You are on page 1of 22

PENGANTAR PSIKOTERAPI: TERAPI ADLERIAN

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengantar Psikoterapi

DISUSUN OLEH

A.Ganjar Sudibyo Fransisca Aully A

M2A009064 M2A009036

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

Pengantar

Melalui makalah ini, kami ingin memaparkan uraian tentang terapi Adlerian. Makalah ini, disusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah dimengerti dengan berdasarkan referensi-referensi yang kami dapatkan. Adapun, masih ada kekurangan dalam mengerjakan makalah ini. Namun, kami tetap memaknainya sebagai suatu pembelajaran dalam berproses sebagai mahasiswa psikologi. Demikian, semoga makalah ini memberikan manfaat lebih bagi para pembelajarnya.

Semarang, Maret 2011 Para Penyusun

Daftar Isi

I. Sekilas Biografi Adler Bernama lengkap Alfred Adler (1870-1937), ia adalah anak ketiga dari sebauh keluarga yang terdiri dari lima anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Pada masa kanak-kanak, seorang saudara laki-lakinya meninggal. Pada waktu usia empat tahun pun, Adler hampir saja meninggal karena penyakit radang paru-paru. Oleh karena itu, ia menjadi seorang anak yang dimanjakan oleh ibunya. Namun setelah kelahiran adik laki-lakinya, ia merasa bahwa kasih saying ibunya menjadi berbeda. Ia merasa jauh dari ibu dan mulai membangun kepercayaan terhadap ayahnya. Dalam menjalani masa kanak-kanaknya ia mengalami banyak pertentangan sehingga menjadi seorang anak yang rendah diri. Di situlah ia mulai berjuang untuk mengalahkan perasaan tersebut. Adler seorang pelajar yang tidak pandai. Tetapi cambuk yang ia terima sewaktu sekolah, membuatnya semakin terdorong untuk menjadi juara kelas. Ia melanjutkan studinya di fakultas kedoteran Universitas Vienna. Stelah itu, buka praktek dokter swasta sebagai spesialis mata. Kemudian, ia mengambil spesialisasi syaraf dan psikiatri. Perlahan, ia mulai berminat untuk menyembuhkan penyakit anak-anak yang sulit disembuhkan. Minat sosialnya pun mulai tumbuh. Ia mulai menjadi pelatih dan pembimbing bagi anak-anak di sekolah umum, melatih guru-guru, pekerja sosial, dokter-dokter serta tenaga professional lain. Pada pertengahan tahun 1920 ia menjadi seorang pengajar perkuliahan di Amerika serikat. Jadwal pekerjaannya yang padat membuatnya jatuh sakit dan meninggal. Hal ini terjadi terutama akibat serangan jantung. Ia menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 28 Mei 1937.

II. Konsep Utama

PANDANGAN TENTANG SIFAT-SIFAT MANUSIA Adler meninggalkan teori dasar dari Freud oleh karena ia percaya bahwa penekanan Freud pada ketentuan biologis dan insting sangatlah sempit. Adler percaya bahwa apa yang terjadi pada diri seorang individu di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh enam tahun pertama kehidupan. Fokus Adler tidaklah sekedar pada menggali peristiwa di masa lalu; melainkan, ia tertarik pada persepsi seseorang pada masa lalu dan bagaimana interpretasinya pada masa lalu itu memiliki pengaruh yang berkelanjutan. Banyak dasar-dasar teori Adler yang bertolak belakang dengan Freud. Misalnya, manusia itu termotivasi oleh dorongan sosial dan bukan oleh dorongan seksual. Bagi Adler, perilaku itu memiliki suatu maksud dan terarah pada suatu sasaran. Kesadaran, dan bukan ketidaksadaran, yang merupakan pusat dari kepribadian. Tidak seperti Freud, Adler memberikan tekanan pada penentuan suatu pilihan dan pertanggungjawaban, makna hidup, dan perjuangan untuk mencapai sukses atau kesempurnaan. Perasaan rendah diri bisa merupakan sumber dari kreativitas. Rasa rendah diri yang mendasar ini bisa memotivasi kita untuk bisa mencapai penguasaan, superioritas dan kesempurnaan, lebih-lebih di masa usia dini. Pada usia sekitar enam tahun, sasaran hidup sudah terbentuk. Sasaran hidup menyediakan sumber motivitasi manusia dan diungkapkan dalam bentuk perjuangan untuk mendapatkan rasa aman dan mengatasi perasaan rendah diri. Dari perspektif Adler manusia tidaklah sekedar ditentukan oleh keturunan dan lingkungan, melainkan oleh kemampuan mereka untuk menginterpretasi, mempengaruhi serta menciptakan peristiwa. Adler adalah seorang perintis pendekatan subyektif pada psikologi, yang memberi tekanan pada determinan internal dari perilaku seperti nilai, keyakinan, sikap, sasaran, minat serta persepsi individual pada realitas. Dia adalah seorang perintis suatu pendekatan, yaitu holistik, sosial, berorientasi pada tujuan dan humanistik.

PERSEPSI SUBYEKTIF TENTANG REALITAS Penganut Adler berusaha untuk melihat dunia dari kerangka regerensi subyektif si klien, suatu orientasi yang dinyatakan sebagai fenomenologis. Sebutan fenomenologis diberikan karena orientasi ini menaruh perhatian pada cara individual di mana seseorang melihat dunianya. Realitas Subyektif ini mencakup persepsi keyakinan dan kesimpulan individual. Perilaku dipahami dari segi yang menguntungkan dari perspektif kognitif. Bagaimana hidup ini dalam realitas itu kurang penting kalau dibandingkan dengan apa yang oleh seorang individu percaya tentang hidup ini.

