You are on page 1of 7

Drs.

Cornelis MH (2008-sekarang)
Drs. Cornelis, M.H. adalah Gubernur Kalimantan Barat periode 2008-2013. Cornelis memenangi Pilkada Gubernur Kalimantan Barat yang diadakan pada 15 November 2007. Ia dilantik oleh Mendagri Mardiyanto pada 14 Januari 2008, berpasangan dengan Wakilnya Christiandy Sanjaya. Cornelis juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Barat dan Ketua Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) Kalbar. Karier pemerintahannya dimulai sebagai staf di Kantor Camat Kecamatan Mandor, Camat Menyuke (Darit), dan menjabat sebagai Bupati Landak selama dua periode, yakni dari 2002hingga 2008. Setelah menjadi Gubernur Kalbar, posisinya digantikan oleh Adrianus Asia Sidot. Ia adalah Gubernur Kalimantan Barat bersuku Dayak serta beragama Katolik kedua setelah Johanes Chrisostomus Oevang Oeray.

Sjachriel Darham (2000-2005)


Sjachriel Darham lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan pada tanggal 3 April 1945. Iadalah Gubernur Kalimantan Selatan pada periode 2000-Maret 2005. Sejak awal Desember 2006, ia diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan anggaran belanja rutin Pos Kepala Daerah Kalimantan Selatan periode 2001-2004. Dalam penyelidikan, KPK menemukan bukti anggaran rutin dalam APBD Kalimantan Selatan sebagian digunakan untuk kepentingan pribadinya. Dalam pemeriksaan awal Desember 2006, ia sempat membantahnya, namun dalam keterangan pers yang dibagikan kepada wartawan oleh staf Humas KPK, Johan Budi SP, disebutkan sebagian anggaran rutin digunakan untuk membeli kendaraan, memperbaiki rumah pribadi, membeli rumah toko, dan membayar asuransi dengan total mencapai Rp 5,47 miliar. Atas dugaan itu, ia ditahan KPK. Ia diduga melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 atau Pasal 8 Undang-undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Setelah menjalani pemeriksaan selama 11 jam, ia ditahan selama 20 hari sejak 3 Januari 2007. Dalam masa penahanan, ia menderita sakit penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, dan diabetes melitus. Ia dirawat di Rumah Sakit Polri pada 12 Januari 2007. Seorang anggota keluarganya, Evi Ayunita, menjelaskan sebelum ditahan KPK ia telah menjalani pemeriksaan intensif dokter di Banjarmasin. Oleh dokter, Sjachriel disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita (Jakarta). Selama ditahan KPK ditahanan Mabes Polri, keluarganya beberapa kali minta penangguhan penahanan. Permintaan itu belum dipenuhi sampai akhirnya dokter dari Mabes Polri mengatakan kondisinya mengkhawatirkan. Pada 24 Agustus 2007, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 4 tahun penjara kepada Darham karena terbukti bersalah menyelewengkan pos anggaran daerah.

Rudi Ariffin (2005-sekarang)


Rudy Ariffin (lahir di Banjarmasin, 17 Agustus 1953; umur 57 tahun) adalah GubernurKalimantan Selatan untuk periode 2005-2010, melanjutkan kepemimpinan dari KabupatenBanjar ke Provinsi Kalimantan Selatan. Selama periode 2005-2010, banyak capaian yang dihasilkan dari kepemimpinan Rudy Ariffin diantaranya, menuntaskan pengerukan alur ambang sungai Barito, mendorong PLN membangun PLTU 2x 65 Megawatt di Asam-asam untuk mengatasi byar pet listrik di wilayah Kalselteng, membangun pusat perkantoran Pemerintah Provinsi di Banjarbaru, membangun industri besi baja, dan berhasil membawa APBD Kalimantan Selatan menembus angka RP. 2,2 Triliun. Selain itu hal yang dirasa paling menggembirakan bagi masyarakat adalah melarang truk batubara melintasi jalan negara sesuai Perda No. 3 Tahun 2008.

