You are on page 1of 16

Melihat perkembangan dunia usaha yang banyak bermunculan dan tumbuh dengan semakin cepat, hal ini merupakan

suatu dampak yaitu yang ditandai dengan semakin meningkatnya suatu persaingan usaha yang kompetitif. Menghadapi persaingan tersebut, perusahaan atau pimpinan perusahaan dituntut untuk mampu menciptakan atau meningkatkan nilai perusahaan serta mampu untuk mengelola faktor-faktor produksi yang ada secara efektif dan efisien agar tujuan suatu perusahaan tercapai. Dalam hal ini pula perusahaan juga dituntut untuk mampu menentukan kinerja usaha yang baik, sehingga perusahaan akan dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Adapun yang menjadi tujuan dari perusahaan itu adalah untuk mencapai atau memperoleh laba yang maksimal dan optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan modal kerja yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien. Modal kerja itu sendiri mengandung elemen-elemen aktiva lancar, salah satu diantaranya terdiri dari piutang, elemen tersebut sangat dibutuhkan dalam setiap operasi perusahaan sehari-hari.

PERTEMUAN KE-10 MATA KULIAH : ANALISA LAPORAN KEUANGANFAKULTAS EKONOMIPROGRAM STUDI : AKUNTANSIMateri :PIUTANG DAN PENDAPATANPerputaran Piutang Perputaran piutang timbul karena munculnya piutang. Piutang adalahmerupakan aktiva kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat daridilaksanakaannya politik penjualan kredit. Politik penjualan kredit ini merupakanpolitik yang biasa dilakukan dalam dunia bisnis untuk merangsang minat paralangganan. Jadi politik ini sengaja dilakukan untuk memperluas pasar danmemperbesar hasil penjualan. Tentu saja dengan politik penjualan kredit ini akanmenimbulkan resiko bagi perusahaan akan tidak dapat ditagihnya sebagian ataubahkan mungkin seluruh dari piutang tersebut. Oleh karena itu maka lalumemperhitungkan biaya atas resiko tidak dapat ditagihnya piutang tersebutdalam bad debt expense. (Gitosudarmo dan Basri,2000:83)

Politik penjualan kredit dapat menimbulkan keuntungan-keuntungan dalambentuk : a)Kenaikkan hasil penjualan b)Kenaikkan Laba Hal ini adalah sebagai akibat dari kenaikkan dalam hasilpenjualan akan dapat menimbulkan kenaikkan pada laba perusahaan. c)Memenangkan persaingan. Dalam dunia bisnis saat ini akan hampir semua perusahaan melaksanakan politik penjualan kredit ini. Oleh karena ituuntul menjaga posisi perusahaan didalam persaingan maka haruslahdilakukan politik penjualan kredit penjualan tersebut, apabila tidak inginmerosot dalam posisi persaingan dipasar. Politik penjualan yang agresif akandapat merangsang minat calon konsumen akan dimungkinkan

untukmemakai dan menikmati kegunaan barang yang dibelinya tanpa harusPusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

