Вы находитесь на странице: 1из 4

Keterbukaan antar-Agama sangat Penting Pengantar DALAM beberapa kesempatan sebelumnya kita sempat berbicara tentang agama secara

kontekstual. Kali ini kita kedatangan Budhy Munawar Rachman, Direktur Pusat Studi Islam Paramadina. Kita akan berbicara mengenai fenomena-fenomena keagamaan yang ada di lingkungan kita sehari-hari. Banyak orang yang mengatakan konflik yang terjadi adalah konflik agama, tetetapi banyak juga yang mengatakan bahwa hal tersebut bukan konflik agama. Perspektif Baru dipandu Ruddy K.Gobel. -------------------Pak Budhy, kalau kita melihat konflik yang terjadi belakangan ini, ada dua pendapat menanggapi hal itu. Ada yang mengatakan bahwa ini konflik agama. Tetapi banyak juga yang mengatakan tidak. Konflik ini lebih dilatarbelakangi oleh faktor-faktor lain seperti faktor politik. Kenapa agama bisa dijadikan stempel untuk membenarkan suatu konflik seperti yang terjadi di Indonesia saat ini? Ini memang pertanyaan yang selalu muncul dan tidak mudah untuk menjawabnya. Dalam kenyataannya, faktor-faktor yang menyebabkan suatu konflik itu tidak tunggal, bisa muncul dari faktor sosial, ekonomi, politik, tetapi beberapa konflik di Indonesia ini juga diwarnai dengan persoalan keagamaan. Terkadang muncul kesan bahwa ini merupakan konflik antaragama. Tetapi kita semua tahu, berdasarkan banyak penelitian konflik-konflik itu lebih banyak dilatarbelakangi faktor sosial dan ekonomi. Kita harus mengakui bahwa agama di sini memang menjadi suatu legitimasi untuk konflik tersebut. Dan memang agama menjadi masalah yang sangat sensitif di Indonesia. Saya kira membicarakan konflik ini dari segi agama juga penting. Di samping segi-segi yang fundamental seperti segi ekonomi dan politik. Kalau kita bicara dari segi agama, apakah ini disebabkan oleh fanatisme yang berlebihan terhadap satu ajaran agama, ataukah ada faktor lain? Justru konflik ini menyuburkan fanatisisme. Karena biasanya klaim-klaim mengenai kebenaran muncul dalam situasi konflik ini. Penelitian sosiologis agama yang dilakukan oleh banyak kalangan, termasuk Pak Thamrin Tamagola atau Imam Prasodjo, menjelaskan pada kita bahwa segi-segi sosial ekonomi yang terlibat dalam satu areal konflik, seringkali membuat suatu pembedaan yang jelas antara kelompok ini dan kelompok itu. Biasanya didasarkan oleh agama atau etnis. Kita harus selalu waspada bahwa tiap ada persoalan sosial dan ekonomi, agama dapat dipakai sebagai suatu sarana untuk memperuncing konflik. Karena di dalam agama ada pandangan dunia, ada klaim-klaim mengenai kebenaran. Yang paling penting adalah ketika agama itu dipakai sebagai sumber konflik, maka konflik menjadi konflik mengenai kebenaran. Itu menjadi sangat kompleks. Sebagai contoh seperti kita lihat di Ambon, untuk memecahkan masalahnya susah sekali. Kita mulai mengerti bahwa ketika terjadi konflik, tidak ada yang diuntungkan sama sekali. Agama apapun tidak diuntungkan dengan konflik-konflik antaragama. Kita lupakan sejenak soal konflik, kalau kita perhatikan aspek ritual kehidupan beragama di Indonesia sungguh luar biasa, gegap gempita. Tetapi kita ketahui sendiri, bangsa ini masih dalam krisis yang luar biasa dan banyak yang mengatakan bahwa intinya adalah krisis moral. Terlihat dengan korupsi yang masih terus merebak. Adakah yang salah dengan kehidupan beragama di Indonesia? Ini paradoks yang terjadi dalam