Вы находитесь на странице: 1из 7

Mengejar Haji Mabrur

YA ALLAH... JADI KANLAH HAJI KAMI... HAJI YANG MABRUR


Haji yang mabrur tidak ada ba!asan kecuali Sorga

(H.R. Ahmad)
Kaum muslimin yang telah melaksanakan rangkaian Ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah terus berdatangan. Mereka kembali ke tanah air menuju kampung halaman masing-masing. Pelukan erat dan haru mewarnai penyambutan mereka. Layaknya menyambut kedatangan seseorang yang baru kembali dari medan peperangan membawa kemenangan. Kesempatan berhaji adalah peluang untuk menyelenggarakan perbaikan diri (Tajdidunnafsi).

Sehingga seluruh jiwa pada dimensi fisis maupun

psikologis dan spritual (nurani) mengalami pencucian


total (Tathirunnafsi). Melalui ini terjadi pencerahan diri (Tanwirunnafsi), yang menyingkap tirai kalbu, menembus kegelapan, kemudian mempersiapkan diri untuk disinari oleh cahaya al haq yang terpancar dari

nur Ilahi, yang memancar dan merambat pada empat


1 H. Masoed Abidin

Melakukan Tajdidun Nafsi dan Thathirun Nafsi


tatanan : 1. Intelektual (subyektifitas berfikir), 2. spritual
(kejernihan

jiwa,

kebersihan

hati,

keikhlasan dan al

ihsan serta kepekaan rohani

terhadap atmosfir Rububyyah dan Uluhiyyah),

3. Mental (kesabaran, keseimbangan, elastisitas dan


rileksitas), dan

4. Moral (integritas pribadi, intensitas sosial,


dedikasi jama kemanusiaan). ah dan

kesantunan

Di hadapan mata para pelaku ibadah terhampar cakrawala kemungkinan untuk mencapai kepribadian sebagai insan kamil. Mereka telah memasuki pintu gerbang ketauhidan. Penuh dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Mengantarkan menjadi Mukmin dan Muttaqin

sejati.
Banyak manfaat yang dapat dicapai para hujjaj yang telah melaksanakan ibadah haji, di antaranya ;
1. Merasakan
kepada peningkatan SWT, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah kecintaa

Rasullah SAW semakin nyata.

2 H. Masoed Abidin

Mengejar Haji Mabrur


2. Sangat
antusias memakmurkan mesjid dan

sangat mengerti manfaat di balik sholat yang dilakukan secara berjamaah.

3. Sangat arif menyikapi perbedaan yang ada.


Mereka sangat mengerti arti Ukhuwah Islamiyyah dan solidaritas kemanusiaan.

4. Sangat mahir dalam mengendalikan hawa nafsu,


menghindarkan diri dari perilaku tak bermoral, menjaga lisan dari perkataan dan ungkapan keji dan

rafats,

menjauhi

perbuatan

fasiq,

mencegah diri dari pertengkaran, maupun persengketaan permusuhan.

pertikaian

5. Sangat

cinta

beramal

sholeh,

bersedeqah,

berinfaq dan berkorban serta sangat jauh dan sifat kikir dan bakhil.

6. Sangat
rintangan, cobaan.

sabar

dalam

menghadapi maupun

suatu segala

kesulitan,

derita

7. Sangat bijak dalam menyikapi permasalahan dan


sangat bersyukur dengan nikmat Allah.

8. Sangat

pandai

dalam amal

menintrospeksi untuk wukuf

diri,

mempersiapkan disaat melakukan

menghadapi di Padang

kematian. Ini adalah pelajaran yang membekas ibadah

3 H. Masoed Abidin

Melakukan Tajdidun Nafsi dan Thathirun Nafsi


Arafah. Dengan berbalutkan kain ihram yang serba putih tak berjahit, persis satu sosok mayat yang siap diantar ke liang kubur.

9. Selalu

tenang

Muthmainnah.

Jiwa

selalu

istiqomah. Hati selalu dalam situasi dawamuz

zikri wad dua. 10.Selalu perang dengan iblis dan syaithan. Sejak
melaksanakan rangkaian ibadah jumrah, sampai akhir hayat, telah mendeklarasikan pernyataan perang terhadap syaithan.

11.Selalu senang memenuhi panggilan Allah, sejak


membaca ungkapan kalimat talbiyyah sebenarnya adalah ikrar dalam segala diri perintah untuk Allah selalu serta melaksanakan

menjauhi segala larangan-Nya.

12.Mengagungkan Asma Allah, serta menjaga diri


dan sikap, perilaku dan perbuatan yang dapat menyeret mereka ke dalam jurang kemusyrikan. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku

datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagimu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Segala puji dan kebesaran nikmat hanya milk-Mu semata. Segenap kerajaan pun milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Allah SWT menghendaki hambaNya melaksanakan 4 H. Masoed Abidin

Mengejar Haji Mabrur


ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur. Salah satu khazanah pemahaman klasik, ibadah haji itu

berlambangkan madu. Tingkat kemanfaatan sangat


beraksentasi kemanfaatan sosial (masalah jamaah dan ummah). Jadi haji mabrur adalah suatu keadaan keperibadian. Suatu situasi mental dan atmosfir sikap rohani yang berkegunaan sosial yang tinggi. Indikator kamabruran haji tercermin melalui dua
dimensi. a. Kemabruran hanya Allah yang maha mengetahui jawabannya. Karena itu mabrur adalah kemanfaatan yang dirasakan oleh orang lain, bukan gelar dan kebanggaan. b. Gejala kamabruran dan pantulannya dapat dijumpai pada social out-put yang termanifestasi kedalam realitas hidup seorang haji, yaitu

i.keimanan yang ibadah ritual


iii.perilakunya

terwujud

dalam

bentuk

ii.amal sholeh yang terbukti pada sikap dalam berinteraksi sosial.

Haji adalah tingkat seorang hamba yang paling pandai bercermin diri. Setelah pulang tidak untuk membangga-banggakan pengalamannya dengan Kabah, 5 H. Masoed Abidin

Melakukan Tajdidun Nafsi dan Thathirun Nafsi


Hajarul Aswad dan sebagainya. Karena ia bukan baru kembali dari melakukan perjalanan turistik (tour). Seorang berhaji artinya berhasil melahirkan kembali kepribadiannya yang sama sekali baru dengan kehambaannya atau abid yang sempurna. Mensyukuri, menikmati dan menaburkan manfaat ke tengah-tengah keluarga, lingkungan masyarakat, kampungnya, maupun universalitas kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda: Rumah
ini
(Kabah Baitullah) tiang Islam. Barangsiapa yang keluar dari

negerinya menuju rumah ini, baik yang melaksanakan haji atau umrah, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT. Jika ia diambil oleh Allah (meninggal dunia saat
haji atau umrah) niscaya Allah akan memasukkannya ke

dalam surga. Dan jika dikembahikannya (kembali dengan


selamat ke kampung halaman), maka ia akan kembali

dengan membawa pahala dan keuntungan yang besar


(dari Allah SWT). (H.R. Ibnu Juraij dengan sanad

Hasan). Semoga saudara kita yang telah kembali dari melaksanakan ibadah haji mendapat haji Mabrur.


6 H. Masoed Abidin

Mengejar Haji Mabrur

7 H. Masoed Abidin