Suwarna Abdul Fatah


Mayor Jenderal TNI (Angkatan Darat) H. Suwarna Abdul Fatah lahir di Bogor, 1 Januari 1944 adalah Gubernur Kalimantan Timur ke-10 dan 11. Sebelumnya dia adalah Wakil Gubernur Kalimantan Timur bidang Ekonomi dan Pembangunan dan menggantikan H.M. Ardanssebagai Gubernur sejak 1998. Pada tahun 2003, dia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua hingga tahun 2008 mendatang. Ia dinonaktifkan dari jabatannya sejak 8 Desember 2006 karena diduga terkait kasus korupsi. Suwarna ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi pada 19 Juni 2006 dalam kasus dugaan korupsi pelepasan izin pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit satu juta hektare di wilayah Penajam Utara, Berau, Kalimantan Timur yang melibatkan Surya Dumai Group pimpinan Martias alias Pung Kian Hwa. Ia mulai diadili dalam kasus ini di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi di Jakarta pada 9 November 2006. Pada 13 Maret 2007, Suwarna melaporkan para penyidik KPK ke kepolisian karena menduga mereka telah merekayasa dokumen yang dijadikan barang bukti dalam perkara korupsi tersebut. Kemudian pada 22 Maret, majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi memutuskan untuk memvonis Suwarna dengan hukuman 1,5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta karena terbukti bersama-sama dengan mantan Dirjen Pengusahaan Hutan Produksi Dephutbun Waskito Soerjodibroto, mantan Kakanwil Kehutanan dan Perkebunan

Kaltim Uuh Aliyudin dan mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kaltim Robian menyalah gunakan wewenang mereka sehingga merugikan negara sebesar Rp 5,167 miliar, sementara dakwaan lain tentang penerbitan izin pemanfaatan kayu dan berbagai surat yang dikeluarkan Suwarna tidak dapat dibuktikan.

Drs. Yurnalis Ngayoh (2006-2008) Pelaksana Tugas Gubernur


Drs. Yurnalis Ngayoh, MM adalah mantan Gubernur Kalimantan Timur. Dia lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang terbatas dalam akses pendidikan dan pekerjaan di Desa Benung, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Ayahnya adalah seorang kepala adat besar suku Dayak Tunjung Benuaq. Pak Ngayoh merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Selepas menamatkan pendidikan menengah atas di SMA Katolik Don Bosco, Samarinda, dia berencana kuliah di Jawa. Kondisi ekonomi orangtuanya yang terbatas tidak membuat semangatnya untuk sekolah pudar. Melihat semangat yang besar ini, warga adat Barong Tongko pun merasa terharu. Mereka menyumbangkan biaya semampu mereka untuk Pak Ngayoh. Sumbangan itu, setelah dihitung, ternyata mencapai Rp 800. Pak Ngayoh kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, Jurusan Ekonomi Umum. Ketika kuliah, dia tinggal di asrama Realino, di Jalan Gejayan. Di asrama ini juga tinggal berbagai mahasiswa yang berasal dari seluruh pelosok nusantara.Tidak berlebih-lebihan bila dia menyebut asrama Realino sebagai Indonesia kecil. Di asrama Realino, Pak Nagayoh menjadi pengelola koperasi. Dibantu oleh kawan-kawannya, dia menjual telur itik. Telur itik ini dibelinya di Muntilan dan dijual ke berbagai warung. Di samping itu, dia menjual rokok yang dibelinya secara grosiran di pasar Beringharjo. Selesai memperoleh gelar sarjana ekonomi tahun 1967, Pak Ngayoh pulang ke Samarinda. Dia langsung menghadap salah seorang uskup Katolik yang telah ikut membantu biaya kuliahnya. Oleh Uskup tersebut dirinya dipertemukan dengan salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kaltim. Oleh sang anggota dewan, Pak Ngayoh diantar menghadap Gubernur Kaltim, Wahab Sahlan. Kemudian Pak Ngayoh diminta sang Gubernur mengajar di Institut Pemerintahan Dalam Negeri Samarinda. Selain mengajar di IPDN, Pak Ngyoh juga mengajar di beberapa SMA di Samarinda. Profesi sebagai guru ini dilakoninya dari tahun 1968 hingga tahun 1975. Sebagai dosen di IPDN, dirinya juga sempat menjabat bendahara, Pembantu Rektor III dan Pembantu Rektor II. Perjalanan karir Pak Ngayoh berubah saat dirinya ditunjuk oleh Gubernur Kaltim menjadi Sekwilda Kabupaten Pasir. Setelah lima tahun menjabat Sekwilda Kabupaten Pasir, Pak Ngayoh dipindahkan ke Kabupaten Kutai. Setelah tujuh tahun menjabat Sekwilda Kabupaten Kutai, Pak Ngayoh diangkat menjadi Kepala Biro Pembangunan di Pemprov Kaltim. Dua tahun kemudian, dia dipindahkan ke Balik Papan sebagai pembantu gubernur (residen). Di sini dia berkarya selama sembilan tahun. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang birokrat, diakui Pak Ngayoh, dia sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran dari orang tuanya. Sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan Dayak yang kental, Pak Ngayoh memang sosok yang sangat teguh memegang nilai-nilai tradisinya. Sebagai kepala adat besar, ayahnya adalah pemimpin adat warga barong tongkok, yang tingga di rumah Lou. Rumah Lou atau Lamin adalah rumah berbentuk panggung, tingginya kurang lebih dua setengah meter, panjangnya puluhan hingga ratusan meter yang mampu menampung ratusan orang termasuk juga para penghuni. Di tempat itu selain sebagai tempat tinggal para sanak keluarga, Lou kerap juga menjadi penampungan bagi anggota adat yang mengalami kesulitan hidup, tertutama perempuan janda, orang jompo, orang miskin dan orang yang sedang jatuh sakit.
(wawancara dan penulisan: Gusti Grehenson; editing: Abrar) www.kaltim.go.id

