You are on page 1of 34

USAHATANI TEMBAKAU DI DESA JATIROKE KECAMATAN JATINANGOR Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Oleh: Kelompok 7 Suci Valerie Casuarina Dias Cakra Supriatna Fatri Imanda Agribisnis B 150310080065 150310080069 150310080071 Adinda Soraya Mutialarang 150310080067

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim, Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah metodologi penelitian yang berjudul USAHATANI TEMBAKAU DI DESA JATIROKE. Terimakasih kami sampaikan kepada Dosen pembimbing mata kuliah Metodologi Penelitian, kepada petani tembakau Jatiroke yang dengan sukarela membantu kami dalam mengumpulkan data, dan seluruh teman-teman kelas B Agribisnis 2008. Semoga makalah yang kami sajikan dapat memberikan manfaat dan pengetahuan khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca. Kami mengakui banyak kekurangan dalam penyajian makalah ini, sehingga kritik maupun saran atas makalah ini akan kami terima dengan pikiran terbuka.

Bandung, November 2011 Tim Penulis

DAFTAR ISI Halaman ......... i Kata ......... ii Daftar .........iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar 1 1.2 Identifikasi 2 1.3 Tujuan 2 1.4 Kegunaan 3 1.5 Pertanyaan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tembakau 4 2.2 Budidaya 5 2.2.1 Syarat 5 2.2.2 Pembibitan 5 2.2.3 Pengolahan Media 6 2.2.4 Teknik 6 2.2.5 Pemeliharaan 6 2.2.6 Panen 6 2.2.7 Pasca 7 2.3 Pengolahan Temabakau 7 2.4 Potensi Pasar 9 Judul Pengantar Isi

Belakang Masalah Penelitian Penelitian Penelitian

Temabakau Tumubuh

Tanam Penanaman Tanaman

Panen Mole Merah Tembakau

2.5

Prospek 10

Komoditas

Tembakau

Kabupaten

Sumedang

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian 13 3.2 Desain dan Teknik Penelitian 13 3.3 Data/Informasi yang diperlukan (Operasional Variabel) 13 3.4 Sumber Data/Informasi dan Cara Menentukan 15 3.4.1 Sumber Data/Informasi 15 3.4.2 Cara Menentukan Sampel 16 3.5 Teknik Pengumpulan Data/Informasi 16 3.6 Rancangan Analisis Data 17 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Sejarah Tembakau di Desa 18 4.2 Keadaan Usahatani Tembakau Desa 19 4.2.1 Karakteristik Petani 19 4.2.2 Proses Produksi 20 4.3 Potensi Tembakau Desa 21 4.4 Kendala Petani Tembakau Desa 21 4.5 Harapan Petani Tembakau 22 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 23 5.2 Saran 23 DAFTAR 24 LAMPIRAN 25 Jatiroke Jatiroke Tembakau Tembakau Jatiroke Jatiroke Jatiroke

PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman tembakau merupakan salah satu dari 9 (sembilan) komoditas unggulan di Kabupaten Sumedang. Berdasarkan data yang ada pada tahun 2010,

tanaman tembakau yang ada di Sumedang merupakan tanaman tembakau yang diusahakan oleh rakyat yang terdapat di 25 kecamatan, salah satunya yaitu di Kecamatan Jatinangor. Di Kecamatan Jatinangor ini, tanaman tembakau diusahakan oleh tiga desa yaitu Desa Jatiroke, Jatimukti dan Cisempur. Lahan perkebunan yang bisa digunakan untuk mengusahakan komoditas ini sekitar 38% persen dari seluruh lahan yang ada di desa ini, yaitu 11 Ha dari 29 Ha luas wilayah desa Jatiroke. Tembakau yang dihasilkan oleh para petani biasanya disebut tembakau rajangan mole karena tembakau ini dibuat tanpa menggunakan bantuan mesin dalam pengolahannya. Jenis tembakau mole ini sudah memiliki pasar yang jelas bahkan pembeli langsung datang ke petani. Mereka berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat seperti Sukabumi, Tanjung Sari, Jakarta dan daerah lainnya. Namun, ketidakstabilan harga tembakau di pasaran semenjak tahun 1990-an, membuat petani mulai enggan menanam kembali tanaman ini. Mereka mulai beralih ke komoditas lain seperti padi dan palawija bahkan beberapa petani lainnya beralih profesi menjadi tukang ojeg, pedagang dan lain-lain. Hal tersebut sangat disayangkan karena lahan yang tersedia di desa ini cukup luas untuk ditanami dan tembakau memiliki nlai historis yang cukup baik. Sejak dahulu Desa Jatiroke sudah terkenal dengan tembakau mole merah-nya yang berkualitas, dapat dikatakan bahwa tembakau merupakan kearifan lokal yang patut untuk dilestarikan. Selain itu, prospek tembakau kini cukup menjanjikan karena pada tahun 2012, industri rokok memerlukan pasokan tembakau mengingat kawasan Gunung Merapi sebagai pemasok tembakau nomor satu di Indonesia sudah tidak dapat memproduksi kembali.

1.2` Identifikasi Masalah Tembakau memiliki potensi yang besar di Desa Jatiroke dan merupakan komoditas yang menjadi pilihan banyak petani di desa ini sejak 50 tahun yang lalu. Tembakau ini dirajang langsung dengan menggunakan tangan dan telah memiliki pasar ke beberapa daerah. Jumlah petani temabakau di Desa Jatoroke 163, jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak faktor yang menyebabkan berkurangnya jumlah petani yang mengusahakan tembakau di Desa

Jatiroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya hal tersebut. Tabel 1.1 GAP Harapan dan Kenyataan di Lapangan Harapan Petani Jatiroke mengusahakan Tembakau sebagai komoditas utama Mengapa petani tembakau Jatiroke berkurang? Petani di Desa Jatiroke sedikit yang mengusahakan tembakau.