kehidupan beragama kita. Di satu segi, agama menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan sosial di masyarakat Indonesia. Tetapi di segi yang lain, agama tidak mempunyai pengaruh dalam kehidupan publik. Pertanyaan ini seringkali muncul dan mengganggu. Apa memang agama itu tidak relevan dengan suatu penataan kehidupan sosial politik yang lebih baik. Orang pesimis bisa berkesimpulan seperti itu. Misalnya kesemarakan Islam tidak ada hubungannya dengan perbaikan moral bangsa. Karena memang bangsa Indonesia belum bisa keluar dari persoalan-persoalan sosialnya. Soal-soal moral seperti korupsi masih merupakan persoalan besar sampai saat ini. Tetapi sebenarnya, kita masih bisa lebih optimis,

seandainya kita masih percaya terhadap agama. Bahwa mungkin pengertian kita terhadap agama selama ini salah. Sekarang, bagaimana kita membuat pesimisme tadi menjadi optimisme? Salah satu faktor yang sering dikemukakan dalam wacana yang berkembang, berkaitan dengan isu-isu pluralisme, adalah pikiran kita tentang agama itu harus lebih terbuka. Agama tidak bisa dengan dirinya sendiri dan dianggap dapat memecahkan semua masalah. Agama hanya salah satu faktor dari kehidupan manusia. Mungkin faktor yang paling penting dan mendasar karena memberikan sebuah arti dan tujuan hidup. Tetapi sekarang kita mengetahui bahwa untuk mengerti lebih dalam tentang agama perlu segi-segi lainnya, termasuk ilmu pengetahuan dan juga filsafat. Yang paling mungkin adalah mendapatkan pengertian yang mendasar dari agama-agama. Jadi, keterbukaan satu agama terhadap agama lain sangat penting. Kalau kita masih mempunyai pandangan yang fanatik, bahwa hanya agama kita sendiri saja yang paling benar, maka itu menjadi penghalang yang paling berat dalam usaha memberikan sesuatu pandangan yang optimis. Berarti komunikasi antarumat bergama menjadi menjembataninya. Apakah pemerintah atau pihak lain? sangat penting. Siapa yang harus

Saya kira, prinsip kita seharusnya, seperti yang ada dalam etika politik, adalah prinsip subsidiaritas. Apa saja yang bisa dikerjakan masyarakat, biarlah masyarakat yang mengerjakan. Negara tidak perlu turut campur. Jika negara turut campur dalam hal-hal keagamaan misalnya, suatu masa negara akan berpihak. Sementara kita tahu bahwa negara itu harus bisa melayani seluruh warga negara tanpa diskriminasi sedikit pun terhadap ras, suku, agama, etnik, dan sebagainya. Karena itu, seminimal mungkin negara turut campur dalam soal kerukunan beragama. Kalau melihat faktor antropologis, masyarakat Indonesia punya kemampuan luar biasa dalam membangun suatu kerukunan. Jadi kalau kalangan birokrasi memikirkan rancangan undang-undang mengenai kerukunan beragama misalnya, menurut saya itu salah kaprah. Seolaholah negara mau mengurus semuanya. Dan itu tidak memberikan suatu iklim yang baik untuk kerukunan umat beragama. Banyak orang sepakat bahwa pluralisme itu bisa menjadi suatu solusi. Tetapi mungkin agak sulit memahami pluralisme terutama untuk masyarakat tertentu. Karena ada yang mengistilahkan pluralisme itu seperti sekulerisme. Sebenarnya pluralisme yang seperti apa yang harus kita pahami? Dalam bahasa Indonesia pluralisme berarti kemajemukan, keanekaragaman. Suatu istilah yang sebenarnya biasa di masyarakat kita. Ada Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu. Itu sebenarnya pondasi pluralisme yang sangat bagus dan secara kultural kita