You are on page 1of 19

Kurang dari dua minggu kedepan ini, selesai sudah tugas yang dibebankan oleh Allah swt.

kepada kita sekalian, orang-orang yang beriman, untuk melatih diri kita mengendalikan semua keinginan dan kemauan nafsu kita sendiri, agar kita sekalian dapat melaksanakan perintah-perintah Allah yang pada dasarnya sangat dibenci oleh nafsu, dan agar kita dapat meninggalkan larangan-larangan Allah swt. yang pada dasarnya sangat disenangi oleh nafsu. Selama berpuasa kita telah mampu menahan nafsu kita untuk tidak memakan makanan milik kita sendiri di siang hari meskipun kita sangat lapar dan sendirian tanpa ada orang lain yang melihat kita, hanya karena kita takut melanggar larangan Allah SWT. Selama berpuasa kita telah mampu menahan nafsu kita untuk tidak meminum minuman milik kita sendiri di siang hari meskipun kita sangat haus dan jauh dari penglihatan orang lain, hanya karena kita ingin mentaati perintah Allah SWT. Sebab tujuan dari puasa itu justru untuk menjadikan orang-orang yang melakukannya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. sebagai mana firman Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 183: . Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian dapat bertaqwa. Di hari Idul Fitri, jiwa kita akan merasa tenang dan tenteram karena dosa-dosa kita kepada Allah SWT. telah diampunkan oleh Allah SWT. berkat puasa Ramadhan yang telah kita lakukan karena dorongan iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT., sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad SAW.: ? Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampunkan baginya apa yang telah lalu dari dosanya. Sesudah shalat hari raya nanti kita akan meminta maaf kepada keluarga kita, kaum kerabat dan famili kita, serta teman, tetangga dan kenalan kita dari kejahatan, kesalahan serta perbuatan dhalim yang pernah kita lakukan terhadap mereka, agar jiwa kita benar benar terbebas dari dosa kepada Allah SWT. dan kesalahan kepada sesama manusia. Dan dengan demikian kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Dalam surat Ali Imron ayat 112 Allah SWT. telah berfirman: ?? ??

Mereka itu akan ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka itu menyambung tali hubungan baik dengan Allah dan tali hubungan baik dengan sesama manusia. Dengan menyambung tali hubungan baik dengan sesama manusia yang ditandai dengan masing masing pribadi berani mengakui kesalahan dirinya dan berani meminta maaf kepada orang yang lebih muda usianya dan lebih rendah pangkat dan derajatnya, kehidupan masyarakat nampak rukun dan damai. Persatuan dan kesatuan masyarakat yang tulus dapat kita saksikan dengan jelas. Sedang persatuan dan kesatuan yang tulus dan murni dari sesuatu bangsa itu adalah merupakan salah satu kunci dari keberhasilan dalam mencapai pembangunan lahir dan batin.

Sejarah telah membuktikan bahwa sewaktu Rasulullah saw. berada di Madinah selama sebelas tahun, beliau dan para sahabat beliau telah mengalami peperangan akibat serangan dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebanyak 78 (tujuh puluh delapan) kali. Namun ummat Islam di bawah pimpinan Rasulullah saw. satu kalipun tidak pernah mengalami kekalahan. Di manakah kunci rahasia dari kemenangan ummat Islam pada za-man Rasulullah saw. dan juga pada zaman Khulafaur Rasyidin dalam peperangan melawan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik? Kunncinya terletak pada tiga hal, yaitu: 1. Karena keimanan ummat Islam kepada Allah swt. dan kepada hari kiamat sangat tebal. 2. Karena kecintaan ummat Islam kepada Nabi Besar Muhammad saw. sangat mengalam. 3. Karena persatuan dan kesatuan ummat Islam sangat kuat. Ad.1. Pada zaman Rasulullah saw. iman para sahabat kepada Allah swt. dan kepada hari kiamat adalah sangat tebal. Ketebalan iman mereka ini dibuktikan oleh sikap dari setiap orang Islam yang akan berangkat ke medan pertempuran yang selalu minta didoakan oleh seluruh anggauta keluarganya agar mati sebagai salah seorang syuhada dan jangan sampai pulang kembali ke rumah dalam keadaan hidup. Hal ini karena didorong oleh imannya yang sangat tebal bahwa orang yang mati syahid itu di hari kiamat kelak tidak termasuk orang yang boleh masuk sorga dan bukan termasuk orang yang dimasukkan ke dalam sorga, teta-pi termasuk orang yang diberi sorga atau pemilik sorga, sehingga dapat menempati sorga tersebut tanpa dihisab. Sedang semua anggauta keluarganya juga yakin dengan keyakinan yang tebal bahwa orang yang mati syahid itu dapat memberikan syafaat atau pertolongan kepada anggauta keluarganya sebanyak 70 (tujuh puluh) orang, sehingga dengan ikhlas hati mereka mau mendoakan agar yang berangkat ke medan laga menjadi orang yang mati sya-hid.