Awang Faroek Ishak (2008-sekarang)


Drs. H. Awang Faroek Ishak, M.M, M.Si., bergelar Awang Ngebei Setia Negara (lahir diTenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 31 Juli 1948; umur 62 tahun) adalahGubernur Kalimantan Timur saat ini pada periode 2008-2013, berpasangan dengan Farid Wadjdy. Beliau sebelumnya adalah bupati Kutai Timur pertama sejak pemekaran Kabupaten Kutai berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999. Kemudian pada saat maju untuk pencalonanGubernur Kalimantan Timur, pada tahun 2003, ia mundur dari jabatan Bupati Kutai Timur, digantikan oleh wakil Bupati, Mahyudin. Pada saat Pilkada Kutai Timur tanggal 12 Desember2005, Awang dipilih oleh rakyat dan kemudian kembali menjabat Bupati sejak pelantikan tanggal 13 Februari 2006 sampai tahun 2011. Tetapi ia mencalonkan kembali menjadiGubernur Kalimantan Timur pada tahun 2008 dan akhirnya terpilih pada putaran kedua dan dilantik pada 17 Desember 2008. Kemudian pada tahun 2008, kursi kepemimpinan Bupati Kutai Timur diserahkan kepada wakilnya, Isran Noor.

Awang Faroek Ishak (AFI) dilahirkan di Tenggarong pada tanggal 31 Juli 1948. Ia merupakan putra ke-11 dari 13 bersaudara pasangan Awang Ishak dan Dayang Johariah, seorang tokoh pamong praja di Kaltim. Awang menamatkan Sekolah Rakyat di Tarakan, SMP dan SMA di Tenggarong, kemudian meneruskan ke Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Malang, hingga meraih gelar sarjana S1 (1973) dan Magister Manajemen (1997) serta Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (1998). Awang lulusan terbaik SESPANAS Angkatan XI (1990) dan peserta berprestasi tinggi pada Kursus Reguler Angkatan XXV (KRA) LEMHANAS (1992). Dimulai sebagai Staf Kantor Gubernur Kaltim (1973), Purek III Universitas Mulawarman(1978), Dekan FKIP Unmul (1982), anggota DPR/MPR RI dua periode (1987-1992 dan 1992-1997), menjadi Wakil Ketua Komisi II dan anggota Komisi X, Staf Ahli Gubernur Kaltim, Ketua Bapedalda Kaltim, Pjs. Bupati Kutai Timur (1999-2000), Bupati Kutai Timur (2000-2003 dan 2006-2008), Gubernur Kalimantan Timur (2008-sekarang).

Prof. (Em) Drs. H. Aminuddin Ponulele, M. S (2001-2006)


