You are on page 1of 7

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK

Disusun oleh: 1. Saesti W 2. Rifana Jita 3. Febri Nuraini (11111241020) (11111241021) (11111241022)

4. Ria Anggraeni (11111241023)

PENDIDIKAN GURU PENDIDIK ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

A. PENDAHULUAN Di era yang begitu modern ini, kita dihadapkan pada tuntutan persaingan bebas antar individu yang berkemampuan unggul untuk menghadapi setiap masalah yang ada. Pribadi yang unggul ialah pribadi yang tangguh dan memiliki ketahanan mental yang baik. Kemampuan tersebut tidak dengan begitu saja dimiliki oleh setiap individu, tetapi harus ada upaya yang dilakukan sejak anak masih kecil. Penguasaan kemampuan yang baik akan menjadi penentu keberhasilan dan kesuksesan anak kelak. Untuk menunjang keberhasilan individu perlu pengusaan kemampuan yang baik terutama aspek sosial emosional. Menurut Daniel Goleman (1995) keberhasilan hidup seseorang lebih ditentukan oleh kemampuan sosial emosionalnya dibandingkan kemampuan intelektualnya. Kemampuan sosial emosional menjadi fondasi awal bagi seseorang untuk bisa berinteraksi dengan linngkungannya secara lebih luas. Berinteraksi dengan lingkungan tidak hanya mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi juga bagaimana individu tersebut mampu mengendalikan dirinya secara baik. Pengendalian yang buruk akan menimbulkan berbagai masalah sosial emosional di lingkungan. B. TINJAUAN ASPEK SOSIAL Merupakan suatu proses hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok, tradisi, maupun agama. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang membentuk kepribadiannya, yang membantu perkembangannya menjadi manusia sebagaimana adanya. Sejak kecil anak telah berperilaku sosial seperti yang diharapkan orang-orang disekitarnya, misalnya dengan ibu, ayah, atau saudaranya. Apa yang telah dipelajari anak melalui interaksinya dengan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap perilaku sosial anak. Beberapa kemampuan sosial yang perlu dimiliki seorang anak: 1. Kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain Pada masa awal bayi (sekitar tiga bulan) hubungan yang terjadi sangat terbatas, misalnya melalui senyuman apabila ada yang mendekatinya. Hal ini karena kemampuan berkomunikasinya memang masih sangat terbatas. Kemudian saat akhir masa bayi, hubungan dengan orang lain daoat dilakukan dengan mulai berbicara menggunakan kata-kata yang belum beragam. Meski begitu pada masa ini anak telah menunjukkan bahwa ada suatu keinginan yang nyata untuk berhubungan dengan orang lain.

2. Kemampuan bermain dan menggunakan waktu Dunia anak adalah dunia bermain, tak jarang waktu yang mereka miliki habis hanya untuk bermain. Namun, harus ada keseimbangan antara bermain dan waktu untuk belajar dalam hal akademik anak. 3. Kemampuan anak mengatasi situasi sosial yang dihadapi Ada waktu dimana kondisi sosial tidak sesuai dengan apa yang anak mau, namun karena ia hidup pada lingkungan yang teratur mau tidak mau anak ahrus mengikuti aturan yang ada. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:228) pola perilaku sosial dibagi atas 2 bagian yaitu pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial. Pola perilaku yang sosial adalah sebagai berikut:
a) Kerja sama anak bermain atau belajar dalam satu kelompok, semakin banyak

kesempatan mereka untuk saling bekerja sama satu sama lain semakin cepat pula tugas mereka akan selesai.
b) Persaingan persaingan dapat dijadikan motivasi untuk melakukan apapun sebaik

mungkin. Jika persaingan diekspresikan sebagai suatu pertengkaran maka yang muncul adalah sosialisasi yang buruk.
c) Kemurahan hati terlihat pada kesediaan anak membagi apa yang dia miliki pada orang

lain, dan sedikit demi sedikit mengurangi kecenderungannya untuk mementingkan diri sendiri.
d) Hasrat akan penerimaan sosial keinginan untuk bisa diterima di lingkungan membuat

anak bertingkah laku sesuai dengan aturan yang ada di lingkungn dimana dia tinggal.
e) Simpati anak mengekspresikan rasa simpati dengan cara mendorong atau menghibur

orang yang sedang bersedih.


f) Empati anak mampu menempatkan diri sebagai orang lain dan ikut merasakan apa

yang dirasakan orang lain itu.


g) Ketergantungan ketergantungan anak membutuhkan perhatian, kasih sayang dan

bantuan orang lain yang membuat anak berperilaku baik agar ketergantungannya tersebut dapat terpenuhi.
h) Sikap ramah ditunjukkan melalu kesediaannya melakukan sesuatu untuk orang lain.

i) Sikap tidak mementingkan diri sendiri


j) Meniru dengan meniru sosok yang dianggap menjadi idola, anak dapat meningkatkan

rasa penerimaan kelompok terhadap dirinya.

k) Perilaku kelekatan seorang anak yang dari bayi mendapat kehangatan cinta kasih dari

seorang ibu akan berperilaku yang sama dengan mengekspresikan kasihnya kepada orang lain. Sedangkan untuk perilaku yang tidak sosial adalah sebagai berikut:
1) Negativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap tekanan dari pihak lain. 2) Agresi adalah suatu tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman permusuhan. Oleh

anak biasanya dilakukan pada anak yang berusia lebih kecil.