KESATUAN SERTA POLA KEPRIBADIAN MANUSIA

Suatu premis dasar dari pendekatan Adler, juga disebut sebagai Psikologi Individual, adalah bahwa kepribadian bisa dipahami sebagai suatu kesatuan yang tak bisa dibagi-bagi. Asumsinya bahwa orang adalah suatu makhluk sosial, kreatif, pengambil keputusan yang memiliki maksud terpadu (Sherman & Dinkmeyer, 1987). Pribadi manusia menjadi terpadu lewat tujuan hidup. Pikiran, perasaan, kepercayaan, keyakinan, sikap, watak, dan perbuatan merupakan ungkapan dari keunikan dirinya, dan semuanya mencerminkan rencana hidup yang memberi peluang akan perjalanan menuju tujuan kehidupan yang telah dipilihnya sendiri. Implikasi dari pandangan holistik dari kepribadian ini adalah bahwa seorang klien adalah suatu bagian integral dari sistem sosial. Fokusnya lebih diarahkan pada hubungan interpersonal dari pada psikodinamika internal si individu. Perilaku sebagai yang memiliki tujuan dan berorientasi pada sasaran. Psikologi individual berasumsi bahwa semua perilaku manusia itu memiliki maksud. Manusia menentukan tujuan sendiri, dan perilaku menjadi suatu kesatuan dalam konteks tujauan itu. Adler tertarik pada masa depan, tanpa mengecilkan arti pentingnya pengaruh masa silam. Mereka berasumsi bahwa keputusan itu didasarkan pada pengalaman orang di masa lampau, pada situasi masa kini, dan pada arah ke mana orang mau pergi. Mereka mencari kesinambungan dengan jalan memperhatikan tema-tema yang berlaku dalam diri kehidupan seseorang. Adler menekankan bahwa perjuangan untuk mendapatkan penguasaan adalah sifat bawaan. Untuk bisa memahami perilaku manusia haruslah bisa memahami arti inferioritas dan kompensasi. Menurut Adler, saat kita mengalami inferioritas, kita didorong untuk berjuang mendapatkan superioritas. Dia berkeyakinan bahwa tujuan mendapatkan sukses mendorong orang ke depan menuju ke penguasaan dan menyebabkan orang itu mampu mengatasi hambatan. Tujuan untuk mendapatkan superioritas memberikan sumbangannya pada perkembangan masyarakat manusia. Superioritas adalah perjuangan dari derajat yang rendah ke yang lebih tinggi atau dari yang minus ke yang plus. Gaya hidup. Istilah gaya hidup dipakai untuk menyatakan orientasi dasar seorang individu tentang hidup, atau kepribadian, dan tema yang mewarnai eksistensi si individu. Sinonimnya adalah perencanaan hidup, gerak hidup, strategi hidup, dan peta jalan kehidupan. Melalui gaya hidup itulah kita bergerak menuju hidup kita. Adler melihat diri kita ini sebagai pelaku pencipta serta artis hidup kita. Dalam perjuangan mengejar sasaran yang bermakna bagi kita, kita kembangkan gaya hidup yang unik . Konsep ini membantu menjelaskan betapa semua perilaku kita cocok satu sama lain sehingga semua kegiatan kita menjadi konsisten. Pengalaman dalam lingkungan keluarga serta dan hubungan antar saudara memiliki andil pada pembentukan gaya hidup. Tetapi bukanlah pengalaman masa kanak-kanak itu sendiri yang krusial: tetapi bukanlah pengalaman masa kanak-kanak itu sendiri yang krusial; melainkan interptetasi kita sekarang ini terhadap peristiwa-peristiwa itu.

INTERES SOSIAL

Imteres sosial atau Gemeinschaftsgefuhl, mungkin konsep Adler yang paling signifikan dan istimewa (distinctive). Istilah itu berarti kesadaran individu akan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat manusia dan akan sikap seseorang dalam menangani dunia sosial; di dalamnya mencakup perjuangan untuk masa depan manusia yang lebih baik. Proses sosialisasi, yang dimulai pada masa kanak-kanak mencakup pencarian tempat dalam masyarakatnya dan pemilikan rasa memiliki dan wajib ikut memberi sumbangannya. Adler menyamakan interes sosial dengan rasa identifikasi dan empati dengan orang lain: melihat dari kaca mata orang lain, mendengar dengan telinga orang lain, merasakan dengan perasaan hati orang lain. Tingkat seberapa kita dengan sukses berbagi dengan orang lain merupakan ukuran kesehatan mental (Sherman & Dinkmeyer, 1987:12). Dari perspektif Adler, pada saat interes sosial berkembang, rasa rendah diri serta keterasingan individual hilang. Interes sosial bisa berkembang apabila diajarkan, dipelajari, dan digunakan. Psikolog individual bertumpu pada kepercayaan sentral bahwa kebahagiaan serta sukses kita itu sebagian besar ada hubungannya dengan keterkaitan sosial.

URUT-URUTAN KELAHIRAN DAN HUBUNGAN ADIK-KAKAK Pendekatan Adler adalah unik dalam hal memberikan perhatian khusus kepada hubungan adik-kakak dan posisi seseorang dalam satu keluarga. Adler mengidentifikasikan lima posisi psikologis: sulung, kedua dari orang anak, di tengah, bungsu, dan anak tunggal. Deskripsi tentang pengaruh urut-urutan kelahiran berikut ini didasarkan pada teori Ansbacher dan Ansbacher (1964), Dreikurs (1953). Dan Adler (1958): 1. Anak sulung biasanya mendapatkan perhatian besar, dan selama beberapa saat dia menjadi anak tunggal, dia sedikit dimanjakan sebagai pusat perhatian. Dia cenderung untuk bisa dipercaya dan pekerja keras danberusaha untuk bisa tetap di depan. Namun, apabila lahir adik laki-laki atau perempuan dia merasa dirinya tercampak keluar dari puusat perhatian. Dia tidak lagi unik atau istimewa. Dia mungkin siap untuk berpikir bahwa si pendatang baru akan merebut cinta kasih yang selama ini ia sudah terbiasa mendapatkannya. 2. Anak kedua ada pada posisi yang berbeda. Dari saat dilahirkan, perhatian yang diterima sama-sama dinikmati dengan anak lain. Biasanya anak kedua itu berlaku seperti ia selalu berlomba adu cepat dan selalu dalam keadaan kekuatan penuh. Anak kedua ini seolah-olah selalu dalam kancah latihan untuk bisa lebih cepat dari kakaknya. Perjuangan kompetitif antara dua anak ini memberi pengaruh pada kehidupannya di kemudian hari. Anak kedua ini mengembangkan siasat untuk mencari kelemaham pada kakaknya untuk selanjutnya maju dan mendapatkan pujian dari ayah bunda dan guru dengan mendapatkan sukses yang tidak bisa dicapai oleh kakaknya. Kalau yang satu ada bakat pada satu bidang, dia berusaha untuk mendapatkan pengakuan dengan jalan mengembangkan kemampuan di bidang lain. Anak kedua biasanya berlawanan dengan anak pertama.

