You are on page 1of 23

1.

Jelaskan dan Gambarkan tentang region tubuh dan posisi tubuh. Region merupakan daerah atau arah dan letak anggota tubuh manusia.

Region pada abdomen RIGHT UPPER QUADRANT Hati,kantung empedu, paru, esofagus RIGHT LOWER QUADRANT Usus 12 jari (duodenum), usus besar, usus kecil, kandung kemih, rectum, testis, anus LEFT UPPER QUADRANT hati, jantung, esophagus, paru-paru, pancreas, limfa, lambung LEFT LOWER QUADRANT Anus, rectum, testis, ginjal, usus kecil, usus besar

RIGHT HYPHOCHONDRIAC REGION paru, hati RIGHT LUMBAR REGION Kantung empedu, usus 12 jari (duodenum) RIGHT ILIAC REGION Usus besar, kandung kemih, usus buntu

EPIGASTRIC REGION esofagus, jantung, paru, hati UMBILICAL REGION Lambung, pancreas, usus kecil, usus 12 jari (duodenum) HYPOGASTRIC REGION Ginjal, usus besar, rektum, anus, testis

RIGHT HYPHOCHONDRIAC REGION Jantung, paru LEFT LUMBAR REGION

Lambung, pancreas, usus kecil, limfa

LEFT ILIAC REGION Ginjal, usus besar

Istilah-istilah anatomi yang dipakai untuk posisi tubuh ada beberapa macam, 1. anterior dan pposterior digunakan untuk menunjukan bagian depan belakang tubuh dan menghubungkan dua struktur. 2. Palmar (anterior) dan dorsal (posterior) Untuk mendeskripsikan tangan. 3. Plantar (anterior) dan dorsal (posterior) untuk mendeskripsikan kaki. 4. Proksimal dan distal menunjukkan jarak relatif dari pangkal ekstremitas, misalnya lengan atas terletak di proksimal lengan bawah dan tangan terletak distal lengan bawah. 5. Superfisial dan profunda menyatakan jarak relatif struktur terhadap permukaan tubuh 6. Superior serta interior menyatakan posisi relatif tinggi atau rendah terhadap ujung atas dan bawah tubuh. 7. Eksterna dan interna menyatakan jarak relatif struktur dari pusat organ atau rongga,misalnya anteria carotis interna terletak didalam rongga tengkorak dan arteria carotis externa terletak diluar rongga. 8. Ipsilateral menunjukan sisi tubuh yang sama, misalnya tangan kiri dan kaki kiri 9. kontralateral menunjukan sisi tubuh yang berlawanan, misalnya musculus rectus femoris dextra dengan musculus biceps brachii sinistra Untuk istilah lebih ringkas dan beberapa istilah lainnya adalah di bawah ini ; Superior (cranial) : Inferior (caudal) : Anterior (ventral) : Posterior (dorsal) : Medial Lateral Proximal Distal Superfisial Deep Peripheral Plantar Palmar : : : : : : : : : ke arah kepala ke arah kaki/ekor ke arah depan tubuh ke arah belakang tubuh ke arah mendekati garis tengah tubuh ke arah menjauhi garis tengah tubuh ke arah mendekati tubuh ke arah menjauhi tubuh mendekati permukaan tubuh menjauh dari permukaan tubuh menjauh dari sumbu pusat tubuh telapak kaki telapak tangan

Seluruh deskripsi tubuh manusia didasarkan pada

anggapan bahwa orang berdiri

tegak,ektremitas superior berada disamping tubuh,dan wajah an telapak tangan menghadap ke depan. Inilah yang disebut sebagai posisi anatomi. Berbagai bagian tubuh digambarkan dengan bidang-bidang imajiner tertentu 1. midsagital : addalah bidang vertical yang melalui pertengahan tubuh, daan membagi tubuh menjadi dua bagian kanan dan kiri yang sama. 2. 3. Paramedian Medial : adalah bidang yang terlerletak di samping dan sejajar bidang midsagital : adalah struktur yang letaknya lebih dekat dengan midsagital disbanding

dengan struktur lainnya. 4. 5. 6. Lateral : adalah kebalikan dari medial, struktur ini letaknya lebih jauh dari midsagital

frontal (coronal): adalah bidang vertikal yang tegak lurus dengan bidang midsagital. Horisontal dan transversal dan koronal : adalah bidang yang tegak lurus dengan bidang midsagital

2.