Jika yang berangkat ke medan perang itu kebetulan sudah tidak punya anggauta ke-luarga sama sekali, dia langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan bertanya: ? ? ? ? ??? ?? ? Ya Rasulullah, apakah bagianku jika aku mati dalam medan pertempuran? Jika Rasulullah saw. menjawab: = ? Bagianmu adalah sorga!, maka harta benda yang dimilikinya diserahkan kepada Rasulullah saw.untuk diurusi dan dia berpamitan kepada Rasulullah saw. untuk mati di medan laga. Inilah kunci pertama dari sebab kemenangan ummat Islam yang terus menerus da-lam berperang melawan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Akan tetapi di kala ummat Islam sudah dihinggapi perasaan takut mati dan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. sudah diganti dengan kecintaan kepada duniawiyah, maka mereka menjadi ummat yang selalu kalah dalam berperang melawan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah saw. pernah bersabda: ??? ?? ? ? ? ?. ? ? : ? ?? ? ?? : ? ?? ? ??? ? ?? ? ? ? ? ??? ???? ?? ?? ? ?? ???? ?! ? ? : ? ? ? : ?? ? . ? ? - Hampir saja para ummat mengepung kamu sekalian wahai ummat Islam, sebagai mana tukang-tukang makan mengepung ambeng mereka!. Ada seorang sahabat berkata: Apakah karena pada waktu itu jumlah kami sedikit? Beliau bersabda: Bahkan jumlah ka-mu pada waktu itu banyak; akan tetapi kwalitas iman kamu sekalian adalah kwalitas bu-ih, seperti buih banjir yang selalu mengikuti arah air. Dan sungguh Allah benarbenar akan mencabut dari dada musuhmu perasaan segan terhadap kamu dan Allah benar-benar akan meletakkan wahan pada hati kamu sekalian! Salah seorang sahabat berkata: Wahai Rasulullah, apakah wahan itu? Rasulullah bersabda: Cinta dunia dan benci mati. Demikianlah keadaan ummat Islam di seluruh dunia sekarang ini, sudah tidak lagi disegani oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, bahkan sudah dijadikan bulanbulanan oleh mereka. Pada masa Rasulullah saw. kecintaan ummat Islam kepada Rasulullah saw. adalah sangat mendalam. Jika mereka mendengar perjuangan membela Rasulullah saw. atau mem-bela agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., jangankan harta mereka, anak mereka, orang tua mereka dan semua orang yang mereka cintai, diri mereka pun mereka korban-kan sebagai bukti keimanan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

? ??? ?? ? ?? ? ??? . ? ?? ??? ? ? Tiadalah beriman salah seorang dari kamu sekalian, sehingga aku lebih dicintai olehnya dari pada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya. Inilah kunci yang kedua dari kemenangan ummat Islam pada zaman Rasulullah dan pada zaman sahabat dalam berperang melawan musuh-musuh mereka, sehingga daerah ummat Islam semakin luas. Akan tetapi pada saat kecintaan ummat Islam kepada Nabi Muhammad saw. sudah diganti dengan kecintaan kepada dunia seperti sekarang ini, maka um-mat Islam selalu mengalami kekalahan dalam melawan musuh-musuh mereka, sebagaimana diisyaratkan oleh hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di atas. Pada zaman Rasulullah saw. persatuan dan kesatuan ummat Islam adalah sangat ku-at sekali. Mereka benar-benar mentaati perintah Allah swt. yang tersebut dalam surat Ali Imran ayat 103: ? ? ?? ? ? ? . Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam), dan ja-nganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuhmusuhan (semasa Jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati ka-mu (sehingga kamu bersatu padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa Jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat keterangan-Nya supaya kamu mendapat petunjuk hidayah-Nya. Walaupun di antara para sahabat itu terdapat perbedaan-perbedaan pendapat, namun perbedaan pendapat yang ada di antara mereka itu tidak pernah merusak persatuan dan kesatu-an mereka yang mereka manifestasikan dalam shalat berjamaah lima waktu. Mereka tidak pernah menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk bertengkar dan berpecah belah apalagi untuk berperang saudara. Mereka saling menghormati perbedaan pendapat yang ada di antara mereka, sehingga persatuan dan kesatuan dapat tetap terjaga dengan baik. Inilah kunci ketiga dari kemenangan ummat Islam dalam setiap pertempuran. Akan tetapi setelah ummat Islam sudah tidak lagi mau mentaati perintah Allah swt. yang tersebut dalam surat Ali Imron ayat 103 di atas, maka perbedaan pendapat yang tidak prinsip pun telah da-pat memecah belah dan menghancurkan persatuan dan kesatuan ummat Islam. Karena ter-dorong oleh sifat ambisi dan gila hormat serta ingin menang sendiri, maka di negara Indo-nesia yang tercinta ini telah terjadi berbagai macam kerusuhan, penjarahan, tindakan kekerasan, dan bahkan pembunuhan di mana-mana. Padahal sekarang ini bangsa