3. Anak ditengah sering merasa tersingkirkan. Dia ada kemungkinan merasa yakin tentang ketidakadilan hidup ini dan merasa dicurangi. Orang ini bisa mengambil sikap kasihan pada diri sendiri dan bisa menjadi problem child. 4. Anak bungsu selalu menjadi buah hati keluarga dan cenderung untuk menjadi anak yang paling dimanja. Ia memiliki peranan istimewa karena semua saudara-saudaranya telah mendahuluinya. Anak bungsu cenderung mengembangkan sikap yang membuatnya seperti yang lain akan membangun hidupnya seperti dirinya. Anak bungsu cenderung untuk mengambil jalan sendiri. Mereka sering mengembangkan cara yang tidak terpikirkan oleh keluarganya. 5. Anak tunggal memiliki problemanya sendiri. Dia memiliki beberapa sifat sep;erti anak sulung. Dia tidak belajar berbagi rasa atau bekejra sama dengan anak-anak lain tetapi ia belajar bergaul dengan baik dengan orang dewasa. Anak tunggal biasanya dimanjakan oleh ibunya, dan mungkin bisa sangat tergantung pada ibunya. Dia selalu ingin ada di pusat perhatian dan apabila kedudukan itu mendapat tantangan maka ia merasakannya sebagai ketidakadilan. Pada usia dewasa nanti, apabila dia tidak lagi menjadi pusat perhatian, dia cenderung untuk menemui banyak kesulitan.

III. Langkah-langkah Terapi

SASARAN TERAPEUTIK Konseling aliran Adler berpijak pada suatu pengaturan kontrak dan kolaborasi antara klien dan konselor. Umumnya, kontrak itu menuntut adanya identifikasi dan eksplorasi sasaran yang keliru diambil dan asumsi-asumsi yang keliru diikuti dengan reedukasi klien menuju ke sasaran yang konstruktif. Tujuan dasar dari terapi adalah mengembangkan interes sosial klien, yang bisa dilaksanakan dengan jalan meningkatkan fundamental, tujuan hidup, dan konsep dasar (Dreikurs, 1967). Penganut aliran Adler tidak melihat klien sebagai orang yang sakit dan perlu disembuhkan. Melainkan, sasarannya adalah melakukan reedukasi kepada klien sehingga mereka bisa hidup di tengah masyarakat sebagai anggota yang sederajat, yang mau memberi dan menerima dari orang lain. Oleh karena itu proses konseling berfokuskan pada penyediaan informasi, mengajar, membimbing, dan menawarkan dorongan semangat kepada klien yang kehilangan semangat. Melalui proses penyediaan klien dengan sebuat peta kognitif, atau pemahaman fundamental atas maksud perilaku mereka, para konselor membantu mereka mengubah persepsi mereka. Oleh karenanya, konselor membantu klien mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang sasaran dan maksud mereka, menantang mereka untuk mengakui falsafah hidup sebyektif mereka, dan memberikan konteks yang memberi peluang kepada mereka untuk bisa melihat pola dalam perilaku mereka. Mosak (1989:84) memberikan daftar berikut ini sebagai sasaran dari proses edukatif dari terapi: Mendorong adanya interes sosial Menolong klien mengatasi perasaan patah semangat dan rendah diri Memodifikasi pandangan klien pada sasaran yaitu, dengan mengubah gaya hidup mereka Mengubah motivasi yang keliru Membantu klien merasakan kesamaan derajad dengan orang lain Membantu orang menjadi anggota masyarakat yang ikut memberikan sumbangannya

FUNGSI DAN PERANAN TERAPIS Fungsi utama dari terapis adalah membuat penilaian yang komprehensif pada berfungsinya klien. Terapis mengumpulkan informasi tentang konstelasi keluarga klien, yang

mecakup orang tua, adik-kakak, dan orang lain yang diam di rumahnya. Ini dikerjakan lewat kuesioner, yang apabila dirangkum dan diinterpretaasikan informasi itu akan memberikan gambaran tentang kehidupan si klien pada masa dini dari kehidupannya. Dari informasi ini terapis bisa mendapatkan perspektif mengenai wilayah utama dari sukses serta kegagalan klien dan juga pengaruh yang kritis yang telah memberikan unsur penunjang pada peranan di dunia ini yang oleh klien diputuskan untuk diambil. Konselor juga menggunakan kenangkenangan pada masa dini sebagai alat diagnosis. Dengan cara perangkuman, dalam hal pembuatan penilaian diagnostik, maka terapis melakukan hal-hal sebagai berikut: mereka mengambil saripati pola utama yang nampak dalam hal kuesioner tentang konstelasi keluarga dan darinya diambil kesimpylan gambaran tentang kepribadian dasar si klien. Setelah itu, dengan jalan menginterpretasi kenangankenangan dini mereka pun memperoleh arti tentang pandangan hidup si klien. Aspek-aspek yang keliru dalam tinjauan hidup klien ini diidentifikasikan dengan membandingkan apa yang diyakini sekarang dengan kerangka konsep interes sosial. Setelah proses itu selesai konselor dan kliennya memiliki sasaran terapi.