Diskripsikan gambar otot secara makroskopis dan mikroskopis.

2.a. Sarcolema Membran sel serabut otot, akan tetapi sarcolema terdiri atas membrane sel yang asli, dinamakan membrane plasma dan satu lapisan tipis polisakarida yang sama dengan lapisan membrane basalis di sekitar kapiler-kapiler darah; fibril kolagen yang tipis juga terdapat pada lapisan luar sarcolema. Pada ujung-ujung serabut otot, lapisan permukaan sarcolema ini bersatu dengan serabut-serabut tendo, yang selanjutnya terkumpul dalam berkas yang membentuk tendo otot dan kemudian melekat pada tulang. 2.b. Myofibril; filament aktin dan myosin Tiap-tiap serabut otot mengandung beratus-ratus dan beberapa ribu myofibril. Tiap-tiap miofibril selanjutnya terletak berdampingan, sekitar 1500 filament myosin yang merupakan filament tebal, dan 3000 filamen aktin yang merupakan filament tipis adalah aktin yang

merupakan molekul protein polimer besar yang bertanggung jawab untuk kontraksi otot.. Filament aktin dan myosin sebagian saling bertautan dan menyebabkan myofibril secara bergantian mempunyai tingkat terang dan gelap. Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari miofibril.Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni : 1) miofilamen homogen (terdapat pada otot polos) 2) miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot rangka/otot lurik). Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin (aktin dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi (memendek)maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika otot kita melakukan relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja. 2.c. Sarcoplasma Myofibril dalam selaput otot terpendam dalam matriks yang dinamakan sarcoplasma, yang terdiri dari unsur-unsur umum intrasel. Cairan sarcoplasma mengandung kalium, magnesium, fosfat, enzim protein dalam jumlah besar. Juga terdapat mitokondria dalam jumlah banyak yang terletak antara dan sejajar dengan miofibril, suatu keadaan yang menunjukan kebutuhan besar miofibril yang kontraktil akan ATP yang banyak sekali dibentuk oleh mitokondria 2.d. Retikulum sarkoplasma Dalam sarkoplasma juga terdapat banyak retikulum endoplasma yang dalam serabut otot dinamakan retikulum sarkoplasma. Retikulum ini mempunyai susunan khusus yang sangat penting dalam pengawasan kontraksi otot. Jenis otot yang mempunyai kontraksi lebih cepat
4

mempunyai retikulum sarkoplasma yang banyak, menunjukan bahwa struktur ini penting dalam menyebabkan kontraksi otot yang cepat.

3.

Identifikasi perbedaan jenis otot manusia Identifikasi jenis dan perbedaan otot Menurut jenisnya, ada 3 macam otot, yaitu:

3.a. Otot lurik Nama lain Struktur : otot rangka, otot serat lintang (musculus striated) :

Berserabut panjang Bentuknya silindris, memanjang atau seperti tabung ada garis-garis melintang yang tersusun seperti daerah gelap dan terang secara berselang-seling (lurik). Mempunyai banyak inti sel yang terletak di pinggir Letaknya di pinggir, panjangnya 2,5 cm dengan diameter 50 mikron. Dibedakan menjadi 3; otot rangka, otot kulit dan otot lingkar Ujung otot yang melekat pada rangka disebut tendon. Tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi disebut insersia. Tendon yang melekat pada tulang yang tetap dalam posisinya disebut origo

Kontraksi

Bila otot lurik berkontraksi, maka menjadi pendek dan setiap rambut turut berkontraksi. Kerja otot lurik bersifat sadar, menurut kehendak kita (dibawah kendali system saraf pusat), reaksi kerja otot lurik terhadap rangsang cepat, kuat, mudah lelah, dan tidak beraturan. Contoh : otot paha, otot betis, otot dada,dll.

