You are on page 1of 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang Pengantar Industri Kimia dapat diselesaikan dengan baik. Penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah Pengantar Industri Kimia. Selain itu, makalah ini juga diharapkan dapat memberikan informasi untuk semua pihak yang membaca makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaaan, untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.

Pekanbaru, 2 Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................... DAFTAR ISI............................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...................... 1.2 Tujuan Penulisan............... 1.3 Rumusan Masalah................ BAB II ISI 2.1 Pengertian Asam Sulfat................. 2.2 Sejarah Asam Sulfat................. 2.3 Identifikasi Asam Sulfat......................
2.4 2.5 2.6 2.7

Bentuk-bentuk Asam Sulfat.................. Kegunaan Asam Sulfat................. Bahaya Asam Sulfat.................... Bahan Baku dan Alat Pembuatan Asam Sulfat............

2.8 Sifat-sifat bahan baku dan Produk Asam Sulfat................ 2.9 Proses Pembuatan Asam Sulfat.............. 2.10 Industri Asam Sulfat 2.11 Limbah Industri Asam Sulfat

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, begitu pula dengan sektor industri terutama dalam bidang kimia yang telah memotivasi kita untuk melahirkan ide-ide baru yang bermanfaat. Perkembangan industri kimia di Indonesia cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan akan bahan baku maupun bahan penunjang akan meningkat pula. Asam sulfat merupakan salah satu bahan penunjang yang sangat penting dan banyak dibutuhkan industri kimia, antara lain untuk industri pupuk (pembuatan super fosfat, ammonium sulfat), pengolahan minyak bumi, pharmasi, kertas dan pulp. Mengingat arti pentingnya asam sulfat, maka kebutuhan negara dapat dijadikan tolak ukur kemajuan industri negara tersebut. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan antara lain: diperlukan dalam bebagai reaksi kimia dan dalam beberapa proses pembuatan, proses produksi baja, memproses bijih besi, pembuatan pupuk, serta masih banyak kegunaan lainnya. Pada pembuatannya pun tergolong mudah dan tidak memerlukan biaya yang besar. Untuk itu diperlukan suatu cara agar dalam pengolahan dan pemanfaatannya bisa dimaksimalkan. Hal ini ditempuh dengan cara mengetahui secara detail proses pembuatannya, sehingga bisa memperoleh hasil yang baik sesuau dengan kebutuhan dan menembangkannya lebih lanjut guna meningkatkan hasil industri atau produksi dalam usaha meningkatkan keuntungan. 1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Industri Kimia pada jurusan Teknik Kimia Universitas Riau 2. Untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang industri asam sulfat

1.3 Batasan Masalah Mengingat begitu luasnya pembahasan mengenai asam sulfat, maka penulis memberi batasan masalah pada pembahasan ini yaitu seputar : Pengertian Asam Sulfat, Sejarah Asam Sulfat, Identifikasi Asam Sulfat, Bentuk-bentuk Asam Sulfat, Kegunaan Asam Sulfat, Bahan Baku dan Alat Pembuatan Asam Sulfat, Sifat-sifat bahan baku dan Produk Asam Sulfat, Proses Pembuatan Asam Sulfat, Industri Asam Sulfat, Limbah Industri Asam Sulfat, dan contoh penerapan asam sulfat dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II ISI

2.1 Pengertian Asam Sulfat Asam sulfat (H2SO4) merupakan cairan yang bersifat korosif, tidak berwarna, tidak berbau, sangat reaktif dan mampu melarutkan berbagai logam. Bahan kimia ini dapat larut dengan air dengan segala perbandingan, mempunyai titik lebur 10,31 oC dan titik didih pada 336,85 oC tergantung kepekatan serta pada temperatur 300 oC atau lebih terdekomposisi menghasilkan sulfur trioksida. Asam sulfat (H2SO4) dapat dibuat dari belerang (S), pyrite (FeS) dan juga beberapa sulfid logam (CuS, ZnS, NiS). Pada umumnya asam sulfat diproduksi dengan kadar 78%-100% serta bermacam-macam konsentrasi oleum.