mengluarkan uang yang besar pada saat membeli, sehingga pembeli dapatmenikmati sekarang juga dengan membayarnya nanti dikemudian hari.Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1.Volume Penjualan KreditMakin besar jumlah penjualan kredit dari keseluruhan penjualan akanmemperbesar jumlah piutang dan sebaliknya makin kecil jumlahpenjualan kredit dari keseluruhan piutang akan memperkecil jumlahpiutang. 2.Syarat Pembayaran Bagi Penjualan KreditSemakin panjang batas waktu pembayaran kredit berarti semakin besar jumlah piutangnya dan sebaliknya semakin pendek batas waktupembayaran kredit berarti semakin kecil besarnya jumlah piutang. 3.Ketentuan Tentang Batas Volume Penjualan KreditApabila batas maksimal olume penjualan kredit ditetapkan dalam jumlahyang relatif besar maka besarnya piutang juga semakin besar. 4.Kebiasaan Membayar Para Pelanggan KreditApabila kebiasaan membayar para pelanggan dari penjualan kreditmundur dari waktu yang dipersyaratkan maka besarnya jumlah piutangrelatif besar.5.Kegiatan Penagihan Piutang Dari Pihak PerusahaanApabila kegiatan penagihan piutang dari perusahaan bersifat aktif danpelanggan melunasinya maka besarnya jumlah piutang relatif kecil, tetapiapabila kegiatan penagihan piutang bersifat pasif maka besarnya jumlahpiutang relatif besar.Dengan dilaksanakannya penjualan secara kredit yang kemudianmenimbulkan piutang, maka perusahaan sebenarnya tidak terlepas daripenanggungan resiko berupa biaya. Biaya yang timbul akibat dari adanyapiutang adalah :1)Biaya Penghapusan2)Biaya Penumpulan Piutang3)Biaya Administrasi4)Biaya Sumber Dana Manajemen Piutang Didalam kegiatan manajemen piutang mencakup kegiataan :Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

a)Perencanaan jumlah dan pengumoulan piutang b)Pengendalian piutang c)Penggunaan ratio-ratio Klasifikasi Piutang Banyak perusahaan menjual secara kredit agar dapat menjual lebih banyakproduk atau jasa. Piutang yang timbul dari penjualan semacam itu biasanyadiklasifikasikan sebagai piutang atau wesel tagih.

istilah perputaran piutangmeliputi semua klaim dalam bentuk uang trhadap entitas lainnya, termasukindividu, perusahaan, atau organisasi lainnya. piutang ini biasanya memilikibagian yang signifikan dari total aktiva lancar perusahaan. (Niswonger, dkk, 1999: 324).

Piutang UsahaTransaksi paling umum yang menciptakan piutang adalah penjualan barangdagang atau jasa secara kredit. piutang dicatat dengan mendebet akunpiutang usaha. piutang usaha (account receivebles) semcam ini normalnyadiperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang relatif pendek, seperti30 atau 60 hari. piutang usaha diklasifikasikan dalam aktiva lancar.

Wesel TagihSepanjang wesel tagih diperkirakan akan tertagih dalam setahun, makabiasanya diklasifikasikan dalam neraca sebagai aktiva lancar. wesel tagih(notes receivebles) adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan, dimanapelanggan dimaksud telah menerbitkan surat utang formal kepadaperusahaan.Promes atau wesel biasanya digunakan untuk periode kredit lebih dari enampuluh hari. sebagai contoh, sebuah dealer mobil atau perabotan rumahtangga biasanya meminta uang muka pada saat penjualan dan menerimapromes untuk sisanya. promes atau wesel semacam itu umumnyamengharuskan pelanggan untuk melakukan pembayaran secara bulanan.Promes biasanaya digunakan untuk menyelesaiakan piutang usahapelanggan. biasanya wesel tagih dan piutang usaha berasal dari transaksipenjualan, maka hal itu kadang-kadang disebut piutang dagang (tradereceivebles). kecuali tidak ada keterangan lain, kami akan mengasumsikanbahwa semua wesel tagih dan piutang usaha dalam bab ini berasal daritransaksi penjualan.Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN +

Jenis-Jenis Piutang

Piutang Dagang (Account Receivables) yaitu piutang yang timbul dari penjualan kredit barang atau Jasa yang merupakan usaha pokok perusahaan. Bila piutang timbul dari penjualan asset perusahaan, pemberian pinjaman kepada pihak tertentu maka piutang tersebut tidak termasuk golongan piutang dagang

Wesel Tagih yaitu Piutang yang secara formil didukung oleh penjanjian untuk membayar secara tertulis (Notes Payable)

Piutang non dagang yaitu piutang yang timbul akibat penjualan asset, pemberian pinjaman kepada pihak tertentu. Misalnya pinjaman karyawan.