punya. Jadi masyarakat sebenarnya tahu mengenai perbedaan etnik, dari dulu sampai sekarang masih disadari. Tetapi banyak isu antaragama yang tidak dipecahkan. Bermula dari pikiran Orde Baru yang tidak membicarakan mengenai SARA. Di mana hal itu dianggap sensitif dan negara memilih tidak membicarakannya tetapi mengontrol SARA. Akibatnya dalam jangka panjang, kita tidak terbiasa dalam mengelola perbedaan-perbedaan. Kita mendapatkan buah yang buruk dari hasil yang kita tanam sepanjang Orde Baru. Sekarang kesempatan menjadi lebih terbuka ketika kita mulai lihat kembali berbagai persoalan mengenai perbedaan ini. Kita harus melihat bagaimana perbedaan ini disadari. Ada macam-macam sudut pandang, perbedaan dilihat sebagai sesuatu yang harus kita pikirkan dan dikembangkan. Karena Indonesia itu berbeda-beda, ribuan pulau, suku, agama, dan sebagainya. Jadi kita harus menegakkan pikiran mengenai kemajemukan. Tetapi kalau dasarnya hanya itu, berarti sesuatu dari pondasi pluralisme dibangun atas dasar kemungkinan disintegrasi. Biasanya pikiran para birokrat hanya pada level itu. Pikiran lain yang muncul, pluralisme diperlukan supaya tidak ada fanatisisme etnik ataupun agama. Ini berarti segi psikologis dan sosiologis. Kalau ini dijadikan dasar, memang ini sesuatu yang sangat penting tetapi tidak memadai. Karena menganggap bahwa masyarakat kita ini memang fanatik. Apakah ada suatu pemikiran yang jauh lebih dalam di mana pluralisme tidak didasarkan hanya pada psikologis dan sosiologis, tetapi filosofi yang lebih mendalam. Dari

keagamaan lebih mendasar. Itulah pluralisme keagamaan. Di mana pluralisme merupakan bagian dari misi keagamaan itu sendiri. Memang ada tempat agama lain di agama kita. Dalam etiket politik pluralisme dibangun sebagai suatu dasar untuk civil society. Kalau tidak ada pluralisme maka tidak ada civil society. Kalau tidak ada civil society, kebangsaan tidak akan bisa dibangun. Sekarang kita masih dalam transisi. Transisi untuk mendapatkan pengertian kembali mengenai Indonesia itu apa. Dalam Orde Baru paham nasionalisme dipaksakan tetapi sekarang kita mulai mencari kembali. Dalam proses ini pluralisme sangatlah penting karena itu adalah pondasi kebangsaan. Pak Budhy mengatakan bahwa yang disebut pluralisme sebenarnya tidak hanya untuk antaragama. Ternyata pluralisme ini harus dipandang secara universal oleh seluruh elemen. Bagaimana mengejewantahkannya dalam praktik sehari-hari? Pluralisme itu sudah hidup di dalam masyarakat kita jauh sebelum agama-agama semitik berkembang. Agama Hindu dan Budha sudah memikirkan pluralisme ketika muncul konflik-konflik di Jawa. Istilah Bhinneka Tunggal Ika muncul sebagai cara untuk mengelola konflik menjadi harmoni di dalam kehidupan sosial, politik di Jawa pada abad-abad ke-12. Jadi kita mempunyai warisan kultural yang kaya sekali keanekaragaman budaya, sosial, politik. Kemudian agama itu sudah menjadi suatu bagian dari masyarakat kita sendiri. Sekarang pluralisme menjadi sesuatu yang sangat penting, karena sekarang kita berada di dalam suatu era muncul kelompok-kelompok di masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran. Tidak mempertimbangkan segi pluralisme terutama dari segi etnik. Kemunculan itu berkaitan kebangkitan etnisitas di era global. Masalah identitas siapa kita di era global ini menjadi sesuatu yang sangat kuat muncul. Karena itu, fanatisme bisa menyuburkan