2.2 Sejarah Asam Sulfat Ahli Kimia pada abad ke-8 Abu Musa Jabir bin Hayyan (Geber) dipercayai sebagai penemu asam sulfat. Asam ini kemudian dikaji oleh alkimiawan dan dokter Persia abad ke-9 Ar-Razi (Rhazes), yang mendapatkan zat ini dari distilasi kering mineral yang mengandung besi(II) sulfat heptahidrat, FeSO4 7H2O, dan tembaga(II) sulfat pentahidrat, CuSO4 5H2O. Ketika dipanaskan, senyawa-senyawa ini akan terurai menjadi besi(II) oksida dan tembaga(II) oksida, melepaskan air beserta sulfur trioksida yang akan bergabung menjadi larutan asam sulfat. Metode ini dipopulerkan di Eropa melalui terjemahanterjamahan buku-buku Arab dan Persia. Asam sulfat dikenal oleh alkimiawan Eropa abad pertengahan sebagai minyak vitriol. Kata vitriol berasal dari bahasa Latin vitreus yang berarti 'gelas', merujuk pada penampilan garam sulfat yang seperti gelas, disebut sebagai garam vitriol. Garam-garam ini meliputi tembaga(II) sulfat (vitriol biru), seng sulfat (vitriol putih), besi(II) sulfat (vitriol hijau), besi(III) sulfat (vitriol Mars), dan kobalt(II) sulfat (vitriol merah). Garam-garam vitriol tersebut merupakan zat yang paling penting dalam alkimia, yang digunakan untuk menemukan batu filsuf. Vitriol yang sangat murni digunakan sebagai media reaksi zat-zat lainnya. Hal ini dikarenakan

asam vitriol tidak bereaksi dengan emas. Pentingnya vitriol dalam alkimia terlihat pada moto alkimia Visita Interiora Terrae Rectificando Invenies Occultum Lapidem ('Kunjungi bagian dalam bumi dan murnikanlah, anda akan menemukan batu rahasia') yang ditemukan dalam L'Azoth des Philosophes karya alkimiawan abad ke-15 Basilius Valentinus, . Pada abad ke-17, kimiawan Jerman Belanda Johann Glauber membuat asam sulfat dengan membakar sulfur bersamaan dengan kalium nitrat, KNO3, dengan keberadaan uap. Kalium nitrat tersebut terurai dan mengoksidasi sulfur menjadi SO3, yang akan bergabung dengan air membentuk asam sulfat. Pada tahun 1736, Joshua Ward, ahli farmasi London, menggunakan metode ini untuk memulai produksi asam sulfat berskala besar. Pada tahun 1746 di Birmingham, John Roebuck mengadaptasikan metode ini ke dalam suatu bilik, yang dapat menghasilkan asam sulfat lebih banyak. Proses ini disebut sebagai proses bilik, yang mengijinkan produksi asam sulfat secara efektif. Setelah berbagai perbaikan, metode ini menjadi proses standar produksi asam sulfat selama hampir dua abad. Pada tahun 1831, saudagar asam cuka Britania Peregrine Phillips mematenkan proses kontak, yang lebih ekonomis dalam memproduksi sulfur trioksida dan asam sulfat. Sekarang, hampir semua produksi asam sulfat dunia menggunakan proses ini.

2.12 Identifikasi Asam Sulfat

Asam sulfat

Nama Sistematis Nama lain

Asam Sulfat Minyak vitriol Identifikasi

Nomor CAS Nomor RTECS

[7664-93-9] WS5600000 Sifat

Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih

H2SO4 98,078 g/mol bening tidak berwarna, cairan tak berbau 1,84 g cm3, cairan 10 C, 283 K, 50 F 290 C, 563 K, 554 F (asam murni. 98% larutan mendidih pada 338C)

Kelarutan dalam air Viskositas

tercampur penuh (eksotermik) 26,7 cP pada 20C Bahaya

Klasifikasi EU Frase-R Frase-S Titik nyala

Sangat korosif (C) Templat:R35 (S1/2), S26, S30, S45 Takternyalakan Senyawa terkait

Asam kuat terkait

Asam selenat Asam klorida Asam nitrat Hidrogen sulfida Asam sulfit Asam peroksimonosulfat Sulfur trioksida Oleum

Senyawa terkait

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku pada keadaan standar (25 C, 100 kPa)

2.13 Bentuk-bentuk Asam Sulfat

Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3 pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk disimpan, dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98% umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi asam sulfat yang digunakan untuk berbagai keperluan:

10%, asam sulfat encer untuk kegunaan laboratorium, 33,53%, asam baterai, 62,18%, asam bilik atau asam pupuk, 73,61%, asam menara atau asam glover, 97%, asam pekat.