PENGALAMAN KLIEN DALAM KEGIATAN TERAPI Klien dari konseling aliran Adler memfokuskan diri pada gaya hidup, yuang menyiapkan pola dari perbuatan mereka. Umumnya, orang gagal untuk mengubahnya karena mereka tidak mengenal kesalahan dalam cara mereka berpikir dan berperilaku, tidak tahu berbeda yang bagaimana yang harus mereka lakukan, dan takut meninggalkan pola lama untuk diganti dengan yang baru yang hasil akhirnya nanti tidak bisa mereka ramalkan. Dalam kegiatan terapi klien menggali apa yang oleh aliran Adler disebut swa logika, konsep tentang self, tentang orang lain, dan hidup yang membentuk falsafah yang mendasari gaya hidup individu . Problema klien muncul ke permukaan oleh karena kesimpulan yang didasarkan pada swa logika mereka sering tidak sejalan dengan realitas kehidupan sosial yang ada. Inti dari pengalaman terapi terdiri dari kenyataan ditemukannya oleh klien akan kekeliruannya yang mendasar dan kemudian belajar cara membetulkan asumsi-asumsi serta kesimpulan yang tidak benar ini.

HUBUNGAN ANTARA TERAPIS DAN KLIEN Aliran Adler menganggap hubungan baik antara klien itu adalah yang keduanya berkedudukan sederajat yang didasari pada kerjasama, saling percaya, saling menghormati, saling menjaga rahasia, dan keselarasan sasaran. Mereka memberi nilai istimewa pada contoh berkomunikasi dan berbuat dengan penuh keyakinan yang diberikan oleh konselor. Dari permulaan kegiatan terapi hubungannya sudah menampakan sifat kerjasama, diwarnai oleh ulah dua orang yang bekerja dalam suasana kesamaan derajat menuju ke sasaran spesifik yang dikehendaki bersama. Dinkmeyer, Dinkmeyer, dan sperry(1987) menyatakan bahwa sejak awal mula kegiatan konseling, seyogyanya klien mulai memformulasikan rencana atau

kontrak, dengan memerinci apa yang dimaui, rencana apa yang disusun untuk bisa sampai pada tempat yang dituju, apa kendala yang mereka jumpai hingga tidak berhasil mencapai sasaran, bagaimana mereka bisa mengubah perilaku tidak produktif menjadi perilaku yang konstruktif, dan bagaimana mereka bisa memanfaatkan aset yang mereka miliki sebaikbaiknya untuk bisa mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Klien tidak dipandang sebagai penerima yang pasif; melainkan klien adalah anggota dari kelompok yang aktif dalam hubungannya dengan kelompok lain yang sederajat di mana tidak ada pihak yang berkedudukan lebih tinggi dan ada yang berkedudukan lebih rendah.

TEKNIK DAN PROSEDUR TERAPEUTIK Konseling aliran Adler dibangun mengitari empat tujuan sentral. Yang sesuai dengan empat fase proses terapeutik. Fase-fase ini tidaklah linier dan tidak bergerak maju dengan langkah-langkah yang kaku; melainkan, fase itu akan bisa dipahami sangat baiknya sebagai suatu jalinan benang yang nantinya akan membentuk selembar kain. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya maka tahap-tahap ini adalah: 1. Menciptakan hubungan terapeutik yang tepat 2. Menggali dinamika psikologi yang ada dalam diri klien 3. Membangunkan semangat pengembangan rasa memahami diri sendiri 4. Menolong klien menentukan pilihan-pilihan baru

FASE 1: MENCIPTAKAN HUBUNGAN Kemajuan terapeutik hanya mungkin apabila tujuan konseling itu ditentukan dengan jelas dan apabila ada keserasian tujuan antara klien dan terapis. Agar bisa efektif maka proses terapeutik itu harus menangani isu pribadi yang oleh klien diakui sebagai signifikan dan diinginkan untuk bisa dibahas dan bisa diubah. Salah satu cara untuk menciptakan hubungan terapeutik yang bisa berjalan adalah dengan diberinya klien pertolongan oleh konselor agar bisa menyadari akan aset dan kekuatan yang dimilikinya, dan bukan dengan menangani kekurangan serta kewajiban yang harus dipikulnya. Oleh karena itu konselor aliran Adler berfokus pada dimensi positif dan menggunakan dorongan semangat serta dukungan. Selama fase permulaan ini hubungan ini dilakukan dengan jalan mendengarkan, memberi tanggapan, menunjukan sikap menghormati kapasitas klien untuk bisa berubah, dan menunjukan rasa antusiasme yang jujur. Apabila klien masuk dalam kegiatan terapi pada umumnya mereka hanya sedikit saja mau menghargai diri sendiri serta menghormati diri sendiri, dan mereka tidak percaya bahwa mereka ada kemampuan untuik menangani tugas-

tugas hidup. Terapis memberikan dukungannya, yang merupakan obat penawar terhadap rasa putus asa dan patah semangat. Selama fase permulaan dari konseling teknik utama adalah hadlir dan mendengarkan, mengidentifikasi dan mencari kejelasan sasaran, serta memberikan empati. Hadlir mencakup juga mengaktifkan perilaku seperti bertatap mata dan secara psikologis selalu siap untuk berhubungan dengan klien. Mendengarkan mencakup menangkap pesan klien, baik yang verbal atau non berbal. Baik hadlir atau mendengarkan mencakup memperhatikan pesan yang disampaikan klien berupa nada bicara, penampilan, ekspresi raut wajah, isyarat, dan keragu-raguan dalam bicara. Konselor berusaha untuk menangkap inti dari apa yang dialami pasien. Rasa bisa memahami perasaan mencakup kemampuan terapis menangkap dunia subyektif si klien dan mengomunikasikannya kepada klien. Apabila klien benar-benar telah dipahami dan bisa diterima para terapis pun cenderung untuk memfokuskan pada apa yang ingin mereka dapatkan dari terapi itu, jadi ditetapkanlah tujuannya.

