You are on page 1of 7

B. Demam Berdarah Dengue (DBD) 1.

Pengertian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. cenderung Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Keeadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transfortasi serta tersebarluasnya virus dengue dan nyamuk penularannya diberbagai wilayah di Indonesia(Depkes, 2005). Demam berdarah dengue adalahpenyakit yang terutama terdapat pada anak dan remaja atau pada orang dewasa dengan tanda-tanda klinis berupa demam, nyeri otot / nyeri sendi yang disertai leukopeia., dengan tanpa ruam, dan limfadenopati, demambifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerkan bola mata, gangguan rasa mengecap, trombositopenia ringan dan petekie spontan. Demam berdarah dengue terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot, dan sendi, yang biasanyan memburuk setelah pada dua hari pertama. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrom, disingkat DSS). 22 2. Etiologi Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti yang mempunyai ciri belang hitam-putih diseluruh tubuh sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai demam dengue (DD). Apabila orang itu mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang berbeda (Mansjoer, 2000). Virus Dengue dahulu termasuk group B Antropod Borne Virus (Arboviruses) adalah virus RNA, genus Flavivirus, termasuk family Flacviridae. Sampai saat ini dikenal ada 4 serotipe: DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN 4. infeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibodi protektif seumur hidup untuk serotype yang bersangkutan, tetapi tidak untuk serotype yang lain. Ke-4 serotype virus tersebut diketemukan diberbagai daerah di Indonesia. Serotype DEN-3 merupakan serotype yang dominan di Indonesia dan ada hubungannya dengan kasus-kasus berat pada saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) (Depkes, 2005). 3. Patofisiologi Ada dua perubahan patofisiologis utama terjadi pada demam berdarah dengue. Pertama adalah peningkatan permeabilitas vaskuler yang meningkatkan kehilangan plasma dari kompartemen vaskuler. Keadaan ini 23 mengakibatkan hemokonsentrasi, tekanan nadi rendah, dan tanda syok lain, bila kehilangan plasma sangat membahayakan. Perubahan kedua adalah ganguan pada hemostatis yang mencakup perubahan vaskuler,

trmbositopenia, dan koagulopati. Temuan konstan pada demam berdarah dengue adalah aktivasi system komplemen, dengan depresi besar kadar C3 dan C5. Mediator yang meningkatkan permeabilitas vaskuler dan mekanisme pasti fenomena perdarahan yang timbul pada infeksi dengue belum teridentifikasi, sehingga diperlukan studi lebih lanjut. Defek trombosit terjadi baik kualitatif dan kuantitatif yaitu beberapa trombosit yang bersirkulasi selama fase akut demam berdarah dengue mungkin kelelahan (tidak mampu berfungsi normal). Karenanya, meskipun pasien dengan jumlah trombosit lebih besar dari 100.000 per mm3 mungkin masih mengalami fase perdarahan yang panjang (Ngastiyah, 2005). 4. Manifestasi Klinis Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengue , demam berdarah dengue, sampai sindrom syok dengue. Masa inkubasi dengue 4-7 hari.Secara klinis biasanya ditandai 24 dengan demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbul ruam makulopapular. Tanda lain menyerupai demam dengue yaitu anoreksia, muntah, dan nyeri kepala (Depkes, 2005). 5. Diagnosa Diagnosis penyakit DBD biasa dilakukan secara klinis (WHO, 1999): a. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara disertai gagal ginjal tidak spesifik, seperti: lisis. Demam berkisar 39o40oC anoreksi, malaise, nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan kepala. b. Manifestasi perdarahan, seperti uji torniquet positif, petekie, pirpura, ekimosis, epistaksia, perdarahan gusi, hematemesis, dan melena. c. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus. d. Dengan/tanpa syok. Syok yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk. e. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi, yaitu sedikitnya 20%. f. Adanya ruam-ruam pada kulit. g. Leukopenia 25 Derajat beratnya penyakit DBD secara klinis sangat bervariasi, (Depkes, 2005) membagi menjadi 4 derajat yaitu: 1) Derajat I: Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif 2) Derajat II : Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat. 3) Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah. 4) Derajat IV: Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. Kriteria Laboratorium: Menurut Mansjor, (2000) seseorang didiagnosa penyakit DBD jika hasil