Terdapat juga asam sulfat dalam berbagai kemurnian. Mutu teknis H2SO4 tidaklah murni dan seringkali berwarna, namun cocok untuk digunakan untuk membuat

pupuk. Mutu murni asam sulfat digunakan untuk membuat obat-obatan dan zat warna. Apabila SO3(g) dalam konsentrasi tinggi ditambahkan ke dalam asam sulfat, H2S2O7 akan terbentuk. Senyawa ini disebut sebagai asam pirosulfat, asam sulfat berasap, ataupun oleum. Konsentrasi oleum diekspresikan sebagai %SO3 (disebut %oleum) atau %H2SO4 (jumlah asam sulfat yang dihasilkan apabila H2O ditambahkan); konsentrasi yang umum adalah 40% oleum (109% H2SO4) dan 65% oleum (114,6% H2SO4). H2S2O7 murni terdapat dalam bentuk padat dengan titik leleh 36 C. Asam sulfat murni berupa cairan bening seperti minyak, dan oleh karenanya pada zaman dahulu ia dinamakan 'minyak vitriol'.

2.5 Kegunaan Asam Sulfat Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, dan sebenarnya pula, produksi asam sulfat suatu negara merupakan indikator yang baik terhadap kekuatan industri negara tersebut.[5] Kegunaan utama (60% dari total produksi di seluruh dunia) asam sulfat adalah dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan untuk membuat pupuk fosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen. Pada metode ini, batuan fosfat digunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap tahunnya. Bahan-bahan baku yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini merupakan fluorapatit, walaupun komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini kemudian diberi 93% asam suflat untuk menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen fluorida (HF), dan asam fosfat. HF dipisahan sebagai asam fluorida. Proses keseluruhannya dapat ditulis:
Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O 5 CaSO42 H2O + HF + 3 H3PO4

Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. Asam yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang regenerasi asam bekas (Spent Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar asam bekas dengan gas alam, gas kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian digunakan untuk membuat asam sulfat yang "baru". Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya diproduksi sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi besi dan baja. Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu bara dengan asam sulfat bekas mengijinkan amonia dikristalkan keluar sebagai garam (sering kali berwarna coklat karena kontaminasi besi) dan dijual kepada industri agrokimia.

Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit dengan asam sulfat:
Al2O3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 3 H2O

Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh, asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan isooktana. Di bidang industri, asam sulfat merupakan produk kimia yang paling banyak dipakai, sehingga memperoleh julukan the lifeblood of industry. Asam sulfat penting sekali terutama dalam produksi: Pupuk Kilang minyak Serabut buatan Bahan kimia industri Plastik Pharmasi Baterai Bahan ledak Semikonduktor Kertas dan pulp Karet sintetis dan alami Cat dan pigmen

2.6 Bahaya Asam Sulfat 2.6.1 Bahaya laboratorium


Tetesan 98% asam sulfat akan dengan segera membakar kertas tisu menjadi karbon

Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar akibat asam kuat lainnya, hal ini dikarenakan adanya tambahan kerusakan jaringan dikarenakan dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat dengan air. Bahaya akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sulfat. Namun, bahkan asam sulfat encer (sekitar 1 M, 10%) akan dapat

mendehidrasi kertas apabila tetesan asam sulfat tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi label "CORROSIVE" (korosif), manakala larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih kecil dari 1,5 M diberi label "IRRITANT" (iritan). Asam sulfat berasap (oleum) tidaklah dianjurkan untuk digunakan dalam sekolah oleh karena bahaya keselamatannya yang sangat tinggi. Perawatan pertama yang standar dalam menangani tumpahnya asam sulfat ke kulit adalah dengan membilas kulit tersebut dengan air sebanyak-banyaknya. Pembilasan dilanjutkan selama 10 sampai 15 menit untuk mendinginkan jaringan disekitar luka bakar asam dan untuk menghindari kerusakan sekunder. Pakaian yang terkontaminasi oleh asam sulfat harulah dilepaskan dengan segera dan segera bilas kulit yang berkontak dengan pakaian tersebut. Pembuatan asam sulfat encer juga berbahaya oleh karena pelepasan panas selama proses pengenceran. Asam sulfat pekat haruslah selalu ditambahkan ke air, dan bukannya sebaliknya. Penambahan air ke asam sulfat pekat dapat menyebabkan tersebarnya aerosol asam sulfat dan bahkan dapat menyebabkan ledakan. Pembuatan larutan lebih dari 6 M (35%) adalah yang paling berbahaya, karena panas yang dihasilkan cukup panas untuk mendidihkan asam encer tersebut.

