baiknya kedudukan kaum perempuan hingga hampir seluruh wilayah Indonesia pernah mengalami pengaruh besar dari kepemimpinan perempuan di dalam pemerintahan. Akan tetapi, pada masa-masa selanjutnya, seiring dengan masuknya feodalisme, terutama yang dibawa kolonialisme yang membawa ideologi Barat yang menanamkan superioritas laki-laki atas perempuan, terjadinya hubungan perdagangan dengan bangsa lain (terutama Arab) yang membawa budaya patriarki yang dominan, dan adanya beberapa kebiasaan dalam adat yang merugikan kaum perempuan, terjadilah kemerosotan dalam kedudukan kaum perempuan. Upaya yang dilakukan para tokoh, antara lain Kartini dan Dewi Sartika dalam memperbaiki kembali nasib kaum perempuan itu pada beberapa sisi menampakan hasil. Namun, belum sepenuhnya terjadi karena praktek-praktek penindasan terhadap kaum perempuan secara mental dan fisik, perlakuan tidak adil dan bersifat merendahkan tetap terjadi pada masa ini. Pengamatan kita seharihari, berbagai pengkajian dan penelitian telah banyak membuktikan hal itu. Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development

Goals/MDGs) menitik beratkan kepada pendidikan, kesehatan, dan pemeliharaan lingkungan untuk memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Target pencapaian poin-poin MDGs ditetapkan untuk dapat direalisasikan oleh tiap negara pada 2015.

Salah satu upaya utama yang harus dilakukan dalam pencapaian target MDGs adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perempuan sebagai

motivator bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya menjadi ujung tombak dalam upaya peningaktan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu Dharma Wanita Persatuan Pusat menyelenggarakan Seminar Nasional Peningkatan Peran Perempuan Sebagai Agent of Change dalam Keluarga dan Masyarakat. Seminar Nasional ini akan mengedepankan topik tentang kegiatan ekonomi dan penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan kualitas keluarga.

Secara alamiah dan naluriah, wanita merupakan guru bagi putra-putrinya. Dari semenjak lahir, ibunyalah yang mengajarkan berbagai kemampuan bagi sang anak. Selain itu, wanita juga memiliki peran serta membesarkan generasi penerus bangsa. Peran strategis wanita adalah sebagai agent of development, artinya, jika pendidikan wanitanya bagus apa yang akan terjadi, dan jika pendidikan wanitanya buruk dan terbelakang apa yang akan terjadi pada pembangunan bangsa ini, khususnya pembangunan bidang pendidikan generasi mudanya. Hingga saat ini, problem wanita yang masih dirasakan adalah masih rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, peran serta dalam masyarakat, serta kesetaraan gender. Menurut data, pada level pendidikan dasar, belum ada kesenjangan kesetaraan gender. Namun semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin terdapat disparitas kesetaraan gender. Anak-anak di kota partisipasi melanjutkan sekolah ke sekolah lanjutan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan.

Saat ini masih banyak wanita khususya di Indonesia yang menjadi budak belian seperti tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri yang mendapat perlakuan sewenang-wenang, tentunya telah mengecilkan arti seorang wanita. Hal tersebut tidak akan terjadi bila kaum wanita Indonesia telah memiliki pendidikan formal tinggi. 'Kaum perempuan di Indonesia masih tertinggal di bidang pendidikan, politik, ekonomi, dan kesempatan kerja. Women Entrepreneurship Academy berfokus pada pendidikan dan berpartisipasi menjadi pelatihan pembangunan ekonomi di Indonesia, memperluas UKM menjadi usaha yang dapat terus berkembang secara berkesinambungan,. Menjadi seorang pengusaha sukses tidak

harus selalu melewati jenjang pendidikan tinggi. Yang penting, individu tersebut harus memiliki impian dan cita-cita untuk merealisasikan pengetahuan dan keterampilannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.

Ada sembilan karakter khusus yang harus dimiliki setiap entrepreneur berdasarkan filosofi Jawa yaitu toto (terencana), titi (akurat), titis (mengena), tatag (berani), tatas (efektif), tetep (konsisten), tanggap (responsif), teguh

(berpendirian), dan trengginas (aktif dan produktif). ''Seorang entrepreneur itu ibaratnya mampu mengubah kotoran menjadi emas. Ada tiga kategori entrepreneur, yakni yang terpaksa, meniru, dan inovatif. Dengan berdirinya WEA ini diharapkan dapat menciptakan entrepreneur yang inovatif dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, pemberdayaan perempuan sangat diperlukan di segala bidang. Jika tidak dimanfaatkan, negara akan kehilangan produksi domestik bruto secara signifikan.

Perempuan berkeluarga yang berperan ganda sebagai individu senantiasa menyesuaikan diri dengan komponen lingkungan tersebut meskipun seringkali menghadapi tekanan dari lingkungannya. Ketika mendapatkan tekanan dari lingkungan, perempuan akan melakukan adaptasi diri, yang berarti mengubah diri sesuai keadaan lingkungan dan juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan diri. Peran ganda perempuan membawa dampak pada pergeseran nilai dalam keluarga, berupa perubahan struktur fungsional dalam kehidupan keluarga seperti pola penggunaan waktu dan kegiatan untuk keluarga, urusan rumah tangga, pekerjaan, sosial ekonomi, pengembangan diri dan pemanfaatan waktu luang,

Peran ganda yang dijalani perempuan membuat pola interaksi dengan keluarga berlangsung timbal balik dan saling membutuhkan baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Adapun Pola pengelolaan pendapatan dan pemanfaatan pendapatan keluarga didasarkan oleh tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Peran ganda perempuan adalah sesuatu yang dapat disimak, diobservasi, dan merupakan fenomena yang bersifat inter subyektif. Peran ganda perempuan membawa konsekuensi pada terjadinya perubahan pranata ataupun struktur sosial di dalam keluarga. Jika peran ganda perempuan menyumbang stabilitas keluarga atau masyarakat, maka hal itu dinilai fungsional dan disebut sebagai perubahan struktur fungsional dalam kehidupan keluarga.