Piutang timbul karena adanya transaksi penjualan barang atau jasa secara kredit. Ini berarti perusahaan mempunyai hak klaim terhadap seseorang atau perusahaan lain. piutang termasuk dalam golongan aktiva lancar. Perusahaan pasti memiliki beberapa pelanggan yang tidak sanggup membayar atau akan melunasi hutang mereka. Rekening pelangggan seperti itu umumnya disebut piutang tidak tertagih atau piutang ragu-ragu, dan merupakan suatu kerugian atau beban penjualan secara kredit. Ada dua metode untuk mengukur piutang raguragu yaitu metode cadangan dan metode penghapusan langsung Dalam metode cadangan menyaratkan pengakuan piutang ragu-ragu dalam periode dimana terjadi penjualan, bukan dalam periode terjadi penghapusan sesungguhnya. Metode cadangan ini mencatat kerugian piutang dagang berdasarkan estimasi. Untuk menentukan jumlah cadangan piutang ragu-ragu dapat dipakai dua dasar yaitu persentase penjualan (pendekatan laba-rugi) dan persentase piutang dagang (pendekatan neraca). Sedangkan metode penghapusan langsung, kerugian piutang ragu-ragu tidak diestimasi dan tidak mengunakan rekening cadangan, karena langsung dicatat debet beban penghapusan piutang dan kredit piutang usaha. Perputaran piutang adalah rasio yang memperlihatkan lamanya untuk mengubah piutang menjadi kas. Putaran piutang dihitung dengan membagi penjualan kredit bersih dengan saldo rata-rata piutang. Saldo rata-rata piutang dihitung dengan menjumlahkan saldo awal dan saldo akhir dan kemudian membaginya menjadi dua. Tujuan yang paling mendasar dari operasi perusahaan adalah perusahaan harus memperoleh laba yang besar. Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Ada banyak ukuran profitabilitas contohnya : Profit Margin, ROA, ROE, dan lain-lain. Alat yang umum digunakan untuk mengevaluasi profitabilitas dihubungkan dengan penjualan yaitu laporan laba rugi dimana setiap posnya dinyatakan dalam persentase penjualan. Dengan demikian dalam memperoleh piutang dapat ditagih sangat berhubungan dengan profitabilitas perusahaan. Karena profitabilitas perusahaan menunjukkan suatu perbandingan antara laba dan penjualan. Maka berdasarkan uraian-uraian di atas yang menggerakkan pikiran penulis untuk turut serta membahas tentang perputaran piutang terhadap profitabilitas. Sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan penulis, maka penulis tertarik untuk menulis skripsi dengan judul PENGARUH PERPUTARAN AKTIVA TETAP DAN PERPUTARAN PIUTANG TERHADAP PROFITABILITAS ( STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN YANG LISTING DI BEJ )

Analisis terhadap data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan bantuan statistic yaitu analisis regresi dan korelasi. Analisis regresi meneliti seberapa besar

pengaruh perputaran piutang terhadap rentabilitas perusahaan, sedangkan analisis korelasi menjelaskan seberapa kuat hubungan antara besar variabel bebas dan variabel terikat. a. Variabel Bebas ( X ) Perputaran Piutang ( X ) diukur berdasarkan perbandingan antara penjualan kredit dibagi dengan rata-rata piutang, dimana rata-rata piutang di peroleh dari saldo piutang awal di tambah saldo piutang akhir perusahaan dibagi 2. Tingkat Perputaran Piutang ( Receivable Turnover) = Penjualan Kredit

Rata-rata Piutang

Rata-rata Piutang dapat diketauhiu dengan cara : Rata-rata Piutang = Piutang Awal + Piutang Akhir 2

Untuk berikut:

mengetahui

hari

rata-rata

pengumpulan

piutang

sebagai

Rata-rata Perputaran Piutang =

360 Tingkat Perputaran Piutang

b. Variabel Terikat ( Y ) Return on Asset / ROA ( Y ) sering disebut juga rentabilitas ekonomi merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan

semua aktivitas yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini laba yang dihasilkan adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT.