3.b. Otot polos Nama lain Struktur : otot alat-alat dalam, visceral, musculus nonstriated :

Serabut panjang seperti kumparan, dengan ujung runcing, Bentuknya gelondong, kedua ujungnya meruncing dan dibagian tengahnya

menggelembung. Mempunyai satu inti sel. Terletak di tengah Tidak memiliki garis-garis melintang (polos). Bergerak secara teratur dan tidak cepat lelah Teradapat pada alat-alat dinding tubuh dalam, misalnya: dinding usus, dinding pembuluh darah. Kontraksi :

Saat berkontraksi, maka bagian tengahnya membesar dan otot menjadi pendek, bekerja diluar kesadaran atau diluar kendali sistem saraf pusat, gerakan lambat, ritmis, dan tidak mudah lelah. Contoh : otot usus, otot saluran pembuluh darah, otot saluran kemih, dll.

3.b. Otot jantung Nama lain Struktur : Myocardium atau musculus cardiata :

Bentuk serabutnya memanjang, silindris, bercabang


6

Berwarna merah khas, tampak ada garis terang dan gelap Memiliki satu inti sel yang terletak di tengah Terdapat percabangan sel :

Kontraksi

Tidak bisa dikendalikan oleh kemauan kita, Gerakan lambat, ritmis, dan tidak mudah lelah, kontraksi tidak dipengaruhi saraf oleh karena itu disebut otot tak sadar.

4.

Perbedaan jenis otot manusia Otot pada manusia merupakan anggota sistem gerak aktif. Otot hampir terdapat di seluruh bagian tubuh manusia. Otot merupakan komponen pada pergerakan internal pada vertebrata. Otot pada manusia dibedakan menjadi tiga macam, yaitu otot rangka, otot polos dan otot jantung.

4.a. Otot Rangka Otot Rangka= Otot Sadar = Otot Lurik = Otot Seran Lintang 1. Bentuk: banyak serabut, intinya terletak di tepi (pinggir) Terdapat garis gelap dan terang (sangat jelas),panjang otot rangka bervariasi antara 140 mm, sedangkan tebalnya antara 10-100 mikron; setiap serabut otot rangka dilapisi oleh sarkolema (di dalam sarkolema terdapat miofibril = elemen yang dapat berkontraksi), serabut otot yang masing-masing dilapisi sarkolema berkelompok membentuk 15-30 serabut otot dan dilapisi fasiculus. Masing-masing fasikulus dilapisi oleh jaringan ikat perimisium. Jaringan ikat yang meliputi serabut otot rangka disebut endomisium. Masing-masing endomisium dilapisi lagi oleh epimisium. Dalam otot rangka terdapat mioglobin (pigmen pada otot) 2. Lokasi: semua otot yang melekat pada tulang, otot lidah,langit-langi t(palatinum), pharing, ujung esophagus 3. Innervasi: sistem syaraf kraniospinal bekerja menurut kehendak individu
7

4. Aksi: kontraksi cepat, berlangsung sebentar 4.b. Otot Jantung 1) Bentuk: tdd beberapa serabut otot yg bercabang & bersatu dg serabut di sebelahnya anastomosoma atau sinsitium; mempunyai garis gelap dan terang (tdk sejelas pd otot rangka); intinya di tengah (center); pd interval tertentu terdapat keping-keping interkalar (intercalar disc), pd intercalar disc terdapat jaringan Purkinye yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls (kecepatan 4 m/detik) 2) Lokasi: hanya ada di jantung 3) Innervasi: sistem syaraf otonom 4) Aksi: kontraksi otomatis & ritmis 4.c. Otot Polos Sitoplasmanya terdapat sarkoplasma yang mengandung miofibril (elemen yang mampu berkontraksi sehingga dpt bergerak). Panjang otot polos bervariasi antara 15-500 mikron, tergantung lokasi: lokasi paling pendek terdapat di pembuluh darah sedangkan lokasi paling panjang terdapat di uterus (rahim wanita/betina) 1) Bentuk: seperti gelendong, panjang, ramping, pipih dan langsing setiap otot memiliki 1 inti (nukleus) di tengah (center) 2) Lokasi: terdapat pada alat atau daerah organ yang berongga saluran pencernaan makanan (batang kerongkongan, esophagus, lambung, usus halus, usus kasar); batang tenggorokan, bronkus, pulmo, uterus (rahim), kantung urine, kantung empedu, pembuluh darah 3) Innervasi (Persyarafan): sangat dipengaruhi oleh sistem syaraf otonom (bisa simpatis, bisa parasimpatis) 4) Untuk otot polos peningkatan kerja otot polos seperti gerak peristaltik dilakukan oleh syaraf parasimpatis, sedangkan penghambatan kerja otot polos dilakukan oleh syaraf simpatis 5) Aksi: kontraksi lambat, berlangsung lama, kadang-kadang ritmis

Otot rangka

Otot polos

Otot jantung
8

5.