Indonesia sedang menginginkan keadaan dan tatanan dalam segala bidang yang lebih baik dari pada apa yang pernah kita alami dengan mengadakan reformasi. Akan tetapi jika untuk mencapai tujuan reformasi tersebut sudah kita hancurkan lebih dahulu persatuan dan kesatuan bangsa, mungkinkah tujuan reformasi secara total yang kita dambakan itu dapat terwujud? Lebih-lebih dalam menghadapi berbagai macam krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia sekarang ini, kita bangsa Indonesia tidak akan mampu menanggulangi dan menyelesaikannya, jika masing-masing kelompok masyarakat dari bangsa Indonesia tidak mampu menahan diri untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Lalu apa artinya latihan menahan diri dan menahan nafsu selama bulan Ramadlan jika setelah bulan Ramadlan kita tidak mampu mengamalkan hasil latihan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Marilah kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 46: ?? ?? ? ??? ??? .?? ? ?? Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantah (berteengkar); kalau tidak, niscaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang ke-kuatan kamu, dan bersabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allalh beserta orang-orang yang sabar. Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah swt. semog Allah swt. berkenan menyelamatkan bangsa Indonesia dari pertikaian, perpecahan dan kehancuran, dan semoga berkenan mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya yang menjadi tujuan refor-masi dengan aman dan selamat, serta berkenan memaafkan segala dosa, kesalahan, kekurangan, kekhilafan dan kedhaliman kita sekalian bangsa Indonesia. Amin!

Hikmah Idul Fitri


ALLAHU Akbar, dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid pula ia sambut 1 Syawal 1427 H. Mudah-mudahan pelepasan

bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal terpenuhi makna dan arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira. Selama bulan Ramadhan, jiwa, ruh, dan hati umat benar-benar telah terasah dengan amalamal kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa" (QS [al-Hujurat] 49 : 3). Idul Fithri bagi kaum wanita dan anak-anak ? Sebagaimana halnya kamu pria, kaum wanita dan anak anak pun disunnahkan menghadiri shalat Idul Fitri. Begitu pula halnya orang orang tua, gadis-gadis perawan, wanita wanita haid dan nifas. Seperti dilaporkan oleh Ummu Athiyah (HR. Bukhori Muslim). Adalah Rasulullah SAW keluar bersama istri-istri dan putri-putrinya untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan mendengarkan khutbah (HR. Ibnu Majah & Baihaqi dan Ibnu Abbas). Adapun untuk wanita haid dan nifas, cukup mendengarkan khutbah, tidak ikut shalat. Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesucianya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan. serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat. Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri inilah, manusia yang taat pada takdir Allah meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan kala itu ba' terlahir kembali. Dan, bila kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

Memang Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir. Masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai perang Badr di akhir Ramadhan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) masih ada perang yang lebih besar untuk menegakkan agama yang benar. Beragama yang benar adalah nasihat menasihati, Sabda Rasul: Addinun Nashihhat, Arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain. Yang lebih penting, semoga saja tak cuma simbol yang melekat pada diri kita selepas puasa sebulan penuh ini. Segala aspek kehidupan yang lurus yang kita jalani selama Ramadhan ini hendaknya menjadi titik tolak untuk melangkah ke depan. Hal ini kita mulai dari diri kita sendiri, barulah kemudian ke jenjang yang lebih besar yakni saudara, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas. Adapun mengenai perayaan Idul Fitri yang berbeda waktunya janganlah dijadikan perdebatan dan masalah besar.Sebaliknya, terimalah perbedaan itu sebagai rahmat dan tetap menjalin tali silaturahmi.

1. Ya Allah, bagi-Mu segala pujian dengan pengakuan akan keburukan dan kesadaran akan kelalaian.Dari lubuk hati kami penyesalan yang paling dalam dari lidah kami permohonan maaf yang paling tulus. Karuniakan kepada kami dengan segala kekurangan kami di bulan-Mu yang agung ini. Maghfirah, rahmat, keberkahan dan kedamaian yang menyampaikan kami pada kemuliaan dan ridha-Mu. Shalawat dan salam dari kami untuk Rasul yang agung dan keluarganya yang suci .

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 2. Di Penghujung bulan yang agung ini. Sayangi tangisan dan rintihan kami. Pastikan bagi kami ampunan-Mu. Sampaikan dengan sisa umur kami kepada bulan Ramadhan yang akan datang. Bantulah kami untuk beribadah kepada-Mu. Bimbinglah kami untuk mentaati-Mu. Bimbinglah kami untuk mencintai Rasulullah saw dan keluarganya serta para kekasih-Mu. Shalawat dan salam dari kami untuk Rasul yang agung dan keluarganya yang suci . Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 3. Ya Allah. Apa saja dosa besar dan kecil yang kami lakukan di bulan yang mulia ini atau kedurhakaan atau kesalahan yang kami langgar dengan sengaja atau lupa. Maafkan kami dengan dengan maaf-Mu. Ampuni kami dengan ampunan-Mu. Alirkan pada kami keberkahan dan kedamaian dari sisi-Mu. Lindungi kami dari segala musibah. Selamatkan kami dari siksa dan azab-Mu. Shalawat dan salam untuk kekasih kami Rasulullah saw dan keluarganya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 4. Ya Allah, dengan berlalunya bulan yang mulia ini. Lepaskan kami dari segala dosa kami Keluarkan kami dari segala kesalahan kami. Selamatkan kami dari segala musibah Jadikan kami orang yang paling bahagia, orang yang besar memperoleh bagian, orang yang paling tinggi mendapat keuntungan dari sisi-Mu. Shalawat dan salam untuk kekasih kami Rasulullah saw dan keluarganya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 5. Ya Allah, orang yang memelihara bulan ini dengan sebenarnya, menjaga kehormatannya dengan sebenarnya, menegakkan hukum-hukumnya dengan sebenarnya, menjaga diri dari dosa-dosanya dengan sebenarnya, mendekatkan diri kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya, tentu ia akan memcapai ridha-Mu dan meraih kasih-Mu. Berilah kami yang seperti itu dari kekayaan-Mu. Karuniakan kepada kami anugrah-Mu yang berlipatganda karena anugrah-Mu tidak pernah berkurang, perbendaharaan-Mu tidak pernah menghilang, dan pemberian-Mu penuh kebahagiaan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. (Iqtibas dan disarikan dari doa Imam Ali Zainal Abidin sa, Ash-Shahifah As-Sajjadiyah, doa ke 45, doa berpisah dengan bulan Ramadhan) 6. Semua yang agung kecil di hadapan-Mu Semua yang mulia hina di hadapan kemulian-Mu Kecewalah orang yang berangkat kepada selain-Mu

