You are on page 1of 12

KROMATOGRAFI

I. Sejarah Kromatografi Kromatografi ialah satu teknik pengasingan bahan kimia secara fizikal yang penting. Teknik ini dapat memisahkan campuran dua atau lebih bahan kimia kepada komponen-komponen yang tulen (biasanya). Seorang botanist Rusia Mikhail Semyonovich Tsvet menemukan teknik kromatografi untuk pertama kali pada tahun 1900 melalui riset pada klorofil. Dia menggunakan suatu kolom adsorbsi-liquid column yang mengandung kalsium karbonat untuk memisahkan pigmen dari tumbuhan. Metoda ini kemudian dipubikasikan pada 30 desember 1901 di kongres ke-11 Doktor dan Naturalist (XI ) di Sain Petersburg. Tulisan deskriptif pertama dipaparkan pada tahun 1903, dalam laporan rapat Warsaw Society of Naturalists, section of biology. Dia menggunakan istilah kromatografi untuk pertama kalinya pada 1906 dalam 2 tulisan mengenai klorofil di Jurnal Botani Jerman, Berichte der Deutschen Botanischen Gesellschaft. Pada 1907 dia mendemonstrasikan kerja kromatografinya untuk German Botanical Society. Menariknya, nama panggilan Mikhails berarti warna dalam bahasa Rusia, jadi ada kemungkinan bahwa penamaan dari prosedur kromatografi (secara harfiah Menulis Warna) merupakan cara yang dia lakukan untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang rakyat biasa dari Kerajaan Rusia yang bisa menjadi abadi karena karyanya. Pada 1952 Archer John Porter Martin dan Richard Laurence Millington Synge memenangkan anugerah Nobel bidang Kimia untuk temuannya mengenai kromatografi partisi.* semenjak itu, teknologi berkembang dengan pesat. para peneliti menemukan bahwa prinsip yang dikemukakan oleh Tsvet dapat di aplikasikan pada banyak aplikasi yang berbeda. Pada 1987 Pedro Cuatrecasas dan Meir Wilchek memenangkan anugerah penghargaan Wolf dalam dunia medis

untuk temuan dan pengembangan kromatografi afinitas dan aplikasinya dalam ilmu biomedis.

II. Defenisi

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Bila fase diam berupa zat padat yang aktif, maka dikenal istilah kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fase diam berupa zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi pembagian (partition chromatography). Adapun fasa diam dan fasa gerak itu sendiri adalah: 1. Fase gerak : sistem kromatografi yang berfungsi untuk mendorong agar komponen - komponen cuplikan tidak dapat bergerak 2. Fase diam : sistem kromatografi yang berfungsi untuk mempengaruhi komponen - komponen cuplikan tetap diam pada posisinya

III. Sejarah Penemuan dan Perkembangan Alat Kromatografi

Alat Kromatografi adalah suatu alat umum yang digunakan untuk bermacammacam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu fasa gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Penemu Alat Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1930, mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang barisi kapur (CaSO4). Istilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga menggukan alat kromatografi untuk memisahkan fraksi-fraksi peroleum, namun

Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu alat dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi.

Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC). Pada tahap awal alat kromatografi cair menggunakan kolom dari gelas dengan diameter 1 sampat 5 cm dengan panjang 50 sampai 500 cm dan phase diam berdiameter 150-200 m. Laju alir sangat lambat, sehingga pemisahan sering sampai berapa jam bahkan hari. Hal ini jelas kurang menguntungkan, maka diusahakan cara-cara mempercepat pemishan. Usaha tersebut adalah dengan menggunakan pompa untuk mengalirkan fase gerak, ternyata efisiensi pemisahan menjadi turun dan hal ini dapat diatasi dengan memperkecil ukuran partikel fase diam. Sejak tahun 1960, sudah ditemukan teknologi pembutan partikel fase diam m. Dengan fase diam dengan diameter kecil sampai 10 partikel-partikelnya kecil memerlukan tekanan yang tinggi agar laju alir menjadi besar. Pada tahun 1967-1969, Kirland, Huber dan Havarth memperkenalkan prinsip serta alat kromatografi cair dengan tekanan 5000 psi (300 atm).

