Вы находитесь на странице: 1из 9

BAB II

TINJAUAN MATERI

Masyarakat Madani merupakan sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang dimana adanya suatu kekuatan masyarakat ( civil ) sebagai komunitas dari bangsa ini yang mengantarkan masyarakat menuju kepada suatu keadaan masyarakat yang mengedepankan dan menjunjung tinggi Nilai-nilai Hak Asasi Manusia, termasuk didalamnya kebebasan beragama, berpendapat dan menyampaikan kritik membangun demi kemajuan suatu masyarakat menuju kepada perubahan kearah yang lebih maju dan positif. Berbicara mengenai masyarakat, maka tidak terlepas dari suatu pengertian yaitu sekumpulan manusia yang kedudukannya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial, dimana dalam aktivitas kehidupan tidak terlepas tanggung jawab, hak dan kewajiban yang tak boleh dilanggar yang menghiasai setiap aktifitas dari kehidupan sehari-hari. Adapun kata Madani berasal dari bahasa Arab yaitu Madinah artinya kota salah satu cirinya yaitu suatu keadan masyarakat yang modern dan merdeka dari hal hal yang bersifat pemaksaan kehendak oleh Pemerintah tetapi sebaliknya adanya penghargaan terhadap nilai nilai perikemanusiaan, kebebasan berdemokrasi dan mengeluarkan pendapat serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

BAB III

MASYARAKAT MADANI

A. PENGERTIAN MASYARAKAT MADANI Istilah masyarakat madani dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah civil society pertama kali dikemukan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis yang identik dengan negara. Dalam perkembangannya istilah civil society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat yang terutama bercirikan

kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara serta keterikatan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi masyarakat, dan hal ini juga tersirat dalam paham kebumian masyarakat indonesia. Yang di inspirasi oleh madani yang pada masyarakat idial di (kota) Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam masyarakat tersebut Nabi berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Dengan begitu, kalangan pemikir Muslim menganggap masyarakat (kota) Madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang dapat dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society. Masyarakat Madani terdiri dari dua kata yaitu Masyarakat dan Madani. Kata Masyarakat di dalam kamus Bahasa Indonesia oleh WJS.Poerwadarminto disebutkan suatu pengertian, yaitu : Suatu pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan yang tertentu . Sedangkan Madani berasal dari bahasa Arab yaitu Madinah yang artinya kota, kota salah satu cirinya yaitu suatu keadan masyarakat yang modern dalam arti merdeka dari hal hal

yang bersifat pemaksaan kehendak, adanya kebebasan berdemokrasi dan kebebasan mengeluarkan pendapat serta penghormatan dan penghargaan terhadap nilai

perikemanusiaan serta terhadap hak asasi manusia. Berbicara tentang Masyarakat Madani, maka arah pembicaraan tertuju kepada suatu keadaan masyarakat dalam konteks yang cukup luas yaitu : Keseluruhan hubungan dalam hidup bermasyarakat yang tidak dibatasi oleh lingkungan, atau golongan tertentu yang bercita-cita luhur dalam rangka menuju masyarakat yang berbudaya, menjunjung tinggi keadilan bagi masyarakatnya, yang semua itu bukan hanya dalam batas wacana / teori, tetapi lebih daripada kontribusi masyarakat secara langsung untuk berbuat kearah itu melalui adanya interaksi dan kerjasama serta saling megisi antara masyarakat dengan pemerintah. Dapat kita sebutkan salah satu ciri dari masyarakat madani yaitu adanya suatu aktivitas masyarakat dalam melakukan control (pengawasan) terhadap segala kebijakan pemerintah agar jalannya roda pemerintahan sesuai dengan amanat yang telah diberikan oleh masyarakat / rakyat itu sendiri. Masyarakat Madani sebenarnya merupakan wacana yang mengalami proses yang cukup panjang, dan istilah masyarakat madani ini muncul bersamaan dengan proses modernisasi, terutama pada saat terjadi transpormasi dari masyarakat peodal kepada masyarakat barat modern yang saat itu dikenal dengan istilah Civil Society. Pada abad ke XVIII dalam tradisi masyarakat Eropa bahwa pengertian civil society dianggap sama dengan negara (state ) yaitu suatu kelompok /kekuatan yang mendominasi seluruh kelompok masyarakat lain yang ada di lingkungannya. Tetapi seiring perkembangan ilmu dan budaya selanjutnya pengertian tersebut mengalami pergeseran makna, yaitu State dan Civil Society dipahami sebagai 2 entitas yang berbeda sejalan dengan

pembentukan sosial (social formation) dan perubahan struktur politik di Eropa sebagai pencerahan (enlightenment) dan moderninasi dalam urusan duniawi .

B. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI Karakteristikmasyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasayarat yang menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani. Karakteristik tersebut antara lain adalah adanya Free Public sphere, Demokratis, Toleransi, Pluralisme, keadilan sosial (sosial justice) dan berkeadaban, 1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada publik. 2. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku demokratis kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang lain. Demokratisasi dapat terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi yang meliputi : (1) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (2) Pers yang beba (3) Supremasi hukum (4) Perguruan Tinggi

3. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang/kelompok lain. 4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. 5. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian yang proporsiaonal antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya. 6. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggungjawab. 7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali. Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia diantaranya : 1. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata 2. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat 3. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter 4. Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang terbatas 5. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar 6. Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi

C. PANDANGAN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA Masyarakat Madani di Indonesia mengalami penerjemahan yang berbeda beda dimana pengertian masing-masing secara terpisah, antara lain pengertian masyarakat madani sendiri, masyarakat sipil sendiri, masyarakat kewargaan sendiri dan civil society sendiri. Untuk itu dapat diuraikan sebagai berkut ; 1. Dato Sri Anwar Ibrahim ( Cendekiawan Malaysia ) Konsep ini pertama digulirkan pada Simposium Nasional dalam rangka forum ilmiah pada Festival Istoqlal 26 September 1995 di Jakarta. Menurut beliau bahwa Masyarakat Madani adalah sebagai berikut ; Masyarakat Ideal yang memiliki peradaban maju. Sistem Sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat, yaitu masyarakat yang cendrung memiliki usaha serta inisiatif individu baik dari segi pemikiran seni, pelaksanaan pemerintahan untuk mengikuti undang-undang bukan nafsu, demi terlaksananya sistem yang transparan ( taransparency sistem ) 2. Nurkholis Madjid, Dawam Rahardjo, Dr. Azyumardi Azra ( Cendekiawan Indonesia ) Suatu tatanan kemasyarakatan yang mengedepankan toleransi, demokrasi dan berkeadaban serta menghargai akan adanya pluralisme ( kemajemukan ), Perlunya penguatan masyarakat (warga ) dalam komunitas negara untuk mengimbangi dan mampu mengontrol kebijakan negara ( policy of state ) yang cendrung memposisikan warga negara sebagai subyek yang lemah. Penguatan ini dimaksudkan untuk mencapai kekuatan baegaining masyarakat yang cerdas di hadapan negara tersebut, dengan

komponen penting yaitu : LSM LSM yang mampu berdiri secara mandiri dihadapan negara dan adanya independensi pers sebagai bagian dari social control, membudayanya kerangka hidup yang demokratis, toleransi dan memiliki peradaban yang tinggi.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang diperoleh, adalah sebagai berikut : 1. Mayarakat madani (civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya. 2. Masyarakat madani akan terwujud apabila suatu masyarakat telah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi dengan baik. 3. Karakteristik masyarakat madani adalah : (1) Free public sphere (ruang publik yang bebas) (2) Demokratisasi (3) Toleransi (4) Pluralisme (5) Keadilan sosial (social justice) (6) Partisipasi sosial (7) Supremasi hokum B. Saran Adapun saran yang diberikan adalah sebagai berikut : 1. Sebaiknya materi diskusi pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan ini diperbanyak, agar paham dan daya pikir mahasiswa lebih terangsang dengan topik atau isu-isu kebangsaan yang sedang hangat diperbincangkan

DAFTAR PUSTAKA

Azizy,

Abdillah

A,

Qodri,

Masyarakat

Madani

Antara

Cita

dan

Fakta

(Kajian Historis-Normatif), dalam Ismail dan Mukti, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2000.

Hartomo dkk, Ilmu Sosial dasar, Bumi Aksara Jakarta, cet.5, tahun 2001

Jainuri Achmad, Agama dan Masyarakat Madani: Rujukan kasus tentang sikap Budaya, Agama, dan Politik, kata pengantar untuk Sufyanto, Op.Cit.

Kertanegara Mulyadhi, Masyarakat Madani dalam Perspektif Budaya Islam, media Inovasi Jurnal Ilmu dan Kemanusiaan edisi 1 TH-xii/2002.

Sufyanto, Masyarakat Tamaddun: Kritik hermeneutis Masyarakat madani Nurcholish Madjid, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2001.

Crayonpedia. Org.

diakses tanggal 18 Mei 2011. Pukul 16.00 WITA. dengan kata

kunci : masyarakat madani

Sujatmiko, Gardono Iwan, Wacana Civil Society di Indonesia, Jurnal sosiologi edisi No.9, 2001, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.