Rugilah orang yang menghadap kepada selain-Mu Lenyaplah orang yang tinggal bersama selain-Mu Malanglah orang yang memisahkan diri kecuali yang memisahkan diri pada karunia-Mu Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 7. Pintu-Mu terbuka bagi para perindu Anugrah-Mu disebarkan pada para peminta Pertolongan-Mu dekat dengan pemohon pertolongan Shalawat dan salam untuk kekasihku Rasulullah saw dan keluarganya saw Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 8. Para pengharap tidak akan kecewa pada-Mu Para penghadap tidak akan putus asa atas pemberian-Mu Para pemohon ampunan tidak akan celaka dengan hukuman-Mu Shalawat dan salam untuk kekasihku Rasulullah saw dan keluarganya saw Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 9. Rizki-Mu selalu terbuka bagi orang yang menentang-Mu Santun-Mu diberikan kepada orang yang memusuhi-Mu Kebiasaan-Mu berbuat baik kepada para pedosa Tradisi-Mu membiarkan para pelanggar sehingga kesabaran-Mu menipu mereka untuk kembali kepada-Mu Pengabaian-Mu memalingkan mereka dari menghentikan dosa Shalawat dan salam untuk kekasihku Rasulullah saw dan keluarganya saw Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 10. Betapa banyaknya orang bergerak dalam siksa-Mu Betapa lamanya ia mendatangi hukuman-Mu Betapa jauhnya tujuannya dari keselamatan Betapa putus asanya ia dapat keluar dengan mudah Karena keadilan ketentuan-Mu, tak pernah Engkau berbuat zalim Karena kesadaran akan hukum-Mu, tak pernah Engkau tidak adil. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin. 11. Kebisuanku telah membuatku sedikit memuji-Mu Pengendalian diri telah membuatku tak berdaya untuk menyanjung-Mu Yang paling bisa kulakukan hanyalah pengakuan akan ketakmampuanku bukan karena keinginan, duhai Tuhanku, tetapi karena kelemahan. 12. Inilah aku, berangkat kepada-Mu untuk menemui-Mu, mohon kepada-Mu Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya. Dengarlah seruanku, ijabahi

doaku, jangan tutup hariku, jangan marahi aku dengan penolakan permohonanku. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf lahir dan batin.

Dalam Islam kita mengenal beberapa hari kebesaran, dalam satu minggu kita akan bertemu dengan hari Jum`at, sebuah hari raya dalam tarf mingguan. Untuk level tahunan kita pun mengenal Idul fitri dan Idul adha, merupakan dua hari kebesaran level tahunan bagi komunitas muslim se-dunia. Mengenai Ied yang pertama (Idul fitri) lumrahnya kita lebih perhatian dalam menyambut kedatangannya dan merasakan lebih semarak dalam setiap kali memperingatinya. Idul fitri yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Syawal, eksistensinya terasa lebih sakral jika dibandingkan dengan Idul adha yang terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah, sebab jatuhnya Idul fitri tepat setelah satu bulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa. Sehingga dengan tibanya tanggal 1 Syawal kita seakan-akan merasakan sebuah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu. Ibadah lain yang turut mewarnai setiap datangnya hari raya Idul fitri adalah zakat fitrah, kewajiban yang bersifat individual ini ikut menghiasi hari raya sebagai bentuk riil dari asas kebahagiaan bersama dalam ideologi Islam. Zakat yang secara umum bisa kita artikan sebagai proses pemerataan kepemilikan ini, pelaksanaannya tidak lain merupakan perpindahan harta yang dimiliki oleh kalangan orang-orang kaya ke tangan orang-orang yang tidak berdaya, tentunya dengan beberapa syarat dan catatan yang dikupas secara detail dalam kajian fiqh. Diantara hikmah disyari`atkannya zakat fitrah menjelang datangnya hari Idul fitri adalah agar dapat berbagi kebahagiaan antara sesama muslim dari kalangan mampu dan non mampu. Bagaimana tidak, sebab seorang muslim yang memiliki kecukupan makanan pada hari itu diharuskan atasnya mengeluarkan zakat fitrah baik berupa bahan makanan pokok maupun berupa uang. Dari sini penulis merasa perlu untuk me-reaktualisasi makna penyambutan datangnya hari raya Idul fitri itu sendiri, yang terkadang tanpa disadari maknanya telah dicupetkan oleh sebagian kalangan dan atau bahkan disalah artikan. Saya yakin bahwa essensi Idul fitri itu sendiri bukan hanya sekedar media penumpahan rasa bahagia bersama anak cucu, kerabat, atau teman-teman dekat dengan melaksanakan shalat Ied berjamaah di sebuah masjid atau lapangan, berjabat tangan (ramah tamah), menyantap ketupat serta aneka macam makanan dan minuman lainnya. Akan tetapi lebih dari itu, rasa kepekaan sosial semestinya harus lebih dititik beratkan, atau dengan kata lain perhatian kita pada realisasi zakat fitrah dan proses penyalurannya harus lebih ditonjolkan Sebab pengurangan penderitaan komunitas miskin akan dapat menghapus penyakit-penyakit antisosial di