Kemudian pada akhir tahun 1930 an dan permulaan tahun 1940 an, kromatografi mulai berkembang. Alat kromatografi lapisan tipis (TLC) diletakkan pada tahun 1938 oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian diperhalus oleh Stahl pada tahun 1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin dan Synge pada tahun 1941 (untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak hanya mengubah dengan cepat alat kromatografi cair tetapi seperangkat umum langkah untuk pengembangan alat kromatografi gas dan alat kromatografi kertas. Pada tahun 1952 Martin dan James mempublikasikan makalah pertama mengenai alat dan metode kromatografi gas. Diantara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an alat dan metode kromatografi gas dikembangkan menjadi suatu alat dan teknik analisis yang canggih.

Alat kromatografi cair, memiliki kolom gelas berdiameter besar, pada dasarnya dibawah kondisi atmosfer. Waktu analisis lama dan segala prosedur biasanya sangat membosankan. Pada akhir tahun 1960 an, semakin banyak usaha dilakukan

untuk pengembangan alat kromatografi cair sebagai suatu alat mengimbangi kromatografi gas. Alat High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Penampilan Tinggi atau High Perfomance = Tekanan atau Kinerja Tinggi, High Speed = Kecepatan Tinggi dan Modern = moderen) telah berhasil dikembangkan dari usaha ini. Kemajuan dalam keduanya instumentasi dan pengepakan kolom terjadi dengan cepatnya sehingga sulit untuk mempertahankan suatu bentuk hasil keahlian membuat instrumentasi sehingga sulit untuk mempertahankan suatu bentuk hasil keahlian membuat instrumentasi dan pengepakan kolom dalam keadana tertentu. Tentu saja, saat ini dengan alat dan teknik yang sudah matang dan dengan cepat KCKT mencapai suatu keadaan yang sederajat dengan alat kromatografi gas. Alat untuk metode HPLC akan sangat dibutuhkan pada tahun-tahun mendatang, baik dibidang penelitian maupun untuk pekerjaan rutin. Hal ini mengingat alat tersebut sangat peka, efisien serta serba guna. Walaupun waktu yang tersedia untuk pengenalan lebih jauh terhadap alat tersebut sangat terbatas, namun untuk taraf pengenalan rasanya sudah cukup memadai. Di Indonesia, alat ini diperkenalkan pada tanggal 4-5 Juni 1979 di Lembaga Kimia Nasional di Bandung yaitu Seminar tentang alat High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang disponsori oleh PT. Sixant. Pada Seminar itu terdaftar 118 peserta, yang mewakili instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Ceramah dalam Seminar tersebut dibawakan oleh dua orang ahli dari Waters Associates Australia.

Pengembangan alat dan metode HPLC lebih lanjut adalah pengembangan kolom dengan fase terikat (bonded phase), yaitu dengan melakukan modifikasi pada permukaan partikel fase diam. Modifikasi ini menghasilkan modus baru dalam kromatografi yang dikenal dengan istilah kromatografi fase terbalik (reverse phase) dan kromatografi penukaran ion (ion exchange chromatography). Pengembangan lain adalah digunakannya gel dalam kolom yang dikenal dengan Gel Permeation Chromatography (GPC), yang berguna antara lain dalam analisis kualitas.