PT Astra Agro Lestari Tbk PT Astra Agro Lestari Tbk adalah divisi agribisnis dari kelompok usaha Astra. Aktivitas utama dari perusahaan adalah pada perkebunan dan pengolahan kelapa sawit menjadi CPO. Saat ini perusahaan mempunyai luas lahan yang telah ditanami seluas 163 ribu hektar. Pabrik minyak goreng yang dimilikinya terdapat di Sumatera Utara. Sedangkan perkebunan tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. PT Astra Agro Lestari Tbk didirikan dengan nama PT Suryaraya Cakrawala berdasarkan Akta Notaris Ny. Rukmasanti Hardjasatya, S.H., No. 12 tanggal 3 Oktober 1988, yang kemudian berubah menjadi PT Astra Agro Niaga berdasarkan Akta perubahan No. 9 tanggal 4 Agustus 1989 dari notaris yang sama. Ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah perkebunan, perdagangan umum, perindustrian, pengangkutan, jasa dan konsultan. PT Astra Agro Lestari Tbk mempunyai investasi pada anak perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan industri kelapa sawit dan karet. Kantor pusat Perusahaan dan anak perusahaan berlokasi di Jalan Pulo Ayang Raya Blok OR no. 1, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. Perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk berlokasi di Kalimantan Selatan dan pabrik minyak goreng berlokasi di Sumatra Utara. Perkebunan dan pabrik pengolahan anak perusahaan berlokasi di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Perusahaan mulai beroperasi komersial pada tahun 1995. Luas areal Hak Guna Usaha yang dimiliki Perusahaan dan anak perusahaan adalah seluas 228.772 hektar (2007: 231.508 hektar) dengan luas areal tertanam seluas 194.217 hektar (2007: 182.470 hektar). Artikel ini pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia hal F2 dan menjadi materi Talk Show Capital Market Review di PAS FM 92,4 pada Senin 4 Mei 2009. Profil emiten PT Astra Agro Lestari Tbk. adalah perusahaan dibidang pertanian, didirikan pada tahun 1981. Bisnis utamanya adalah Crude Palm Oil (CPO). CPO didapat dengan mengolah kelapa sawit. Pada desember 1997 perusahaan melakukan listing di BEJ dan BES dengan kode AALI berada pada sektor pertanian dengan sub sektor perkebunan. Sebagian besar sahamnya (lebih dari 79%) dimiliki oleh PT Astra Internasional, sisanya dimiliki oleh publik. Pada tahun 2004 perusahaan mendivestasi semua bisnisnya yang selain CPO. Pada tahun 2008 luas lahan kelapa sawit perusahaan mencapai 500 ribu hektar, dengan kapasitas produksi CPO mencapai 990 ribu ton/tahun. Profil sektor

Sampai 2007, harga CPO dunia terus mengalami kenaikan, seiring dengan meningkatnya permintaan dari China dan India yang mencoba mengeksploitasi sumber daya alam nabati, karena tekanan kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi. Namun akibat pengaruh krisis finansial di tahun 2008 harga-harga berbagai komoditas dunia mengalami penurunan, termasuk harga CPO ini. Pada bulan Agustus 2008 harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus merosot sejak dua bulan terakhir. Pada oktober 2008, harga CPO di bursa Rotterdam hanya berada di kisaran US$ 733 per ton. Padahal, harga rata-rata bulan sebelumnya masih US$ 1.175 per ton. Highlights 2002-2009 Sampai dengan perdagangan 27 April 2009, saham AALI ditutup di posisi Rp35,300 per lembar saham. Saham AALI sempat berada pada level tertingginya pada tanggal 26 Ferbuari 2008 yaitu Rp35,300 per lembar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp106 miliar.

