You are on page 1of 2

MEMBERI MAKAN DUNIA.

Tantangan yang dihadapi oleh generasi kini, yakni dari memproduksi bahan pangan, mendistribusikan ke pelosok-pelosok tanah air, kebijakan penetapan harga pangan yang terjangkau oleh masyarakat, sampai dengan bagaimana pangan yang dikonsumsi aman, halal dan bergizi. Jika ketahanan pangan tidak diperhatikan dengan baik, maka anak muda yang sekarang berumur 20-30 tahun dan ketika 10-15 tahun mendatang sudah menjadi orang tua, dikhawatirkan tidak akan mampu memberi makan kepada keluarganya.

Konversi lahan dan pertambahan penduduk Ada dua masalah besar yang dihadapi generasi kini dalam pembangunan ketahanan pangan yaitu : pertama, tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yaitu mencapai lebih dari 150 ribu hektar per tahun. Hal tersebut dapat terlihat dari pesatnya pembangunan jalan, industri, pabrik, perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan dan sebagainya. Akibat alih fungsi lahan, Indonesia berpotensi kehilangan produksi gabah kering sebesar 14,26 juta ton atau sedikitnya 10 juta ton beras. Alih fungsi lahan sangat memprihatikan karena hampir seluruh areal yang dikonversi adalah sawah beririgasi. Dari 12,45 juta hektar luas tanam padi, 7,6 juta hektar diantaranya merupakan areal irigasi teknis, semi teknis dan sederhana. Jika 3 juta hektar lahan dikonversi, luas tanam beririgasi yang tersisa hanya sekitar 4,6 juta hektar. Konversi lahan tidak boleh terus terjadi, karena dampaknya sangat besar terhadap pengadaan pangan (beras) di dalam negeri. Ketergantungan pangan kita terhadap pihak asing lewat impor pangan (beras) akan sangat merugikan sebab harganya bisa tidak terjangkau daya beli oleh masyarakat, menguras devisa negara dan mematikan gairah petani dalam berusahatani. Faktor kedua yang menjadi masalah bagi generasi kini dalam pembangunan ketahanan pangan adalah : masih tingginya laju pertumbuhan penduduk yaitu 1,4 persen pertahun. Hal yang harus menjadi perhatian seluruh pihak bahwa dari 216 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 20 juta jiwa berusia 20-30 tahun (usia subur). Menurut perhitungan BKKBN, jika setiap tahun ada 0,5 persen pasangan usia subur tidak menjalankan program pengendalian jumlah anak maka akan terjadi baby booming, yaitu lahirnya bayi-bayi baru dari pasangan usia subur, sehingga pada tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 300 juta jiwa. Jika masalah pertambahan jumlah penduduk yang pesat tanpa

diimbangi dengan pengadaan bahan pangan yang seimbang bisa jadi karena ketidakmampuan tanah memproduksi pangan maka dapat dibayangkan bahwa sebagian besar orang tidak akan kebagian pangan, sehingga besar kemungkinan bangsa ini pada masa mendatang akan kesulitan mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya.

(Yefta Pamandungan)