FASE 2: MENGGALI DINAMIKA INDIVIDUAL Pada fase kedua penggalian klien ada tujuan ganda: memahami gaya hidup mereka dan melihat betapa itu semua mempengaruhi dia dalam menjalankan tugas hidup yang dilakukan sekarang. Konselor memulai penilaian permulaannya dengan mencari perlakuan apa saja yang dikerjakan klien dalam berbagai aspek kehidupannya. Agar bisa memiliki cita rasa gaya hidup klien, konselor dengan cermat memperhatikan perasaan motif, keyakinan, dan sasaran. Mereka menggali perasaan untuk bisa memahami motif, mengembangkan empati, dan meningkatkan kualitas hubungan terapeutik. Berdasarkan pendekatan wawancara yang dikembangkan oleh Adler dan Dreikurs, penilaian gaya hidup melibatkan suatu penyelidikan tentang konstelasi keluarga klien dan sejarah masa kanak-kanaknya. Konselor juga menginterpretasikan apa saja yang diingat oleh si klien di masa usia dini. Yang dicari oleh konselor adalah bisanya memahami orang itu secara utuh pada saat ia tumbuh dewasa dalam suatu pranata sosial. Mereka bekerja berdasarkan asumsi bahwa yang menguasai gerak perbuatan seseorang adalah suatu interpretasi tentang berkembangnya orang itu sendiri, orang lain, dunia dan kehidupan. Penilaian gaya hidup ditunjukan untuk mengungkap interpretasi yang diberikan serta logika yang dimiliki oleh si individu itu sendiri. Konselor mengadakan eksplorasi tentang bagaimana si klien berfungsi dalam kaitannya dengan tugas hidup untuk bisa mencintai, bekerja, bersahabat, dan sebagai anggota masyarakat. Klien diharap untuk mau mengatakan kepada konselor tentang hal-hal seperti ini dan juga memberitahukan apa yang ingin mereka perbaiki atau ubah.. Konstelasi keluarga. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya penilaian penganut Adler sangat menggantungkan diri pada konstelasi keluarga, yang mencakup

pengevaluasian kondisi yang mempengaruhi pembentukan pendapat tentang gaya hidup dan asumsi dasar. Mosak da shulman (1988) mengembangkan suatu kuesioner penilaian gaya hidup yang menyelidiki apa yang dianggap penganut Adler sebagai faktor yang mempengaruhi dalam hidup seseorang. Faktor-faktor dimaksud posisi psikologis si anak dalam keluarga, urutan kelahiran, dan interaksi antara kakak-beradik dengan orang tuanya. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran tentang persepsi diri si klien dan tentang pengalaman-pengalaman yang telah mempengaruhi perkembangan mereka. Kenangan Masa Kecil. Prosedur penilaian yang lain yang digunakan adalah minta kepada klien untuk memberitahukan kenangan yang pertama mereka ingat, termasuk perasaan-perasaan, serta pikiran-pikiran yang menyertai peristiwa itu. Peristiwaperistiwa itu harus yang secara jelas bisa diingat oleh klien. Kenangan yang spesifik ini mengungkapkan keyakinan dan kekeliruan dasar. Klien bisa diminta untuk menutup matanya, dan membiarkannya mengenang kembali peristiwa yang paling mereka ingat, dan konselor bisa menyatakan berbagi rasa dengan klien atas perasaan yang ada kaitannya dengan peristiwa itu. Kenangan masa umur dini memberikan kepada kita suatu pemahaman tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri serta merasakan tentang diri sendiri, bagaimana kita melihat dunia, apa tujuan hidup kita, apa yang memotivasi kita, apa yang kita yakini apa yang kita nilai sebagai hal yang baik. Mimpi. Mimpi adalah sebuat proyeksi dari apa yang sedang mengganggu pikirannya serta suasana hati seseorang. Klien bisa belajar untuk mengamati dan memahami dinamika internal mereka sendiri dengan jalan menggali apa yang diproyeksikan oleh mimpi mereka. Yang mendapatkan perhatian khusus adalah mimpi di masa kanakkanak, dan juga mimpi yang sedang dialami atau yang baru saja dialami. Mimpi bertindak tidak ubahnya sebagai penunjuk arah angin dilakukannya suatu perlakuan, Oleh karena mimpi menaikkan suatu problema ke permukaan. Prioritas. Penganut Adler percaya bahwa memberi penilaian pada prioritas klien adalah jalan menuju ke pemahaman gaya hidup mereka. Setiap prioritas menyangkut suatu pola perilaku yang dominan beserta keyakinan yang menunjang yang digunakan untuk menangani sesuatu. Prorioritas menjadi jalan untuk bisa berhubungan dengan orang lain serta mendapatkan rasa diri penting. Kefir melukiskan pola perilaku yang memantulkan empat prioritas:

Pribadi superior berjuang untuk bisa menjadi penting melalui kepemimpinan atau keberhasilam atau melalui jalan yang lain untuk membuatnya merasa superior. Pribadi pengontrol mencari jaminan untuk menghadapi cemoohan. Pribadi penghindar memburu kenyamanan.

Pribadi penyenang bertujuan untuk menghindari penolakan dengan terus memburu persetujuan dan penerimaan.

Salah satu jalan untuk menggiring klien ke prioritas utama adalah dengan jalan menanyakan kepadanya agar melukiskan secara rinci kegiatannya pada hari-hari tertentu. Integrasi dan Rangkuman. Jika materi sudah terkumpul yang didapat dari konstelasi keluarga klien, kenangan masa usia dininya, mimpinya, dan prioritasnya, dibuatlah rangkuman dari masing masing bidang. Rangkuman ini diberikan kepada klien dan dibahas dalam sesi, dengan konselor dan klien secara bersama-sama menghaluskan lagi materi-materi spesifik. Rangkuman itu juga memuat suatu analisis kekeliruan dasar seorang individu. Proses Pemberian Semangat. Setelah penelitian gaya hidup selesai dilakukan, klien bisa dibangkitkan semangatnya untuk memeriksa persepsi keliru mereka, untuk mulai menantang kesimpulan yang mereka buat, dan membuat catatan tentang aset mereka, kekuatan yang mereka miliki, dan bakat mereka. Pembangkitan semangat merupakan prosedur aliran Adler yang paling menonjol, dan oleh karena itu hal yang tidak bisa ditinggalkan adalah memasukkan kualitas positif klien dalam penilaian serta interpretasi keseluruhan, dan tidak sekedar suatu rangkuman tentang kekurangan serta kekeliruan semata.