GAP

Kenyataan

1.3

Tujuan Penelitian Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk: 1) Mengidentifikasi kegiatan usahatani tembakau di Desa Jatiroke.
2) Menganalisis perkembangan tembakau di Desa Jatiroke dan mengidentifikasi

penyebab

sebagian

petani

tembakau

berpindah

haluan

dan

tidak

mengembangkan tembakau lagi.

1.4

Kegunaan Penelitian
1) Penulis dapat mengetahui sistem agribisnis komoditas tembakau di terapkan

Desa Jatiroke.
2) Menginformasikan kepada pembaca mengenai Budidaya Tembakau, sejarah

tembakau serta perkembangan komoditas tembakau yang terjadi di Desa Jatiroke.


3) Mengetahui

faktor yang menjadi penghambat dalam pengembangan

komoditas tembakau di Desa Jatiroke.


4) Mengetahui harapan petani tembakau di Desa Jatiroke.

1.5

Pertanyaan Penelitian
1) Bagamana sejarah tembakau di Desa Jatiroke? 2) Bagaimanakah keadaan usaha tani tembakau di Desa Jatiroke?

3) Bagaimanakah potensi komoditas tembakau di Desa Jatiroke? 4) Apakah kendala dan masalah yang dihadapi petani tembakau di desa jatiroke? 5) Apakah harapan petani terhadapa usaha tembakau di desa jatiroke?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tembakau Tembakau (Nicotiana spp., L.) yang termasuk ke dalam famili Solanaceae, ini

adalah salah satu komoditas pertanian yang popular di Indonesia.Meskipun begitu, tembakau sebenarnya berasal dari daerah Amerika Utara danAmerika Selatan.

Tanaman herba semusim ini biasanya diambil daunnya yangdigunakan untuk membuat rokok dan cerutu.

Gambar 2.1 Tanaman Tembakau Dan Tembakau Hasil Pengolahan

Tanaman tembakau merupakan tanaman yang kualitasnya sangat dipengaruhi oleh tanah tempat dia ditanam. Semua tanaman akan tumbuh suburpada kondisi tanah yang sifatsifat fisik, kimia, dan biologisnya optimal. Untuk tanaman tembakau ini, sifat fisik dari tanah yang sesuai adalah tanah yang struktur dan permeabilitasnya cocok untuk penetrasi akar, mengingat tanaman tembakau yang perakarannya dangkal dan menyebar. Struktur tanah ini biasanya gembur. Kemudian, sifat kimia dari tanah untuk menanam tembakau adalah tanah yangmengandung unsur hara N (nitrogen) dan P (fosfor). Selain kondisi tanah,pertumbuhan tanaman tembakau ini juga sangat dipengaruhi oleh cuaca. Kondisi cuaca yang kering lebih cocok untuk tanaman ini sehingga tanaman tembakau ini dibudidayakan ketika musim kemarau. Hal ini mengingat bahwa tanaman tembakau ini sangat sensitif dengan genangan air. Penyebaran tanaman tembakau di Indonesia bisa dikatakan merata, tetapi lebih banyak dijumpai di pulau Jawa. Hal ini dikarenakan kondisi tanah pulau Jawa sangat kaya dengan zat hara dan strukturnya tidak banyak tanah liat. 2.2 Budidaya Tembakau Syarat Tumbuh Tanaman tembakau, curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, Suhu udara yang cocok antara 21-32 derajat C, pH antara 5-6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase, ketinggian antara 200-3.000 m dpl. 2.2.2 Pembibitan

2.2.1

Benih yang digunakan sebagai bibit harus memiliki sertifikat atau telah diketahui kualitasnya. Jumlah benih yang digunakan untuk 8-10 gram/ha, tergantung pada jarak tanamnya. Selain itu biji harus utuh, tidak terserang hama penyakit dan biji tidak keriput. Ada tiga teknik dalam penyemaian benih yaitu: a) Pemeliharaan dan Pemindahan Bibit Pemeliharaan dilakukan untuk menjaga agar bibit tetap berada dalam keadaan lembab dan mendapat cukup sinar matahari, oleh karena itu persemaian dilanjutkan dibuka pada pagi hari sampai pukul 10.00. Selanjutnya, agar bibit dapat tumbuh dengan baik maka perlu dilakukan penjaringan tanaman, penjaringan ini dapat dilakukan setelah 7 hari. Setelah berumur 3 minggu bibit dapat dipindahkan ke dalam polibag. Sedangkan untuk pemindahan ke lahan apabila bibit berumur 35-55 hari setelah semai (Warintek, 2007). b) Pengolahan Media Tanam Persiapan dan pengolahan tanah adalah sekitar 25-55 hari sebelum semai. Sebelum tanah diolah tanah dibiarkan kering selama 1 bulan. Pengolahan tanah yang pertama adalah dibajak dengan traktor dan persiapan dan pengolahan tanah adalah sekitar 25-55 hari sebelum semai. Sebelum tanah diolah tanah dibiarkan selama 1 minggu sebagai tindakan desinfektan alami karena terkena cahaya matahari. Tindakan disinfektan alami ini terjadi karena cahaya matahari dapat membantu terjadinya proses pemasaman (oksodasi) dan zat-zat beracun (asam sulfide) yang berasal dari tanah (Cahyono, 1998). Langkah selanjutnya adalah pembentukan bedengan, bedeng tidak perlu lebar cukup 40 cm dan tinggi 40 cm. Jarak antar bedeng 90-100 cm dan membujur antara timur dan barat agar tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup kemudian dilanjutkan dengan pemupukan. Pupuk kandang diberikan dengan dosis 25-30 ton/ha. Setelah satu minggu dibuat parit-parit irigasi dan bedeng-bedeng penanaman bibit (Warintek, 2007). 2.2.3 Teknik Penanaman Tahap pertama yang harus dilakukan adalah menentukan pola tanam untuk setiap jenis tembakau apakah ditanam pada musim hujan ataupun pada musim kemarau. Untuk pembuatan lubang tanaman, apabila diinginkan daun yang tipis