2.6.2 Bahaya industri


Walaupun asam sulfat tidak mudah terbakar, kontak dengan logam dalam kasus tumpahan asam dapat menyebabkan pelepasan gas hidrogen. Penyebaran aerosol asam dan gas sulfur dioksida menambah bahaya kebakaran yang melibatkan asam sulfat. Asam sulfat dianggap tidak beracun selain bahaya korosifnya. Resiko utama asam sulfat adalah kontak dengan kulit yang menyebabkan luka bakar dan penghirupan aerosol asap. Paparan dengan aerosol asam pada konsentrasi tinggi akan menyebabkan iritasi mata, saluran pernafasan, dan membran mukosa yang parah. Iritasi akan mereda dengan cepat setelah paparan, walaupun terdapat risiko edema paru apabila kerusakan jaringan lebih parah. Pada konsentrasi rendah, simtomsimtom akibat paparan kronis aerosol asam sulfat yang paling umumnya dilaporkan adalah pengikisan gigi. Indikasi kerusakan kronis saluran pernafasan masih belum jelas. Di Amerika Serikat, batasan paparan yang diperbolehkan ditetapkan sebagai 1 mg/m. Terdapat pula laporan bahwa penelanan asam sulfat menyebabkan defisiensi vitamin B12 dengan degenarasi gabungan subakut.

2.7 Bahan Baku dan Alat Pembuatan Asam Sulfat Pembuatan asam sulfat memerlukan bahan-bahan sebagai berikut : SO3

SO2 O2 NO. NO2 Pt. V2O5. Fe2O3 (sebagai katalis) Unsur yang utama dalam pembuatan asam sulfat adalah unsur belerang. Di dalam belerang terdapat bentuk unsur yang bebas yang dapat dijumpai di sekitar kawah gunung berapi. Selain itu belerang senyawa logam dalam bijih logam, pirit, kalkupirit, galena, dan terdapat dalam bentuk sulfat seperti gipsum atau gips, garam epsam dan barit. Sedangkan alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan asam sulfat yaitu : Reaktor yang dindingnya dilapisi timbal. Terdiri dari kamar timbal, menara glover, dan menara gaylussac (proses kamar timbal). Reaktor packing (proses kontak).

2.8 Sifat-sifat bahan baku dan Produk Asam Sulfat 2.8.1 Bahan Baku a. Sulfur Tabel Sifat Fisika Sulfur Titik didih Entalpi penguapan, j/g Densitas pada 140C Viskositas pada 120C Panas laten penguapan 200C 444,6C 278 (400C) 1,7865 g/ml (cair) 0,0017 Pa.s 308,6 J/g

Sifat-sifat kimia sulfur : 1. Dengan udara membentuk sulfur dioksida Reaksi : S + O2 SO2

2. Dengan asam klorida dan katalis Fe akan menghasilkan hidrogen sulfida. b. Udara Fase : gas

Komposisi : 20,9% O2 ; 79,1% N2 Kapasitas panas : 7,035 cal/gmol C (32C) Berat molekul : 28,84 g/gmol Berat jenis : 1,5.10-3 gr/cc (25C) c. Air Proses (H2O) Fase : cair Berat molekul : 18 g/gmol Berat jenis : 1 gr/cc (25C) Kekentalan : 1 cp (25C) d. Sulfur dioksida Sifat-sifat fisika sulfur dioksida ditunjukkan pada tabel berikut ini Tabel. Sifat fisika sulfur dioksida Berat molekul Titik leleh Titik didih Densitas standar Volume molar Panas spesifik pada 100C Panas spesifik pada 300C Panas spesifik pada 500C Cp/cv (15C) 64,06 g/gmol (-) 75,5C (-) 10C 2,93 kg/m3 21,9 L/mol 662 J/ (kg K) 754 J/ (kg K) 816 J/ (kg K) 1,29