FASE 3: MEMBERI SEMANGAT UNTUK PEMAHAMAN Pemahaman tentang tujuan serta sasaran yang tersembunyi ada kemungkinan untuk muncul ke permukaan tidak hanya melalui pembangkitan semangat serta tantangan tetapi juga bisa lewat interpretasi yang diberikan pada waktu yang tepat yang dinyatakan sebagai hipotesa tentatif. Meskipun pemahaman dianggap oleh penganut Adler sebagai suatu pelengkap yang kuat demi tercapainya perubahan perilaku, pemahaman itu tidak dianggap sebagai prerekuisit. Pemahaman dianggap sebagai langkah menuju perubahan tetapi tekanannya ada penerjemahan tahu diri ini menjadi perbuatan yang konstruktif. Interpretasi adalah suatu teknik yang memberikan fasilitas pada proses didapatkannya wawasan diri. Fokusnya adalah pada perilaku di sini dan sekarang dan pada ramalan-ramalan dan antisipasi-antisipasi yang timbul dari kehendak seseorang. Yang ingin bisa dilakukan adalah menciptakan kesadaran akan tujuan hidup seseorang, sasaran serta maksud seseorang, logika yang dia miliki dan bagaimana logika itu bisa diterapkan, dan perilaku orang itu pada saat ini. Umumnya interpretasi difokuskan pada perilaku dan konsekuensi yang ditimbulkannya dan bukan pada penyebab diterapkannya perilaku itu.

TAHAP: 4 MENOLONG AGAR BISA BERORIENTASI ULANG

Tahap akhir dari proses terapeutik adalah tahap berorientasi pada tindakan yang disebut reorientasi dan reedukasi, atau mengetrapkan wawasan dalam praktek. Tahap ini memfokuskan pada menolong orang melikat alternative yang baru dan lebih fungsional. Klien didorong semangatnya dan sekaligus ditantang untuk mengembangkan keberanian mengambil resiko dan membuat perubahan dalam hidupnya. Selama tahap reorientasi dari konseling, klien mengambil keputusan dan memodifikasikan sasaran mereka. mereka didorong semangatnya untuk bertindak seolah-olah mereka itu orang yang mereka inginkan, dengan demikian bertindak untuk menantang asumsinya tentang keterbatasan dirinya. Klien diminta untuk menangkap dirinya sendiri dalam proses mengulangi pola lama yang membawa mereka ke perilaku yang tidak efektif. Hal yang esensial dalam fase ini adalah komitmen, oleh karena apabila klien mengharapkan dirinya berubah, mereka harus ada kemauan untuk menyediakan tugas bagi dirinya sendiri dan mau berbuat sesuatu yang khusus terhadap problema yang dihadapinya. Tahap berorientasi tindakan ini adalah waktunya untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Inilah waktunya konselor dan klien mempertimbangkan alternatif yang mungkin ada beserta konsekuensinya, mengevaluasi betapa alternatif ini akan bisa mencapai sasaran klien, dan menetapkan langkah-langkah tindakan yang spesifik. Tindakan Langsung. Teknik yang dikenal dengan nama tindakan langsung melibatkan tindakan penanganan terhadap apa yang terjadi pada saat sesi konseling berlangsung. Teknik ini bisa menolong klien melihat bagaimana kejadian yang sedang berjalan di sesi konseling bisa merupakan sampel dari kejadian sehari-hari. Niat yang Paradoksal. Teknik ini juga disebut penuntun gejala dan antisugesti. Teknik ini melibatkan klien yang secara sadar menaruh perhatian serta membesarbesarkan pikiran serta perilaku yang merapuh. Akibatnya, gejalanya menjadi secara menyolok tidak proposional dengan situasi sesungguhnya. Strategi paradoksal terdiri dari intervensi terapeutik yang nampaknya kontradiktif, bahkan tidak masuk akal. Esensinya adalah bahwa teknik itu menggabungkan diri dengan sifat menentang si klien dan bukan melawannya (Mozdierz, Macchiteli & Lisiecki, 1976). Berandai-andai. Terapis dapat menciptakan situasi bermain peran di mana klien membayangkan dan melakukan sesuatu yang mereka inginkan untuk dilakukan. Kalau klien berkata: kalau saja saya bisa ... mereka bisa didorong semangatnya untuk memerankan apa yang ada di angan-angannya paling tidak selama seminggu, hanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Menuang tuba dimangkuk susu klien. Konselor menentukan usaha itu dan imbalan dari suatu perilaku untuk kemudian memorakporandakannya dengan jalan mengurangi kemanfaatan perilaku itu di depan mata klien. Klien ada pilihan untuk melanjutkan perilakunya itu, tetapi imbalan yang mungkin akan diterima akan porak porandanya karena ia tidak mampu lagi untuk menipu diri sendiri.