dan halus maka jarak tanam harus rapat, sekitar 90 x 70 cm. Cara pemindahan bibit dari kotak persemaian dapat dilakukan dengan cara cabut dan cara putaran. 2.2.4 Pemeliharaan Tanaman Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan tanaman tembakau yaotu penyulaman, penyiangan, pemupukan serta penyiraman dan pengairan. Pada penyulaman, dilakukan setelah seminggu ditanam. Bibit yang kurang baik dapat diganti dengan cara cabut dan diganti dengan bibit baru yang berumur sama. Penyiangan dapat dilakukan setiap 3 minggu. Dilakukan dengan tangan untuk mencabut gulmanya ataupun dapat juga dengan menggunakan herbisida. Pemupukan dilakukan untuk menjaga tanaman tumbuh dengan baik. Pemupukan susulan dilakukan dua kali. Dosis pupuk yang dianjurkan tergantung dari tempat dan varietas. Tahap pemeliharaan tanaman selanjutnya adalah pengairan. Pengairan diberikan 7 hari setelah tanam dengan jumlah air sedikitnya 1-2 liter per tanaman. 2.2.5 Panen Tembakau yang baik adalah jika daun-daunnya telah cukup umur dan telah berwarna hijau kekuning-kuningan. Untuk golongan tembakau cerutu maka pemungutan daun yang baik adalah pada tingkat tepat masak atau hampir masuk hal tersebut ditandai dengan warna keabu-abuan. Pemanenan dapat dilakukan dengan menebang batang tanaman beserta daun-daunnya tepat pada pangkal batangnya atau hanya memetik daunnya saja tanpa menebang batangnya. Daun dipetik mulai dari daun terbawah ke atas. Kebersamaan waktu pemasakan daun dapat terjadi karena perlakuan budidaya misalnya karena pemangkasan pucuk yang dilakukan setiap bunga mekar. Waktu yang baik untuk pemetikan adalah pada pagi hari ataupun sore hari pada saat hari cerah (Waintek. 2007). 2.2.6Pasca Panen Daun-daun tembakau yang telah dipanen masih akan mengalami proses pengolahan sebelum sampai kepada konsumen akhir. Proses pebgolahan sebelum sampai kepada konsumen akhir. Proses yang berlangsung sejak dari daun basah menajdi daun kering (krosok, rajangan) hingga menjadi bahan untuk produk akhir merupaka bagian akhir dari pasca panen. Untuk pendapatkan hasil akhir yang baik,

kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada penanganan daun tembakau setelah dipanen antara lain pengumpulan dan penyortiran dan penggolongan. 2.3 Pengolahan Tembakau Mole Merah Berdasarkan penelitian oleh Balai Penyuluhan Pertanian tanjungsari, maka terdapat perbedaan dalam pengolahan daun tembakau mole. Pengolahan tembakau mole merah dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Sortasi daun Sortasi dilakukan melalui pengelompokkan daun berdasarkan posisi daun; tingkat kemasakan; kelewat masak, daun tepat masak, daun kurang masak dan daun cacat/ rusak. 2) Pemeraman Proses pemeraman bertujuan untuk meningkatkan suhu agar aktivitas enzim dalam merombak klorofil dan pati sehingga diperoleh warna daun yang seragam, aroma yang khas dengan ciri daun berwarna kuning. Cara pemeraman : a) Daun sebelum di gulung. Daun ditata / ditumpuk dengan posisi ujung gagang daun berada dibawah pada lantai yang diberi alas tikar/ gedeg untuk menghindari kotoran. Lama pemeraman 2-3 hari sehingga dihasilkan daun lebih masak merta. b) Daun sesudah penggulungan. Daun hasil panenan dilakukan pembuangan gagang/tulang daun, kemudian beberapa lembar daun titumpuk dan dilakukan penggulungan sesuai pengelompokkan daun dan tingkat kemasakan. Gulungan daun ditata/ ditumpuk dengan posisi ujung daun dibawah. 3) Perajangan Perajangan dilakukan dengan cara mengiris daun yang telah digulung dimasukan ke lubang alat perajang/ rimbagan lalu dilaksanakan pengirisan dengan menggunakan pisau rajang yang tajam agar didapatkan hasil irisan yang lebih halus dengan ketebalan irisan 0,5 mm. 4) Pengicisan

Rajangan daun ditata serta dihamparkan

diatas sasag pengicisan yang

bawahnya terlebih dahulu diberi landasan kain yang berfungsi sebagai cetakan lembaran/lempengan dan memudahkan pemindahan ke sasag penjemuran. Pengicisan terdiri dari icis lajur yang nantinya sebagai luar (tonggong) dan icis awut sebagai beuteung bagian dalam (beuteung). Ukuran lempengan tembakau terdiri dari tebalnya 0,5 1 cm, lebar 50 - 55 cm dan panjang 90 100 cm. 5) Penjemuran Daun yang telah di rajang dan di icis diatas sasag kemudian dijemur sampai kering, agar didapat kekeringan yang merata penjemuran dilakukan pembalikan. Lama penjemuran 1-2 hari tergantung pada cuaca. 6) Penjemuran dan Pengembunan Untuk mendapatkan pemasakan hasil olahan yang baik dilaksanakan penjemuran dan pengembunan.
a) Tahap pertama menjemur dan pengembunan bagian luar lempengan

tembakau (tonggong) sampai kemasakan yang diinginkan biasanya diperlukan waktu selama 7 hari. b) Tahap berikutnya menjemur bagian dalam lempengan Tembakau (beuteung) sampai kering dengan cara melaksanakan pekerjaan seperti tahap pertama selama 7 hari atau sampai kemasakan yang diinginkan. c) Setelah seluruh bagian lempengan tembakau masak ( muka dalam dan muka luar ) selesai, dilakukan penjemuran bagian muka (tonggong) selama satu hari dilanjutkan pendinginan untuk memudahkan pembatekan /pelipatan. 7) Pengepakan dan Penyimpanan. Pengepakan dilakukan setelah tembakau masak dan dalam keadaan dingin. Tembakau dilipat setiap lempengan/lembar, lalu di pak dengan banyaknya setiap pak 20 lembar/lempeng. Setiap bantal berisi 20 lembar/lempeng lalu dibungkus dengan gedebog pisang (cawet) atau plastik lalu disimpan digudang. 2.4 Potensi Pasar Tembakau

Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai Negara tertinggi konsumsi tembakau setelah India dan Cina.1 Sejak tahun 1970 konsumsi terhadap rokok terus mengalami peningkatan seiring dengan penurunan harga rokok dan perbaikan mekanisasi dalam industri rokok nasional. Menurut data tahun 2004, sebanyak 57 juta jiwa masyarakat Indonesia mengonsumsi rokok. Jumlah tersebut menunjukan kenaikan konsumsi yang tinggi akan rokok dibandingkan tahun 1995 sebesar 27 persen menjadi 34 persen pada tahun 2004.2 Pada tahun 2005, rumah tangga dengan perokok menghabiskan 11,5 persen pengeluaran rumah tangganya untuk konsumsi tembakau, sementara hanya 11 persen digunakan untuk membeli ikan, daging, telur dan susu secara keseluruhan, 2,3 persen untuk kesehatan dan 3,2 persen untuk pendidikan.3 Kebijakan pemerintah tentang tembakau ini memegang dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu pihak para petani tembakau masih mengusahakan tembakau sebagai komoditas perkebunan unggulannya dan menggantungkan hidupnya disana. Sedangkan kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan konsumsi rokok menjadi dilema dalam memutuskan kebijakan pertanian tembakau dan industri rokok ini. Pemerintah mengeluarkan kebijakan tarif cukai tembakau sebagai salah satu upaya penekanan konsumsi rokok Indonesia.

WHO, Report on Global Tobacco Epidemic, 2008

2 Data prevalensi berdasarkan SUSENAS, estimasi prevalensi merokok dan merokok diantara anggota rumah tangga. Dalam Tobacco Sourcebook Bab 2, 2004. 3 Sumber: SUSENAS

Gambar 2.2 Persentase Tarif Cukai Terhadap Harga Jual

Berdasarkan grafik G.2 terlihat bahwa 37 persen harga jual rokok di Indonesia dibebani oleh tariff cukai, meski jumlah ini masih cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia Tenggara. Hal ini menyebabkan konsumsi akan rorok di Indonesia masih tinggi dan akan terus mengalami peningkatan. Di tahun 2010, prevalansi lelaki yang mengkonsumsi rokok sudah mencapai 66 persen4, naik hampir 100 persen dari tahun 2004. Kenaikan permintaan akan rokok ini berdampak langsung pada peningkatan kebutuhan supply tembakau di Indonesia. Produksi nasional tembakau pada tahun 2007 berjumlah 164.851, sedangkan kebutuhan industri sebesar 187.759. kekurangan pasokan tembakau ini dipenuhi dari impor.5 Dari segi harga, di tahun 2011 harga tembakau meningkat tajam seiring dengan permintaan yang semakin bertambah6. Di Temanggung, Jawa Tengah, harga

4 Fakta Konsumsi rokok di Indonesia: http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/09/13 5 Produksi nasional tembakau pada tahun 2007 berjumlah 164.851, ekspor tembakau 46.834, kebutuhan industri 187.759, sementara impor berjumlah 69.742 (37%), Sumber: BPS 6 PT Gudang Garam telah mengajukan permintaan 7.500 ton tembakau, atau naik 1.000 ton dibandingkan tahun 2010 yang hanya meminta 6.500 ton. Begitu juga PT Djarum Kudus, sebelumnya hanya meminta 5.000 ton tembakau, kini telah mengajukan permintaan 6.000 ton. PT Bentoel yang tahun 2010 tidak mengajukan permintaan tembakau, tahun ini memesan 3.000 ton. (Kompas: Maret 2011)

tembakau sudah menembus harga Rp. 100.000 per kilogram dan naik lebih dari 100 persen jika dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp. 45.000 per kilogramnya.7 2.5 Prospek Komoditas Tembakau di Kabupaten Sumedang Tanaman tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan berumur pendek/musiman yang banyak diusahakan oleh petani yang tersebar hampir do seluruh wilayah Sumedang dan merupakan komoditas unggulan Kabupaten Sumedang. Tanaman tembakau selain sebagai sumber pendapatan petani juga dapat meyerap tenaga kerja baik dalam usaha taninya yang meliputi budidaya, pengangkutan, pengolahan, pemasaran serta industri lebih lanjut. Minat petani untuk mengembangkan tembakau pada saat ini sangat besar mengingat dalam melaksanakan usahanya cepat memberikan hasil. Selan itu didukung pula oleh adanya fasilitas Pasar Agribisnis Tembakau Tanjungsari dan harga jualnya yang menarik. Tanaman tembakau merupakan salah satu dari 9 (Sembilan) komoditas unggulan di Kabupaten Sumedang. Berdasarkan data yang ada pada tahun 2010, tanaman tembakau yang ada di Sumedang merupakan tanaman tembakau yang diusahakan oleh rakyat yang terdapat di 25 kecamatan yaitu : Jatinangor, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasari, Pamulihan, Rancakalong, Sumdenag Selatan, Ganeas, Cimalaka, Cisarua, Tanjungkerta, Tanjungmedar, Surian, Congeang, Buah Dua, Tomo, Paseh, Jatigede, Jatinungal, Situraja, Darmaraja, Wado, Cisitu, Cibugel, Cisitu dan Jatigede. Pemerintah Perlindungan Kabupaten Sumedang (MPIG) bersma-sama Tembakau dengan Kabupaten masyarakat Sumedang Indikasi Geografis

mengajukan permohonanindikasi geografis sebagai upaya untuk melindungi prosuk tembakau mole sebagai salah satu produk unggulan yang ada di Kabupaten Sumedang. Petani mengolah Tembakau Mole dengan memadukan seni merajang menjadi Tembakau Irisan Halus (TIS) yang memiliki sifat sangat khas yaitu rajangan sangat halus dan mutu yang berbeda dengan tembakau rajangan dari daerah lain.
7 Sumber: Kompas Agustus 2011

