You are on page 1of 4

Artikel Khutbah Jum'at :

TUNAIKANLAH AMANAH
Oleh: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Khutbah Pertama:












...






Kaum Muslimin Rahimakumullah!
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan kita.
Khususnya di zaman ini yang banyak cobaan dan ujian yang menimpa kaum Muslimin umumnya dan
Negara kita khususnya.
Di antara bentuk ketakwaan tersebut adalah menunaikan amanat yang telah dibebankan kepada kita
semua dalam Firman Allah Taala,






"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil,
sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin
laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan
perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 72-73).
Amanah ini sebenarnya telah ditawarkan kepada alam semesta, langit, bumi dan gunung. Namun
mereka semua takut memang-gulnya dan enggan menerimanya karena takut dengan azab Allah.
Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada Adam dan beliau menerimanya.
Ibnu Abbas berkata dalam menjelaskan pengertian amanah dalam ayat ini: Amanah adalah
kewajiban-kewajiban, Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, apabila mereka
menunaikannya, maka mereka mendapatkan pahala dan bila menyia-nyiakannya, maka mereka
diberi siksaan, lalu mereka menolaknya, bukan karena tidak taat kepada Allah namun karena
mengagungkan agama Allah.
Wahai hamba Allah! Amanat tersebut adalah beban syariat yang mencakup hak-hak Allah dan hakhak hambaNya. Siapa yang menunaikannya, maka dia mendapatkan pahala dan barangsiapa yang
menyia-nyiakannya, maka dia mendapat siksa.
Siapa yang memiliki kesempurnaan sifat amanah, maka ia telah menyempurnakan agamanya, dan
siapa yang tidak memilikinya, maka ia telah membuang agamanya, sebagaimana diriwayatkan oleh
Imam Ahmad, al-Bazzar dan juga ath-Thabrani dari hadits Anas bin Malik dan dinilai shahih oleh

Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami', beliau berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
bersabda,

"Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak
menjaga janjinya."
Oleh karena itu, sifat amanah menjadi sifat para nabi dan rasul. Perhatikanlah Firman Allah Taala,
ketika mengisahkan tentang nabi Nuh, Hud, dan Shalih,


.



"Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaku." (Asy-Syu'ara:107-108).
Demikian juga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan, bahwa semakin berkurang sifat
amanah, maka semakin berkurang juga cabang keimanan, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim
dari hadits Hudzaifah, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,



.
"Sesungguhnya amanah telah turun ke tengah hati-hati orang-orang, kemudian turunlah al-Qur`an,
sehingga mereka mengetahui al-Qur`an dan Sunnah. Kemudian Nabi shallallohu 'alaihi wasallam
menceritakan tentang hilangnya sikap amanah: seseorang tidur sebentar lalu amanah dicabut dari
hatinya sehingga tersisa bekasnya seperti bercak kecil, kemudian tidur kembali lalu dicabut amanah
dari hatinya sehingga tersisa seperti lepuhan luka, seperti bara api yang kamu tempelkan ke kakimu,
lalu kaki tersebut terluka bakar dan kamu lihat ia melepuh dan tidak ada apa-apanya. Kemudian
beliau mengambil kerikil dan ditempelkan ke kaki beliau. Lalu orang-orang berbai'at namun hampir
tak seorang pun menunaikan amanah hingga diberitakan bahwa pada bani Fulan terdapat seorang
yang amanah, hingga dikatakan kepada orang itu, 'Alangkah sabarnya, alangkah hebatnya dan
alangkah berakalnya!' Padahal di hatinya tidak ada sebiji sawi pun dari iman."
Demikianlah Allah mencabut sifat amanah dari hati seseorang dengan sebab meremehkan kewajiban
agama dan khianat terhadap hak-hak orang lain. Sebagaimana Allah Taala firmankan,

"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada
memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5).
Dari sini, jelaslah bahwa tauhid dan memberantas kesyirikan adalah amanah, amar makruf nahi
mungkar adalah amanah, harta adalah amanah yang tidak boleh dipakai untuk kemaksiatan, mata
kita adalah amanah yang harus dijaga dari memandang yang haram, dan seluruh anggota tubuh kita
adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara dari keburukan dan kemaksiatan.
Wahai Kaum Muslimin Rahimakumullah
Demikian juga keluarga dan anak-anak, mereka merupakan amanah yang harus ditunaikan dengan
mendidik mereka dengan pendidikan Islam, dan jangan dibiarkan hancur oleh globalisasi yang
menerpanya.
Ingatlah janji Allah kepada orang yang menunaikan amanah dan hak-haknya yang dijelaskan dalam
FirmanNya,


.





.








"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orangorang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang
akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al-Mu`minun: 8-11).
Ingat juga dengan sabda Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam dalam hadits yang hasan,











:




.






"Berilah jaminan kepadaku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga; apabila salah
seorang kalian berbicara maka jangan berdusta, apabila berjanji jangan mengingkari, apabila diberi
amanat jangan berkhianat, dan tundukkanlah pandangan kalian, peliharalah kemaluan kalian serta
jagalah tangan-tangan kalian." (HR. Ahmad).
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Perlu diingat oleh kita semua, bahwa menyia-nyiakan dan tidak menunaikan amanah, memiliki
implikasi buruk pada keadaan seseorang dan dapat menjadi sebab kerusakan masyarakat.
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang waktu kiamat? Beliau menjawab,

.






"Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat." (HR. al-Bukhari).
Oleh karena itu, bertakwalah wahai kaum Muslimin, peliharalah amanat dan tunaikanlah hak-hak
dan kewajiban seorang hamba serta jauhilah semua larangan Allah.








Khutbah Kedua






"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (An-Nisa`: 58).
Ayat yang mulia ini mencakup seluruh jenis amanah. Di antara yang terpenting adalah tugas,
pekerjaan, dan jabatan. Siapa yang menunaikan kewajiban yang Allah bebankan pada tugas dan
jabatan tersebut dan merealisasikan kemaslahatan kaum Muslimin, maka ia telah menunaikan
amanah dan berbuat kebaikan untuk akhiratnya, dan yang tidak menunaikannya dengan baik atau
mengambil suap dan korupsi menggunakan jabatan dan kedudukannya tersebut, maka ia telah
mengkhianati amanah dan mendapatkan bencana dan siksaan Allah serta di akhirat nanti, ia akan
dipermalukan. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,


;1648#&



"Apabila Allah mengumpulkan semua orang yang pertama hingga terakhir pada Hari Kiamat, maka
diangkat tinggi-tinggi tanda bagi orang yang berkhianat (atas amanahnya) dan diteriakkan, 'Inilah
pengkhianatan fulan bin fulan'." (HR. Muslim).
Demikian juga amanat yang dititipkan orang kepada kita, kita wajib menunaikannya sebagaimana
mestinya dan jangan berkhianat walaupun orang lain mengkhianati kita. Nabi Shallallahu alaihi
wasallam pernah bersabda,






"Tunaikan amanah kepada orang yang memberimu amanah dan janganlah mengkhianati orang yang
berkhianat kepada kamu." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi). ).


.








(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jumat Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul
Haq Jakarta).

Anggota Kelompok
1. A.Nizar Teddi Irwansyah
2. A.Nashikin Hartono
3. Tegar Aji Wiranto