laboratorium menunjukkan hasil trombositopenia (<100.000/mm) dan peningkatan nilai hematokrit >20%, diagnosis penyakit DBD dipastikan dengan pemeriksaan serologi (IHA, Imunoglobulin) dan atau isolasi virus. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu diagnosis adalah: 26 hipoalbuminemia, hiponatremia, peningkatan kadar transaminase, limposit plasma biru (20-50%). Pemeriksaan radiologi yang menunjang diagnosis: 1) Dilatasi pembuluh darah paru, efusi pleura, kardiomegali, dan efusi perikard. 2) Hepatomegali, dilatasi vena hepatica, cairan rongga peritonium (ascites) dan penebalan dinding kandung empedu pada USG abdomen (Mansjoer, 2000). 6. Penatalaksanaan Pada pasien dngan keluhan demam 2-7 hari, disertai uji tourniquet positif atauperdarahan spontan, dan trombositopenia ringan dapat dikelolah seperti berikut : Apabila pasien msih dapat minum, berikan minuman 1-2 liter/hari atau1 sendok makan setiap 5 menit. Obat antipiretik (paracetamol) diberikan bila suhu > 38o C. Pada dengan riwayat kejang dapat diberikan obat anti konvulsif. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus menerus, sebaiknya diberikan infuse NaCl. 0,45% : dektrosa 5% (1:3) dipasang dengan tetesan rumatan sesuai berat badan. Di samping itu perlu dlakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 6 jam dan trombosit setiap 6-12 jam. Apabila pada tindak lanjut telah terjadi perbaikan klinis dan laborantorium, pasien dapat dipulangkan, tetapi bila kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun, 27 maka infuse caiaran diganti dengan ringer laktat dan tetesan disesuaikan (Depkes RI, 2005) 7. Pencegahan Penyakit DBD Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap cara paling memadai saat ini. Vektor Dengue khususnya aedes aegypty yang mempunyai ciri-ciri berupa belang hitam putih sebenarnya mudah diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan jarak terbangnya maksimum 100 meter. Tetapi karena vektor tersebar luas, untuk keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tak dapat berkembang biak lagi. Pencegahan wabah penyakit DBD didasarkan pada pengendalian vektor, karena vaksin belum tersedia. Saat ini satu-satunya cara yang efektif untuk menghindari infeksi virus Dengue adalah menghindari gigitan dari nyamuk yang terinfeksi (Marlinda, 2004). 8. Perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD Dalam masalah ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit DBD dengan memutus mata rantai penularannya dengan pemberantasan vektor penyakit demam berdarah dengue. Namun yang terdepan dan strategis dalam pelaksanaan pencegahan DBD ini adalah 28 perilaku keluarga dalam memutuskan mata rantai penularan penyakit DBD di lingkungannya (Depkes RI, 2005). Perilaku keluarga yang dimaksud dalam pencegahan penyakit DBD adalah

keterlibatan tanggung jawab mental dan emosional. Keterlibatan tanggung jawab meliputi penyediaan sarana kesehatan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan misalnya penyediaan tong sampah, pengelolaan sarana yang diadakan agar tetap terjamin dan terpelihara sehingga tidak menjadi perindukan vektor penyakit DBD misalnya memelihara parit dengan tidak membuang sampah kedalamnya, pemantauan dan pengawasan lingkungan rumah tangga dan halaman erat kaitannya dalam pencegahan penyakit DBD. Keterlibatan emosional menyangkut berbagai anjuran-anjuran kepada anggota keluarga dengan berbuat sesuatu dalam kaitannya dengan penyediaan sarana dan upaya pemberantasan penyakit DBD (, 2005). Menurut Maironah (2005), dalam melakukan pencegahan penyakit DBD ini keluarga perlu melakukan beberapa metode yang tepat yaitu: a. Lingkungan Menurut Maironah (2005) Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk, sebagai contoh keluarga dapat melakukan: 29 1) Menguras bak mandi/penampungan air satu kali seminggu. 2) Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minuman burungseminggu sekali. 3) Menutup rapat tempat penampungan air. 4) Mengubur kaleng bekas, botol-botol, ban, pelastik, kulit kerang, bekas pembungkus makanan yang ada disekitar rumah. b. Biologi Pencegahan penyakit DBD secara biologi antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik jika mempunyai kolam di sekitar rumah. c. Kimiawi Cara pencegahan menurut Depkes (2004), antara lain: 1) Pengasapan/fogging berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. 2) Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan seperti gentong air, bak mandi, vas bunga, dan kolam sesuai dengan dosis/takaran yaitu 1 gram bubuk abate untuk 10 liter air. 3) Cara lain yang dapat dilakukan keluarga, misalnya: (a) Pakaian sebagai pelindung dapat mengurangi resiko gigitan nyamuk jika pakaian cukup tebal atau longgar dan gunakanlah baju lengan panjang dan celana panjang. 30 (b) Gunakan racun nyamuk boleh obat nyamuk bakar, gosok, maupun yang semprot. (c) Hindari tidur siang, terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau

sore hari sekitar jam 3-5, karena nyamuk aedes aegepty mempunyai kebiasaan menggigit pada pada jam-jam tersebut. (d) Gunakan kelambu saat tidur atau gunakan kipas angin di kamar tidur karena nyamuk pada umumnya tidak suka dilingkungan berangin. (e) Singkirkan pakaian-pakaian yang tergantung di balik pintu di dalam kamar, karena nyamuk aedes aegepty senang berada ditempat gelap dan istirahat di pakaian yang bergantungan. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa cara yang paling efektif yang dapat dilakukan keluarga dalam pencegahan penyaki DBD adalah dengan 3M, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa cara pencegahan yang lain seperti memelihara ikan pemakan jentik, memberikan bubuk abate, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kelambu, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat (Marlinda, 2004). 31 9. Peran Perawat Peran perawat adalah memberi pelayanan kesehatan kepada keluraga berupa pendidikan dan fasilitas agar perilaku keluraga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah semakin meningkat. Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995)