Tembakau rajangan Mole memiliki mutu dan cita rasa yang khas: aroma khas yang wangi; rasa isap yang enak; dan bebas dari rasa pahit. Varietas yang digunakan sebagian besar didominasi oleh varietas lokal seperti Nani, Kedu Hijau (Sumedang)/Himar (Garut), Rancung/Juhana (Sumedang)/Darwati (Garut), Sano (Sumedang)/ Beber/Rayud (Majalengka), Omasnani/Sionya (Sumedang)/Binih Bodas (Darmawangi/Ujunglaya)/ Kabupaten Sumedang pada tahun 2011 telah mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis Tembakau8 Nomor : ID G000000008 dan tembakau Hitam Nomor: 000000007 dari Menteri Hukum dan HAM yang diterima oleh Bupati Sumedang pada 26 April 2011 bertepatan dengan hari jadi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian

8 Standarisasi Kualitas Bahan Baku dan Mutu Olahan Tembakau Rakyat di Kabupaten Sumedang,
2010

Objek penelitian adalah petani tembakau di Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Petani tembakau yang menjadi objek penelitian merupakan petani yang masih menjadi petani tembakau dan petani yang dahulu pernah membudidayakan tembakau. 3.2 Desain dan teknik Penelitian Desain penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu desain kuantitatif. Teknik yang digunakan adalah metode deskriptif. Penelitian dskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan fakta yang terjadi di lapangan. 3.3 Data atau Informasi yang diperlukan (Operasionalisasi Variabel) Tabel operasional variabel digunakan untuk menyajikan informasi mengenai masalah yang sudah diidentifikasi dalam penelitian agar dapat menciptakan suatu alat ukur yang sesuai dengan variabel yang sudah didefinisikan konsepnya. Tabel 3.1 Operasional Variabel masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek dan obyek penelitian saat sekarang berdasarkan

Konsep

Dimensi

Variabel Umur Pendidikan

Indikator Kualitatif a. SD b. SMP c. SMA a. Pemilik b. Penggarap c.Buruh Tani

Satuan Tahun

Karakteristik Petani

Identitas Sosial

Status Lahan

Sejarah Tembakau

Budaya menanam tembakau

Lamanya petani di Desa Jatiroke mengusahakan tembakau Tata cara menanam tembakau mole merah Produktivitas Teknik penjemuran Teknik perajangan a. Mesin b. Alami c. Keduanya a. Mesin b. Alat tradisional c. Keduanya a. Ya b. Tidak c.Kadang-kadang a. di Rumah b. di Gudang c.Tidak disimpan

Tahun

Budidaya

ton/ha

Pascapanen

Pengemasan Keadaan usahatani tembakau

Penyimpanan Penerimaan Penerimaan Pendapatan petani Modal

Rupiah Rupiah a. Pupuk b. Benih c. Peralatan d. Pestisida

Rupiah

3.4

Sumber Data/ Informasi dan Cara Menentukannya Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari dua sumber data atau

3.4.1 Sumber Data/ Informasi informasi, yaitu: (1) Data Primer, diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada petani yang menjadi objek penelitian (2) Data Sekunder, diperoleh dari studi literatur dan instansi yang terkait dengan penelitian. data sekunder untuk penelitian ini diperoleh dari kantor Desa Jatiroke, jurnal-jurnal penelitian, dan sumber-sumber lain yang terkait dengan penelitian, seperti data monografi desa, laporan tahunan, dan hasil-hasil penelitian yang terkait. 3.4.2 Cara Menentukan sampel Mengingat terbatasnya waktu dan dana dari peneliti, maka tidak semua petani tembakau di Desa Jatiroke diteliti sebagai obyek penelitian. Dalam penelitian ini kam menggunakan teknik simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dari populasi sangat sederhana dengan cara mengambil acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Dengan sayarat anggota populasi homogen. Dari 100 petani tembakau kami mengambil 30 petani sebagai sampel dan membagikan 8 kuisioner sebagai langkah awal penelitian kami. Ketigapuluh petani tersebut kami ambil berdasarkan perhitungan random yang dilakukan dengan menggunakan program di Microsoft Excel. 3.5 Teknik Pengumpulan Data/Informasi Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: 1) Observasi Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung ke lapangan atau objek penelitian.teknik ini digunakan untuk memahami secara cermat dan mendalam, baik dalam suasana formal maupun nonformal. 2) Wawancara

Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk menemukan permasalahan yang diteliti dan apabila peneliti menginginkan informasi dari responden secara mendalam. 3) Kuisioner Kuisioner merupakan seperangkat pertanyaan terstruktur yang menerangkan tentang variable-variabel yang diteliti. Penyebaran kuisioner bertujuan untuk memeperoleh data atau informasi mengenai masalah penelitian yang menggambarkan variable-variabel yang diteliti. Kuisioner ditujukan kepada kepada responden yang telah dipilih sebagai sampel. 4) Studi Literatur Studi literature didapat dari berbagai sumber seperti dokumeninstansi terkait, jurnal penelitian, dan studi kepustakaan yang memiliki keterkaitan dengan focus masalah yang diteliti. Studi literature dilakuakn untuk memperoleh data sekunder.