H. Aminuddin Ponulele lahir di Palu, Sulawesi Tengah pada tanggal 5 Juli 1939. Beliau adalah politikus berkebangsaan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah dari tahun 2001 hingga 2006. Dia pertama kali mendapat ijazah pada tahun 1951, ketika dia menempuh pendidikan formal di SR Palu. Dia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Satya kelas II dari Presiden R.I. pada tahun 1988 dan menjadi anggota DPD Golkar. Dalam karirnya, dia banyak bekerja di lembaga-lembaga pendidikan seperti di sekretariat Yayasan UNTAD (1963), Universitas Tadulako (1963-1965), Pembantu Dekan Koordinator II IKIP Ujung Pandan Cabang Palu (1968-1970), Dekan Muda FKIE-IKIP Ujung Pandang Palu (1970-1976), Pembantu Rektor III Universitas Tadulako, tahun 1989-1990, Pembantu Rektor I Universitas Tadulakon tahun 1990-1994, Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Tadulako tahun 1982-1995. Dia juga aktif dalam organisasi seperti FORKI Sulawesi Tengah tahun 1973-1978, Ketua BKMI Sulawesi Tengah, tahun 1974-1978, Ketua SIWO/PWI Sulawesi Tengah, tahun 1976-1978, Ketua PERSIPAL Palu, tahun 1978-1990, Ketua II KOSGORO Sulawesi Tengah, tahun 1979-1989, Ketua II KONI Sulawesi Tengah, tahun 1980-1990, Ketua Umum PASI Sulawesi Tengah, tahun 1980-1990, Ketua Yayasan YUSTISIA (Akademi Perawat) Sulawesi Tengah, Kepala Balai Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Tadulako, tahun 1981-1986, Kepala Laboratorium Sosial Universitas Tadulako, tahun 1982-1986, Ketua Biro Pendidikan DPD Golkar Dati I Sulawesi Tengah tahun 1984-1990, KOMDA PSSI Sulawesi Tengah, tahun 1998-sekarang, Koordinator Staf Ahli BAPPEDA Tingkat I Sulawesi Tengah, tahun 1991-1995, Ketua Harian Pengurus ICMI Propinsi Sulawesi Tengah, tahun 1991-1995, Anggota Badan Pengawas dan Pertimbangan PWI Pusat di Palu, tahun 1991Sekarang, Ketua Harian PASI Sulawesi Tengah, tahun 1991-1996, Wakil Ketua Dewan Pembina Perguruan Islam Alkhaerat Pusat palu, tahun 1992-Sekarang, Korwil ICMI Sulawesi Tengah, tahun 1995-sekarang, Pembina Pemuda PANCAMARGA Sulawesi Tengah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah, tahun 1992-1997, Ketua Umum INKAI Sulawesi Tengah, tahun 1994-1998, Wakil Ketua Umum KONI Sulawesi Tengah, tahun 1993-1998, Ketua Umum Pengurus Daerah PASI Sulawesi Tengah, athun 1998-2000, Wakli Ketua Umum KONIDA Sulawesi Tengah, tahun 1998-2003, Ketua PENGDA PABBSI Sulawesi Tengah, tahun 1996-2001, Wakil Ketua GOLKAR DPD I Sulawesi Tengah, tahun 1998-sekarang, Ketua GOLKAR DPD I Sulawesi Tengah, tahun 1998-sekarang, Penasehat Forum Komunikasi Lembaga Dakwah Tingkat Propinsi Sulawesi Tengah, 8 April 1994 No. *WS/4/BA.01/47/1994 Kanwil Agama Propinsi Sulawesi Tengah, Ketua IMI Sulawesi Tengah, tahun 1999-2004, Ketua UMUM PGP Sulawesi Tengah, tahun 1999-2004, Ketua Umum Kafilah MTQ nasional XIX, tahun 2000, Ketua Kontingen PON XV Sulawesi Tengah di Surabaya, tahun 2000. Dalam bidang pekerjaan, H. Aminuddin Ponulele banyak berkecimpung dalam bidang pendidikan.. Guru SMA Negeri Palu, tahun 1963-1965, Asisten Pada FKIE / IKIP Manado tahun 1965-1967, Dosen IKIP Ujung Pandang Cabang Palu tahun 1968-1981, Dosen IKIP Universitas Tadulako, tahun 1981-1988, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, tahun 1989-2000, Diangkat sebagai Guru Besar Madya Fakultas Pertanian Universitas Tadulako keahlian "Ekologi" tahun 1993, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, tahun 1993-2000, Rektor Universitas Tadulako, tahun 1994-1998, Guru Besar Emeritus dalam bidang Ilmu Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, tahun 2000, Ketua Harian Dewan Penyantun Universitas Tadulako pada tahun 2000. Dalam pemerintahan, dia pernah menjadi Pegawai Keuangan pada Kantor Daerah Tingkat II Donggala di Palu tahun 1958-1963, Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Tengah, tahun 1988-2001, Gubernur Sulawesi Tengah, tahun 2000-2006.

Mayjen TNI (purn) H. Bandjela Paliudju (2006-sekarang)


H Bandjela Paliudju (lahir di Palu, Sulawesi Tengah, 3 Maret 1945; umur 65 tahun) adalah seorang politikus Indonesia. Ia menjabat Gubernur Sulawesi Tengah sejak tahun 2006. Pasangannya sebagai wakil gubernur ialah Ahmad Yahya. Sebelumnya dia pernah menjadi ketua DPRD Sulteng. Dia menang telak dalam Pemilihan Gubernur pada tahun 2006. Pertama kali menjabat sebagai gubernur pada tahun 1996, kemudian berhenti pada 2001. Lalu menjabat kembali pada 2006.