Menangkap diri sendiri. Dalam proses menangkap diri sendiri klien menjadi sadar bahwa ia berperilaku menghancurkan diri sendiri atau memiliki gagasan yang irasional tetapi tidak melakukan usaha menyalahkan dirinya sindiri. Mula-mula klien mungkin terlambat menangkap dirinya sendiri, yaitu setelah terbelit oleh pola lama; akhirnya, melalui latihan, mereka bisa belajar mengantisipasi peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi dan oleh karenanya mengubah pola lakunya Menekan tombol. Teknik tekan tombol mencakup menyuruh klien membayangkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan secara bergantian kemudian menaruh perhatian pada perasaan yang menyertai pengalaman itu. Tujuan teknik itu adalah mengajar klien bahwa sesungguhnya ia bisa menciptakan perasaan apa pun yang diinginkan dengan jalan menetapkannya dalam pikirannya. Konselor mungkin menggunakan proses visualisasi dengan menyuruh klien mengenag peristiwa yang sangat menyenangkan, kemudian mengenang peristiwa yang amat tidak menyenangkan. Kemudian membayangkan peristiwa yang akan ia hadapi dengan cara yang ia lakukan. Klien diminta untuk memutar kembali peristiwa terakhir dan menambahkannya dengan perasaan yang diciptakan sebagai hasil dakhir dari suatu pemikiran. Konselor menyuruh klien untuk kembali pulang dengan bekal dua buah tombol tombol depresi dan tombol bahagia dan menyiratkan kepadanya bahwa ia memegang kendali terhadap tombol itu dan bisa memilih yang mana yang akan ditekan akalu nanti menemui suatu peristiwa. Tidak ingin menjadi manusia cengeng. Klien pergi ke kegiatan konseling dengan berbekalkan pula menaklukan diri sendiri yang dilakukannya sehari-hari. Mereka mungkin terikat pada suatu asumsi yang keliru oleh karena persepsi yang berdasarkan purbasangka seperti itu memang ada akibatnya. Misalnya saja, beberapa orang klien merasa yakin bahwa tidak seorangpun yang benar-benar peduli terhadap mereka, jadi kemungkinannya ialah bahwa mereka akan membuat konselor menjadi orang yang akhirnya nanti akan memberi reaksi orang-orang itu. Konselor wajib berjaga-jaga agar tidak terjerumus kedalam perangkap seperti itu dan tidak menguatkan perilaku klien yang membuat mereka terpaku pada pola lama. Melainkan, konselor dinasihatkan untuk mendorong berkembangnya perilaku yang akan membawa mereka ke kedewasaan psikologis yang makin meningkat. Pemberian tugas serta komitmen. Dalam pengambilan langkah kongkrit untuk menyelesaikan problema, klien perlu menyediakan tugas dan berkomitmen dengan tugas itu. Rencanapun harus disusun untuk suatu jangka waktu yang terbatas. Dengan jalan ini klien bisa berhasil dalam melakukan beberapa tugas yang spesifik, dan mereka bisa kemudian mengembangkan rencana baru dengan penuh percaya diri. Mengakhiri dan merangkum sesi. Membuat batas waktu suatu sesi, menutup sesi tanpa harus mematikan keinginan klien untuk melanjutkan eksplorasinya pada suatu isu, dan merangkum hal yang penting dalam suatu sesi merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh konselor. Adalah hal yang bijaksana apabila konselor tidak

mengambil materi baru pada saat suatu sesi menjelang berakhir. Melainkan , konselor menolong klien untuk mengkaji ulang apa yang telah dipelajari.

Sebagai tambahan dari teknik yang telah disebutkan diatas, ada kecenderungan untuk mengambil prosedur yang luas selama berlangsungnya proses konseling. Berikut ini adalah beberapa teknik itu: Saran. Penganut Adler kadang-kadang akan memberi saran apabila dianggap klien siap untuk mendengar dan menerima. Pekerjaan rumah. Sering kali klien diminta untuk terus mengikuti pola perilaku mereka, bersama dengan perasaan serta pikiran mereka yang ada kaitannya dengan situasi tertentu. Humor. Penggunaan humor dalam kegiatan terapeutik bisa berakibat dengan penempatan problema ke dalam perspektif. Diam. Kadang dalam suatu proses terapeutik tidak ada teknik yang lebih baik daripada diam. Terlalu cepat memberi saran atau terlalu sering, atau menyelamatkan klien bila mereka merasa tidak nyaman dengan jalan diam bisa tidak produktif.

IV. Aplikasi

Aplikasi pada pendidikan. Adler ada minat yang mendalam pada pengetrapan gagasannya pada pendidikan, terutama dalam hal mencari jalam untuk mengobati gaya hidup yang keliru dari pelajar. Dia memulai suatu proses untuk bekerja dengan siswa dalam kelompok dan untuk mendidik orang tua dan guru. Dengan membekali guru dengan cara-cara untuk mencegah dan membetulkan kesalahan dasar anak, ia mencari untuk mempromosikan minat social dan kesehatan mental pada anak. Di samping Adler, pembela utama dari psikologi individual sebagai fundamen dari proses belajar mengajar adalah Aplikasi pada pendidikan orang tua. Kawasan pendidikan orang tua merupakan satu dari sumbangan besar yang telah diberikan oleh penganut Adler. Sasarannya adalah untuk memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak dengan jalan menciptakan pengertian dan penerimaan yang lebih baik. Orang tua diajarkan tentang prinsip dasar tentang perilaku dari adler yang bisa dipraktekan di rumah. Topic anak-anak, belajar mendengarkan menolong anak agar bisa menerima konsekuensi dari perilakunya, mengadakan pertemuan keluarga, dan menggunakan dorongan semangat. Aplikasinya pada konseling perkawinan. Terapi perkawinan aliran Adler dirancang untuk menilai apa yang dipercayai oleh pasangan suami isteri dan perilakunya bersamaan dengan mendidik mereka dengan cara yang efektif untuk bisa mencapai sasaran mereka. Dinkmeyer dan dinkmeyer (1982) memberi garis besar dengan empat langkah dalam proses konseling pasangan suami isteri, yang sejalan dengan empat tahap terapi yang telah disebutkan sebelum ini :
1. Pasangan ditanya apa yang mereka harapkan dari konseling, dan terapis