Gambarkan bagaimana proses dikeluarkannya neurotransmiter tersebut hingga dapat menstimulus terjadinya kontraksi otot. Neurotransmitter merupakan zat kimia yang dapat menanggapi impuls elektrik pada neuron dan

dapat mentransmisikan impuls ke neuron berikutnya. Contoh neurotransmitter adalah asetikolin, dopamin, noradrenalin, dan serotonin. Asetilkolin terdapat si seluruh sistem saraf simpatetik. Dopamin dan serotonin terdapat di otak. Mekanisme : Jika implus tiba di tombol sinapsis, maka terjadi peningkatan permeabilitas membran prasinapsis terhadap ion Ca. Akibatnya, ion Ca masuk dan gelembung sinapsis melebur dengan membran pra-sinapsis sambil melepas neurotransmitter ke celah sinapsis. Neurotransmitter membawa impuls ke membran post sinapsis. Setelah menyampaikan impuls, kemudian neurotransmitter dihidrolisis oleh enzim yang dikeluarkan membran post sinapsis, misalnya enzim asetilkolinesterase. Jika neurotransmitternya berupa asetilkolin, maka akan dihidrolisis menjadi kolin dan asam etanoat. Kolin dan asam etanoat ini kemudian disimpan di gelembung sinapsis untuk di pergunakan lagi. Neurotransmitter adalah suatu zat kimia yang dilepaskan oleh bagian presinaps ke bagian post sinaps untuk menghantarkan impuls dari satu neuron (sel saraf) ke neuron yang lain. Ketika impuls mencapai bagian sinapsis, maka gerbang kalsium akan terbuka dan ion ion kalsium akan masuk ke dalam presinapsis. Ion kalsium ini akan merangsang vesikel di dalam presinaps untuk mengeluarkan neurotransmitter secara eksositosis. Setelah keluar, neurotransmitter akan menuju ke bagian postsinaps dan akan menempel pada reseptornya sehingga gerbang ion akan terbuka di bagian post sinaps. Dengan terbukanya gerbang ion tersebut, maka ion yang ada diluar serabut saraf akan masuk sehingga terjadilah impuls pada serabut saraf selanjutnya. Ada beberapa neurotransmitter yang telah dikenal dan diidentifikasi hingga saat ini, yaitu antara lain 1. Asetilkolin Merupakan neurotransmitter yang dilepaskan oleh saraf saraf parasimpatis dan juga saraf saraf preganglionik. 2. Norepinefrin

Merupakan neurotransmitter yang hanya dikeluarkan oleh saraf saraf simpatis. Selain itu norepinefrin juga dihasilkan sebagai hormone pada kelenjar adrenal. 3. Serotonin Merupakan neurotransmitter pada bagian otak yang fungsinya sebagai penghambat nafsu makan dan menimbulkan rasa tenang. 4. Dopamin Juga terdapat di dalam otak, tetapi fungsinya berlawanan dengan serotonin. Dopamin biasanya disekresi ketika kita dalam keadaan stress, depresi, khawatir, dll. 5. GABA (Gamma Amino Butiric Acid) Merupakan neurotransmitter inhibitor, artinya akan menghalangi penghantaran impuls di serabut saraf. GABA akan membuka gerbang ion chlorine yang bermuatan negative sehingga serabut saraf akan bermuatan sangat negative. Dengan begitu impuls sulit untuk dihantarkan melalui serabut saraf. 6. Bagaimana proses terjadinya kontraksi otot Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat kita kaji lebih dalam misalnya dengan mempelajari otot gastroknemus pada katak. Otot gastroknemus katakbanyak digunakan dalam

percobaan fisiologi hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi olehtendon tumit yang tampak jelas (tendon Achillus) pada permukaan kaki. Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamenaktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilansarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.