Syahrul Yasin Limpo (2008-sekarang)


Gubernur Sulawesi Selatan, H. Syahrul Yasin Limpo, menerima penghargaan sebagai provinsi perintis peningkatan produksi tanaman kakao melaluai Gerakan Nasional Kakao. Penghargaan diterima bertepatan Hari Perkebunan di Kampus Lembaga Pendidikan Pertanian Medan. Perintisan peningkatan penanaman kakao dan komoditas perikanan yang dinilai berhasil, menambah koleksi penghargaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di penghujung tahun 2010. Penilaian keberhasilan dalam terobosan berasal dari Menteri Pertanian. Selain Sulawesi Selatan, Penghargaan yang sama juga untuk Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Program mendorong produksi yang dirintis di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menjadi Gerakan Nasional dan dikembangkan di Daerah penghasil Kakao lainnya. Penghargaan lainnya, Adhibakti Minabahari diterima dari Menteri Kelautan dan Perikanan. Pemerintah menilai konsep pemberdayaan petani Perikanan dari hulu kehilir dengan Program Minapolitan di Pinrang dan Pangkep berhasil meningkatkan produksi. Gubernur mengatakan penilaian keberhasilan yang diterima bukan sekedar penghargaannya. Tapi subtansinya, program lokal di Sulawesi Selatan dapat diterima menjadi program nasional. Ada terobosan yang biasa, menjadi hal yang tidak biasa dan ditarik menjadi agenda nasional. H. Syahrul mencontohkan, penghargaan perintis Gerakan Nasional Kakao yang mulai berjalan sejak tahun 2009 dari penanaman benih kakao 3,5 juta menjadi 8 juta bibit. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga berencana mengekspansi lahan baru hingga 1000 hektar di wilayah Sulawesi Selatan serta memperbaiki lahan perkebunan hingga 100 hektar. Nama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo tak hanya diabadikan untuk nama sejumlah masjid di daerah ini, bahkan diabadikan untuk bibit jagung sampai teknologi baru dalam peremajaan kakao di Sulawesi Selatan. Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan, Burhanuddin Mustafa, di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa 14 Desember 2010, mengatakan bahwa untuk meningkatkan produksi petani kakao sekaligus peremajaan kakao pihaknya sudah mengembangkan teknologi sambung samping dan pucuk. Pengembangan teknologi ini jauh lebih murah serta bisa meningkatkan produksi dengan merangsang kakao berbuah. Atas usulan petani daerah Luwu sistem sambung samping dan pucuk jagung itu dinamakan sambung Syahrul dan hal ini telah disepakati Gubernur Sulawesi Selatan. Selama pemerintahan Syahrul, pihaknya membagikan seluruh bibit kakao secara gratis ke masyarakat. Jika ada yang ditemukan menjual berarti ada salah paham di lapangan. Tak hanya kakao, nama Sayang yang menjadi idion Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Numang juga diabadikan untuk nama varietas jagung hibrida unggul baru spesifik lokasi Sulawesi Selatan. Untuk varietas jagung hibrida unggul HSS2 disebut Batara-1, sedangkan jagung hibrida unggul HSS7 yang diberi nama Sayang 1. Varietas ini dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan bekerja sama dengan sejumlah pihak. Benih ini merupakan hasil progam penelitian, pengkajian dan pengembangan perwujudan keunggulan lokal untuk memicu laju untuk memicu laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang dilakukan Balitbangda. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan, Idrus Hafied mengatakan bahwaberdasarkan hasil penelitian itu pihaknya merekomendasikan pengembangan varietas produksi petani di Sulawesi Selatan, bahkan pihaknya berencana mengajukan hasil penelitian itu ke Kementerian Pertanian untuk dijadikan cadangan benih nasional. www.sulsel.go.id

Ali Mazi (2002-2008)

Ali Mazi, SH adalah seorang pengacara dan politikus Indonesia. Ia adalah Gubernur Sulawesi Tenggara sejak 18 Januari 2003. Pasangannya sebagai wakil gubernur adalah Drs. H. Yusran Silondae. Sebelumnya ia berprofesi sebagai pengacara dan pernah menjadi pengacara bagi PT. Indobuild Co. yang terlibat kasus manipulasi hak guna bangunan (HGB) di kawasan Senayan,Jakarta. Pada 6 Februari 2006, Mazi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengelolaan asetGelora Senayan.
"Mendagri Hari Sabarno Lantik Ali Mazi-Yusran", KOMPAS, 20 Januari 2003 Sultra Diperiksa Timtas Tipikor Pk 10", Detikcom, 12 Januari 2006 "Pontjo dan Ali Mazi Tersangka", KOMPAS, 7 Februari 2006

Nur Alam (2008-2013)