Sifat kimia sulfur dioksida : 1. Dengan klorin dan air membentuk asam klorida dan asam lainnya. Reaksi : Cl2 + 2H2O + SO2 2. 2HCl + H2SO4

Dengan hidrogen sulfida membentuk air dan sulfur Reaksi : 2H2S + SO2 2H2O + 3S

e. Sulfur Trioksida

Tabel Sifat Fisika Sulfur Trioksida Berat molekul Titik leleh Titik didih Densitas standar Panas penguapan pada titik didih 80,06 g/gmol 3,57C 16,86C 44,8 kg/m3 528 J/g

Sifat kimia sulfur trioksida : 1. Dengan air membentuk asam kuat Reaksi : SO3 + H2O H2SO4

2. Dengan udara lembab sulfur trioksida membentuk uap putih tebal dengan bau yang menyengat.

2.8.2 Produk Asam Sulfat Sifat sifat asam sulfat ditunjukkan pada tabel berikut ini : Tabel. Sifat Fisika Asam Sulfat Berat molekul Titik leleh Titik didih Densitas standar Kadar Warna Bentuk 98,08 g/gmol 10,31C 336,85C 45C 1,8 g/cc 98,50 % Tidak berwarna Cair

Sifat kimia asam sulfat : 1. Dengan basa membentuk garam dan air. Reaksi : H2SO4 + 2 NaOH 2. Dengan alkohol membentuk eter dan air. Reaksi : 2C2H5OH + H2SO4 C2H5OC2H5 + H2O + H2SO4 Na2SO4 + H2O

2.9 Pembuatan asam sulfat Pembuatan asam sulfat melalui 2 proses, yaitu: 1. Proses Kamar Timbal (Lead Chamber Process) Pada tahun 1746, Roebuck dari Birmingham Inggris, memperkenalkan proses kamar timbal. Proses ini menarik , namun sudah kuno. Pembuatan asam sulfat dengan menggunakan proses kamar timbal ini telah digunakan selama lebih kurang 200 tahun. Proses kamar timbal merupakan proses pertama dari dua proses dalam pembuatan asam sulfat yang mengandung 62 %78% H2SO4. Proses ini menggunakan ruang reaktor yang di lapisi timbal (Pb). Lapisan Pb bereaksi dengan asam sulfat sehingga membentuk endapan atau lapisan tipis PbSO4 yang memeudahkan reaksi lebih lanjut dengan asam sulfat. Gas SO2 dan NO dimasukkan ke menara Glover bersamaan dengan gas-gas dari menara Gay Lussac, gas yang keluar dari menara Glover dimasukkan ke dalam kamar timbal dan disemprotkan dengan air sehingga menghasilkan asam sulfat 60-67%. Hasil ini sebagian dikembalikan ke menara Glover yang akan menghasilkan asam 77%. Asam ini sebagian dimasukkan ke dalam menara Gay Lussac untuk menyerap gas-gas NO dan NO2 (katalisator). Gas yang terserap ini dimasukkan kembali ke menara Glover kamar timbal berbentuk silindris volumenya cukup luas. Permukaan dalamnya dilapisi timbal tipis dan disekat-sekat agar panas dapat ditransfer dengan baik, dinding bagian luar diberi sirip-sirip. Sehingga di dalam menara ini terjadi pengembunan uap asam sulfat. Menara Gay Lussac berfungsi untuk memungut kembali katalisator gas NO dan NO2 di kamar timbal dengan menggunakan asam sulfat 77%. Penyerapan dilakukan pada suhu rendah antara 40-60C. Menara Glover bertugas memekatkan hasil asam sulfat dari kamar timbal. Pemekatan panas ini perlu panas dan ini dapat diambil dari panas yang dibawa GHP (gas hasil pembakaran) belerang (400-600C). Adapun tahap-tahap reaksi dari proses kamar timbal adalah sebagai berikut : 1. Fase gas 2NO + O2 2NO2 2. Fase gas liquid (interfase) SO + H2O H2SO3 H2SO3 + NO2 sebut asam nitrosulfat/asam ungu) H2SO3 . NO2( Di

2(H2SO3NO2) + O2

H2O + HSO3.NO2 O2 -

Keterangan: O2 = dari NO2 HSO3.NO2 + SO2 +H2O

2( HSO3.NO2 ) +H2SO3

3. Fase liquid H2SO3.NO2 H2SO4 + NO3 2H2SO4 + NO + NO2 2NHO2 + H2SO4

2(H2SO3.NO2) + H2O HSO3.NO2 + HNO3

Reaksi overall SO2 + SO + H2O H2SO4 ( H = -54.500 cal)

Ketepatan asam sulfat yang dihasilkan kira-kira 62,5% dan dipekatkan lagi hingga mencapai 77,6%.