10

Mekanisme Kontraksi Otot (Sumber : www.colorado.edu) Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitasmiofibril. 2. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang). 3. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. 4. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi. 5. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.

11

Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial.

Kontraksi Otot Gastrocnemius (sumber : ADeducation) Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat kita kaji lebih dalam misalnya dengan mempelajari otot gastroknemus pada katak. Otot gastroknemus katak banyak digunakan dalam percobaan fisiologi hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit yang tampak jelas (tendon Achillus) pada permukaan kaki. Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamenfilamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin. Mekanisme Kontraksi Otot Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu

serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril. 2. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan

berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).
12

3. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. 4. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan

tegangan kontraksi. 5. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak

lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan. Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial. Otot bekerja dengan kontraksi dan relaksasi. Pada otot lurik terdapat aktin dan miosin yang mempunyai daya berkerut membentuk aktomiosin. Bila aktin mendekat ke miosin makan otot akan berkontraksi, sebaliknya bila aktin menjauhi miosin makan otot akan relaksasi. Energi untuk kontraksi otot berasal dari penguraian molekul ATP, yaitu sebagai berikut : ATP ADP + P + energi ADP AMP + P + energi Kreatinfosfat adalah sumber energi cadangan yang dapat melepaskan P untuk disintesakan dengan ATP sehingga membentuk glikogen. Glikogen adalah gula otot yang merupakan zat makanan cadangan (polisakarida) yang tidak larut dalam air.

7.

Jelaskan kejadian molekuler pada kontraksi otot.

Kejadian-kejadian molekuler selama kontraksi Fragmen-fragmen meromiosin berat dapat berikatan dengan salah satu ujungnya pada tempat tertentu pada filament aktin yang terdapat setiap 36 nm. Hal ini adalah sama betul dengan preodisitas
13

aktin, dan sekarang diyakini bahwa setiap kepala myosin selama kontraksi arahnya miring berkontak dengan filament aktin terdekat. Selama kontraksi, filament aktin bergeser lebih jauh dari pada jarak antara 2 kepala myosin yang berturutan. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut : setelah terikat pada suatu tempat perlekatan pada filament aktin, setiap kepala myosin mengangguk ke arah garis M, sehingga filament aktin tertarik pada jarak tertentu ke arah garis M. Segera sesudah itu, kepala myosin dilepaskan dari tempat perlekatan dan kembali ke posisi semula tegak lurus tehadap fragmen meromiosin yang berbentuk batang. Pada posisi ini kepala myosin berhubungan dengan tempat perlekatan berikutnya yang terletak sepanjang filament aktin, tidak jauh dari tempat tersebut, setelah itu kepala myosin kembali mengangguk ke arah garis M dan seterusnya. Dengan demikian filament aktin tertarik selangkah demi selangkah ke arah garis M. Anggukan-anggukan kepala myosin disebabkan oleh suatu perubahan kekuatan pengikatan antara kepala dan bagian batang molekul meromiosin akibat pengikatan pada filament aktin. ATPase yang terdapat pada kepala myosin akan memecah ATP sehingga tersedia energi yang digunakan untuk kontraksi. Sebelum kontraksi otot, suatu potensial aksi merambat sepanjang sarkolema dan dari sini diteruskan ke bagian dalam serat melalui tubulus T . Potensial aksi dari tubulus-tubulus T menyebabkan perubahan pada potensial membran dalam sisterna terminal reticulum sarkoplasma dan ini menyebabkan pelepasan pada ion-ion Ca dari reticulum ke dalam sarkoplasma seklilingnya (dalam keadaan istirahat sebagian besar Ca dalam serat terpusat pada sisterna terminal reticulum sarkoplasma). Ion-ion Ca ini berikatan pada troponin (troponin C) yang mempunyai afinitas sangat kuat terhadap ion-ion Ca ini. Selama keadaan istirahat, kompleks troponin (toponin I)tropomiosin menghambat tempat perlekatan pada filament aktin untuk kepala-kepala myosin, mungkin secara fisik menutupi kepala-kepala myosin tersebut. Melalui pengikatan ion-ion Ca pada molekul troponin, molekul ini diperkirakan berubah bentuk. Dengan demikian hambatan tempat perlekatan pada filament aktin oleh kompleks troponintropomiosin ditiadakan. Kapala-kepala myosin kemudian dengan segera secara fisik berhubungan dengan tempat-tempat perlekatan aktin dimana mencetuskan pergeseran filament-filamen. Kontraksi ini berlangsung terus selama ion-ion Ca dalam sarkoplasma konsentrasinya masih cukup tinggi. Akan tetapi dengan memakai pompa Ca aktif di dekat membrane reticulum sarkoplasma ion-ion Ca terus menerus dan secara aktif dipompakan ke dalam sisterna longitudinal reticulum berlangsung kira-kira 20 mili detik, kemudian konsentrasi Ca dalam sarkoplasma menurun sampai tingkat paling rendah
14