3) Pertengkaran terjadi karena ada perbedaan pendapat. Pertengkaran berbeda dengan agresi

karena pertengkaran melibatkan dua orang atau lebih, dan pertengkaran ada pihak yang bertahan sedangkan agresi diri kita sendiri yang menyerang.
4) Mengejek dan menggertak 5) Perilaku sok kuasa yaitu kecenderungan untuk mendominasi orang lain. 6) Egosentrisme merupakan kecenderungan untuk memikirkan dan mementingkan diri

sendiri. Apakah perilaku ini akan hilang, tetap, atau bahkan semakin kuat bergantung pada kesadaran anak sendiri jika egosentrisme tidak akan membuat baik.
7) Prasangka terjadi karena adanya perbedaan penampilan taupun perilaku dari satu orang

dengan orang yang lain dan dengan dirinya sendiri. 8) Antagonisme jenis kelamin Pengaruh Kelompok Sosial Kelompok sosial seperti keluarga, sekolah, atau teman sebaya adalah sebagai agen sosialisasi. Interaksi sosial yang terjadi baik sengaja atau tanpa sengaja adalah suatu proses penanaman nilai kepada anak. C. TINJAUAN ASPEK EMOSIONAL Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya disadari. Kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Akan tetapi apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil dan kurang kontrol misalnya melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah mengeluh, kecewa atau pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak cenderung kurang stabil.

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas dan disiplin dalam belajar. Sebaliknya apabila yang menyertai proses itu adalah emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar sehingga kemungkinan besar anak akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Karakteristik Emosi Anak Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978: 94) emosi anak memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut : a) Emosi yang kuat Anak kecil bereaksi terhadap suatu stimulusi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya. b) Emosi sering kali tampak Anak-anak seringkali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan. c) Emosi bersifat sementara Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relatif singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung. Hal ini disebabkan karena tiga faktor yaitu : (a) kemampuan merubah system emosi yang terpendam menjadi emosi yang terus terang, (b) adanya kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas, dan (c) rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian mudah teralihkan d) Reaksi emosi mencerminkan individualitas Semasa bayi, reaksi emosi yang ditunjukkan anak relatif sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai emosi anak semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari ke luar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit. e) Emosi berubah kekuatannya

Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yang kuat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan dorongan, perkembangan intelektual dan perubahan minat dan sistem nilai. f) Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala perilaku anak seperti: melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol. D. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK Rentang Usia Karakteristik Perkembangan PERKEMBANGAN EMOSIONAL PERKEMBANGAN SOSIAL Reaksi emotional belum Kesadaran tentang bayi masih kabur. di berkembang. Reaksi emosional hanya berkaitan dengan hal yang menyenangkan (ditandai dengan tubuh yang tenang) dan hal yang tidak menyenangkan (ditandai

Masa bayi baru lahir (0-2 minggu)

Artinya, bayi belum menyadari apa yang terjadi lingkungannya.

dengan tubbuh yang tidak tenang) Mulai ada kelekatan dengan Ibu Menangis yang dilakukan sebgai bentuk sosialisasi dini sosial (senyum pada bayi lain) dengan penuh semangat diikuti dan tertawa 6 bulan mulai ada senyum oleh seluruh gerakan tubuh Tersenyum 9-13 bulan mulai menyentuh indikator rasa senang pakaian, wajah, dan rambut bayi Rasa takut terhadap sesuatu Masa bayi (2minggu-2tahun) lain serta menirukan suara bayi yang lain mengikuti perintah asing dan tidak menyenangkan suasana yang baru usia 1-2 tahun anak dan agresi

16-18 bulan mulai tidak mau Kecemasan yang muncul akibat 18-24 bulan bayi mau bermain Pada

dan bekerja sama dengan bayi lain menunjukkan kemarahan

Masa Anak Awal

PSIKOSOSIAL

Anak mulai mengetahui kemampuannya dan bisa berkhayal akan apa yang akan dia lakukan. Rencana atau inisiatif timbul karena adanya dorongan kebebasan dari fase perkembangan sebelumnya. Bila orang dewasa tidak setuju dengan inisiatifnya, ia akan menarik kembali inisiatifnya tersebut dan ia akan sangat merasa bersalah dalam dirinya. Oleh karena itu lingkungan harus memberikan dukungan dan motivasi positif kepada anak agar anak dapat mengembangkan diri secara optimal. Anak berminat dengan berbagai kegiatan terutama dalam kelompok agar ia merasa diterima oleh lingkungan dan sebagai upaya penyesuain. Masa Usia Sekolah Akan muncul rasa percaya diri dan sebuah keyakinan pada anak apabila apa yang telah dia lakukan diketahui dan direspon baik oleh orang dewasa. Sebaliknya, jika orang dewasa tidak memperhatikan usaha yang dilakukan anak maka anak akan merasa rendah diri.

E. PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL EMOSIONAL MELALUI MEDIA LAGU Lagu yang tepat untuk mengembangkan aspek sosial emosional pada anak diantaranya: 1. Selamat Ulang Tahun 2. Kasih Ibu 3. Bunda Piara 4. Jamuran 5. Yo Pro Konco 6. Ular Naga 7. Cublak-cublak Suweng