antara mereka dan meningkatkan motivasi kerja, efisiensi, dan juga mereduksi waktu terbuang (kekosongan) akibat dari konflik. Di belahan bumi ini masih banyak kita temukan saudara-saudara se-iman yang hidup di bawah garis kemiskinan. Baik itu disebabkan oleh ketidak stabilan politik dan perekonomian, maupun dikarenakan faktor minimnya sumberdaya manusia. Tengoklah misalnya di negara Afganisthan, Irak, dan Bosnia yang sampai saat ini rakyatnya terus dirundung ketidak jelasan nasib dan keburaman sosial yang diakibatkan tidak stabilnya kondisi politik dan ekonomi negara. Di berbagai media massa akan banyak kita temukan gambaran kesengsaraan mereka, kondisi jauh dari kesejahteraan menjadi topik utama dalam mengisi harian surat kabar dan layar televisi rumah kita. Realitas buruk ini tidak cukup dengan membiarkan mereka untuk membangun kembali keterpurukan politik dan ekonomi negaranya yang selama ini menjadi sumber utama kesengsaraan, sementara kita yang menjadi saudara se-imannya hanya sibuk dengan urusan pribadi bahkan dengan kebahagiaan nisbi dalam perayaanperayaan. Justru adanya langkah nyata dari kita lah yang akan membantu mengeluarkan mereka dari belenggu kesengsaraan, tentunya dengan bantuan baik berupa moril maupun materil. Dan zakat fitrah adalah salah satu dari bentuk bantuan materil yang bisa kita salurkan kepada mereka. Apalah artinya kalau kita berbahagia bersama anak cucu, karabat, dan teman-teman dekat kalau mereka yang notebene saudara se-iman justru merasakan suasana kebalikannnya. Akankah fenomena kesengsaraan dan kematian akibat kelaparan yang setiap saat menghantui mereka menjadi sesuatu yang lumrah mengisi hari-hari kita, hingga sama sekali tidak membangkitan rasa peduli kita ? atau bahkan kita akan menganggapnya sebagai sebuah konsekuensi dari sikap dan perbuatan mereka dalam menjalani kehidupan berbangsa ? Sungguh sangat naif kalau dalam diri kita tersimpan sikap-sikap di atas. Bukankah Rasul saw pernah mengingatkan umatnya akan efek dari sebuah kemiskinan, bahwa kemiskinan akan menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran . Apakah kita rela kekufuran akan mengganti intisari keimanan mereka ? Bukankah Rasul Saw juga pernah bersabda bahwa orang yang tidak peduli dengan kondisi umat Islam maka dia tidak termasuk darinya . Dari hadist ini saja sebenarnya dianggap cukup untuk mencambuk kepasifan kita dalam melihat realitas ketimpangan sosial dan kondisi tidak meratanya kesejahteraan dalam komunitas kaum muslim. Di sisi lain komitmen Islam yang mendalam terhadap pesaudaraan dan keadilan menyebabkan konsep kesejahteraan bagi semua umat manusia sebagai suatu tujuan pokok Islam. Para fuqaha (pakar hukum Islam) secara aklamasi telah menyepakati bahwa adalah fardlu kifayah (kewajiban kolektif) hukumnya bagi masyarakat muslim untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pokok orang miskin Kalau demikian adanya, mengapa pada kesempatan Idul fitri kali ini nurani kita tidak tergugah untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi saudara-saudara se-iman yang hidup dalam belenggu kesengsaraan.

Sekali lagi, makna Idul fitri bukan hanya perayaan sepihak, hari raya ini bukan milik segelintir orang saja akan tetapi kebahagiaan tersebut harus dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia lintas profesi dan tingkat strata sosial. Wallahu A`lam