Peran ganda perempuan berarti keterlibatan perempuan secara aktif dalam suatu proses pencapaian tujuan yang dilakukan oleh pribadi perempuan yang diorganisir berlandaskan kemampuan yang memadai, serta turut serta memutuskan tujuan. Peran ganda perempuan merupakan perilaku dan tindakan sosial yang diharapkan dapat menciptakan stabilitas dan harmoni dalam keluarga.

Keterlibatan perempuan melakoni peran ganda tidak terlepas dari faktorfaktor yang mempengaruhinya seperti adanya motivasi, keinginan yang kuat untuk mengaktualisasikan diri, adanya keyakinan dan penilaian positif terhadap diri sendiri akan kemampuan untuk melakukan hal-hal positif yang dapat membawa pada keberhasilan di masa yang akan datang.

Setiap perempuan sebagai pribadi memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang memotivasinya, merangsang perkembangannya atau

memberikan sesuatu yang ia butuhkan. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik, lingkungan psikis, serta lingkungan rohaniah yang dikandung oleh setiap individu.

Perempuan, ketika melihat adanya peluang untuk mengembangkan diri, dan mendapat dukungan dari lingkungan, akan berusaha berprestasi atau berusaha untuk maju. Peluang ini akan membuka kesempatan bagi perempuan berpindah strata. Kesempatan ini mendorong perempuan untuk maju bersaing dan bekerja keras untuk beralih ke strata yang lebih tinggi.

Dari aspek ekonomi, kaum perempuan Indonesia masih banyak yang berada dalam garis kemiskinan. Rendahnya pendapatan dan kurangnya akses dalam perekonomian membuat kaum perempuan Indonesia semakin terpuruk. Saat ini 4,7 juta perempuan di Indonesia masih menganggur. Masih kuatnya budaya patriarki juga menyebabkan ketimpangan social sehingga kaum perempuan sulit mengakses pekerjaan, pendidikan dan aktualisasi diri. Upaya untuk memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan bagi kaum perempuan telah dilakukan pemerintah. Pada tahun 2004, Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah menerbitkan surat edaran kepada departemen dan LPND No.B-168/Men.PP/Dep.ll/XI/2004 ke seluruh propinsi dan kabupaten tentang perlunya memperhatikan kesetaraan gender dalam rekruitmen pegawai negeri. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid juga diterbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2000 yang berisi tentang penghapusan isu perbedaan jender dalam pembangunan nasional. Inpres ini mengamanatkan kepada kaum perempuan untuk dapat duduk lebih banyak, di dalam jabatan-jabatan publik.

Dari aspek pendidikan, Guru Besar Fakultas Ekonomi Unpad, Ina Primiana mengungkapkan dari jumlah perempuan pekerja di Indonesia sekitar 81,15 juta orang dan 56 persen atau 45,4 juta orang di antaranya hanya berpendidikan SD. Hanya 4,7 persen atau 3,8 juta yang berpendidikan akademi atau sarjana, Data Biro Pusat Statistik tahun 2004 menunjukan bahwa jumlah anak perempuan usia sekolah yang memperoleh pendidikan lanjutan tingkat atas lebih kecil dibandingkan rekan laki-laki sebayanya.

Dari aspek kesehatan, derajat kesehatan kaum perempuan juga sangat memprihatinkan. Walaupun Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sudah menurun, namun ternyata masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara di Kaum perempuan sebagai komponen bangsa yang besar jumlahnya yaitu hampir separuh jumlah populasi penduduk Indonesia menempati peran penting dalam pembangunan bangsa. Dalam keluarga, kaum perempuan merupakan tiang keluarga, kaum perempuan akan melahirkan dan mendidik generasi penerus.

Kualitas generasi penerus bangsa ditentukan oleh kualitas kaum perempuan sehingga mau tidak mau kaum perempuan harus meningkatkan kualitas pribadi masing - masing. Tidak mungkin akan terbentuk keluarga yang berkualitas tanpa meningkatkan kualitas perempuan. Kualitas pendidikan perempuan merupakan aspek yang sangat penting bagi pembangunan bangsa. Kaum perempuan harus berusaha meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin. Jumlah sarjana perempuan yang masih dibawah 5% merupakan tantangan bagi semua komponen bangsa. Peningkatan derajat kesehatan perempuan seiring dengan upaya peningkatan akses pendidikan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana dan pelayanan kesehatan. Meski sudah banyak kemajuan yang dicapai terkait dengan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di bidang pendidikan, namun masih banyak tantangan yang dihadapi kaum perempuan dan anak. Factor yang menyebabkannya seperti masalah geografis, lingkungan, kemiskinan, dan konstruksi social budaya. Dampak dari kebijakan dan program pendidikan yang buta gender itu lebih dirasakan oleh kaum perempuan dibandingkan kaum lakilaki karena kurangnya akses perempuan terhadap sumber daya, informasi dan pengambilan keputusan.

DAFTAR PUSTAKA http://www.deptan.go.id/dinakkeswan_jateng/detailjasa.php?id=3 http://eprints.undip.ac.id/3675/ http://www.dharmawanitapersatuan.com/index.php?option=com_content&view=c ategory&layout=blog&id=34&Itemid=81 http://www.kabarindo.com/?act=dnews&no=17967 http://www.unm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=30&Itemi d=61 http://www.pdiperjuangan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id =300:pemberdayaan-perempuan-dan-pembangunannasional&catid=45:swara&Itemid=127