(kurang dari 10 M) yang terdapat selama keadaan istirahat. Dengan demikian pengikatan ion-ion Ca pada troponin terhenti, dan kompleks troponin-tropomiosin kembali menghambat tempat-tempat perlekatan pada filament aktin, jadi serat ini dipertahankan dalam keadaan istirahat. Kebutuhan energi untuk transfort aktif ion-ion Ca ke dalam reticulum sarkoplasma tersedia dari pemecahan ATP, dan karena itu kontraksi dan relaksasi keduanya membutuhkan ATP. Rangkaian perangsangan/ kontraksi melalui system tubulus T menerangkan mengapa semua myofibril pada serat otot diaktivasi secara serentak dan hampir bersamaan dengan merambatnya potensial aksi pada sarkolema. 8. Sumber dan metabolisme energi ATP (Adenosin Tri Fosfat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP

ATP ADP + P

Aktin + Miosin
ATPase

Aktomiosin

Kontraksi otot memerlukan suplai energi yang banyak (ATP). Ketika ATP dikonsumsi oleh otot yang berkontraksi, dia diganti dengan tiga cara:

Metabolisme aerobik: dengan keberadaan oksigen, bahan bakar seperti glikogen, glukosa dan lemak dapat dihancurkan untuk membentuk energi. Glikogen laktasidogen Laktasidogen glukosa + asam laktat Glukosa + O2 CO2 + H2O + Energi

Metabolisme dari kreatinin fosfat: kreatinin fosfat mengandung energi yang dapat digunakan tubuh untuk mengganti ATP secara cepat selama kontraksi otot. Sebagai bentuk penyimpanan energi, kreatinin fosfat memastikan bahwa otot rangka dapat bekerja untuk waktu yang lama

Kreatin

Fosfokreatin + ADP
fosfokinase

Kreatin + ATP

15

Metabolisme anaerobik: tubuh dapat juga memetabolisme bahan bakar tanpa adanya oksigen. Meskipun demikian, bila oksigen tidak ada, penghancuran bahan bakar secara penuh tidak mungkin terjadi, dan asam laktat akan terbentuk. Akumulasi dari asam laktat mungkin bertanggung jawab terhadap nyeri pada otot yang berhubungan dengan kerja keras. Otot yang berkontraksi dalam waktu yang lama dapat mengalami kelelahan. Hal ini disebabkan menurunnya ATP dan fosfokreatin, sedangkan ADP, AMP, dan asam laktat naik konsentrasinya.

Jika di dalam otot banyak terdapat timbunan asam laktat yang menyebabkan kelelahan, maka akan di oksidasi dengan oksigen. Jika oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi asam laktat terlalu banyak akan menyebabkan nafas terengah-engah (Marieb & Mallat 2001 : Marieb 2004)

9.

Gambarkan vaskularisasi pada otot

Vaskularisasi adalah saluran atau pembuluh yang terdapat di pembuluh darah, jadi vaskularisasi adalah pembuluh di dalam otot. Salah satu vaskularisasi otot terdapat pada otot-otot wajah, dan pembuluh-pembuluhnya sebagai berikut: Arteri utama: arteri temporalis superfisialis dan arteri maksilaris
16

Arteri maksilaris : Arteri ini mempunyai distribusi yang luas pada region wajah dan keluar sebagai salah sebuah cabang terminal a.carotis externa dalam substansi glandula parotydea. Dari origo ini, arteri menembus selubung fascia dari kompartemen parotidea, berjalan ke depan jauh ke dalam collum mandibulae dan berhubungan dengan tepi bawah m.pterygoideus lateralis. Arteri kemudian berjalan balik ke dalam maupun ke permukaan supericialis caput inferior m. pterygoideus lateralis. Bila arteri masuk jauh ke dalam otot, arteri akan muncul kembali di antara kedua caput di dekat daerah origonya. Arteri berlanjut pada permukaan lateral (luar) lamina lateralis proc.pterygoidei, masuk ke fossa pterygopalatina dan mengeluarkan cabang terminalnya.

