You are on page 1of 5

System Hybrid

Gambar di samping adalah System Hybrid PV-Bayu di Isolated Grid P. Nusa Penida-Bali. Dipasang pada tahun 2007 dan 2008

Penggunaan:

Listrik pedesaan (Isolated Grid atau Interconnected Isolated genset). Pabrik, perkantoran, perumahan yang tidak mendapat suplai listrik jaringan (PLN). Gedung-gedung perkantoran.

Manfaat:

Mengoptimalkan penggunaan system pembangkit listrik. Meningkatkan efisiensi ekonomi pembangkit. Meningkatkan reliability (keandalan) pembangkit. Meningkatkan waktu layanan listrik secara ekonomis.

Sistem Hybrid adalah system pembangkit listrik yang terdiri dari 2 atau lebih system pembangkit dengan sumber energy berbeda. Misalnya Listrik Tenaga Surya (Photovoltaic, -PV) dipadu dengan genset, maka disebut Hybrid PV-Genset. System Hybrid yang pernah diterapkan di Indonesia adalah: Hybrid PV-Genset, Hybrid PVMikrohydro, Hybrid PV-Bayu (angin), dan bahkan Hybrid PV-Bayu-Genset. Dilihat dari cara pendistribusian listriknya, system hybrid adalah system centralized, yakni pembangkit berada disuatu lokasi, dan listrik yang dihasilkan didistribusikan melalui jaringan distribusi ke rumah-rumah konsumen. Istilah hybrid sering juga digunakan untuk system Grid Connected PV (yakni menggabungkan/"mencantolkan" Pembangkit Listrik Tenaga Surya ke jaringan PLN). System hybrid yang penempatan PLTS nya diselaraskan dengan arsitektur bangunan (tidak sekadar ditempelkan) disebut BIPV (Building Integration PV). System seperti ini belum pernah ada di Indonesia. System hybrid PLTS tidak hanya diterapkan di listrik pedesaan tetapi juga banyak diterapkan di perkotaan. System pv grid connected yang dipasang oleh Pt Azet dapat dilihat di atap gedung LPE-ESDM Kuningan jakarta, atap Gedung ESDM Jl Thamrin dan di P Nusa Penida-Bali. Alasan teknis dimanfaatkannya system hybrid adalah sebagai berikut:

Saling melengkapi keunggulan dan kelemahan masing-masing pembangkit : Misalnya untuk Hybrid PVMikrohydro, pada musim penghujan air banyak tetapi matahari relatif sedikit, dan sebaliknya jika musim kemarau. Mengoptimalkan kemampuan system pembangkit : pada Hybrid PV-Genset, genset untuk memenuhi kebutuhan pada saat "peak load", sedangkan pada saat "base load" genset dimatikan dan PLTS mencatu listrik ke jaringan, dengan demikian masing-masing pembangkit dapat beroperasi pada kapasitas optimalnya. Mengurangi ketergantungan pada suplai BBM: pada Hybrid PV-Genset pemakaian genset dapat dikurangi sampai dengan 75%, tanpa mengganggu suplai kebutuhan listrik, sehingga ketergantungan suplai BBM untuk genset dapat dikurangi. Meningkatkan keandalan (reliability) dan kualitas suplai listrik. Grid connected/BIPV dapat meningkatkan keandalan dan kualitas suplai listrik karena listrik yang disuplai lebih stabil dan dapat di-set agar memiliki fungsi back up.

Alasan ekonomisnya adalah sebagai berikut:

Meningkatkan efisiensi system pembangkit: Hybrid PV-Genset mengurangi biaya operasional system, karena pada saat "base load" dimana kebutuhan listrik konsumen jauh dibawah kapasitas genset, maka genset dapat dimatikan dan PLTS menggantikan, sehingga genset tidak dibiarkan beroperasi pada kapasitas dibawah kapasitas optimum. Meningkatkan keandalan (reliability) dan pelayanan, secara ekonomis. Listrik pedesaan yang beroperasi 612 jam per hari dapat ditingkatkan menjadi beroperasi penuh 24 jam/hari secara ekonomis. Apabila peningkatan dilakukan dengan menggunakan genset saja maka investasi yang dibutuhkan kecil tetapi biaya operasi akan meningkat karena pada saat "base load" genset terus beroperasi, ketergantungan terhadap suplai