Gambar

Fungsi menara Glover: Mendinginkan gas umpan Memekatkan asam kamar Membersihkan gas umpan dari SO3 Membentuk asam sufat Menguraikan nutrious vitrial menjadi NO dan NO3 Mereduksi pembentukan HNO3 Fungsi Kamar Timbal Tempat terjadinya reaksi Pengusiran kalor yang terbentuk dari reaksi Tempat pengendalian warna Fungsi menara Gay Lussac

Menyerap gas NO dan NO2 yang harganya relatif mahal

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kamar timbal yaitu: Dinding Dinding kamar timbal terbuat dari bahan yang dapat menghantarkan kalor, dibuat tipis, dibuat gelombang dan di pasang sirip yang tujuannya agar permukaannya luas Air yang ditambahkan harus cukup Hal ini dapat berpengaruh terhadap asam sulfat yang terlalu pekat. Katalis NO2 yang masuk harus cukup. Jika terlalu banyak, maka warna asam menjadi coklat. Selain itu, dapat terbentuk HNO3. Sedangkan jika NO2 terlalu sedikit maka reaksi akan menjadi lambat.

2. Proses Kontak Proses kontak pertama kali ditemukan pada tahun 1831 oleh Peregrine Philips, seorang negarawan Inggris, yang patennya mencakup aspekaspek penting dari proses kontak yang modern, yaitu dengan melewatkan campuran sulfur dioksida dan udara melalui katalis, kemudian diikuti dengan absorbsi sulfur trioksida di dalam asam sulfat 98,5 99%. Pada tahun 1889 diketahui bahwa proses kontak dapat ditingkatkan dengan menggunakan oksigen berlebihan di dalam campuran gas reaksi. Proses kontak sekarang telah banyak mengalami penyempurnaan dalam rinciannya dan dewasa ini telah menjadi suatu proses industri yang murah, kontinyu dan dikendalikan otomatis. Sampai tahun 1900, belum ada pabrik dengan proses kontak yang dibangun di Eropa, di mana terdapat kebutuhan terhadap oleum dan asam konsentrasi tinggi untuk digunakan pada sulfonasi, terutama pada industri zat warna. Dalam periode 1900 sampai 1925, banyak pabrik asam sulfat dengan proses kontak telah dapat bersaing dengan proses kamar pada segala konsentrasi asam yang dihasilkan. Sejak pertengahan tahun 1920-an, kebanyakan fasilitas yang baru dibangun dengan menggunakan proses kontak dengan katalis hidrogen biasanya berupa zat padat, antara lain Pt, V2O5 dan Fe2O3. Katalis ini berpori-pori sehingga cocok untuk pembuatan asam sulfat, karena memiliki bidang kontak yang besar. Udara yang digunakan untuk membakar belerang dibersihkan dahulu dengan asam sulfat dalam menara absorber, hasil pembakaran