Nur Alam, Sarjana Ekonomi putera asli daerah Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menjadi Gubernur pertama pilihan rakyat berasal dari keluarga sederhana, anak keenam dari tujuh bersaudara. Dia anak M. Isruddin Lanay (alm) dan Hj. Fatimah. Ayahnya Pegawai Dinas Kehutanan dan Wafat ketika Nur kelas 2 SMP. Kunci suksesnya menjadi Gubernur Sultra menurut Nur yaitu kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Di Sultra yang terbatas media Informasi dan Komunikasi , kerja keras yang harus dilakukan adalah silaturrahmi dari desa ke desa dalam kurung waktu yang cukup panjang. Saya mengunjungi kurang lebih 2.000 Desa. Sebanyak 70% desa tersebar di pedalaman atau pelosok yang sulit dijangkau. Tidak semua Desa bisa dilalui dengan kendaraan bermotor. Bahkan kadang-kadang saya berjalan kaki, naik kuda atau naik perahu kecil. Bayangkan saja saya mengunjungi sebuah pulau yang membelah Laut Banda dengan ombak besar. Dan itu tingkat kesulitannya tinggi. Untuk itu harus dibutuhkan keseriusan dan kenekatan. Kerja keras itu tentu tidak akan berjalan dengan baik jika saya melakukan dengan tidak ikhlas. Adalah manusiawi seseorang punya obsesi, punya ambisi. Ambisi dan obsesi bisa tercapai dan bisa tidak. Karena itu perlu dilandasi dengan keikhlasan. Selain kerja keras, kerja ikhlas, juga harus cerdas melihat peluang-peluang yang bersifat internal dan eksternal. Terakhir, dalam bekerja harus tuntas. Saya tidak boleh berhenti atau menyerah menghadapi tantangan dan kesulitan. Nur Alam dan Muhamad Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara harus lebih maksimal dalam menata daerah sebagaimana janji politiknya saat mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Dijelaskan, adatiga program unggulan Gubernur Nur Alam yang tertuang dalam program Bahteramas sebagaimana dalam Visi-Misinya, yakni Pemberian Pendidikan Gratis, Pelayanan Kesehatan Gratis serta Penyaluran Dana Block Grant, diluar dari pembangunan mega proyek yang ada di kotakendari, terlalu ekstrim jika dikatakan sukses atau tidak sukses. Demikian halnya dengan dua mega proyek, yakni pembangunan Jembatan Bahteramas dan Masjid Al-Alam, seyogyanya dapat selesai sebelum akhir kepemimpinannya, sehingga masyarakat Sulawesi Tenggara, dapat menikmati hasil pembangunan tersebut. Rencana Gubernur Sultra, Nur Alam, untuk menjadikan Sultra sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) rupanya bukan sebuah ide 'gila' yang muncul begitu saja tanpa ada dasar hukum yang jelas. Nur Alam menyampaikan, upaya untuk menjadikan sebuah wilayah untuk menjadi KEK diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Semangatnya adalah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dengan pengelolaan potensi yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat sebuah daerah, tak terkecuali Sultra. Nur Alam menggambarkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sultra saat ini mencapai sekitar Rp 1,2 triliun. Lebih 50 persen digunakan untuk belanja pegawai dan belanja operasional, sehingga alokasi untuk pembiayaan kepentingan publik, termasuk belanja modal, hanya senilai antara 10 sampai 20 persen. Belum lagi pembiayaan untuk menunjang program prioritas Bahteramas seperti pendidikan, kesehatan gratis, dan block grant yang mencapai kurang lebih Rp 300 miliar. Nur Alam menjelaskan, ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam KEK. Pertama, optimalisasi sumber daya mineral dalam rangka peningkatan nilai tambah. Menururtnya, selama ini yang kita jual adalah bahan baku. Siapa yang mengambil peningkatan nilai itu, lagi-lagi ke Pulau Jawa, paling dekat Sulawesi Selatan. Sementara jika bahan baku itu kita proteksi mungkin akan berlipat ganda hasilnya. Kedua, pemerintah daerah ingin memaksimalkan penerimaan negara melalui pajak, retribusi, bagi hasil, serta dana-dana pembangunan masyarakat sesuai ketentuan yang peraturan perundang-undangan. Dia mengatakan bahwa ada pergerakan pertumbuhan ekonomi, multiplayer effect akan terjadi, sehingga dapat menimbulkan efek domino yang lebih luas. Ketiga, lanjut Nur Alam, pemerintah daerah ingin agar dalam pengelolaan sumber daya alam betul-betul memperhatikan pengelolaan lingkungan hidup sehingga ada pola pembangunan berkelanjutan, tidak merusak lingkungan seperti pengalaman-pengalaman yang terjadi selama ini. Ketiga tujuan pembangunan tersebut dalam rangka

mewujudkan percepatan pembangunan daerah yang berkeadilan, melalui pemantapan pelaksanaan kebijakan pemerintah tentang pro poor, pro job, dan pro growth yang biasa disebut triple track serta peningkatan kemandirian daerah.
www.sultrainfo.com http://www.rrikendari.co.id/component/content/article/246-nuralam-diminta-memaksimalkan-penataan-pemerintahanya-di-tahun-ke-tiga.html