Arteri alveolaris inferior Vena temporalis superfisialis Plexus maxillary Plexus pterygoideus

10.

Identifikasi Sistem skeletal/ rangka manusia

17

Axial Skelet: 1. Skull 2. Sternum 3. Ribs 4. Vertebrae 5. Sacrumon Axial Skeleton: 1. Skull - Os Occipitale - Os Parietale - Os Temporale - Os Frontale - Os Sphenoid - Os Ethmoid - Os Maxilla - Os Palatine - Os Nasal - Vomer - Concha nasal inferior - Os Zygomatic

Appendicular Skeleton: 1. Scapula & Collarbone 2. Upper limb bones 3. Hip 4. Lower limb bones

Cranium

Face

18

- Os Lacrimal - Mandibula - Ossicles auditori & Os Hyoid 2. Os Sternum - Manubrium sterni - Louis angle - Corpus Sterni - Processus Xyphoideus 3. Ribs/Costae - Costae vera - Costae spuriae affixae - Costae spuriae fluctuantes 4. Vertebrae - Cervical - Torakal - Lumbal 5. Sacrum Appendicular Skeleton: 1. Scapula & Collarbone 2. Upper limb: Os Scapula Os Clavicula Os Humerus Os Radius Os Ulna Os Carpals Ossa Metacarpals Ossa Phalanges 3. Hip

19

4. Lower limb bones: Os coxae (Os Ilium, Os Ischium, Os Pubis) Os Femur Os Patella Os Tibia Os Fibula Os Tarsals Ossa Metatarsals Ossa phalanges

11.

Jelaskan struktur dan fungsi tulang secara makro dan mikroskopis.

Gambar di atas adalah gambar tulang panjang. Tulang panjang bentuknya silindris dan berukuran panajng seperti batang (diafisis) berbentuk bulat (epifisis) tersusun atas tulang kanselus. Cotoh tulang panjang: femur, hamerus. a. Tulang diafisis memiliki lapisan luar berupa kompakta yang mengelilingi sebuah rongga tengah yang disebut kanal medula yang mengandung sumsum kuning. Sumsum tersebut terdiri atas lemak dan pembuluh darah, tetapi suplai darah/eritrositnya tidak begitu banyak.
20

b. Tulang epifisis terdiri dari tulang spongiosa yang mengandung sumsum darah merah yang isinya sama seperti sumsum kuning yang dibungkus oleh selaput tipis tulang kompakta. c. Bagian luar tulang panjang dilapisi jaringan fibrosa kuat yang disebut periosteum. Lapisan ini kaya dengan pembuluh darah yang menembus tulang. Ada tiga kelompok pembuluh darah yang mensuplai tulang panjang: 1. Sejumlah arteri kecil menembus tulang kolakta untuk menyuplai kanal dan sistem Havers. 2. Banyak arteri lebih besar menembus tulang kompakta untuk menyuplai tulang spongiosa dan sumsum merah. 3. Satu atau dua arteri besar menyuplai kanal medulla. Arteri ini dikenal sebagai arteri nutrien yang kemudian masuk melalui lubang besar pada tulang yang disebut foramen nutrien. Periosteum memberi nutrisi tulang dibawahnya melalui pembuluh-pembuluh darah. Jika periosteum robek, maka tulang dibawahnya akan mati. Periosteum berperan untuk pertambahan ketebalan tulang melalui kerja osteoblas. Periosteum berfungsi sebagai protektif dan merupakan tempat perlekatan tendon. Periosteum tidak ditemukan pada sendi. Pada sendi periosteum digantikan oleh tulang rawan hialin (tulang rawan sendi). Secara umum, tulang tersusun oleh jaringan kompakta (kortikal) dan kanselus (trabekular/spongiosa). Tulang kompakta secara makroskopis terlihat padat. Akan tetapi, jika diperiksa dengan mikroskop terdiri dari Kanal Havers. Sebuah Kanal Havers mengandung pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe, lamela (lempengan tulang yang mengelilingi kanal sentral), lacuna (ruang diantara lamella yang mengandung sel-sel tulang/osteosit dan saluran limfe), dan kanalikuli (saluran kecil yang menghubungkan lacuna dan kanal sentral). Saluran ini mengandung pembuluh limfe yang kaya nutrient dan oksigen ke osteosit. Tulang kanselus juga keras seperti tulang kompakta, tetapi secara makroskopis terlihat berlubang lubang (spons). Jika dilihat dengan mikroskop kanal Havers, tulang kanselus terlihat lebih besar dan mengandung lebih sedikit lamella. Komposisi tulang Tulang terdiri dari 2 bahan: a. Matrik yang kaya mineral (70%) = bone (tulang yang sudah matang) b. Bahan-bahan organik (30%) yang terdiri dari: 1. Sel (2%): Sel osteoblast : yang membuat matrik (bahan) tulang / sel pembentuk tulang
21