BBM juga semakin tinggi (di pedesaan/pulau terpencil sulit diharapkan kepastian suplai BBM). Apabila peningkatan dilakukan dengan menambah PV saja, meskipun biaya operasi menjadi nol tetapi biaya investasi akan membengkak. Hybrid PV-genset dapat meningkatkan keandalan dan suply listrik 24 jam (layanan kepada pelanggan) dengan menghindari penambahan investasi awal yang terlalu besar, menghindari biaya operasi yang besar, dan mengurangi ketergantungan terhadap suplai BBM. Feature: System hybrid pada dasarnya adalah customized system. System dirancang dengan memperhatikan kebutuhan spesifik dan target yang ingin dicapai, oleh karenanya komposisi kontribusi masing-masing pembangkit dapat diatur agar target dapat dicapai dengan baik. System Hybrid PV-Genset untuk listrik pedesaan di isolated grid misalnya, umumnya dirancang 20-30% PLTS dan 70-80% genset, rancangan ini didasarkan pada load profile listrik pedesaan dimana umumnya "base load" berkisar antara 20-30% dari "peak load". Kapasitas System Hybrid umumnya adalah 20kW, 40kW, 60kW, 80kW, 100kW. System paling besar yang pernah diterapkan di dunia adalah 10MW. Dengan menggunakan teknologi moduler, system hybrid dari Pt Azet dapat dibangun dengan prinsip rumah tumbuh, misalnya jika diinginkan system hybrid 100kW tetapi kesiapan investasi hanya cukup untuk 20kW dahulu, maka dapat dibangun system yang 20kW dulu kemudian sisanya dibangun menyusul, system yang sdh dipasang terdahulu tidak akan dibuang. PT Azet Surya Lestari didukung oleh team engineer yang berpengalaman dan dilengkapi dengan system software yang dapat membantu melakukan perancangan system Hybrid dengan baik. Untuk dapat membantu calon konsumen merancang system hybrid yang baik, paling minim dibutuhkan data load profile. Untuk konsultasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami. Volume (incl packing kayu) : + ... m Berat (kg): + ...

HFC (Hybrid Fiber Coax) Jaringan HFC (Hybrid Fiber Coax) adalah jaringan akses yang sebagian dari jaringan tersebut menggunakan media transmisi serat optik dan sebagian lagi menggunakan media transmisi kabel koaksial.

Arsitektur Jaringan HFC Secara Umum STRUKTUR UTAMA HFC

1. Headend 2. Server Complex 3. Distribution Hub 4. Fiber Node 5. Splitter 6. Directional Coupler 7. Amplifier 8. Tap 9. Jaringan penghubung
1. Headend merupakan bagian terpenting dari sistem HFC. Pada Headend terdapat modul-modul perangkat

sesuai dengan layanan yang tersedia, seperti:

CATV Headend Cable Modem Termination Shelf (CMTS) Cable Telephony Headend

2. Server complex berfungsi sebagai server aplikasi yang digunakan oleh subscriber (seperti e-mail server,

news server, dsb). 3. Distribution Hub adalah pusat distribusi jaringan akses HFC ke pelanggan. Di sini seluruh sinyal layananlayanan interaktif lainnya seperti layanan data atau telepon akan digabung dengan sinyal TV broadcast yang diterima dari Headend yang kemudian akan dikirimkan melalui jaringan distribusi optik. 4. Fiber-optic menghubungkan headend sebagai sarana transportasi sinyal ke sejumlah node yang disebut dengan fiber nodes. Fiber nodes berfungsi untuk mengubah sinyal dari optical-to-electrical untuk dilewatkan melalui kabel coaxial ke subscriber.
5. Splitter merupakan salah satu komponen pasif yang digunakan pada sistem perkabelan untuk membagi

signal RF. Splitter digunakan untuk membagi suatu signal input ke dua kabel output yang sama besar 6. Directional Coupler digunakan untuk membagi suatu signal input ke dua kabel output yang tidak sama besar. 7. Dalam pengiriman signal melalui kabel koaksial, amplifier mempunyai dua fungsi yang cukup penting:

Sebagai equalizer, atau signal balancer sehingga frekuensi tinggi dan rendah mempunyai level amplitudo yang sama. Sebagai penguat level signal. pelanggan, dan dipasang untuk mengakomodasikan beberapa rumah sekaligus

8. Tap adalah komponen yang berfungsi untuk mencabangkan signal dari kabel koaksial ke rumah-rumah

9. Jaringan Penghubung

Media Transmisi Serat Optik Kabel Koaksial Kabel Supertrunk Kabel Trunk Kabel Feeder Kable Drop

KONSEP PERANCANGAN JARINGAN HFC A. Metode Perencanaan jaringan HFC Metode perancangan jaringan HFC ini sama dengan perancangan jaringan telekomunikasi konvensional.