IV. Macam - macam kromatografi :

Bedasarkan fase gerak dan fase diamnya :

1. kromatografi cair padat 2. kromatografi gas padat 3. kromatografi cair cair 4. kromatografi gas cair

Berdasarkan alat yang digunakan :

1. kromatografi kertas 2. kromatografi lapis tipis 3. kromatografi kolom 4. kromatografi gas 5. Elektrokromatografi

Berdasarkan mekanisme pemisahan :

1. Kromatografi dengan azas adsorbsi 2. Kromatografi dengan azas penukar ion 3. Kromatografi dengan azasfiltrasi ( permiasi ) 4. Kromatografi dengan azas eksklusif 5. Kromatografi dengan azas partisi

Berdasarkan pengembangan kromatogram/daya pisah

1. Analisis frontal 2. Kromatografi pendekatan (displacement chromatography) 3. Kromatografi elusi

Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini. a. Kromatografi partisi Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi. Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang digunakan luas karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik (Gambar 12.3). Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa lapisan. Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk memberikan spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat etralrut dengan persamaan berikut. R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil).

Gambar 12.3 Diagram skematik kromatografi b. Kromatografi kertas Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan. Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asamasam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Jadi penemuan kromatografi kertas merupakan berita sangat baik bagi mereka. Kimiawan Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang pertama yang menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena

ada fenomena kapiler, partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap asam amino bergerak dari titik awal sepanjang jarak tertentu. Dari nilai R, masing-masing asam amino diidentifikasi. Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.

Gambar 12.4 Contoh hasil kromatografi kertas pigmen dari www.indigo.com/ science-supplies/filterpaper. html c. Kromatografi gas Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair). Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.

Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di permukaan alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular, digunakan sebagai fasa diam dan diisikan ke dalam kolom. Campuran senyawa yang mudah menguap dicampur dengan gas pembawa disuntikkan ke dalam kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil) dan fasa cair (diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam akan keluar lebih dahulu. Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini. Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau preparatif. d. HPLC Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organik skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid chromatography) secara ekstensif digunakan. Bi la zat melarut dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar. Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas. Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m.

Kromatografi penukar ion menggunakan bahan penukar ion sebagai fasa diam dan telah berhasil digunakan untuk analisis kation, anion dan ion organik. e. Kromatografi Lapis Tipis

Merupakan kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan kromatografi. KLT sering digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon.

f. Kromatografi Penukar Ion

Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya, system ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemuan resin sintetik dengan sifat penukar ion sebelum perang Dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah jarang dan asam amino.

Teknik ini mengkombinasikan kekuatan pemisahan dari penukar ion dengan keuniversalan detector daya hantar. Dalam keadaan kromatografi penukar ion biasa, detector daya hantar terbatas dalam penggunaannya, karena tingginya daya hantar dari pereaksi pengelusi.

g. Kromatografi Ekslusi

Kromatografi eksklusi sterik adalah salah satu jenils kromatografi dimana fasa diamnya berupa penyaring molekul, penyaring molekul ini dapat berupa polimer karbilhildrat dan akrilamida yang memlpunyai struktur rantai hubung silang dalam rantai polimernya

h. Kromatografi Penyaringan Gel

Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstranmolekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer.

i. Kromatografi Elektroforesis

Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan.

Metoda elektroforesis merupakan metoda pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan muatan dan massa melekul relative dari komponen-komponennya. Pemisahan terjadi karena perbedaan laju migrasi komponen-komponen bermuatan oleh pengaruh medan listrik

V. Keuntungan dari kromatografi: 1. Metode pemisahan yang cepat dan mudah 2. Hanya membutuhkan campuran yang sedikit sekali 3. Dalam pengerjaanya dapat diulang - ulang 4. Metode pemisahan yang berbeda dengan metode pemisahan lainnya 5. Pemakaian cuplikan/sample sangat hemat 6. Pemakaian peralatannya sederhana

SEJARAH KROMATOGRAFI (Tugas Dasar-Dasar Pemisahan Analitik)

Oleh I Gusti Made Astawa Komang Ida Ayuningsih Septiana Dewi Susanti Nanik Susanti P. S. 0913023043 0913023012 0913023105 0913023052

PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011