Sumber: CAPITAL PRICE Sepanjang 2002-2007, AALI mampu meningkatkan sales dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 24,02%. Profitabilitas AALI juga meningkat dengan CAGR sebesar 37,66% untuk operating profit dan 53,78% untuk net income. Pendapatan dan Laba Sales AALI terus meningkat hingga mencapai level tertingginya pada 2007 yaitu sebesar Rp5,96 triliun seiring naiknya harga CPO dunia. Demikian juga dengan marjin laba bersih atau net profit margin (NPM)), yang mewakili tingkat efektivitas perusahaan dalam

mengelola biaya-biaya untuk mengkonversi sales menjadi net income, meningkat pada 2007 hingga menjadi sebesar 33,11%.

Sumber: CAPITAL PRICE Sepanjang tahun 2008, PT Astra Agro Lestari (AALI) membukukan kenaikan laba bersih hingga 33% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,63 triliun dari sebelumnya Rp 1,97 triliun sementara untuk penjualan bersih tercatat naik 37% dari sebelumnya Rp 5,96 triliun menjadi Rp 8,12 triliun, dan untuk laba usaha tercatat naik 16% menjadi Rp 3,38 triliun sedangkan sebelumnya sebesar Rp 2,9 triliun. Sedangkan pada triwulan satu 2009, AALI mencatat penurunan penjualan bersih sebesar 38% atau turun menjadi Rp 1,41 triliun, sementara pada tahun 2008 sebesar Rp 2,27 triliun. Sedangkan untuk laba usaha pun juga mengalami penurunan dari Rp 1,21 triliun menjadi Rp 278,72 miliar, atau sebesar 77%. Sedangkan laba bersih juga tercatat turun 74%, dari Rp 827,05 miliar menjadi Rp 217,72 miliar. Total Asset & Equity AALI membukukan CAGR total assets dan total equity masing-masing sebesar 25,45% dan 15,44%. Selama 2002-2007, debt-to-assets ratio (DAR), yang mewakili penggunaan hutang dalam proporsi aset AALI, berfluktuasi pada kisaran 17%-50%. Pada tahun 2002, debt-toassets ratio (DAR) hampir mencapai 50%, sebelum akhirnya menurun pada tahun-tahun berikutnya. Sejak tahun 2005, DAR perusahaan berada di bawah nilai 25%.DAR terendah di capai di tahun 2005 sebesar 17,83%

Sumber: CAPITAL PRICE CAPITAL PRICE menganalisis ukuran penggunaan leverage perusahaan; rasio yang menggambarkan penggunaan biaya-biaya tetap (fixed costs) dalam perusahaan. Terdapat tiga rasio leverage: degree of operating leverage (DOL), degree of financial leverage (DFL), dan degree of combined leverage (DCL). DCL menggambarkan pengaruh financial leverage terhadap net income perusahaan. Financial leverage melibatkan penggunaan fixed costs untuk pendanaan kegiatan perusahaan dan biaya-biaya signifikan sebelum net income. Semakin tinggi DFL, semakin rentan net income terhadap perubahan operating profit, dengan asumsi ceteris paribus. DCL AALI berada pada level tertinggi pada tahun 2004. ROE, ROA dan TAT Nilai return on equity (ROE) perusahaan terus meningkat, dengan nilai tertinggi dicapai tahun 2007 (48,60%) dan 2004 (38,77%) Demikian pula, return on assets (ROA) perusahaan terus meningkat dari 8,79% pada 2002 sampai menjadi 36,87% di tahun 2007. ROE menggambarkan ukuran profitabilitas perusahaan atas uang yang diinvestasikan oleh pemegang sahamnya. Adapun ROA menggambarkan ukuran profitabilitas relatif terhadap keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan, juga menggambarkan tingkat efisiensi manajemen perusahaan dalam menggunakan aset perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Total assets turnover (TAT) AALI juga terus mengalami peningkatan, dari 0,78 (2002) hingga mencapai 1,11 (2007). Rasio TAT mewakili ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset yang dimiliki untuk menghasilkan sales. Semakin tinggi rasio TAT semakin efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya.