Sel Osteocyte Sel Osteoclast

: mempertahankan matrik tulang : yang menyerap osteoid (95%) (resorbsi) bahan tulang (matrik) / sel

yang menyerap tulang 2. Osteoid (98%) tulang muda) Secara makroskopis tulang dibedakan menjadi 2 macam yaitu: tulang spongiosa (cancellous) dan tulang kompakta (padat). Tulang spongiosa terdiri atas trabekula atau balok tulang langsing, tidak teratur, bercabang, dan saling berhubungan membentuk anyaman. Celah celah diantara anyaman itu ditempati oleh sumsum tulang, tulang kompakta tampak padat kecuali bila dilihat dibawah mikroskop kecuali pada beberapa tempat, tulang spongiosa dan kompakta terdapat dalam setiap tulang, tetapi jumlah dan penyebarannya sangat berbeda. Pada tulang panjang, bagian batang (diafisis) terutama terdiri atas tulang kompakta, yang mengelilingi rongga sumsum (atau sumsum tulang). Setiap bagian ujungnya (epifisis) terdiri atas tulang spongiosa yang dibungkus selaput fisis tulang kompakta. Selasela tulang spongiosa ini berhubungan langsung dengan rongga sumsum tulang diafisis. Pada tulang pipih, dua lempeng tulang kompakta mengapit lapisan tulang spongiosa (diploe) diantaranya. Sebagian besar tulang yang tidak teratur bentuknya terdiri atas tulang spongiosa yang dibungkus selapis tipis tulang kompakta. Setiap tulang kecuali permukaan sendi dibungkus lapisan jaringan ikat khusus, yaitu periosteum. Tapi jaringan ikat serupa yang kurang berkembang, yaitu endosteum membatasi rongga dan celah sumsum. Secara mikroskopik ciri paling utama tulang adalah susunannya yang lamelar, yaitu substansi intrasel yang mengalami perkapuran, atau matriks tulang, yang tersusun dalam lapisan-lapisan, atau lamel-lamel, dengan berbagai pola. Di dalam substansi interstitial terdapat rongga-rongga kecil atau lacuna, yang berisi sel-sel tulang (osteosit). Dari tiap lacuna memancar keluar saluran-saluran halus, disebut kanalikuli, yang menembus lamel-lamel dan berhubungan dengan kanalikuli lacuna sekitarnya. Jadi semua lacuna saling berhubungan melalui system saluran halus. : matrik (bahan) tulang yang mengandung sedikit mineral (osteoid =

22

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. Dellmann, H.D. dan E.M. Brown (1989). Buku teks Histologi Veteriner I. 3 rd Ed. Penerjem ah Jan Tambayong. Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. Genneser, F. (1994). Buku teks Histologi. Jilid I. Binapura Aksara. Jakarta. Mariano (1986). Atlas of Human Histology. 5 th Ed. Department of Anatomy, University of Alabama. Slomianka, L (2006). Blue Histology-Muscle. School of Anatomy and Human Biology-University of Western Australia Subowo. (2002). Histologi Umum. 1 st Ed. Bumi Aksara. Jakarta.

23