Anwar Adnan Saleh


Anwar Adnan Saleh (lahir di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 20 Agustus 1948; umur 62 tahun) adalah politikus dan Gubernur Sulawesi Barat. Pada 28 Agustus 2006, dia dipastikan memenangi pilkada Sulawesi Barat bersama Muhammad Amri Sanusi sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat. Keduanya dilantikMenteri Urusan Dalam Negeri M. Ma'ruf pada 14 Desember 2006 di Kompleks Rumah Adat MandarMamuju. Beberapa pihak menolak hasil pemilihan kepala daerah, karena menilai terjadi kecurangan-kecurangan berkaitan seputar pemilihan. Meskipun demikian, ia tetap dinyatakan menang dan dilantik dengan penjagaan keamanan yang sangat ketat seputar tarik-ulur soal kemenangannya. Masa jabatannya direncanakan berakhir pada 2011. Sebagai seorang politikus Golkar, ia pernah menjabat sebagai Anggota DPR periode 1999-204 dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara. Setelah Sulawesi bagian barat memisahkan diri lewat otonomi daerah, ia mencalonkan diri sebagai gubernur daerah itu. Ketika menjabat sebagai anggota DPR, ia duduk di Komisi IV yang membidangi transportasi. Ia menikah dan ayah dua anak.

Dr. M. Saleh Latuconsina (1998-2003)


M. Saleh Latuconsina (lahir di Ambon, Maluku, 15 Juli 1948; umur 62 tahun) adalah Gubernur Maluku periode 1997-2002. Ia menjadi Gubernur Maluku menggantikan M. Akib Latuconsina. Ia menamatkan pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung dan melanjutkan S2 dan S3 di Perancis. Ia memulai karier di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi sejak tahun 1973. Tahun 1989-1992 menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi kemudian tahun 1992-1997 menjadi Ketua Bappeda Provinsi Maluku.

Brigjen TNI (purn) Karel Albert Ralahalu (2003-2008 & 2008-2013)


Tanggal 15 september 2003 merupakan momen yang bersejarah bukan saja bagi masyarakat Maluku tetapi juga bagi Keluarga Karel Alberth Ralahalu. Betapa tidak seorang anak petani yang awalnya berkarier di Militer selama puluhan tahun dilantik menajdi Gubernur Maluku periode 2003-2008. Dia pertama kali merasakan pendidikan sekolah di Sekolah Rakyat (SR). Diakui bahwa dirinya adalah anak seorang petani yang kurang mampu dan berasal dari Desa Allang, diujung Pulau Ambon (masuk dalam wilayah Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah). Masa-masa prihatin dalam kehidupan dilaluinya sejak kecil hingga menyelesaikan pendidkan SMA nya. Masa-masa tersebut mulai berubah pada saat dirinya berhasil menyelesaikan pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) pada tahun 1972. Setelah berkarir di bidang militer khususnya TNIAD hingga menyandang pangkat sebagai perwira tinggi berbintang satu (Brigjen TNI) dan sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staf Kodam XVII/Trkora di Irian Jaya (Papua), maka pada tahun 2001, Karel Albert Ralahalu memasuki masa purnawiraan dan mengakhiri tugasnya di TNI-AD. Karel Albert Rarahalu juga sempat menjadi Manajer dan Kepala Kantor PT. Freeport Indonesia di Jayapura, Irian Jaya (Papua). Demikianlah, setelah menyampaikan Visi dan Misi sebagai calon Gubernur Maluku periode 2003-2008 dan melewati berbagai persyaratan serta pemilihan yang berjalan a lot dan menegangkan, akhirnya Brigjen TNI (Pur) Karel Alberth Ralahalu bersama pasangannya Drs. Muhammad Abdullah Latuconsina, terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku periode 2003-2008.
sumber http://www.malukuprov.go.id

J.P. Solossa
Dr. Jacobus Perviddya Solossa, M.Si. atau lebih dikenal dengan panggilan J.P. Solossaatau Jaap Solossa (lahir di Mefkajim Ayamaru, Sorong, Papua Barat, 8 Mei 1948 meninggal di Jayapura, Papua, 19 Desember 2005 pada umur 57 tahun) adalah Gubernur Papua yang menjabat pada tahun 2001-2005. Solossa dikenal sebagai tokoh yang rajin menuntut diadakannya otonomi khusus bagi Provinsi Papua yang kaya akan sumber daya alam namun masih sangat miskin pengembangan. Solossa adalah seorang doktor ilmu sosial lulusan Universitas Padjadjaran (2005). Sebelum meraih gelar tersebut, ia terlebih dahulu lulus sebagai Sarjana Muda Administrasi Negara diUniversitas Cendrawasih pada tahun 1973. Pada tahun 1986, ia meraih