membahas bersama mereka bagaimana sasaran itu bisa dicapai. 2. Terapis kemudian memberikan penilaiannya terhadap gaya hidup keduanya untuk menentukan asumsi yang dipakai sebagai tumpuan tindakan mereka. Penilaian gaya hidup diterapkan pada terapi perkawinan seperti halnya pada konseling individual. 3. Terapis menyediakan umpan balik kepada masing-masing suami dan isteri terhadap tema dan pola yang mun 4. Oleh terapis pasangan itu dikonfrontasikan dengan kepercayaan mereka yang keliru tentang suatu hubungan. Ini mengawali proses reedukasi. Sasaran dari

reorientasi pasangan itu adalah mendapatkan keterampilan yang bisa mereka gunakan untuk melaksanakan persetujuan baru. Teknik keseluruhan yang bisa diaplikasikan pada konseling bentuk lain dapat digunakan dalam menangani pasangan suami isteri. Dalam konseling perkawinan dan pendidikan perkawinan pasangan diajar teknik yang spesifik yang dapat memacu komunikasi dan kerja sama. Beberapa butir dari teknik ini adalah mendengarkan, menceritakan kembali, memberikan umpan balik, mengadakan musyawarah, mendaftar apa yang diharapkan, mengerjakan pekerjaan rumah, dan menggunakan niat paradoksall. Strategi tambahan dalam konseling perkawinan termasuk psikodrama, biblioterapi, mendongeng dan humor serta menentukan peran. Aplikasi pada konseling keluarga. Dengan penekanan pada susunan keluarga, holisme, dan kebebasan terapis untuk berimprovisasi, pendekatan Adler memberikan sumbangannya pada dasar-dasar dari perspektif terapi keluarga. Penganut Adler yang menangani keluarga memfokuskan suasana dalam keluarga, konstelasi keluarga, dan gaya hidup, peran seks, pembuatan keputusan, kerjasama, menangani konflik, pertanggungan jawab, dan sebagainya. Suasana ini, termasuk didalamnya model peran yang dicontohkan oleh orang tua, membentuk si anak dalam proses pertumbuhan mereka. Proses terapeutik berusaha untuk meningkatkan kesadaran akan interaksi setiap individu dalam system keluarga itu. Mereka yang mempraktekan terapi keluarga aliran Adler berusaha untuk memahami sasaran, keyakinan, dan perilaku setiap anggota keluarga serta keluarga sebagai suatu kesatuan sesuai dengan haknya. Oleh karena perilaku itu memiliki tujuan social, terapis memfokuskan pada hubungan antara yang menjadi ciri setiap keluarga. Intervensi didesain untuk mendorong gerakan yang aktif dan konstruktif. Anggota keluarga diajar untuk menerima tanggung jawab perseorangan. Ada usaha patungan antara terapis dan setiap anggota keluarga untuk mengevaluasi sasaran dan saraana untuk mencapainya. Terapi keluarga ada tujuan pendidikannya, oleh karena terapis menolong para anggota cara-cara menyelesaikan masalah. Terapi diarahkan pada pengenalan pada peranan serta hubungan keluarga dalam bentuk yang lebih efektif dan lebih memuaskan.

Sejumlah teknik bisa didapat oleh terapis keluarga untuk bisa memenuhi sasaran ini. Disamping menggunakan banyak dari teknik yang telah dipaparkan sebelumnya, mereka menggunakan strategi lainnya: mengajar ketrampilan komunikasi, menolong anggota keluarga agar bisa meneropong antar aksi yang telah mereka buat untuk bisa membedakan antara isu yang tampak dipermukaan dengan isu yang sebenarnya , membangkitkan semangat dan mengkonfrontasikan anggota keluarga dengan logika pribadi dan maskudnya. Wawancara permulaan memulai proses konseling kelompok keluarga. Tujuannya adalah untuk menolong konselor agar bisa mendiagnosis sasaran yang ingin dicapai oleh anak anak, mengevaluasi metode membesarkan anak anak yang dipakai oleh orang tua, memahami suasana dirumah, dan memeberikan rekomendasi spesifik demi terjadinya perubahan situasi keluarga di rumah. Wawancara itu ditutup dengan sederetan rekomendasi yang menyangkut pekerjaan rumah bagi orang tua dan anggota signifikan di luar keluarga.

Aplikasi pada tugas kelompok. Pada tahun 1921 Adler dan kawan kawannya sudah menggunakan pendekatan kelompok di pusat bimbingan pada anak yang didirikannya di Viena (dreikurs, 1969). Kelompok memberikan konteks sosial dimana para anggotanya dapat mengembangkan rasa menjadi bagian dari kelompok dan rasa komunitas. Dinkmeyer (1975) menulis bahwa anggota kelompok akan mengetahui banyak dari problemanya adalah bersifat antar pribadi, bahwa perilaku mereka memiliki makna sosial, dan bahwa sasaran yang ingin mereka capai dapat dipahami dengan sangat baik hanya dalam kerangka tujuan sosial.

Beberapa dari faktor terapeutik yang spesifik yang dilukiskannya sebagai yang berlaku dalam kelompok Adler adalah : Kelompok itu menyediakan cermin tentang perilaku orang dalam kelompok. Anggota memanfaatkan umpan balik dari anggota lain dan dari pimpinan. Kelompok menyediakan kesempatan untuk digunakan menguji kenyataan dan untuk mencoba perilaku baru. Konteks kelompok mendorong semangat anggota untuk membuat komitmen dalam hal membuat langkah kearah perubahan dalam hidup. Adanya transaksi dalam kelompok itu bisa menolong anggota dapat memahami betapa mereka berfungsi pada saat mereka dalam lingkungan kerja dan di rumah dan juga mengungkap betapa anggota mencari dan menemukan tempat mereka di masyarakat. Kelompok itu disusun dengan cara sedemikian rupa sehingga para anggotanya bisa memenuhi kebutuhan mereka untuk menjadi bagian dari kelompok mereka.

V. Script Percakapan Terapi Adler

DAFTAR PUSTAKA Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Pacific Grove, California: Brooks/Cole Company Publishing.