MOMENTUM spiritual untuk memperkokoh kembali fondasi hubungan antara manusia dengan Sang Khalik dan antara manusia dengan manusia, inilah hakikat sebuah hari raya dan bisa disebut hablumminallah wa habulumminannas. Idul ftiri yang berarti kembali kepada kesucian dan kebersihan (wedergeburd) berarti setiap kita sudah selesai menunaikan ibadah puasa Ramadan, telah terbebas dari berbagai noda dan coreng hitam selama ini. Setelah itu kita harus berusaha agar hidup ke depan selalu berada dalam kesucian baik lahir maupun batin. Yang terpenting dalam merayakan hari raya adalah bagaimana mencapai status Idul Fitri dan bukan sebaliknya bagaimana cara agar dapat beridul fitri. Dengan kesadaran seperti itu maka kita akan mampu menaklukkan hawa nafsu. Kita juga akan mampu melihat batas aturan dan larangan Allah, sehingga kepentingan lahiriah baik itu berbentuk politik, ekonomi maupun sosial budaya kontra pula dengan bisikan suara hati nurani. Mereka yang memperoleh predikat puasa yang mabrur dan mencapai status Idul Fitri akan tampak dari tingkah lakunya seusai bulan ramadan. Yakni sebelum ramadan datang shalat sering tertinggal, setelah ramadan dan Idul Fitri berlalu shalatnya berjalan dengan baik dan lancar. Atau sebelum ramadan dan Idul Fitri tiba tidak berdisiplin, sering melanggar peraturan dan larangan, seusai ramadan mulai berdisiplin dan taat mematuhi semua peraturan yang ada serta menjauhi segala apa yang dilarang. Bagi mereka ini sudah sewajarnya melaksanakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Wajar karena mampu menunaikan kewajibannya sebulan penuh dengan berpuasa dan ibadah lainnya sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah 185. Mengapa mereka merasa bersuka cita? Karena mereka yakin akan mendapat ampunan dan balasan sesuai dengan makna Idul Fitri yaitu kembali kepada fitrahnya. Setiap orang yang telah lulus dalam menempuh suatu ujian pasti timbul rasa bangga dan yakin akan menerima ganjaran yang setimpal yaitu keampunan dari Allah SWT. Dengan keyakinan itulah mereka merayakan Idul Fitri dengan cara mengagungkan asma Allah, takbir dan tahmid sepanjang hari. Mereka rayakan dengan suka ria, tidak berlebihan karena kegembiraannya sudah terkendali dengan mantap. Mereka yang memahami makna Idul Fitri sarat dengan kemanfaatan yaitu untuk

bersyukur dan mempererat tali silaturahmi terhadap sanak keluarga dan handai tolan sesama muslim. Hal ini penting karena hubungan sesama manusia yang menurut ajaran Islam diwajibkan selain hubungan dengan Allah SWT. Dengan selesainya ibadah puasa dan melaksanakan Idul fitri hendaknya kita akan menerima tobat dan menerima kehidupan baru sehingga menjadi suci dan disenangi serta bermanfaat bagi banyak orang. Tidak mudah memang untuk mencapai hikmah puasa dengan hasil yang baik dan diterima oleh Allah SWT, sebagai suatu kemenangan dengan menjadi manusia suci dari segala noda dan dosa. Untuk mencapainya perlu pengorbanan yang cukup berat di samping persyaratan-persyaratan lain yang harus dipatuhi utamanya menahan hawa nafsu. Apabila kita lulus dari cobaan itu maka Allah SWT akan memberikan balasan yang setimpal sebagaimana hadist Rasulullah SAW berikut ini: Barangsiapa berpuasa sebulan penuh dalam bulan ramadan dengan memelihara pribadinya dari segala yang membuat puasanya batal dan sia-sia, niscaya puasanya akan menutupi segala dosa-dosa yang telah lalu. Lewat hadist ini seyogianya kita dapat menghitung apakah sudah lengkap ibadah puasa ramadan kita. Apabila sudah lengkap diharapkan kita akan terbebas dari dosa-dosa yang kita perbuat selama ini. Tetapi sebaliknya makanakala puasa kita tidak atau kurang lengkap maka akan bertambah pula dosa-dosa kita. Tentu kita semua mengharapkan puasa kita yang kita laksanakan dan segala amal ibadah kita di dalamnya akan diterima Allah SWT, sehingga terhindar dari kesia-siaan. Insya Allah.

Sebagaimana diungkap oleh Ibnu Qoyyim; Idul Fitri bukannya milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya. Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai perasaan kaum dhuafa (orang lemah), para fakir miskin, dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini, marilah kita bagi kebahagian ini kepada mereka-mereka yang memerlukan, kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudarasaudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurang. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi hal ini sering kali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhuafa, dan yatim piatu.

Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepeduliannya terhadap fakir miskin, kaum dhuafa, dan yatim piatu dengan memberikan haknya, yaitu berupa zakat, infaq, dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.

