You are on page 1of 4

Menurut Lasswell, Politik adalah "Siapa Dapat Apa" SEPANJANG kita tahu, ilmuwan politik asal Amerika, Harold

D Lasswell, pada masanya cukup populer. Salah satu pendapatnya yang acapkali dikutip adalah pernyataan bahwa "politik ialah siapa dapat apa". Menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden 5 Juli 2004, pendapat ilmuwan politik itu semakin santer gaungnya di negeri kita. Bahwa politik akhirnya ialah siapa dapat apa. Kata "akhirnya" kurang tepat di sini. Karena ungkapan "politik ialah siapa dapat apa" tidak dipraktikkan pada "akhirnya", melainkan pada "awalnya". Pernyataan itu mula-mula terdengar wajar. Konsekuensi dari suatu koalisi. Pemilihan capres dan cawapres dilakukan lewat proses koalisi oleh semua pasangan. Logis alias masuk akal jika dalam perundingan dan kesediaan berkoalisi, ada deal, ada quid pro quo, ada "siapa dapat apa". Semua itu dianggap dan ditanggapi secara normal, wajar, dan biasa-biasa saja. Karena toh masih belum diketahui oleh publik, juga oleh partai atau pihak-pihak koalisi. Lagi pula, yang masih lebih mencuat adalah apa yang dilontarkan oleh Nurcholish Madjid, yakni platform. Landasan dan program bersama secara komprehensif dari visi, misi, rencana, program, tujuan, dan komitmen. KEMUDIAN dengan pertimbangan tidak mau membeli "kucing dalam karung", terdengar desakan agar pasangan capres dan cawapres kecuali mengumumkan "platformnya", juga menginformasikan kepada publik susunan kabinetnya, sekurangkurangnya posisi menteri kunci. Permintaan itu wajar, namun tidak sederhana untuk memenuhinya. Kenapa? Karena pemerintah hasil pemilu adalah pemerintah yang mendua, ya presidensial, ya parlementer. Sosok ganda itu ditambah oleh kenyataan, berdasarkan perolehan suara pemilu legislatif, tidak ada yang memperoleh suara mayoritas mutlak 50 persen plus satu. Mau tidak mau koalisi. Dualisme itu memengaruhi susunan kabinet. Tidaklah mungkin kabinet mendatang adalah kabinet presidensial sepenuhnya. Ya presidensial, ya koalisi. Dalam praktik susunan kabinet, hal itu bukankah berarti menteri yang menjadi pilihan bukan saja menteri yang kapabel dan kredibel ala teknokrat atau ala zaken kabinet, tetapi juga calon menteri yang partisan, yang dikehendaki partainya karena pertimbangan-pertimbangan politik. SEJAUH itu, pendapat sekaligus pernyataan Harold Lasswell bahwa politik ialah "siapa dapat apa" baru terdengar samar-samar, karena itu juga nyaris merupakan bahan pembicaraan umum. Persoalan berkembang lebih terbuka dan apa adanya ketika rapat pimpinan lengkap Partai Kebangkitan Bangsa akhirnya memutuskan mendukung "calon wakil presiden Salahuddin Wahid yang akan berpasangan dengan Wiranto dari Partai