B. Penentuan Pada Bandwith dan Layanan

Bandwith yang tersedia Spektrum 5 - 65 MHz adalah kanal upstream yang dialokasikan untuk transmisi kembali dari layanan data atau telepon. Spektrum 65 - 80 MHz digunakan oleh filter crossover yang memisahkan transmisi upstream dan downstream dan tidak digunakan untuk transmisi video (restriced frecuency). Spektrum 80 - 88 MHz adalah kanal downstream yang dialokasikan untuk transmisi video analog (CATV). Spektrum 88 - 108 MHz adalah kanal yang dialokasikan untuk transmisi penyiaran FM. Transmisi televisi menggunakan frekuensi pita ini akan diinterferensi oleh sinyal penyiaran FM yang kuat dan berdekatan. Spektrum 108 - 450 MHz adalah kanal downstream yang dialokasikan untuk broadcast video analog off-air (CATV).

Spektrum 450 - 550 MHz adalah kanal downsteram yang dialokasikan untuk digital video broadcast. Spektrum 550 - 862 MHz adalah kanal downsteram yang dialokasikan untuk layanan interaktif (voice, data, dan video).

C. Penentuan Tingkat Prosentase Layanan Prosentase layanan adalah tingkat yang menggambarkan besaran jumlah calon pelanggan yang berminat berlangganan layanan HFC. Untuk menghitung kapasitas kanal yang dibutuhkan per Fiber Node maka digunakan dua pola pembagian layanan yaitu:

Prosentase layanan TV Kabel Prosentase layanan Interaktif

4. Kebutuhan layanan interaktif (voice, data, video)

Karakteristik sinyal downstream dan upstream untuk layanan interaktif (voice, data, dan video) didefenisikan oleh DOCSIS (Data Over Cable Service Interface Specification). Layanan voice yang dimaksud adalah layanan telepon Layanan data yang dimaksud adalah HSIA (High Speed Internet Access) Layanan video adalah layanan VoD

(Video on Demand) Semua layanan di atas dikemas dan ditransmisikan dalam format data dengan rate tertentu pada tiap-tiap layanan dengan standard yang sudah ditetapkan di atas. D. Pemilihan Struktur Jaringan Besarnya jaringan menentukan penempatan letak Fiber Node, layanan apa saja yang bisa ditawarkan, dan perlu atau tidaknya catuan fiber optik. Daerah layanan (Fiber-to-Serving Area) mengacu pada banyaknya pelanggan yang ditangani oleh satu sambungan distribusi secara optik. Semakin banyak konsentrasi pelanggan di tiap daerah layanan, maka semakin banyak dibutuhkan sambungan distribusi secara optik. Komponen yang ditinjau meliputi:
o o o

Transport Optik Distribusi Optik Pemodelan Jaringan Express dan Feeder

Pada sistem HFC ini selain mempunyai bandwith yang cukup lebar, pemodelan jaringan dengan topologi Tree and Branch juga mempunyai kekurangan. Diantaranya adalah keterbatasan pemakaian amplifier sebagai penguat sinyal pada sistem yang terpasang secara cascade. D. Pemilihan Perangkat Dalam pemilihan perangkat perlu melihat sisi teknologi yang digunakan. Pemilihan ini berlaku dengan melihat pada kehandalan (reliability) perangkat, keamanan (security), kemudahan dalam penggunaan (easy of use), accessibility, biaya (cost). Sehingga perlu diberikan alternatif pemilihan perangkat yang sesuai sehingga memenuhi standar transmisi. Pemilihan perangkat meliputi:

Kabel Express dan Kabel Feeder Kabel Drop Fiber Node Penguat Koaxial

E. Spesifikasi Teknis Jaringan HFC Parameter transmisi memegang peranan yang cukup besar dalam sebuah perancangan jaringan karena menentukan performansi sistem yang dibangun. Berikut beberapa aspek parameter transmisi untuk memenuhi persyaratan standard transmisi sehingga didapat performansi yang optimum di sisi pelanggan: 1. Persyaratan Sinyal 2. Persyaratan Performansi Jaringan