3.6

Rancangan Analisis Data Sebelum melangkah menyiapkan data untuk dianalisis, untuk memenuhi konsep

dasar penelitian kuantitatif, maka semua data yang dikumpulkan harus sudah berupa data kuantitatif (angka). Kegiatan dalam analisa data kuantitatif adalah: mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, an melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan (Sugiyono, 2006: 164). Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 tahap utama: (1) Persiapan
(2) Tabulasi: memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data dan coding

dalam coding form (3) Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian:

a) Penelitian deskriptif: persentase dan komparasi dengan kriteria yang telah

ditentukan
b) Penelitian komparasi : dengan berbagai teknik korelasi sesuai dengan jenis

data. c) Penelitian Eksperimen : diuji hasilnya dengan t-test. (Suharsimi Arikunto, 2002: 307-309). Penulis menggunakan analisis deskriptif yaitu bentuk analisis data penelitian untuk menguji generalisasi hasil penelitian berdasarkan satu sampel. Analisa deskriptif ini dilakukan dengan pengujian hipotesis deskriptif. Hasil analisisnya adalah apakah hipotesis penelitian dapat digeneralisasikan atau tidak.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Sejarah Tebakau Desa Jatiroke Tembakau merupakan tanaman yang sudah lama diusahakan di Desa Jatiroke. Sejak dahulu Desa Jatiroke sudah terkenal dengan tembakau yang memiliki kualitas yang baik. Sudah lebih dari 50 tahun yang lalu tembakau menjadi komoditas yang diusahakan petani di desa ini Daun tembakau yang dihasilkan diolah dengan cara dirajang secara tradisional sebagai bahan baku pembuatan rokok, baik rokok pabrik maupun rokok lintingan. Tembakau rajangan tersebut di Sumedang disebut dengan nama mole atau tembakau seni mole atau tembakau mole. Harga tembakau yang cukup tinggi pada rentang tahun 1982-1985, berdampak pada meningkatnya jumlah petani yang mengusahakan tembakau di desa Jatiroke ini. Selain itu, produksi yang tinggi menyebabkan keuntungan yang mereka dapatkan

besar pula. Fakta empiris menyebutkan bahwa dengan hasil panen tembakau, mereka dapat membeli lahan sawah, membuat rumah atau merayakan acara-acara keluarga yang besar. Para petani tembakau ini menjual ke beberapa pembeli yang langsung datang ke lahan tanpa harus mencari pasar terlebih dahulu. Pembeli biasanya merupakan produsen yang menjual rokok lintingan di daerahnya masing-masing. Bahkan ada beberapa yang pengusaha Tionghoa yang sengaja datang untuk membeli tembakau mole asli Jatiroke. Pada tahun 1990-an, harga tembakau jatuh di pasaran sehingga membuat para petani yang mengusahakannya mengalami kerugian. Hasil panen tembakau pada saat itu tidak dapat menutupi modal. Mulai pada saat itu, usahatani tembakau di Desa Jatiroke ini mulai melesu. Banyak para petani yang pada awalnya mengusahakan tembakau beralih ke tanaman lain seperti padi dan palawija, bahkan beberapa petani beralih profesi menjadi tukang ojeg, buruh pabrik dan pedagang. Adanya permainan mengenai pasokan tembakau pun semakin memperburuk situasi pada saat itu. Usaha meningkatkan minat para petani untuk mengusahakan kembali tanaman tembakau sudah mulai dilakukan pada awal tahun 2000-an. Seiringnya dengan berjalannya waktu, harga tembakau sudah mulai membaik terbukti pada tahun 20042005 harga tembakau mencapai angka yang cukup baik. 4.2 Keadaan Usahatani Tembakau Desa Jatiroke Petani di Desa Jatiroke yang aktif mengusahakan tembakau hingga saat ini berjumlah 38 oranng. Hampir seluruh petani tembakau Jatiroke adalah petani penggarap. Petani tembakau di Jatiroke tidak ada yang memiliki lahan sendiri, kecuali diantaranya ada yang menanam tembakau di pekarangan rumah untuk konsumsi pribadi. Hasil tembakau untuk kebutuhan komersil diusahakan oleh petani jatiroke di lahan sewaan.
Gambar 4.1 Grafik Pendidikan Petani Tembakau Desa Jatiroke

4.2.1 Karakteristik Petani Tembakau

Gambar 4.1 menunjukan tingkat pendidikan petani Jatiroke. Petani Jatiroke rata-rata berusia 41 tahun. Kebanyakan dari petani yang mengusahakan tembakau di Desa Jatiroke adalah lulusan SD, dan beberapa yang lainnya lulusan SMP.

4.2.2 Proses Produksi Tembakau Produksi tembakau di Desa Jatiroke dimulai sejak penanaman di kebun hingga penjemuran menjadi bantalan tembakau matang yang siap dijual ke pasar. Gambar 4.2 menunjukan alur proses produksi temabaku dari budidaya hingga pascapanen.
Gambar 4.2 Alur Produksi Tembakau di Desa Jatiroke

Proses budidaya tembakau berjalan selama 3 bulan. Pemeliharaan dilakukan dengan pemupukan, pengairan, pemberantasan hama dan penyakit, dan penyiangan. Panen dilakukan pada saat tanaman sudah berwarna hijau kekuningan dengan cara dipetik. Daun tembakau yang sudah dipanen kemudian dikumpulkan untuk selanjutnya melalui proses perajangan. Perajangan dilakukan dengan menggunakan alat tradisonal yang biasa disebut pisau rajang. Proses perajangan bukan hal yang mudah karena daun tembakau dirajang hingga menjadi bagian yang sangat tipis.