krisis-krisis identitas sehingga kita perlu memikirkan ulang lebih dalam mengenai pluralisme. Kita beralih ke topik yang sedikit berbeda. Yayasan Paramadina akhir-akhir ini, banyak didatangi oleh masyarakat kelas menengah dan atas di Jakarta. Kenapa mereka datang, dan apa yang mereka cari? Apakah tidak cukup dengan pengetahuan dan pelajaran agama yang mereka dapatkan? Usia Paramadina sudah 17 tahun. Selama ini sudah membuahkan hasil. Pendekatan untuk memahami keagamaan lebih sesuai dengan ilmu pengetahuan. Model pendekatan tradisional atau normatif sekarang dirasakan tidak mencukupi, perlu dikembangkan. Paramadina memang mengembangkan studi-studi mengenai ke-Islaman yang diberikan dengan wawasan yang terbuka dan kritis. Ustad yang mengajar di sini bukan yang punya otoritas atas kebenaran sehingga tinggal disampaikan. Justru apa yang dia sampaikan, bisa didiskusikan. Bahkan bisa didebat oleh peserta. Sehingga keterbukaan studi ke-Islaman menjadi pondasi yang sangat penting. Kita ingin memperkenalkan Islam yang bukan normatif. Tetapi Islam yang historis, sehingga belajar dari sejarah. Karena sejarah adalah suatu usaha bagaimana mewujudkan Islam yang normatif menjadi historis (nyata). Kadang-kadang, terjadi suatu jurang yang jauh sekali. Antara apa yang dikatakan dan yang dilakukan berbeda. Jurang inilah yang mengakibatkan kita harus merefleksikan keberagamaan kita. Di dalam pendekatan keagamaan yang paling populer adalah pendekatan berkaitan dengan tasawuf. Karena itu merupakan kebutuhan kelas menengah saat ini. Mungkin karena mereka adalah golongan yang sudah mapan dan membutuhkan pengertian yang lebih dalam mengenai kerohanian. Apa itu tasawuf dan mengapa dibutuhkan? Tasawuf adalah satu dari empat disiplin keilmuan tradisional Islam. Yang lainnya yaitu fikih, kalam, dan falsafah. Fikih itu sangat dominan dalam masyarakat Indonesia. Bahkan dalam masyarakat Islam secara kesuluruhan distruktur cara berpikir fikih. Kita sekarang tahu bahwa beragama secara fikih itu tidak mencukupi. Formalitas muncul karena fikih. Orang rajin beribadah tetapi tidak punya dampak. Lain dari kalam dan falsafah yang memberikan tempat pemikiran kritis dan rasional. Yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan adalah cara berpikir keagamaan yang bersifat tasawuf. Kalau bahasa Indonesia sebenarnya adalah "kebatinan". Tetapi kata kebatinan dinilai jelek karena orang ingat kebatinan Jawa. Di masa awal Orde Baru menjadi konflik antara golongan

santri dan golongan abangan. Tetapi istilah itu sebenarnya adalah istilah yang tepat yaitu segi kebatinan dari Islam. Sementara fikih adalah kelahiran. Kita tidak hanya memerlukan kelahiran atau lahiriah, tetapi juga batiniah supaya agama itu menjadi sesuatu yang seimbang. Pada segi luar yaitu dari segi liturgi ibadat, dan segi dalam yang dapat mengubah manusia. Segi luar itu hanyalah cara, tetapi dampak yang ditimbulkan dari ibadat itulah sebenarnya yang paling penting. Apakah membawa kita lebih dekat kepada Allah atau tidak. Apakah membawa kita lebih dekat kepada sesama manusia atau tidak. Apakah membawa kita lebih dekat kepada alam. Tuhan, manusia, dan alam adalah yang paling sering dibicarakan dalam tasawuf. Tasawuf itu kita perlukan supaya mempunyai pengertian-pengertian yang lebih dalam mengenai hidup. Dampak sosialnya pasti kelihatan karena tasawuf akan memberikan budi pekerti luhur.