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian 1. Desain penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif yaitu untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi tentang perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah (Arikunto, 2006). 2. Variabel Penelitian Variabel adalah suatu atribut atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2005). Variabel penelitian adalah perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. 3. Sub Variabel Penelitian Sub variabel dalam penelitian ini adalah: a. Pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. b. Sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD c. Tindakan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD.

C. Kriteria Sampel Adapun kriteria sampel adalah sebagai berikut: 1. Orang tua (ayah atau ibu) dari anggota keluarga, 2. Bersedia menjadi responden dan 3. Mampu membaca dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. D. Variabel Penelitian

Variabel Penelitian adalah suatu atribut, sifar, atau nilai dari orang, objek ke giana yang mempunyai variasi tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, atau kemudian ditarik kesimpulan (sugiyono, 2006). 1. Variabel Pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit DBD 2. Variabel Sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD 3. Variabel Tindakan keluarga pencegahan penyakit DBD 36 E. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan April 2011. F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini mempergunakan angket atau kuesioner yaitu : suatu daftar pertanyaan yang dipergunakan untuk memperoleh data atau informasi dari responden tentang hal-hal yang ingin diketahui (Arikunto, 2003). Angket yang digunakan berbentuk angket tertutup, artinya jawaban sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih jawaban yang telah ada. Komponen angket terdiri dari aspek pengetahuan, sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. Alasan penggunaan angket tertutup adalah untuk memungkinkan jawaban lebih terarah. Jumlah pertanyaan dan pernyataan dalam angket yang dibagikan yaitu 30 yang terdiri dari 15 pertanyaan untuk pengetahuan, 15 pertanyaan untuk sikap, sedangkan untuk tindakan dilakukan dengan cara observasi, meliputi 3M dan cara lain yang dapat dilakukan keluarga untuk pencegahan DBD, seperti : menyingkirkan pakaian-pakaian yang tergantung di balik pintu atau di dalam kamar, menghindari tidur siang, terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau 37 sore hari sekitar jam 3-5, penggunaan racun nyamuk baik obat nyamuk bakar, maupun yang disemprot.

G. Uji Coba Instrumen 1. Uji Validitas Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrument yang bersangkutan mampu mengukur yang akan diukur (Arikunto, 2006). Uji validitas ini dilakukan untuk menguji ketepatan suatu item dalam pengukuran instrumentnya. Suatu pernyataan dikatakan valid dan dapat mengukur varibel penelitian yang dimaksud jika nilai keofisiennya lebih dari 0,3 maka item tersebut dapat digunakan dalam dalam analisis selanjutnya, bila nilai koefisiennya di bawah 0,3 maka butir instrument tersebut tidak valid (Sugiono, 2005). I. Pengumpulan data 1. Pengolahan Data Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan 41 menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi, 2007). Pengolahan data dilakukan dengan cara: a. Editing Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari hasil wawancara untuk mendapatkan data yang akurat. b. Koding Koding adalah melakukan pengkodean data agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan tabulasi data. 1) Koding butir jawaban untuk pengetahuan dengan menggunakan penilaian : Nilai 1 untuk jawaban yang benar dan Nilai 0 untuk

jawaban yang salah. 2) Koding butir untuk jawaban pertanyaan sikap (skala likert) Bersikap positif : (SS=4, S=3, TS=2, STS=1) Bersikap negatif : (SS=1, S=2, TS=3, STS=4) c. Tabulasi data Tabulasi data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalam bentuk tulisan. d. Entri data Entri data adalah memasukan data melalui pengolahan komputer. 42 2. Analisa Data Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: a. Analisa Univariat Dilakukan untuk mendiskripsikan tiap variabel dalam bentuk distribusi frekuensi. J. Prosedur penelitian 1. Tahap Persiapan a. Memilih lahan penelitian b. Melakukan studi pendahuluan dan pengambilan data untuk menentukan masalah c. Melakukan studi kepustakaan tentang hal yang berkaitan dengan penelitian d. Menyusun proposal penelitian 51 e. Konsultasi proposal penelitian f. Seminar proposal penelitian g. Perbaikan proposal h. Permohonan ijin peneitian 2. Tahap pelaksanaan a. Melakukan uji coba instrument b. Mendapatkan informant consent dari responden c. Melakukan pengumpulan data 3. Tahap akhir a. Pengolahan data dan analisa data b. Penyusunan laporan penelitian c. Penyajian hasil penelitian