Gambar 4.3 Proses Penjemuran Tembakau

Daun tembakau yang sudah dirajang kemudian dijemur (Gambar 4.3). Proses penjemuran dapat berjalan selama 10 hari hingga warna berubah menjadi coklat terang. Proses penjemuran merupakan proses yang sangat penting untuk menghasilkan tembakau yang baik. Apabila proses penjemuran tidak optimal, tembakau yang dihaislkan mudah rusak dan memiliki warna serta aroma yang berbeda. Di Desa Jatiroke, penjemuran masih menggunakan sinar matahari karena keterbatasan teknologi yang ada. Selain itu, beberapa petani beralasan, apabila

tembakau dikeringkan dengan menggunakan alat pengering (oven), aroma dari tembakau yang dihasilkan akan berbeda. Tembakau yang sudah melalui proses penjemuran adalah tembakau yang sudah matang dan siap dijual ke pasar atau dikonsumsi. Petani Jatiroke umumnya langsung menjual tembakau yang sudah matang, namun apabila harga sedang turun dan tengkulak belum datang, mereka melakukan penyimpanan tembakau yang sudah masak di rumah masing-masing. Penyimpanan pun dilakukan dengan sederhana. Sebelum tembakau disimpan, bantalan-bantalan diikat dan dibungkus mengunakan kantong kresek, kemudian ditumpuk untuk disimpan. 4.3 Potensi Tembakau Desa Jatiroke Tembakau hasil Desa Jatiroke dijual ke pasar melalui tengkulak (bandar). Tembakau Sumedang khususnya Jatiroke merupakan jenis Tembakau Mole, yang terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas sehingga permintaan konsumen akan Tembakau Mole tetap tinggi dan cenderung meningkat. Tembakau Desa Jatiroke dipasarkan khususnya di Jawa, namun pasar luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan pun dimasuki oleh suplai Tembakau Mole Jatiroke. Rata-rata Tembakau Mole dijual dengan harga Rp 300.000/ bantal. Harga ini cenderung tinggi apabila dibandingkan dengan harga jual tembakau jenis lainnya. Produksi yang dihasilkan pun cenderung besar, dengan pesatuan bata, dapat menghasilkan 25 bantal tembakau. Sehingga per satuan tanam (3 bulan) seorang petani dapat menghasilkan keuntungan kotor rata-rata sebesar Rp 7.645.000. 4.4 Kendala Petani Tembakau Desa Jatiroke Iklim merupakan kendala utama dalam setiap kegiatan pertanian. Kegiatan produksi tembakau di Desa Jatiroke pun didominasi oleh keadaan iklim. Tembakau merupakan tanaman yang tumbuh baik saat musim kemarau, sehingga apabila hujan, tembakau sulit untuk tumbuh dengan baik. Iklim yang basah, selain menyebabkan menurunkan kualitas daun tembakau yang dihasilkan, akan menyulitkan petani pada saat proses pengeringan/penjemuran. Kendala cuaca ini menjadi kendala yang besar

bagi petani di Desa Jatiroke karena saat cuaca buruk mereka sulit untuk mempertahankan kontinuitas, kuantitas, dan kualitas produk yang dihasilkan. Selain kendala dalam proses budidaya dan penjemuran, faktor yang krusial dalam sebuah usahatani adalah modal. Petani tembakau Jatiroke mengaku sulit mendapat modal, baik kredit maupun subsidi pupuk dan bibit. Selama ini petani tembakau Desa Jatiroke mengusahakan tembakau dengan menggunakan modal pribadi maupun pinjaman yang berasal dari keluarga. Bagi beberapa petani, penyimpanan tembakau di dalam rumah merupakan sebuah kendala. Apabila ruangan tidak cukup ventilasi dan lembab, hal tersebut akan memudahkan timbulnya jamur pada tembakau dan akhirnya tembakau menjadi rusak. Sehinga beberapa petani memilih langsung menjual hasil produksinya dan penyimpanan dilakukan sementara. Selain kendala dalam modal serta proses penjemuran, pengemasan, dan penyimpanan, petani tembakau tidak merasa kesulitan dalam proses produksi tembakau lainnya. 4.5 Harapan Petani Tembakau Jatiroke
a) Tanaman tembakau tetap ada (exist) di Desa Jatiroke karena sudah menjadi

Harapan petani tembakau di Desa Jatiroke terangkum sebagai berikut: kebudayaan dan kearifan lokal desa setempat.
b) Petani kecil yang mengusahakan tembakau dapat merasakan kompenasi dari

hasil cukai dari penjualan rokok nasional yang dibagikan untuk 8 SKPD di Kabupaten Sumedang, dalam bentuk modal uang, pupuk, maupun bibit.
c) Kerjasama antara para pemangku kekuasaan di Kampus Universitas

Padjadjaran untuk mendahulukan warga Jatinangor dalam menanami lahan di sekitar kampus.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Jatiroke merupakan desa penghasil Tembakau Mole yang merupakan komoditas perkebunan unggulan di Sumedang. Bertanam tembakau merupakan sebuah budaya yang melekat di masyarakat Jatiroke. Namun, saat ini petani tembakau Jatiroke hanya berkisar sebesar 20% dari keseluruhan petani di Desa Jatiroke. Hal-hal yang menyebabkan menurunnya semangat petani Jatiroke untuk menanam tembakau antara lain; (1) Lahan yang tidak dimiliki oleh petani, dan kian hari semakin menyempit; (2) Keadaan iklim yang tidak menentu; (3) Modal yang sulit; (4) Tidak adanya penerapan teknologi modern dalam pengolahan tembakau di Desa Jatiroke. Kendala dan resiko pasti selalu ada dalam berbagai jenis kegiatan pertanian. Meskipun demikian, pengembangan tembakau di Desa Jatiroke memiliki potensi yang besar antara lain; (1) Kesesuaian jenis tanah dengan tanaman tembakau; (2) Tembakau yang dihasilkan Desa Jatiroke memiliki rasa dan aroma yang khas sehingga termasuk dalam tembakau yang berkualitas; (3) Harga yang ditawarkan untuk tembakau Jatiroke cenderung lebih tinggi; dan (4) Pasar sudah tersedia. 5.2 Saran Saran atau masuka dari hasil penelitian ini adalah agar harapan petani tembakau dapat diwujudkan oleh berbagai pihak terkait. Harapan petani Jatiroke adalah agar pemerintah dapat peduli terhadap kehidupan petani. Modal yang sulit didapatkan para petani sebaiknya ditutupi dengan pengalokasian dana bea cukai rokok terhadap sektor pertanian. Para petani di Desa Jatiroke pun perlu dibina dengan hadirnya para penyuluh dan kepedulian pihak akademisi, khusunya Universitas Padjadjaran sebagai lembaga pendidikan yang paling dekat dengan Desa Jatiroke.