Golkar". Dukungan itu masih disertai reserve, manakala pasangan Gus Dur-Marwah Daud bisa maju, dukungan dicabut. Dalam keterangannya kepada pers, Sekretaris Dewan Syuro PKB Arifin Djunaidi mengatakan, dukungan itu akan disertai pernyataan kerja sama politik secara tertulis antara PKB dan Golkar. Kerja sama syarikah dalam bentuk tertulis. Isinya perimbangan pembagian politik (political shares) secara jelas dan mengikat. Sekretaris Dewan Syuro tidak membantah bahwa salah satu materi kerja sama politik itu adalah pembagian kursi kabinet. Namun semua itu masih harus dibicarakan antara PKB dan Golkar. Sepanjang kita bisa mengikuti, inilah suatu persyaratan kerja sama yang konkret, yakni kerja sama politik yang menyangkut berbagai bidang dan materi termasuk pembagian kursi dalam kabinet. Hal yang normal dan wajar, jelas, dan apa adanya menurut pengertian politik seperti yang terungkap dalam pernyataan Lasswell, "kehidupan politik pada umumnya bermakna siapa dapat apa". MESKIPUN semua yang diputuskan oleh pengurus PKB adalah normal, wajar, dan umum, kita agak terperangah. Barangkali karena kita telanjur terbiasa menyebut sesuatu tidak secara lugas apa adanya, tetapi memakai bahasa kiasan. Mungkin juga ditambah pertimbangan lain. Pertimbangan lain bertalian dengan sebutlah semangat kondisi kita dewasa ini, terutama semangat reformasi. Kondisi krisis yang berasosiasi dan bersebab-akibat dengan pemahaman dan praksis kita perihal kekuasaan. Dari kekuasaan yang menguasai dan lebih mementingkan kekuasaan sebagai manifestasi egosentris menjadi kekuasaan yang mengabdi dan melayani. Dari kekuasaan yang melarutkan kepentingan umum menjadi kekuasaan yang melarutkan kepentingan pribadi. Dari persepsi kekuasaan feodal ke persepsi kekuasaan demokratis. Sebab pada waktu yang sama, argumen yang mendukungnya jelas. Mana bisa mewujudkan pengabdian dan pelayanan bagi kepentingan umum manakala tiada wewenang dan kekuasaan nyata dan sah di tangan. RASA perasaan kurang pas mungkin dipengaruhi pula oleh proses yang selama ini lebih berlaku pada kehidupan politik kita. Tiga puluh tahun lebih, tidak ada koalisi dan implikasinya pada pembagian kursi. Tahu jadi dan tahu beres. Koalisi sejak reformasi merupakan pengalaman baru yang notabene diwarnai oleh masalah-masalah lain seperti berlanjutnya krisis dan tidak efektifnya kepemimpinan. Pembagian kursi lazimnya dilakukan setelah pemilu. Kini, karena pergeseran sistem politik yang masih in the making, pembagian kursi koalisi dibicarakan sebelum kekuasaan itu berada di tangan lewat hasil pemilu yang demokratis. Secara positif kita akan menyatakan, inilah proses politik baru yang merupakan implikasi peralihan sistem dan juga merupakan akibat dari kenyataan politik yang memerlukan koalisi. Di satu pihak karena pemilu legislatif tidak menghasilkan partai yang memperoleh suara mayoritas mutlak. Akibatnya, untuk pemilu presiden dan wapres, tidak ada jalan lain kecuali membentuk koalisi.

Sementara itu, ya itulah politik. Bukan sekadar logika dan rasional, sekaligus rasa perasaan, kesantunan, dan orientasi. Sambil berjalan dan berpraksis, semakin kaya dan rumit saja pengalaman kita membangun kekuasaan yang berfalsafah, bersistem, dan berkerangka demokrasi. Perlu saling mengingatkan. Suatu keharusan untuk toleran dan positif terhadap kritik. Menerima kritik adalah bagian hakiki dari demokrasi.

Menurut Harold Lasswell, politik adalah kegiatan masyarakat yang berkisar pada masalah-masalah siapa memperoleh apa, kapan dan bagaimana (who gets what, when and how). Pengertian cakupan politik seperti itu memang tidak salah. Dalam kenyataan, persoalan politik selalu menyangkut siapa yang sedang mengejar apa. Kemudian juga kapan dan bagaimana yang dikejar itu dapat diperoleh. Sebagai misal, siapa saja yang ingin menjadi ketua partai? Kemudian kapan dan bagaimana kursi ketua partai itu dapat diraih? Dengan cara yang wajar atau tidak? Timing nya tepat atau tidak? Dan sebagainya. Peristiwa politik memang sarat dengan hal-hal seperti di atas. Siapa yang ingin menjadi anggota parlemen, gubernur, bupati, menteri, presiden, dsb., selalu menarik untuk dianalisis. Kemudian kelompok-kelompok politik mana saja yang mendukung siapa tersebut. Lantas masalah kapan dan bagaimana selalu merupakan masalah-masalah menarik yang menyertainya. Harold Lasswell menggunakan paradigma komunikasi dalam menjelaskan mengenai sistem politik. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu: 1. Komunikator (siapa yang mengatakan?) 2. Pesan (mengatakan apa?) 3. Media (melalui saluran/ channel/media apa?) 4. Komunikan (kepada siapa?) 5. Efek (dengan dampak/efek apa?). Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu. Seperti halnya politik, yang merupakan suatu alat untuk mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa yang menjadi kemauan kita.