Sumber: CAPITAL PRICE Price-earnings ratio (PER) menjelaskan ekspektasi pasar terhadap perusahaan; semakin tinggi PER, semakin tinggi pasar bersedia membayar untuk tiap rupiah pendapatan tahunan yang dihasilkan perusahaan. PER perusahaan cenderung stabil pada April 2003 April 2006 (7 12), kemudian meningkat pesat di April 2007 (27,16) Price to book value (PBV) menjelaskan besarnya premium (tambahan keuntungan) yang bersedia dibayarkan oleh pasar di atas nilai buku ekuitas perusahaan. Antara tahun 2003-2006, PBV AALI juga terus meningkat dari 1,59 (April 2003) 8,66 (April 2008). Market Value Added dan Market Risk Kinerja saham perusahaan terus meningkat secara signifikan, di tandai dengan meningkatnya shareholder market value added (MVA) terhadap equity book value (BV) perusahaan dari 58,92% (April 2003) menjadi di atas 766% (April 2008). Rata-rata return (annualized) saham perusahaan pada periode ini juga terus meningkat, dari -12,89% (April 2003) hingga mencapai 99,78% (April 2008), walaupun sempat mengalami penurunan di tahun 2006. MVA/BV adalah selisih antara harga saham (market value) perusahaan dengan nilai buku ekuitas (book value). Nilai MVA/BV yang positif memberikan indikasi AALI telah memberikan nilai tambah terhadap nilai buku ekuitasnya. Makin tinggi nilai MVA makin baik. Setelah mengalami penurunan signifikan pada April 2004, market risk perusahaan cenderung berfluktuasi pada kisaran 0,62 1,28. Market risk tertinggi dialami di April 2003 sebesar 1,74. Tingkat volatilitas return perusahaan pada periode ini juga berfluktuasi di kisaran 31% 58%. Market risk (yang dinotasikan dengan koefisien beta) menggambarkan risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, atau risiko sitematis (systematic risk). Market risk yang bernilai mendekati 1 mengindikasikan harga saham perusahaan berfluktuasi hampir sama

dibandingkan fluktuasi pasar. Ketika pasar (IHSG) bergerak sebesar 1, maka AALI bergerak sebesar 1. Gambar di atas sekaligus menggambarkan hubungan risk-return pasar; menghubungkan risiko pasar dan return pasar di atas nilai bukunya. Market Perception 2008 Market perception map merupakan diagnostic tools yang dikembangkan CAPITAL PRICE untuk mengkuantifikasi persepsi atau ekspektasi pasar dalam rangka penciptaan nilai (value) perusahaan. Metrik ini melakukan benchmarking kinerja perusahaan dengan pasar tertentu melalui tiga dimensi: kinerja keseluruhan, profitabilitas, dan pertumbuhan. Dan bila dilihat dari Market Perception Map, pada tahun 2008 perusahaan berada pada kuadran 1 yang menempatkan perusahaan pada level excellent value manager.

Sumber: CAPITAL PRICE Sejak April 2004, ekspektasi pasar terhadap profitabilitas perusahaan jangka pendek (CP) dan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan (FGO) perusahaan selalu jauh berada di atas rata-rata perusahaan lainnya. Disusun bersama ALI MURTADO (Financial Analyst CAPITAL PRICE) Sistem Informasi Akuntansi Penagihan Piutang Penagihan piutang dari penjualan kredit dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain :

1. Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit. 2. Dokumen yang digunakan dalam sistem penagihan piutang. 3. Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur.

Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit adalah : a. Fungsi Secretariat Fungsi ini bertanggungjawab dalam penerimaan cek dan surat pemberitahuan atau remittance advice melalui pos dan para debitur perusahaan. Fungsi ini juga bertugas membuat daftar surat pemberitahuan yang diterima bersama dari para debitur dan fungsi ini berada di tangan bagian sekretariat. b. Fungsi Penagihan Fungsi ini bertanggungjawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi dan fungsi ini berada di tangan bagian penagihan. c. Fungsi Kas Fungsi ini bertanggungjawab atas penerimaan cek dari fungsi sekretariat atau fungsi penagihan dan menyetorkan kas yang diterima dari berbagai fungsi tersebut segera ke bank dalam jumlah penuh dan fungsi ini berada di tangan bagian kas. d. Fungsi Akuntansi Fungsi ini bertanggungjawab dalam pencatatan penerimaan kas dari piutang ke dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu piutang dan fungsi ini berada di tangan bagian akuntansi.