DAFTAR PUSTAKA Rahmawan, Tizar. Selayang Teknik Analisa Data Kuantitatif Dan Kualitatif available online at http://tizarrahmawan.wordpress.com/2009/11/24/selayang-teknikanalisa-data-kuantitatif-dan-kualitatif/ (diakses 14 November 2011) Maulidinia, Nofria. 2008. Identifikasi Sistem Budaya Tembakau Available Oktober 2011) Budidaya Tembakau Antara Peluang dan Tantangan available online at http://binaukm.com/2010/05/budidaya-tembakau-antara-peluang-dan-tantangan/ (diakses tanggal 9 Oktober 2011) Pengolahan Tembakau Mole Merah available online at http://bp3ktanjungsari.blogspot.com/2011/09/cara-pengolahan-tembakau-molemerah.html (diakses tanggal 18 Oktober 2011) Program Kreativitas Mahasiswa: Pengalihan Potensi Tembakau Sebagai Solusi atas Ketergantungan Petani Tembakau terhadap Industri Rokok. Depok: Universitas Indonesia (2010) Pentingnya Peningkatan Cukai Rokok available online at http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/09/13/pentingnya-peningkatan-cukairokok/ (diakses tanggal 17 Oktober 2011) Barber, Sarah. et al. Ekonomi Tembakau Di Indonesia. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 10 Fakta-fakta Rokok di Indonesia online at http://www.gabisabobo.com/modules (diakses tanggal 17 Oktober 2011) online di PT at Perkebunan Nusantara (Persero) Kebun Helvetia. Universitas Sumetera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7554/1/09E00448.pdf (diakes pada 8

KUISIONER NAMA: UMUR: 1) Berapa lamakah anda mengikuti pendidikan formal (sekolah)? a. SD b. SMP c. SMA 2) Anda adalah seorang petani dengan status? a. Petani Pemilik b. Petani Penggarap c. Buruh Tani 3) Sudah berapa lamakah anda menjadi petani tembakau? ___________tahun
4) Berapakah hasil produksi tembakau per satu kali panen? __________kg/bata

5) Bagaimanakah teknik penjemuran daun tembakau yang anda lakukan? a. menggunakan mesin pengering b. menggunakan cahaya matahari c. keduanya 6) Bagaimanakah teknik perajangan daun tembakau yang anda lakukan? a. menggunakan mesin b. menggunkaan alat tradisional c. keduanya 7) Apakah anda melakukan pengemasan pada daun tembakau? a. ya b. tidak c. kadang-kadang 8) Dimanakah anda menyimpan hasil produksi tembakau anda? a. rumah b. gudang c. tidak disimpan

9) Berapakah penerimaan anda untuk setiap kali panen Rp________________ 10) Berapakah modal yang dibutuhkan untuk satu kali masa tanam tembakau? Rp__________________ 11) Ke pasar manakah anda menjual produk tembakau yang anda hasilkan? a. Tengkulak b. Pasar c. Lain:_______________
12)Berapakah harga jual tembakau? Rp______________

13) Apakah terdapat OPT dalam usaha tani tembakau yang mempengaruhi produksi a. Hama b. Penyakit c. Keduanya d. Tidak ada 14) Bagaimanakah ketersediaan air dalam usaha tani tembakau di daerah anda? a. Banyak b. Cukup c. Sedikit 15) Adakah kendala pada proses pengeringan? a. Ada b. Tidak ada Jika Ada, Apa? ____________________________________________________ 16) Adakah kendala pada proses perajangan daun tembakau? a. Ada b. Tidak ada Jika Ada, Apa? ____________________________________________________ 17) Adakah kendala pada proses pengemasan? a. Ada b. Tidak ada

Jika Ada, Apa? ____________________________________________________ 18) Adakah kendala pada proses penyimpanan? a. Ada b. Tidak ada Jika Ada, Apa? ____________________________________________________
19) Adakah kendala dalam permodalan usah tani tembakau yang anda lakukan? a. Ada b. Tidak ada 20) Bagaimanakah harapan anda terhadap pasar tembakau? ____________________________________________________________________ __________ 21) Bagaimanakah harapan anda terhadap kepemilikan lahan usaha tani tembakau? ____________________________________________________________________ __________ 22) Bagaimanakah harapan anda terhadap kemitraan dalam usaha tani tembakau? ____________________________________________________________________ __________

LAMPIRAN OLAHAN DATA SPSS

Descriptive Statistics
N Umur Pendidikan Lama Mengusahakan Hasil Produksi Pengemasan Penerimaan Modal Pasar Tujuan Harga Jual Opt Penyimpanan Valid N (Listwise) 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 Minimum 35 1 17 20 1 5000000 1500000 1 250000 1 1 Maximum 49 2 33 52 2 2.E7 4000002 2 300002 3 2 Sum 418 13 237 378 14 1.E8 3.E7 12 2750003 20 15 Mean 41.80 1.30 23.70 37.80 1.40 1.06E7 2.97E6 1.20 2.75E5 2.00 1.50 Std. Deviation 4.517 .483 4.900 12.874 .516 4244038.495 1157631.979 .422 26352.630 1.054 .527