gelar Sarjana Administrasi Negara di universitas yang sama. Kemudian pada tahun 2000, Solossa mendapatkan gelar magister di bidang ekonomi pembangunan dari Universitas Gadjah Mada. Ia memulai karier politiknya dengan bergabung bersama Golkar. Ia menjadi anggota DPR sejak tahun 1997. Sekitar setahun memasuki masa bakti keduanya sebagai anggota DPR, ia memenangkan pemilu gubernur Papua pada tahun 2000 (wakil gubernur: Constant Karma). Masa jabatannya berakhir pada 23 November2005, namun sejak 22 November, Menteri Dalam Negeri menunjuknya menjadi pejabat sementara untuk persiapan menghadapi pemilu gubernur pada tahun 2006. Solossa sendiri adalah calon gubernur dalam pemilu tersebut, berpasangan dengan Paskalis Kosy. Dalam pemilu ini, program utamanya adalah pengembangan ruas jalan strategis di Papua. Solossa meninggal dunia di Rumah Sakit Dok Dua, Kota Jayapura, Senin 19 Desember 2005 sekitar pukul 21.00 WIT. Salossa diduga meninggal karena serangan jantung. Kantor Berita Antara melaporkan, sebelum meninggal dunia Solossa menghadiri acara reuni sekaligus peringatan ulang tahun SMA Negeri 2 Jayapura. Solossa tercatat sebagai salah seorang alumni sekolah tersebut. Solossa meninggalkan acara sekitar pukul 20.30 WIT. Ia meninggal dunia di tengah peliknya masalah di Papua, di antaranya masalah perbatasan dan Organisasi Papua Merdeka, pemekaran wilayah, otonomi daerah, keterbelakangan sebagian warga Papua, dan sesaat sebelum ia meninggal, masalah kelaparan di Yahukimo. Solossa menikah dengan Emma Jacomina Maury Solossa. Dari pernikahannya tersebut, pasangan ini memperoleh dua orang anak, Ekatherma dan Aquino Solossa. Solossa juga adalah paman dari Boaz dan Ortizan Solossa, yang merupakan pemain sepak bola dalam tim nasional Indonesia. Sebelum menjabat sebagai gubernur Papua, Solossa telah dikenal aktif sebagai pembina sepak bola di Papua. Ia menjabat sebagai manajer tim sepak bola PON Papua pada PON 1996. Kemudian saat Persipura Jayapura menjadi juara Liga Indonesia 2005, Solossa juga adalah Ketua Umum tim.

Sodjuangan Situmorang (2005-2006)


Setelah JP Solossa meninggal, Papua mendapat gubernur baru. Dia adalah Sodjuangan Situmorang yang dilantik menjadi Penjabat Gubernur Papua. Tapi selain jadi pejabat gubernur, Sodjuangan masih menjabat dua posisi lainnya. Walah! Pelantikan Sodjuangan sebagai Penjabat Gubernur Provinsi Papua dilakukan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M Ma'ruf di Depdagri, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (9/1/2006). Sodjuangan diangkat berdasarkan Keppres nomor 189/M Tahun 2005 tanggal 21 Desember 2005. Sodjuangan Situmorang adalah seorang politikus Indonesia. Ia menjabat sebagai Pejabat (Pj.) Gubernur Papua sejak 21 Desember 2005, menggantikan Andi Baso Basaleng yang menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Papua setelah meninggalnya J.P. Solossa pada awal Desember 2005. Saat dilantik sebagai Pejabat Gubernur Papua, ia masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemerintahan Umum, Departemen Dalam Negeri, setelah diangkat dari jabatan sebelumnya sebagai Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan. Ia juga menjabat sebagai Ketua Tim Asistensi Aceh. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Pejabat Gubernur Kalimantan Tengah pada awal 2005. Saat ini Sodjuangan masih menjabat sebagai Dirjen Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri. Ia juga menjadi Ketua Tim Asistensi Aceh. Sebagai Penjabat Gubernur Papua, Sodjuangan menggantikan JP Solossa yang meninggal pada Senin 19 Desember 2005 lalu. Ia juga menggantikan Sekretaris Daerah Papua Andi Baso Basaleng yang sebelumnya menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Papua. Dalam pelantikan itu Mendagri mengatakan, penjabat gubernur sifatnya hanya sementara untuk mengawal terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan di Papua sebelum terpilihnya gubernur dan wakil gubernur Papua yang definitif. Sekadar tahu, Pilkada Papua dijadwalkan digelar pada 14 Februari 2006. Mendagri juga mengingatkan, penjabat gubernur harus netral, membantu serta memfasilitasi penyelenggaraan pilkada. Dia juga menekankan agar kepala daerah tidak sering bepergian ke Jakarta.

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/09/time/111553/idn ews/515247/idkanal/10