dibersihkan dalam Waste Heat Boiler kemudian dimasukkan ke dalam konverter bersama O2, gas hasil konverter atau reaktor dimasukkan ke dalam menara penyerap atau absorber. Penyerap yang digunakan adalah asam sulfat 98,5%. Pada pembuatan asam sulfat menurut proses kontak bahan yang dipakai adalah belerang murni yang dibakar di udara. SO2 dioksidasi menjadi SO3 dan kemudian SO3 direaksikan dengan air. Adapun sulfur dioksida (SO2) didapat dari : 1. S(s) + O2(g) SO2(g) 2. 4FeS(s) + 7O2 2Fe2O3(s) + 4SO2 3. 2H2S(g) + 3O2(g) SO(g) + 2H2O(g) SO2 yang terbentuk di oksidasi di udara dengan memakai katalisator. Reaksinya terbentuk kesetimbangan : 2SO2(g) + O2(g) <==> 2SO3(g) + 45 k kal Dahulu dipakai serbuk platina sebagai kontak. Tetapi sekarang dipakai katalis V2O5 (Vanadium penta oksida) yang lebih murah. Menurut kesetimbangan di atas, makin rendah suhunya makin banyak SO3 yang dihasilkan. Akan tetapi, sama seperti pembuatan amoniak pada suhu rendah reaksi berjalan lambat. Dengan memperhitungkan faktor-faktor waktu dan hasil dipilih suhu 400C, dan hasilnya yang diperoleh pada suhu ini kira-kira 98%. Itulah sebabnya reaksi ini tidak perlu dilaksanakan pada tekanan tinggi. Oleh karena gas SO2 agak sukar larut dalam air, maka SO3 dilarutkan dalam H2SO4 pekat. Jadi pada pembuatan H2SO4, bahan yang ikut digunakan juga H2SO4 SO3 + H2SO4 H2S2O7 asam pirosulfat Asam pirosulfat kemudian disirami air : H2S2O7 + H2O 2H2SO4 Adapun katalis yang digunakan dalam proses kontak ini yaitu : Pt, V2Og, Fe2O3 (berupa padatan). Langkah-langkah reaksi pada katalisator : 1. Difusi zat pereaksi ke permukaan zat padat 2. Absorpsi pada permukaan zat padat 3. Reaksi berupa reaksi permukaan 4. Desorpsi hasil (melepaskan) dari permukaan zat padat 5. Difusi akhir menjauhi permukaan padat. Gangguan terhadap katalisator : 1. Adanya gas SO2 yang mengandung air 2. Gas SO2 yang mengandung debu 3. Gangguan mekanis yang terjadi karena reaksi eksoterm. Karena terjadinya reaksi eksoterm, maka akan mengeluarkan kalor yang dapat meleburkan katalis. Maka pada desain reaktor diusahakan agar kalor menumpuk disatu tempat.

Perbandingan antara Proses Kamar Timbal dengan Proses Kontak


Keterangan Konversi Biaya produksi Biaya produksi Kualitas produk Proses produksi Proses kontak 98,5 99 % Rendah Lebih pekat Satu kali proses dalam Meningkatkan konsentrasi asam Vanadium Pentoksida Proses kamar timbal 77 79% Tinggi Kurang Dua kali proses dalam Meningkatkan konsentrasi asam NO dan NO2

Katalis

Setelah dibandingkan antara proses kontak dengan proses kamar timbal, maka kebanyakan dari perancangan pabrik asam sulfat memilih Proses Kontak dengan pertimbangan : a. Konversi yang tinggi dan kualitas produk lebih pekat. b. Biaya produksi lebih murah. c. Umur katalis dapat mencapai 10 tahun dalam pemakaian normal. d. Proses produksi satu kali proses dalam meningkatkan konsentrasi asam.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Asam sulfat merupakan senyawa asam kuat, bersifat korosif terhadap logam, oksidator kuat, juga merupakan zat dehidrator karena bersifat Higroskopis. Senyawa ini mempunyai banyak kegunaan antara lain sangat diperlukan dalam berhagai reaksi kimia dan dalam beberapa proses pembuatan, proses baja, memproses bijih besi dan bijih mineral, sintesa kimia, pemrosesan air limbah dan penapisan minyak serta sebagai penunjang dalam pupuk, bahan kimia, logam.

Reaksi hidrasi asam sulfat merupakan reaksi endoterm yang kuat. Jika air ditambahkan asam sulfat maka air itu akan mendidih dan akan menjadi bertambah asam. Hal ini diakibatkan perbedaan isi pada keduanya. Air kurang pada berbanding asam untuk terapung di atas asam. Reaksi ini boleh dianggap sebagai Pembentukan Ion Hidronim, seperti reaksi di bawah ini : H2SO4 + H2O H3O+ + HSO4

Disebabkan Asam Sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan asam pengering yang baik dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buah kering. Apabila SO3 ditambah dengan asam sulfat maka akan membentuk H2S2O7. Ini dikenal sebagai asam sulfat fuming/oleum/jarangjarang sekali disebut asam nhordausen.

Di atmosfir zat ini termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam. Asam sulfat dipercaya pertama kali ditemukan di Iran oleh al.-razi pada abad ke-9.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.infoplease.com/ce6/sci/A0861350.html http://en.wikipedia.org/wiki/Sulfonate http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sulfat http://www.petrokimia-gresik.com/chemical_product.asp