Idul Fitri sudah berlalu, tapi kalau di negara kita tercinta ini, Lebaran bisa sampai satu bulan lho ! Coba aja ntar setiap kali kita ketemu atau telpon seseorang pasti minal aidin dulu, dan itu berlangsung hinggaakhir Okotober. Gak percaya? Coba lihat aja entar. Terus sesudah ini apa? Sesudah kita kembali fitri mau ngapain lagi? Ngomongin orang lagi, lupa akan segala penggemblengan selama sebulan (Ramadhan) lalu? Kembalikepada rutinitas dan kehidupan normal lagi? Sementara orang Jawa ada yang menggambarkan Lebaran dengan Lebar, Labur, Luber. Lebar (sesudah) maksudnya sesudah melaksanakan puasa. Terus banyak rumah-rumah yang di labur (dicat) kembali, meskipun mungkin belum begitu memerlukan. Dan Luber (berlimpah), maksudnya berlimpahnya makanan. Idul Fitri tahun ini saya merenungkan kembali Firman Allah dalam surat Al Ala ayat 14 di atas bahwa di hari Idul Fitri ini kita sudah seharusnya mensucikan hati dan jiwa kita agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Sebelum kita menghadap Yang Maha Kuasa. Sungguh rugi jika kita tidak mengadakan perbaikan. Ada satu cerita yang menurut saya menarik sebagai hikmah idul fitri. Alkisah ada seorang lelaki tua yang sudah sakit-sakitan dan ia merasa bahwa ia akan segera meninggal. Kemudian dia menemui istrinya yang ke-empat, yang paling muda, paling cantik, pokoknya top deh. Dia berkata: Neng, kayaknya abang udah mau dipanggil Allah nih, sakit-sakitan mulu. Mau nemenin abang gak neng?. Dengan lantang istri keempat ini berkata: Eh, aki-aki, kalau mau mati mah mati aja, Ane masih muda, cantik, masih banyak yang mau. Maap ya, Ane gak sudi nemenin aki-aki mati. Lalu dengan perasaan sakit hati, terhina, dilecehkan dan menangis dia menemui istrinya yang ke-tiga. Aki-aki tua tadi mengatakan hal yang sama. Kata istri ketiganya: Aduh bang, biar kate udah tua, masih banyak yang mau ngawinin ane. Biar ane jadi janda kembang deh, abang pergi aja duluan. Mau mati pake ngajak-ngajak lagi. Ane emang cinta sehidup, tapi tidak semati. Pak tua tadi semakin sedih. Kemudian dengan penuh harap dia menemui istrinya yang

ke-dua. Dia juga mengatakan bahwa ia sudah hampir mati dan meminta bini ke tiga untuk menemaninya mati. Istri ketiganyapun tidak mau. Lalu akhirnya dia menemui istrinya yang pertama, yang sudah peot, udah nenek-nenek. Diapun berujar: Eh, nek, gue kayaknya udah gak kuat nih. Udah mau mati. Sakit gak sembuh-sembuh, berobat kesana kemari ngabisin duit kagak ada hasilnya. Mau enggak nemenin gue mati?. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dengan perasaan suka cita ia berkata: Alhamdulillah, aye bersedia bang. Dengan segenap hati ane nemenin dan ngikutin abang menghadap Yang Kuasa. Nah, siapakah orang tua yang beristri empat itu? Siapakah pula istri-istrinya? Itu semua adalah gambaran seorang manusia. Kakek-kakek tadi adalah diri kita sendiri . Diri kita ketika hendak menghadap Illahi Robbi. Yang gelisah ketika menghadapi saat-saat maghrib, usia senja. Manusia yang menjadi gelisah karena takut menghadap sang Khaliq. Ia merasa tidak mempunyai bekal untuk kembali. Semua yang ia lakukan di dunia hingga menjelang ajal selama ini adalah penuh pamrih, bukan dilakukan karena Allah. Tapi karena hal-hal yang bersifat duniawi. Subhanallah. Lalu, istri pertama tadi adalah ruh kita, jiwa kita, hati kita, yang akan menemani kita di alam kubur dan menghadapi yaumul hisab, hari perhitungan. Istri kedua adalah badan kita. Badan yang akan dikubur dan diziarahi keluarga kita nanti (kalau ada yang inget). Istri ketiga adalah anak, istri dan seluruh kerabat handai tolan kita di dunia. Mereka akan ada sepanjang kita hidup. Namun tidak ada satupun dari mereka yang akan menemani kita mati. Dan istri keempat adalah harta, jabatan, dan kesenangankesenangan duniawi . Semua tidak ada gunanya lagi. Tidak ada yang kita bawa pulang. Semua menjadi warisan kita yang sering kali jadi rebutan bagi anak cucu kita. Now what? Apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan terhadap istri-istri kita? Sungguh beruntung jika kita dapat menggunakan semua hanya karena Allah sehingga memberikan sumbangsih, memberikan bekal untuk pulang. Tidak justru menimbulkan finah buat kita. Mungkin (Cuma mungkih lho) selama ini kita sudah banyak beramal, sedekah, nyumbang ke sana kemari, tapi apakah semua kita lakukan dengan ikhlas? Sampai sekarang bahkan jumlah besar yang kita berikan itu masih kita ingat dengan jelas. Kita masih mengingat sumbangan kita. Namun, sering pula kita memberi pengemis dan orang-orang entah siapa sekedar seribu aatau limaratus rupiah, dan karena jumlahnya kecil, kita telah melupakannya sama sekali. Namun, siapa tahu justru modal kita yang seribu rupiah itulah yang akan menyelamatkan kita karena keihlasan kita. Karena, selagi dalam suasana yang fitri nan indah ini, marilah kita menyucikan hati kita, diri kita, menggunakan segala yang kita miliki di jalan Allah dengan ikhlas. Ramadhan telah menjadi ajang pelatihan kita untuk ikhlas, bersabar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang beruntung. Wallahu alam.