e. Fungsi Pemeriksa Intern Fungsi ini bertanggungjawab dalam melaksanakan perhitungan yang ada di tangan fungsi kas secara periodik, dan melakukan rekonsiliasi bank, untuk mengecek ketelitian catatan kas yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi, dan fungsi ini berada di tangan bagian pemeriksa intern.

Dokumen

yang

digunakan

dalam

sistem

penagihan

piutang

Dokumen yang digunakan dalam sistem penagihan piutang adalah : 1. Surat Pemberitahuan Surat pemberitahuan merupakan dokumen untuk memberitahu maksud

pembayaran yang akan dilakukan. 2. Daftar Surat Pemberitahuan Daftar surat pemberitahuan merupakan rekapitulasi penerimaan kas. 3. Bukti Setor Bank Bukti setor bank merupakan bukti penyetoran kas yang diterima dari piutang ke bank. 4. Kuitansi Kuitansi merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan bagi para debitur yang telah melakukan pembayaran utang mereka.

Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur :

1. Penerimaan piutang mengirimkan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada bagian penagihan. 2. Bagian penagihan mengirimkan penagih untuk melakukan penagihan kepada debitur. 3. Bagian penagihan menerima cek atas nama dalam surat pemberitahuan dari debitur. 4. Bagian penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang. 5. Bagian kas mengirim kuitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada debitur. 6. Bagian kas menyetor ke bank, setelah cek atas cek tersebut dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang. 7. Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.

Sistem pengendalian intern yang baik mengharuskan agar semua penerimaan kas dari debitur harus dalam bentuk cek atas nama atau giro bilyet. Penerimaan kas dari debitur dalam bentuk uang tunai memberikan peluang kepada penagih untuk melakukan penyelewengan. Bentuk penerimaan kas melalui penagih perusahaan ini yang biasa dilaksanakan di Indonesia, sedangkan bentuk lain masih jarang dilakukan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Piutang Piutang merupakan aktiva yang penting dalam perusahaan dan dapat menjadi bagian yang besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto (2001:85-87) sebagai berikut : a. Volume Penjualan Kredit

Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besarnya volume penjualan kredit setiap tahunnya bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang. Makin besarnya jumlah piutang berarti makin besarnya resiko, tetapi bersamaan dengan iu juga memperbesar profitability.

b. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit daripada pertimbangan profitabilitas. Syarat yang ketat misalnmya dalam bentuk batas waktu pembayaran yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat. c. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau plafond bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi plafond yang ditetapkan bagi masing-masing langganan berarti makin besar pula dana yang diinvestasikan dalam piutang. Sebaliknya, jika batas maksimal plafond lebih rendah, maka jumlah piutang pun akan lebih kecil. d. Kebijaksanaan Dalam Mengumpulkan Piutang Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif, maka perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang, tetapi dengan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan lebih cepat tertagih, sehingga akan lebih memperkecil jumlah piutang perusahaan. Sebaliknya, jika perusahaan

menggunakan kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama, sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.

e.

Kebiasaan Membayar Dari Para Langganan Kebiasaan para langganan untuk membayar dalam periode cash discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan langganan membayar periode setelah cash discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih besar karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih lama untuk menjadi kas. Dengan dilaksanakannya penjualan secara kredit yang kemudian hari menimbulkan piutang, maka perusahaan sebenarnya tidak terlepas dari penanggungan resiko berupa biaya. Biaya yang timbul akibat dari adanya piutang adalah : 1. Biaya Penghapusan 2. Biaya Penumpulan Piutang 3. Biaya Administrasi 4. Biaya Sumber Dana