Ya Allah, dengan Ramadhan Selamatkan kami dari segala musibah dan penderitaan Bersihkan hati kami dengan maghfirah dan rahmat Mu Gantikanlah penderitaan kami dengan keindahan dan kekabahagiaan Ya Allah, Lepaskan kami dari segala dosa kami Keluarkan kami dari segala kesalahan kami Selamatkan kami dari segala musibah Jadikan kami orang yang paling bahagia orang yang mendapat keuntungan dari sisi-Mu Shalawat dan salam untuk kekasih kami Rasulullah SAW dan keluarganya Amien Ya Robbal alamin.

Mutiara Hikmah ini disarikan dari doa Imam Ali Zainal Abidin (sa), cucu Rasulullah saw, saat berpisah dengan bulan Ramadhan. Semoga mutiara hikmah ini lebih memperindah dan memberi makna SMS kita dalam ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Wadan Y Ramadhn, selamat jalan duhai Ramadhan Selamat tinggal kepada dia yang menyedihkan perpisahannya, yang merindukan kami kepergiannya. Untuknya kami punya janji yang dijaga, kesucian yang dipelihara, hak yang dipenuhi. Kami ucapakan padanya salam bagimu wahai bulan Allah yang agung! Wahai hari raya para kekasih-Nya! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu duhai Ramadhan, bulan harapan didekatkan, amal disebarkan, keberkahan dialirkan dosa-dosa dimaafkan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Kedatanganmu membahagian kami Kepergianmu menyedihkan kami

Denganmu Allah swt mengampuni dosa-dosa, memaafkan segala kesalahan Mengalirkan keberkahan, membuka semua pintu surga dan menutup semua pintu neraka. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan Sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai paling menyedihkan ketika ditinggalkan kekasih yang ditunggu, yang menyedihkan perpisahannya Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan kekasih yang datang membuat gembira dan bahagia yang meninggalkan kesepian dan dukacita. tetangga yang bersamanya hati melembut dan dosa berkurang Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan penolong yang membantu kami menghadapi setan yang memudahkan kami jalan-jalan kebaikan Selamat jalan, duhai bulan kekasihku. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan betapa banyaknya orang yang terbebas di dalammu betapa bahagianya orang yang menjaga kesucianmu betapa banyak dosa yang kau hapuskan betapa banyak aib yang kau tutupi Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan betapa banyak dosa yang kau hapuskan betapa banyak aib yang kau tutupi betapa panjang hari-harimu bagi pedosa betapa agung kamu bagi orang beriman. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, bulan yang sejahtera segalanya duhai yang persahabatannya tidak dibenci duhai yang pergaulannya tidak tercela Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, bulan yang penuh berkah kau datang kepada kami membawa berkah dan kau bersihkan kami dari noda kesalahan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin

Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan duhai yang dicari sebelum waktunya duhai yang ditangisi sebelum kepergiannya Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu, duhai bulan Ramadhan betapa banyak kejelekan dipalingkan karenamu betapa banyak kebaikan dilimpahkan kepada kami karenamu Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Salam bagimu dan bagi malam Al-Qadar yang lebih baik dari seribu bulan betapa senangnya kami kepadamu kemarin betapa rindunya kami kepadamu esok kini keutamaanmu ditepiskan dari kami keberkahan dilepaskan dari kami Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah, kami pecinta bulan Ramadhan Dengannya Kau muliakan kami Kau untungkan kami ketika orang durhaka tidak mengetahui waktunya ketika orang celaka dijauhkan dari keutamaannya Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah, bulanmu yang mulia meninggalkan kami Anugerah-Mu permulaan, ampunan-Mu kebaikan siksa-Mu keadilan dan ketentuan-Mu sebaik-baiknya pilihan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah Kausambut orang yang menentang-Mu dengan santun Kaubiarkan orang yang berbuat zalim pada dirinya Kautunggu mereka dengan sabar sampai kembali kepada-Mu Kautahan mereka untuk tidak segera bertaubat supaya yang binasa tidak binasa karena-Mu yang celaka tidak celaka karena nikmat-Mu Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah, bagi-Mu segala pujian dengan pengakuan akan keburukan dan kesadaran akan kelalaian bagi-Mu dari lubuk hati kami penyesalan yang paling dalam dari lidah kami permohonan maaf yang paling tulus Berilah kami pahala dengan segala kekurangan yang menimpa kami di bulan ini pahala yang menyampaikan pada kemuliaan yang diharapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin

Ya Allah, teriring shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya Selamatkan kami dari bencana berkat bulan Ramadhan Berkahi kami pada hari raya kami dan saat berbuka kami Jadikanlah ia hari yang terbaik yang melewati kami yang paling dapat menarik ampunan-Mu yang paling cepat menghapus dosaku Ampuni dosa-dosa kami yang tampak dan tersembunyi. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah, dengan berlalunya bulan ini lepaskan kami dari kesalahan kami dengan keluarnya bulan ini keluarkan kami dari kesalahan kami Jadikan kami dengan bulan ini orang yang paling bahagia orang yang besar memperoleh bagian orang yang paling tinggi mendapat keuntungan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Ya Allah, dengan berlalunya bulan yang mulia ini Ampuni dosa-dosa kami Ampuni ayah dan ibu kami dan kaum mukmini dari dahulu hingga hari kiamat wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir & batin Doa ini secara lengkap sedang dirapikan teks arabnya dan dilengkapi bacaan teks latin, insya Allah kalau sudah rampung akan segera diinformasikan.